164Please respect copyright.PENANAcK2yivkVQE
Malam kedua, 21.05
164Please respect copyright.PENANA1A5ea6Hnpr
Aku membanting sepatuku di teras seperti biasa, dua kali, dan baru pada bantingan kedua aku sadar bahwa aku melakukannya bukan karena kakiku pegal, melainkan karena aku ingin seseorang di dalam rumah mendengar bahwa aku sudah pulang dan bahwa hari ini, seperti hari-hari lain, aku pulang dengan sesuatu yang perlu dikeluarkan.
164Please respect copyright.PENANAqLJJmY2cZT
BRAKK..
164Please respect copyright.PENANAyd7v8dDeVT
BRAKK..
164Please respect copyright.PENANABLA3wPpNoy
Bimo sudah berdiri sebelum mobil operasional berhenti sempurna. Ia yang membukakan pintu, dan aku menatapnya dengan alis naik, karena dalam tiga tahun menikah ia belum pernah membukakan pintu mobil untukku, bahkan di malam kami pulang dari resepsi dengan kebaya yang membuatku hampir tidak bisa bernapas.
164Please respect copyright.PENANABSato2w9xE
"Tumben, Mas..?"
164Please respect copyright.PENANAvYQsyitvFG
"Lagi kangen aja."
164Please respect copyright.PENANAJF6nzbRIQt
“Idihh kangen, kayak ga serumah aja...” Balasku
164Please respect copyright.PENANAjj6qfKGSb7
Aku melewatinya dengan tas di bahu dan bau gerimis di rambut. Aku merasakan matanya mengikuti punggungku sampai ke pintu, dan merasakan pula, dengan kepekaan seorang perempuan yang dua tahun bekerja membaca wajah klien, bahwa matanya sedang mencari sesuatu. Hari ini aku ke gudang timur, bukan ke tempat Yoga.
164Please respect copyright.PENANAI3E9AkaiM8
Aku tahu Bimo tahu itu, karena tadi pagi aku menyebut jadwalku di meja makan, dan aku tahu ia tetap mencari, dan aku tidak tahu apa yang ia harapkan akan ditemukannya di kerah blazer seorang istri yang seharian berdebat dengan manajer gudang soal palet yang rusak.
164Please respect copyright.PENANAdh5AR6zZ5f
Di meja makan aku bercerita tentang manajer itu, yang cerewet dan menyebalkan dan bertanya kenapa gak dari kemarin untuk hal-hal yang memang baru bisa dikerjakan hari ini; tentang Riko yang salah membawa map; tentang AC mobil yang mati setengah jam di tol sehingga blouse-ku basah di punggung. Bimo mendengarkan semuanya. Ia mengangguk di tempat yang benar dan berkata sabar ya di tempat yang benar.
164Please respect copyright.PENANA85bEVFfGN9
Tetapi aku melihat sesuatu yang tidak biasa: ia mendengarkan dengan sabar yang lain, sabar orang yang sedang menunggu bagian cerita tertentu, sebagaimana penonton bioskop yang sudah membaca sinopsis menunggu adegan yang dijanjikan di poster.
164Please respect copyright.PENANA9UDn5FMie6
Adegan itu tidak datang, karena hari itu memang tidak ada. Dan aku melihat kecewa di wajahnya, kecewa yang ia sembunyikan dengan menyendok rendang, dan aku tidak mengerti apa yang sedang kulihat.
164Please respect copyright.PENANAcIZFqqnTLm
Di kasur, saat lampu sudah kuning dan napasku mulai turun, ia berbicara ke arah tengkukku.
164Please respect copyright.PENANAsimsCTbKGQ
"Sayang… presentasi yang kemarin itu, yang di tempat Pak Yoga. Dia liatin kamu dari samping, kan ya..?"
164Please respect copyright.PENANA31nuZ7BQdv
"Hmm..? Iyaa. Kenapa..?"
164Please respect copyright.PENANAYe3OxpJTPH
"Liatinnya ke mana emang..?"
164Please respect copyright.PENANAFJkALKb7i1
Aku membuka mata. "Ke mana gimana sih, Mas..!?"
164Please respect copyright.PENANAnrDFXY3XoQ
"Ya ke muka, atau…"
164Please respect copyright.PENANAhBfJSQqHQW
"Mas." Aku terkekeh, setengah tidur, karena pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan anak SMP yang baru belajar cemburu.
164Please respect copyright.PENANA4F9HLUuWTZ
"Kamu tuh ya..." Aku menepuk dadaku sendiri, asal, lalu tanganku jatuh lagi ke bantal.
164Please respect copyright.PENANANH64FeRcAE
"Semua cowok tuh gitu. Kamu juga dulu gitu pas pertama ketemu aku, pikir aku gak tau..?"
164Please respect copyright.PENANA70ukrLWp0O
Ia tertawa kecil. Tawanya terlalu pendek.
164Please respect copyright.PENANAPyklYZMvjX
"Udah ahh, aku ngantuk," kataku. "Besok lagii."
164Please respect copyright.PENANACZ1pI1jWDI
Aku tertidur cepat malam itu. Tetapi aku ingat, samar, di antara tidur dan bangun, aku merasakan kasur bergoyang dan mendengar pintu kamar kedua dibuka dan ditutup dengan sangat pelan, pelan sekali, seperti pintu yang dibuka oleh orang yang tidak ingin ketahuan bahwa ia punya alasan untuk membukanya.
164Please respect copyright.PENANArh5KcJ2sZV
164Please respect copyright.PENANA7gSqz0FZAf
Malam ketiga aku pulang pukul 20.30, dan HP kerjaku bergetar di genggaman sebelum aku sempat melepas tas.
164Please respect copyright.PENANAbWvzoUuCCA
Drrtt… Drrrtt…
164Please respect copyright.PENANA4SMQDfBRVa
Pak Yoga Purchasing.
164Please respect copyright.PENANABLRwu5VXPB
"Siapa..?" tanya Bimo dari dapur. Ia bertanya lebih cepat daripada biasanya, cepat seperti orang yang sudah menyiapkan pertanyaan itu sejak mendengar mobil berhenti.
164Please respect copyright.PENANAWhpcEQYGCD
"Ya siapa lagii." Aku mengetik dengan satu jempol, tas masih di bahu.
164Please respect copyright.PENANAl7100vEFYU
"Dia nanya PO yang kemarin udah dikirim belum. Udah, Pak.., udah dari pagi. Ya ampun." Ucapku agak kesal, sambil membalas.
164Please respect copyright.PENANAsjRGzp14y6
"Terus nge chat apa lagi dia..?"
164Please respect copyright.PENANAuflBvb4hbT
Aku menoleh. "Kok kamu nanya 'apa lagi' sih mas..?"
164Please respect copyright.PENANA52YjFlcWxg
"Ya… biasanya kan gak cuma nanya PO..."
164Please respect copyright.PENANAeKWAo8iz2p
Aku menatapnya. Ia berdiri di ambang dapur dengan spatula di tangan, padahal kami tidak sedang memasak apa-apa; ia hanya memegang spatula itu seperti orang memegang alasan. Aku menunduk lagi ke layar. Di bawah chat soal PO, Yoga memang menulis satu baris chat lagi: Tadi saya mampir pantry, kopinya nggak seenak waktu Ibu presentasi. Hehe.
164Please respect copyright.PENANAnqVBC3RPCS
"Tuh kan. Kopi pantry." Aku tertawa pendek dan memutar lalu mengulurkan layar hpku ke arahnya sebentar, lalu menariknya lagi.
164Please respect copyright.PENANA7r1O82Az7n
"Kopi pantry mereka tuh kopi sachet, Sama kayak yang biasa kamu minum, Mas."
164Please respect copyright.PENANAz3silcqNlD
"Terus kamu bales apa..?"
164Please respect copyright.PENANADHDpjkfIAe
"'Hehe makasih Pak, besok saya di timur seharian.' Udah gitu."
164Please respect copyright.PENANAW8THw6w7b6
"Kamu bales pake 'hehe'..?" Katanya.
164Please respect copyright.PENANAwFNbzSftf8
Aku meletakkan tas di kursi dengan gerakan yang lebih keras daripada yang kumaksud. Ada sesuatu di nada suaranya yang tidak bisa kugolongkan. Bukan marah. Bukan cemburu dalam bentuk yang kukenal dari film dan dari pacar-pacarku dulu, cemburu yang membanting pintu dan menuntut. Nadanya justru penasaran, dan penasaran itu, entah kenapa, membuat tengkukku dingin.
164Please respect copyright.PENANANBDqDHm9vg
"Lahh emang harus dibales apa lagi? Kok kamu malah seneng dengernya sihh..?" tanyaku pelan.
164Please respect copyright.PENANAMt2PUkvXaL
"Seneng apaan sii..?!"
164Please respect copyright.PENANA3cqacFCogR
"Ya ini. Tiap aku cerita Pak Yoga, muka kamu tuh…" Aku mencari kata, tanganku memutar di udara seperti mengaduk sesuatu yang tidak kelihatan. "Ya beda aja. Kayak nungguin kelanjutannya banget dehh."
164Please respect copyright.PENANAXnWQTb1VcT
"Ya aku kan dengerin kamu," katanya. "Kamu kan lagi ngeluh, ya aku dengerin. Mau kalo aku cuek..?"
164Please respect copyright.PENANAedufoyNnFN
"Bukan gituu…"
164Please respect copyright.PENANAs6YExItV2N
"Udah, mandi dulu sana. Rendangnya ntar keburu dingin."
164Please respect copyright.PENANAZuqxqN3Efk
"Rendang lagii, Mas..??"
164Please respect copyright.PENANAKiUjf2fDEe
"Ehh Ayam pop maksudnya..."
164Please respect copyright.PENANAgFJQX1bali
Aku mandi. Di bawah air, aku memikirkan muka suamiku tadi, dan aku memutuskan, seperti yang sudah sering kulakukan sejak ia mulai bekerja dari rumah, bahwa barangkali ia hanya kesepian. Mungkin seharian di kamar kedua dengan laptop dan kopi sachet membuat cerita-cerita kecil dari luar rumah terdengar lebih besar daripada aslinya. Barangkali aku harus lebih banyak bercerita. Aku memutuskan itu dengan kebaikan hati seorang istri yang tidak tahu bahwa keputusan itu kelak akan menjadi pintu.
164Please respect copyright.PENANAOT0OuB44Lx
Malam itu, di kasur, ia bertanya lagi, dengan suara yang dibuat sambil lalu, suara orang yang menanyakan cuaca besok.
164Please respect copyright.PENANAO8Pplv47md
"Dia emang suka bercanda gitu ya..? Soal kopi."
164Please respect copyright.PENANAAMjxld24Lz
"Siapa..?"
164Please respect copyright.PENANAEMX9shAHqQ
"Pak Yoga."
164Please respect copyright.PENANA9a5c75tTkJ
Aku menghela napas panjang ke bantal. "Mas. Dia klien. Klien tuh emang gitu. Basa-basi biar urusan lancar. Kamu dulu juga basa-basi kan sama vendor, pas masih ngantor."
164Please respect copyright.PENANA1OLflK3VO9
"Ya iya juga sih." Jawabnya.
164Please respect copyright.PENANAZTCCtkWvgv
"Ya udah."
164Please respect copyright.PENANA7csJeemfjA
Ia diam. Aku hampir tertidur ketika ia berbicara lagi, sangat pelan, nyaris tak terdengar, seakan berbicara kepada dirinya sendiri.
164Please respect copyright.PENANAjBweEx0uCv
"Tapi aneh, dia sampe inget kopi kamu yah."
164Please respect copyright.PENANACVhewzVQ61
Aku tidak menjawab. Aku pura-pura sudah tidur. Tetapi kalimat itu tinggal di telingaku sampai pagi, dan aku tidak tahu apakah yang membuatku tidak bisa tidur adalah fakta bahwa Yoga mengingat kopiku, atau fakta bahwa suamiku memperhatikan bahwa Yoga mengingatnya, dan memperhatikannya dengan nada orang yang terkesan.
164Please respect copyright.PENANAGT0fOcll7z
164Please respect copyright.PENANAJ6w4e8shEC
Malam keempat aku pulang pukul 21.40
164Please respect copyright.PENANAv19Zq5ey9y
Aku masuk tanpa menghela napas, tanpa aku pulang, langsung ke kamar mandi, dan menyalakan shower, dan berdiri di bawahnya lama sekali, lebih lama dari biasanya, menggosok pinggang kananku dengan sabun batangan sampai kulitnya merah dan perih.
164Please respect copyright.PENANAnbmbka03GW
Sore itu meeting di tempat Yoga molor sampai pukul 18.30. Aku sempat mengirim pesan ke Bimo, telat dikit ya sayang, meeting molor, dan balasannya datang dalam empat detik, oke, ati-ati pulangnya nanti ya, empat detik, seakan ia memang sedang menatap layar menunggu namaku muncul. Riko turun lebih dulu untuk memanaskan mobil. Aku masih di lobi, merapikan map, ketika Yoga keluar dari lift dengan tas laptop di bahu.
164Please respect copyright.PENANARk1RTB1ckH
"Saya ke mobil juga, Bu. Hayuk bareng."
164Please respect copyright.PENANAtZr0kW18fP
Lalu tangannya ada di pinggangku. Kanan. Bukan di bawah, bukan di tempat yang bisa kusebut kurang ajar dengan lantang, hanya di pinggang, seperti orang menuntun. Lima belas langkah dari pintu kaca ke mobil operasional, aku menghitungnya kemudian di bawah shower, lima belas, dan tangan itu tidak dilepas sampai aku membuka pintu mobil.
164Please respect copyright.PENANAiEbJpWTebG
"Hati-hati, Bu, licin. Saya pegangin ya."
164Please respect copyright.PENANA5Y09x1gFMY
Lantainya kering. Hujan sudah berhenti sejak siang. Tangan itu ada di sana bukan karena lantai; tangan itu ada di sana seperti orang meletakkan tangan di barang yang sudah ia bayar DP-nya, dengan ketenangan seseorang yang tahu barang itu tidak akan ke mana-mana.
164Please respect copyright.PENANA9WrzmF9ekM
Riko di kursi depan. Riko pasti melihat. Riko tidak menoleh.
164Please respect copyright.PENANAjeJmLgJ5nk
Di tol, dengan Riko menyetir dan radio menyala pelan, Mataku berlinang menghadap jendel, dan tak tahu persis kenapa aku menangis. Bukan karena tangan itu. Aku sudah dua tahun di lapangan; aku tahu laki-laki macam apa yang ada di gudang-gudang dan ruang-ruang meeting pinggir tol, aku tahu cara menepis, cara tertawa sambil mundur, cara mengalihkan pembicaraan ke jadwal pengiriman. Aku hanya mencoba membayangkan bagaimana perasaan Bimo kalau aku menceritakannya, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak tahu.
164Please respect copyright.PENANASWUbPXaMaz
Aku keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Bimo sudah di kasur, laptop di pangkuan, layar yang ia tutup terlalu cepat ketika aku masuk. Aku berbaring memunggunginya. Lama aku diam. Lalu aku membalik badan.
164Please respect copyright.PENANAC4ds3Hg6P8
"Mas."
164Please respect copyright.PENANAwshb2Atr4z
"Hmm..?"
164Please respect copyright.PENANAHqhagkmwyM
"Tadi di parkiran ya...."
164Please respect copyright.PENANAnPbzJVcgfd
Aku menceritakannya. Riko yang memanaskan mobil, Yoga yang keluar dari lift, lima belas langkah, lantai yang kering. Aku menyentuh pinggangku sendiri di atas kaus untuk menunjukkan tempatnya.
164Please respect copyright.PENANAYefvdMpaOc
"Di sini. Gak di bawah. Di sini aja. Tapi gak dilepas-lepas, Mas, sampe aku buka pintu mobil baru dia lepas."
164Please respect copyright.PENANAueO62sdH2N
"Lah respon kamu gimana..?"
164Please respect copyright.PENANAlZ6IR9DPpS
"Aku gak ngomong apa-apa si. Aku kaget. Aku cuma masuk mobil. Riko liat, Mas. Riko pasti liat, dia di kursi depan."
164Please respect copyright.PENANAQJOoDDklOT
"Riko nya ada omongan ga..?"
164Please respect copyright.PENANAjLy1LR1LpI
"Dia diem aja. Dia mah gak pernah ngomong apa-apa." Aku menyandarkan punggung ke kepala ranjang. "Aku kesel deh, Mas. Tapi aku gak bisa marah. Kalo aku marah, PO bulan depan…"
164Please respect copyright.PENANAuTpuAOV9t2
"Iya."
164Please respect copyright.PENANAqWOZkTVhkQ
Aku menunggu. Aku menunggu kalimat yang seharusnya datang sesudah iya, kalimat apa pun: besok aku yang anter, kamu gak usah ke sana lagi, nomornya mana, biar aku yang ngomong. Aku bahkan sudah menyiapkan jawabanku: jangan, Mas, nanti aku yang kena. Aku sudah menyiapkan penolakan untuk pembelaan yang tidak pernah datang.
164Please respect copyright.PENANAKFcqGaEkws
"Kok kamu gak marah..?"
164Please respect copyright.PENANAxtvKWnxcW0
"Marah lah."
164Please respect copyright.PENANAYl2FRUdAeI
"Nada kamu tuh gak marah...!"
164Please respect copyright.PENANAmvsYO3Q8Qr
"Ya aku…" Ia mengangkat kepala. "Aku marah. Tapi aku mau tau dulu semuanya. Tangannya gimana persisnya. Dia pegangnya kenceng apa…"
164Please respect copyright.PENANAPD20JUAD7T
"Mass." Suaraku naik satu nada. "Kok kamu malah nanya 'kenceng apa enggak'..??"
164Please respect copyright.PENANAAxorAKvTJ7
"Maksudnya biar aku tau dia niatnya apa Sayang..," katanya cepat, terlalu cepat. "Kalo kenceng kan beda sama kalo cuma nuntun. Aku mau tau orang ini sejauh apa si."
164Please respect copyright.PENANApUPAWJ9Ki6
Aku menatapnya. Lampu tidur kuning kecil di mejanya membuat separuh wajahnya terang dan separuh gelap, dan di bagian yang terang aku melihat sesuatu yang membuat perutku turun, sesuatu yang belum bisa kunamai malam itu dan baru bisa kunamai berminggu-minggu kemudian. Ia tidak sedang mengukur bahaya. Ia sedang mengumpulkan detail.
164Please respect copyright.PENANAdfC2E3NgXP
"Gak kenceng, Mas," kataku pelan. "Tapi… ya kerasa. Hangat. Telapaknya agak gede."
164Please respect copyright.PENANAoL3pzBYrR9
Aku mendengar diriku mengucapkan dua kata terakhir itu dan tidak tahu kenapa aku mengucapkannya. Kata itu keluar sendiri, jujur, seperti orang yang ditanya warna dan menjawab warna.
164Please respect copyright.PENANAcNS0CjOSgc
"Udah, Mas, aku gak mau bahas lagi dehh. Aku jijik ngerti..."
164Please respect copyright.PENANAm6VBxTyMSZ
Aku membalik badan lagi. Dan sepanjang malam, dengan mata terpejam, aku merasakan Bimo tidak tidur di sebelahku, merasakan napasnya yang terlalu teratur untuk orang yang lelap, dan aku tahu, dengan kepastian yang menakutkan, bahwa ia sedang mengulang kata hangat dan telapaknya gede di kepalanya, sementara kata jijik sudah ia buang entah ke mana.
164Please respect copyright.PENANAS7tydzw1yh
Pukul 22.30, sebelum aku benar-benar tidur, HP pribadiku bergetar di nakas.
164Please respect copyright.PENANAAIezWOvVT9
Drttt... Drttt....
164Please respect copyright.PENANAojs5BS0XJr
Aku mengambilnya dengan tubuh membelakangi Bimo.
164Please respect copyright.PENANAu3y8BHxn8A
Bu, maaf ya kalau tadi di parkiran saya kelewatan. Tapi jujur saya nggak nyesel. Selamat istirahat, Ibu sinta. hehe
164Please respect copyright.PENANAMth660szEC
Aku membacanya tiga kali. Lalu aku mematikan layar dan menyelipkan HP di bawah bantal. Aku tidak membalasnya. Aku tidak menunjukkannya kepada Bimo. Itu pesan pertama dari Yoga yang kusembunyikan, dan aku menyembunyikannya bukan untuk melindungi Yoga, bukan juga untuk melindungi diriku, melainkan karena aku takut melihat wajah suamiku membacanya. Aku takut melihat wajah yang sama dengan wajah yang tadi bertanya kenceng apa enggak.
164Please respect copyright.PENANAft5nmRiw1j
164Please respect copyright.PENANASqcaSHykba
Malam kelima, Jumat, aku pulang lebih cepat dan bercerita lebih cepat, sebab sejak siang ada sesuatu di dalam dadaku yang harus dikeluarkan sebelum membusuk.
164Please respect copyright.PENANACBtWKN3Bhj
"Mas.. aku bener-bener risih banget.. Hari ini dia pegang paha aku."
164Please respect copyright.PENANAz6ETXKrs4A
Bimo meletakkan sendok.
164Please respect copyright.PENANAc83swfmmJW
"Dia gitu di ruang meeting coba.."
164Please respect copyright.PENANAkdRHgkXdiL
Aku sengaja duduk di tengah meja hari itu, di kursi ketiga dari delapan, supaya tidak ada kursi kosong di sebelahku yang bisa dipilih siapa pun. Yoga tetap memilih kursi di kananku, menggeser laptopnya dengan senyum yang sopan, kemeja biru muda digulung dua lipatan, jam kulit di pergelangan kiri. Ia mengetuk meja dua kali, tok tok, sebelum masuk ke pembicaraan serius, kebiasaan yang sudah kuperhatikan sejak pertemuan pertama. Mas Dedi duduk di ujung meja, sibuk dengan laptopnya, tidak pernah mengangkat kepala. Riko di seberang, mencatat.
164Please respect copyright.PENANASU7qKDjANV
"Aku kan lagi nunjukin halaman harga ya, terus tangannya di bawah meja…" Aku menelan. "Tau- tau Dia usap. Dua kali. Dari lutut ke atas, dikit. Terus berhenti. Terus dia ngomong soal pengiriman kayak gak ada apa-apa. 'Jadwal Kamis gimana, Bu?' Sambil tangannya masih di situ, Mas."
164Please respect copyright.PENANAv9GYo1K31y
"Kamu nya ga ngelawan…?"
164Please respect copyright.PENANAAydoClRvqQ
"Aku diem. Aku diem, Mas. Aku gak tau harus apa. Riko di depan, Mas Dedi di ujung, gak ada yang liat karena tangan dia di bawah meja."
164Please respect copyright.PENANAAT13kd3nR0
Suaraku mulai cepat, beruntun, dan aku mendengar diriku dari luar, seperti mendengar rekaman, perempuan yang bercerita terlalu cepat supaya tidak ada yang bisa menyela.
"Terus pas selesai, pas semua orang udah berdiri, dia ngerapiin map aku, tangannya ke punggung aku, terus…" Aku berhenti.
164Please respect copyright.PENANACabZAa50V1
"Tau ga.. Dia malah kayak grepe aku, Mas. Kayak satu detikan. Gilaa banget itu orang! dia bilang 'Hati-hati di jalan ya.' Habis itu pergi gitu aja."
164Please respect copyright.PENANAmJNpy4aKaI
"Kamu mau aku ngapain..?" tanyanya.
164Please respect copyright.PENANAdttvslI5yB
Pertanyaan itu jatuh di meja makan seperti piring yang lepas dari tangan. Aku menatapnya. Kamu mau aku ngapain. Bukan aku harus ngapain. Bukan biar aku yang urus. Kamu mau aku ngapain, seakan ia tukang yang menunggu perintah, seakan aku yang harus memutuskan apakah suamiku akan membela istrinya atau tidak.
164Please respect copyright.PENANAhDLPlXSynv
"Gitu doang responmu, Mas??," kataku. "Aku lagi cerita lohh."
164Please respect copyright.PENANAvnZGKYIMLi
"Ya gimana lagi..." Katanya
164Please respect copyright.PENANAdtR3X8i4P3
"Kamu gak ada marah..??!"
164Please respect copyright.PENANAoXaKu8SUUY
"Marah. Aku marah banget, Sayang. Tapi…" Ia mencari sesuatu, dan aku melihatnya mencari, melihat matanya bergerak ke kiri dan kanan layaknya orang yang mencari kunci di saku yang salah. "Tapi kalo aku ke sana, kamu yang kena nantii. Kantor kamu yang kena. Aku gak bisa ngapa-ngapain, dari pada bikin kamu rugi. Jadi ya aku…"
164Please respect copyright.PENANAMzL4KqahVs
"Jadi kamu cuma dengerin doang gituh??." Potongku.
164Please respect copyright.PENANAcMTgu6fMFN
"Ya iya aku dengerin curhatanmu.."
164Please respect copyright.PENANARyR2NNVAcZ
Aku menatapnya lama. Di kepalaku, sesuatu yang selama empat malam terombang-ambing akhirnya berhenti, menemukan tempatnya, dan mengeras. Kalau ia tidak mau jadi suami yang berdiri, biar ia jadi suami yang duduk dan mendengar. Biar ia dengar semuanya. Biar ia tanggung.
164Please respect copyright.PENANARnNjVvdHRE
"Yaudah," kataku. "Kalo gitu aku cerita aja. Tiap hari. Biar kamu dengerin..!!"
164Please respect copyright.PENANA6rRdTEnSRB
Ia mengangguk. Ia mengangguk dengan lega, dan lega itu adalah hal paling menyakitkan yang kulihat minggu itu.
164Please respect copyright.PENANAjXeuuWf9Zg
Malam itu, di kasur, ia memintaku menceritakannya lagi. Aku menceritakannya, lebih pelan, dan di bawah selimut aku merasakan tubuhnya bereaksi, dan ia tidak menyembunyikannya, atau tidak sanggup menyembunyikannya. Aku berhenti di tengah kalimat.
164Please respect copyright.PENANApgwROV2tBV
"Mass…" bisikku. "Kamu…"
164Please respect copyright.PENANA8YPzAIChPu
"Capek sayangg," katanya. "Tidur yuk."
164Please respect copyright.PENANALsiRwXJl47
Ia membalik badan. Aku menatap punggungnya. Malam itu aku tidak menangis, dan justru itu yang membuatku takut. Yang kurasakan bukan jijik. Yang kurasakan adalah heran, heran yang dingin dan jernih seperti air di gelas yang terlalu lama di kulkas. Tadi di meja makan aku bilang jijik keras-keras, dan aku tahu sekarang kenapa aku mengucapkannya sekeras itu: karena salah satu dari kami harus mengucapkannya, dan kelihatannya bukan ia.
164Please respect copyright.PENANA66F3KqSrMk
Pukul 22.47, HP pribadiku bergetar lagi.
164Please respect copyright.PENANAXHGiJ0TDAH
164Please respect copyright.PENANAQsFyUScyil
Drttt... Drttt...
164Please respect copyright.PENANA7YEtrQ7ZRk
Bu, maaf ganggu malam-malam. Sabtu saya mau survei mal baru di selatan, buat calon tenant pameran. Kalau Ibu nggak sibuk, temenin saya? Sekalian Ibu bisa lihat venue buat klien Ibu.
164Please respect copyright.PENANAW0jIPSdyPI
Aku membacanya dengan Bimo bernapas di sebelahku. Aku membacanya dua kali, tiga kali. Lalu aku mengetik dengan cepat, terlalu cepat, seperti orang menutup pintu yang diketuk tengah malam:
164Please respect copyright.PENANAKtUcec125x
Maaf Pak, Sabtu saya sama suami.
164Please respect copyright.PENANANo4cpb73mj
Terkirim. Centang biru. Tidak ada balasan malam itu.
164Please respect copyright.PENANAiV17wkcL9S
Aku meletakkan HP dan menatap rembesan di plafon. Baru setelah pesan itu terkirim aku menyadari bahwa aku memakai kata suami sebagai alasan, bukan sebagai jawaban. Aku tidak menulis saya nggak mau. Aku tidak menulis Bapak jangan begitu lagi. Aku menulis saya sama suami, seakan suamiku adalah jadwal yang kebetulan sudah terisi, dan bukan alasan kenapa aku tidak akan pernah pergi. Tetapi malam itu kata itu masih terasa seperti pegangan. Malam itu kata itu masih punya isi. Aku memeluknya macam orang memeluk bantal di kamar yang dingin.
164Please respect copyright.PENANAFkYb6oxpbr
164Please respect copyright.PENANAvWX1ez8aH0
Sabtu pagi aku bangun lebih dulu dan menemukan sepatuku di teras sudah berdiri berdampingan, rapi, ujungnya sejajar, termasuk yang semalam sebelumnya memantul ke dekat pot. Bimo yang menyusunnya. Ia selalu menyusunnya. Tetapi pagi itu aku berdiri lama menatap dua sepatu itu, dan untuk pertama kalinya susunan yang rapi itu tidak terasa seperti perhatian. Rasanya seperti seseorang yang mengumpulkan barang bukti dan menatanya di meja, siap difoto.
164Please respect copyright.PENANA9lK6cnyUsZ
Sabtu siang, Bimo tidak membuka laptop. Itu jarang. Ia duduk di sofa dengan kaus oblong dan aku menyandarkan kepala di bahunya sementara televisi menayangkan acara masak yang tidak kami tonton. Ada sesuatu yang lembut di siang itu, sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan, dan aku membiarkan diriku percaya, untuk beberapa jam, bahwa lima malam terakhir hanyalah minggu yang aneh, bahwa sebentar lagi semuanya akan kembali seperti semula, seperti demam yang turun sendiri.
164Please respect copyright.PENANAT0CTBkwiLb
Ia diam lama. Wajahnya serius.
164Please respect copyright.PENANAmOJZ75tNEl
"Mas, kamu mikirin apa..?"
164Please respect copyright.PENANA8cRTCtijoC
"Ini kerjaan, Sayang..."
164Please respect copyright.PENANAoDMulcF1Hi
"Hari Sabtu..?"
164Please respect copyright.PENANAlppGq6VItZ
"Iya.. deploy Senin."
164Please respect copyright.PENANAjLjYzpEJhc
Aku tahu ia bohong. Aku tidak mengejar. Aku belum mau tahu.
164Please respect copyright.PENANAe6laLGX360
Aku menatap wajahnya dari samping, rahang yang mulai berlemak, rambut yang belum dipotong, kaus yang leher karetnya melar, dan aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku menatapnya selama ini tanpa sedang menunggu ia mengatakan sesuatu. Aku tidak bisa mengingatnya.
164Please respect copyright.PENANAAQwLCsJqx2
Jam dua siang, aku bertanya, "Resto buat anniversary kita, mejanya jadi yang pojok kan ya..?"
164Please respect copyright.PENANA21y56WYW75
"Iya, aku udah minta. Katanya si diusahain."
164Please respect copyright.PENANAU02eip0QWM
164Please respect copyright.PENANAmpwS4sq8JJ
"Okeyy." Aku tersenyum, sungguhan, dan menaruh kakiku di pahanya, dan ia memijatnya tanpa diminta, jempolnya menekan telapak kakiku dengan tekanan yang ia hafal. "Aku mau pake dress yang waktu itu deh mas. Yang dulu kamu ngelamar aku. Masih muat gak yaa…"
164Please respect copyright.PENANARvVhxUKqwi
"Muat..."
164Please respect copyright.PENANAQLVZyyWwgn
"Emang iya ya. Belum pernah aku pake lagi soalnya."
164Please respect copyright.PENANA0Ifc1c6Pw2
"Udah muat lahh. pokoknya paling cakep nanti istriku..."
164Please respect copyright.PENANAViyUXEMGhf
Aku tertawa dan memukul lengannya. Plak. Untuk sesaat ia kembali menjadi laki-laki yang melamarku dengan tangan gemetar, dan aku hampir mengatakannya, hampir: Mas, kemarin malem dia ngajak aku jalan, Sabtu ini, dan aku nolak. Aku hampir menceritakan penolakanku seperti anak kecil yang ingin dipuji karena tidak mengambil permen dari orang asing. Tetapi aku menahannya. Aku ingin tahu dulu apa yang akan ia lakukan dengan cerita-cerita yang sudah ada. Aku ingin tahu apakah ia akan berdiri di depanku atau tidak.
164Please respect copyright.PENANAW1uDO81gvY
Malam itu, di kasur, aku tahu jawabannya.
164Please respect copyright.PENANAATORTUz1oq
"Sayang," katanya.
164Please respect copyright.PENANAIdjvjYcArV
"Hmm."
164Please respect copyright.PENANAj7vw4cJwEC
"Yang kemarin. Yang di bawah meja.."
164Please respect copyright.PENANAhp3qdOp2RD
"Mass…? Kamu kenapa si mas..?" Kataku. “Harus banget ya? Aku ceritain tiap malem gini..?”
164Please respect copyright.PENANAOH1dflrY7P
"Udah Ceritain aja, Sayang. Biar aku paham arahnya dia tuh kemana..."
164Please respect copyright.PENANAT4hJ1HF9d5
Aku menatapnya dalam cahaya kuning. Matanya basah dan penuh harap, mata yang sama dengan mata yang melamarku, dan di situlah aku memahami sesuatu yang seharusnya sudah kupahami sejak malam kedua: bahwa aku bisa menolak, bahwa aku bisa membalik badan dan bilang aku capek, dan bahwa kalau aku melakukannya, ia akan menerima, ia akan mengangguk, ia akan pergi ke kamar kedua tengah malam dan menceritakannya kepada dirinya sendiri dengan suara yang ia buat sendiri. Ia akan tetap mendengarnya. Hanya saja bukan dari aku.
164Please respect copyright.PENANAb9FKM4E5Ir
Jadi aku memilih menjadi yang bercerita.
164Please respect copyright.PENANAYpK7EDivue
Ia menarik tanganku ke bawah selimut, menuntunnya ke perutnya, lalu lebih turun, ke dalam celana pendeknya, dan berbisik di leherku dengan suara yang sudah serak sebelum apa pun terjadi.
164Please respect copyright.PENANAA8leg3yKDi
"Ceritain aja, Sayang… Aku dengerin.."
164Please respect copyright.PENANADwuIi8tn1D
Aku tahu yang ia minta bukan aku. Aku tahu, dan aku tetap membuka mulut, sebab sepanjang minggu ini aku sudah belajar bahwa cerita adalah satu-satunya pintu yang ia ketuk dengan sungguh-sungguh.
164Please respect copyright.PENANACLbOc6tYfc
"Lututnya," kataku. "Di bawah meja. Kena lutut aku. Terus… naik. Dua kali."
164Please respect copyright.PENANA9nCSjMWLXz
Di dalam genggamanku ia berdenyut, sekali, keras, dan pinggulnya mendorong ke tanganku. Aku merasakan napasnya di bahuku, panas dan pendek.
164Please respect copyright.PENANA6HFb4sTsHT
"Terus...?"
164Please respect copyright.PENANAFuClc8pMI0
"Terus dia ngomong soal jadwal Kamis. Santai banget, Mas. Sambil tangannya di situ."
164Please respect copyright.PENANAuGtdtiZcdf
"Di mana maksudnya..?"
164Please respect copyright.PENANACqiot9rXJJ
Aku mengambil tangannya, tangan yang tiga tahun ini kukenal dari cara ia memegang sendok dan setir mobil, lalu ku taruh di bokongku..
164Please respect copyright.PENANAXe6l5MIti1
"Di sini nihh... Dia pegang sini. Diremess sedetik." Jawabku sambil bercanda.
164Please respect copyright.PENANAoWrtALxZAQ
Tangannya justru meremas. Terlalu keras, terlalu lama, tangan suami yang sedang meniru dan tidak tahu ia sedang meniru apa.
164Please respect copyright.PENANAw7vW6e6LGa
"Bukan gituu," bisikku. "Lebih cepet… kayak orang nyolong."
164Please respect copyright.PENANAlYApY1yy35
Ia mengulanginya, cepat, sekejap, lalu lepas, dan dari dadanya keluar suara yang belum pernah kudengar selama tiga tahun menikah, setengah erang setengah isak, dan aku merasakan kerasnya menekan pahaku.
164Please respect copyright.PENANAGuyVJQIBle
"Kamu gila ya, Mas… kamu gilaa…," kataku.
164Please respect copyright.PENANA2SGZdL6M5H
"Iyaa."
164Please respect copyright.PENANAgBGnysAFyw
Ia tidak menyangkal. Itu yang membuatku terbawa semakin dalam.
164Please respect copyright.PENANAwOxXwntzUF
Aku menyelipkan tanganku ke balik celananya dan menggenggam kontolnya yang sudah tegang sampai urat-uratnya terasa di telapakku, berdenyut, panas, ujungnya sudah licin. Tiga tahun aku memegang benda yang sama, dan malam itu rasanya seperti memegang milik orang lain.
164Please respect copyright.PENANANmoKcQ7LdW
Aku menurunkan celananya dan memasukkan kontolnya ke mulutku di bawah lampu kuning kecil yang ia biarkan menyala, sampai kepalanya menyentuh pangkal lidahku dan aku hampir tersedak. Ia keras sekali, lebih keras dari malam-malam biasa kami, dan ia mengerang setiap kali lidahku memutar di ujungnya.
164Please respect copyright.PENANAutxeDyYdT5
Slrrrpp... Slrrrppp...
164Please respect copyright.PENANAuf2bCJoEev
Aku menggerakkan kepalaku naik turun, pelan lalu cepat, tangan menggenggam pangkalnya, dan di sela-sela itu aku mengangkat mata. Ia tidak menatap wajahku. Ia menatap bibirku, menatapnya dengan cara yang tidak kukenal, seperti orang yang sedang menonton sesuatu di layar yang hanya ada di kepalanya.
164Please respect copyright.PENANAiVTpBSYMDl
GLOKKK... GLOKKK... GLOKKK...
164Please respect copyright.PENANA8VWT1vlNKH
Aku melepasnya dari mulutku. Benang liur masih menyambung.
164Please respect copyright.PENANA1R5G8xp27w
Slrrpp…
164Please respect copyright.PENANABrvvKwFVSK
"Kontol kamu kok tumben keras banget malem ini, Mas," kataku, sengaja kasar, sengaja ingin melihat wajahnya. "Gara-gara aku, apa gara-gara cerita aku..??"
164Please respect copyright.PENANAQ7HaK847MP
"Mas… kamu ngeliatin apa sih…"
164Please respect copyright.PENANAJXrhJINYMW
"Kamu sayangku.. terusin aja.."
164Please respect copyright.PENANAlFlXfPShr1
Ia menarikku ke atas, membalikkanku, dan aku tahu yang ia bayangkan barusan. Ia tahu kalo aku tahu, dan tidak ada satu pun dari kami yang berhenti.
164Please respect copyright.PENANApMFlp0sJv4
"Mas…" Aku menahan dadanya ketika ia memosisikan diri di antara pahaku. "Aku lupa pil. Udah dua hari. Jangan keluar dalem ya."
164Please respect copyright.PENANA4yagH3hz7w
"Iya... Sayang..."
164Please respect copyright.PENANAMqThZAkfCs
"Janji loh.."
164Please respect copyright.PENANAiDsdSvy1vN
"Iyaaa."
164Please respect copyright.PENANAAyMRo1iRjo
Ia memasukkan kontolnya perlahan, membelah memekku yang sudah basah sampai aku malu sendiri, sampai bunyi licinnya terdengar di kamar itu. Ia mendorong sampai habis lalu diam sebentar, keningnya di keningku.
164Please respect copyright.PENANAJhTCqBckiR
"Ceritain… pas dia bilang hati-hati di jalan…"
164Please respect copyright.PENANA9PsFlR0EVV
Aku memejamkan mata. Aku memberinya apa yang ia minta, karena kalau ia tak mau jadi suami yang berdiri, biar ia jadi suami yang duduk dan mendengar, dan menanggungnya.
164Please respect copyright.PENANAt8iYVMBmsy
"Dia pegang siku aku. Dua jari. aku bilang…" Aku sengaja memanjangkannya di telinganya. "'Makasih… Pakk..…'"
164Please respect copyright.PENANASfcqv6qci0
Ia mengerang keras dan pinggulnya menghentak.
164Please respect copyright.PENANAsRWbiI1gLI
PLOKKSS… PLOKSS…
PLOKSS....
"Dia pegang di sini ya..?" Tangannya di pinggangku, kanan, persis di tempat itu.
164Please respect copyright.PENANAe5qnmbL3yW
"Iyaa… Mas…"
164Please respect copyright.PENANAzLz3w1UTNl
Ia makin cepat. Terlalu cepat.
164Please respect copyright.PENANAPX9TrvrFtG
"Entot aku, Mas… ahhh…" Kalimat itu keluar dari mulutku, kasar dan asing, kata-kata yang memang keluar ketika sudah terangsang diatas ranjang. kontolnya membesar di dalamku begitu mendengarnya.
164Please respect copyright.PENANAUtydXLBjnL
Krieettt. Krieettt. Kriettt...
164Please respect copyright.PENANAsEWI1talVb
Kasur berderit, kepala ranjang mengetuk dinding, dan aku teringat tetangga sebelah yang selalu dengar, dan aku tidak peduli.
164Please respect copyright.PENANAtZl6tvbuY9
PLOKK… PLOKK… PLOKK…
164Please respect copyright.PENANAzPtkA8vFyp
"Pelanin… agak pelan…" Kalimat itu keluar sebelum aku memutuskan.
164Please respect copyright.PENANAJGGsNi4OxO
Ia lebih pelan, dan berhenti. Satu detik penuh. Lalu ia bergerak lagi, pelan, sangat pelan, mendorong dalam dan menarik sampai hampir lepas, meniru tangan yang tak pernah ia lihat, dan tubuhku menjawab gerakan itu dengan cara yang membuatku ingin menangis. Aku sedang mengajari suamiku cara orang lain menyentuhku. Dan tubuhku ikut belajar.
164Please respect copyright.PENANABRwvNqtrDN
"Ahh… Mass… gitu… gituu…"
164Please respect copyright.PENANA5Cvms4dj8Q
PLAKKK…!!
164Please respect copyright.PENANA15imLUwau8
Dia menampar pahaku. menekan lebih dalam, dan aku merasakan sesuatu naik dari perut bawahku, rasa jijik yang berubah jadi bingung, bingung yang berubah jadi sesuatu yang lain, sesuatu yang menang. Aku sampai dengan kuku di punggungnya dan mulut terbuka tanpa suara.
164Please respect copyright.PENANAagsGMLd13y
"Mas… keluar… di luarr…"
164Please respect copyright.PENANAmMX8YW2AUf
Ia menarik diri tepat waktu, dengan erangan yang tertahan di gigi, dan pejunya muncrat di perutku, kental, hangat, berkali-kali sampai ke bawah dadaku, tangannya gemetar di samping kepalaku.
164Please respect copyright.PENANAuo11cKmIlL
Janji itu ia tepati. Aku menatapnya, napasnya masih kacau di atasku, dan berpikir: dari semua janji, kenapa yang ini.
164Please respect copyright.PENANA64B42lB5Zz
Sesudahnya kami berbaring telentang dengan napas yang belum turun. Perutku lengket. Lampu kuning itu masih menyala, dan rembesan di plafon tampak lebih gelap dari biasanya, seperti peta yang baru saja ditambah satu pulau.
164Please respect copyright.PENANADQ23W4OVmb
"Gilaaa…" kataku ke plafon. "Kita gilaaa."
164Please respect copyright.PENANAe6m9hBTce9
"Kamu dari kapan…" Aku menoleh. "Dari kapan kamu kayak gini, Mas..?"
164Please respect copyright.PENANAbmIfi64qXd
"Gak tau.. sayang"
164Please respect copyright.PENANAm2WMtUhWJP
"Bohong."
164Please respect copyright.PENANA8uCYJNB1Pc
"Beneran gak tau... Dari kapan apa nya si??"
164Please respect copyright.PENANAw3593YdW6d
Aku tahu ia bohong. Aku tahu jawabannya, atau setidaknya aku menduganya: dari malam pertama, dari blazer abu-abu di keranjang cucian, dari pertanyaan dia bau apa..? yang waktu itu kuanggap lucu. Aku tidak mengejar. Mengejar berarti memaksanya mengatakannya, dan kalau ia mengatakannya, aku harus memutuskan sesuatu. Malam itu aku belum mau memutuskan apa-apa. Malam itu aku masih ingin menjadi perempuan yang hanya bercerita.
164Please respect copyright.PENANAsfu1yNC7Mz
Pukul 23.00,
164Please respect copyright.PENANAJWU0gQJg1L
HP pribadiku berbunyi di nakas.
164Please respect copyright.PENANAIxqRbaq1Wz
Ting…
164Please respect copyright.PENANACCAF2JgS6q
Aku tidak perlu melihatnya untuk tahu siapa pengirimnya. Aku tahu dari jamnya, dari bunyinya, dari cara tubuhku menegang sedikit sebelum otakku sempat menebak. Bimo menoleh ke arah nakas.
164Please respect copyright.PENANABvmlCEPwCT
"HP kamu..," katanya.
164Please respect copyright.PENANA3XG5Op940C
"Biarin...." Aku tidak membuka mata. "Bales besok aja."
164Please respect copyright.PENANASeRROZzHi7
Aku membiarkannya. Aku membiarkan Bimo melihat layar yang menyala di nakas, membiarkannya bertanya-tanya, membiarkannya tidak bisa tidur. Aku melakukannya dengan sengaja, dan aku tahu aku melakukannya dengan sengaja.
164Please respect copyright.PENANAdXJAB0n8xv
Aku tidak merasa bersalah. Malam ini aku sudah mengajarinya cara orang lain menyentuhku. Biar sekarang ia yang tidak bisa tidur. Biar ia yang menebak.
164Please respect copyright.PENANA1jP7R2yNhq
Di kemudian hari aku tahu isi pesan itu: Nggak apa-apa Bu, lain kali aja. Suaminya beruntung yah. Tetapi malam itu aku tidak membukanya, dan pesan itu tinggal di layar kunci seperti tamu yang menunggu di teras, sopan, sabar, tahu bahwa pintunya cepat atau lambat akan dibuka.
164Please respect copyright.PENANAMFzxoMhVC8
"Mas."
164Please respect copyright.PENANA21byV8yPFq
"Hmm."
164Please respect copyright.PENANAgCeUrp4zM0
"Kamu seneng ya..?" Suaraku datar sekarang, bukan bercanda seperti di meja makan malam ketiga. "Kamu seneng dengerin dia pegang aku?"
164Please respect copyright.PENANAH61znq5Vmp
Ia diam lama. Aku menunggu. Aku memberinya waktu yang sangat panjang, cukup panjang untuk mengatakan enggak, cukup panjang untuk mengatakan maaf, cukup panjang untuk mengatakan besok aku yang anter kamu.
164Please respect copyright.PENANA7cidPnByp2
"Aku gak tau, Sayang...” Katanya “Kamu ngomong apa sih."
164Please respect copyright.PENANAPNcuVw2yV6
Itu bukan jawaban. Tetapi itu jawaban yang paling jujur yang bisa ia berikan malam itu, dan aku menerimanya sebagaimana aku menerima PO yang di-ACC dengan revisi: tidak sesuai harapan, tetapi cukup untuk melanjutkan pekerjaan.
164Please respect copyright.PENANAAWaMXVhsWX
Aku menatap plafon. Besok Minggu. Lusa Senin. Senin aku dijadwalkan ke tempat Yoga lagi, presentasi revisi harga, ruang meeting dengan delapan kursi.
164Please respect copyright.PENANA9WNsQqECE8
"Senin aku ke sana lagi," kataku.
164Please respect copyright.PENANAHlZlElxTRX
Ia tidak menjawab. Napasnya tertahan; aku bisa mendengarnya.
164Please respect copyright.PENANAs99Q60XEbk
"Kalo dia… kalo dia gitu lagi…" Aku berhenti. Menelan. Aku tahu kalimat berikutnya akan mengubah sesuatu, dan aku tahu aku bisa tidak mengucapkannya, dan aku menatap wajah suamiku dalam cahaya kuning, lelaki yang dulu mencari cincin di dalam panna cotta dengan garpu kecil sambil gemetar.
164Please respect copyright.PENANAZJLlYXdFWu
Aku mengucapkannya juga.
164Please respect copyright.PENANASoHkM8e8jl
"Kamu mau aku ceritain..?"
164Please respect copyright.PENANAoHQtEksS5U
Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk, kecil sekali, nyaris tak terlihat, layaknya orang yang mengangguk dalam tidur.
164Please respect copyright.PENANAWEDEze7g6L
Aku menatapnya lama sebelum melanjutkan ceritaku.
ns216.73.216.105da2


