Aku masih ingat benar, setahun setelah ibuku meninggal, Abi menikah lagi dengan seorang janda muda beranak dua orang. Jadi keadaannya seimbang, karena saat itu Abi pun punya anak dua orang, aku dan Yaqdhan (adikku). Perbedaannya, Abi membawa dua anak cowok, sementara ibu tiriku membawa dua anak cewek.
Waktu Abi menikah itu, usianya baru 43 tahun. Sementara ibu tiriku berusia 32 tahun. Tapi anehnya, saudara-saudara tiriku itu usianya lebih tua dariku. Pada saat Abi menikah lagi itu usiaku baru 10 tahun, sedangkan Yaqdhan baru berusia 9 tahun. Tapi saudara-saudara tiriku lebih tua dua dan tiga tahun dariku.
Belakangan aku tahu bahwa Abi menikah dengan almarhumah ibuku waktu usianya sudah 32 tahun. Kemudian aku lahir pada saat usia Abi sudah 33 tahun. Setahun kemudian Yaqdhan pun lahir.
Sedangkan ibu tiriku yang sudah kusebut Ummi itu menikah waktu usianya baru 19 tahun. Lalu waktu Ummi berusia 20 tahun lahirlah Kak Ayesha. Setahun kemudian lahir pula Kak Inayah.
Suasana di rumah kami jadi hangat setelah aku punya ibu tiri yang ternyata sangat baik itu. Beliau memperlakukan aku dan Yaqdhan seperti anak kandungnya sendiri. Begitu pun Abi, memperlakukan Kak Ayesha dan Kak Inayah seperti anak kandungnya sendiri. Sehingga orang yang belum tahu seluk beluk keluarga kami, pastilah menganggap aku dan Yaqdhan itu anak kandung Ummi.
Mungkin di antara Abi dengan Ummi dahulu sudah sepakat, bahwa mereka akan saling menitipkan anak-anak yang akan diperlakukan secara adil dan penuh kasih sayang.
Begitulah singkatnya latar belakang keluargaku.
Hari demi hari… bulan demi bulan dan tahun berganti tahun berjalan terus dengan cepatnya… kami semua hidup dalam suasana damai. Tak pernah ada keributan yang berarti, karena aku, Yaqdhan dan kedua kakak tiriku suka saling mengalah.
Tanpa terasa waktu berlalu, kami berempat sudah jadi mahasiswa-mahasiswi semua. Kak Ayesha sudah semester akhir, tinggal menunggu skripsi saja. Kak Inayah sudah semester lima, Yaqdhan baru semester pertama, sementara aku sudah semester tiga.
Rumah kami pun sudah diperbesar. Kamarnya jadi ada 4. Anak-anak Abi dan Ummi mendapat kamar masing-masing.
Sementara itu, Abi membangun pavilyun yang terpisah dari rumah utama. Di pavilyun itulah tempat Abi dan Ummi.
Mungkin Abi dan Ummi sengaja ingin menempati pavilyun itu agar tidak terasa berisik oleh suara kami berempat, yang terkadang memang mengeluarkan suara keras. Sewlain daripada itu, mungkin juga Abi ingin melatih kemandirian kami berempat dengan memberikan kebebasan menempati rumah utama.
Di rumah utama, kamar paling depan dipakai oleh Yaqdhan, agar rumah kami ada “perisai” di setiap bagian krusial. Jadi Yaqdhan ditempatkan di kamar paling depan, hitung-hitung ada penjaga keamanan di rumah kami. Di Salmanping kamar Yaqdhan adalah kamar Kak Inayah.
Aku dan Kak Ayesha ditempatkan di lantai dua. Kamarku yang paling depan, sementara kamar Kak Ayesha di bagian dalam, terhalang oleh ruang belajar.
Di ruang belajar itu aku dan Kak Ayesha sering belajar bareng. Tapi tentu saja kami menekuni jenis ilmu yang berbeda, karena kami berlainan fakultas.
Yang menyenangkan belajar dengan Kak Ayesha itu, adalah seringnya dia membuatkan minuman dan makanan ringan untukku. Minumannya terkadang teh manis atau kopi susu, terkadang black coffee saja. Makanan ringannya, terkadang bawan, pisang goreng atau french fries.
Setelah selesai belajar, kami suka ngobrol ke barat ke timur. Bahkan sering juga Kak Ayesha nonton bokep koleksiku yang selalu tersimpan di flashdisk, lalu diputar di laptopnya. Namun aku hanya berani menyimpan 1-2 film bokep di flasdisk itu, lalu didelete kalau sudah bosan menontonnya.
Tapi yang satu itu tentunya secara rahasia. Bahkan sering Kak Ayesha meminjam flashdisk berisi bokep itu, untuk ditonton di dalam kamarnya. Dengan suara yang didengarnya lewat earphone.
Bukan cuma menontonnya, Kak Ayesha juga sering mengajakku berdiskusi tentang segala yang pernah ditontonnya itu.
Bahkan pada suatu malam, setelah menonton bokep di ruang belajar, Kak Ayesha berkata,” Kata teman yang udah pengalaman sih dioral Sama cowok itu nikmat sekali.”
Aku tersenyum dan menyahut, “Iya Kak. Terutama kalau yang oralnya fokus ke clitoris. Kan clitoris itu paling peka di tubuh cewek.”
“Wow… kamu udah banyak tau ya. Emangnya udah punya pengalaman Sama cewek?” ucap Kak Ayesha Sambil menepuk bahuku.
“Pengalaman sih belum ada Kak. Cuma sering dengar ceritanya saja dari teman yang udah punya pengalaman. Juga sering baca buku pengetahuannya. Kak sendiri udah punya pengalaman?”
“Hiiiih…! Pengalaman dari mana? Pacaran aja baru satu kali waktu masih di SMA dahulu. Sampai sekqarang belum pacaran lagi.”
“Terus… Sama pacarnya diapain aja?”
“Ciuman bibir aja belum pernah. Paling cuma cipika-cipiki.”
Aku mengangguk-angguk dan percaya pada pengakuan kakak tiriku itu.
Tapi Kak Ayesha seperti sedang berpikir. Entah apa yang dipikirkannya.
Sesaat kemudian dia malah bangkit dari sofa ruang belajar. “Mau tidur duluan ah… udah malam sekali tuh, “katanya Sambil menunjuk ke jam dinding digital yang sudah menunjukkan pukul 23.05.
“Iya Kak. Sleep tight and have a nice dream,” sahutku Sambil berdiri juga.
“You too…” sahut Kak Ayesha Sambil melangkah keluar ruang belajar dan masuk ke dalam kamarnya.
Aku pun melangkah ke arah kamarku. Dan melupakan percakapan dengan Kak Ayesha tadi.
Keesokan malamnya Kak Ayesha tidak muncul di ruang belajar. Sejak jam 7 malam dia sudah masuk ke dalam kamarnya. Lalu tidak keluar lagi.
Begitu pula pada malam-malam berikutnya. Kak Ayesha tidak muncul lagi di ruang belajar. Sementara aku tetap menyibukkan diri untuk menghafal di ruang belajar. Karena fakultasku adalah fakultas yang banyak hafalannya.
Sebenarnya di lantai bawah pun ada ruang belajar yang biasa dipakai oleh Yaqdhan dan Kak Inayah. Tapi aku tak pernah nyelonong ke ruang belajar mereka. Begitu juga Yaqdhan dan Kak Inayah, tak pernah nyelonong ke ruang belajar di lantai dua.
Beberapa malam kemudian, Kak Ayesha muncul lagi di ruang belajar. Aku yang sedang duduk di belakang meja tulisku menyambutnya dengan sikap ceria, “Kak lama juga gak muncul di ruang belajar kita ini.”
“Biasa… ada langganan datang,” sahutnya Sambil tersenyum.
“Langganan? Lan99anan apa?”
“Langg4nan perempuan. Datang bulan.”
“Owh… kirain apa. Suka berapa hari datang bulannya Kak?”
“Sepuluh harian. Aku kalau datang bulan suka sakit kepala. Makanya gak mau mikir yang berat-berat.”
“Tapi sekarang sudah bersih?”
“Sejak dua hari yang lalu juga sudah bersih. Sekarang sih mau begadang Sampai pagi juga gak apa-apa.”
“Owh, iya… sekarang kan malam Minggu, ya.”
“Iya. Malam Minggu yang sepi… karena Abi, Ummi, Ita dan Yaqdhan pada ke Semarang.”
“Iya… kita berdua kebagian jaga rumah Sampai Senin pagi, ya Kak.”
Memang Abi, Ummi, Kak Inayah dan Yaqdhan pada ke Semarang. Mau menghadiri pernikahan keponakan Abi alias saudara sepupuku. Dan rumah tidak boleh ditinggalkan tanpa ada yang menunggunya. Karena itu aku dan Kak Ayesha tidak diajak ke Semarang, agar rumah tetap aman. Maklum belakangan ini sering terjadi pencurian di daerah kami.
Kak Ayesha menghampiri kursi yang sedang kududuki. Dan memegang kedua bahuku dari belakang, “Justru sekarang kita punya kesempatan baik, Salman.”
“Emangnya mau ngapain Kak? Mau nonton bokep semalam suntuk?” tanyaku tanpa menoleh ke belakang.
Lalu terdengar suara Kak Ayesha di belakang kursiku, “Salman… aku ingin tau kayak apa sih rasanya kalau punyaku dijilatin seperti dalam bokep-bokep itu… kamu mau kan melakukannya?”
Aku tersentak kaget. Permintaan kakak tiriku itu benar-benar di luar dugaan. Tak pernah terpikirkan sedikit pun kalau Kak Ayesha mau meminta sesuatu yang belum pernah kulakukan itu.
Aku pun bangkit dari kursiku. Menatap wajah kakak tiriku yang sebenarnya cantik itu. Dan baru sekarang aku memperhatikan kecantikannya. “Kak serius?” tanyaku.
Kak Ayesha memegang pergelangan tanganku. Lalu mengajak duduk di sofa ruang belajar itu.
“Serius Salman… aku penasaran… karena teman-temanku sudah pada sering merasakannya. Cuma aku sendiri yang belum pernah. Salman mau kan menghilangkan rasa penasaranku?” Kak Ayesha memegang tanganku erat-erat.
“Mau sih mau Kak. Tapi takut…”
“Takut apa?”
“Takut ketahuan Sama Abi dan Ummi… pasti mereka marah sekali nanti…”
“Ya jangan Sampai mereka tau dong. Jadikan rahasia kita berdua aja.”
Saat itu Kak Ayesha mengenakan daster katun berwarna abu-abu polos. Dan tiba-tiba saja daster itu disingkapkan Sampai perutnya. Membuatku tersentak lagi. Karena kakak tiriku itu tidak mengenakan celana dalam. Sehingga aku bisa langsung melihat kemaluannya yang… aaaah… jantungku berdebar-debar dibuatnya…
“Kak… “hanya itu yang terlontar dari mulutku. Dengan perasaan gugup tak menentu.
“Ayo jilatin, Salman. Please… “pinta Kak Ayesha dengan nada memohon.
“Tapi Kak… menurut buku yang pernah kupelajari, tidak boleh langsung menyentuh kemaluan. Harus ciuman dulu… harus mainkan toket dulu dan sebagainya.”
“Ya udah… ikuti aja petunjuk yang pernah kamu pelajari itu.”
“Di sini?”
“Menurutmu harus di mana? Di sini atau di kamarku atau di kamarmu?”
“Biar akunya pede, di kamarku aja Kak.”
“Ayo, “Kak Ayesha bangkit dari sofa, lalu melangkah duluan ke dalam kamarku.
Setelah berada di dalam kamar, kututup dan kukuncikan pintu kamarku, lalu menghampiri kakak tiriku yang sudah duluan duduk di pinggiran tempat tidurku.
“Mau Sambil nonton bokep sebagai penuntun kita?” tanyaku Sambil membuka lipatan laptopku dan meletakkannya di atas tempat tidurku, menyandar ke dinding.
“Iya… itu penting Salman. Biar jangan ngawur,” sahutnya.
Aku tercenung sejenak. Mengingat-ingat video yang berisi oral sex sebagai foreplay. Lalu kuambil flashdisk silver dan kupasangkan di laptop yang sudah kuaktifkan. Sesaat kemudian layar laptopku mulai menayangkan adegan sepasang orang Arab yang bersetubuh. Keduanya sudah telanjang bulat di kebun apel.
“Wah… langsung pada telanjang gitu ya. Berarti kita juga harus telanjang seperti mereka?” tanya Kak Ayesha Sambil menelungkup dengan wajah menghadap ke arah layar laptopku.
“Mungkin memang harus begitu Kak,” sahutku.
“Kamu juga harus telanjang dong,” ucap Kak Ayesha Sambil menepuk punggungku.
“Aku sih gak usah telanjang. Kan Kak cuma ingin dioral. Bukan mau bersetubuh. Jadi aku hanya akan menggunakan tangan dan mulut… jadi gak usah telanjang kan?”
“Nggak fair dong ah. Seperti di film itu kan Sama-Sama telanjang.”
“Mereka nantinya bersetubuh Kak. Wajar aja kalau Sama-Sama telanjang.”
“Pokoknya kamu harus telanjang juga ah. Biar aku gak risih telanjang sendirian,” ucap Kak Ayesha Sambil menurunkan celana trainingku Sampai terlepas dari kakiku. Baju kausku pun ditanggalkannya, sehingga aku tinggal mengenakan celana dalam saja. Pada saat itulah Kak Ayesha melepaskan dasternya, sehingga langsung jadi telanjang bulat.
Aku tertegun. Memperhatikan sekujur tubuh kakak tiriku dari ujung kaki Sampai ke ujung rambutnya. Tubuh yang tinggi montok, dengan sepasang pUkhti Ayeshadara yang gede dan bokong yang semok pula. Sementara kulitnya yang putih bersih, begitu mulusnya, tak terlihat noda setitik pun.
Memang sangat berbeda kalau kubandingkan dengan Kak Inayah. Kalau Kak Ayesha berperawakan tinggi montok, Kak Inayah tergolong tinggi seUmipai.
“Aku sudah boleh menyentuh bagian-bagian penting di tubuh Kak?” tanyaku ragu.
“Iya… anggap aja aku ini cewek di dalam film itu. Dan kamu cowoknya. Jangan canggung-canggung,” sahut Kak Ayesha Sambil merebahkan diri kembali di atas tempat tidurku.
“Padahal kita ini saudara, ya Kak.”
“Saudara lain ayah beda ibu. Hihihiiii… kita kan sebenarnya cuma terbawa oleh Abimu dan Ummiku. Kamu ini jadi adikku. Padahal kita tidak ada hubungan darah. Ayolah… jangan buang-buang waktu Salman.”
Aku melirik ke layar laptopku. Si cowok tampak sedang mengemut pentil toket ceweknya, sementara tangan si cowok sedang menggerayangi kemaluan si cewek.
Dengan jantung berdebar-debar aku pun bermaksud untuk mengikuti adegan di layar laptopku. Merayap ke atas tubuh telanjang kakak tiriku, Dan langsung memagut pentil toket Kak Ayesha, sementara tanganku mulai mengusap-usap kemaluannya yang bersih dari rambut.
Tapi sebelum kumulai mengemut pentil toketnya, Kak Ayesha berkata setengah berbisik, “Cium bibirku dulu Salman…”
Kuikuti keinginannya. Kupagut bibir Kak Ayesha, yang diSalmanbut dengan juluran lidahnya. Kusedot-sedot lidah kakak tiriku itu. Lalu kami saling lumat dengan gairah yang makin lama makin menghangat.
Tadinya aku ingin melakukan seperti yang ditayangkan di layar laptopku, menggerayangi kemaluan Kak Ayesha Sambil mengemut pentil toketnya. Tapi adegan di layar laptopku sudah bergerak lebih jauh. Wajah si cowok sudah berada di depan kemaluan ceweknya. Lalu mulai mengoral cewek itu.
Menyaksikan adegan itu aku pun berubah pikiran.
Wajahku melorot turun ke perut Kak Ayesha. Menjilati pusar perutnya sesaat. Lalu turun lagi, sehingga wajahku langsung berhadapan dengan kemaluan kakak tiriku.
Aku terlongong sesaat di depan kemaluan yang sangat bersih dari rambut itu. Bentuknya tembem pula. Jujur… kalau memperturutkan nafsu, ingin saja kujebloskan batang kemaluanku ke dalam celah yang sedang kungangakan ini. Namun aku mati-matian mengontrol diriku sendiri, agar jangan Sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kak Ayesha sendiri tampak ingin mengikuti adegan di layar laptopku. Kedua tangannya menarik sepasang pahanya ke atas dan dikangkangkan selebar mungkin. Sementara ujung lidahku sudah mendarat di permukaan kemaluannya yang sedang kungangakan dengan kedua tanganku ini.
Lidahku pun mulai beraksi. Menjilati bagian yang berwarna pink dan mengkilap basah itu. Kak Ayesha pun mulai menahan-nahan nafasnya. Entah apa yang sedang dirasakannya. Sementara rintihan-rintihan nya mulai terdengar, meski cuma perlahan sekali. “Iya Saalmaanh… iyaaa… ooooh… ini enak sekali Saalmaanh…
Namun aku pun sebenarnya sudah mulai sulit mengatur nafasku sendiri. Karena semua yang kuhadapi ini benar-benar membangkitkan gejolak nafsu birahiku.
Meski begitu, aku masih tetap berusaha mengontrol diriku sendiri. Menjaga agar jangan Sampai terjadi sesuatu yang melampaui batas. Meski membuatku tersiksa.
Dan aku semakin giat menjilati kemaluan Kak Ayesha. Bahkan setelah kutemukan clitorisnya, aku pun memusatkan jilatanku ke arah kelentit itu. Sementara kedua tanganku terjulur ke arah dada kakak tiriku. Dan mulai meremas sepasang toketnya dengan lembut.
Terasa paha Kak Ayesha mulai mengejang-ngejang. Sementara rintihan-rintihannya mulai terdengar meski seperti ditahan, mungkin agar jangan terlalu keras. “Saalmaan… ooooh… ini lebih enak lagi Saalmaanh… iyaaaa. jilatin terus kelentitnya Saalmaanh… dudududuuuuh… enak sekali Saalmaanh…”
Kak Ayesha merintih terus Sambil berkelojotan. Kedua tangannya terkadang meremas-remas kain seprai, terkadang mencengkram sepasang bahuku dan terkadang juga meremas-remas rambutku Sampai kusut masai.
Makin lama, raungan histeris Kak Ayesha makin tidak terkendalikan lagi. Seandainya Abi, Ummi dan saudara-saudaraku sedang berada di rumah, pastilah akan heboh mendengar suara rintihan Kak Ayesha yang makin lama makin keras ini.
“Iyaaaa Saalmaan… ini enak sekali Saalmaanh… jilatin terus itilnya Saalmaan… iyaaaaaa… iyaaaa… ooooooh Saalmaan… ini luar biasa enaknya Saalmaanh…”
Kak Ayesha semakin histeris, sementara aku pun semakin sulit mengendal9ikan diri. Karena membayangkan betapa nikmatnya kalau kontolku dimasukkan ke dalam kemaluan kakak tiriku yang sudah basah sekali ini.
Namun aku tetap mati-matian mempertahankan nafsuku sendiri. Jangan Sampai melakukan sesuatu yang kusesali di kemudian hari.
Setelah belasan menit aku menjilati kemaluan kakak tiriku, akhirnya dia berkelojotan dengan nafas tak beraturan. Lalu ia mengejang Sambil menahan nafasnya… perutnya pun terangkat dan terdengar rintihannya, “Oooooh… Saalmaanh… ini… ini seperti ada yang mau keluar… ooooh… Saaaaaaam…”
Aku pun merasakan sesuatu yang lain. Kemaluan Kak Ayesha terasa berkedut-kedut. Mungkin ia sedang menikmati orgasmenya.
Dugaanku tidak meleset. Sesaat kemudian Kak Ayesha mendorong kepalaku Sambil berkata, “Jauhkan dulu mulutmu dari memekku Salman… ooooh…”
Kuikuti permintaannya itu. Kujauhkan mulutku dari kemaluan kakak tiriku. Lalu duduk bersila di Salmanping tubuh telanjang yang sangat menggiurkan itu.
Kak Ayesha yang masih celentang itu menatapku dengan senyumnya yang tampak begitu manis di mataku.
“Mbaaak sudah orgasme ya?” ucapku Sambil mengelus-elus perut Kak Ayesha yang terasa lembab oleh keringat.
Mba Ukhti Ayesha bangkit, duduk di Salmanpingku Sambil menyahut, “Kayaknya sih iya… barusan terasa seperti melayang-layang… lalu ada sesuatu yang mengalir di dalam kemaluanku. Nikmat sekali… teUkhti Rania kasih Salman…”
Ucapan Kak Ayesha itu dilanjutkan dengan kecupan hangatnya di bibirku. Dalam suasana batin yang sudah berubah.
Ya, dalam keadaan seperti ini aku memandang Kak Ayesha tak sekadar kakak tiri yang harus kuanggap seperti kakak kandungku belaka. Aku pun memandang Kak Ayesha sebagai cewek yang menggiurkan, karena tubuh tinggi montoknya begitu mulus dan hangat. Wajahnya pun cantik, sehingga bodohlah aku ini kalau melepaskan kesempatan ini begitu saja.
Karena itu, ketika Kak Ayesha mengecup bibirku, langsung kuSalmanbut dengan lumatan hangat, Sambil mendekap pinggangnya yang masih telanjang bulat. Dan Kak Ayesha pun terasa menyambut lumatanku. Lengannya melingkar di leherku, lalu balas melumat bibirku, tak ubahnya membalas lumatan kekasih tercintanya.
Setelah ciuman kami terlepas, Kak Ayesha menatapku Sambil menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku. “Salman… kamu sudah memuasi diriku… tapi Salman sendiri belum mendapatkan apa-apa ya?”
“Nggak apa-apa Kak. Yang penting Kak sudah puas. Kalau aku sih gampang… dikocok juga nanti ngecrot,” sahutku.
“Kuemut aja ya. Mau?”
“Kalau Kaknya mau sih silakan aja.”
“Mau, “Kak Ayesha mengangguk Sambil tersenyum, “hitung-hitung belajar aja. Tapi putar dulu bokep yang ada adegan ngemut penis.”
Dengan mudah kuputar bokep yang sesuai dengan permintaan Kak Ayesha. Bokep yang menonjolkan felatio (ngemut penis). Kebetulan ada bokep yang dimintanya itu.
Adegan di bokep itu awalnya gantian saling oral, kemudian berlanjut ke adegan posisi 69.
“Nah itu adegan enamsembilan Kak,” kataku setelah layar laptopku menayangkan adegan 69. ceweknya di atas cowoknya di bawah dalam posisi sungsang.
“Heee… boleh juga tuh… kita ikutin posisi itu ya, “ajak kakak tiriku Sambil mengguncang pergelangan tanganku.
Aku pun menyetujui ajakan Kak Ayesha. Lalu melepaskan celana dalamku Sambil menelentang di dekat laptopku. Sengaja kuambil posisi sedemikian rupa, agar Kak Ayesha tetap bisa memandang ke arah layar laptopku pada waktunya nanti.
Setelah aku menelentang dengan penis yang sudah sangat tegang ini, Kak Ayesha menelungkup di atasku dalam posisi terbalik. Wajahnya berada di atas penisku, sementara kemaluannya berada di atas wajahku.
Lagi-lagi aku menyaksikan suatu pemandangan yang sangat indah dan menggiurkan. Menyaksikan sebentuk kemaluan yang tembem dan agak menganga, karena sudah mencapai orgasmenya tadi. Dan kini aku akan menjilatinya kembali, sementara Kak Ayesha akan mengoral penisku.
Ya… ia mulai menjilati leher dan puncak penisku, seperti yang sedang ditayangkan di layar laptopku. Lalu ia mengulum penisku yang sedang dipegangnya, lalu air liurnya terasa mengalir ke badan penisku.
Aku tidak memberi pengarahan tentang bagaimana cara mengoral penis yang baik. Biarlah dia mengerti sendiri dengan mengikuti adegan-adegan di layar laptopku. Lagian aku sendiri mulai sibuk menjilati kemaluannya yang sudah bertempelan dengan mulutku.
Jujur, aku sendiri baru pertama ini merasakan dioral oleh perempuan. Karena itu ketika Kak Ayesha makin agresif mengemuti dan mengurut-urut penisku, melayang-layang juga batinku dibuatnya. Dalam nikmat yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Ketika aku sedang asyik menjilati kemaluan Kak Ayesha, terkadang aku sendiri mengejang-ngejang karena permainan oral kakak tiriku itu menyentuh bagian sensitif di penisku, yang membuatku harus menahan nafas saking enaknya.
Kak Ayesha juga Sama. Ketika sedang asyik mengemuti dan mengurut-urut penisku, terkadang ia pun mengejang-ngejang, terutama pada waktu aku menjilati kelentitnya.
Begitulah yang terjadi. Kami saling mengoral, tapi terkadang diam dan mengejang, karena merasakan nikmatnya dioral.
Lebih dari setengah jam kami melakukannya, Sampai akhirnya penisku berejakulasi, sementara Kak Ayesha sudah duluan mencapai orgasme lagi untuk yang kedua kalinya.
“Aduuuuh… luar biasaaa…” ucap Kak Ayesha Sambil menelentang di Salmanpingku.
“Apanya yang luar biasa Kak?”
“Luar biasa enaknya…” sahut Kak Ayesha Sambil memiringkan tubuhnya ke arahku. Dan mengelus dadaku yang masih keringatan, “Kalau penismu dimasukkan ke dalam memekku, mungkin lebih enak lagi, ya Salman.”
“Jangan mikir ke sana Kak. Kita cari yang aman-aman aja. Kalau benar-benar bersetubuh kan ada resikonya. Pertama, virginitas Kak hilang. Kedua, Kak bisa hamil.”
“Aku rela kalau kamu yang ambil perawanku,” kata Kak Ayesha Sambil memegangi penisku yang sudah lemas, “Soal hamil kan bisa dicegah. Besok aku beli pil kontrasepsi ya.”
“Besok kan Minggu Kak. Apotek tutup semua.”
“Oh iya ya. Senin aja beli pil kontrasepsinya.”
“Senin pagi Abi, Ummi, Yaqdhan dan Kak Nita udah pada pulang.”
“Iya ya… “Kak Ayesha tampak seperti sedang berpikir.
“Santai aja Kak… jangan terburu nafsu. Apa pun yang Kak inginkan, akan kulakukan. Tapi jangan terburu-buru gitu. Kita cari dulu waktunya yang ngepas.”
“Janji ya… kamu bakal mau menyetubuhiku nanti…”
“Iya, iya… asalkan Kak bisa merahasiakannya dan jangan menyesal di kemudian hari.”
Kak Ayesha tersenyum manis. Mengecup pipiku, lalu berbisik, “Aku akan merahasiakannya. Dan takkan menyesal di kemudian hari.”
Dan malam semakin larut…
Senin pagi Ummi, Kak Inayah dan Yaqdhan pada pulang dari Semarang. Tapi Abi tak pulang berSama mereka. Kata Ummi, Abi masih akan berada di Semarang, karena ada urusan keluarga besar yang harus diurusnya.
Sorenya, baru saja aku pulang kuliah, Ummi minta diantarkan ke mall. Banyak yang mau dibeli, katanya.
Memang Ummi sering mengandalkanku nyetirin mobilnya, meski dia bisa nyetir sendiri. Bahkan Abi juga terkadang suka minta disetirin olehku.
“Kalau gitu aku mau mandi dulu, ya Umi,” kataku minta izin kepada ibu tiriku.
“Iya mandi dulu deh. Makan malam sih nanti aja di mall, Sambil temenin Ummi makan.”
“Siap Umi,” sahutku, lalu bnergegas masuk ke dalam kamarku. Dan masuk ke dalam kamar mandi pribadiku.
Setelah mandi, kukenakan celana jeans dan baju kaus berwarna biru tua. Lalu mengambil kunci mobil Ummi yang tergantung di atas lemari kecil ruang keluarga.
Mesin mobil Ummi kupanaskan beberapa menit, kemudian kukeluarkan dari garasi.
Bersambung...
ns216.73.216.62da2


