Aku adalah mahasiswa perantau yang sudah hampir empat tahun tinggal di kota ini jauh dari orang tua. Sekarang aku sudah berada di tingkat akhir dan hanya tinggal menunggu waktu untuk lulus. Karena tidak ingin terlalu membebani keluarga, aku memutuskan untuk bekerja sebagai barista part-time.
180Please respect copyright.PENANAlAwE1NIKB2
Pekerjaan ini sangat membantuku dalam membiayai kebutuhan sehari-hari selama menyusun skripsi. Kedai kopi kecil ini lokasinya sangat strategis karena berada tepat di dekat kampus swasta tempatku kuliah. Sebagian besar pelanggan yang datang adalah teman-teman mahasiswa yang ingin nongkrong atau sekadar mengerjakan tugas.
180Please respect copyright.PENANAKFMcHFayVM
Kondisi kedai ini sebenarnya cukup tenang kalau tidak sedang jam makan siang atau sore hari. Pak Yanto, pemilik kedai yang rumahnya tidak jauh dari sini, sudah memberiku kepercayaan penuh untuk mengelola operasional harian.
180Please respect copyright.PENANAq0MRvgzqXi
Awalnya aku merasa bisa menangani semuanya sendiri karena jumlah pelanggan masih tergolong stabil. Namun, belakangan ini jumlah pengunjung melonjak drastis sampai aku merasa kewalahan mengatur pesanan. Aku seringkali harus berlari dari mesin espresso ke meja pelanggan sambil membawa nampan berat. Rasa lelah mulai terasa karena aku harus membagi waktu antara kerja dan revisi skripsi.
180Please respect copyright.PENANAmrViRPLtfz
Akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk mencari bantuan agar tidak tumbang karena kelelahan. Aku memberitahu Pak Yanto bahwa aku butuh rekan kerja baru untuk membantu operasional kedai.
180Please respect copyright.PENANA7OpcXNGW38
Beliau setuju dan bahkan menyuruhku untuk segera memasang pengumuman lowongan kerja di pintu depan. Aku menuliskan syarat sederhana bahwa pelamar harus jujur dan mau belajar membuat kopi. Tidak butuh waktu lama sampai ada seseorang yang datang menghampiriku dengan membawa berkas lamaran. Saat itulah aku melihat sosok wanita berhijab yang penampilannya sangat menarik perhatianku.
180Please respect copyright.PENANA01jUHAQZnU
--------
180Please respect copyright.PENANAeTgC39EP49
180Please respect copyright.PENANAZkHcqWGj9t
"Malam, Mas. Maaf mengganggu, apa lowongan baristanya masih ada?" suara itu lembut sekali, hampir tertutup bunyi mesin pendingin minuman di sudut kedai.
180Please respect copyright.PENANAYhlxa4GeNf
Aku mendongak dan seketika terpaku melihat sosok wanita berhijab yang berdiri di depan meja kasir tepat saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Parasnya sangat teduh dengan tatapan mata yang agak pemalu, namun ada aura keibuan yang sangat kuat terpancar dari caranya berdiri. Tubuhnya benar-benar proporsional, terlihat berisi dan sintal di balik pakaian sopannya, memberikan kesan feminin yang sangat dewasa. Dia tersenyum tipis sambil sedikit menunduk, membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Suasana kedai yang sudah sepi membuat momen perkenalan ini terasa sangat intim dan mendadak jadi sunyi.
180Please respect copyright.PENANAy2FiEwp61x
Dia menyodorkan selembar kertas CV dengan tangan yang sedikit gemetar karena gugup. Aku menerimanya sambil mencoba bersikap tenang, meski pikiranku mulai terdistraksi oleh aroma parfum lembut yang menguar darinya.
180Please respect copyright.PENANA7ULvX2pbbw
Setelah kubaca sekilas, ternyata dia tidak punya pengalaman kerja sebagai barista sama sekali. Dia hanya menuliskan riwayat pendidikannya, dan ternyata dia adalah lulusan S1 Manajemen. Yang lebih mengejutkan lagi, dia kuliah di kampus yang sama denganku, hanya saja beda angkatan. "Kamu alumni sini juga? Kok aku nggak pernah lihat kamu di fakultas?" tanyaku sambil menatap matanya.
180Please respect copyright.PENANALkmA3vlvd1
Leona terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat manis di telingaku. "Mungkin karena aku jarang nongkrong di kantin, aku lebih suka di perpustakaan," jawabnya dengan nada bicara yang sangat sopan.
180Please respect copyright.PENANACAoSSUmZPE
Aku mengangguk-angguk, merasa ada ketertarikan instan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. "Tapi, kamu yakin mau kerja di sini? Kamu kan belum pernah pegang mesin kopi sama sekali," ujarku mencoba bersikap profesional. Leona mengangguk yakin, "Aku siap belajar dari nol, Mas. Aku hanya ingin mengisi waktu luang sambil menambah penghasilan."
180Please respect copyright.PENANAvU7ar2T2V9
Aku memperhatikan caranya berbicara yang sangat tertata, membuatku merasa dia adalah sosok yang cerdas meski terlihat pemalu.
180Please respect copyright.PENANAlkkpdrJYaL
Ada sesuatu yang sangat menarik dari kontras antara penampilannya yang santun dengan bentuk tubuhnya yang menggoda. Aku merasa kalau menerima dia, hari-hariku di kedai ini tidak akan membosankan lagi. "Oke, aku terima kamu. Tapi kamu harus mau aku latih habis-habisan soal kopi," kataku sambil memberikan senyum terbaikku. Wajah Leona langsung cerah, dan dia mengucapkan terima kasih dengan nada yang sangat tulus.
180Please respect copyright.PENANAMxUISfgwjE
Aku membuatkan segelas kopi susu gula aren spesial, gratis tentu saja sebagai bentuk sambutan. Aku mempersilakan Leona duduk di salah satu kursi pojok yang paling nyaman agar dia bisa lebih santai.
180Please respect copyright.PENANAZw5Fru09xk
Sambil menyeruput kopinya, dia mulai bercerita tentang alasannya ingin bekerja paruh waktu di sini. Ternyata dia punya cukup waktu luang karena bayinya dititipkan kepada orang tuanya yang tinggal serumah. Dia juga bercerita kalau suaminya sedang bekerja di luar kota, jadi dia merasa kesepian di rumah. Selain ingin menambah penghasilan, Leona mengaku ingin mencari pengalaman baru dan mengisi waktu agar tidak bosan.
180Please respect copyright.PENANAkUl2FkqJQN
"Rasanya enak sekali, Mas, pas banget manisnya," ujar Leona sambil tersenyum manis ke arahku. Aku hanya bisa menggaruk tengkuk yang tidak gatal karena merasa agak malu dipuji begitu.
180Please respect copyright.PENANAwyt9eUEZ1M
"Syukurlah kamu suka, soalnya ini resep rahasia kedai kita," jawabku mencoba terlihat percaya diri. Dia tertawa kecil, membuat suasana di antara kami terasa lebih hangat dan tidak kaku lagi. Aku memperhatikan caranya memegang gelas, jemarinya terlihat sangat halus dan terawat. Leona tampak benar-benar menikmati setiap tegukan kopi susu buatanku itu.
180Please respect copyright.PENANAb3oLfeDKfb
Dalam hati aku merasa heran dengan latar belakang wanita yang ada di depanku ini. Dia lulusan S1 Manajemen, tapi di CV-nya tidak ada satu pun riwayat pekerjaan formal. Seharusnya wanita seusia dia sudah menjadi kepala staf di kantor atau manajer di perusahaan besar. Kenapa dia justru memilih untuk memulai semuanya dari nol sebagai barista part-time? Namun, aku memutuskan untuk tidak terlalu ambil pusing dengan hal itu. Bagiku, kehadirannya saja sudah lebih dari cukup untuk membuat hari-hariku jadi lebih berwarna.
180Please respect copyright.PENANA6A1MsSKkMb
"Jadi, kapan kamu mau mulai masuk untuk pelatihan pertama?" tanyaku sambil membereskan mejaan.
180Please respect copyright.PENANAR5iXNzw0zA
Leona meletakkan gelas kosongnya dan menatapku dengan binar mata yang penuh semangat. "Kalau bisa besok, Mas, supaya aku cepat bisa buat kopi seperti yang tadi," jawabnya antusias. Aku tersenyum melihat semangatnya, meski aku tahu melatih orang dari nol itu tidak mudah. "Oke, besok jam sembilan pagi kamu sudah harus ada di sini, ya," kataku memastikan.
180Please respect copyright.PENANAZbJPL8YPRW
Aku terdiam sejenak sambil memikirkan statusnya yang sudah berkeluarga. "Tapi, apa suamimu sudah memberikan izin untuk kamu bekerja di sini?" tanyaku dengan perasaan sedikit khawatir. Aku merasa tidak enak jika nantinya ada masalah karena dia sudah menikah dan punya bayi.
180Please respect copyright.PENANApXppljpZN4
Leona justru tertawa kecil mendengar pertanyaanku yang terlalu hati-hati. "Justru suamiku yang menganjurkan aku untuk kerja, Mas," jawabnya dengan nada bicara yang sangat lembut. Dia menambahkan bahwa suaminya meminta dia mencari kerja yang dekat dengan rumah saja.
180Please respect copyright.PENANADobHLN42Qo
Aku baru menyadari kalau ternyata rumah Leona memang sangat dekat dengan lokasi kedai ini. Semakin dia berbicara, aura keibuannya terasa semakin kuat dan sangat menenangkan pikiranku. Ada sesuatu yang sangat menyenangkan saat melihat cara dia bercerita tentang bayinya. Parasnya yang cantik dan bentuk tubuhnya yang sintal benar-benar membuatku terhipnotis. Aku sampai lupa kalau wanita di depanku ini sudah bersuami dan memiliki anak. Fokusku benar-benar tersedot hanya pada gerakan bibirnya dan binar matanya yang teduh.
180Please respect copyright.PENANAtvhtkDbu59
Tanpa sadar, aku menatap matanya terlalu lama dan dalam saat dia menjelaskan rutinitas bayinya. Leona tiba-tiba tersadar bahwa aku sedang memperhatikan setiap detail wajahnya dengan serius.
180Please respect copyright.PENANAmXZnnKtk2x
Dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah gelas kopi sambil tersenyum malu-malu. "Kenapa melihatku seperti itu, Mas? Ada yang salah dengan wajahku?" tanyanya dengan nada yang sedikit gugup. Aku tersentak dan segera mengalihkan pandanganku ke arah mesin espresso untuk menutupi rasa maluku. Suasana di antara kami mendadak menjadi sangat luwes meskipun kami baru saja saling mengenal.
180Please respect copyright.PENANAruMzeDAJ17
"Eh, tidak ada apa-apa kok, cuma berpikir kamu pasti cepat belajar nanti," jawabku berusaha mengembalikan suasana menjadi profesional. Leona terkekeh pelan, seolah dia tahu kalau aku sedang terpesona oleh kehadirannya.
180Please respect copyright.PENANAihXtWvdwRQ
Dia kemudian merapikan hijabnya dengan gerakan yang sangat anggun di mataku. Kami berdua terdiam sejenak, namun ada rasa saling tertarik yang tidak bisa disembunyikan lagi. Aku merasa pelatihan besok tidak akan menjadi sekadar urusan pekerjaan biasa. Ada rasa penasaran yang besar dalam diriku untuk mengenal Leona lebih jauh lagi.
ns216.73.216.233da2


