Aku selalu tertarik pada tempat-tempat yang tampak terlalu rapi.
Pondok Sunan Kuning adalah tempat seperti itu. Dari luar, ia terlihat seperti potongan gambar yang sengaja dipoles: pagar kokoh, gang sempit dengan plang hijau, bangunan dua lantai yang tidak megah tetapi lumayan besar, dan perempuan-perempuan berkerudung lebar yang melintas dengan mata tertunduk. Jika kau tidak tahu apa-apa, kau akan mengira tempat itu adalah benteng terakhir dari kesalehan. Tempat di mana dunia luar yang bising dan penuh dosa dihentikan di depan gerbang.
Aku dulu berpikir begitu.
Sekarang, setelah bertahun-tahun mendengar bisik-bisik dari balik dinding, setelah membaca pesan-pesan yang tidak seharusnya kubaca, setelah melihat bagaimana manusia bisa memakai kain panjang dan bahasa agama untuk menutupi hal-hal yang paling gelap, aku tahu bahwa tidak ada tempat yang benar-benar suci. Yang ada hanyalah orang-orang yang pandai menjaga pintu, menutup jendela, dan memastikan tidak ada saksi.
Pondok Sunan Kuning bukan sekadar bangunan. Ia adalah panggung.
Di panggung itu, setiap orang memainkan peran. Ada yang berperan sebagai ibu yang bijak. Ada yang berperan sebagai ustazah alim yang suaranya lembut saat mengaji. Ada yang berperan sebagai ukhti pendiam yang tak pernah keluar malam. Ada pula yang berperan sebagai laki-laki saleh, suami teladan, atau aktivis partai yang selalu bicara tentang moral.
Tapi di balik layar, naskahnya berbeda.
Aku tidak akan berpura-pura bahwa aku menulis ini untuk menghakimi. Tidak. Aku menulis ini karena aku terpesona pada kontradiksi. Aku terpesona pada cara manusia menciptakan aturan, lalu diam-diam melanggarnya. Aku terpesona pada cara kerudung lebar bisa menjadi tirai, gamis kombor bisa menjadi kamuflase, dan mukena bisa menjadi pakaian paling intim di antara semua pakaian.
Di Pondok Sunan Kuning, ada aturan yang katanya dibuat untuk menjaga. Kerudung harus lebar. Gamis harus longgar. Jam malam harus dipatuhi. Kajian harus diikuti. Artikel keislaman harus ditulis setiap hari. Semua terdengar seperti cara untuk membentuk perempuan-perempuan saleh. Tapi aturan-aturan itu juga menciptakan ruang yang aneh: semakin tertutup seseorang, semakin besar rasa penasaran orang lain. Semakin suci penampilannya, semakin menarik bayangan tentang apa yang disembunyikannya.
Itulah bahan bakar cerita ini.
Ustazah Sakinah, misalnya. Perempuan empat puluh lima tahun dengan kacamata berbingkai hitam kemerahan. Wajahnya lembut. Suaranya tenang. Ia adalah pimpinan tertinggi pondok, kader aktif partai, dan sosok yang dianggap teladan. Banyak ukhti memandangnya seperti ibu. Mereka percaya bahwa apa pun yang dikatakan Ustazah Sakinah adalah benar. Mereka tidak tahu bahwa di balik ketenangannya, ada pergulatan yang tidak pernah ia bagi kepada siapa pun.
Lalu ada Ustazah Nalia. Muda, cerdas, mungil, dengan bibir yang membuat orang mudah salah paham. Ia adalah editor artikel keislaman, admin media sosial pondok, dan ustazah yang pandai berbicara tentang gender. Dalam kesehariannya, ia mengenakan kerudung lebar dan gamis longgar. Tapi ia juga manusia yang tumbuh dari keluarga yang terlalu mengekang. Di dalam dirinya ada dua hal yang terus bertarung: citra kesalehan dan rasa lapar yang tidak pernah benar-benar hilang.
Ada Ustazah Raudah. Sahabat dekat Nalia. Perempuan dua puluh tujuh tahun yang belum menikah, wajahnya keibuan, tubuhnya lebih berisi. Ia berasal dari desa di Jawa Tengah, terbiasa bekerja keras, dan menyimpan luka yang tidak pernah ia ceritakan. Ia tahu banyak hal tentang pondok. Ia tahu siapa yang sedang bertengkar, siapa yang menyimpan rahasia, siapa yang berpura-pura tidur padahal mendengarkan. Ia adalah saksi yang bergerak diam-diam.
Ada Ustaz Fahim. Suami Ustazah Sakinah. Satu-satunya laki-laki yang tinggal di pondok itu, meskipun jarang berada di sana. Ia sibuk dengan partai, dengan rapat, dengan perjalanan. Di mata orang, ia adalah ikhwan yang mapan. Tapi seperti banyak laki-laki yang merasa dirinya penting, ia menyimpan sisi lain yang tidak ia tunjukkan di depan umum.
Dan ada Hanif. Anak semata wayang Ustazah Sakinah dan Ustaz Fahim. Remaja yang tumbuh di antara dua dunia: dunia rumah yang megah dan dunia pondok yang penuh aturan. Ia cerdas, ramah, dan pandai membaca situasi. Tetapi ia juga tumbuh dengan bayangan-bayangan yang tidak seharusnya ia simpan. Cerita ini tidak bermaksud meromantisasi apa yang ia lakukan. Justru sebaliknya: aku ingin menunjukkan bagaimana lingkaran orang dewasa yang rusak bisa menciptakan lingkaran baru yang lebih rusak.
Pondok Sunan Kuning adalah tempat di mana banyak hal terjadi pada malam yang sama.
Di satu kamar, seseorang menangis karena merasa dipermalukan. Di kamar lain, seseorang tertawa karena berhasil menipu. Di ruang kantor, seseorang bernegosiasi. Di aula, seseorang mengajar. Di dapur, seseorang menyeduh teh. Di kamar mandi, seseorang menangis tanpa suara. Di plafon, seseorang mengintip. Di halaman, seseorang berpura-pura tidak tahu.
Semua bergerak bersamaan.
Aku menulis cerita ini bukan untuk mengatakan bahwa semua akhwat atau ustazah itu buruk. Tidak. Aku menulis karena aku percaya bahwa manusia itu rumit. Tidak ada yang sepenuhnya suci, tidak ada yang sepenuhnya jahat. Yang ada adalah pilihan-pilihan kecil yang dilakukan berulang-ulang, sampai seseorang menjadi orang yang tidak ia kenali lagi.
Di Pondok Sunan Kuning, pilihan-pilihan itu selalu dibungkus dengan bahasa yang indah. “Demi kebaikan.” “Demi pengobatan.” “Demi menjaga nama baik.” “Demi menghindari dosa yang lebih besar.” “Demi partai.” “Demi masa depan.” Setiap tokoh punya alasan. Setiap alasan terdengar masuk akal. Tapi jika kau menyingkirkan kata-kata itu, yang tersisa hanyalah manusia yang ingin merasa dicintai, ingin berkuasa, ingin diinginkan, ingin membalas, ingin lupa.
Aku tidak akan membimbingmu ke setiap kamar. Aku tidak akan menunjukkan setiap detail. Aku hanya akan membuka pintu, membiarkan kau mendengar bisik-bisik, dan membiarkan imajinasimu bekerja. Karena kadang, yang paling mengganggu bukan apa yang terlihat, melainkan apa yang kau tahu sedang disembunyikan.
Selamat datang di Pondok Sunan Kuning.
Di tempat ini, kerudung lebar bisa berarti banyak hal. Gamis longgar bisa menyembunyikan banyak hal. Dan senyum paling alim bisa berasal dari orang yang paling tahu bagaimana caranya berbohong.
Aku hanya penulis. Aku tidak menghakimi. Aku hanya mencatat. Tapi kalau kau merasa terusik, mungkin itu tanda bahwa kau mengenali sesuatu di dalamnya.
ns216.73.216.48da2


