Tadinya aku takut kalau penisku tak Mampu menembus keperawanan Kak Ayesha malam ini, karena aku baru habis-habisan dengan Ummi di hotel.
Namun setelah menyadari keperkasaanku sendiri, bahwa penisku langsung ngaceng setelah menyentuh kemaluan Kak Ayesha yang tidak bercelana dalam ini. Lalu apa salahnya kalau kulakukan malam ini juga?
Kak Ayesha tidak memaksaku untuk melakukannya pada malam ini. Tapi kini justru aku yang mendesakkannya Sampai terlentang di atas bedku. Kak Ayesha cuma menatapku dengan sorot heran. Dan membiarkanku melepaskan kimononya. Sehingga tubuh tinggi montoknya terbuka sepenuhnya di depan mataku.
“Kak punya baby lotion?” tanyaku.
“Punya,” sahut Kak Ayesha, “Emang kenapa? Mau dilaksanakan sekarang?”
“Iya. Biar aku aja yang ngambil. Kak kan udah telanjang gitu,” ucapku, “ditaroh di mana Kak?”
“Di meja rias,” sahutnya.
Aku pun bergegas keluar dari kamarku, lalu masuk ke dalam kamar Kak Ayesha. Untuk mengambil lotion itu.
Sesaat kemudian aku sudah berada di dalam kamarku lagi, dengan pintu yang sudah ditutup dan dikuncikan. Lalu menghampiri Kak Ayesha yang masih terlentang Sambil menyambutku dengan senyum manis di bibirnya.
Botol lotion punya Kak Ayesha itu kuletakkan di dekat bantal. Lalu kutanggalkan baju dan celana piyamaku, karena tak kuasa menahan diri untuk menerkam tubuh telanjangnya yang sangat menggiurkan.
Dan ketika aku benar-benar menerkamnya, mencium bibirnya yang sensual dan agak ternganga, kehangatan pun terpancar dari tubuh Kak Ayesha. Membuatku semakin bersemangat untuk menggumulinya dengan segenap gairahku.
Kak Ayesha pun menyambut gumulanku dengan dekapan erat di pinggangku, terkadang dengabn pelukan hangat di leherku… lalu menyerangku dengan pagutan dan lumatan mesra di bibirku.
Dalam keadaan seperti ini terlupalah aku bahwa dia seharusnya kuanggap sebagai kakak kandungku. Tidak… aku tak bisa lagi menganggapnya sebagai kakakku, seperti tak bisanya aku menganggap Ummi sebagai ibu kandungku… karena biar bagaimana pun aku tak punya hubungan darah dengan mereka.
Dan aku tak mau berlama-lama lagi melakukan foreplay dengan kakak tiriku.
Kuambil botol plastik berisi lotion itu. Kubuka tutupnya dan kuarahkan ke mulut kemaluan Kak Ayesha Sambil memijatnya. Lotionnya memancar ke dalam celah kemaluan Kak Ayesha, sengaja cukup banyak kukeluarkan lotion itu. Kemudian kupancarkan juga lotionnya di seputar permukaan kemaluan dan selangkangan Kak Ayesha.
Lalu kuusap-usap sekujur permukaan kemaluan Kak Ayesha yang sudah berlepotan lotion itu. Jemariku pun bermain di celahnya yang sudah licin.
Dan tak mau buang-buang waktu lagi, kuminta Kak Ayesha merenggangkan sepasang paha gempalnya sejauh mungkin, agar rudalku bisa meluncur leluasa menuju sasaran.
Seperti robot, Kak Ayesha menurut saja. Merentangkan sepasang pahanya, kedua tangannya pun dipakai untuk menarik lipatan lututnya, agar kedua p[ahanya tetap mengangkang dengan stabil.
Aku pun mengucurkan lotion itu ke penisku sendiri, Sampai penisku benar-benar berlepotan lotion itu. Dengan cara seperti ini, aku yakin akan mudah memasukkan penisku yang sudah ngaceng berat ini ke dalam liang kemaluan kakak tiriku.
Namun kenyataannya tidak semudah itu. Berkali-kali puncak penisku meleset, kadang meleset ke bawah kadang ke atas juga.
Tapi setelah belasan menit aku berupaya melakukan penetrasi, akhirnya aku berhasil juga membenamkan penisku ke dalam liang kemaluan Kak Ayesha yang sangat sempit ini.
“Oooh… Salman… ini terasa udah masuk…” bisik Kak Ayesha Sambil mendekap pinggangku erat-erat.
Aku pun merasakan keberhasilan usahaku. Dan aku jadi tahu bahwa cerita tentang gagalnya pengantin di malam pertama, adalah kisah kedunguan pengantin prianya belaka, ditambah dengan minimnya pengalaman.
Dengan bantuan lotion ternyata tidaklah sulit melakukan penetrasi kepada kemaluan perawan.
Memang terasa benar penisku memasuki lubang yang sangat sempit, namun tetap bisa membenam terus Sampai lebih dari setengahnya, berkat pelicin yang sudah kugunakan.
Lalu aku mulai mengUkhti Ayeshan penisku perlahan-lahan. Memang masih seret rasanya. Namun makin lama makin lancar. Dan waktu aku mendorong penisku, terasa semakin jauh masuknya… bahkan akhirnya terasa mentok di dasar liang kemaluan Kak Ayesha.
Pada saat itulah aku mulai benar-benar mengentot kakak tiriku, Sambil merapatkan dadaku ke dadanya.
Terdengar suara Kak Ayesha, “Salman… oooohh… ini kita… sudah benar-benar bersetubuh ya…”
“Iya,” sahutku, “Sakit nggak?”
“Nggak… tadi memang sakit sedikit… tapi sekarang terasa… eee… enak sekali Saalmaanh…” sahut Kak Ayesha yang disusul dengan ciuman-ciuman hangatnya di bibirku. Membuatku semakin bergairah untuk mengUkhti Ayeshan penisku, bermaju mundur di dalam liang kemaluan kakak tiriku yang sangat sempit dan menjepit ini.
Namun masih sempat aku membisiki telinganya, “Jadi nanti bebas untuk ejakulasi di dalam punya Kak?”
“Bebas,” sahutnya, “selama enam bulan bebas ejakulasi di dalam vaginaku. Setelah enam bulan, nanti aku akan disuntik lagi untuk satu semester berikutnya. Hiihiiihiii…”
Aku pun melanjutkan perjalanan birahiku yang teramat indah dan nikmat ini. Setelah agak lama, kurasakan liang senggama Kak Ayesha tidak terlalu sempit lagi. Karena lendir libidonya mulai membasahi liang kemaluannya. Sehingga aku pun semakin lancar mengentotnya.
Rintihan-rintihan histeris Kak Ayesha pun mulai bertaburan, “Saalmaanh… oooh… ini… isi enak sekali Saalmaanh… duuuuh… enak Saalmaanh…”
Kamarku sudah kedap suara, karena ada ACnya. Jadi aku tidak takut kalau rintihan Kak Ayesha terdengar ke lantai bawah. Maka rintihan-rintihan Kak Ayesha malah kuanggap sebagai hal yang erotis. Yang membuatku semakin bergairah untuk mengUkhti Ayeshan penisku di dalam jepitan liang kemaluannya.
Aku pun tak ragu lagi untuk menikmati segala yang istimewa di tubuh kakak tiriku. Tak ragu lagi menciumi bibirnya yang sensual. Tak ragu lagi meremas sepasang pUkhti Ayeshadaranya yang lebih montok daripada pUkhti Ayeshadara Ummi.
Hanya Sampai di situ catatan Salman yang tak sengaja kutemukan di flashdisknya.
Ya… aku meminjam flashdisk berisi video bokep itu dari adik tiriku yang biasa kupanggil Salman itu. Namun tanpa kusengaja kutemukan file yang Salman beri judul Rumah Kami Surga Kami itu.
Kalau tidak menyangkut pautkan namaku, aku takkan mempedulikan isi catatan pribadi itu. Tapi karena namaku disebut-sebut, dengan sendirinya aku ingin tahu apa saja yang Salman tulis mengenai diriku.
Dan yang sangat mengejutkan adalah langkah Salman dengan Ummi itu. Benar-benar di luar dugaanku.
Apakah aku harus marah kepada Ummi dengan apa yang telah dilakukannya berSama Salman?
Tidak. Karena Salman bukan pacarku. Aku bahkan menganggap Ummi hanya ingin mendapatkan apa yang tidak didapatkannya dari Abi. Dan aku juga tahu suatu rahasia yang pernah Ummi Sampaikan padaku. Bahwa diam-diam Abi sudah kawin lagi dengan wanita yang lebih tua dari Ummi. Dan wanita itu adalah boss Abi sendiri.
Ya, sebenarnya catatan pribadi Salman itu terjadi lebih dari 3 bulan yang lalu.
Aku juga tahu bahwa Abi jadi sering tidak tidur di rumah.
Ketika aku bertanya kepada Ummi Kamilahapa Abi jadi jarang tidur di rumah, akhirnya kudengar curhatan Ummi.
“Dia sudah nikah lagi dengan bossnya sendiri. Dengan wanita yang lebih tua dari Ummi. Tapi ini rahasia. Jangan Sampai Yaqdhan dan Ita tau.”
“Terus… Ummi diam saja?” tanyaku yang merasa ingin membela ibu kandungku.
Ummi malah membelai rambutku Sambil menjawab lirih, “Abi menikahi wanita itu bukan berdasarkan cinta. Makanya Ummi tidak mau protes. Bahkan Ummi tanda tangani surat ijin untuk Abi menikah lagi itu, karena tujuan Abi memang baik. Abi ingin meningkatkan taraf hidup kita. Dan sejak Abi menikahi bossnya itu, Abi bisa memperbesar rumah ini, Abi bisa membelikan Ummi mobil baru dan banyak lagi.
Aku terdiam. Mencoba untuk mengerti kenapa ayah tiriku menikah lagi.
“Satu hal penting yang harus kamu sadari… kalau Abi tidak menikahi bossnya itu, kalian berempat belum tentu bisa kuliah,” kata Ummi lagi, “Jadi kita harus menilai dari Ukhti Syifa positifnya saja.”
“Terus… Ummi nggak cemburu Abi punya istri lagi?” tanyaku.
“Nggak, “Ummi menggeleng Sambil tersenyum, “Kalau wanita itu lebih muda dari Ummi, mungkin Ummi akan cemburu. Tapi wanita itu sepuluh tahun lebih tua dari Ummi. Lagian Abi menikahinya atas dasar untuk mendapatkan posisi penting di kantornya. Posisi yang membuat Abi jadi punya duit banyak, untuk membiayai kita semua secara layak.
Banyak lagi yang Ummi Sampaikan padaku saat itu.
Rahasia itu sudah Ummi buka sebelum aku menyerahkan kesucianku kepada Salman.
Dan setelah aku membaca catatan pribadi Salman, ternyata ada rahasia lagi yang bisa kubuka.
Bahwa Ummi melakukan “sesuatu” dengan Salman, sebelum aku menyerahkan kesucianku kepada adik tiriku itu.
Dan kini aku jadi mengerti. Kalau Salman “menghilang” dari kamarnya, berarti Salman sedang berada di pavilyun. Sedang memuasi hasrat birahi Ummi…!
Seperti pada suatu malam…
Hasrat birahiku sedang menagih-nagih. Dan aku ingin melakukannya berSama Salman. Tapi pintu kamarnya terkunci. Kucoba mengetuknya berkali-kali, tidak dibuka.
Aku berpikir sesaat. Hmm… mungkin Salman sedang berada di pavilyun, tepatnya di kamar Ummi.
Ya, pavilyun itu terdiri dari tiga bagian. Kamar tidur, ruang cengkerama dan kamar mandi.
Aku ingin membuktikan dugaanku. Bahwa Salman sedang berSama Ummi di pavilyun. Itulah sebabnya aku turun ke lantai bawah dan agak mengendap-endap menuju pavilyun. Mendekati jendela kamar Ummi.
ABIG…!
Aku mendengar suara rintihan-rintihan Ummi…!
Jelas sekali di telingaku, “Iya Saalmaanh… ooooh… Saalmaan… iyaaaa… iyaaa… entot terus Saalmaanh… ooooh… Saalmaanh… oooooh Saalmaan…”
Aku degdegan mendengar suara Ummi dengan nada yang lain dari biasanya itu. Lalu aku kembali ke lantai atas lagi. Tak ingin nguping lebih jauh lagi, karena malu sendiri mendengar ibu kandungku sedang melakukan “sesuatu” dengan adik tiriku.
Tapi setibanya di kamar, aku jadi resah sendiri. Resah di dalam amukan birahiku yang semakin menjadi-jadi.
Tiba-tiba handphoneku berdering perlahan. Ternyata yang nelepon itu Yaqdhan.
Tanpa pikiran yang aneh-aneh, kuteUkhti Rania call dari adik tiriku itu. “Ada apa Ga?” tanyaku.
“Maaf… Kak punya flashdisk yang bisa kupinjam? Lagi ngerjain tugas, flashdiskku ketinggalan di kampus tadi Kak, “tanya Yaqdhan di speaker hapeku.
“Ada. Ambil aja ke sini.”
“Iya Kak. Aku mau ke kamar Kak sekarang.”
Setelah hubungan seluler diputuskan, aku meletakkan hapeku di meja riasku. Sambil menatap bayangan wajahku di cermin.
Masih cantik, pikirku. Tadinya aku persiapkan kecantikan ini untuk Salman. Tapi entah setan mana yang membunjukku, sehingga aku berubah pikiran, “Kenapa aku tidak menyiapkan kecantikanku ini untuk Yaqdhan? Bukankah Salman sedang asyik berSama Ummi? Tapi apakah Yaqdhan bisa memberikan sesuatu seperti yang sering kudapatkan dari Salman?
Lalu keletakkan flashdisk yang masih baru di atas meja rias. Aku sendiri melangkah ke arah bed Sambil memutar otakku.
Tak lama kemudian terdengar pintu kamarku diketuk dari luar.
“Nggak dikunci, Buka aja Ga,” kataku Sambil merebahkan diri di atas tempat tidur, dengan belahan kimono yang sengaja kubuka lebar-lebar. Untuk meUmierkan pahaku yang putih mulus ini.
Pintu terbuka. Yaqdhan pun masuk ke dalam kamarku. Dengan hanya mengenakan celana pendek dan baju kaus serba putih.
Kalau dibandingkan dengan Salman yang bentuknya ganteng dan macho itu, Yaqdhan itu tergolong tampan dan cute. Tubuhnya pun tinggi langsing, tidak tegap seperti Salman.
“Flashdisknya di atas meja rias tuh,” kataku, “Masih baru. Format aja dulu nanti.”
“Iya Kak,” sahut Yaqdhan Sambil melangkah ke arah meja riasku.
“Yaqdhan… sini sebentar,” kataku Sambil duduk bersila di atas bedku, dengan paha semakin terbuka di antara kedua Ukhti Syifa kimonoku.
Yaqdhan sudah memegang flashdiskku, lalu melangkah ke arahku. “Ada apa Kak? Mau ngasih duit lagi? Hehehee…”
“Aku malah mau ngasih sesuatu yang lebih bernilai daripada duit.”
“Ohya? Mau ngasih apa?” Yaqdhan tampak bersemangat.
Kutarik pergelangan tangan Yaqdhan, lalu kudekatkan mulutku ke telinganya. Dan berbisik, “Mau ngasih memekku. Mau nggak?”
“Haaa?!” Yaqdhan tersentak dan menatapku dengan sorot ragu.
“Kamu udah punya pengalaman ngentot cewek?” tanyaku Sambil tetap memegang pergelangan tangan adik tiriku.
Yaqdhan cuma menatapku, tanpa menjawab pertanyaanku.
Namun akhirnya ia mengangguk.
“Sama siapa?” desakku.
“Sama teman kuliahku yang sudah punya anak dua.”
“Ohya? Jadi udah banyak pengalaman dong,” kataku Sambil merayapkan tangan ke balik celana pendek putihnya. Ternyata Yaqdhan tidak mengenakan celana dalam, sehingga aku bisa memegang batang kemaluannya yang terasa lebih panjang-gede daripada penis abangnya.
“Kak… “Yaqdhan menatapku dengan bola mata bergoyang ketika aku mulai meremas penisnya dengan lembut.
“Mau nggak ML Sama aku?”
“Mau… tapi takut ketahuan Abi dan Ummi… Kak kan kakakku.”
“Abi lagi di luar kota. Ummi sudah tidur. Dan kita kan saudara tiri. Bukan saudara kandung. Apa salahnya kalau kita bertualang?”
“Iya…” sahut Yaqdhan Sambil tersenyum.
“Tutup dan kunci dulu pintunya gih.”
Yaqdhan mengangguk. Lalu melangkah ke arah pintu. Menutup dan mengunci pintu itu, lalu menghampiriku lagi. Pada saat yang Sama, aku menanggalkan kimonoku, sehingga tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuhku, karena kalau sudah malam aku terbiasa tidak mengenakan beha lagi.
“Bagaimana? Apakah aku ini menarik nggak?” tanyaku Sambil bertolak pinggang di depan Yaqdhan.
Yaqdhan terbalalak dan bergumam, “Waaah… Kak Ayesha seksi habis… !”
Aku cuma tersenyum mendengar kelakar Yaqdhan itu.
Lalu aku duduk di pinggiran bed, sementara Yaqdhan masih berdiri di lantai, persis di depanku. Pada saat itulah kupelorotkan celana pendek Yaqdhan Sampai terlepas dari kakinya.
Lalu tampaklah sebatang penis panjang gede yang sudah agak menegang. Memang lebih panjang dan lebih gede daripada penis Salman…!
Ini surprise bagiku. Bahwa Yaqdhan yang tampan dan imut-imut itu ternyata memiliki penis segini gagahnya. Mengalahkan abangnya yang berpenampilan ganteng dan macho itu.
Aku sudah terbiasa memegang dan mempermainkan penis Salman. Karena itu aku tak ragu lagi memegang dan menciumi batang penis Yaqdhan yang gagah dan mulai menegang itu.
Ketika penis Yaqdhan kutempelkan ke pipiku, terasa ada hawa hangat tersiar dari alat vital adik tiriku itu.
Bersambung...
ns216.73.216.62da2


