POV Ukhti Nalia.
Bukan karena ia yang paling cantik meskipun banyak yang bilang begitu. Bukan karena ia yang paling cerdas meskipun nilai-nilainya selalu bagus. Aku memilih Nalia karena ia adalah contoh sempurna dari sesuatu yang tidak pernah bisa kujelaskan dengan mudah: bagaimana seseorang bisa tumbuh menjadi dua orang sekaligus.
Ketika Nalia pertama kali masuk ke Pondok Sunan Kuning, ia berusia dua puluh dua tahun. Ia baru saja pindah dari rumah bibinya di Bandung, tempat ia tinggal setelah kedua orang tuanya bercerai. Bibinya, Umi Purwanti, adalah perempuan yang baik hati tetapi sibuk. Ia punya butik busana muslimah yang berkembang pesat, dan ia menganggap Nalia sebagai anak sendiri. Tapi kesibukan Umi Purwanti membuat Nalia sering sendirian. Dan kesendirian, seperti yang kemudian ia sadari, adalah tempat paling subur untuk benih-benih yang tidak diinginkan.
Nalia datang ke Pondok Sunan Kuning dengan niat yang sederhana: ia ingin mendalami ilmu agama, memperbaiki diri, dan mungkin suatu hari menjadi ustazah yang dihormati. Ia sudah terbiasa mengenakan kerudung lebar sejak SMA. Ia sudah terbiasa membaca Al-Qur'an setiap pagi. Ia sudah terbiasa menundukkan kepala saat berpapasan dengan laki-laki. Di mata orang, ia adalah ukhti teladan. Di mata dirinya sendiri, ia adalah seseorang yang terus berjuang untuk menjadi lebih baik.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Sejak usia remaja, Nalia menyadari bahwa tubuhnya bereaksi terhadap hal-hal yang seharusnya tidak ia rasakan. Bukan karena ia pernah melakukan sesuatu yang terlarang. Bukan karena ia pernah menyentuh seseorang. Bukan karena ia pernah menonton sesuatu yang tidak seharusnya. Tidak. Reaksi itu muncul begitu saja, seperti cuaca yang berubah tanpa bisa diprediksi.
Kadang, saat ia sedang duduk di kamarnya, membaca buku tentang fiqih atau akhlak, ia akan merasakan kehangatan yang menjalar dari perutnya ke seluruh tubuh. Kadang, saat ia sedang melipat mukena atau menggantung gamisnya di kapstok, ia akan merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Kadang, saat ia sedang berwudhu dan air mengalir di kulitnya, ia akan merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan seperti ada bagian dari dirinya yang ingin keluar, ingin bergerak, ingin merasakan sesuatu yang tidak pernah ia alami.
Nalia tidak tahu apa itu. Atau lebih tepatnya, ia tahu, tetapi ia tidak mau mengakuinya.
Di pondok, tidak ada yang membicarakan hal-hal seperti itu. Tidak ada kajian tentang hasrat. Tidak ada ceramah tentang gairah. Yang ada hanyalah peringatan tentang dosa, tentang neraka, tentang pentingnya menjaga diri. Para ustazah berbicara tentang bagaimana seorang ukhti harus menundukkan pandangan, bagaimana seorang ukhti harus menjaga aurat, bagaimana seorang ukhti harus menghindari godaan setan. Tapi tidak ada yang menjelaskan apa yang harus dilakukan ketika godaan itu datang dari dalam diri sendiri.
Nalia belajar untuk tidak bertanya.
Ia belajar untuk menekan rasa penasarannya. Ia belajar untuk mengalihkan pikirannya setiap kali tubuhnya mulai terasa aneh. Ia belajar untuk membaca lebih banyak, beribadah lebih rajin, dan berharap bahwa dengan begitu, perasaan-perasaan itu akan hilang.
Tapi perasaan itu tidak hilang. Ia hanya bersembunyi.
Kamarnya di Pondok Sunan Kuning adalah kamar nomor lima, di lantai bawah. Ukurannya tidak besar, tetapi cukup untuk satu orang. Ada dipan, meja belajar, lemari pakaian, dan rak buku yang ia isi dengan berbagai kitab dan novel islami. Di dinding, ia menempelkan kaligrafi dan jadwal kegiatan pondok. Di pintu, ia menempelkan stiker bertuliskan "Masuk ucapkanlah salam."
Nalia mencintai kamarnya. Ia mencintai bagaimana kamar itu menjadi ruang pribadinya, tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura. Di dalam kamar itu, ia bisa melepas kerudungnya, membiarkan rambutnya tergerai, dan berbaring di dipan tanpa harus memikirkan siapa yang melihat.
Tapi kamar itu juga menjadi tempat ia berhadapan dengan hal-hal yang tidak ingin ia hadapi.
Malam-malam di pondok sunyi. Setelah jam sembilan, kegiatan pondok berakhir. Para ukhti kembali ke kamar masing-masing. Suara langkah kaki menghilang. Lampu-lampu dimatikan satu per satu. Yang tersisa hanyalah suara jangkrik, suara angin, dan suara hati yang kadang terlalu berisik untuk diabaikan.
Di malam-malam seperti itu, Nalia sering berbaring di dipannya, menatap langit-langit, dan membiarkan pikirannya berjalan ke mana-mana. Ia memikirkan masa depannya. Ia memikirkan apakah ia akan menikah. Ia memikirkan bagaimana rasanya dicintai. Ia memikirkan bagaimana rasanya disentuh.
Pikiran terakhir itu selalu membuatnya merasa bersalah. Ia akan segera memalingkan wajahnya ke arah dinding, memejamkan mata, dan berdoa agar Allah mengampuninya. Tapi doa itu tidak selalu berhasil. Kadang, sebelum ia tertidur, ia akan merasakan tangannya bergerak sendiri menyentuh perutnya, menyentuh pinggangnya, menyentuh pahanya. Ia akan menarik tangannya kembali dengan cepat, jantungnya berdebar kencang, dan ia akan merasa malu pada dirinya sendiri.
Nalia tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun. Tidak kepada Umi Purwanti. Tidak kepada Ustazah Sakinah. Tidak kepada Ustazah Raudah. Tidak kepada siapa pun.
Ia merasa bahwa jika ia mengatakannya, orang akan menganggapnya kotor. Orang akan menganggapnya tidak layak menjadi ustazah. Orang akan menganggapnya munafik.
Jadi ia menyimpannya. Ia menyimpannya jauh di dalam dirinya, di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun. Ia menyimpannya seperti seseorang menyimpan barang bukti dengan rasa takut bahwa suatu hari, barang itu akan ditemukan.
Suatu sore, Nalia sedang duduk di kamarnya, mengetik artikel untuk diposting ke blog pondok. Tema artikel itu adalah tentang pentingnya menjaga pandangan. Ia menulis dengan lancar, mengutip ayat-ayat Al-Qur'an, mengutip hadis-hadis Nabi, dan memberikan contoh-contoh praktis tentang bagaimana seorang ukhti harus bersikap di era digital.
Saat ia sedang asyik menulis, ia mendengar ketukan di pintu.
"Assalamualaikum."
Nalia mengenali suara itu. Ustazah Raudah.
"Waalaikumsalam. Masuk, ukhti."
Pintu terbuka, dan Ustazah Raudah masuk dengan senyum di wajahnya. Ia membawa sepiring kue dan dua gelas teh. "Ana bawa camilan, ukhti. Kita ngobrol-ngobrol sebentar, ya."
Nalia tersenyum. Ia menutup laptopnya dan mempersilahkan Ustazah Raudah duduk di dipan. Mereka berbicara tentang banyak hal tentang artikel yang sedang Nalia tulis, tentang kegiatan pondok, tentang ukhti-ukhti baru yang baru saja masuk. Ustazah Raudah adalah pendengar yang baik. Ia tidak pernah menghakimi. Ia tidak pernah menceramahi. Ia hanya duduk di sana, mendengarkan, dan sesekali tertawa.
Di tengah obrolan, Ustazah Raudah menyebut sesuatu yang membuat Nalia terkejut.
"Ukhti, ana dengar ada ukhti baru yang hamil di luar nikah. Kasihan sekali. Dia sekarang dikeluarkan dari pondok dan dikembalikan ke orang tuanya."
Nalia terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Ia merasa kasihan pada ukhti itu, tetapi ia juga merasa takut. Takut karena ia tahu bahwa hal seperti itu bisa terjadi pada siapa saja. Takut karena ia tahu bahwa di dalam dirinya, ada sesuatu yang bisa membawanya ke jalan yang sama.
Ustazah Raudah melanjutkan. "Makanya, kita harus hati-hati. Jangan sampai kita terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan. Kita harus menjaga diri kita, menjaga hati kita, menjaga pikiran kita."
Nalia mengangguk. Ia setuju. Tapi di dalam hatinya, ia bertanya-tanya: bagaimana caranya menjaga sesuatu yang bahkan tidak ia mengerti? Bagaimana caranya menjaga sesuatu yang terus bergerak, terus berdenyut, terus menuntut untuk diakui?
Malam itu, setelah Ustazah Raudah pulang ke kamarnya, Nalia duduk di depan laptopnya. Ia mencoba melanjutkan artikelnya, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana. Ia memikirkan ukhti yang hamil di luar nikah itu. Ia memikirkan bagaimana rasanya berada di posisi itu dikeluarkan dari pondok, dikembalikan ke keluarga, dan mungkin tidak akan pernah diterima lagi oleh masyarakat.
Nalia merasa takut. Ia merasa bahwa ia sedang berjalan di atas tali yang sangat tipis. Di satu sisi, ada citra yang harus ia jaga. Di sisi lain, ada sesuatu di dalam dirinya yang terus mendorongnya ke arah yang berlawanan.
Ia menutup laptopnya dan berbaring di dipannya. Ia menatap langit-langit kamarnya, membiarkan pikirannya berjalan tanpa arah. Ia memikirkan bagaimana rasanya dicintai. Ia memikirkan bagaimana rasanya disentuh oleh seseorang yang benar-benar menginginkannya. Ia memikirkan bagaimana rasanya menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura.
Pikiran-pikiran itu membuatnya merasa hangat. Terlalu hangat. Ia merasakan tubuhnya mulai bereaksi. Ia merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Ia merasakan tangannya ingin bergerak.
Nalia menahan tangannya. Ia memejamkan matanya. Ia mencoba mengalihkan pikirannya ke hal-hal yang lebih netral tentang tugas-tugasnya, tentang jadwal kajian, tentang artikel yang harus ia selesaikan.
Tapi pikirannya tidak mau bekerja sama. Ia terus kembali ke tempat yang sama. Ia terus kembali ke rasa penasaran yang tidak pernah ia berani jelajahi.
Nalia membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamarnya untuk waktu yang lama. Ia merasa sendirian. Ia merasa bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar memahaminya. Ia merasa bahwa ia harus menanggung semua ini sendiri tanpa bantuan, tanpa dukungan, tanpa siapa pun yang bisa diajak bicara.
Ia ingin menangis. Tapi ia menahan diri. Ia sudah terlalu sering menangis untuk hal ini. Ia sudah terlalu sering merasa bersalah karena sesuatu yang bahkan tidak ia lakukan.
Beberapa minggu kemudian, Nalia mulai menyadari sesuatu.
Ia mulai menyadari bahwa ia bukan satu-satunya orang yang merasa seperti ini.
Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil. Ia memperhatikan bagaimana beberapa ukhti di pondok kadang-kadang menatapnya terlalu lama. Ia memperhatikan bagaimana beberapa ukhti kadang-kadang menyentuhnya dengan cara yang tidak perlu. Ia memperhatikan bagaimana beberapa ukhti kadang-kadang membuat lelucon yang membuatnya merasa tidak nyaman tetapi juga membuatnya merasa tertarik.
Nalia tidak tahu apa arti semua itu. Ia tidak tahu apakah ia hanya berhalusinasi. Ia tidak tahu apakah ia hanya mencari-cari alasan untuk membenarkan perasaan-perasaannya sendiri.
Tapi ia mulai berpikir: jika ada orang lain yang merasa seperti dirinya, apakah itu berarti ia tidak sendirian? Jika ada orang lain yang menyimpan rahasia yang sama, apakah itu berarti ia bukan monster?
Pikiran itu, meskipun tidak sepenuhnya melegakan, memberinya sedikit rasa tenang.
Suatu malam, Nalia terbangun dari tidurnya karena mendengar suara aneh. Ia membuka matanya perlahan, mencoba mengenali sumber suara itu. Suara itu datang dari luar kamarnya dari lorong, atau mungkin dari kamar lain.
Nalia bangkit dari dipannya dan melangkah ke pintu. Ia membuka pintu sedikit, dan mengintip ke luar. Lorong pondok gelap, hanya diterangi oleh lampu darurat yang redup. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Tapi suara itu masih terdengar. Suara itu seperti desahan. Desahan yang tertahan. Desahan yang datang dari kamar yang tidak jauh dari kamarnya.
Nalia merasa penasaran. Ia tahu bahwa ia seharusnya tidak mencampuri urusan orang lain. Ia tahu bahwa ia seharusnya kembali ke kamarnya dan tidur. Tapi kakinya bergerak sendiri. Ia melangkah pelan-pelan menyusuri lorong, mengikuti suara itu.
Suara itu berasal dari kamar nomor delapan. Kamar Ustazah Raudah.
Nalia mendekat. Ia menempelkan telinganya ke pintu. Suara itu semakin jelas sekarang. Itu memang suara desahan. Desahan yang bercampur dengan suara lain suara yang mirip dengan air, atau kain yang bergesekan.
Nalia merasa jantungnya berdebar kencang. Ia tahu bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang salah. Ia tahu bahwa ia seharusnya pergi. Tapi ia tidak bisa. Ia terlalu penasaran.
Ia mendengarkan untuk waktu yang lama. Ia mendengarkan sampai suara itu berhenti. Ia mendengarkan sampai kamar itu kembali sunyi. Ia mendengarkan sampai ia merasakan tubuhnya sendiri bereaksi merasakan kehangatan yang menjalar, merasakan jantungnya yang berdebar, merasakan tangannya yang ingin bergerak.
Setelah itu, Nalia kembali ke kamarnya. Ia menutup pintu. Ia mengunci pintu. Ia berbaring di dipannya. Dan ia menangis.
Ia menangis bukan karena apa yang ia dengar. Ia menangis karena apa yang ia rasakan. Ia menangis karena ia menyadari bahwa ia bukan orang yang ia pikirkan dirinya. Ia menangis karena ia merasa bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak bisa ia kendalikan sesuatu yang mungkin akan membawanya ke tempat yang tidak ia inginkan.
Malam itu, Nalia tidak tidur.
Ia berbaring di dipannya, menatap langit-langit, dan memikirkan tentang dirinya sendiri. Ia memikirkan tentang siapa ia sebenarnya. Ia memikirkan tentang apa yang ia inginkan. Ia memikirkan tentang apa yang akan ia lakukan dengan semua perasaan yang tidak pernah ia minta.
Nalia tidak tahu jawabannya. Ia tidak tahu apakah ia akan bisa menjaga dirinya. Ia tidak tahu apakah ia akan bisa terus berpura-pura. Ia tidak tahu apakah ia akan bisa menjadi ukhti yang selalu ia tampilkan di depan orang.
Yang ia tahu hanyalah bahwa ia harus terus berjalan. Ia harus terus berpura-pura. Ia harus terus menjadi Nalia yang alim, yang menundukkan kepala, yang berkerudung lebar, yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Karena jika ia berhenti, ia takut ia akan jatuh.
Dan jika ia jatuh, ia takut tidak ada yang bisa menolongnya.
Aku memilih Nalia sebagai subjek chapter pertama karena ia adalah contoh sempurna dari sesuatu yang sulit dijelaskan: bagaimana seseorang bisa menjadi dua orang sekaligus. Ia adalah ukhti yang alim di mata orang, tetapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang terus bergerak. Ia adalah seseorang yang mencoba untuk menjadi baik, tetapi ia juga seseorang yang tidak bisa menghindari dirinya sendiri.
Nalia bukanlah orang jahat. Ia bukanlah orang munafik. Ia hanyalah manusia manusia yang tumbuh di lingkungan yang tidak pernah mengajarinya bagaimana menghadapi perasaannya sendiri. Ia hanyalah manusia yang mencoba untuk bertahan, meskipun ia tidak selalu tahu bagaimana caranya.
Aku tidak menulis ini untuk membenarkan apa yang akan ia lakukan nanti. Aku menulis ini untuk menjelaskan dari mana ia berasal. Aku menulis ini untuk menunjukkan bahwa tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi gelap. Selalu ada proses. Selalu ada langkah-langkah kecil yang membawa seseorang ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan.
Nalia belum mengenal dunia perlendiran. Ia belum tahu apa yang menantinya. Ia belum tahu bahwa perasaan-perasaan yang ia tekan akan suatu hari menemukan jalan keluarnya dan bahwa jalan keluar itu tidak selalu indah.
Sekarang, ia masih polos. Ia masih mencoba. Ia masih berharap.
Tapi cerita ini tidak tentang harapan. Cerita ini tentang apa yang terjadi ketika harapan itu gagal.
Bersambung...
219Please respect copyright.PENANAFJVwrQ3hyu


