Kajian Poligami Sang Ustadz – Di Balik Kealiman
Khansa Aulia berdiri di balik pintu kayu berukir yang sedikit terbuka, cadar hitamnya menutup seluruh wajah kecuali mata almond yang besar dan jernih. Di dalam ruang privat berlantai kayu itu, aroma kemenyan bercampur dengan keringat dan minyak wangi yang sudah mulai menguap. Abi-nya, Kyai Haji Abdul Malik, sedang duduk di atas kasur rendah yang dilapisi kain batik. Di hadapannya, seorang akhwat berusia dua puluhan berlutut, gamisnya sudah dilonggarkan sampai pinggang, hijabnya masih menempel di kepala tapi kain dalamnya sudah terbuka.
“Tenang, Ukhti. Ini bukan nafsu. Ini penyucian rahim dan batin,” kata Abi dengan suara baritonnya yang berat, tenang, seolah sedang menjelaskan fiqih. Tangannya yang berjenggot putih di ujungnya membuka gamis akhwat itu lebih lebar. “Supaya nanti suami yang akan Abi carikan untukmu bisa merasakan ketenangan. Biar rahimmu bersih dari was-was dan rasa takut.”
Akhwat itu mengangguk, napasnya sudah pendek. Khansa melihat semuanya dari celah pintu. Ia sudah sering melihat pemandangan seperti ini. Pertama kali ia kaget, jantungnya berdebar, tangannya gemetar. Tapi Abi menjelaskan panjang lebar dengan dalil, dengan analogi, dengan senyum kebapakannya yang menenangkan bahwa ini adalah bagian dari dakwah. Poligami yang edukatif. Penyucian agar perempuan tidak jatuh ke dalam zina di luar. Khansa percaya. Ia percaya karena Abi adalah kyai yang kharismatik, yang jarang marah, yang suaranya bisa membuat jemaah perempuan diam dan tunduk.
Malam itu, Abi menuntun akhwat itu berbaring. Ia membuka kainnya sendiri. Tubuh Abi yang 58 tahun itu tidak kurus; ada otot yang masih padat di bawah jubah. Ketika ia masuk, akhwat itu mendesah pelan, “Abi… ahh…” Desahan itu terdengar jelas sampai ke telinga Khansa. Abi bergerak pelan dulu, kemudian lebih dalam. Suara basah memenuhi ruangan. Khansa berdiri diam, cadarnya terasa panas di wajah. Ia tidak masuk. Ia hanya melihat. Dan di dalam hatinya, ia mengucapkan istighfar, bukan karena dosa, tapi karena merasa bahwa apa yang Abi lakukan ini memang benar.
Keesokan harinya, di kajian yang diadakan di Semarang, Khansa yang menjadi moderator. Ia berdiri di depan, mikrofon di tangan, gamis panjang dan cadarnya rapi. “Para Ukhti dan Akhwat yang dirahmati Allah,” katanya dengan suara yang tegas di atas panggung, “jangan takut jika hati kalian gelisah karena belum mendapatkan jodoh. Abi kami memiliki cara. Bukan sihir, bukan pelet. Ini penyucian aura dan batin sesuai syariat.”
Banyak akhwat yang datang. Ada yang sudah menikah dan suaminya jarang pulang. Ada yang janda. Ada yang masih perawan tapi takut menikah karena trauma. Khansa yang mengatur jadwal, yang mengantar mereka satu per satu ke ruang privat Abi. Ia yang membisikkan, “Ikuti saja, Ukhti. Abi tidak akan menyakiti. Ini untuk kebaikan kalian di dunia dan akhirat.”
Salah satu yang datang adalah Nabila Zahra. Tenang, berkulit langsat, senyum lesung pipitnya manis. Ia staf KUA, tahu hukum, tapi tetap datang karena suaminya ingin menikah lagi dan ia tidak sanggup. Abi berbicara dengannya berjam-jam. Kemudian, ketika Nabila sudah menangis dan mengangguk, Abi membuka gamisnya. Khansa melihat dari celah. Abi menyentuh Nabila dengan tangan yang lembut, lalu memasukinya pelan. Nabila mendesah, “Ahh… Abi… rasanya… beda…” Suaranya pecah. Abi menjawab, “Ini penyucian, Nak. Biar nanti kamu bisa menerima istri kedua suamimu tanpa iri.”
Khansa tidak hanya melihat Abi. Ia juga melihat kakaknya, Muhammad Fadhil. Fadhil yang 29 tahun, bahu bidang, mata elang, sering datang ke kajian dengan seragam KUA atau jaket kulit. Di depan umum, ia tampak profesional. Di belakang, ia berbeda. Khansa pernah melihat Fadhil menggandeng seorang akhwat bernama Rania Yasmin yang kulitnya putih porselen dan suaranya sengau ke kamar yang lebih kecil. “Mas Fadhil hanya ingin menolong,” kata Fadhil dengan senyum yang sedikit nakal. “Supaya Ukhti tidak kesepian. Cinta itu bisa lebih dari satu, kan?”
Rania tertawa kecil, lalu gamisnya dilonggarkan. Khansa berdiri di luar, mendengar desahan Rania yang manja, “Mas… ahh… lebih dalam…” Fadhil menggenjotnya dengan tempo yang lebih cepat daripada Abi. Suara paha yang beradu terdengar jelas. Setelah selesai, Rania keluar dengan wajah merah, hijabnya sedikit berantakan, dan Fadhil menyusul dengan wajah tenang. Ia menatap Khansa sebentar, lalu berkata pelan, “Kamu tidak perlu khawatir. Ini bagian dari dakwah juga.”
Yang paling membuat dada Khansa sesak adalah ketika ia melihat Abi dan Fadhil bersama. Suatu malam, ada seorang istri yang sedang proses cerai. Namanya Amira Syifa, perawat, tubuhnya berisi, payudaranya padat meski tertutup hijab tebal. Ia datang menangis, mengatakan suaminya ingin cerai karena ia “tidak bisa memuaskan”. Abi dan Fadhil duduk bersamanya. Abi berbicara dengan lembut. Fadhil menambahkan, “Kalau kamu ingin belajar, kami bisa menolong. Bukan untuk menggoda, tapi untuk membersihkan rasa takutmu.”
Amira mengangguk. Khansa melihat dari celah pintu yang lebih lebar kali ini. Abi masuk lebih dulu dari belakang, pelan. Amira mendesah panjang, “Ahh… Abi…” Kemudian Fadhil datang dari depan, memasukkan dirinya ke mulut Amira. Amira tersedak sedikit, lalu menyesuaikan. Suara basah, desahan, dan napas berat memenuhi ruangan. Abi menggenjot dari belakang, Fadhil dari depan. Amira tidak bisa bicara jelas, hanya “Mmm… ahh… Mas… Abi…” Tubuhnya bergoyang di antara keduanya. Khansa melihat semuanya. Cadarnya basah oleh keringat. Ia tidak pergi. Ia tetap berdiri sampai keduanya selesai, sampai Amira berbaring lemas, napasnya tersengal, dan Abi mengelus rambutnya sambil berkata, “Sekarang rahimmu sudah lebih siap. Nanti kalau suami kembali atau kamu menikah lagi, kamu tidak akan takut lagi.”
Khansa percaya. Ia benar-benar percaya. Di luar, ia tetap menjadi garda depan. Ia yang menghubungi para pejabat dan pengusaha yang ingin istri kedua. Ia yang mengatur pertemuan. Ia yang membujuk istri pertama dengan kalimat-kalimat yang sudah dihafal: “Ini bukan pengkhianatan, Ukhti. Ini syariat. Poligami yang adil. Abi kami akan membantu ritual penerimaan.” Kadang ritual itu sederhana doa dan air yang diusapkan. Kadang lebih dalam. Khansa pernah melihat seorang istri pertama, Nadia Salma yang mata elangnya tajam, akhirnya berlutut di depan Abi setelah berjam-jam diskusi. Abi memasukinya pelan sementara suaminya (yang sudah setuju) menunggu di luar. Nadia mendesah, suaranya yang biasanya dingin pecah menjadi “Ahh… Abi… izinkan… izinkan saya menerima…”
Fadhil juga tidak ketinggalan. Ia sering mengajak akhwat yang lebih muda, seperti Alya Rahma yang pipinya tembam dan wajahnya polos. “Mas hanya ingin mengajak bicara,” katanya. Tapi Khansa tahu apa yang terjadi di dalam. Ia mendengar Alya tertawa kecil lalu berubah menjadi desahan yang gemetar. Fadhil keluar dengan wajah puas, lalu menepuk bahu Khansa. “Kamu bagus, Khansa. Terus bawa mereka ke sini. Abi senang.”
Di kamarnya sendiri, Khansa menulis fiksi romansa tragedi dengan nama samaran. Ia menulis tentang perempuan yang takut suaminya mendua, padahal di dunia nyata ia setiap hari mengantar perempuan lain ke ranjang Abi dan Kakaknya. Ia menulis desahan-desahan yang ia dengar: “Abi… lebih dalam…”, “Mas… jangan berhenti…”, “Ahh… rasanya suci…”. Tulisannya basah. Pembacanya bilang mereka basah juga. Khansa membaca komentar itu di tengah malam, cadarnya sudah dilepas, dan ia merasa aneh antara bangga dan takut.
Ia takut suatu hari suaminya sendiri (jika ia menikah) akan melakukan hal yang sama. Tapi ia juga tahu, selama Abi masih hidup dan kajian ini terus berjalan, ia akan tetap menjadi perantara. Ia akan tetap berdiri di balik pintu, mendengar desahan yang tak berujung, dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah jalan yang benar. Jalan yang akan membawa para Ukhti dan Akhwat itu pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Malam-malam berikutnya, kajian terus berjalan. Khansa terus mengantar. Abi terus menyucikan. Fadhil terus merayu dengan embel-embel cinta. Dan di setiap desahan yang terdengar dari balik pintu, Khansa tetap percaya meski dadanya sesak dan kain cadarnya basah oleh keringat yang tidak ia mengerti namanya.
ns216.73.216.62da2


