Matahari sore mulai condong ke barat, melemparkan bayangan panjang di halaman rumah Kyai Haji Abdul Malik. Khansa Aulia baru saja selesai membersihkan sisa cangkir teh di ruang tamu. Di luar, deru mesin motor besar terdengar memasuki pekarangan. Itu Fadhil. Kakaknya pulang lebih awal dari KUA, masih mengenakan kemeja seragam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat kokoh di lengan bawahnya.
Fadhil tidak banyak bicara. Ia hanya mengangguk pada Khansa, meletakkan tas kerjanya di kursi, lalu berjalan lurus menyusuri lorong menuju bagian belakang rumah. Menuju kamar ujung tempat Nabila Zahira Jannah berada.
Dada Khansa berdesir. Ia tahu apa artinya itu. Sesuai janjinya semalam, Fadhil akan melanjutkan "penyucian" janda asal Tegal itu. Khansa menunggu sejenak, memastikan Bi Inah dan Bi Narsih sedang sibuk di dapur, lalu dengan langkah ringan tanpa suara, ia menyusul ke lorong belakang.
Pintu kamar itu tertutup rapat. Namun, Khansa tahu posisi terbaiknya. Ia melangkah ke samping kamar, menuju jendela dengan korden krem yang selalu menyisakan celah dua jari. Cadar hitamnya sedikit berkibar tertiup angin sore, tapi matanya sudah menempel pada celah itu.
Di dalam, Nabila Zahira Jannah sudah menunggu. Perempuan bertubuh padat dan berisi itu mengenakan daster satin berwarna merah marun yang sangat tipis. Tidak ada lagi gamis atau hijab. Rambutnya yang sedikit ikal dibiarkan tergerai menutupi bahunya. Fadhil berdiri di hadapannya, baru saja melepas kemeja KUA-nya, memperlihatkan dada dan bahunya yang bidang serta kulit sawo matangnya yang berkeringat.
"Mas Fadhil..." sapa Nabila pelan. Suaranya serak, matanya yang besar memancarkan campuran antara rasa malu dan kerinduan yang lapar.
"Sudah siap melanjutkan pelajaran kita, Ukhti?" suara Fadhil terdengar logis, tenang, namun dengan nada maskulin yang mendominasi. Ia melangkah maju, membelai pipi Nabila. "Istri yang baik harus tahu bagaimana menyambut suaminya yang lelah bekerja. Tunjukkan padaku."
Nabila menelan ludah. Ia berlutut di atas karpet tebal di depan Fadhil. Tangan perempuannya yang gemetar perlahan membuka sabuk celana Fadhil, lalu menurunkan ritsletingnya. Fadhil diam saja, membiarkan Nabila melayani. Ketika celana kain itu turun, penis Fadhil sudah tegang sempurna, menyembul keluar dari balik celana dalamnya. Nabila menarik napas panjang, matanya berbinar melihat kejantanan yang tebal dan berurat itu.
"Bismillah, Mas..." bisik Nabila. Ia menangkup batang itu dengan kedua telapak tangannya yang lembut, lalu perlahan menjulurkan lidahnya.
Dari celah jendela, Khansa menahan napas. Ia melihat bagaimana Nabila mulai mengulum kepala penis Fadhil. Suara cecapan basah langsung terdengar memenuhi ruangan, beradu dengan putaran kipas angin.
"Mmm... sluurrpp... ahh..." Nabila memejamkan mata, kepalanya bergerak maju mundur.
Fadhil menatap ke bawah dengan sorot mata elangnya yang tajam. Tangannya masuk ke helaian rambut Nabila, menekan kepala janda itu agar mengulum lebih dalam. "Bagus. Lebih dalam, Nabila. Jangan gunakan gigimu. Pakai lidahmu... ya, basahi semuanya. Bayangkan ini adalah caramu menggugurkan dosa-dosa dan rasa sepimu."
"Mhmhh... ngghh... Mas... dalem..." gumam Nabila dengan mulut penuh. Air liurnya mulai menetes, membasahi ujung dasternya.
Fadhil mulai menggerakkan pinggulnya, memompa mulut Nabila. Tempo semakin cepat. "Ahh... pintar... hisap yang kuat. Istri yang berbakti tidak akan membiarkan suaminya menahan dahaga," desis Fadhil. Ia menarik Nabila berdiri. Daster marun itu ditarik ke atas, memperlihatkan payudara Nabila yang sangat padat dan berat, dengan puting kecokelatan yang sudah mengeras. Bokong dan pinggulnya yang membusur tampak sangat menggoda.
Fadhil mendorong Nabila ke dinding kamar. Tangan besarnya meremas kedua payudara janda itu dengan kasar, sementara bibirnya melumat rakus leher Nabila.
"Ahhh... Mas... sakit... tapi... ahh... enak..." Nabila mendongak, napasnya terputus-putus.
"Ini belum apa-apa," Fadhil mengangkat satu kaki Nabila, melingkarkannya di pinggangnya. Tanpa pemanasan lebih lanjut, karena cairan Nabila sudah merembes deras ke pahanya, Fadhil menekan kepala penisnya ke belahan Nabila, lalu menghentak masuk dalam satu dorongan kuat.
"AHHHHH!! Mas Fadhil... besarrr... ahhh... mentok... rahim saya... ahh..." Nabila menjerit, kepalanya terlempar ke belakang, punggungnya menekan dinding.
Fadhil menjepit tubuh padat itu, menahan pinggul Nabila, dan mulai menggenjot dengan ritme yang brutal. Suara tamparan daging beradu basah bergema keras. Plak! Plak! Plak!
"Terima ini... ahh... janda harus disucikan rahimnya agar tidak gersang!" Fadhil mencengkeram payudara Nabila, mengguncangnya seiring dengan setiap hentakan dari bawah. "Kamu rindu ini kan? Rindu diisi sampai penuh?"
"Iya... ahhh... Mas... rindu... ahh... isiii... terus Mas... ahhh... saya rindu... ahh... tusuk jandamu ini Mas... ahh..." Nabila sepenuhnya kehilangan kendali. Kata-kata sopannya hilang, digantikan oleh bahasa nafsu murni. Matanya terbelalak nikmat setiap kali kejantanan Fadhil menyodok ujung rahimnya.
Khansa di luar mencengkeram kusen jendela. Paha bagian dalamnya berkedut hebat. Cadarnya basah oleh keringat. Ia melihat Fadhil melepaskan Nabila dari dinding, memutar tubuh perempuan itu hingga menungging di tepi ranjang. Bokong Nabila yang membusur sempurna terekspos. Fadhil masuk lagi dari belakang. Posisi ini jauh lebih dalam.
"Ahhhhh!!! Ya Allah... Mas... ahh... dalem banget... perut saya... ahhh..." Nabila merangkak di kasur, payudaranya menggantung bebas.
"Terus sebut nama Tuhanmu saat kamu disucikan," Fadhil membungkuk, menampar bokong padat itu hingga memerah, lalu menggenjot bagai mesin. "Ini dakwahku padamu... ahh... rasakan jepitannya... bagus... jepit yang kuat!"
"Ahhh... ahhh... Mas... ahhh... mau pipis... ampun... ahh... croootin Mas... ahh... semprot ke dalam..." Nabila meronta, tubuhnya kejang. Cairan bening menyembur dari vaginanya, membasahi paha Fadhil dan sprei. Ia orgasme dengan hebat, tapi Fadhil tidak memberinya ampun. Pria itu terus menghentak, hingga akhirnya Fadhil menggeram rendah, pinggulnya menempel rapat di pantat Nabila, menumpahkan benih panasnya dalam-dalam.
"Ahhh... terima ini... ahh..." Fadhil menekan kuat.
"Anget... ahhh... Mas... penuh... rahim saya basah... ahhh..." Nabila ambruk ke kasur, terengah-engah, tubuhnya lengket oleh keringat dan cairan. Fadhil mencabut perlahan, membiarkan campuran cairan kental menetes dari celah paha Nabila ke atas karpet.
Khansa memalingkan wajah, napasnya memburu. Ia segera menjauh dari jendela sebelum Fadhil merapikan diri. Ia harus kembali ke ruang depan. Tamu yang ditunggu Abi sebentar lagi tiba.
Ruang tamu utama beraroma teh melati dan gaharu. Kyai Haji Abdul Malik duduk bersila di atas karpet Persia, wajahnya memancarkan ketenangan absolut, kulit kuning langsatnya tampak bersih, dan sorot matanya yang sayu namun tajam mengunci lawan bicaranya. Di hadapannya, duduk Hana Qanita Ramadhani.
Hana berbeda dari akhwat-akhwat lain yang biasa datang ke rumah ini. Perempuan mungil berusia 25 tahun asal Demak itu mengenakan kemeja rapi yang ditutupi kardigan panjang, celana bahan longgar, dan hijab pashmina yang dililit simpel. Matanya bulat dan tajam, alis tebalnya menukik menantang. Sebagai staf LSM Pemberdayaan Perempuan, Hana datang bukan untuk disucikan, melainkan untuk berdebat.
Khansa datang membawa nampan berisi teh dan camilan, meletakkannya di meja dengan anggun, matanya yang besar di balik cadar mencuri pandang ke arah Hana. Ketika Hana tersenyum tipis pada Khansa, gigi gingsul di sebelah kanannya terlihat, membuat senyum sinisnya berubah ironis menjadi sangat manis.
"Kyai," mulai Hana, suaranya lugas, tidak ada nada memelas. "Saya membaca brosur dan mendengar dari jamaah soal 'Kajian Poligami' yang Anda pimpin. Secara sosiologis, apa yang Anda lakukan ini hanyalah perpetuasi budaya patriarki. Menggunakan dalil agama untuk menormalisasi eksploitasi tubuh dan psikologis perempuan. Anda mencuci otak mereka agar rela dimadu."
Abi tersenyum kebapakan. Sangat lembut. Tidak ada kilat amarah. Ia menyesap tehnya perlahan. "Nak Hana... semangatmu membela sesama perempuan sangat Abi hargai. Tapi, apakah menurutmu, membiarkan suami mereka berzina di luar, menyewa pelacur, atau menikah siri lalu menelantarkan anak, adalah bentuk pemberdayaan yang lebih baik?"
"Tentu tidak, Kyai," potong Hana cepat, sifat keras kepalanya terlihat jelas. "Tapi solusinya bukan dengan menumbalkan perempuan lain sebagai istri kedua atau ketiga. Solusinya adalah mendidik laki-laki untuk setia dan mengendalikan nafsunya!"
"Nafsu laki-laki itu seperti air bah, Nak Hana," Abi berbicara dengan suara baritonnya yang berat dan bergema di ruangan. "Jika bendungannya kuat, ia tertahan. Tapi jika bendungannya retak sedikit saja, ia akan mencari jalan keluar. Poligami yang syar'i adalah kanal buatan yang menyelamatkan desa dari banjir bandang. Kami di sini, di kajian ini, tidak memaksa. Kami menyembuhkan luka batin istri pertama, dan menyucikan trauma calon istri kedua. Agar mereka bertemu dalam rida, bukan perebutan."
Hana mendengus halus. "Menyucikan trauma? Dengan cara apa? Mengdoktrin mereka bahwa mereka hanya setengah manusia jika tidak memiliki suami? Saya tidak percaya metode Anda murni spiritual, Kyai."
Khansa yang duduk di sudut ruangan menahan napas. Hana terlalu cerdas. Tapi Abi justru semakin tersenyum.
"Jika kamu tidak percaya, kamu harus melihatnya sendiri, Nak Hana," Abi mencondongkan tubuhnya ke depan, sorot matanya mengunci mata tajam Hana. "Banyak aktivis sepertimu yang teriak di jalanan, tapi hatinya menangis kesepian di malam hari. Kamu membela perempuan, tapi siapa yang membelamu? Kamu keras di luar, tapi Abi tahu, di dalam... kamu sangat lelah."
Hana tertegun. Kata-kata Abi menusuk tepat di ulu hatinya. Ego idealismenya mendadak goyah oleh suara berat yang memancarkan figur ayah pelindung itu.
"Tinggallah di sini malam ini," tawar Abi lembut. "Di kamar tamu. Rasakan energi rumah ini. Lihat sendiri bagaimana para perempuan yang kamu anggap tertindas itu, justru tersenyum lebih lebar dari dirimu yang merasa merdeka."
Hana menelan ludah. Rasa ingin tahu, ambisi untuk membongkar kedok Abi, dan dorongan aneh yang tak bisa ia jelaskan, membuatnya mengangguk pelan. "Baik. Saya akan menginap satu malam. Saya akan buktikan bahwa teori Anda manipulatif."
"Silakan, Nak. Khansa akan mengantarmu ke kamar ujung yang baru kosong," Abi tersenyum penuh arti.
Malam harinya, rumah kembali sunyi. Khansa tahu, Nabila sudah dipindahkan ke asrama depan karena besok akan dijemput keluarganya. Kamar ujung belakang kini ditempati oleh Hana. Gadis idealis itu.
Pukul sebelas malam, Khansa mendengar langkah kaki berat di lorong kayu. Itu Abi. Ia tidak memakai jubah panjangnya, hanya mengenakan sarung tenun dan kaus putih oblong. Abi tidak masuk membawa kitab. Ia membawa "penyucian".
Khansa sudah bersiaga di balik korden jendela yang sama. Jantungnya berdebar sangat kencang. Ia ingin tahu bagaimana singa betina seperti Hana ditaklukkan.
Di dalam, Hana masih mengenakan kemeja dan celana panjangnya, meski hijabnya sudah dilepas. Rambut sebahunya tergerai. Ia duduk bersila di atas ranjang, tampak waspada saat Abi membuka pintu dan menguncinya dari dalam.
"Apa yang Kyai lakukan di sini malam-malam?" tanya Hana tajam, meski suaranya sedikit bergetar.
"Kamu ingin tahu bagaimana Abi menyucikan batin perempuan, kan?" Abi berjalan mendekat, ketenangannya mematikan. Ia duduk di tepi ranjang. "Pemberdayaan perempuan sejati, Nak Hana, adalah ketika ia berani menundukkan egonya sendiri di hadapan kodratnya."
"Ini pelecehan," Hana bersiap berdiri, tapi tangan Abi yang besar dan hangat meraih pergelangan tangannya. Sentuhan itu tidak kasar, namun sangat kokoh.
"Apakah Abi menyakitimu?" bisik Abi di telinga Hana. Hembusan napas bariton itu membuat bulu roma Hana meremang. "Kamu selalu melawan laki-laki karena kamu takut dikuasai. Tapi di ranjang ini, kamu tidak perlu melawan. Kamu boleh menjadi lemah. Kamu boleh menjadi perempuan sepenuhnya."
Hana terpaku. Air matanya tiba-tiba menetes tanpa izin. Kesepian bertahun-tahun di balik topeng aktivisnya meledak. Abi menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Hana terisak di dada Abi.
"Menangislah... keluarkan keras kepalamu," Abi mulai mengelus punggung Hana, perlahan jari-jarinya menelusuri tulang belakang, lalu beralih membuka kancing kemeja Hana satu per satu.
Hana tersentak pelan saat kemejanya terbuka, memperlihatkan bra hitam yang membungkus payudara kecil namun padat miliknya. "Kyai... jangan... ini salah..." tolak Hana lemah.
"Syuttt... ini bukan salah. Ini penyerahan," Abi mengecup bibir Hana. Awalnya Hana mengatupkan bibir rapat-rapat. Namun saat lidah hangat Abi menyapu bibirnya, mengisap bibir bawahnya, pertahanan Hana runtuh. Mulutnya terbuka, membiarkan lidah Abi masuk mengeksplorasi.
"Mmphhh... ahh... Kyai..." desah pertama Hana terdengar. Sangat halus, namun fatal.
Khansa membelalakkan mata di balik celah korden. Aktivis itu telah jatuh.
Abi melepaskan bra Hana, lalu membenamkan wajahnya ke dada gadis kulit gelap itu. Lidah Abi yang lihai memainkan puting Hana, memutar dan mengisapnya keras.
"Ahhh! Kyai... geli... ahh... jangan di situ... ahh..." punggung Hana melengkung, jari-jarinya meremas bahu Abi. Celana bahan Hana dilucuti dengan cepat oleh Abi, menyisakan celana dalam renda yang sudah basah di bagian tengahnya.
Abi memposisikan dirinya di antara kedua paha Hana. Ia melepaskan sarungnya, memperlihatkan pusakanya yang besar dan mengacung tegak. Hana membelalak, napasnya tersengal. "Kyai... itu... besar sekali... saya... belum pernah..."
"Karena itu Abi yang akan membuka jalanmu," Abi melepas celana dalam Hana, menyingkap bibir vagina gadis itu yang masih perawan dan sempit. Ia menurunkan wajahnya, dan mulai menjilat klitoris Hana dengan rakus.
"AHHHHH!! Ya Tuhan... Kyai... apa yang... ahhh... ahhhh... geli... ahhh... astaga..." Hana menggeliat tak karuan. Tangan mungilnya menjambak rambut beruban Abi. Sifat keras kepalanya hancur lebur oleh hantaman kenikmatan duniawi. "Kyai... ahhh... lidahnya... ahhh... saya gak kuat... ahh... ampun..."
"Keluarkan. Jangan ditahan perasanmu," gumam Abi dari sela-sela paha Hana. Dua jarinya menyusup masuk, menemukan selaput dara Hana, lalu memutarinya.
Hana menjerit tertahan, tubuhnya mengejang, cairan muncrat membasahi wajah Abi. Gadis idealis itu squirt untuk pertama kalinya. "Ahhhh!!! Kyai... saya keluar... ahhh... malu..."
"Sekarang rahimmu sudah siap menerima kebenaran," Abi bangkit, mengusap wajahnya yang basah oleh cairan Hana, lalu mengarahkan ujung penisnya ke liang yang berkedut itu. Dengan satu dorongan panjang dan kuat, Abi merobek keperawanan sang aktivis.
"ARGHHHHH!!! Sakit... Kyai... sakit... ahhh... perih..." Hana menangis terisak, darah segar menetes ke sprei putih.
Abi diam sejenak di dalam, mencium dahi Hana, meredakan tangisnya. "Sakitnya hanya sebentar, Nak. Setelah ini, kamu akan mengerti kenapa perempuan-perempuan itu tunduk pada poligami. Karena kenikmatan kepatuhan lebih besar dari perlawanan."
Perlahan, Abi mulai menarik pinggulnya dan menghentak kembali. Keluar-masuk di liang perawan yang sangat sempit dan menjepit erat itu.
"Ahh... ahh... Kyai... pelan... ahh... aduh... ahh..." desahan Hana perlahan berubah. Dari rintihan kesakitan, menjadi erangan kenikmatan. Jepitan dinding vaginanya semakin liar merespons ukuran Abi yang besar.
"Panggil Abi... kamu sekarang milik Abi malam ini..." perintah Abi, menggenjot semakin dalam dan cepat. Tubuh mungil Hana terpantul-pantul di atas kasur.
"Abi... ahhh... Abi... dalem banget... ahhh... perut saya penuh... ahh..." Hana melingkarkan kedua kakinya ke punggung Abi, menarik tubuh pria tua bertenaga kuda itu agar menancap lebih dalam. "Tusuk terus Abi... ahhh... hancurkan kesombongan saya... ahhh... ahh... lebih keras!"
Khansa meremas ujung bajunya di luar jendela. Ia melihat Hana yang tadinya berapi-api menentang poligami, kini memohon-mohon di bawah kukungan ayahnya, mendesah layaknya pelacur yang kehausan.
"Ahhh... jepitanmu luar biasa, Hana... ahhh... istri yang mandiri ternyata paling liar di ranjang... ahhh," Abi memutar pinggulnya, menggiling klitoris Hana dengan pangkal penisnya.
"Ahhh! Abi! Ahhhh! Saya mau keluar lagi... ahhh... mau... ahh... semprot di dalam Abi... isi rahim saya... ahhhhh!!!" Hana menjerit melengking, tubuhnya kaku seperti papan, orgasme keduanya datang menghentak-hentak.
Abi tak tertahan lagi. Ia mempercepat genjotannya sepuluh kali lebih liar. "Terima benih suci ini, Hana... AHHH!" Abi mengaum tertahan, menyemprotkan spermanya bertubi-tubi ke dasar rahim Hana.
Hana merintih panjang, menikmati setiap denyut sperma hangat yang membanjiri bagian terdalam tubuhnya. "Ahhh... anget... penuh... Abi... ahhh... enak sekali..." Ia terkulai lemas, matanya setengah terpejam, napasnya putus-putus. Kemeja rapinya kusut berantakan, dan idealologinya telah runtuh bersama cairan lengket yang mengalir di pahanya.
Khansa mundur dari jendela dengan kaki gemetar. Pikirannya kacau balau, namun di saat yang sama, gairahnya memuncak. Ia mempercepat langkahnya menuju kamarnya sendiri. Mengunci pintu, mencopot cadarnya yang basah oleh napasnya sendiri, dan langsung membuka laptop.
Jari-jarinya menari liar di atas keyboard. Ia menulis bab baru fiksi romansanya. Malam ini, ia tidak hanya menulis tentang Nabila yang mulut dan rahimnya dipenuhi oleh Fadhil. Ia menulis tentang Hana, aktivis pembela perempuan yang hancur oleh dalil penyucian di atas ranjang. Ia menulis desahan, keringat, sperma, dan rasa sakit yang disamarkan sebagai dakwah.
Di ujung kalimatnya malam itu, Khansa menulis:"Pemberontakan paling keras sekalipun, pada akhirnya akan mendesah pasrah saat rahimnya diisi oleh kebenaran palsu yang nikmat. Besok, siapa lagi yang akan datang mengetuk pintu neraka bersampul surga ini?"
Khansa menutup laptopnya, tangannya menyelusup ke balik pakaiannya sendiri, membayangkan jika suatu hari nanti, bukan Fadhil atau Abi yang ada di balik pintu itu, melainkan suaminya sendiri. Dan di tengah kesunyian malam, desahan Khansa sendiri menggema pelan di dalam kamarnya, bercampur dengan air mata ketakutan yang tak pernah bisa ia cegah.
Bersambung...
ns216.73.216.62da2


