-
info_outline Info
-
toc Table of Contents
-
share Share
-
format_color_text Display Settings
-
exposure_plus_1 Recommend
-
Sponsor
-
report_problem Report
-
account_circle Login
Khansa Aulia berdiri di balik pintu kayu berukir yang sedikit terbuka, cadar hitamnya menutup seluruh wajah kecuali mata almond yang besar dan jernih. Di dalam ruang privat berlantai kayu itu, aroma kemenyan bercampur dengan keringat dan minyak wangi yang sudah mulai menguap. Abi-nya, Kyai Haji Abdul Malik, sedang duduk di atas kasur rendah yang dilapisi kain batik. Di hadapannya, seorang akhwat berusia dua puluhan berlutut, gamisnya sudah dilonggarkan sampai pinggang, hijabnya masih menempel di kepala tapi kain dalamnya sudah terbuka.
“Tenang, Ukhti. Ini bukan nafsu. Ini penyucian rahim dan batin,” kata Abi dengan suara baritonnya yang berat, tenang, seolah sedang menjelaskan fiqih. Tangannya yang berjenggot putih di ujungnya membuka gamis akhwat itu lebih lebar. “Supaya nanti suami yang akan Abi carikan untukmu bisa merasakan ketenangan. Biar rahimmu bersih dari was-was dan rasa takut.”
Akhwat itu mengangguk, napasnya sudah pendek. Khansa melihat semuanya dari celah pintu. Ia sudah sering melihat pemandangan seperti ini. Pertama kali ia kaget, jantungnya berdebar, tangannya gemetar. Tapi Abi menjelaskan panjang lebar dengan dalil, dengan analogi, dengan senyum kebapakannya yang menenangkan bahwa ini adalah bagian dari dakwah. Poligami yang edukatif. Penyucian agar perempuan tidak jatuh ke dalam zina di luar. Khansa percaya. Ia percaya karena Abi adalah kyai yang kharismatik, yang jarang marah, yang suaranya bisa membuat jemaah perempuan diam dan tunduk.
Malam itu, Abi menuntun akhwat itu berbaring. Ia membuka kainnya sendiri. Tubuh Abi yang 58 tahun itu tidak kurus; ada otot yang masih padat di bawah jubah. Ketika ia masuk, akhwat itu mendesah pelan, “Abi… ahh…” Desahan itu terdengar jelas sampai ke telinga Khansa. Abi bergerak pelan dulu, kemudian lebih dalam. Suara basah memenuhi ruangan. Khansa berdiri diam, cadarnya terasa panas di wajah. Ia tidak masuk. Ia hanya melihat. Dan di dalam hatinya, ia mengucapkan istighfar, bukan karena dosa, tapi karena merasa bahwa apa yang Abi lakukan ini memang benar.
Ikuti cerita Kajian Poligami Sang Ustadz dengan memfollow dan memberikan dukungan dalam bentuk like di akun Blibibdi69.
Saksikan bagaimana syahwat menyelimuti para akhwat yang menjadi incaran sang Ustadz.
Penulis: Khansa_
0 sponsors' comments
will be deducted After each update request, the author will receive a notification!
smartphone100
→ Request update
Thank you for supporting the story! :)
Please Login first.
Reading Theme:
Font Size:
Line Spacing:
Paragraph Spacing:
Load the next issue automatically
Reset to default
