From Short Story209Please respect copyright.PENANArhcBchSQVx
209Please respect copyright.PENANA86qMy27ehn
209Please respect copyright.PENANAKmFfxqAPpA
209Please respect copyright.PENANA7VkpEAW6us
209Please respect copyright.PENANAWHXZsYqQjo
KOLEKSI CERITA GAY NAKAL LOKAL209Please respect copyright.PENANANO0UoSNvsm
209Please respect copyright.PENANAx1kepNbBTh
209Please respect copyright.PENANA8bQQ6SKiKI
209Please respect copyright.PENANAKIRj7EDpMx
209Please respect copyright.PENANARKSobBdFKh
by belok-sana-sini (cowokxcowok)209Please respect copyright.PENANAySntmJWnhI
209Please respect copyright.PENANAV71rJ1GVV5
209Please respect copyright.PENANA005dySXA5i
209Please respect copyright.PENANAoMWNMJZAxU
209Please respect copyright.PENANAfrJJoRnk4L
***209Please respect copyright.PENANAEh3AEgtY33
209Please respect copyright.PENANA56U2Y5sBbE
209Please respect copyright.PENANA3dbIX8OzEt
Semua teman-temannya sudah memainkan video game terbaru yang mulai dijual dipasaran sejak dua bulan lalu, tapi orang tua Fajar terlalu kolot dan super irit jika harus membelikannya barang-barang seperti itu. Alasannya karena game tidak ada hubungannya dengan sekolahnya dan video game milik Fajar yang lama juga masih bagus? Kolot sekali!
“Tapi, kan, video game lama milikku itu adalah bekasmu ketika remaja, Dad! Sudah sangat ketinggalan zaman!”
Tapi orang tua Fajar tidak mempedulikan rengekan putranya itu dan malah mengunci diri di kamar selama berjam-jam. Katanya sih mau melakukan olahraga ala suami-istri yang menyehatkan.
Fajar coba memikirkan cara lain untuk membeli apa yang diinginkannya, yakni dengan menabung dari uang jajannya, tapi itu terlalu lama untuk terkumpul dan ia sudah tak sabar ingin pamer (dasar bocah). Fajar coba memikirkan cara lain, yaitu dengan sengaja merusak video game lama miliknya, kalau yang lama rusak, pasti akan dibelikan yang baru, kan?
Sialnya, ayahnya itu justru memberikan Fajar video game lama milik temannya yang sudah bertahun-tahun tinggal di gudang! Ini lebih jadul daripada barang sebelumnya!
“Keterlaluan!”
Lalu sekarang apa? Fajar dengan sangat terpaksa harus ikut ayah dan ibunya pulang ke rumah nenek mereka yang ada di Bali.
Terakhir kali Fajar datang ke Bali adalah ketika kelas 2 SMP, sejak memiliki geng Fajar jadi sangat sibuk dengan pertemanannya dan selalu menolak untuk diajak pergi, tapi kali ini agak berbeda, ia dipaksa, mungkin juga bakalan dapat warisan karena neneknya sudah sangat tua dan sebentar lagi mati, yah meski Fajar pun juga tak yakin kalau neneknya sekaya itu. Bukan berarti ia mendoakan neneknya supaya cepat mati, loh, ya! Tapi kan namanya umur udah uzur, ya kali mau hidup terus.
Bali tentu saja sangat berbeda dengan Bandung, tempat tinggal Fajar.
Banyak warga lokal yang mengantungkan hidupnya pada hasil laut dan pariwisata di sini. Mungkin yang paling membedakan adalah budayanya, di sini ada banyak sekali orang-orang lokal yang beribadah setiap pagi dengan memakai pakaian adat dan kain — untuk laki-laki — di atas kepala mereka.
“Ahh, aku harus belajar bahasa Bali mulai besok.” Fajar menggerutu, karena ia akan tinggal di Bali selama seminggu, menghabiskan musim panas di sini. Sementara orang tuanya, akan bersenang-senang bersama menikmati pantai. “Sial, aku juga ingin punya pacar.”
Atau setidaknya, ia akan memiliki banyak waktu luang untuk memikirkan cara merayu neneknya agar mau membelikannya video game. Karena status Fajar masihlah cucu tunggal, tentu semua limpahan kasih sayang hanya tertuju padanya.
Siang itu cuaca sungguh terik. Fajar tak akan mengeluh karena itu adalah pantai dan meski pun begitu, udaranya sangat lembab. Suncrean di seluruh badannya dan dua cup es krim jumbo rasa cokelat cukuplah untuk meredakan kekesalannya sambil berjalan-jalan di pinggir pantai menikmati deburan ombak yang menerpa kaki.
Sambil berjalan, Fajar mengambil banyak foto untuk dipamerkan kepada teman-temannya di Bandung ketika pulang nanti.
“Mereka pasti akan sangat iri melihat ini nanti, di sini sangat luar biasa, ada banyak sekali bule dan artis-artis—AHH!”
Payah. Karena terlalu fokus pada urusannya sendiri, Fajar sampai tak sadar kalau ia menabrak seseorang hingga orang itu jatuh dan bajunya kotor terkena pasir dan air. Bahkan kamera yang ia pinjam dari ayahnya pun tak luput dari kesialannya siang itu.
Tanpa mempedulikan orang yang Fajar tabrak barusan, ia memungut kamera tersebut sambil merenggut. Air mukanya bahkan kentara sekali kalau bocah itu akan segera menangis.
Orang yang Fajar tabrak itu berdiri sendiri sambil menggerutu, awalnya dia mau marah-marah tapi setelah melihat wajahnya, orang itu mengurungkan niat tersebut.
Sambil mengulurkan tangan, ia berkata seperti ini, “Are you okay?”
Fajar lalu tersadar bahwa ia tadi menabrak seseorang. Sambil menatap uluran tangan itu agak lama sebelum menerimanya untuk berdiri.
Fajar cuma mengangguk, bukan berarti ia tak bisa bahasa inggris, hanya saja kalau sedang kesal, Fajar memang tak terlalu suka bicara. Itu cuma akan membuatnya makin gondok. Apalagi cowok ini mukanya mirip member boyband EXO, kayaknya namanya Park Chanyeol? Tapi menurutnya yang di depannya ini lebih ganteng.
Cowok itu lalu menatap kamera digenggaman Fajar yang basah, mungkin juga sudah rusak. Ia merasa bersalah meski pun itu bukan kesalahannya.
“Aku punya kamera di tempatku, bekas sih, tapi aku jamin itu masih bagus dan cukup layak untuk mengantikan kameramu ini,” ucapnya sambil tersenyum lebar.
Angin pantai yang sejuk dan matahari yang terik membuatnya terlihat semakin bersinar. Fajar menatapnya hampir tanpa kedip, kagum dengan ketampanan itu. Lalu ketika cowok itu mengibaskan tangannya di depan muka Fajar. Fajar baru tersadar dari kebodohannya.
“Eh, iya, apa barusan?”
Saking terpesonanya ia. Fajar bahkan tak sadar kalau cowok itu berbicara dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata.
“Kamu bisa bahasa Indonesia?” tanyanya dengan wajah bodoh.
Fajar mengangguk. “Sudah jelas, kan. Kamu juga?”
Cowok itu tertawa, tawa yang sangat renyah dan menyenangkan. “Lumayan, aku udah agak lama tinggal di sini.” Ia mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan.
Fajar menerima uluran tangan itu. “Senang kamu betah di sini.”
"Tentu aja, di sini menyenangkan."
"Omong-omong asalmu dari mana?"
"Aku dari Korea Selatan, tapi ibuku memiliki darah Spanyol."
"Ohh."
"'oh' kenapa?"
"Gak apa-apa, cuma menurutku kamu mirip artis Korea."
"Itu artinya aku ganteng, 'kan?"
Fajar berdecak. "Masih gantengan artisnya lah."
"Yah."
"Yah?"
“Liburan?” tanyanya membelokkan pembicaraan. Kini mereka ngobrol sambil jalan di bibir pantai.
Fajar mau mengangguk, tapi akhirnya ia meralatnya dan menggeleng. “Nenekku orang asli sini. Tapi aku juga orang Indonesia, aku tinggal di kota lain bernama Bandung.”
Cowok itu membulatkan bibirnya seperti mengatakan wow. “Pantas kamu tak perlu melihat kakimu meski pun berjalan di pinggir pantai, rupanya sudah terbiasa.”
Fajar menyenggol pinggangnya, soalnya ditelinganya itu terdengar seperti godaan karena sudah menabraknya tadi. “Aku Fajar, kalau kamu?”
“Jonathan,” jawabnya.
“Oke, Jonathan? Jadi kita akan pergi ke tempatmu dan mengambil kameramu itu?”
Jonathan mengangguk.
“Sebenarnya tak usah, lagipula ini juga cuma kamera lama,” kata Fajar remeh. Lagian orang waras mana sih yang mau menggantikan kamera bobrok dengan yang lebih bagus? Kalo ia sih, ogah.
Tapi Jonathan berpendapat lain. “Santai saja, itu juga cuma kamera lama kok, dan sudah gak terpakai. Jadi akan sangat sempurna sekali jika dia bisa mendapatkan pemiliknya yang baru.”
Bocah itu berpikir sambil mengerutkan dahinya. Lalu sedetik kemudian mengangguk.
“Kalau begitu sih, aku sangat berterima kasih padamu, Jonathan,” kata Fajar sambil berjalan di samping orang asing yang baru dikenalnya.
Tapi tiba-tiba Jonathan malah berhenti berjalan sambil menatap punggung Fajar, ditatap seperti itu Fajar juga jadi kebingungan.
“Ada apa, Jonathan?”
“Dari tadi kamu terus memanggilku hanya dengan nama.”
Fajar mengangguk membenarkan. “Memangnya ada yang salah dengan itu?”
“Berapa umurmu?”
“18 tahun,” jawabnya enteng.
“Dan aku 31 tahun.”
Fajar diam. Ia tak berkomentar. Tak pula melayangkan tatapan menghakimi. Mata itu kosong. Lalu tiba-tiba petir seakan menyambar ubun-ubun—
“HAHHH?? DEMI UBUR-UBUR TUAN KRAB YANG PELIT?!!!”
Jonathan tersenyum simpul. “Demi Dewa.”
Demi ubur-ubur berkepala babi. Fajar syok banget sampai rahangnya gak mau menutup. Semoga bocah itu gak berakhir di meja operasi gara-gara otot rahangnya kaku.
***209Please respect copyright.PENANAcPRk6JhonL
209Please respect copyright.PENANAHjZ68ubDu3
209Please respect copyright.PENANAdWaf4dQQod
209Please respect copyright.PENANAHj26caSlR9
209Please respect copyright.PENANA35K0FNtO5C
Jonathan yang awet muda dan Fajar yg awet tua(?), heh lucu banget.
Entah kenapa sejak tahu perbedaan usia mereka. Fajar jadi agak murung, rasanya ia kayak lagi jalan sama om-om, yah meski pun Jonathan memang sudah om-om, tapi yang bikin tambah kesal adalah mereka yang malah terlihat seumuran! Gak adil.
Belum lagi sekarang Fajar lagi ada di tempatnya Jonathan, ternyata rumah Jonathan adalah bangunan vila mewah bergaya tradisional yang sudah dibelinya, itu karena Jonathan memiliki bisnis emas di Bali dan sering bolak-balik Bali-Seoul. Omong-omong cowok itu aslinya oppa-oppa yang lebih nyaman dipanggil akang atau mamas.
Bangunannya sangat bagus sampai Fajar tak bosan melihat-lihat. Benar-benar jauh lebih bagus daripada rumah milik neneknya.
Semenjak sampai di rumah Jonathan, Fajar terus mengekor di belakangnya seperti seekor kucing yang baru saja dipungut di jalanan. Sampai akhirnya mereka sampai di kamar pribadi Jonathan, itu adalah kamar yang sangat luas dengan patung-patung Budha di sekelilingnya, juga kolam renang di samping jendela kamarnya yang menghadap pantai langsung.
Tapi yang membuat Fajar semakin ternganga adalah di kamar Jonathan ada banyak video game. Termasuk video game yang sangat diinginkan Fajar itu hingga membuatnya hampir gila!
“Ini kamera yang aku bilang sama kamu tadi, Fajar.”
Jonathan memberikan kamera yang berukuran agak besar itu kepada Fajar. Fajar menerimanya dengan senang hati, itu kamera yang masih sangat bagus, hanya saja catnya mulai agak mengelupas karena tak dirawat dengan baik.
“Aku harap kamu bisa memotret banyak gambar bagus dengan kamera itu.”
Fajar tertawa kecil. Potret bagus itu sudah ada di depannya. “Tentu saja, nanti aku potret yang banyak dan aku kasih lihat ke kamu.”
Meski usia mereka terpaut cukup jauh dan mereka baru saling mengenal, tapi Fajar merasa nyaman dengan memanggil nama Jonathan aja, mungkin karena di Bali ia belum pernah memiliki teman Korea.
“Fajar mau langsung pulang?” tanya Jonathan.
“Kalau kamu mengusirku, yeah aku akan langsung pulang.”
“Mau main video game dulu bersamaku?”
Fajar tak menyangka akan ditawari hal bagus semacam ini. Wajahnya yang semula mirip dendeng tiba-tiba berubah secerah matahari.
“Maulah! Yakali nolak.”
"Oke."
Sejak saat itu keduanya jadi sering saling bertemu, Fajar bahkan tak ragu untuk main ke rumah Jonathan meski pun tak diundang. Fajar juga mengaku senang bisa berteman dengan Jonathan, apalagi Jonathan memiliki hal yang Fajar sukai. Yaitu video game baru yang ingin sekali dibelinya itu! Tapi bukan berarti Fajar ngode Jonathan untuk memberikannya video game itu, ya! Ia itu walau sering malu-maluin, tapi masih tahu malu.
Tapi mau bagaimana pun Jonathan itu orang dewasa, pemikirannya tak sesederhana Fajar yang masih baru mengenal dunia. Terkadang ketika main game bareng, Fajar tak sengaja menyenggol adik Jonathan, membuatnya terbangun dan mau tak mau Jonathan akan pura-pura ada panggilan alam ke kamar mandi, walau aslinya ia sedang bermain dengan sabun sambil membayangkan wajah orang yang ada di rumahnya itu.
Lama-kelamaan dari ketidaksengajaan itu Jonathan mulai berpikir bahwa Fajar sengaja memancingnya selama ini. Itu terbukti dengan ia yang sering main ke rumah Jonathan dengan celana pendek yang bahkan ketika Fajar duduk atau menungging, hampir memperlihatkan pantatnya yang bulat mulus.
Hingga suatu hari di Jumat pagi ketika Fajar kembali main ke rumah Jonathan sambil membawa kamera pemberian dirinya karena Sabtu siang besok ia sudah hendak pulang ke Korea. Ketika Fajar sedang asyik diam-diam memotret Jonathan, Jonathan mengutarakan niatnya yang sudah ia pikirkan sejak beberapa hari ini.
“Fajar.”
“Ya? Ada apa, Jonathan?”
“Aku mau ngomong sesuatu." Jonathan mengucapkannya dengan setengah ragu. “Pembicaraanya berbahaya dan mungkin bisa bikin hubungan kita renggang.”
“Renggang kayak rengginang?” jawab Fajar setengah bercandaa.
“Se. Ri. Us.”
“Ngomong aja sih, emangnya ada apa sampai perlu izin segala?”
Jonathan tersenyum tipis melihat Fajar yang cuek. “Kamu suka video game yang kita mainin baru-baru ini, 'kan?”
Dengan cepat, Fajar langsung meletakkan kameranya. “Eh, iya. Emang ada apa? Aku sukaaaaa banget main video game itu.”
“Kalau aku kasih semua itu ke kamu, kamu mau?”
Gila ya, masak hal bagus kayak gini mau ditolak. Biasanya kalau sudah tidak butuh akan dibuang kan? Jadi kalau menerimanya pun, tidak apa-apa?
“Kalau kamu udah gak butuh, aku sih mau-mau aja, lagian masih bagus itu.” Gengsi banget mau langsung bilang MINAT PAKE BINGITZ :).
“Tapi aku gak bakalan kasih dengan cuma-cuma kayak kamera itu." Tiba-tiba Jonathan udah di samping Fajar aja, sampai ia agak kaget.
“Apa aku harus bantuin kamu beres-beres rumah dulu, Jonathan?”
Jonathan tersenyum melihat wajah polos Fajar, melihat dari reaksinya yang datar begitu padahal mereka berdua lagi di kamarnya, pasti Fajar masih perjaka.
“Fajar, kamu pernah seks?”
Ditanya begitu Fajar bingung. “Seks?” Dia menggeleng. “Belum pernah. Tapi aku gak pernah bolos pelajaran biologi, kok," katanya. "Kalau kamu Jonathan, udah pernah? ”
Aduh. Harusnya jangan dijawab kayak gitu. Rasanya malah kayak kasih kode ijo royo-royo rasa Royco alias ANJIRR BANG KAPAN KITA EKSEKUSIKAN KEGIATAN ITU BERSAMA!!
Fajar kebingungan saat Jonathan tertawa.
“Pernah. Beberapa kali.”
“Wah.” Entah kenapa Fajar menunjukkan ekspresi kagum. “Aku dan temen-temenku belum ada yang pernah ngelakuin itu. Kita masih kecil.”
"Kecil apanya?"
"Umurnya."
Jonathan tertawa. Fajar polos banget jadi gak enak kalo mau ngepolosin. Tapi sedetik kemudian ia justru memeluk Fajar dari belakang begitu mesra, Jonathan meletakkan dagunya dipundak Fajar dengan nyaman.
"Ahh, Jonathan geli." Fajar berusaha menyingkirkan dagu Jonathan, tapi cowok itu tak mengindahkannya.
“Fajar, sebelum kamu pulang ke Bandung, kamu mau gak main suatu game sama aku?”
"Game apa?"
"Game yang bikin badan kita keringetan dan pokoknya game yang seru banget, deh." Jonathan mengatakannya sambil tersenyum lebar. Sementara Fajar kebingungan.
"Gak paham," kata Fajar.
"Kamu." Jonathan menunjuk dada Fajar. "Aku." Lalu ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku bakalan ajarin kamu gimana rasanya ketika sepasang laki-laki tanpa pakaian saling memakan satu sama lain."
Wajah Fajar sedikit takut. "Kanibal."
"Itu cuma kiasan aja, kok."
"Terus kenapa harus gak pakai pakaian?"
"Kalo gak pakai pakaian, rasanya lebih enak."
"Ngentot?"
Tawa Jonathan pecah. Padahal ia udah pakai bahasa sehalus mungkin. Tapi bocah di depannya ini malah terang-terangan frontal kayak gini. Jadi Jonathan pun udah gak ragu sama Fajar dan mulia ngomong terus terang.
"Iya, aku ajakin kamu buat ngeseks bareng sebelum kita pisah."
Diajakin hal yang sensitif kayak gitu, tubuh Fajar membeku. Ia bingung mau jawab apa, takut banget salah jawab dan malah jadi canggung.
“Ta-tapi aku belum pernah ngelakuin yang begituan. Emang gak apa-apa?” Masih perjakanya gak perlu diragukan lagi.
Jonathan mencium leher Fajar pelan. “Gak apa-apa, yang namanya masih remaja, wajar kalau mau coba-coba banyak pengalaman baru. Selain koleksi video gameku yang akan jadi milik kamu, aku juga akan kasih kamu pengalaman yang tak akan terlupakan. Jadi mau ya, ngelakuin seks pertama kamu sama aku?”
Jantung Fajar berdebar-debar. Wajah Jonathan terlalu dekat dengannya. Belum lagi perasaan aneh disekujur tubuhnya. Meski lama menjawab, tapi pada akhirnya Fajar terbujuk rayuan Jonathan dan mengangguk setuju.
Jonathan berdiri di depan Fajar dan secara sengaja, ia membawa tangan kirinya untuk menggerayangi kemaluan Fajar yang terbungkus celana bahan pendek selutut.
Awalnya Fajar menolak secara halus dengan sedikit melangkah mundur dan menghalangi tangan Jonathan dengan kedua tangannya: perbedaan ukuran tangan keduanya sungguh gila.
Dengan cepat, Jonathan mencegah gerakan Fajar dengan merengkuh pinggang pemuda itu dengan tangannya yang bebas; tangan kanan. Sambil menunduk menatap Fajar, Jonathan menempelkan kening keduanya, menatapnya dengan lebih dekat, keduanya saat ini terlihat sangat intim.
“Kamu juga menginginkannya, kan?” katanya seduksi. “Aku bisa merasakannya, loh,” ucapnya sambil meremas-remas kecil penis Fajar dari luar pakaian, merangsangnya.
Perlahan-lahan penisnya yang terlelap gini mulai terbangun, belum lagi perasaan Fajar yang deg-degan menambah libidonya semakin terpacu.
“Ta-tapi, kalau sampai ada yang tahu... gimana?” jawab Fajar ragu-ragu. Menurutnya ini adalah keputusan yang besar. Sementara Jonathan yang menunggu sejak tadi, sudah tak sabaran.
“Menyenangkan diri sendiri dengan cara yang kita sukai itu bukan aib, Fajar. Jadi kamu tak perlu terlalu memikirkannya, oke. Relaks aja bareng aku.” Jonathan menarik dagu Fajar lembut dan segera memejamkan matanya lalu menempelkan bibir keduanya, secara naluri Fajar pun mengikuti Jonathan.
Sambil berdiri di dalam kamar hanya berduaan saja, di kelilingi jendela-jendela yang terbuka lebar mempersilakan terik matahari dan sepoi angin masuk, untuk pertama kalinya Fajar bercumbu panas dengan seorang pria, terlebih pria tersebut jauh lebih tua darinya.
Dalam ciuman mereka yang semakin dalam dan intens, Jonathan tersenyum samar. Dalam hati bertekat akan menjadikan ini pengalaman tak terlupakan seumur hidup Fajar.
Bunyi erangan samar dan kecapan mulut yang saling menghisap memenuhi ruangan dengan ranjang yang terbuat dari kayu jati itu. Masih sambil menempel satu sama lain, Jonathan mendorong tubuh kecil Fajar menuju ranjang tersebut, membuatnya terlentang.
Fajar yang tak siap tangannya sempat mencengkeram selambu putih tipis yang mengelilingi ranjang tersebut meski pun itu sama sekali tak berguna karena pada akhirnya tujuan Jonathan untuk menindihnya berjalan dengan mulus.
Jonathan melepaskan ciuman mereka, seketika pasokan udara seperti berjejalan masuk ke dalam paru-paru Fajar, dadanya kembang-kempis mengatur oksigen yang masuk, untuk sesaat pandangannya terasa buram setelah sejak tadi terus memejamkan mata.
Sambil menindih perut datar Fajar dengan lututnya, Jonathan menatapnya lapar dari atas tubuh itu. Bibir Fajar kini terlihat bengkak dan berwarna kemerahan dengan saliva keduanya yang kini membasahi leher Fajar hingga terlihat mengkilat.
Sambil menggesek-gesekkan penisnya yang kini mulai terbangun tegak dan mengeras di balik celananya pada gundukan serupa di bawahnya yang jauh lebih kecil, Jonathan melepaskan resleting celananya.
Fajar menatapnya penasaran, lalu ketika gundukan besar milik Jonathan itu semakin jelas terlihat dengan seiring dia melepaskan celana luarnya, kedua daun telinga Fajar bersemu merah, merah sekali hingga menjalar ke seluruh wajahnya yang berkeringat.
Dia lalu memalingkan wajahnya, sambil mengusir bayangan diotaknya tentang apa yang ada di balik gundukan itu, tapi Jonathan justru membawa tangan kanan Fajar untuk menyentuh gundukan itu, meraba-rabanya dan menyelinapkan tangannya masuk.
Rasanya seperti menyentuh benda hidup, milik Jonathan terasa begitu perkasa ketika rasa hangat dan berkedut-kedut itu terasa nyata ditelapak tangannya, padahal Fajar juga memiliki benda serupa milik Jonathan sejak dia bayi.
Tapi miliknya sama sekali tak terasa mirip dengan milik Jonathan yang baru dipegang tanpa melihat saja sudah bisa dia bayangkan seberapa besarnya benda itu, untuk sesaat terbesit niat bahwa Fajar ingin memiliki apa yang Jonathan miliki.
Jonathan menatap Fajar dengan kagum, sejak tadi dia terus menahan mulutnya agar tidak langsung menerkam Fajar dengan beringas, tapi melihat makhluk di bawahnya itu yang masih terlihat suci dan polos, libido Jonathan tiap detik semakin naik. Penisnya terasa sakit dan semakin membengkak setelah Fajar menyentuhnya dengan polos.
Pandangan Jonathan semakin diselimuti kabut nafsu tiap menatap Fajar, jantungnya berdebar-debar ingin segera menyalurkan hasratnya.
“Fajar,” panggilnya dengan suara serak.
Fajar memenuhi panggilan Jonathan dengan menatapnya.
Jonathan mendekatkan wajahnya ke wajah Fajar, embusan napas Jonathan yang terasa panas dan menggebu-gebu terasa menyentuh permukaan kulit wajah Fajar hingga membuatnya merinding.
“Kita melakukan ini atas dasar suka sama suka, oke,” ucapnya membuat Fajar berjanji.
Fajar yang telah dibutakan rasa penasarannya sendiri dengan sadar mengangguk setuju.
Sambil menjilat leher Fajar, Jonathan berkata, “Aku akan memperkosa mu dengan sangat meriah.”
Lantas detik berikutnya sebelum Fajar sempat merespons kata-katanya, Jonathan sudah lebih dulu menjilati leher Fajar seperti seseorang yang kelaparan dan melihat sosis di depan matanya.
Jilatan Jonathan terasa begitu menggebu-gebu dan sangat intens dengan gigitan kecil-kecil yang diberikannya. Saking bernafsunya, Fajar bahkan tanpa sadar sampai meremas penis Jonathan untuk menyalurkan kelenjar aneh yang tersebar di seluruh tubuhnya bersamaan dengan apa yang sedang Jonathan perbuat pada dirinya.
Sambil masih menyesap leher hingga dada Fajar sambil menahan kerah lehernya, Jonathan dengan tak sabaran merobek baju tersebut mulai dari kerah baju hingga perut, lantas melempar kaos tersebut ke sembarang tempat sambil mengunci kedua tangan Fajar di atas kepalanya dengan satu tangan. Sementara tangan Jonathan yang satu lagi kini mulai melucuti celana Fajar..
Bibir Fajar gemetaran ketika mulut Jonathan kini sampai dipusarnya, lalu dengan cepat sampai di antara selangkangannya yang berkedut-kedut, seumur-umur Fajar belum pernah merasakan sensasi sedahsyat ini selain ketika menonton video dewasa, itu pun dia ingat sensasinya tak sehebat ini.
“Chan—ah!” Napas Fajar seperti tertahan, tapi disaat bersamaan juga begitu boros keluar.
Takut-takut, Fajar mengintip ke bawah selangkangannya dan melihat apa yang sedang Jonathan lakukan padanya.
Kini Jonathan sedang menghisap penis seukuran jari tengah, saking kecilnya bahkan itu sama sekali tak memenuhi mulut Jonathan. Fajar lantas memalingkan wajahnya ketika Jonathan mengurut penis itu, soalnya ukurannya tak jauh lebih besar dari jempol Jonathan.
Jonathan diam-diam tertawa. Pipi Fajar memerah karena malu.
“Ja-jangan tertawa,” dia berkata dengan amat lirih. Mengira Jonathan sedang menertawakan penisnya.
“Oh, aku ketahuan.” Jonathan memindahkan perhatiannya pada sosok telanjang yang kini terlentang di atas kasurnya.
“A-apaan, sih!” Fajar segera menutupi wajahnya malu ketika Jonathan kini sudah melepaskan cengkeramannya pada kedua tangannya.
Tapi dasarnya masih puber, dengan penasaran Fajar mengintip Jonathan dari celah jari-jarinya, dengan mata melotot, Fajar menyaksikan Jonathan sedang melepas celana dalamnya, lalu terlihatlah dengan jelas seperti apa benda besar perkasa yang tadi dipuji-pujinya dalam hati itu.
Milik Jonathan berdiri sangat tegak dengan bagian kepalanya sedikit melengkung ke atas, dibagian tengah lubang kencing itu seperti ada cairan putih yang hendak menyembur keluar. Refleks Fajar mendudukkan tubuhnya dan menyeret tubuhnya mundur dari Jonathan.
Dengan bangga, Jonathan memainkan penisnya di depan Fajar, memutar-mutarnya dengan senyum mengejek. Fajar menelan salivanya, milik Jonathan terasa begitu menggoda, dan tanpa sadar Fajar kini sudah melebarkan kakinya dengan posisi telentang dan menjadikan sikunya sebagai tumpuan tubuhnya di kasur.
Jonathan memegang kaki Fajar, membuatnya semakin mengangkang, dia lalu meraba-raba bokong Fajar sambil membiarkan penisnya bersentuhan dengan penis Fajar: perbedaan ukuran kejantanan keduanya bagaikan tongkat baseball dengan pulpen.
Sambil mengigit bibirnya sendiri, Fajar merasakan jari-jari Jonathan yang menggerayangi lubang anusnya yang sudah sangat basah dan berkedut-kedut, mata Jonathan melebar ketika anus hangat Fajar seperti menyedot jari-jarinya.
“Fajar, kamu udah gak sabar banget aku gagahi, ya?” ucap Jonathan sambil mengeluar-masukkan ketiga jarinya di dalam Fajar.
Fajar hanya memalingkan wajahnya dari Jonathan sambil menutupi — mengigit — jempol tangannya sendiri menahan nafsunya yang meluap-luap.
Setelah puas bermain dengan jari, Jonathan mengeluarkan ketiga jarinya dan menjilati lendir ditangannya. Dia lalu memposisikan bokong Fajar dan penisnya yang sudah sangat kaku hingga terasa sakit tiap kali disentuh.
Jonathan sempat mencium pipi kanan Fajar lembut sebelum dengan perlahan, dia mulai memasukkan penisnya, dimulai dari ujung kepalanya secara perlahan dan langsung mendorongnya masuk hingga menyentuh prostat Fajar.
“Aahhh!” Fajar hampir menjerit ketika benda asing itu tiba-tiba memasuki tubuhnya begitu dalam dan langsung menyentuh sesuatu yang sangat sensitif pada dirinya.
Sambil mengigit bibirnya sendiri dan memalingkan wajahnya dari Jonathan, tubuh Fajar gemetaran, tiba-tiba entah kenapa dia merasakan takut, juga arusnya yang terasa amat perih dan penuh sesak sekarang.
Tapi dengan lembut, Jonathan memegang dagu Fajar agar mau menatapnya dan menciumnya dengan lebih lembut lagi.
Dia lantas berbisik, “Ini tidak akan sakit kok, awal-awal memang terasa tak nyaman karena kamu belum terbiasa, tapi kalau kamu sudah pernah merasakannya meski hanya sekali saja, aku jamin kamu pasti akan sangat menikmatinya, Fajar.”
“Aku takut,” lirihnya.
Jonathan coba menenangkannya. “Ssttt, kalau memang sakit banget sampai udah gak bisa ditahan lagi, kamu bisa minta aku buat berhenti. Aku bakalan berhenti.”
“Beneran?”
“Beneran, aku gak bakalan bohongi kamu.” Lalu Jonathan kembali mencium bibir Fajar lagi.
Setelah beberapa menit, anus Fajar sudah mulai terbiasa dan menerima penis Jonathan. Jonathan pun mulai menggerak-gerakkan pinggulnya, mencari titik nyaman dan sensitif Fajar.
Fajar kini memeluk leher Jonathan dengan kedua tangannya, sementara satu tangan Jonathan menyangga tubuhnya sendiri agar tak menimpa Fajar sementara tangannya yang satu lagi memeluk punggung Fajar erat.
Mengikuti instingnya, Fajar pun tak mau kalah dan menggerak-gerakkan pinggulnya mengikuti irama yang Jonathan ciptakan lebih dulu.
Dengan kedua kakinya yang melingkar sempurna ditubuh Jonathan, diikuti pelukan erat keduanya, juga kejantanan Jonathan yang memerawani Fajar, untuk sesaat otot-otot tubuh keduanya seperti tertarik ke dalam, Jonathan pun kian mempercepat sodokannya pada anus Fajar hingga Fajar lebih dulu mendapatkan orgasmenya.
“Ah! Ah!” Fajar kaget, tapi juga lega ketika untuk pertama kalinya dia merasakan betapa nikmatnya orgasme sambil disodomi.
Tapi Jonathan belum mendapatkan kenikmatan itu, dia masih terus menyodok anus Fajar dengan begitu brutal hingga tubuh Fajar terhentak-hentak dan ranjang yang keduanya tempati berderit-derit berisik.
Sekilas ujung kepala penis Jonathan bahkan terlihat menyundul di dalam perut Fajar beberapa kali. Meski samar dan terasa begitu hangat disertai kedutan-kedutan percintaan mereka, di dalam arusnya, Fajar merasakan penis Jonathan semakin lama terasa semakin membesar hingga membuatnya penuh sesak.
“Ahh! Ahh! Ah! Aah!”
Ketika Jonathan semakin mempercepat genjotannya, dia langsung menarik wajah Fajar dan menciumnya brutal sambil pinggulnya terus bergerak, tak lama setelah itu tubuh Jonathan menegang dan sambil berciuman, Fajar dapat merasakan semburan hangat sperma Jonathan di dalam arusnya.
Semburan itu tak hanya berlangsung dua kali, tapi lebih dari lima kali selama sekitar dua menitan hingga membuat tubuh Fajar belingsatan.
Ketika Jonathan mencabut penisnya, Fajar merasakan pahanya dipenuhi lelehan hangat yang terasa kental juga menyengat. Perasaannya begitu lega, namun tubuhnya terasa sangat lelah.
“Fajar ahh ah, I love you.”
***
Jonathan memiliki keluarga yang sempurna, tapi semua kesempurnaan itu sirna ketika dia menginjak sekolah menengah pertama. Kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai.
Jonathan ikut ayahnya, sementara kakak perempuannya ikut sang ibu. Tiap kali dia merindukan satu sama lain, Jonathan dan kakaknya harus memilih untuk kumpul bertiga dengan sang ibu atau kumpul bertiga dengan sang ayah.
Sudah sangat lama hingga mereka berempat bisa kumpul komplit seperti dulu lagi. Terutama sejak kakaknya menikah.
Jonathan lalu memutuskan untuk mencari hobi atau pekerjaan yang membuatnya lupa dengan kesepiannya, kerinduannya pada keluarga yang dia pendam sejak lama.
Hingga tanpa sadar, Jonathan jadi suka bermain-main dengan dunia malam untuk melampiaskan kekesalannya, dan mengambil pekerjaan yang jauh dari rumahnya. Tahu-tahu, Jonathan sudah lama menetap di negara orang hingga sudah sangat jarang menelepon keluarganya sendiri untuk sekadar menanyakan kabar.
“Cih, mikir apa sih aku.”
Selalu seperti ini. Setiap kali Jonathan habis bercinta, dia pasti akan selalu mengingat keluarganya.
Sambil berusaha mengenyahkan rasa rindu yang terpendam dalam itu, tangan Jonathan terus bergerak membuat jus jeruk yang dia tawarkan pada Fajar beberapa menit lalu.
Setelah selesai menghiasnya dengan daun jeruk dan menaruh sedotan, Jonathan membawa dua gelas jus itu dengan sebuah nampan, juga dua potongan kue yang bersisian di nampan yang sama.
Jonathan berjalan menuju kolam yang terletak di samping kamarnya, kolam yang cukup luas dan langsung menghadap ke laut lepas.
“Pemandangan yang sangat cantik.”
Fajar yang sejak tadi diam memandangi lautan di depannya sambil berendam di dalam kolam langsung menoleh ke belakang begitu mendengar suara Jonathan.
Meski Fajar memakai kemeja putih selutut — itu milik Jonathan — tanpa celana, tapi karena dia di dalam air, pakaiannya sama sekali tak berguna menyembunyikan tubuhnya.
“Minumanku?” Fajar berenang mendekati Jonathan yang ada di tepi ujung lain kolam.
Jonathan meletakkan nampan tersebut di pinggir kolam. Fajar segera menyambarnya dan meminumnya. “Uh, manis sekali.”
Jonathan yang sejak tadi memang sudah bertelanjang dada kini melepas celananya dan segera menceburkan diri ke dalam kolam, wajah Fajar terciprat air ketika sedang memakan kue.
“Yah, kuenya basah.” Padahal dia belum selesai memakannya dan rasa kuenya sangat enak. “Jonathan, punyamu ku makan soalnya kamu sudah merusak kue ku!” katanya.
Sementara Jonathan yang sebelumnya menyelam kini menyembul ke permukaan air dan langsung merengkuh pinggang Fajar dari belakang.
Sambil menciumi leher belakang Fajar, Jonathan berkata, “Mau makan adikku juga gak?”
Dia bilang begitu sambil menggesek-gesekkan penisnya diantara belahan bokong Fajar yang tanpa pelindung di bawah air itu.
Fajar mengerlingkan matanya seakan bilang: yang benar saja aku makan manusia terlebih itu adikmu. “Aku bukan kanibal,” katanya.
Jonathan tertawa gemas, dia lalu menenggelamkan dirinya sendiri di dalam air dan tak lama kemudian muncul di depan wajah Fajar dengan mulut belepotan kue, tanpa pikir panjang Jonathan segera menarik wajah Fajar dan mencumbunya saat itu juga.
Fajar melupakan kuenya yang masih tersisa ditelapak tangannya, dia membuang kue itu, membiarkannya tenggelam, sementara tangan Fajar kini bertengger manis diantara leher Jonathan yang terus menyesap bibirnya hingga bengkak.
Setelah tadi keduanya menghabiskan pengalaman pertama Fajar di dalam kamar Jonathan selama berjam-jam, setelah Fajar sadar, keduanya kini berpindah tempat di kolam renang milik Jonathan, sambil menatap pemandangan laut lepas di depannya, Jonathan memposisikan penisnya diantara bokong sintal Fajar.
Omong-omong Fajar, Jonathan sungguh terkesan, hanya diajari sekali saja, dia kini begitu mahir memuaskannya. Lihat saja sekarang, saat dia berpegangan pada tangga kolam, Fajar dengan sadar menyodorkan belahan pantatnya yang merekah pink seperti kuncup bunga mawar di depan wajah Jonathan yang sedang mengurut penisnya sendiri.
Jonathan memegang pinggang ramping Fajar dengan kedua tangannya, lalu dia tersadar betapa mudahnya bagi Jonathan untuk memegang hampir seluruh pinggang Fajar hanya dengan satu tangan, alias sebagai laki-laki pinggang Fajar terbilang sangat kecil. Apa karena dia masih remaja?
“Jonathan, cepatan ahh,” rengek Fajar sambil makin meninggikan pantatnya.
Jonathan lalu menampar pipi pantat Fajar yang seputih awan disiang yang terik itu hingga meninggalkan bekas kemerahan telapak tangan Jonathan yang sebesar bokong Fajar.
“Ahh!” Fajar makin mengeratkan pegangannya pada pinggir kolam ketika Jonathan kini mulai menyodominya. “Uhh penuh, Jonathan pelan-pelan~.”
Fajar menoleh ke belakang ketika disaat yang sama Jonathan makin melesakkan penisnya masuk ke dalam dubur Fajar dan memeluknya lembut dari belakang.
Sambil menggerak-gerakkan kejantanannya di dalam anus Fajar yang sudah begitu nyaman bagi penis Jonathan hingga terasa seperti rumah sendiri, Jonathan mencium bibir Fajar dari samping, Fajar pun menyambut ciuman itu positif dengan lidahnya.
Riak air kolam terciprat kesana-kemari hingga membasahi bagian luar kolam —yang dipenuhi dengan rerumputan pendek yang dipotong rapi setinggi satu senti — tiap kali Jonathan menyodok anus Fajar dengan sangat bersemangat hingga sesi seks mereka kali ini nampak begitu heboh.
“Ahh! Ah! Jonathan ah!” Fajar tak henti meracau tiap kali mulut keduanya tak bercumbu, dengan tanpa malu-malu lagi Fajar mengekspresikan bagaimana dirinya tiap kali bercinta. “Ah, Jonathan yah di sana ahh! Ah ya! Hmhhah!”
Dan Jonathan begitu menikmati saat-saat melihat sosok lain Fajar seperti ini yang hanya bisa disaksikan olehnya seorang.
“I love you, Fajar.”
Embusan angin semakin kuat menerpa wajah, bersamaan dengan awan yang berubah kelabu, Jonathan makin kuat menyodokkan penisnya hingga Fajar menggelinjang keenakan menerima semua sentuhan yang Jonathan limpahkan padanya.
“Tadi kamu bilang apa?”
Jonathan mencabut penisnya dari lubang Fajar, seketika lelehan spermanya tumpah ruah didalam air kolam.
“Emangnya tadi aku bilang apaan?”
Fajar berbalik menghadap Jonathan, tangannya merapat dada bidang Jonathan yang terbentuk sempurna.
“Kamu mau main-main sama aku, ya?!” Fajar kesel ketika sadar Jonathan mempermainkannya.
Padahal Fajar dengar Jonathan mengucapkannya berkali-kali setiap mereka berdua sedang bercinta tadi.
“Ututututu, ada adik kecil yang lagi marah sama om-om, nih.” Tapi Jonathan malah seakan menikmati mengejeknya.
“Ihhhh, apaan, sih! Kamu belum om-om tahu!”
“31 tahun tuh belum om-om?”
“Belum! Pokoknya kamu belum om-om!”
“Kalau begitu, kamu masih bayi, dong?”
“Ihh, apaan, sih. Kalau aku mah udah dewasa.”
Jonathan tertawa. “Karena kamu udah dewasa, gimana kalau habis ini kita langsung nikah?”
Sebenarnya Jonathan hanya suka menggoda Fajar saja karena reaksinya terlihat lucu, tapi daun telinga Fajar tiba-tiba memerah dan langsung menjalar ke seluruh wajahnya.
Secara pribadi Fajar bingung, ucapan Jonathan itu serius atau hanya untuk menggodanya saja? Karena bimbang harus jawab apa, Fajar langsung merangkul leher Jonathan dan segera menciumnya saja.
Rintik hujan mulai membasahi bumi, air hujannya menyatu dengan air kolam. Sementara laut lepas di depan Jonathan dan Fajar seakan menari-nari, diikuti dengan air kolam yang juga mulai terpengaruh dengan air hujan yang terbawa angin.
Sambil digendong Jonathan di depan dadanya menuju ke dalam rumah, Fajar memeluk leher Jonathan erat sambil meletakkan kepalanya dipundak laki-laki dewasa itu dengan nyaman.
Sore itu hingga malam tiba, hujan masih terus mengguyur, pun dengan Fajar dan Jonathan yang masih meneruskan kisah cinta panas mereka di tengah badai hingga pagi menjelang.
Keesokan harinya, Fajar hampir terlambat menuju bandara karena dia bangun kesiangan setelah kelelahan melayani nafsu bejat Jonathan hingga orang tuanya terus meneleponnya.
Pada akhirnya Jonathan mengantarkan Fajar ke bandara dan tak sengaja bertemu dengan orang tua Fajar dan dia malah dikira sebagai pacar Fajar.
Terutama karena wajah Fajar yang nampak sangat kelelahan dengan bekas cupang yang terlihat baru itu mengintip diantara ceruk lehernya yang ditutupi baju kebesaran yang bukan milik Fajar dan cara jalan Fajar yang terlihat mencurigakan, terlebih Fajar yang tak pulang seharian hingga esok paginya padahal orang tuanya tahu betul Fajar tak memiliki teman di Bali hingga dia bisa menginap seenaknya.
“Nak Jonathan.”
Dengan kikuk Jonathan mengangguk ketika ayah Fajar memanggil namanya dengan wajah galak. “Iya, Om?”
“Om tahu usiamu jauh lebih tua dari Fajar, tentu kamu sudah bisa berpikir dewasa dan memiliki pekerjaan tetap, kan.”
Jonathan kebingungan, begitu pun dengan Fajar yang berdiri di sebelah ibunya. “Iya? Maksudnya?”
“Saya harap kamu segera menikahi putra saya setelah dia lulus sekolah nanti, kalau kamu gak mau saya laporin ke polisi atas pemerkosaan anak di bawah umur.”209Please respect copyright.PENANA4ZDcoHFhVJ
209Please respect copyright.PENANAn3Cr2vk5Mf
209Please respect copyright.PENANAEHqh0YJg6Q
209Please respect copyright.PENANAnJVp7GV9Fb
209Please respect copyright.PENANA2XdVMXVXCg
209Please respect copyright.PENANAmifBDZmj8d
209Please respect copyright.PENANAHgmN7M17pV
209Please respect copyright.PENANAm80RbUZ4BG
209Please respect copyright.PENANArq2hEJcnwF
209Please respect copyright.PENANAaSkARcOV9y
209Please respect copyright.PENANAVm5p0uPYmT
209Please respect copyright.PENANAWLCgVUyl4A
209Please respect copyright.PENANAa5MY1UZ2wk
209Please respect copyright.PENANAV5rUKa47Jp
209Please respect copyright.PENANATp0CacWd0A
209Please respect copyright.PENANAHAk9PftOVB
209Please respect copyright.PENANAr2F1PJxqaC
209Please respect copyright.PENANAxRp8qIHixR
209Please respect copyright.PENANAPr4HPeHOsj
209Please respect copyright.PENANAYufqLtHfOD
209Please respect copyright.PENANAjanTNjbNBX
209Please respect copyright.PENANAL9BNItNMnC
209Please respect copyright.PENANAOpwH8vUASQ
209Please respect copyright.PENANAEZ4jJzS1je
209Please respect copyright.PENANAEF0LC5z48j
209Please respect copyright.PENANA8jj7y4NaY7
209Please respect copyright.PENANAfFeQVUYuS9
209Please respect copyright.PENANApT75CVZggF
209Please respect copyright.PENANAeHkgb2dgOR
209Please respect copyright.PENANAwhlmL8MZbT
209Please respect copyright.PENANArNf8UvAtwD
209Please respect copyright.PENANAKgzIdmgTYW
209Please respect copyright.PENANAHKDbuGLMqD
209Please respect copyright.PENANASMPvVumrlh
209Please respect copyright.PENANAHuqKFtJMYN
209Please respect copyright.PENANALaSO8nx2nH
209Please respect copyright.PENANA5643ymhutM
209Please respect copyright.PENANAnIIhXRMNBp
209Please respect copyright.PENANAgceFYzewxS
209Please respect copyright.PENANARcWf1TkGyn
209Please respect copyright.PENANAPXyME0FoLF
209Please respect copyright.PENANAExrzoJDeUg
209Please respect copyright.PENANAQLfCDp2kT0
209Please respect copyright.PENANAsSoucOKOX1
209Please respect copyright.PENANAsARJZmGgMG
209Please respect copyright.PENANAGx8Y4mofst
209Please respect copyright.PENANA4q6Rk8yyXD
209Please respect copyright.PENANAQRDrSp3s09
209Please respect copyright.PENANAElNBvW9wRO
209Please respect copyright.PENANAgRNyBM5c1M
209Please respect copyright.PENANAdb2KnNX0Rn
209Please respect copyright.PENANAW0V2o2PEG0
209Please respect copyright.PENANA8xajiTz8us
209Please respect copyright.PENANAMVrGJcUt2k
209Please respect copyright.PENANAOTjpw5QTl6
209Please respect copyright.PENANAJv6srKzpqP
209Please respect copyright.PENANALoS6XjKvRh
209Please respect copyright.PENANAu6Nslin4VN
209Please respect copyright.PENANAI60qFrgJpX
209Please respect copyright.PENANAO0m6J7XCcR
209Please respect copyright.PENANAKcQBwzsE9X
209Please respect copyright.PENANAX940hsfPRT
209Please respect copyright.PENANA88Y9Ld5EEm
209Please respect copyright.PENANAAoNjDmA2hI
209Please respect copyright.PENANAkNDi3T1MdM
209Please respect copyright.PENANAmzEvQSntiI
209Please respect copyright.PENANABYkfM38SRR
209Please respect copyright.PENANAQfuQWU2lDP
209Please respect copyright.PENANAIH55tUNbC0
209Please respect copyright.PENANAmIg6sItrKr
209Please respect copyright.PENANACjIrUQOFoh
209Please respect copyright.PENANACbz1PQFHmj
209Please respect copyright.PENANANlzqB0b7nb
209Please respect copyright.PENANAKFRZIFvcoU
209Please respect copyright.PENANAQk4ue5GbBh
209Please respect copyright.PENANAAtcQ0KNOuB
209Please respect copyright.PENANADTLPIrIvMo
209Please respect copyright.PENANAzwIc8riCGA
209Please respect copyright.PENANASGYCceVN6M
209Please respect copyright.PENANAkitwhJmJVk
209Please respect copyright.PENANA4JmBz0SeRC
209Please respect copyright.PENANAjxsTeEwXdU
209Please respect copyright.PENANA9up0snhtA8
209Please respect copyright.PENANAb013RLhv0i
209Please respect copyright.PENANAODKamDzpGS
209Please respect copyright.PENANAJQXxMujgUS
209Please respect copyright.PENANAoasNwjF1ka
209Please respect copyright.PENANAVheAXnifEY
209Please respect copyright.PENANAocp9JY5A78
209Please respect copyright.PENANANi9COrgic4
209Please respect copyright.PENANAizk6UZf1Xx
209Please respect copyright.PENANABcsnTVrlT6
209Please respect copyright.PENANAtOWKKZ6YaN
209Please respect copyright.PENANA0PzIzETcSL
209Please respect copyright.PENANAxwU030w3xT
209Please respect copyright.PENANAQFDRlN8iQr
209Please respect copyright.PENANArAAwEg4kmd
209Please respect copyright.PENANAYJ32xyIGkr
209Please respect copyright.PENANAxcvcEuSf9N
209Please respect copyright.PENANAhKnCGNj5Ue
209Please respect copyright.PENANAKxbKrTM7ms
209Please respect copyright.PENANA5DS0abXsSO
209Please respect copyright.PENANAVMNjs35W7V
209Please respect copyright.PENANAIzdc8L0mEk
209Please respect copyright.PENANAcCN9ywzWmZ
209Please respect copyright.PENANAXuPHUZCJ6I
209Please respect copyright.PENANAaY24jcBVht
209Please respect copyright.PENANAoMxJaPxDmV
209Please respect copyright.PENANAVmp60J1vyw
209Please respect copyright.PENANAphPL4kUlwa
209Please respect copyright.PENANAND7embbVhN
209Please respect copyright.PENANA5684DYnip2
209Please respect copyright.PENANAXA6rN4Qs65
209Please respect copyright.PENANAdVmiG0fYS2
209Please respect copyright.PENANA14Oe31yf2S
209Please respect copyright.PENANADVUsSDzCjv
209Please respect copyright.PENANA6uotegtiMS
209Please respect copyright.PENANAXBGItO1ugl
209Please respect copyright.PENANAJJ8z8NekGD
209Please respect copyright.PENANAEd9nzOlYv5
209Please respect copyright.PENANAxd6SXyAaAi
209Please respect copyright.PENANANvvLEJEeyJ
209Please respect copyright.PENANANS6KD0Tb18
209Please respect copyright.PENANA2vpWC91PSx
209Please respect copyright.PENANAahpWm79QZ3
209Please respect copyright.PENANAuXIROEDAHU
209Please respect copyright.PENANAuHfP0ukCbV
209Please respect copyright.PENANAiV2czJQXn3
209Please respect copyright.PENANAWjwgA7XM2C
209Please respect copyright.PENANAhEnHUMDDvP
209Please respect copyright.PENANAtimkD34GfE
209Please respect copyright.PENANAKR7NvFs8Ta
209Please respect copyright.PENANACHBQgB3EH8
209Please respect copyright.PENANA8vxrZZ7zne
209Please respect copyright.PENANAyue6s8uoVV
209Please respect copyright.PENANAWDDqjEzutN
209Please respect copyright.PENANAmy6ogwkCkE
209Please respect copyright.PENANATrKjuN8R2R
209Please respect copyright.PENANAv5PNdZ5eDP
209Please respect copyright.PENANAQps3IVFXvt
209Please respect copyright.PENANAIaO73hFGxh
209Please respect copyright.PENANAa5il3YDCrl
209Please respect copyright.PENANAgnmgNcHTvk
209Please respect copyright.PENANAlGusFyRKky
209Please respect copyright.PENANA6YFyIt6iyT
209Please respect copyright.PENANA0B78lUfsmd
209Please respect copyright.PENANAuL8li8477S
209Please respect copyright.PENANAHEites9sud
209Please respect copyright.PENANAq3aQ15SKXJ
209Please respect copyright.PENANAG5KhLlh4Yp
209Please respect copyright.PENANArZzWjBN36Q
209Please respect copyright.PENANAk2Fu6CBHOQ
209Please respect copyright.PENANAgHeMJrVKBW
209Please respect copyright.PENANALk8sPYYeCW
209Please respect copyright.PENANAJkEoW2KcZq
209Please respect copyright.PENANAidzydUkAaF
209Please respect copyright.PENANARcLtY01TXa
209Please respect copyright.PENANAFpRRCzM9E8
209Please respect copyright.PENANAPoTvuGl7hI
209Please respect copyright.PENANA6flYS6uKyp
209Please respect copyright.PENANAzuGa4zN54b
209Please respect copyright.PENANA4JJ53h9rhC
209Please respect copyright.PENANALKqMGm8nHf
209Please respect copyright.PENANAdpNM3kRVRr
209Please respect copyright.PENANATC5X11nTK0
209Please respect copyright.PENANADtas3ejuW2
209Please respect copyright.PENANAO3R15CHuaF
209Please respect copyright.PENANARmGTDXPEA0
209Please respect copyright.PENANABa9imG2oIm
209Please respect copyright.PENANA4YwPrO0qVO
209Please respect copyright.PENANAoEHzMZJ9AB
209Please respect copyright.PENANAuFyDiDPNiZ
209Please respect copyright.PENANAYWPN0rmGOV
209Please respect copyright.PENANAaifGsDV6lt
209Please respect copyright.PENANAKnKvoQ1e7M
209Please respect copyright.PENANARSVuY8J7ai
209Please respect copyright.PENANA2inOWvWIJs
209Please respect copyright.PENANAhT86Q1dDEt
209Please respect copyright.PENANALX0ZzYafFt
209Please respect copyright.PENANAszpHiC6bYg
209Please respect copyright.PENANAHPAxP90jKS
209Please respect copyright.PENANAfiDt5qUhPH
209Please respect copyright.PENANAjOjn4CHvGM
209Please respect copyright.PENANAAoAscmVMF2
209Please respect copyright.PENANAXteZV4ubP7
209Please respect copyright.PENANA81wvo67ez5
209Please respect copyright.PENANAPSPS8g3RPG
209Please respect copyright.PENANAfVwvDVXnGw
209Please respect copyright.PENANA9TwcwQA88n
209Please respect copyright.PENANAqFweY4Uqag
209Please respect copyright.PENANAi1p5ZFqhET
209Please respect copyright.PENANAPllpJFZ3Kh
209Please respect copyright.PENANAs8uXFoSNUh
209Please respect copyright.PENANAWdK6FNJuMZ
209Please respect copyright.PENANAIuUPo1QCAc
209Please respect copyright.PENANA9q6SfQrk2e
209Please respect copyright.PENANAPmDKS1lgxW
209Please respect copyright.PENANA4YWlwlMhLF
209Please respect copyright.PENANAHA8bAW49VA
209Please respect copyright.PENANA4TQV9eL3Kh
209Please respect copyright.PENANA6uw9jrcdei
209Please respect copyright.PENANALil6XjIss6
209Please respect copyright.PENANAvDMj8K4deZ
209Please respect copyright.PENANAziuzZMkOZr
209Please respect copyright.PENANAAS9YNGQcDo
209Please respect copyright.PENANA34vO01ur4L
209Please respect copyright.PENANABEUb9KKnYU
209Please respect copyright.PENANA28nmHkX18F
209Please respect copyright.PENANARXOAaS5Hti
209Please respect copyright.PENANAMQmNQ7e0HU
209Please respect copyright.PENANAtB6FGD2X4h
209Please respect copyright.PENANAl2EEVbMx5F
209Please respect copyright.PENANAY2KqggVrr1
209Please respect copyright.PENANAp0lXlxhlDU
209Please respect copyright.PENANAHkWpAwYE6r
209Please respect copyright.PENANAOpsTbNSOgh
209Please respect copyright.PENANAzPaPYX69oZ
209Please respect copyright.PENANArN36gEHnAs
209Please respect copyright.PENANANDk2NNzbye
209Please respect copyright.PENANAFmksPaUQNU
209Please respect copyright.PENANAIvI5nQ4xL7
209Please respect copyright.PENANAAczloj8hy4
209Please respect copyright.PENANA4jJBSuoxn8
209Please respect copyright.PENANADfJrinzIwQ
209Please respect copyright.PENANA81heBWitrl
209Please respect copyright.PENANAZkeYR4JIvG
209Please respect copyright.PENANAMUDxce049T
209Please respect copyright.PENANAjz08Xvxxzh
209Please respect copyright.PENANA5hD7cm39YO
209Please respect copyright.PENANAzbeJpSUFsa
209Please respect copyright.PENANAwX9dMC3K6I
209Please respect copyright.PENANAYizkt61tFJ
209Please respect copyright.PENANAqDUgjTprmm
209Please respect copyright.PENANAirgIhMPBPa
209Please respect copyright.PENANAvwNDPEZnSQ
209Please respect copyright.PENANAihbdCLVmgz
209Please respect copyright.PENANAiIdUxC11LL
209Please respect copyright.PENANA1nG918LZuB
209Please respect copyright.PENANAYQ6dOKB1YW
209Please respect copyright.PENANAA7RiXsIn5g
209Please respect copyright.PENANACQzMG0o8kH
209Please respect copyright.PENANA0p0cfsyfnK
209Please respect copyright.PENANAWKkKecoaHS
209Please respect copyright.PENANAicM9tYnhPg
209Please respect copyright.PENANA2jVCGNz3l8
209Please respect copyright.PENANAa7IXEmPRwe
209Please respect copyright.PENANAnwGr1sTrGY
209Please respect copyright.PENANAMbS5yoSa44
209Please respect copyright.PENANAow5yPUwuXY
209Please respect copyright.PENANAFEBszzt83O
209Please respect copyright.PENANAPEP4hYa7s7
209Please respect copyright.PENANA92DEPoc6KB
209Please respect copyright.PENANAJKMg8IQC29
209Please respect copyright.PENANAfin0JYXJuM
209Please respect copyright.PENANAL58HZTOtos
209Please respect copyright.PENANA5k5gmU0xqh
SELESAI!209Please respect copyright.PENANAzdiFELcdV4
209Please respect copyright.PENANAN7zAUlj2es


