Tapi aku membutuhkan penis yang benar-benar keras dan siap untuk dipompakan di dalam liang kewanitaanku. Bukan sekadar penis yang menyiarkan hawa hangat.
Karena itu aku mulai menjjilati leher dan kepala penis Yaqdhan yang gagah ini. Kemudian kukulum dan kuselAbioti penis Yaqdhan yang tegangnya masih nanggung ini. Sementara air liurku sengaja kualirkan ke badan penisnya, lalu kuurut-urut batang penis Yaqdhan, pada saat bibir dan lidahku mengeluti leher dan kepala penis gagah ini.
Dalam tempo singkat saja aku mulai merasakan penis Yaqdhan makin menegang… makin menegang lagi… Sampai akhirnya aku yakin sudah cukup waktunya untuk menikmati kejantanan adik tiriku ini.
Dengan godaan birahi semakin menjadi-jadi, kutanggalkan celana dalamku, lalu menelentang Sambil menarik tangan adik tiriku.
Yaqdhan pun terhempas ke atas tubuhku. Dalam keadaan seperti ini, dia tidak canggung-canggung lagi. Dengan lahap dia mencelucupi puting toket kananku, sementara tangan kanannya meremas toket kiriku. Dan penisnya yang sudah full ereksi itu bertempelan dengan kemaluanku… membuatku semakin horny.
Namun aku tak mau mendikte Yaqdhan. Kubiarkan dia beraksi atas inisiatifnya sendiri, tanpa pengarahan dariku.
Ternyata Yaqdhan cukup kreatif. Bahkan mungkin pengalamannya lebih banyak daripada Salman. Ia tahu benar titik-titik sensitif di tubuhku. Dan titik-titik sensitif ini disentuhnya semua.
Bahkan pada saat aku semakin klepek-klepek dalam horny, Yaqdhan melorot turun. Menciumi selangkanganku yang sudah menghangat ini. Kemudian ia mulai menjilati kemaluanku yang sudah agak basah ini.
Ooooh… gila… ternyata Yaqdhan lebih trampil daripada Salman. Begitu lidahnya menyentuh kemaluanku, sasaran utamanya adalah clitorisku. Jelas ini membuatku jadi menggeliat-geliat dengan perasaan seolah tengah melayang-layang.
Ketika mulut Yaqdhan seolah sudah membenam di kemaluanku, kedua tanganku mulai mengepak-ngepak kasur, sementara perutku sering terangkat secara spontan.
Desahan demi desahan pun mulai terhembuskan dari mulutku, sementara kedua tanganku meremas-remas kain seprai… terkadang juga meremas-remas rambut Yaqdhan, dengan nafsu yang semakin menggila.
Bahkan pada suatu saat aku tak kuasa lagi menahan nafsu ini. Aku pun mengepit kepala Yaqdhan dengan kedua tanganku. Kemudian aku merengek dengan nada memohon, “Cukup Ga… masukin aja punyamu sekarang… aku sudah gak tahan…”
Untunglah Yaqdhan mengerti apa yang kuinginkan. Ia merayap naik ke atas perutku, Sambil memegangi batang kemaluannya yang sudah ngaceng berat itu.
Meski tidak kubantu, Yaqdhan sangat mengerti ke mana dia harus membenamkan penisnya.
Beberapa detik kemudian, terasa penis Yaqdhan mulai membenam ke dalam liang kemaluanku. Oooh… memang terasa lain… terasa seret gerakan penis itu, mungkin karena ukurannya itu… di atas rata-rata…!
Kenyataan yang satu itu justru membuatku semakin bergairah untuk menikmati gesekan kejantanan Yaqdhan.
Dan ketika penis Yaqdhan mulai bergerak maju-mundur di dalam liang kewanitaanku… ooh… gesekannya benar-benar terasa. Membuatku terpejam-pejam saking enaknya…!
Terlebih lagi ketika penis Yaqdhan mulai cepat Ukhti Ayeshanannya, sehingga gesekannya dengan liang senggamaku pun lebih cepat… oooh… ini luar biasa nikmatnya.
Rintihan-rintihanku pun mulai berlontaran dari mulutku, tak terkendalikan lagi, “Yaqdhan… oooh… ini enak sekali Ga… enak sekali… oooh… iyaaaaa… entot terus Gaaa… kontolmu luar biasa enaknya Gaaa…”
“Me… memek Kak juga… luar biasa enaknya… masih sempit dan… dan legit sekali… Mbaaak…” sahut Yaqdhan terengah-engah.
“Sama memek temanmu itu enak mana?” tanyaku penasaran.
“Jauh Kak… memek dia kan sudah dua kali melahirkan… takkan bisa dibandingkan dengan memek Kak ini… oooh…”
Aku senang sekali mendengar ucapan adik tiriku itu.
Dan Yaqdhan makin gencar mengentotku. Membuat nafasku tertahan-tahan, Sambil menggeliat-geliat nikmat.
“Nanti lepasin di dalam aja ya…” kataku pada suatu saat.
“Aman?” tanya Yaqdhan Sambil mempermainkan puting toketku.
“Aman… sudah disuntik… cukup untuk enam bulan…”
“Asyiiik… “hanya itu yang terlontar dari mulut Yaqdhan. Lalu ia mempergencar genjotan penisnya.
Sementara mulut dan tangannya pun terus-terusan beraksi. terkadang menjilati leherku, lalu menjilati puting tetekku, terkadang juga menjilati ketiakku… ini semua membuatku makin terpejam-pejam dalam nikmat yang sulit kulukiskan dengan kata-kata.
Tangannya pun terkadang meremas toketku, di swaat lain meremas sepasang bahuku. Oooh… tak kusangka kalau Yaqdhan ini ternyata jauh lebih trampil daripada abangnya.
Apakah itu karena pengalaman Yaqdhan lebih banyak daripada pengalaman Salman? Ya… bukankah di dalam catatan pribadi itu Salman mengaku untuk pertama kalinya menggauli perempuan waktu menggauli Ummi itu?
Entahlah. Yang jelas ketika aku merasa sudah mau mencapai orgasme, aku membisiki Yaqdhan, “Yaqdhan… oooh… aku udah mau lepas Gaaa…”
“Iya Kak… kita barengin aja yok… biar nikmat…” sahut Yaqdhan Sambil mempercepat entotannya.
Sampai pada suatu saat kami Sama-Sama berkelojotan… lalu Yaqdhan membenamkan penis gagahnya doi dalam liang kemaluanku, tanpa menggerakkannya lagi. Pada saat itulah aku merasakan indah dan nikmatnya puncak orgasmeku… yang Yaqdhan tanggapi dengan sermprotan cairan kental hangatnya di dalam liang kemaluanku.
Pada saat itulah kami saling peluk… saling cengkeram seolah ingin saling meremukkan. Kemudian Yaqdhan terkapar di atas tubuhku.
Terasa benar… sretttt… srettt… srettt… sretsrettttsreeeet… air mani Yaqdhan membasahi liang kemaluanku, bercampur aduk dengan lendir libidoku yang sudah terpuasi.
Yaqdhan mencabut penisnya dari liang kemaluanku. Lalu mengambil kertas tissue dari atas meja riasku. Mengelap penisnya dengan kertas tissue itu. Kemudian mengelap kemaluanku denbgan kertas tissue yang masih baru. Lalu mengenakan celana pendeknya kembali.
“Nggak mau bikin ronde kedua?” tanyaku Sambil mencium pipi Yaqdhan.
“Besok malam masih ada waktu kan Kak. Kalau sekarang… aku harus ngerjain tugas dulu.”
“TeUkhti Rania kasih Yaqdhan yaaa… aku pasti bakal ketagihan nanti.”
“Aku juga bakal ketagihan Kak…”
Kami pun berciuman dengan mesranya.
Kemudian Yaqdhan meninggalkan kamarku, dengan flashdisk baru itu.
Petualanganku dengan Yaqdhan itu sungguh sangat berkesan di hatiku. Masalahnya, Yaqdhan yang tampak seperti cowok innocent itu ternyata punya segalanya, untuk memuasi desir-desir birahiku.
Maka esok paginya, ketika Salman dan Ita sudah duluan berangkat kuliah, sementara aku dan Yaqdhan baru siap-siap mau berangkat, sengaja kuhampiri adik tiriku yang biasa dijuluki si bungsu itu. Lalu aku berkata setengah berbisik, meski Ummi belum tampak keluar dari kamarnya, “Nanti malam jam delapan tepat kutunggu di dalam kamarku ya.
“Siap Kak,” sahut Yaqdhan Sambil tersenyum menggoda.
Lalu aku dan Yaqdhan mengeluarkan motor masing-masing. Dan berpisah di depan rumah. Yaqdhan menuju ke kiri, aku ke kanan.
Di atas motor yang kukemudikan ke arah kampusku, segala yang terjadi dengan Yaqdhan tadi malam terbayang lagi di pelupuk mata batinku. Tapi aku bertekad, kepada Ummi dan Salman, aku akan berusaha merahasiakan kejadian dengan Yaqdhan itu. Demikian pula kejadian-kejadian dengan Salman aku akan berusaha merahasiakannya baik kepada Ummi mau pun Yaqdhan.
Tapi Sampai kapan aku bisa menutup-nutupi semuanya ini?
Entahlah. Sangat mungkin salah seorang di antara mereka (Ummi, Salman dan Yaqdhan) bisa membocorkannya. Tapi kalau pun rahasia itu bocor, pasti bukan dari mulutku.
Setibanya di kampus, aku baru ngeh bahwa hari itu aku baru akan dapat kuliah jam sembilan nanti. Berarti aku berangkat kepagian, karena waktu aku tiba di kampusku, jam tanganku baru menunjukkan jam 07.10. Berarti aku harus menunggu hampir dua jam.
Tapi biarlah. Aku melangkah ke kantin saja. Mudah-mudahan sudah ada makanan yang bisa kunikmati di sana.
Lumayan, di kantin sudah ada bermacam-macam gorengan yang masih pada panas.
Aku pun meminta teh manis panas, Sambil mengambil beberapa buah gorengan dan menyimpannya di sebuah piring kosong. Lalu duduk di kursi kantin yang masih sepi.
Pada waktu menyantap gorengan itu, aku malah menerawang ke masa laluku yang penuh dengan liku-liku. Tentang masa pacaranku yang selalu kandas di tengah jalan. Bahkan cowok yang terakhir, sangat bertolak belakang dengan awal pendekatannya padaku. Meski pun kutolak secara halus, dia Sampai berlutut dengan mata berlinang-linang.
Akhirnya hatiku pun luluh. Dan meneUkhti Rania teKakannya berdasarkan perasaan kasihanku padanya. Ya, perempuan memang bisa mencintai lawan jenisnya dengan berbagai macam alasan. Begitu juga dengan cowok terakhir itu (yang aku malas menyebutkan namanya), aku meneUkhti Ranianya dengan dasar kasihan.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Setelah beberapa bulan menjadi pacarku, cowok itu malah berselingkuh dengan temanku sendiri. Membuatku geram… geram sekali.
Pada saat itu juga kuputuskan hubunganku dengan cowok brengsek itu.
Lalu, sejak saat itu aku males pacaran lagi. Mendingan konsentrasi pada kuliahku saja, biar cepat selesai, lalu nyari kerja. Gak mau mikirin cowok dulu.
Ternyata aku mendapatkan teman senasib. Teman kuliahku yang bernama Yessy itu pun mengalami nasib yang Sama. Bahwa cowoknya yang dahulu seolah mengemis minta dikasihani, memohon agar Yessy mau meneUkhti Ranianya sebagai pacarnya. Lalu Yessy teUkhti Rania juga cowok itu sebagai pacarnya. Tapi endingnya Sama dengan yang terjadi padaku.
Bahkan Yessy mengalami hal yang lebih parah dariku. Cowok itu berbelok arah setelah merenggut kesucian Yessy, setelah “kenyang menggauli Yessy…!
Merasa punya teman senasib, hubunganku dengan Yessy makin lama makin akrab. Bahkan boleh dibilang Yessylah sahabat terdekatku di kampus.
Tapi dalam soal sex, saat itu aku jauh ketinggalan kalau dibandingkan dengan “jam terbang” Yessy. Karena setelah putus dengan cowok yang telah merenggut keperawanannya itu, Yessy jadi senang bertualang. Meraih cowok demi cowok ke dalam pelukannya.
Setelah menyerahkan keperawananku pada Salman, diikuti dengan persetubuhan demi persetubuhan dengan adik tiriku itu, aku pun merasa tidak terlalu ketinggalan oleh Yessy.
Aku pun menceritakan sejujurnya kepada Yessy, bahwa aku sudah tidak perawan lagi. Namun siapa cowok yang telah merenggut kesucianku, masih kurahasiakan. Karena aku merasa malu menceritakan skandal di dalam rumahku sendiri.
“Ukhti Ayesha! Ternyata kamu udah di sini ya?” Yessy menepuk bahuku, sehingga terawangan masa laluku buyar seketika.
“Iya… aku kepagian datangnya. Lupa kalau hari ini baru ada kuliah jam sembilan nanti.”
Yessy melihat makanan yang ada di atas piringku, lalu meminta yang Sama kepada bu kantin. “Sekarang hari Rabu kan?” ucap Yessy Sambil duduk di Salmanpingku.
“Iya. Emang kenapa?”
“Lusa kan Jumat. Long weekend tuh Sampai Minggu.”
“Iya… terus mau ngapain di liburan tiga hari itu?”
Yessy mendekatkan mulutnya ke telingaku. Lalu berbisik, “Aku bingung, ada dua cowok Sama-Sama ngajak kencan. Mending kubagi dua aja, yang seorang untukku, yang seorang lagi untukmu.”
“Siapa mereka? Teman sekampus?”
“Iya. Abbas dan Manuel.”
Aku terlongong. Aku tahu benar siapa mereka. Abbas itu keturunan timur tengah yang sering nraktir makan di sebuah resto favorit. Manuel juga bukan asli Indonesia, Ayahnya orang lokal, tapi ibunya orang Spanyol.
Kampusku memang agak berbeda dengan kampus lain. Di kampusku banyak indonya. Bahkan Arab asli juga banyak yang kuliah di kampusku.
Abas dan Manuel itu memang ganteng-ganteng. Tapi entah kenapa, aku tidak tertarik pada ajakan Yessy itu. Apalagi kalau acaranya menjurus ke arah sex.
“Gimana? Mau ikutan? “tanya Yessy.
“Sorry, aku gak bisa. Udah ada janji yang harus kutepati. Lain kali aja,” sahutku.
“Ziaaah… padahal Manuel itu suka Sama kamu, Ukhti Ayesha.”
“Tau,” sahutku, “Tapi aku udah ada janji, gimana?”
Yessy tampak kecewa.
Sementara aku teringat kembali godaan demi godaan yang Manuel lakukan padaku. Yang selalu kutanggapi dengan dingin. Karena saat itu aku memang sedang malas didekati cowok mana pun.
“Kalau kamu gak mau, aku juga gak mau kencan Sama mereka ah,” ucap Yessy diakhiri dengan elahan nafas panjang.
“Kalau kamu berhasrat, kenapa harus ikut-ikutan aku?” tanyaku Sambil menepuk punggung tangan Yessy yang terletak di atas meja kantin.
“Soalnya aku ngebayangin, kalau kamu ikut, pasti seru,” sahut Yessy.
“Seru gimana?”
Yessy menjawabnya dengan bisikan di telingaku, “Kita bisa foursAbie. Pasti asyik lho.”
“Iiiih… mendengarnya aja merinding aku nih…” sahutku.
“Kita kan gak usah mikirin pacaran dan serius-seriusan dulu. Yang serius sih nanti aja setelah kita diwisuda. Tapi kepalangan sudah gak virgin lagi, kenapa gak kita nikmati aja enaknya cowok?!”
Aku cuma terlongong. Namun diam-diam hatiku membenarkan ucapan sahabatku itu. Hanya saja aku masih ingin konsen kepada satu sosok baru… sosok adik tiriku yang bernama Yaqdhanma itu.
Sepulangnya dari kampus, seperti biasa aku memasukkan motorku ke garasi. Dan kulihat hanya ada motor Ita dan motor Salman di garasi. Sementara motor Yaqdhan dan mobil Ummi tidak ada. Berarti Ummi sedang keluar. Karena itu aku balik lagi ke ruang makan. Kulihat Ita sedang menyantap risoles di situ. “Ummi ke mana Ta?
“Pergi Sama Salman,” sahut Ita, “Katanya sih mau nginap di rumah teman Ummi. Gak tau ada acara apa.”
Aku mengernyitkan dahi Sambil menghela napas. Lalu melangkah ke lantai atas, langsung masuk ke dalam kamarku.
Salman berSama Ummi lagi. Mau nginap segala. Pasti mereka akan bergelut di ranjang. Dan aku bisa membayangkan apa yang Ummi lakukan dengan Salman yang sudah dianggap brondongnya.
Tapi biarlah. Belakangan ini Ummi pasti sering keseUkhti Safiyyan, karena Abi makin lama makin sering tidak pulang. Dan aku tahu kenapa Abi sering tidak pulang.
Padahal Ummi juga masih membutuhkan sentuhan lelaki. Jadi, skandal Ummi dengan Salman kuanggap sebagai hal yang wajar. Masih bagus skandal dengan orang serumah, tidak dengan orang luar.
Biarlah Ummi merasakan hangatnya sentuhan Salman, karena aku justru sudah punya keasyikan baru, dengan Yaqdhan itu.
Tapi… tiba-tiba aku teringat sesuatu. Bahwa kalau Salman sedang berduaan dengan Ummi, entah di mana, pasti flashdisk yang berisi catatan pribadi Salman itu takkan dibawa. Dan seandainya flashdisk itu kutemukan, pasti isi catatan pribadinya sudah bertambah.
Pintu kamar Salman terkunci. Tapi tiada kesulitan bagiku untuk membukanya. Karena kunci cadangannya ada padaku, seperti juga kunci cadangan pintu kamarku dipegang oleh Salman pula.
Aku juga sudah hafal di mana Salman biasa meletakkan flashdisknya. Di laci meja tulisnya. Dan aku masih ingat flashdisk mana yang dipakai untuk menyimpan catatan pribadinya itu.
Flashdisk itu kutemukan. Kubawa ke dalam kamarku, lalu kupasang di laptopku. Ternyata benar-benar banyak penambahannya. Maka cepat kucopy ke flashdiskku sendiri. Kemudian kukembalikan flashdisk punya Salman ke tempat asalnya.
Kututup dan kukuncikan lagi pintu kamar Salman dan kembali ke kamarku, untuk membuka catatan pribadi Salman yang sudah kucopy ke flashdiskku.
Waaah… ternyata catatan pribadi Salman sudah lumayan jauh perkembangannya.
Berdebar-debar juga aku membacanya…
Ummi seolah diciptakan untuk menjadi sumber gairah birahiku. Bukan cuma itu, Ummi juga makin lama makin menyayangiku. Sehingga apa pun yang kuminta selalu dikabulkannya.
Sementara itu Abi makin lama makin sering tidak pulang. Sampai pada suatu saat… ketika aku sedang berada di dalam pavilyun Ummi, kudengar penuturan ibu tiriku itu, bahwa sebenarnya Abi sudah menikah lagi dengan wanita lain.”
“Apakah wanita itu lebih cantik dari Ummi?” tanyaku penasaran.
“Entahlah, “Ummi menggeleng Sambil tersenyum, “Yang jelas usianya lebih tua dari Ummi.”
“Usianya lebih tua tapi statusnya istri muda?” tanyaku.
Ummi mengangguk Sambil tersenyum. Lalu mencium pipiku disusul dengan bisikan, “Biar aja Abi memuasi dirinya sendiri. Ummi kan udah punya kamu, yang jauh lebih memuaskan daripada Abimu.”
“Tapi Ummi Sama sekali gak punya perasaan marah atau cemburu?”
“Nggak Salman. Alasan Abi terlalu sulit ditolak. Wanita itu owner perusahaan di tempat Abi bekerja. Jadi Abi menikahi big bossnya sendiri.”
“Ohya?! Berarti Abi punya motivasi lain dengan menikahi wanita itu?”
“Iya. Kamu masih ingat kan waktu Ummi dibeliin mobil. Terus Abi membeli empat buah motor untuk kamu dan saudara-saudaramu?”
“Iya Umi.”
“Nah itu semua hanya sebagian dari kAbipensasi dari Abi, agar Ummi bersedia dimadu. Duitnya mengalir dari wanita itu. Makanya Ummi biarin aja Abi menikah lagi, asalkan masa depan kita lebih terjamin.”
Aku cuma mengangguk-angguk dan mulai mengerti apa latar belakang Abi menikah lagi itu. Faktor duit alasannya. Tadinya aku memang kesal juga mendengar Abi punya istri muda itu. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Ummi, aku pun mencoba untuk mengerti.
Tapi sesuatu yang sulit kumengerti adalah waktu Ummi bertanya, “Kamu sudah tau Ummi Ummi Fathiya kan?”
“Tau Umi. Kan dia sering ke sini.”
“Nah sekarang siapkan stamina dan vitalitasmu, karena besok pagi kita akan bertamu ke rumahnya.”
“Lho… mau bertamu aja kok harus siapkan stamina segala?!”
“Ini rahasia ya. Jangan Sampai bocor. Sebenarnya kita bakal punya acara istimewa di rumah Ummi Ummi Fathiya besok.”
“Acara apa?”
“Ummi Ummi Fathiya hanya punya anak seorang. Anak cowok yang sebaya denganmu.”
“Iya, kan anaknya pernah dibawa ke sini. Yang namanya Rayhan itu kan?”
“Oh… iya ya… jadi kamu udah kenal dia kan?”
“Iya. Pernah ngobrol juga kok denganku.”
“Nah… Ummi Ummi Fathiya minta tolong Sama Ummi untuk ngajarin Rayhan bersetubuh.”
“Haaa?! Terus Ummi mau aja?”
“Dengar dulu dong. Jangan mutus Abiongan Ummi,” ucap Ummi Sambil menepuk lututku, “Besok itu acaranya begini… Ummi Sama Rayhan, kamu Sama Ummi Ummi Fathiya.”
“Maksud Ummi yang jelasnya gimana?”
“Kamu boleh menyetubuhi Ummi Ummi Fathiya, sementara Ummi akan ngajarin Rayhan begituan. Ngerti kan?”
“Hihihiii… Ummi kok acaranya aneh gitu Umi?!”
“Nggak usah banyak komentar. Jawab aja, mau apa nggak?”
Aku terdiam, dengan pikiran tak menentu. Ummi Ummi Fathiya itu tergolong hitam manis, tapi memang seksi. Namun aku masih bingung menjawab ajakan Ummi itu.
“Kalau kamu nggak mau ya udah. Ummi akan pergi ke rumah Ummi Ummi Fathiya besok sendirian.”
Tanpa pikir panjang lebar lagi, kupegang kedua tangan Ummi Sambil berkata, “Demi Ummi, apa pun yang Ummi inginkan pasti kulakukan.”
Ummi mengecup bibirku, lalu berkata, “Memang seharusnya kamu menyambut rencana Ummi dengan Ummi Ummi Fathiya itu sebagai sesuatu yang seru. Biar kamu juga bisa merasakan wanita lain, jangan hanya dengan Ummi melulu.”
“Sementara Ummi bisa merasakan brondong lain juga kan?” ucapku dengan perasaan cemburu yang kusembunyikan di dalam hatiku.
“Mmm… yang penting kita bikin resfreshing, supaya hubungan kita tetap segar. Oke? Sekarang tidurlah. Besok pagi kita berangkat ke rumah Ummi Ummi Fathiya yang jaraknya lumayan jauh.”
Aku pun mengikuti permintaan Ummi. Meninggalkan pavilyun dan naik ke lantai dua, lalu masuk ke dalam kamarku.
Di dalam kamar aku merenungkan semuanya itu. Tentang “mother swap” yang sudah Ummi rencanakan itu.
Aku sudah kenal dengan Ummi Ummi Fathiya yang kelihatannya sangat akrab dengan Ummi itu. Bahkan aku pernah ngobrol dengan wanita setengah baya berkulit sawo matang itu. Memang manis dan seksi.
Sebenarnya aku girang juga mendengar rencana Ummi dengan Ummi Ummi Fathiya itu. Tapi tadi aku tak mau memperlihatkan kegiranganku, semata-mata ingin menjaga perasaan Ummi saja.
Dan sebelum tidur, aku sudah membayangkan apa yang bakal terjadi besok di rumah Ummi Ummi Fathiya.
Esoknya, pagi-pagi sekali aku sudah berada di belakang setir mobil Ummi. Sementara saudara-saudaraku masih tidur semua. Maklum hari itu hari Minggu.
“Ummi Ummi Fathiya itu tidak punya suami?” tanyaku kepada Ummi yang sudah berada di Salmanping kiriku.
“Dahulu punya,” sahut Ummi, “Tapi karena dia tidak punya anak terus, akhirnya diceraikan oleh suaminya.”
“Lho… Rayhan itu anak siapa?”
“Keponakannya. Tapi Rayhan dirawat sejak balita, sehingga Ummi Ummi Fathiya merasa seperti pada anaknya sendiri.”
“Ogitu…”
“Jadi Ummi Ummi Fathiya itu belum pernah melahirkan. Pasti memeknya lebih enak daripada memek Ummi. Hihihiii…”
“Ah Ummi…”
“Nanti laporan ya. Mana lebih enak Ummi atau Ummi Ummi Fathiya.”
“Pasti enakan Ummi.”
“Kenapa bisa mikir gitu? Kan kamu belum nyobain seperti apa rasanya memek Ummi Ummi Fathiya.”
“Ummi punya kulit putih bersih. Punya bokong semok. Punya wajah cantik dan sebagainya. Ummi Ummi Fathiya kan tidak seputih dan secantik Ummi.”
“Tapi kata orang, perempuan yang item manis itu legit lho memeknya.”
“Masa sih?”
“Nanti buktikan aja sendiri.”
Aku terdiam dan konsen ke arah seitr yang sedang kukemudikan.
Memang rumah Ummi Ummi Fathiya itu agak jauh di luar kota. Tapi untung jalanan tidak macet, sehingga tidak Sampai dua jam mobil Ummi sudah dibelokkan ke pekarangan rumah Ummi Ummi Fathiya yang luas dan banyak pohon jeruknya itu.
Ketika aku dan Ummi turun dari mobil, pintu depan rumah Ummi Ummi Fathiya terbuka.
Rayhan yang membuka pintu itu. Ia menghampiriku Sambil menjabat tanganku, “How are you Salman?”
“I am fine. And you?” sahutku.
“Fine too… ayo masuk, “ajak Rayhan. Sementara Ummi sudah duluan masuk ke dalam.
Bersambung…
ns216.73.216.62da2


