/story/229030/e-book-47-menaklukkan-ummi-dan-dua-kakak-tiriku/?load=0
(E-BOOK 47) Menaklukkan Ummi dan Dua Kakak Tiriku | Penana
arrow_back
(E-BOOK 47) Menaklukkan Ummi dan Dua Kakak Tiriku
more_vert share bookmark_border file_download
info_outline
format_color_text
toc
exposure_plus_1
coins
Search stories, writers or societies
Continue ReadingClear All
What Others Are ReadingRefresh
X
Never miss what's happening on Penana!
PG-13
(E-BOOK 47) Menaklukkan Ummi dan Dua Kakak Tiriku
blibibdi69
Intro Table of Contents Top sponsors Comments (3)

Malam itu, kamar Ummi terasa lebih pengap dan basah daripada biasanya. Bau parfum manisnya bercampur dengan aroma tubuh hangat yang membuat celana Salman langsung mengencang. Ia berdiri di ambang pintu, napasnya sudah memberat, sementara Ummi menatapnya dari tepi ranjang. Kain sutra tipis yang dikenakannya hanya menutupi separuh dada, putingnya mengeras jelas di balik kain.

“Kamu tahu kenapa Ummi memanggilmu?” suaranya serak, hampir seperti desahan.

Salman menelan ludah. “Tidak… Ummi.”

Ummi menarik napas panjang, dadanya naik-turun menggoda. “Karena ada rahasia yang sudah terlalu lama kita simpan… dan malam ini Ummi tidak sanggup menahannya lagi.”

Jantung Salman berdegup kencang. Ia melangkah mendekat, tetapi Ummi mengangkat tangan, jari-jarinya gemetar. “Jangan… jangan melewati batas yang akan membuat kita menyesal.” Suaranya bergetar, namun matanya justru basah oleh nafsu.

“Kalau begitu, kenapa Ummi terlihat begitu takut… dan basah?” tanya Salman pelan, pandangannya turun ke paha Ummi yang terbuka sedikit.

Tatapan mereka bertemu. Beberapa detik terasa seperti berjam-jam. Napas Ummi terdengar berat, “Ahh… Salman… jangan lihat Ummi seperti itu…” desahnya pelan, seolah dirinya sendiri yang tidak sanggup menahan.

Dari luar kamar terdengar langkah kaki Ayesha.

“Salman?”

Keduanya langsung terdiam. Gagang pintu bergerak perlahan.

“Siapa di dalam?”

Salman menatap Ummi. Wajah perempuan itu berubah pucat, tapi di antara kedua kakinya sudah terlihat basah. “Jangan buka pintunya,” bisiknya, suara serak. “Ummi… ahh… jangan biarkan mereka tahu dulu…”

Tetapi pintu sudah mulai terbuka. Ayesha dan kakak tirinya yang lain berdiri di ambang, mata mereka membelalak melihat pemandangan di dalam: Ummi dengan dada yang hampir telanjang, Salman yang celananya sudah menonjol jelas, dan udara kamar yang penuh desahan tertahan.

Malam itu bukan sekadar tentang sebuah rahasia keluarga. Ada sesuatu yang selama bertahun-tahun disembunyikan nafsu yang terpendam antara ibu tiri dan anak tirinya, serta dua kakak yang diam-diam juga menginginkannya. Dan ketika pintu akhirnya terbuka lebar, desahan Ummi yang pertama kali terdengar jelas di telinga mereka semua, “Ahhh… Salman… jangan berhenti…”, hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi.

Penulis: Khansa_

Show Comments (1)
BOOKMARK
Total Reading Time: 6 hours 8 minutes
toc Table of Contents
bookmark_border Bookmark Start Reading >
×


Reset to default

X
×
×

Install this webapp for easier offline reading: tap and then Add to home screen.