Tik… tik… tik…
216Please respect copyright.PENANA78G0GkTXtk
Hujan di cluster kami tak pernah turun dengan niat; ia hanya merintik sejak pukul empat sore, cukup untuk membuat talang di atas teras berdetak seperti jam yang rusak dan tak sanggup memutuskan pukul berapa sekarang, tetapi tak pernah cukup untuk disebut hujan kalau ada yang bertanya. Aku duduk di kursi plastik teras dengan kopi sachet ketiga hari itu, laptop sudah kututup sejak pukul enam, dan jam di HP menunjukkan 20.40 ketika lampu mobil operasional kantor Sinta akhirnya membelok masuk dari gerbang satpam, menyapu deretan pagar tetangga seperti senter yang mencari sesuatu yang hilang.
216Please respect copyright.PENANA3nBzEjjwN0
Aku mengenali mobil itu dari jarak tiga rumah, bukan karena aku hafal bunyi mesinnya, melainkan karena hanya mobil itu yang masuk cluster ini selarut ini dengan lampu sein yang lupa dimatikan, berkedip ke arah yang tak hendak dituju siapa pun.
216Please respect copyright.PENANAuZeZJA06Ao
Aku tak lekas berdiri. Aku menyeruput kopi yang sudah dingin dan membiarkan diriku menyadari satu hal kecil yang akhir-akhir ini makin sering mampir tanpa diundang: bahwa aku menunggu istriku pulang bukan sebagaimana suami yang rindu menunggu, melainkan sebagaimana orang yang duduk di lorong rumah sakit menunggu kabar, dengan telinga yang lebih siaga daripada hatinya.
216Please respect copyright.PENANA00EhLzKJdM
Badanku lengket. Aku belum mandi sejak pagi, hanya mencuci muka dua kali, dan kaus oblong yang melekat di punggungku ternyata sama dengan yang kupakai kemarin, kenyataan kecil yang baru kusadari sekarang dan yang terasa seperti dakwaan. Mataku perih dengan perih yang khas, perih dua belas jam di depan layar, sehingga kalau kupejamkan sebentar, garis-garis kode masih terbakar di balik kelopak seperti bekas lampu kilat. Dari kamar kedua, lewat jendela yang kubuka sedikit, bau kopi basi dan AC lembap merembes ke teras: bau kamarku, bau orang yang seharian tak pergi ke mana-mana dan perlahan mulai menyerupai perabot.
216Please respect copyright.PENANACDslczV0a4
Mobil berhenti miring di carport, seperti biasa. Pintunya dibuka.
216Please respect copyright.PENANAkbrSGLW8DD
BLAMM.
216Please respect copyright.PENANA5DmLAdoeNY
Sinta turun dengan tas kerja tersampir di bahu dan blazer yang sudah terlepas satu kancingnya. Rambut panjangnya diikat, tetapi ikatan itu sudah mengendur, menyisakan beberapa helai yang menempel di leher entah karena keringat entah karena gerimis, dan bersamanya datang bau yang bukan bau rumah ini: gerimis, aspal, AC mobil, jalanan, seluruh dunia luar yang menempel pada kain dan pulang menumpang di tubuh istriku. Ia melihatku di teras dan tidak tersenyum; ia hanya menghela napas panjang lewat hidung, cara ia mengatakan aku pulang tanpa harus membuka mulut, seolah kata-kata pun sudah habis dibelanjakan di luar sana.
216Please respect copyright.PENANAUY5WShmJ7R
"Hujan ya..?" tanyaku, bodoh.
216Please respect copyright.PENANA6Tz6vJ1Wdi
"Dari jam empat, Mas. Dari jam empatt." Ia naik ke teras, bertumpu pada sebelah kaki, lalu melepas sepatu hak rendahnya dengan cara yang sudah tiga tahun kuhafal, yakni bukan dilepas, melainkan dibanting.
216Please respect copyright.PENANAQvTrLIB3JF
BRAKK.
216Please respect copyright.PENANAHM7ygzHVpm
BRAKK.
216Please respect copyright.PENANAu0VkBQXmMv
Bunyinya nyaring di teras yang sepi, dan aku tahu tetangga sebelah pasti mendengarnya, sebagaimana tetangga sebelah selalu mendengar segalanya di rumah ini kecuali hal-hal yang sungguh penting.
216Please respect copyright.PENANAV2yVDwLlzs
"Capek apa gimana..??"
216Please respect copyright.PENANAtXOFS56Fbm
"Apa sihh…" Ucapnya sedikit sinis.
216Please respect copyright.PENANAAVFGl9uxfD
Ia masuk tanpa menunggu jawaban. Aku memungut sepatunya dan menaruhnya berdampingan di rak, dan di tengah gerakan itu aku tersadar bahwa aku melakukannya dengan kehati-hatian yang ganjil, seperti petugas yang sedang menyusun barang bukti di atas meja dan takut mengubah posisinya.
216Please respect copyright.PENANAUWIgO3QM8O
Mulustrasi Bimo:

216Please respect copyright.PENANA41joozQgY7
Makan malam sudah kusiapkan sejak pukul tujuh, meskipun menyebutnya 'menyiapkan' terdengar terlalu memuji diri sendiri. Aku tidak memasak. Aku memesan rendang dan ayam pop dari RM Padang langganan di depan cluster, memindahkannya ke piring supaya tampak seperti hasil usaha, lalu menghangatkan nasi pagi di rice cooker. Sinta tahu. Ia selalu tahu. Tetapi ia tak pernah memprotesnya, dan diamnya itu, entah kenapa, terasa lebih berat daripada protes mana pun, sebab protes setidaknya masih berarti ia mengharapkan sesuatu dariku.
216Please respect copyright.PENANACvVKyALr5V
Sshhhh…
216Please respect copyright.PENANAZuX0oETyzQ
Shower di kamar mandi berjalan lama: lima belas menit, lalu dua puluh. Aku duduk di meja makan menghadap dua piring kosong, mendengarkan air itu, dan pikiranku, tanpa kusuruh, berjalan sendiri ke tempat yang akhir-akhir ini menjadi tempat favoritnya: hari Sinta di luar sana, orang-orang yang ditemuinya, dan siapa di antara mereka yang menatapnya sedikit lebih lama daripada semestinya.
216Please respect copyright.PENANAphYjeXDWvz
Aku tak tahu kapan tepatnya kebiasaan itu bermula. Mungkin sejak bulan ketiga aku bekerja dari rumah penuh; mungkin sejak aku menyadari bahwa dalam dua belas jam, satu-satunya manusia yang kuajak bicara dengan suara sungguhan hanyalah tukang galon.
216Please respect copyright.PENANAlrxWNufrV7
Dulu tidak begini. Waktu kami baru menikah, akulah yang pulang malam dan akulah yang membawa cerita. Kantorku di Sudirman, lantai dua puluh dua, sementara Sinta masih staf biasa dengan gaji sepertiga gajiku, yang menungguku di kontrakan dengan mi instan dan pertanyaan gimana hari ini, Mas..? Aku yang dipromosikan lebih dulu; aku yang membayar DP rumah ini. Lalu kantorku direstrukturisasi, divisiku dipindahkan ke kerja jarak jauh penuh dengan dalih efisiensi, gajiku tetap tetapi aku berhenti menjadi orang yang pergi ke mana-mana; dan pada tahun yang sama Sinta naik menjadi SPV. Kini ialah yang punya mobil operasional, ialah yang punya anak buah, ialah yang punya cerita.
216Please respect copyright.PENANA0gOlfHA2HN
Aku tak pernah bilang itu menggangguku. Aku tak pernah bilang apa-apa. Yang kutahu hanyalah bahwa sejak saat itu pertanyaan gimana hari ini berpindah ke mulutku, dan aku menanyakannya dengan nada yang makin lama makin bukan nada seorang suami, melainkan nada seorang penonton yang membeli tiket untuk pertunjukan yang tidak boleh ia masuki.
216Please respect copyright.PENANA9tSOIYiYuy
Orang bilang suami yang terus di rumah lama-lama menjadi penakut. Aku tidak merasa takut. Aku merasa menjadi pendengar yang terlalu baik.
216Please respect copyright.PENANAw5xlQfRbao
Hariku sendiri tak layak diceritakan kepada siapa pun, dan mungkin di situlah letak masalahnya. Bangun pukul tujuh, saat Sinta sudah di depan cermin dengan rambut setengah dicatok; ia pergi pukul setengah delapan sebelum aku sempat mengucapkan apa pun selain hati-hati, yang dibalas dengan hmm. Lalu laptop, lalu stand-up meeting lewat headset dengan tiga orang yang kameranya mati semua, lalu tiket, bug, deploy, dan tiket lagi. Makan siang nasi goreng abang depan cluster, dimakan di depan layar, bungkusnya masih tergeletak di meja sampai sekarang.
216Please respect copyright.PENANAoi1r4tcVoZ
Pukul lima aku mulai memeriksa HP setiap sepuluh menit, bukan karena ada notifikasi, tapi karena aku ingin ada. Dan di sela semua itu, tanpa pernah kurencanakan, aku membayangkan Sinta: bukan Sinta yang di rumah, tapi Sinta yang di luar, yang setiap pagi kulihat dari belakang saat ia menutup pintu, dengan rok span, blazer, dan rambut yang tak lagi diikat asal, berjalan masuk ke ruangan orang lain sementara kepala-kepala menoleh, dan aku tidak berada di ruangan itu.
216Please respect copyright.PENANAOUQpjj533w
Cklek.
216Please respect copyright.PENANAtZF0JjMETV
Pintu kamar mandi terbuka. Sinta keluar mengenakan kaus oblong lamaku dan celana pendek, rambut basahnya dibungkus handuk, wajahnya sudah bersih dari riasan, dan selalu ada perbedaan, perbedaan yang tak pernah bisa kujelaskan kepada siapa pun, antara Sinta yang baru pulang dan Sinta yang sudah mandi. Yang baru pulang itu milik orang lain; yang ini milikku. Aku tak suka cara pikiranku membaginya begitu, tetapi pikiran itu datang juga, sebagaimana bau dari kamar kedua datang ke teras tanpa permisi.
216Please respect copyright.PENANAR3LXZK8fCL
"Rendang ya, Mas..," katanya sambil duduk dan menarik piring. "Kamu pesen lagii apa..."
216Please respect copyright.PENANAnVaXXGVHIH
"Iya kamu kan suka." Balasku
216Please respect copyright.PENANAn4JT5grztw
"Tapi enakan masakan kamu.."
216Please respect copyright.PENANAl5RdRmHB1q
“Lebih gurih.. lebih kerasa rempahnya..” Ucapnya lagi.
216Please respect copyright.PENANADR2hMN156G
"Terakhir aku masak, kan kamu diare."
216Please respect copyright.PENANAk7ftgV1hnn
Ia mendengus, tetapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Aku menyendokkan nasi ke piringnya lebih banyak daripada yang ia mau, dan ia tidak menguranginya.
216Please respect copyright.PENANAejha6J845x
"Hari ini muter berapa..?" tanyaku.
216Please respect copyright.PENANAIx9RcwR52N
"Tigaa. Yang terakhir distributor pinggir tol itu lho, yang gudangnya jauh banget dari kantor depannya. Ke sana aja setengah jam dari tolnya."
216Please respect copyright.PENANAXOOuRNx3Vs
Ia makan dengan tangan, cepat, seperti orang yang baru teringat bahwa ia lapar.
216Please respect copyright.PENANARqP2JnITZq
"Terus pulangnya macet, ya Allah Mass, aku di tol diem aja hampir sejam."
216Please respect copyright.PENANAREuarYoiCt
"Riko ikut..?"
216Please respect copyright.PENANAIQw80Frgme
"Ikut, tapi dia nyetir. Anak itu diem banget ya. Udah sebulan ikut aku, ngomongnya paling 'iya Bu', 'siap Bu'. Tapi rajin sih, dia yang bawa semua map, dia yang nyatet. Enak jadi aku tinggal ngomong."
216Please respect copyright.PENANAL65AtE0qL2
"Bagus dong berarti."
216Please respect copyright.PENANAPCAc0pJgnY
"Iya... Tapi capek, Mas." Ia menatap piringnya sebentar, lalu beralih kepadaku, dan di situ matanya berubah, bukan menjadi marah, tapi menjadi mata seseorang yang ingin mengadu tetapi belum yakin apakah ia diizinkan.
216Please respect copyright.PENANA19orW0ox0x
"Kamu tau gak sih, yang distributor tol itu…"
216Please respect copyright.PENANATE3Kv3C1Rr
Aku tahu ia akan bercerita. Ia selalu bercerita. Dan aku, ini bagian yang tak akan pernah kuakui kepada siapa pun, sudah menunggu cerita itu sejak tadi, sejak sebelum mobilnya masuk gerbang, sejak sebelum kopi ketiga, dengan kesabaran seekor binatang yang tahu persis jam berapa makanan akan dilemparkan.
216Please respect copyright.PENANA7Gdynlx02r
"Kenapa..?"
216Please respect copyright.PENANA44cKwlcZfh
"Pak Yoga itu lho."
216Please respect copyright.PENANA0r7RXXy7vF
DEG.
216Please respect copyright.PENANAPGeEvATVCz
Nama itu kudengar sebagaimana orang mendengar namanya sendiri dipanggil di tempat umum: sesuatu di tengkuk menegang sebelum kepala sempat menoleh. Ini bukan kali pertama; Sinta sudah dua atau tiga kali menyebutnya dalam minggu-minggu sebelumnya, sebagai bagian dari daftar orang kantor klien yang menyebalkan. Purchasing manager, yang gemar meminta revisi PO pada jam-jam ganjil. Aku tak pernah membayangkan wajahnya sampai malam ini, dan kini, tanpa kuminta, kepalaku mulai menyusunnya seperti tukang sketsa polisi: kemeja rapi, tentu; lengan digulung; jam tangan yang tampak mahal padahal barangkali tidak.
216Please respect copyright.PENANA9pcMKlsOhl
"Kenapa Pak Yoga..?"
216Please respect copyright.PENANAlJE3vHkXhx
"Dia tuh… gimana yaa." Sinta mengunyah, menelan, mencari kata.
216Please respect copyright.PENANAp5GY08TiP3
"Dia baik. Dia ACC PO-nya cepet. Tapi dia tuh ya Mas, kalo meeting itu kursinya mepeeet banget ke aku. Kan di ruang meeting mereka itu meja panjang, kursi ada delapan, kosong semua, dia pilihnya yang persis sebelah akU coba.. Persiss. Sampe sikunya kena siku aku kalo dia nulis."
216Please respect copyright.PENANAjKkPxd1SLs
Aku mengangguk dan memasukkan sesuap nasi ke mulut, semata supaya wajahku punya pekerjaan.
216Please respect copyright.PENANAQpR61ayvxB
"Terus pas aku buka map, kan aku mau nunjukin harga yang baru, dia tuh gak liat map-nya. Dia liatnya aku. Dari samping. Aku tau dia liat aku, aku gak nengok, tapi aku tauu. Terus dia bilang, 'Bu Sinta kalau presentasinya sebagus senyumnya, saya ACC hari ini juga.'"
216Please respect copyright.PENANAi4RY79pjLb
Ia menirukan kalimat itu dengan suara yang sengaja diberatkan, sengaja dibuat genit, lalu menutupnya dengan tawa pendek, tawa jijik yang maksudnya liat kan, nyebelin kan.
216Please respect copyright.PENANAhvtl9PU2Vw
"Hahaha… ya ampun.. kamu nya aja kali yang ngerasanya gitu..," kataku.
216Please respect copyright.PENANAGOt3Ah6rEP
Yang keluar dari mulutku memang tawa. Namun di bawah meja, tangan yang tak memegang sendok sudah mengepal di atas paha, dan di dadaku ada sesuatu yang bergerak, berat dan hangat, yang kalau aku jujur, dan malam itu aku sedang tidak jujur, sama sekali bukan amarah, tapi sesuatu yang lebih mirip dahaga yang baru saja dicipratkan air.
216Please respect copyright.PENANArmdndpCnPw
"Terus kamu ada ngomong apa ke dia..?"
216Please respect copyright.PENANAoJdmFtG325
"Ya aku ketawa aja lah, Mas. Mau bilang apa. Dia klien. Aku bilang 'Aduh Pak Yoga bisa ajaa,' gitu doang. Terus aku lanjutin presentasi."
216Please respect copyright.PENANALINbrzYUWE
"Tapi dia ACC..?"
216Please respect copyright.PENANAzNTqJdCoYW
"ACC. Hari itu juga. Tuh kann." Ia menyendok kuah rendang. "Jadi aku gak bisa bilang dia jahat juga. Dia gak jahat. Dia cuma… ya gitu."
216Please respect copyright.PENANAYVSvKbLjVe
"Ya giitu gimana..?"
216Please respect copyright.PENANAn5MoOMGtre
Sinta menatapku sebentar, dan mungkin ia menangkap sesuatu dalam pertanyaanku yang tak sempat kusembunyikan, sesuatu yang terlalu lapar untuk ukuran pertanyaan iseng; tetapi kemudian ia mengangkat bahu dan melanjutkan makannya.
216Please respect copyright.PENANAye5FQ7TkHl
"Ya gituu. Kayak klien-klien cowok lainnya. Cuma dia lebih… rapi. Lebih sopan. Jadi malah gak enak mau marah."
216Please respect copyright.PENANAQ9uwfMGgCW
"Oh."
216Please respect copyright.PENANAoooAHCy77M
Aku ingin bertanya lagi. Aku ingin bertanya semepet apa duduknya, parfum apa yang ia pakai, dan ketika ia menatap dari samping itu, ke mana persisnya matanya jatuh. Aku ingin bertanya seperti polisi yang mengisi berita acara, tetapi bukan untuk menangkap siapa pun, tapi untuk menyimpan, untuk dibawa pulang ke ruang di kepalaku yang sudah mulai kususun rak-raknya tanpa kusadari. Semua itu kutelan bersama nasi, dan yang lolos hanyalah:
216Please respect copyright.PENANABAg1sTTAg4
"Terus…? Dia bilang apa lagi pas kamu mau pulang…?"
216Please respect copyright.PENANA0pUbQEiOO7
Sinta berhenti mengunyah. "Kok kamu nanya pulangnya..?"
216Please respect copyright.PENANAVa4on6g6Ws
"Ya kan biasanya… yang gitu-gitu suka ada gerak-geriknya. Pas udah gak ada orang."
216Please respect copyright.PENANA9Hox6oX8F0
"Mass." Ia menyipitkan mata. "Kok kamu kayak tau gitu."
216Please respect copyright.PENANAcbWprB3GY0
"Aku kan dulu juga di kantor."
216Please respect copyright.PENANAqlzkLayEYJ
"Hmmm... berarti kamu gitu juga yaa ke cewe, Mas!?." Katanya.
216Please respect copyright.PENANAAEUkOXvinO
"Engga ya ampunn...! Kan aku cowok.. Jadi ya paham aja"
216Please respect copyright.PENANA7jJGdSYVpq
"Terus gimana emang dia.." Lanjutku.
216Please respect copyright.PENANAUg42w85K7W
"Dia nganterin aku sampe lobi. Gak sampe mobil, sampe lobi doang. Terus pas aku udah mau keluar pintu, dia bilang, 'Hati-hati, Bu, jalanan licin. Orangnya juga harus aman, bukan cuma barangnya aja.'"
216Please respect copyright.PENANAPjrpe9mm6g
"Terus..?"
216Please respect copyright.PENANAF76U9Ki0Oi
"Terus ya aku jalan lahh. Riko udah nungguin di mobil. Aku masuk mobil, aku liat dari kaca, dia masih berdiri di lobi. Liatin mobilnya keluar. Sampe belok." Ia mendengus lagi. "Nyebelin gak sih..?"
216Please respect copyright.PENANAv4ZNqqiGjm
"Ya.. Nyebelin sihh," kataku.
216Please respect copyright.PENANAH6dTwLOEcx
Aku mengatakan nyebelin, dan sembari mengatakannya aku sedang membayangkan Sinta di balik kaca lobi itu, dengan blazernya, rok spannya, sepatu hak rendah yang tadi dibanting, berjalan menjauhi seorang lelaki yang tak mau berhenti memandang; dan yang kurasakan, di tempat yang semestinya diisi keinginan untuk menonjok seseorang, adalah debar. Debar yang serupa dengan debar dulu, semasa pacaran, saat Sinta bercerita ada teman kampus yang menaksirnya, debar yang waktu itu kukira bernama cemburu dan yang sekarang, untuk pertama kalinya, aku tak lagi yakin namanya apa. Siall… kok aku malah deg-degan dengernya ya.
216Please respect copyright.PENANAM1XbPZUYL2
"Mas..?"
216Please respect copyright.PENANAcJMjiN07EW
"Hah.. Kenapa?"
216Please respect copyright.PENANAZcHSDrq9Fl
"Kamu ngelamun..."
216Please respect copyright.PENANA8XgiqvScsR
"Enggak. lagi mikir ajaa. Besok kamu ke sana lagi..?"
216Please respect copyright.PENANAtY3KA4q4MR
"Iya besok ke gudang timur. Manajernya baru itu, yang cerewet. Yang kalo setiap aku dateng ditanyain terus 'kenapa gak dari kemarin, kenapa gak dari kemarin'." Ia memutar bola mata.
216Please respect copyright.PENANAli6xq2UMoP
"Pak Yoga mah kemungkinan minggu depan. Kalo revisi PO-nya gak dia kirim malem nya lagi."
216Please respect copyright.PENANABUfMKUg1eY
Nama itu lagi, dua kali dalam satu makan malam, dan aku mencatatnya tanpa bermaksud mencatat, sebagaimana lidah mencatat gigi yang berlubang.
216Please respect copyright.PENANAEAR1LvKHGY
216Please respect copyright.PENANAS0A9vqCUh3
216Please respect copyright.PENANA13rWxyz6n0
Selepas makan, Sinta rebah di sofa dengan HP kerja di tangan kanan dan HP pribadi tertelungkup di perutnya, sementara aku mencuci piring.
216Please respect copyright.PENANAKG6BIJuUyb
Srek… srek… srek…
216Please respect copyright.PENANANTxkpHkp7r
Dua piring, dua gelas, satu sendok sayur, kucuci jauh lebih lama daripada yang perlu. Air keran menutupi suara dari ruang tengah, dan di balik dinding air itu aku mengulang kalimatnya dalam kepala, bukan karena kuputuskan untuk mengulangnya, tapi karena kalimat itu sudah lebih dulu masuk dan menolak keluar, seperti tamu yang mengaku kerabat.
216Please respect copyright.PENANAeCJQOIfM8A
Bu Sinta kalau presentasinya sebagus senyumnya.
216Please respect copyright.PENANArOv8zIFALC
Aku mencoba membayangkan bagaimana Sinta tersenyum pada saat itu: senyum kerja, senyum yang sudah tak kudapatkan di rumah karena di rumah ia tak perlu bekerja untuk memperoleh apa pun, senyum yang ia kenakan setiap pagi bersama blazer dan lipstik yang warnanya hanya kukenal dari bekasnya di bibir gelas.
216Please respect copyright.PENANALENakYZDct
Ada yang keliru pada lelaki yang membayangkan senyum istrinya untuk orang lain lalu merasakan hangat merayap di perutnya. Aku tahu itu, tahu betul; tetapi pengetahuan tak pernah menghentikan apa pun dalam hidupku. Aku pun tahu bahwa kopi ketiga di atas pukul sembilan malam akan merampas tidurku, dan tetap kuminum, sebab antara tahu dan berhenti ternyata dua hal yang tinggal di rumah berbeda.
216Please respect copyright.PENANAhYNC9H1P77
"Mass, botol air mineralnya udah abis ya di kulkas..?"
216Please respect copyright.PENANAd5ETXrXmnZ
"Belum. Masih dua kann."
216Please respect copyright.PENANAidLBaxi2oY
"Ambilin donggg…"
216Please respect copyright.PENANA9VqW0W4gNh
Suaranya dipanjangkan di ujung, manja, jenis lelah yang sudah melewati fase marah dan memasuki fase ingin dilayani. Kubawakan botol itu dan ia menerimanya tanpa melepaskan mata dari layar HP kerja, jempolnya mengetik cepat. Aku tidak melihat layarnya. Aku tak pernah melihat layarnya. Itulah salah satu kebanggaanku, satu-satunya kebanggaan yang masih bisa digenggam suami yang bekerja dari kamar kedua: aku bukan tipe lelaki yang memeriksa HP istrinya.
216Please respect copyright.PENANAMFOr8HVRNd
Drrtt… Drrtt…
216Please respect copyright.PENANALHcvXdUQ30
HP kerja itu bergetar lagi di tangannya.
216Please respect copyright.PENANAfl7R2Wfncl
"Kerjaan..?" tanyaku.
216Please respect copyright.PENANAoYUz6B8BTY
"Revisi PO. Tuh kan, bener kan aku bilang." Ia mengangkat HP sedikit, tak cukup tinggi untuk kubaca, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa tak ada yang ia sembunyikan. "Jam segini. Orang gilaa."
216Please respect copyright.PENANAm29TsfFK5J
Ia tak menyebut siapa. Ia tak perlu menyebut.
216Please respect copyright.PENANABHaeek9I8I
"Balesnya besok aja..," kataku.
216Please respect copyright.PENANAsQH9F62G73
"Nanti dia nanya terus, Mas."
216Please respect copyright.PENANAhKLeEFXn0r
"Ya biarin aja."
216Please respect copyright.PENANAs7mWlGFvjP
"Mas, dia klien. Dia yang pegang PO. Kalo aku cuekin, bulan depan targetku lewat dong." Ia mengetik lagi. "Udahh, aku bales 'siap Pak, besok pagi saya kirim yang revisi'. Selesai. Nihh."
216Please respect copyright.PENANAlTga8ADXYC
Kali ini ia menyodorkan layar lebih dekat, dan aku sempat membaca nama kontak di bagian atas, Pak Yoga Purchasing, berikut gelembung chat terakhir darinya, satu baris yang kubaca dalam setengah detik dan kuingat sampai sekarang dengan ketepatan yang memalukan:
216Please respect copyright.PENANAWpndLrsUNi
Siap Bu, ditunggu. Jangan lupa istirahat.
216Please respect copyright.PENANAIRq8gAbZ2s
Jangan lupa istirahat. Dari seorang purchasing manager. Pukul sembilan lewat.
216Please respect copyright.PENANADMBGQXgbyw
"Tuh kann," kata Sinta.
216Please respect copyright.PENANAIP8EUYcs2k
"Iya."
216Please respect copyright.PENANAqVj9ddssGy
"Sok perhatian banget dia."
216Please respect copyright.PENANA4QpVi0w68i
"Iya."
216Please respect copyright.PENANAslxeEFlwSR
"Ihhh nyebelin... iya iya mulu"
216Please respect copyright.PENANA2owGsQ3L2V
Ia meletakkan HP kerja di meja, telungkup, lalu beralih ke HP pribadi. Aku kembali ke dapur meskipun piring sudah selesai, mengelap meja yang sudah bersih, dan menyadari bahwa tanganku telah masuk ke saku celana pendek dan mengaduk-aduk di sana tanpa mencari apa pun. Kebiasaan lama: kalau memakai jaket, saku jaket; kalau tak ada saku, aku sungguh tak tahu harus menaruh tanganku di mana, seakan tangan itu milik orang lain yang dititipkan padaku.
216Please respect copyright.PENANAAighYUC0rs
Aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.
216Please respect copyright.PENANAALbgkuFTzb
Keranjang cucian teronggok di pojok, di bawah rak handuk, dan blazer abu-abu Sinta tergeletak paling atas, dilempar asal, sebelah lengannya menjuntai keluar. Aku berdiri di depan wastafel dengan air mengalir dan memandangi blazer itu lewat cermin, lama, lebih lama daripada orang memandangi pakaian kotor. Lalu kumatikan keran, dan dengan gerakan yang kubuat sesantai mungkin, seakan ada kamera yang merekam, aku menunduk merapikan lengan yang menjuntai itu, memasukkannya kembali ke keranjang.
216Please respect copyright.PENANAW0eK9K1bmW
Tanganku berhenti di kerahnya.
216Please respect copyright.PENANAxajGE03GVk
Manis: manis dan kuat, bukan parfum Sinta, sebab parfum Sinta sudah pasti kukenal seperti kukenal suaranya. Yang ini asing, sedikit lebih pekat, sedikit tajam, jenis wangi yang dikenakan orang yang ingin tetap diingat setelah ia pergi. Di bawahnya, samar, tersisa bau gerimis dan jalanan tadi, dua bau dari luar yang menumpang di satu helai kain dan masuk ke rumah yang baunya hanya kopi basi dan AC.
216Please respect copyright.PENANASVO7oc1rw4
Aku tidak mendekatkan hidung. Aku belum sejauh itu. Aku hanya berdiri dengan jari di kerah blazer istriku, membiarkan bau orang lain naik sendiri ke wajahku dari jarak setengah meter, dan menghitung, dengan ketenangan yang membuatku takut pada diriku sendiri, bahwa bau semacam itu bisa berpindah ke kain bila dua orang berjalan cukup dekat di koridor yang cukup panjang.
216Please respect copyright.PENANA98HiXsdncD
Kulepaskan kerah itu. Kucuci mukaku dengan air dingin. Kutatap wajahku di cermin, dan wajah itu tak menunjukkan apa-apa, itulah yang paling kuingat dari malam tersebut: betapa tenang aku tampaknya, betapa tanpa cela raut luar seorang lelaki yang di dalamnya ada sesuatu yang baru saja bergeser dari tempatnya.
216Please respect copyright.PENANAvkxTCyGbTl
"Mass, lama amatt sii..!" seru Sinta dari ruang tengah.
216Please respect copyright.PENANAWJH3uyCtMP
"Iya, bentarrr."
216Please respect copyright.PENANAcD8i5Oq9xx
Aku keluar. Ia tak menoleh; ia sedang tertawa kecil pada sesuatu di HP pribadinya, sebuah video barangkali, suaranya pelan. Aku duduk di ujung sofa dekat kakinya, dan ia meletakkan kakinya di pahaku tanpa melihat, sambil aku pijat telapak kaki nya atas inisiatifku sendiri.
216Please respect copyright.PENANAOxiUYquGdj
Semuanya tampak seperti rumah tangga yang baik-baik saja. Kalau tetangga lewat dan mengintip dari jendela, mereka akan melihat seorang suami memijat kaki istrinya yang kelelahan. Mereka tak akan melihat yang lain. Tak seorang pun bisa melihat yang lain.
216Please respect copyright.PENANAJENRqOwnjK
216Please respect copyright.PENANAOjLB4F8rz1
Kami masuk kamar pukul setengah sebelas. AC sudah kunyalakan sejak sore, sebab kamar depan ini menghadap barat dan dindingnya menyimpan panas sampai tengah malam kalau tak didinginkan lebih awal. Sinta rebah lebih dulu, telentang, handuk sudah dilepas, rambut setengah keringnya terhampar di bantal. Matanya terpejam, tetapi aku tahu ia belum tidur dari napasnya yang belum turun ke irama yang kukenal.
216Please respect copyright.PENANADqRNu1G2tv
Aku rebah di sebelahnya dan menatap plafon. Di pojok dekat AC ada bekas rembesan cokelat, bentuknya serupa peta pulau yang tak pernah ada, yang sudah kujanjikan akan kucat ulang sejak Lebaran lalu. Sinta tak pernah menagih janji itu. Ia hanya pernah berkata sekali, Itu makin gede ya, Mas, dengan nada yang bukan menyalahkan, dan justru karena tak menyalahkan itulah kalimatnya tak pernah berhenti menempel di kepalaku.
216Please respect copyright.PENANAaW55TDLWo6
Begitulah ia: tak pernah marah soal hal kecil, tetapi menyimpannya satu demi satu di tempat yang tak kuketahui letaknya, dan aku hanya tahu tempat itu ada karena kadang-kadang, ketika ia sedang sangat lelah, salah satunya terlepas keluar tanpa konteks, seperti barang jatuh dari lemari yang terlalu penuh.
216Please respect copyright.PENANApoUiQkl3si
Lampu kamar sudah padam; tinggal lampu tidur kuning kecil di meja sebelahku, cahayanya jatuh ke wajah Sinta: dahi, hidung, bibir yang sedikit terbuka. Aku bisa saja memeluknya. Dulu aku pasti memeluknya. Tetapi malam itu tanganku diam di atas perutku sendiri, dan satu-satunya yang bergerak hanyalah mulutku.
216Please respect copyright.PENANAmX1DsTmqgS
"Sayang."
216Please respect copyright.PENANAAtUFpEax9b
"Hmm..."
216Please respect copyright.PENANAmp61ID9xpf
"Ceritain lagi dong, Sayangg.. Yang tadi..."
216Please respect copyright.PENANAQ5RxILH605
Mata Sinta terbuka. Ia tak menoleh; hanya bola matanya yang bergeser ke arahku.
216Please respect copyright.PENANAERQwbfoJwj
"Yang mana..?"
216Please respect copyright.PENANA84rFngGnCK
"Yang Pak Yoga itu lho. Pas dia nganter sampe lobi."
216Please respect copyright.PENANAu30eDd4ywZ
Hening. AC berdengung. Di luar, talang masih menetes, makin jarang, seperti jantung yang mulai tertidur.
216Please respect copyright.PENANAYYq9Wdc52y
"kenapa sii..?" tanyanya, bukan dengan marah, tapi dengan heran, nada orang yang disuruh mengulang cerita yang ia kira sudah selesai dan tak berarti apa-apa.
216Please respect copyright.PENANAZ16KBBXML6
"Pengen denger aja.. Sayangg"
216Please respect copyright.PENANAZ23Uv5FKZl
"Mas, aku udah cerita tadii ya ampun..."
216Please respect copyright.PENANA65xeOfU40T
"Iya tapi tadi kamu lagi makan. Buru-buru." Aku mendengar suaraku sendiri, dan suara itu terdengar wajar, santai, suara suami yang iseng; aku terkejut betapa wajarnya, betapa mudah dusta memakai baju sehari-hari.
216Please respect copyright.PENANAm1qG1oFDjw
"Ceritain pelan-pelan. Dari pas kalian keluar ruang meeting ituu."
216Please respect copyright.PENANAL68hAAQg3P
Sinta menghela napas panjang, dan sekejap aku mengira ia akan menolak. Namun kemudian ia memiringkan badan menghadapku, kepalanya disangga tangan, dan di matanya ada ekspresi yang artinya kuhafal di luar kepala: kamu aneh, tapi aku terlalu capek buat ribut.
216Please respect copyright.PENANAYlL00V8sk5
"Ya keluar ruang meeting," katanya. "Riko udah duluan ke mobil, bawa semua map. Aku masih di belakang karena Pak Yoga ngajak ngomong soal jadwal pengiriman. Jalan di koridor itu dia di sebelah kiri aku. Deket. Ya gak nempel, tapi deket."
216Please respect copyright.PENANAh7BJcp6jeT
Pertanyaan berikutnya sudah berada di ujung lidahku sebelum aku sempat memutuskan apakah akan menanyakannya. Aku merasakannya naik dari dada, dan aku tahu, aku tahu persis, bahwa itu bukan pertanyaan seorang suami iseng; itu pertanyaan lelaki yang tadi berdiri di depan keranjang cucian. Aku masih bisa menelannya. Aku punya waktu satu detik, dan satu detik itu kubiarkan lewat.
216Please respect copyright.PENANAglRXvivouB
"Dia bau apa..?"
216Please respect copyright.PENANAtEwYLxmANt
Keluar juga.
216Please respect copyright.PENANAf4Ujt7F09J
Sinta tertawa pendek. "Lah kok bauu..?"
216Please respect copyright.PENANA1ADurcyTFS
"Ya parfum nya maksudku..." Aku menjaga wajahku, sungguh-sungguh menjaganya, otot di sekitar mulut, alis, semuanya, seperti orang menahan tumpukan piring agar tak jatuh di lantai licin. Suaraku kubuat malas, kubuat setengah menguap. "Dia mesti pake parfum kann."
216Please respect copyright.PENANAAkf5rq10B3
Jantungku memukul tulang rusuk dari dalam, dan aku tidak bernapas; aku baru menyadari aku tidak bernapas saat Sinta akhirnya menjawab.
216Please respect copyright.PENANApITXoe4kX7
"Iya sihh. Parfum… yang agak manis. Kayak yang cowok-cowok kantor sekarang suka pake, aku gak tau mereknya. Kuat. Sampe di mobil masih kecium di blazer aku."
216Please respect copyright.PENANAp8xGChXQRF
Aku mengembuskan napas pelan lewat hidung agar tak terdengar. Blazer itu ada di keranjang cucian; aku tahu letaknya, aku tahu baunya, dan Sinta baru saja membenarkannya tanpa tahu apa yang sedang ia benarkan, seperti saksi yang menandatangani berkas tanpa membaca isinya.
216Please respect copyright.PENANAElfgK9kM3u
"Terus..?"
216Please respect copyright.PENANAXZcW1LFE6F
"Terus sampe lobi. Lobi mereka tuh kecil Mas, ada sofa dua, ada satpam satu. Dia berhenti di depan pintu kaca, aku juga berhenti, kan gak enak jalan terus. Dia bilang yang tadi itu, yang 'orangnya juga harus aman'. Sambil…" Ia berhenti.
216Please respect copyright.PENANAtLk3eLPWr8
"Sambil apa..?"
216Please respect copyright.PENANA4f7GwtWmPw
"Sambil nyentuh siku aku. Kayak orang nganter tamu. Ginii." Ia mengulurkan tangan dan menyentuh sikuku dengan dua jari, hanya sedetik, lalu menariknya kembali.
216Please respect copyright.PENANA9s6DEsf3IH
Aku tidak bergerak. Tetapi sesuatu di bawah selimut bergerak, dan aku berdoa dalam bahasa yang tak kukenal agar Sinta tak menyadarinya, sementara pada saat yang sama, di bagian otakku yang paling gelap dan paling tak sudi kuakui, aku berharap ia menyadarinya, berharap ada seseorang yang akhirnya melihat isi diriku dan tidak lari.
216Please respect copyright.PENANABGCQrsoI7H
"Terus kamu bilang apa..?"
216Please respect copyright.PENANAaBhmTUaZbn
"'Makasih, Pak.' Udah. Aku keluar. Dia berdiri di situ, kayak yang tadi aku bilang, nontonin mobil keluar." Sinta menguap.
216Please respect copyright.PENANAIwcCWm1ie4
"Puass..? Itu doang, Mas. Gak ada apa-apa lagi."
216Please respect copyright.PENANARcJB83pZdy
"Gak ada apa-apa?," ulangku.
216Please respect copyright.PENANAoPK96FJ2U7
"Kamu kenapa sihh..? Cemburu ya..?"
216Please respect copyright.PENANArXfeeKx15E
Pertanyaan itu datang dengan nada bercanda, nada istri yang diam-diam senang bila suaminya cemburu, dan di titik ini, di ranjang kami yang cicilan KPR-nya masih dua puluh tahun lagi, aku diberi kesempatan untuk mengatakan iya. Iya, Sinta, aku cemburu; besok bilang ke dia jaga jarak; kalau perlu aku yang jemput kamu di sana. Kalimat itu sudah ada, aku bisa merasakannya di lidah seperti rasa logam, dan suami yang dulu, yang kantornya di lantai dua puluh dua, pasti akan mengucapkannya tanpa berpikir.
216Please respect copyright.PENANAeuJsAxeTGW
"Enggak," kataku. "Ya lucu aja."
216Please respect copyright.PENANAGM43T7lUxL
"Lucu…?"
216Please respect copyright.PENANAKcUoxQrqhL
"Ya lucu. Bayangin orang purchasing ngegombal pake kalimat 'barangnya aman'."
216Please respect copyright.PENANAywbtSZBLmE
Sinta tertawa, kali ini sungguhan, tawa pendek yang menular, lalu memukul dadaku pelan.
216Please respect copyright.PENANAwXPcfGFZy8
Plak.
216Please respect copyright.PENANAhuByy26UK3
"Kamu tuh yaa… tiap aku cerita malah ketawa. Nyebelin tau gak sihh…?!"
216Please respect copyright.PENANAFzw835Nm4u
"Lah kan kamu yang cerita."
216Please respect copyright.PENANA0RYo4XO1SI
"Kan aku ngeluh, Mas. bukan lagi ngelawakk."
216Please respect copyright.PENANAhFTZhlQ4Y7
"Iya iya..." Balasku sambil tersenyum lebar.
216Please respect copyright.PENANAUfeuBW5mVO
Ia kembali telentang. Lalu, setelah hening beberapa detik, dengan suara yang sudah setengah tertelan kantuk, ia berkata, "Oh iya Mas. Restonya udah kamu DP kan..? Yang buat anniversary kita."
216Please respect copyright.PENANA3a2fmR4Jlc
"Udah kok. Minggu lalu."
216Please respect copyright.PENANAeBgnh75Qte
"Tanggalnya bener gaa..? Tanggal kita..?"
216Please respect copyright.PENANAvgtN5GBxAg
"Bener. Tiga bulan lagi kan. Aku udah cek."
216Please respect copyright.PENANAzJMkNi6t0R
"Okeyy." Ia menarik selimut sampai ke dagu. "Jangan sampe angus ya DP-nya. Mahall."
216Please respect copyright.PENANABH3naQiEjh
"Gak bakal, Sayang."
216Please respect copyright.PENANA11LXc3G42r
"Janji loh..? Awas aja.."
216Please respect copyright.PENANAVuSLOn82Sr
"Iyaa.. janji."
216Please respect copyright.PENANADS5d3XLQ70
Tiga bulan lagi genap tiga tahun. Resto yang sama dengan tempat aku melamarnya dulu, meja yang sama bila memungkinkan; aku sudah memintanya kepada manajer resto itu. Semuanya sudah diatur, semuanya sudah dibayar. Aku memikirkan itu, dan semestinya pikiran itu hangat, semestinya pikiran itulah yang menemaniku tidur. Namun ia lewat begitu saja seperti mobil orang di jalan cluster, kulihat sebentar, lalu lenyap di tikungan, meninggalkan jalan yang kembali gelap.
216Please respect copyright.PENANA31aIfAq4sT
Yang tinggal justru yang lain.
216Please respect copyright.PENANAbXZ96GTsjb
Napas Sinta turun, melambat, lalu teratur; ia tertidur dalam lima menit, seperti biasanya, seperti orang yang hari-harinya memang diciptakan untuk dihabiskan. Aku tetap telentang. Lampu kuning kecil itu masih menyala dan tak kumatikan, sebab bila kumatikan, kepalaku akan memperoleh terlalu banyak ruang.
216Please respect copyright.PENANAXV4MGMmbxY
Blazer di keranjang cucian. Dua jari di siku. Seorang lelaki yang wajahnya tak kukenal berdiri di balik pintu kaca, menatap mobil yang membawa istriku pulang kepadaku. Dan aku merasa, aku tak sanggup menamainya selain begini, merasa telah diberi sesuatu, seperti orang yang dititipi barang milik orang lain dan diam-diam bergembira karena barang titipan itu ternyata diinginkan banyak orang.
216Please respect copyright.PENANAENw8SrV8Vf
Siall.
216Please respect copyright.PENANAJGYjkbxRZY
Lelaki normal akan marah. Lelaki normal akan bangun besok pagi dan berkata, Kamu gak usah ke sana sendirian lagi. Aku tahu itu sebagaimana aku tahu alamat rumahku sendiri. Tetapi di bawah segala yang kutahu, ada sesuatu yang lebih kecil, lebih lapar, dan lebih jujur, yang berbisik dengan suara yang terlampau mirip suaraku: besok minta lagi. Pelan-pelan. Dia gak keberatan. Dia malah seneng kalo curhatannya didengerin.
216Please respect copyright.PENANAkOuL9vkkhd
Aku menoleh. Sinta tidur menghadapku, mulut sedikit terbuka, dahinya licin tanpa beban. Ia tak tahu apa-apa. Tak ada yang salah dari sudut mana pun kecuali satu, dan sudut itu hanya bisa dilihat olehku.
216Please respect copyright.PENANAzQ02E9TLRN
Aku membalikkan badan, memunggunginya, dan menatap tembok.
216Please respect copyright.PENANAnPtonnUbkN
Di luar, talang berhenti menetes.
216Please respect copyright.PENANAkyyXdZtP0m
Dan malam itu aku tidak tidur, sebab satu kalimat terus berputar di kepalaku, bukan dengan suara Sinta, tapi dengan suara yang kubuat sendiri, berat, genit, dari balik pintu kaca, suara yang dalam satu malam sudah menemukan tempat tinggal di dalam diriku dan tak tampak berniat pindah:
216Please respect copyright.PENANAjn2XHQstdN
Orangnya juga harus aman, bukan cuma barangnya.
216Please respect copyright.PENANAWggHzLrqUX


