Pagi Hari di Kediaman Khansa
Subuh baru saja usai ketika Khansa Aulia membuka pintu dapur. Udara pagi masih dingin, tapi kompor gas sudah menyala. Bi Inah sedang mengaduk sayur lodeh di panci besar, sementara Bi Narsih memotong tempe di atas talenan. Kedua perempuan paruh baya itu sudah bertahun-tahun membantu rumah Abi. Mereka tidak banyak bicara, tapi tangan mereka selalu sibuk.
“Sudah bangun, Nak Khansa?” tanya Bi Inah tanpa menoleh. “Nasi sudah hampir matang. Tinggal lauknya saja.”
“Iya, Bi. Biar saya yang goreng ikan asinnya,” jawab Khansa. Ia mencuci tangan di bak, lalu mengambil wajan. Cadarnya sudah ia kenakan sejak bangun, meski di dapur sendiri. Ia jarang melepasnya, kecuali di kamar. “Abi dan Mas Fadhil masih di mushala?”
“Masih,” jawab Bi Narsih. “Dari jam empat tadi. Santri-santri juga sudah berkumpul. Yang MTs dan MA itu antusias sekali pagi ini. Mungkin karena Abi janji bahas surat An-Nur.”
Khansa mengangguk. Ia tahu jadwal Abi. Setiap pagi, setelah shalat subuh berjamaah, Abi mengajar ngaji kepada santriwan dan santriwati yang mondok sekaligus sekolah di yayasan yang sama. Muhammad Fadhil, kakaknya, biasanya ikut membantu terutama untuk santri yang sudah lebih besar. Keduanya jarang absen. Dari luar, semuanya terlihat rapi. Tidak ada yang aneh.
Di dapur, Khansa mulai menggoreng. Bau ikan asin yang renyah segera memenuhi ruangan. Bi Inah menambahkan santan ke sayur. “Nak Khansa, kemarin malam ada yang datang dari Semarang. Seorang ibu, katanya ingin konsultasi sama Abi. Sudah pulang belum?”
“Sudah, Bi,” jawab Khansa pelan. “Saya yang antar ke ruang tamu tadi malam. Abi bilang urusan keluarga. Tidak perlu repot.”
Bi Narsih tertawa kecil. “Abi memang sibuk sekali. Tapi untung ada Nak Khansa yang bantu atur jadwal. Kalau tidak, Abi bisa keteteran. Santri saja sudah banyak, ditambah jamaah dari luar.”
“Saya hanya membantu,” kata Khansa. Ia membalik ikan. Minyaknya berdesis. “Lagipula, Abi bilang ini bagian dari tanggung jawab. Supaya rumah tetap tertata.”
Percakapan mereka ringan. Tidak ada yang menyinggung apa yang terjadi di balik pintu ruang privat. Bagi Bi Inah dan Bi Narsih, Abi adalah kyai yang tenang, yang jarang marah, yang selalu tersenyum ketika santri bertanya. Mereka tidak tahu atau tidak ingin tahu bahwa kadang malam hari ada akhwat yang datang dan keluar dengan wajah berbeda.
Sementara itu, di mushala yang terletak di sisi lain rumah, Kyai Haji Abdul Malik duduk bersila di atas karpet. Jenggotnya yang mulai memutih rapi terlihat jelas di bawah cahaya lampu. Di hadapannya, sekitar dua puluh santri duduk membentuk setengah lingkaran. Beberapa masih mengenakan peci, beberapa santriwati memakai kerudung yang longgar. Fadhil duduk di samping Abi, membuka kitab kuning di pangkuannya.
“Baik, kita lanjutkan,” kata Abi dengan suara baritonnya yang berat. “Surat An-Nur ayat tiga puluh dua. Siapa yang bisa membaca artinya?”
Seorang santriwati mengangkat tangan. “Ayah, artinya… dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian…”
Abi mengangguk. “Bagus. Tapi jangan berhenti di situ. Ayat ini tidak hanya soal menikah. Ada konteks. Ada hikmah. Poligami, misalnya. Banyak orang takut mendengar kata itu. Padahal, jika dilakukan dengan adil, itu justru jalan keluar. Supaya tidak ada yang terjerumus ke dalam kemaksiatan.”
Fadhil menambahkan, suaranya lebih cepat. “Abi benar. Di KUA, saya sering melihat kasus perceraian karena suami tidak mampu menahan diri. Kalau ada jalan yang syar’i, kenapa harus ditolak? Yang penting adil. Yang penting tidak menyakiti.”
Beberapa santri mengangguk. Ada yang mencatat. Ada yang hanya mendengar dengan mata tertunduk. Abi melanjutkan, menjelaskan dengan tenang, tanpa tergesa. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ketika ada santri yang bertanya tentang istri kedua, Abi menjawab dengan analogi yang sederhana. “Seperti menanam dua pohon di kebun yang sama. Asal keduanya disiram dengan cukup, keduanya bisa tumbuh. Yang salah adalah jika satu disiram dan yang lain dibiarkan kering.”
Fadhil sesekali menyela dengan contoh dari pekerjaannya. Ia menyebut nama-nama kasus tanpa detail, hanya untuk menegaskan bahwa apa yang Abi ajarkan bukan sekadar teori. Santri-santri mendengarkan. Dari luar mushala, terdengar suara ayam berkokok dan sepeda motor yang lewat di jalan desa.
Di dapur, Khansa sudah selesai menggoreng. Ia menyusun piring di meja makan. Bi Inah menuangkan sayur ke mangkuk besar. “Nak Khansa, nanti siang ada tamu lagi? Abi bilang ada pejabat dari kabupaten yang ingin silaturahmi.”
“Ada, Bi,” jawab Khansa. “Saya sudah siapkan ruang tamu. Mbak-mbak santriwati yang bantu bersih-bersih tadi pagi sudah saya minta sapu halaman.”
Bi Narsih mengangguk. “Mereka rajin. Yang dari kelas sepuluh itu, namanya siapa… Aisyah? Sudah seperti anak sendiri. Sering bantu cuci piring tanpa diminta.”
Khansa tersenyum tipis di balik cadar. Ia tahu para santriwati itu. Beberapa di antaranya pernah ia antar sendiri ke ruang Abi di malam hari, dengan alasan “konsultasi pribadi”. Tapi pagi ini, semuanya terlihat biasa. Dapur hangat. Nasi mengepul. Tidak ada yang mencurigakan.
Ketika Abi dan Fadhil masuk ke ruang makan, matahari sudah naik. Abi masih mengenakan sarung dan baju koko putih. Fadhil sudah berganti kaus olahraga. Keduanya terlihat lelah, tapi tenang.
“Sudah selesai, Nak?” tanya Abi sambil duduk.
“Sudah, Abi,” jawab Khansa. Ia menuangkan teh untuk keduanya. “Santri sudah bubar?”
“Sudah,” kata Fadhil. Ia mengambil ikan asin. “Yang kelas dua belas itu tadi banyak yang bertanya soal waris. Saya suruh mereka baca dulu kitabnya. Nanti sore saya bahas lagi sebelum berangkat kerja.”
Abi mengangguk. “Bagus. Jangan sampai mereka hanya hafal, tapi tidak paham. Terutama soal hak istri. Banyak yang salah paham.”
Khansa duduk di ujung meja. Ia makan pelan. Ia melihat Abi yang makan dengan tenang, Fadhil yang sesekali mengecek ponselnya. Tidak ada yang aneh. Tidak ada celah. Dari luar, mereka adalah keluarga kyai yang biasa: ayah yang mengajar, anak laki-laki yang membantu, anak perempuan yang mengurus rumah. Ummi sudah lama tiada. Mereka sudah terbiasa hidup begini.
Setelah makan, Fadhil berdiri. “Saya lari dulu di treadmill. Nanti jam delapan berangkat ke KUA.”
Abi juga berdiri. “Saya ke kolam. Sudah lama tidak berenang pagi.”
Khansa mengangguk. Ia tahu rutinitas mereka. Abi memang hobi berenang katanya untuk menjaga kesehatan. Fadhil selalu lari sebelum bekerja. Keduanya disiplin. Keduanya terlihat saleh.
Ia mengantar piring ke dapur. Bi Inah sudah mulai mencuci. “Nak Khansa, Abi dan Mas Fadhil sudah pergi?”
“Iya, Bi. Abi ke kolam, Mas Fadhil ke treadmill.”
Bi Narsih tertawa. “Mereka memang rajin. Jarang ada kyai yang masih sempat olahraga tiap pagi. Untung ada Nak Khansa yang jaga rumah.”
Khansa tidak menjawab. Ia berdiri di depan jendela dapur, melihat halaman belakang. Dari jauh, ia bisa melihat atap kolam renang kecil yang Abi bangun bertahun-tahun lalu. Ia tahu Abi akan berenang sendirian di sana. Ia juga tahu, setelah itu, Abi mungkin akan menerima tamu atau tidak. Semuanya tergantung jadwal yang ia sendiri yang atur.
Di dalam rumah, semuanya tetap hangat. Bau masakan masih tercium. Suara Bi Inah dan Bi Narsih bercakap pelan. Santri-santri sudah kembali ke asrama atau ke sekolah. Tidak ada yang terlihat munafik. Tidak ada yang terlihat salah.
Tapi Khansa tahu. Ia tahu apa yang akan terjadi nanti malam, ketika kajian dimulai lagi. Ia tahu siapa yang akan datang. Dan ia tahu, meski pagi ini semuanya terlihat normal, ada pintu-pintu yang hanya ia yang tahu kuncinya.
Ia menutup jendela. Cadarnya terasa sedikit panas. Ia kembali ke dapur, membantu Bi Narsih mengelap meja. “Bi, nanti siang saya ke Semarang sebentar. Ada yang harus diatur untuk kajian.”
“Hati-hati, Nak,” kata Bi Inah. “Jangan pulang terlalu malam.”
Khansa mengangguk. Ia tidak bilang bahwa “mengatur kajian” kadang berarti mengantar seseorang ke ruang yang hanya Abi dan Fadhil yang boleh masuk. Ia hanya tersenyum di balik cadar, lalu mencuci tangan lagi. Dapur tetap hangat. Rumah tetap rapi. Dan dari luar, tidak ada yang perlu dicurigai.
Kajian Poligami – POV Khansa
Mobil Alphard hitam melaju pelan di jalan tol Semarang. Pendingin ruangan menyala rendah. Khansa duduk di kursi tengah, cadarnya rapi, tangan bersandar di pangkuan. Abi duduk di sebelahnya, membuka catatan kecil di ponsel. Fadhil ada di depan, menyetir. Di luar, langit siang masih cerah.
Khansa menatap jalan yang bergeser. Pikirannya tidak di kajian yang akan mereka hadiri sore ini. Ia kembali ke hari pertama ia benar-benar menjadi asisten Abi.
Itu terjadi tujuh tahun lalu. Ia baru pulang dari pesantren di Jawa Timur. Umurnya baru delapan bellas. Ia ingin kuliah Hukum di UNDIP. Abi setuju, asal ia membantu dulu di kajian-kajian. “Supaya kamu paham lapangan,” kata Abi waktu itu. “Ilmu di kampus tidak cukup. Kamu harus lihat bagaimana orang-orang menerima dalil.”
Hari itu Jumat. Sehabis shalat Jumat di sebuah masjid pinggiran Semarang. Masjidnya tidak besar, tapi halaman parkirnya penuh mobil. Ada Innova, ada Pajero, ada Alphard lain. Jamaah yang datang bukan orang biasa. Para ikhwan mengenakan kemeja lengan panjang yang terlihat mahal. Para akhwat memakai gamis sutra dan hijab bermerek. Beberapa pasangan suami-istri duduk berdekatan.
Khansa diminta menjadi moderator. Ia hanya berdiri di samping, memegang mikrofon, mengucapkan salam, lalu menyerahkan kepada Abi. Tidak lebih. Ia masih gugup. Suaranya terdengar kecil.
Abi duduk di kursi depan. Jenggotnya masih lebih hitam saat itu. Ia tersenyum dulu, senyum yang tenang, yang membuat orang merasa aman.
“Bismillah,” katanya. Suaranya berat, mengisi ruangan tanpa perlu mengeras. “Hari ini kita tidak membahas hal yang baru. Kita membahas sesuatu yang sudah ada di dalam Al-Qur’an. Surat An-Nisa ayat tiga. Allah berfirman, nikahilah perempuan yang kamu sukai, dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka cukup satu.”
Beberapa istri menunduk. Beberapa suami mengangguk pelan.
Abi melanjutkan, tidak tergesa. “Banyak yang berhenti di kata ‘adil’. Mereka bilang, karena takut tidak adil, maka jangan poligami. Tapi mari kita baca utuh. Allah tidak melarang. Allah memberi jalan. Dan keadilan yang dimaksud bukan keadilan perasaan. Perasaan manusia memang tidak bisa dibagi rata. Keadilan di sini adalah nafkah, tempat tinggal, dan waktu. Itu yang bisa diukur.”
Seorang istri di barisan depan mengangkat tangan. Hijabnya berwarna krem, emasnya berkilau. “Abi, tapi bagaimana jika hati saya tidak bisa menerima? Saya sudah bersama suami bertahun-tahun.”
Abi menatapnya dengan tenang. “Itu wajar, Ukhti. Hati manusia memang mudah cemburu. Tapi cemburu bukan dalil untuk menolak syariat. Coba lihat sejarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki lebih dari satu istri. Apakah itu berarti beliau tidak adil? Tidak. Beliau justru contoh terbaik. Dan para istri beliau, meski manusia biasa yang bisa cemburu, tetap taat.”
Ia membuka kitab kecil di tangannya. “Ada hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau pernah merasa cemburu. Tapi beliau tidak menolak. Beliau tetap menjalankan peran sebagai istri. Karena ketaatan istri kepada suami adalah bagian dari ibadah. Selama suami tidak memerintahkan maksiat.”
Seorang suami di samping istrinya menepuk pelan tangan istrinya. Istrinya masih menunduk, tapi tidak menarik tangannya.
Abi tersenyum kecil. “Saya tidak memaksa siapa pun. Poligami bukan kewajiban. Tapi ia adalah jalan yang dibuka Allah. Untuk laki-laki yang mampu. Untuk laki-laki yang takut jatuh ke dalam zina. Dan untuk perempuan yang ingin rumah tangganya tetap utuh, meski ada tambahan.”
Ia menatap sekeliling. “Banyak kasus yang saya temui. Suami yang diam-diam berhubungan dengan perempuan lain. Istri yang tahu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada ikatan. Akhirnya rumah tangga rusak. Anak-anak bingung. Kalau saja sejak awal ada izin, ada pernikahan yang sah—meski siri dulu—maka semuanya lebih tertata. Nafkah jelas. Hak jelas. Tidak ada yang tersembunyi.”
Seorang ikhwan di belakang bertanya, “Abi, bagaimana jika istri tetap tidak mau?”
Abi mengangguk. “Maka kita tidak memaksa. Tapi kita juga tidak menutup pintu. Kadang istri perlu waktu. Kadang ia perlu mendengar dari perempuan lain yang sudah mengalaminya. Kadang ia perlu yakin bahwa suaminya tidak akan meninggalkannya. Itu tugas kita bersama. Bukan hanya suami. Bukan hanya istri. Tapi juga orang-orang di sekitar yang ingin kebaikan.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. Di ruangan itu, beberapa pasangan saling bergandengan. Ada istri yang mulai mengangguk pelan. Ada yang masih diam, tapi bahunya tidak lagi kaku.
Khansa berdiri di samping, mikrofon masih di tangan. Ia melihat semuanya. Ia melihat bagaimana kalimat Abi yang disusun pelan, dengan dalil yang sederhana, dengan analogi yang mudah membuat orang-orang yang tadinya tegang menjadi lebih lunak. Ia tidak berbicara dengan marah. Ia tidak menyalahkan istri. Ia hanya membuka pintu, lalu membiarkan mereka masuk sendiri.
“Ingat,” kata Abi lagi, suaranya lebih lembut. “Tujuan kita bukan menambah istri. Tujuan kita adalah menjaga kehormatan. Menjaga agar tidak ada yang berzina. Menjaga agar rumah tangga tidak pecah karena rahasia. Jika poligami dilakukan dengan niat itu, maka ia bisa menjadi jalan keselamatan. Bukan jalan kesenangan semata.”
Seorang istri di barisan tengah akhirnya berbicara. Suaranya kecil. “Kalau begitu… jika suami saya benar-benar mampu berlaku adil… saya akan coba menerima.”
Suaminya di sampingnya langsung memeluk bahunya. Tidak erat. Hanya cukup untuk menunjukkan bahwa ia ada di sana.
Abi tersenyum. “Itu sudah cukup, Ukhti. Tidak perlu langsung sempurna. Cukup mulai dengan niat. Nanti kita bicarakan pelan-pelan. Tidak ada yang terburu-buru.”
Kajian itu berlangsung hampir dua jam. Abi tidak banyak bergerak. Ia hanya berbicara, menjawab, dan sesekali mengangguk. Ketika selesai, beberapa pasangan menghampiri. Mereka berterima kasih. Ada yang meminta jadwal konsultasi pribadi. Ada yang hanya ingin bersalaman.
Khansa yang mengatur antrian. Ia masih canggung. Tapi ia melihat bagaimana mata para akhwat itu berubah dari waspada menjadi lebih tenang. Ia melihat bagaimana para ikhwan itu tersenyum lega.
Di dalam Alphard sekarang, Khansa masih mengingat wajah-wajah itu. Abi di sampingnya menutup ponsel. “Kamu diam saja dari tadi,” katanya.
“Saya ingat kajian pertama saya dampingi,” jawab Khansa. “Yang di masjid pinggiran itu. Setelah Jumat.”
Abi mengangguk pelan. “Yang banyak pasangan itu. Iya. Beberapa dari mereka sekarang sudah punya istri kedua. Yang satu bahkan sudah tiga. Mereka masih datang sesekali.”
Fadhil dari depan menambahkan, “Yang istrinya tadinya paling keras itu, sekarang malah yang paling sering bantu cari kandidat. Katanya, lebih tenang begitu.”
Khansa tidak menjawab. Ia menatap jalan lagi. Di kepalanya, suara Abi dua tahun lalu masih terdengar jelas. Kalimat-kalimat yang indah. Dalil yang disusun rapi. Pasangan-pasangan yang saling merangkul. Dan ia, yang waktu itu hanya berdiri di samping, memegang mikrofon, merasa bahwa apa yang Abi lakukan memang benar.
Meja Makan dan Pintu yang Tertutup
Sore itu, restoran di kawasan Simpang Lima tidak terlalu ramai. Mereka duduk di meja sudut yang agak tertutup. Harun, pengusaha kayu dari Jepara, duduk di sebelah istrinya, Risya. Di seberang mereka, Abi duduk dengan tenang. Khansa di samping Abi. Dan di ujung meja, sudah ada seorang perempuan muda berkulit langsat, berhijab cokelat muda, yang tersenyum sopan setiap kali dilirik.
Namanya Nabila Zahra Aulia. Dua puluh tujuh tahun. Asal Solo. Khansa baru tahu namanya lengkap ketika Abi memperkenalkan.
“Ini Ukhti Nabila,” kata Abi pelan. “Ia yang tadi saya ceritakan. Sudah saling kenal dengan Mas Harun lewat media sosial. Dulunya juga mondok.”
Risya menatap Nabila sekilas, lalu tersenyum kaku. “Oh. Jadi sudah lama kenal?”
Harun mengangguk cepat. “Belum lama, Sayang. Baru beberapa bulan. Tapi kami sudah banyak bicara. Soal agama, soal keluarga. Ia… tenang. Seperti yang Abi bilang.”
Nabila hanya tersenyum. Suaranya halus ketika menjawab. “Saya tidak ingin merepotkan, Bu Risya. Saya hanya ingin belajar lebih banyak. Supaya nanti, jika diizinkan, saya bisa menjadi bagian yang tidak menambah beban.”
Khansa diam. Ia memperhatikan tangan Risya yang memegang garpu lebih erat. Abi tidak langsung bicara. Ia menunggu makanan datang ikan bakar, sayur asem, nasi putih. Ketika semua sudah tersaji, barulah Abi membuka suara.
“Mas Harun dan Bu Risya,” katanya, “saya tidak akan memaksa apa pun hari ini. Tapi saya lihat Mas Harun sudah mantap. Dan Ukhti Nabila juga sudah menyatakan kesiapan. Yang perlu dijaga sekarang adalah hati Bu Risya.”
Risya menunduk sebentar. “Saya sudah dengar penjelasannya tadi di kajian, Abi. Saya… berusaha. Tapi rasanya masih berat.”
“Itu wajar,” jawab Abi. “Tidak ada istri yang langsung ringan hatinya. Tapi ada cara. Ukhti Nabila ini, jika Bu Risya izinkan, bisa mondok dulu di rumah saya. Seminggu. Bukan untuk apa-apa. Hanya untuk belajar. Bagaimana menjadi istri kedua yang baik. Bagaimana tidak mengambil hak istri pertama. Bagaimana menjaga adab.”
Harun menoleh ke istrinya. “Sayang, coba pikir. Kalau ia mondok dulu, kamu bisa lihat sendiri. Abi yang mengawasi. Bukan saya yang sembarangan bawa pulang.”
Nabila menambahkan, suaranya tetap rendah. “Saya tidak keberatan, Bu. Saya memang ingin belajar lagi. Dulu saya santri. Tapi sudah lama tidak mendalam. Jika Abi berkenan, saya siap.”
Khansa melihat Risya menghela napas. Abi tersenyum kecil, senyum yang sama seperti di kajian-kajian sebelumnya. “Tidak ada yang terburu-buru. Tapi jika Bu Risya setuju, besok pagi Ukhti Nabila bisa ikut mobil kami. Ada kamar di belakang rumah. Bersih. Seperti penginapan kecil. Santriwati juga ada yang bantu. Ia tidak akan sendirian.”
Risya akhirnya mengangguk pelan. “Baik, Abi. Saya percaya Abi. Tapi… tolong jangan sampai saya menyesal.”
“Insyaallah,” kata Abi. “Niat kita baik. Maka jalannya juga akan baik.”
Makan siang itu berlanjut dengan percakapan yang lebih ringan. Harun bercerita tentang pengiriman kayu ke luar pulau. Risya sesekali bertanya pada Nabila soal pekerjaan di KUA. Nabila menjawab singkat, sopan. Khansa hanya makan. Ia memperhatikan bagaimana Abi sesekali menatap Nabila tidak lama, tapi cukup untuk membuat Khansa ingat pada banyak akhwat lain yang pernah duduk di meja yang sama.
Malamnya, Nabila sudah berada di rumah. Kamar yang Abi maksud memang ada di bagian belakang. Empat ruangan berjejer, masing-masing dengan kamar mandi dalam, tempat tidur besar, dan jendela yang menghadap kebun kecil. Seperti hotel kecil yang tidak pernah diumumkan. Khansa yang menyiapkan kunci dan handuk.
Tiga hari pertama, Abi masuk ke kamar Nabila setiap sore. Khansa tahu karena ia yang mengantar teh atau sekadar lewat. Pintu selalu tertutup. Tapi tidak selalu rapat.
Hari pertama, Khansa mendengar suara Abi yang tenang. “Ukhti, sebelum kita bicara soal adab istri kedua, ada yang perlu dibersihkan dulu. Rasa takut. Rasa tidak pantas. Itu yang sering menghalangi.”
Jawaban Nabila pelan. “Bagaimana caranya, Abi?”
“Dengan tawakal. Dan dengan menyerahkan diri. Bukan pada saya. Pada ketentuan Allah.”
Lalu suara kain yang bergeser. Khansa berdiri di lorong, tidak masuk. Ia mendengar desahan kecil. Bukan panjang. Hanya sekali, lalu teredam. Abi berbicara lagi, lebih rendah. “Tenang. Ini bukan untuk saya. Ini supaya nanti kamu bisa menerima Mas Harun tanpa was-was.”
Hari kedua, pintu sedikit terbuka. Khansa melihat sekilas. Nabila berbaring, gamisnya sudah naik ke pinggang. Abi duduk di tepi ranjang, tangannya di paha Nabila. Nabila menunduk, napasnya pendek. Ketika Abi bergerak, Nabila mendesah lagi—lebih jelas. “Ahh… Abi…”
Abi menjawab tanpa meninggikan suara. “Bagus. Lepaskan. Supaya tidak ada yang tersisa di dalam.”
Khansa mundur. Jantungnya berdebar. Ia kembali ke dapur, membantu Bi Inah, seolah tidak terjadi apa-apa.
Hari ketiga, Khansa tidak sengaja lewat lebih lama. Pintu terbuka lebih lebar. Ia melihat Abi sudah di atas Nabila. Gerakannya pelan, dalam. Nabila memegang lengan Abi, mulutnya terbuka. Desahannya pecah-pecah. “Abi… ahh… saya… tidak kuat…”
“Kuat,” kata Abi. “Ini penyucian. Supaya rahimmu siap. Supaya hatimu tidak memberontak nanti.”
Nabila mengangguk, air mata di pelipisnya. Tubuhnya mengikuti. Suara basah terdengar jelas di lorong yang sepi. Khansa berdiri diam sampai Abi selesai. Sampai Nabila berbaring lemas, gamisnya berantakan, dan Abi mengelus dahinya sambil berkata, “Besok kita lanjutkan soal nafkah dan pembagian waktu. Hari ini cukup.”
Khansa pergi sebelum Abi keluar. Di dapur, Bi Narsih bertanya kenapa ia diam. Khansa hanya menjawab, “Capek, Bi. Banyak yang harus diatur.”
Ia tahu Nabila akan tinggal sampai seminggu. Ia tahu Abi akan masuk lagi. Dan ia tahu, ketika Harun datang menjemput nanti, Nabila akan tersenyum sopan, mengucapkan terima kasih, dan berkata bahwa ia sudah lebih siap. Risya mungkin akan sedikit lebih tenang. Harun akan lega.
Dan Khansa akan tetap berdiri di lorong, atau di meja makan, atau di dalam Alphard, memperhatikan semuanya dengan mata yang sama. Mata yang sudah terbiasa melihat pintu tertutup, mendengar desahan yang disebut penyucian, dan tetap percaya bahwa apa yang Abi lakukan adalah benar.
Malam itu, sebelum tidur, Khansa menulis beberapa kalimat di catatan pribadinya. Bukan fiksi. Hanya nama. Nabila Zahra. Tiga hari. Pintu belakang. Ia menutup buku, mengenakan cadar lagi meski di kamar, dan mematikan lampu. Di bagian belakang rumah, salah satu kamar masih menyala. Dan ia tahu siapa yang ada di dalamnya.
Penyucian rahim yang Panjang
Kamar belakang itu sudah redup ketika Abi menutup pintu. Nabila Zahra duduk di tepi ranjang, gamis cokelat mudanya masih rapi, hijabnya longgar di bahu. Ia menunduk. Jari-jarinya saling menggenggam di pangkuan.
“Ukhti,” kata Abi pelan. Ia berdiri di hadapannya. “Malam ini kita selesaikan yang belum. Rasa takutmu. Rasa tidak pantas. Semuanya harus keluar.”
Nabila mengangkat wajah. Matanya almond, teduh, sedikit berair. “Saya… masih perawan, Abi. Saya takut.”
Abi tersenyum, senyum kebapakannya yang tenang. Ia duduk di samping Nabila, tangannya mengangkat dagu perempuan itu. “Tidak ada yang perlu ditakuti. Ini bukan nafsu semata. Ini penyerahan. Kamu menyerahkan rahimmu untuk disucikan, supaya nanti suami yang sah bisa merasakan ketenangan. Allah melihat niat, bukan hanya perbuatan.”
Bibir mereka bertemu. Ciuman pertama Abi lembut, hanya menekan. Nabila kaku. Abi tidak memaksa. Ia mengulum bibir bawah Nabila pelan, lidahnya menyentuh celah, menunggu. Ketika Nabila akhirnya membuka mulut, Abi masuk lebih dalam. Lidah mereka bertemu. Nabila mendesah kecil di dalam ciuman.
“Ahh… Abi…”
“Bagus,” bisik Abi. Tangannya sudah di hijab Nabila. Ia melepas peniti satu per satu, pelan. Hijab jatuh ke kasur. Rambut Nabila yang hitam legam terurai. Abi mencium dahinya, lalu pelipis, lalu turun ke leher. “Lehermu wangi. Seperti perempuan yang siap disucikan.”
Nabila menengadahkan kepala. Abi menghisap kulit lehernya, meninggalkan bekas merah samar. Tangannya membuka kancing gamis dari atas. Satu. Dua. Tiga. Kain terkuak. Payudara Nabila yang sedang, terbungkus bra putih sederhana, terlihat. Abi menurunkan tali bra, mencium bahu kanan, lalu kiri. Kulit Nabila merinding.
“Abi… geli…”
“Sabar.” Abi membuka kait bra. Payudara Nabila terlepas. Putingnya sudah mengeras, cokelat muda. Abi menangkup keduanya, ibu jarinya menggesek puting. Nabila mengerang. Abi menunduk, mengulum puting kanan. Lidahnya memutar, menghisap, lalu menggigit pelan.
“Ahhh… Abi… jangan… ahh… enak…”
“Ini milikmu,” kata Abi di antara isapan. “Nanti suami akan melakukan ini. Kamu harus terbiasa merasa nikmat tanpa dosa.” Ia pindah ke puting kiri, menghisap lebih kuat. Nabila memegang kepala Abi, jari-jarinya masuk ke rambut yang mulai beruban. Desahannya manja, terputus.
Abi menurunkan gamis sepenuhnya. Nabila sekarang hanya memakai celana dalam putih. Abi mendorongnya berbaring. Ia mencium dari tulang selangka, turun ke perut yang rata, ke pusar. Lidahnya memutar di pusar Nabila. Perempuan itu menggeliat.
“Abi… di bawah… panas…”
“Akan Abi lihat.” Abi membuka celana dalam Nabila. Vagina Nabila yang masih perawan terlihat—bibirnya tertutup rapat, sedikit basah sudah. Abi mencium paha dalam kanan, lalu kiri, mendekat. Ketika lidahnya pertama kali menyentuh belahan itu, Nabila menjerit kecil.
“Ahhhh… Abi…!”
Abi menjilat pelan dari bawah ke atas, memisahkan bibir vagina dengan ibu jari. Ia menghisap klitoris Nabila, lidahnya bergetar. Nabila mengangkat pinggul. Cairan bening sudah keluar. Abi memasukkan satu jari, hati-hati, mencari selaput. Masih ada.
“Masih utuh,” katanya. “Bagus. Akan Abi ambil dengan benar.”
Ia terus menjilat. Nabila sudah tidak bisa diam. Desahannya memenuhi kamar. “Abi… ahh… mau… pipis… ahh… jangan berhenti…”
“Keluar saja,” perintah Abi. Ia menghisap lebih kuat, dua jari sekarang masuk pelan, menekuk. Nabila squirt pertama kali. Cairan deras menyembur ke dagu Abi. Tubuhnya gemetar hebat. “Ahhhhh… Abi… ampun… ahh…”
Abi tidak berhenti. Ia terus menjilat sampai Nabila menangis nikmat, sampai orgasme keduanya datang lebih kecil, pinggulnya kejang. Baru kemudian Abi berdiri, membuka seluruh pakaiannya. Tubuhnya yang 58 tahun itu telanjang. Penisnya besar, panjang, berurat tebal, sudah tegang sempurna, kepala kemerahan mengkilap.
Nabila melihatnya dengan mata lebar. “Abi… besar sekali… saya takut…”
“Tidak akan sakit lama,” kata Abi. Ia naik ke atas Nabila, mencium bibirnya lagi, membiarkan perempuan itu merasakan rasanya sendiri. “Lihat. Pegang.”
Nabila menurut. Tangannya yang lembut memegang batang Abi. Urat-uratnya terasa di telapak. “Panas… Abi…”
Abi mengarahkan kepala penisnya ke vagina Nabila yang masih berkedut. Ia menggesekkan di klitoris dulu, membuat Nabila mendesah lagi. Kemudian ia menekan. Pelan. Masuk sedikit. Selaput menahan.
“Tarik napas,” bisik Abi. “Ucapkan bismillah.”
“Bis… millah… ahh…”
Abi menghentak sekali. Dalam. Selaput pecah. Nabila menjerit, kukunya mencengkeram punggung Abi. Darah sedikit mengalir. Abi diam di dalam, membiarkan Nabila menyesuaikan. Penisnya yang besar memenuhi vagina sempit itu sepenuhnya.
“Ahhh… Abi… penuh… sakit… tapi… ahh…”
“Sudah,” kata Abi, mencium air mata di pelipis Nabila. “Keperawananmu sudah Abi ambil. Sekarang nikmatnya menyusul.” Ia mulai bergerak. Pelan dulu. Keluar sampai hampir lepas, masuk lagi sampai pangkal. Setiap hentakan membuat Nabila mendesah lebih panjang.
“Ahh… ahh… Abi… dalem… ahh… enak…”
“Ini penyucian,” Abi menggenjot lebih ritmis. “Rahimmu menerima benih yang bersih. Supaya nanti tidak ada rasa bersalah.”
Nabila sudah mabuk. Kakinya melingkar di pinggang Abi. “Lebih kencang… Abi… ahh… saya mau lagi…”
Abi menurut. Gerakannya semakin dalam, semakin semangat. Tempat tidur berderit. Payudara Nabila bergoyang. Abi menunduk menghisap puting sambil terus menghentak. Nabila squirt kedua kalinya—cairan menyembur deras di antara mereka, membasahi perut Abi dan sprei.
“Ahhhh… Abi… saya pipis lagi… ahh… ampun…”
“Bagus. Keluar semua.” Abi tidak berhenti. Ia mempercepat. Nabila orgasme ketiga, keempat, kelima—tubuhnya kejang berulang, desahannya manja dan putus-putus. “Abi… ahh… jangan keluar… biar… lebih… ahh… saya gila…”
“Belum,” kata Abi. Ia menarik diri, membalik Nabila tengkurap. “Angkat pinggul.”
Nabila menurut, lemah. Abi masuk dari belakang dalam sekali hentakan. Posisi ini lebih dalam. Nabila menjerit ke bantal. “Ahhhh… Abi… mentok… ahh… rahim saya…”
Abi memegang pinggangnya erat, menggenjot seperti orang yang tidak kenal lelah. Kulit beradu keras. “Terima. Ini untukmu. Ahh… vagina kamu… menjepit… bagus sekali…”
Nabila orgasme keenam dan ketujuh dalam posisi itu. Cairannya menetes terus. Abi akhirnya keluar pertama kali—dalam-dalam. Sperma panas menyembur ke rahim Nabila. Abi mengerang rendah. “Ahhhh… terima… benih penyucian… ahh…”
Ia tidak langsung keluar. Ia terus bergerak pelan, menyebarkan spermanya. Nabila merintih, masih sensitif. “Abi… penuh… hangat… ahh…”
Abi membalik lagi Nabila, kali ini perempuan itu di atas. “Gerak sendiri. Tunjukkan kamu sudah siap.”
Nabila menurut, meski gemetar. Ia naik turun di penis Abi yang masih keras. Setiap turun, ia mendesah panjang. Abi memegang payudaranya, mengocok puting. Nabila orgasme kedelapan tubuhnya ambruk ke dada Abi, squirt kecil lagi membasahi pangkal penis Abi.
Abi membaliknya sekali lagi, mengangkat kedua kaki Nabila ke bahu, masuk dalam-dalam. Ia menggenjot cepat. Keluar kedua, ketiga, dan keempat kalinya semuanya di dalam. Setiap semburan membuat Nabila merintih “Abi… ahh… penuh… jangan berhenti… isi lagi…”
Ketika Abi akhirnya berhenti, vagina Nabila sudah banjir. Sperma dan cairan bercampur mengalir keluar deras. Nabila tergeletak, mata setengah tertutup, napas tersengal, tubuh berkeringat dan lengket. Abi masih di atasnya, mencium dahinya.
“Sudah,” katanya, suara serak tapi tenang. “Rahimmu sudah disucikan empat kali. Kamu sudah keluar berkali-kali. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Nanti jika Mas Harun datang, kamu akan bisa menerimanya dengan tenang. Karena kamu sudah tahu nikmat yang halal.”
Nabila mengangguk lemah. “Terima kasih… Abi… saya… tidak menyangka… senikmat ini…”
Abi tersenyum, masih di dalam meski sudah lunak. “Itu tugas Abi. Menyucikan. Bukan menodai.” Ia mencium bibir Nabila sekali lagi, lembut. Di luar, malam sudah larut. Dan di lorong, jika ada yang berdiri di celah korden, ia akan melihat dua tubuh yang masih menempel, keringat yang belum kering, dan sperma yang terus mengalir dari vagina yang baru saja kehilangan keperawanannya semuanya dalam nama penyucian.
Celah Korden
Maghrib hampir tiba. Langit di belakang rumah sudah mulai oranye. Fadhil belum pulang dari KUA. Khansa baru selesai mengantar Bi Inah ke dapur untuk menyiapkan buka. Ia berjalan menyusuri lorong belakang, membawa handuk bersih yang sebenarnya tidak perlu ia antar sendiri. Kakinya berhenti di depan kamar paling ujung.
Pintu tertutup rapat. Tapi jendela di sampingnya tidak. Korden tipis berwarna krem hanya tertutup setengah. Ada celah selebar dua jari. Dari dalam terdengar suara. Bukan suara kajian. Bukan suara doa. Desahan. Pendek. Basah. Terputus-putus.
Khansa mendekat. Ia tahu seharusnya ia tidak boleh. Tapi kakinya sudah di sana. Ia mencondongkan tubuh, mata di celah korden. Napasnya tertahan di balik cadar.
Di dalam, lampu kamar menyala redup. Tempat tidur besar tidak rapi. Nabila Zahra tengkurap. Gamisnya sudah tidak ada. Hijabnya juga. Tubuhnya telanjang, berkeringat. Pinggulnya sedikit terangkat, lutut menekan kasur. Punggungnya melengkung. Rambutnya yang basah menempel di leher.
Abi di belakangnya. Juga telanjang. Jenggotnya yang mulai memutih basah di ujung. Tubuhnya yang 58 tahun itu masih padat. Ia memegang pinggang Nabila dengan kedua tangan. Pinggulnya bergerak maju-mundur. Tidak pelan. Tidak seperti hari-hari pertama. Kali ini lebih dalam. Lebih cepat. Kulit mereka beradu, mengeluarkan suara basah yang jelas.
Nabila mendesah. Suaranya pecah.
“Ahh… Abi… dalam… ahh…”
Abi tidak berhenti. Napasnya berat. “Sabar, Ukhti. Ini… ahh… penyucian. Biar rahimmu… bersih.”
Nabila menggenggam sprei. Pinggulnya terdorong maju setiap kali Abi masuk. “Abi… rasanya… panas… ahh… jangan berhenti…”
“Tidak akan,” jawab Abi. Suaranya masih berat, meski tersengal. “Kamu harus terbiasa. Supaya nanti… bisa memuaskan suami. Supaya tidak ada was-was.”
Khansa tidak berkedip. Ia melihat penis Abi yang basah keluar masuk di antara belahan pantat Nabila. Cairan bening menetes ke sprei. Keringat Abi menetes ke punggung Nabila. Setiap hentakan membuat payudara Nabila bergoyang di bawah tubuhnya. Desahan Nabila semakin panjang.
“Ahhh… Abi… saya… nikmat… ampuni… ahh…”
“Tidak ada yang perlu diampuni,” kata Abi sambil menghentak lebih dalam. “Ini ibadah. Kamu menyerahkan diri. Ahh… bagus… begitu…”
Nabila mengangguk cepat, wajahnya menempel di bantal. “Iya… Abi… saya terima… ahh… lebih kencang…”
Abi menurut. Gerakannya berubah. Lebih semangat. Pinggulnya menghantam pantat Nabila berulang kali. Suara tamparan kulit memenuhi kamar. Nabila menjerit kecil, lalu berubah menjadi desahan yang tidak terputus.
“Ahh… ahh… Abi… penuh… rahim saya… ahh… kenyang…”
“Itu yang Abi mau,” jawab Abi. Tangannya meremas pinggang Nabila lebih erat. “Supaya kamu ingat. Supaya nanti kalau Mas Harun masuk, kamu tidak kaget. Kamu sudah siap.”
Khansa merasakan kakinya lemas. Cadarnya panas. Ia bisa melihat urat di lengan Abi menegang. Bisa melihat bagaimana Nabila mendorong pinggulnya ke belakang, menyambut setiap hentakan. Keringat mereka bercampur. Bau seks samar-samar keluar dari celah jendela.
Nabila berbicara lagi, suaranya terputus. “Abi… saya… mau… ahh… jangan keluar dulu… biar… lebih lama…”
Abi tertawa pelan, napasnya tersengal. “Serakah sudah. Tapi baik. Kita lanjut. Kamu harus kuat. Istri kedua harus kuat.”
Ia mempercepat. Tempat tidur berderit. Nabila tidak lagi bisa membentuk kata. Hanya desahan. “Ahh… ahh… ahh… Abi… Abi…”
Abi membungkuk, dadanya menempel di punggung Nabila. Ia berbisik di telinga Nabila, tapi suaranya masih terdengar. “Ucapkan. Kamu milik siapa malam ini.”
“Milik… ahh… Abi… untuk disucikan… ahh…”
“Bagus.” Abi menggenjot lebih dalam, lebih kasar. “Terima semuanya. Jangan ditahan.”
Nabila menurut. Tubuhnya gemetar. Desahannya naik, pecah, lalu panjang. “Ahhhh… Abi… saya… keluar… ahh…”
Abi tidak berhenti. Ia terus bergerak sampai Nabila lemas, sampai pinggulnya turun, sampai ia hanya bisa mendesah pelan sambil menerima sisa hentakan. Beberapa saat kemudian Abi juga mengerang rendah. Pinggulnya menekan dalam-dalam. Ia diam di sana. Nabila merintih kecil, tubuhnya masih berkedut.
“Sudah,” kata Abi akhirnya, suaranya serak. “Cukup untuk hari ini. Nanti malam kita bahas lagi soal pembagian nafkah. Sekarang istirahat.”
Ia menarik diri pelan. Cairan putih mengalir dari antara paha Nabila ke sprei. Nabila tidak bergerak. Hanya napasnya yang berat. Abi duduk di tepi ranjang, masih telanjang, mengusap keringat di janggutnya.
Khansa mundur selangkah. Jantungnya berdebar kencang sampai telinganya panas. Ia tidak melihat Abi menoleh. Ia tidak yakin apakah Abi tahu ada yang mengintip. Yang ia tahu, kakinya gemetar ketika ia berjalan menjauh dari jendela.
Di lorong, ia bertemu Bi Narsih yang membawa nampan.
“Nak Khansa, Abi masih di dalam?” tanya Bi Narsih.
Khansa mengangguk. Suaranya sedikit serak. “Masih. Katanya kajian private. Jangan diganggu dulu.”
Bi Narsih mengangguk, tidak curiga. “Ya sudah. Nanti saya taruh makanannya di depan pintu.”
Khansa berjalan terus ke dapur. Tangannya dingin. Di kepalanya, gambar itu tidak hilang. Nabila yang tengkurap. Pinggul yang terangkat. Abi yang menggenjot dengan penuh semangat. Desahan yang bercampur kata-kata islami. Penyucian. Rahim. Ketaatan.
Ia menuang air ke gelas, tangannya tidak stabil. Dari luar, azan maghrib mulai berkumandang. Rumah tetap tenang. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang marah. Hanya Khansa yang berdiri di dapur, cadarnya basah oleh keringat, dan tahu bahwa sebentar lagi Abi akan keluar dari kamar itu dengan wajah tenang, seolah baru selesai mengaji.
Dan Nabila akan tersenyum sopan ketika nanti Harun datang. Mengatakan bahwa ia sudah lebih siap. Bahwa hatinya sudah lebih tenang.
Khansa meneguk airnya. Dingin. Ia tidak tahu harus merasa apa. Yang ia tahu, ia akan kembali ke jendela itu lagi. Mungkin besok. Mungkin lusa. Karena pintu-pintu di rumah ini tidak pernah benar-benar tertutup. Dan ia sudah terlalu lama berdiri di celahnya.
Mobil terus melaju. Kajian sore ini akan dimulai sebentar lagi. Dan Khansa sudah tahu, ia akan berdiri lagi di samping Abi. Hanya saja, sekarang ia tidak lagi gugup.
Bersambung...
ns216.73.216.62da2


