From Short Story323Please respect copyright.PENANANnkdBY2W1h
323Please respect copyright.PENANALuoPrcoR6S
323Please respect copyright.PENANAkoUNxRB3HW
323Please respect copyright.PENANARAbEZwmO1P
323Please respect copyright.PENANAkaVvWeJcQv
KOLEKSI CERITA GAY NAKAL LOKAL323Please respect copyright.PENANANsw2cjaLJV
323Please respect copyright.PENANAbXXb0s4juK
323Please respect copyright.PENANADIVVDd807M
323Please respect copyright.PENANAJetATE4Di6
323Please respect copyright.PENANAHBnt1H4tG6
By belok-sana-sini (cowokxcowok)323Please respect copyright.PENANAEa6j9rcMmZ
323Please respect copyright.PENANAEU4Neriu6G
323Please respect copyright.PENANA3KD0fJsFk6
323Please respect copyright.PENANAaYA5ve3L4V
323Please respect copyright.PENANAfvE9BkcEFG
***323Please respect copyright.PENANAVN1fXVPQXC
323Please respect copyright.PENANAELyTORNmGc
323Please respect copyright.PENANA3hsvCRvmtT
323Please respect copyright.PENANAPxQ8wE6CFn
323Please respect copyright.PENANA4Y4N1XjhTU
"Eughh aahh, aah Mash Maltinh jahan kenyeng-kenyeng nyodoknyah ahh ahh, Mashh~!"
Kiki. Tahun ini ia resmi berusia 18 tahun dan remaja itu paling tahu bagaimana cara memuaskan nafsu bejat kakak iparnya sendiri, Martin, 28 tahun.
"Mashh, mmhh mmahh kyahayanya akhu eughhh mhh~" Mulut Kiki udah gak kuat nampung penis Martin yang seukuran sepergelangan tangan pria itu. Mulutnya udah mulai pegal sejak 10 menit lalu terus ngemut penis pria itu.
“Eughhh kamu kenapa, Ki? Keenakan? Minta mas sodok makin keras? Buhh ahh, lidah kamu ngejilat-jilat kontolku enak banget tahu, Kii!” racau Martin sambil terus menggoyangkan pantatnya.
Mereka bersenggama dengan posisi 69, tepatnya Kiki berada di bawah Martin. Kiki yang sudah lemas dan tak mampu menopang berat badannya sendiri cuma pasrah menjadikan tubuh kekar kakak iparnya sebagai alas tempat tidurnya.
Dan Martin, sesekali ia menjilati anus Kiki yang berada di atas wajahnya. Mainan lucu itu udah becek banget setelah satu jam lalu terus-terusan Martin sodomi.
"Ahh eughh, Myash Maltin ghelih, ahh ghelihh ah arhh ennakh bageth, ahh ah~!" Dengan mulut penuh, Kiki masih sempat-sempatnya meracau sambil mendesah-desah.
"Kikiii! Eughhh mulutmu makin lama makin kayak jalang ah ahh, ahh ah, kamu kurang ajar sama kontolku, yaa! Ahh eughh ahhh, ahh ahh!"
Martin memejamkan matanya erat ketika merasakan mulut Kiki mengemut kejantanannya sampai mentok. Seluruh tubuhnya menegang dan ia merasakan kenikmatan luar biasa itu hampir sampai padanya.
Sementara tubuh Kiki yang ada di bawahnya dengan bokong berada di depan wajah Martin. Ia memasukkan kelima jarinya sekaligus ke dalam dubur Kiki sampai pergelangan tangannya, membuat remaja itu langsung melotot sambil melengkungkan tubuhnya dengan bohong berisinya yang makin naik ke atas. Tubuh rampingnya yang berkilap oleh keringat, melengkung tegang gemetaran. Sebuah mahakarya indah. Siapa pun yang melihatnya pasti ingin menjilati tubuhnya.
"Aarghhhh! Setan enak banget!!! Arghhh! Ahh! Ahhhh!" Martin mendesah panjang tatkala orgasme. Dengan kencang ia makin menusukkan penisnya ke dalam mulut Kiki, memaksa remaja itu untuk menelan semua sperma yang keluar.
Kiki sendiri udah hafal banget sama kebiasaan Martin yang satu ini, jadi dengan telaten. Remaja itu memposisikan selangkangan Martin di depan wajahnya dan ketika Martin mulai orgasme, remaja itu mengurut penis Martin seperti seekor kucing yang sedang menyusui dan menyedot semua sperma yang keluar dengan wajah keenakan.
Dulu ketika pertama melakukan ini, Kiki hampir muntah, rasa sperma gak seperti yang ia baca di web novel— yang katanya rasanya seperti susu tapi sedikit asin— waktu itu rasa sperma Martin asin amis dengan sedikit pahit, belum lagi tekstur lengketnya. Tapi sekarang Kiki bisa menelannya seperti sedang menelan susu cair.
Kiki tak bisa berhenti menggerak-gerakkan pinggulnya gara-gara Martin memasukkan kelima jarinya sekaligus ke dalam anusnya, kini anusnya terasa gatal kembali sekaligus sedikit perih. Rasanya penuh banget, apalagi di dalam sana Martin terus mengobok-obok bagian dalam lubangnya yang sensitif. Membuatnya semakin becek dan terus mengeluarkan lebih banyak lendir berbau pesing.
Martin mengobok-obok anus Kiki seperti mengobok-obok aquarium, tapi ini yang mabuk bukan ikan tapi kewarasan Kiki yang makin menipis gara-gara keenakan. Jari-jari Martin menjelajah ke segala tempat, bahkan memegang-megang prostat Kiki hingga membuatnya makin kelimpungan seperti cacing terkena air garam.
Kiki melepeh penis Martin. Bibir dan dagunya kotor oleh sperma kakak iparnya yang gagal ia telan.
“Mas Martin eughhh, ahh ah kamu ngapain lubangnya aku? Ahh eughhh sakit, Mas. Ahh, ahh!” Lain dimulut lain ditubuh. Cincin pantat Kiki Makin terbuka lebar seperti orang kelaparan, lendirnya makin banyak, membuat tangan Martin makin bebas keluar-masuk mempermainkannya.
“Udah, kamu nurut aja, Ki. Biar Mas bikin kamu enak juga.” Martin tertawa saat melihat tubuh Kiki melengkung di atasnya, sementara bokongnya semakin menungging dengan kaki mengangkang.
“Mhasshh Martiiin!! Ahh ahh, eughh ahh euhhh ahh!!” Kepala Kiki rasanya muter-muter.
Martin menikmati pemandangan panas di atasnya. “Relaks, Ki. Keluarin semua yang bisa kamu keluarin, nanti rasanya enak.”
Bersamaan dengan tangan nakalnya, Martin juga menjilati penis Kiki dan menampung seluruh sperma Kiki yang keluar di dalam mulutnya.
Martin menarik tangannya keluar dari dalam anus Kiki, terlihat lendir yang banyak membuat sebelah tangan Martin tampak mengkilat. Ia lalu menurunkan tubuh telanjang Kiki yang masih lemas dari atas tubuhnya, membalik tubuh itu hingga wajah mereka bertatapan, lalu menarik tengkuk Kiki— dengan sebelah lengan berotot Martin yang mendekap leher Kiki— lalu mencium remaja itu untuk mengembalikan sperma milik Kiki yang Martin tampung di dalam mulutnya.
Kiki yang masih linglung, membuka mulutnya nurut. Menelan sperma hangat miliknya sendiri lewat mulut Martin. Setelah yakin Kiki menelannya, ciuman Martin mulai merambat ke wajah Kiki sebelum akhirnya membasahi kedua kelopak mata Kiki dengan penuh nafsu oleh liurnya.
Kecupan-kecupan itu terasa kasar, tapi Kiki menyukainya. Basah liur dan bau mulut Martin tak membuatnya jijik, justru sensasi itu membuat Kiki semakin jatuh ke dalam obsesi yang dinamainya 'cinta'. Entah sudah seberapa dalam Kiki jatuh ke dalam sensasi memabukkan yang disukainya itu. Yang jelas, masa depannya tidak akan ia gunakan untuk merangkak naik dari jurang itu.
Kiki tersenyum saat Martin mengecup pangkal hidungnya. “Geli, ahh, Mas.” Ia balas menggigit pangkal hidung Martin main-main.
Martin meringis. Kiki tertawa puas.
"Rasain. Nakal, sih."
"Dikatain nakal sama yang paling nakal, nih, ceritanya."
"Wleek! Bodo amat!"
Tubuh Kiki lemas total, seluruh badannya penuh sperma dan peluh. Ia ambruk di atas dada Martin, kepalanya berbantalkan dada bidang Martin yang sama berpeluhnya dengan dirinya.
Kiki memeluk tubuh itu sayang, ia sempat melirik Martin yang memejamkan mata sambil mengatur napasnya yang memburu selepas bercinta satu jam lebih dengannya.
Tangan Kiki mengelus jakun Martin dengan memuja. "Mas Martin gagah banget, deh," katanya.
Martin tertawa singkat. "Kamu juga pinter banget ngepuasin Mas, Ki."
Kiki menyusupkan wajahnya ke dada bidang Martin. "Apa, sih! Bikin malu aja, deh."
"Eh, serius. Sejak rutin ngewe sama kamu, setiap hari Mas jadi makin semangat kerja."
"Sambil mikirin nanti malam mau entotin aku pakai gaya apa lagi, kan? Dasar mesum!" tebak Kiki sarkastik.
Tangan Martin yang memeluk pinggang ramping Kiki mencubit pantat remaja itu yang kini kulit putihnya penuh bekas kemerah-merahan akibat tamparannya.
"Kamu emang paling tahu pikiran Mas, Ki." Martin menciumi ceruk leher Kiki.
Dengan semangat, tangan Kiki meraih penis Martin yang udah melemas, memijat-mijatnya dengan telaten hingga membangunkannya kembali.
Martin mengerang. "Ki, ini udah hampir jam lima pagi, loh," katanya.
"Terus kenapa, Mas?" Kiki masih mengurut penis Martin hingga semakin mengeras.
"Kakak kamu Si Melinda biasanya bangun jam setengah enam," jawabnya. "Mas harus cepat-cepat ke kamarnya biar hubungan kita gak ketahuan."
Kiki cemberut. "Tapi aku, kan, masih kangen sama Mas Martin. Kita udah seminggu gak ngeseks loh, Mas."
Tadi siang, Martin baru aja pulang setelah seminggu dapat tugas ke Bandung.
Martin melepaskan dekapannya pada Kiki, lalu melebarkan kakinya. Ia lalu memposisikan penisnya yang sudah bangun ke selangkangan Kiki yang kini tampak memerah dan merekah seperti mawar merah yang baru mekar.
"Emangnya Mas Martin gak kangen sama aku? Gak kangen sama bokongku?" Kiki menggesek-gesek belahan pantatnya di atas penis Martin yang sudah kembali berdiri.
"Kamu benar-benar jalangnya Mas, ya, Ki." Martin bersiap-siap menyodomi Kiki kembali sambil menjilat-jilat bibirnya penuh nafsu. "Mas sodok kamu brutal ya, soalnya kita gak punya banyak waktu."
Kiki kesal dengan ungkapan 'gak punya banyak waktu', andai aja Martin bukan suami kakaknya, pasti Kiki udah jadiin Martin miliknya sepenuhnya dan mereka tak perlu berhubungan sembunyi-sembunyi seperti ini.
Meski kesal, Kiki tetap mengangguk senang lantaran Martin masih mau menggagahinya meski terburu-buru.
"Walau tubuhmu bukan cuma buat aku dan aku berniat mengurung Mas Martin cuma buat aku, tapi ya apa boleh buat!" Kiki membuka kakinya lebar. "Sebagai gantinya, walau ini gak adil, tapi tubuhku cuma buat Mas Martin."
***323Please respect copyright.PENANA3nlVoCrFPq
323Please respect copyright.PENANA7LqKYBNypP
323Please respect copyright.PENANAr3VxRl7NmB
323Please respect copyright.PENANAAWSlmDWJvL
323Please respect copyright.PENANAmhQ00D33rm
Pukul setengah tujuh pagi. Martin dan Melinda sudah duduk duluan di meja makan dengan pakaian rapi mereka untuk bekerja. Sarapan pagi itu adalah omelette dan nasi goreng, dimasak oleh Martin.
"Mas, padahal kita bisa beli aja, loh. Kamu kan jadi capek-capek harus masak begini," kata perempuan dengan rambut hitam sepanjang bahu yang telah dinikahinya selama satu tahun itu.
Martin merangkul pundak Melinda dan menyuruhnya duduk, kemudian laki-laki itu duduk di samping perempuan berstatus istrinya yang beberapa tahun lebih tua darinya tersebut.
"Kebetulan aku bangun duluan, jadi sekalian aja, deh." Itu alasan paling bagus yang dibuat Martin karena Melinda yang tak bisa masak akan langsung luluh.
Melinda mencium pipi Martin mesra. "Maaf ya, Mas. Aku belum sempat kursus masak. Pesanan gaun pengantin di butik lagi banyak-banyaknya, belum lagi kemarin ada dua orang yang komplain. Aku pusing."
Dari belakang punggung kedua pasangan itu, Kiki melihat kakaknya mencium pipi Martin. Ia mengepalkan tangannya; cemburu.
"Sayang, kamu juga jangan capek-capek dong, nanti kalau kamu udah gak terlalu sibuk, kita pergi liburan," kata Martin tersenyum cerah.
"Terus gimana sama kerjaan kamu?"
"Gampanglah, aku tinggal ambil cuti."
"Terakhir kamu cuti tuh pas kita nikah gak, sih, Mas?"
Martin tertawa. "Itu udah lama banget, Yang."
Melinda menepuk pundak Martin. "Kamu sih, gila kerja."
"Aku keinget aja gimana susahnya dulu cari kerjaan, makanya sekarang aku kerja keras banget, itu juga buat kamu, Sayang."
"Kamu bisa aja, deh, Mas." Melinda dan Martin saling berpelukan.
Kiki memutar bola matanya muak melihat kemesraan kedua orang itu. Kalo bisa muntah, ia bakalan muntah sekarang.
Menghentakkan kakinya keras sambil berjalan menuju meja makan demi menyita perhatian sepasang suami(selingkuhannya)-isteri itu. Jelas saja, Martin dan Melinda langsung melepaskan pelukan mereka.
"Pagi, Mbak Mel," sapa Kiki. "Pagi, Mas Martin."
Kiki lalu mendudukkan bohongnya di kursi yang berhadapan dengan Martin.
"Pagi juga, Kiki," jawab Martin kikuk.
Malinda mengernyit heran. "Kiki, kaki kamu kenapa? Kok Mbak perhatiin, jalan kamu agak aneh? Kayak ngangkang gitu? "
Untung Martin gak lagi makan atau minum, kalau iya, pasti udah tersedak.
"Kamu gak berantem, kan, di sekolah?" Melinda memperlihatkan raut khawatir.
Kiki jadi sedikit merasa bersalah. Sedikit aja, soalnya lebih banyak enaknya. "Tadi pagi kepleset di kamar mandi," bohongnya.
Padahal penyebab jalannya aneh adalah orang di samping Melinda, suaminya sendiri, yang segera menyelinap masuk ke kamar Kiki dan langsung menggagahinya begitu istrinya tertidur lelap.
Melinda berdecak. "Kamu, nih, Ki. Lain kali lebih hati-hati lagi, dong."
"Namanya juga musibah, Mbak." Kiki melirik Martin ketika mengatakannya.
"Udah diobatin?" Melinda meraih ponselnya yang tiba-tiba berbunyi.
"Udah, bagian yang memar udah aku olesi pakai salep." Ia tak bohong. Bagian pantatnya yang memar gara-gara dimakan Martin memang sudah ia obati dengan salep.
“Iya, halo? Ada apa Ayu jam segini telepon? Ini saya lagi sarapan, sebentar lagi berangkat ke butik.”
Kiki mengambil nasi goreng yang ada di depannya dan meletakkan di piringnya. Ia melirik Melinda yang sibuk ngobrol ditelepon sambil menunggu mereka, lalu melirik Martin yang pura-pura cari kesibukan. Dengan jail, Kiki menyenggol kaki Martin hingga pria itu menatapnya sambil mengedip genit. Di bawah meja, kaki mereka berdua saling senggol-senggolan; saling menggoda.
Kedua laki-laki itu diam-diam saling main mata. Tatapan Martin seperti mengatakan 'jangan lakukan itu di sini, lihat siapa yang ada di sampingku? Kakakmu, istriku', tapi Kiki tak mengindahkan peringatan Martin.
Dengan sengaja, Kiki menjatuhkan sendoknya. Kelontang! Bunyinya nyaring, hingga untuk sesaat Melinda menoleh. Tapi itu tak berlangsung lama, karena isi percakapan diteleponnya lebih penting daripada sekadar bunyi gaduh.
“Eh, iya, kenapa tadi, Yu? Stok kain sutra digudang kan bukannya udah aku stok, ya, bulan lalu? Kok bisa, sih?”
"Aduh, sendokku jatuh." Kiki sengaja bicara seperti itu sambil melirik Martin genit. Seakan mengatakan 'Tuh, istrimu goblok.'
Kiki lalu berjongkok, merangkak di bawah kolong meja, namun alih-alih mengambil sendok yang sudah ada di depan matanya dan naik ke atas. Kiki justru merangkak mendekati kaki Martin sambil menggenggam sendok tersebut.
Ia mengemut kepala sendoknya dan membasahinya dengan liur, membiarkan sendok itu tetap berada di mulutnya, sementara kedua tangannya mulai mengelus-elus kejantanan Martin yang terbungkus celana hitam.
Martin melirik Melinda yang masih memunggunginya sambil menelepon, ketika ia merasakan tangan-tangan Kiki mulai membuka resleting celananya dengan pelan. Lalu embusan napas hangat Kiki yang Martin rasakan berada di area selangkangannya, tepat di depan penisnya yang perlahan-lahan mulai mengeras.
Di bawah meja, Kiki mengeluarkan sendok tersebut dari mulutnya, lalu menyusupkan kepala sendoknya ke dalam celana dalam Martin, menggosok-gosokkan sendok itu di antara zakar dan testis.
Martin mengigit bibir bawahnya menahan desahan, ia tetap berusaha makan senormal mungkin sambil sesekali melirik Melinda dengan waspada.
Kiki memang paling tahu bagaimana cara membangunkan libido Martin, meski dalam situasi seperti itu, akhirnya Martin menyerah dan semakin melebarkan kakinya untuk memberi Kiki akses ke selangkangannya. Sejak ia melakukan itu, Kiki segera menarik penis Martin keluar dari dalam celana dalam, memasukkan penis tersebut ke dalam mulutnya dengan lidah yang menjilatinya.
Karena mereka sedang sarapan, jadi Kiki membayangkan sedang mengemut sebuah sosis utuh, sosis yang sangat besar dan cukup panjang berwarna kehitaman. Sebuah sosis yang dapat membuat lubang anusnya terasa sangat sesak dan membuatnya ketagihan.
Sosis itu akan mengeluarkan selai susu dari ujung kepalanya jika ditekan-tekan lembut dan dijilat-jilat seperti ini. Dikeluar-masukkan dari dalam mulut beberapa kali kemudian— CROOOT!
Wajah Kiki disembur sperma milik Martin, sebelum wajahnya semakin kotor, ia segera membuka mulutnya lebar dan menampung semua mani itu di dalam mulut, menyedotnya rakus seperti mengempeng.
Tubuh Martin sedikit bergetar ketika merasakan ejakulasi, ditambah Kiki yang kini sedang menelan sperma miliknya seakan itu adalah rasa susu kesukaannya.
"Loh, Kiki ke mana?"
Jantung Martin seperti dihantam dengan raket ketika tiba-tiba Melinda sudah selesai dengan teleponnya dan langsung menanyakan keberadaan sang adik.
"Eh, tadi Kiki— "
Martin merasakan Kiki yang menepuk penisnya dua kali lalu setelah itu, Kiki tiba-tiba muncul dari dalam kolong meja.
"Sendokku tadi jatuh, Mbak. Makanya aku ambil dulu." Kiki mengatakannya dengan senyum sumringah.
Melinda menggeleng tak habis pikir. "Kamu, nih, ceroboh banget, sih. Udah jangan dipakai lagi sendok itu, kotor tahu, ambil aja sendok yang baru."
"Iya, iya." Kiki meletakkan sendok yang jatuh tadi di samping piringnya dan mengambil sendok yang baru.
Diam-diam, saat Kiki dan Melinda sedang ngobrol. Martin langsung memasukkan penisnya ke dalam celana lagi.
"Mas, maaf banget ya, aku gak bisa nemenin kamu sama Kiki sarapan, aku buru-buru, di butik ada masalah dan aku harus turun tangan biar gak makin kacau," sesal Melinda.
"Kamu belum habisin makanan kamu, loh, Yang?" kata Martin.
"Mau gimana lagi, maaf yaa. Lain kali, aku janji biar aku yang masak."
Martin mengelus kepala Melinda. "Tapi nanti di sana kamu jangan sampai lupa makan, oke?"
"Oke."
Melinda mencium punggung tangan Martin.
"Kiki."
Kiki langsung berdiri dan mencium tangan kakak perempuannya itu.
"Hati-hati di jalan, Mbak Mel."
"Iyaa. Kamu juga sekolah yang bener, ya. Mbak berangkat kerja dulu."
"So pasti, Mbak Mel."
"Mas, aku berangkat duluan, ya."
"Iya, Sayang. Hati-hati ya, telepon aku kalau kamu udah senggang nanti."
Tak berapa lama kemudian, suara mobil Malinda terdengar meninggalkan garasi rumah. Menyisakan Kiki dan Martin di dalam rumah itu.
"Mas Martin, aku juga mau loh dipanggil sayang kayak panggilan buat Mbak Mel," kata Kiki tiba-tiba sambil menopang dagunya.
Martin tertawa. "Kamu tahu, kan, Ki. Hubungan kita itu kayak apa? Tapi kalau kamu mau, Mas bakalan kasih kamu panggilan yang lebih spesial lagi."
Kiki menarik sebelah alisnya. "Contohnya?"
"Baby's tight and wet bum," ucap Martin sambil menjilat bibirnya genit.
Kiki tertawa kecil. "Apaan, sih, Mas Martin. Kekanak-kanakan banget, deh." Kiki melempar sepotong angkur pada Martin. "Emangnya aku bayinya Mas apa."
"Iya, sih. Kamu lebih dari sekadar panggilan mesra-mesraan kayak gitu."
Martin menarik tangan Kiki dan membawanya naik ke atas pangkuannya. Martin lalu meraih dagu Kiki dan mengecup bibirnya.
"Aku gak nyangka kalau Melinda berangkat duluan, aku pikir kita bakalan berangkat bareng-bareng dengan mobil beda-beda kayak biasanya."
Kiki mengalungkan kedua tangannya di leher Martin. Remaja itu memejamkan matanya menikmati setiap kecupan yang Martin layangkan untuknya.
"Gara-gara itu, sekarang kita berdua punya waktu lebih buat mesra-mesraan kayak gini."
Kiki menggesek-gesekkan pantatnya yang menduduki penis Martin yang dirasakannya mulai mengeras sejak disepong tadi.
"Mas Martin mau sarapan pakai pantat aku?" Kiki berbisik sensual di samping telinga Martin.
Martin merengkuh pinggang Kiki yang masih terbalut seragam sekolah. "Kiki sendiri gimana? Mau gak Mas jadiin sarapan?"
Dengan tanpa malu-malu, Kiki mengangguk. Jujur aja, posisi duduknya sekarang dan obrolan mereka yang menjerumus sudah cukup membuat lubang Kiki berkedut-kedut gatel.
Martin langsung menciumi ceruk leher Kiki gemas sebagai pembuka dari sarapan spesialnya. Kiki yang tak sabar untuk segera dimangsa pun mendongakkan lehernya, kode memberi akses lebih untuk Martin. Lidah pria itu bermain dengan sangat liar, ia menjilati seluruh area yang dapat dijangkaunya, menggigitnya pelan, pelan, pelan, dan meninggalkan banyak jejak kebiruan. Seperti seekor serigala yang sedang menandai pasangannya.
“Ohh mmhh, Mas eughh ahh, Mas... Mas Martin ahh ahh, ahh.” Kiki sungguh menikmati kecupan-kecupan yang dihadiahkan oleh Martin.
"Kiki hari ini sekolahnya bolos dulu, ya," bisik Martin di belakang telinga Kiki.
Dengan air liur menetes dan mata berkunang-kunang merasakan sensasi nikmat disekujur lehernya. Kiki mengangguk lemah; menyetujui perkataan Martin.
"Ahh padahal Mbak Mel tadi baru bilang supaya aku rajin sekolahnya ah, Mas Martin kebiasaan ahh geli ah!" racaunya.
Tangan Martin menelusup masuk ke dalam celah seragam Kiki dan memelintir puting susunya.
"Jadi Kiki lebih nurut sama Mas atau sama mbakmu itu? Hmm?"
Kiki membusungkan dadanya gara-gara ulah Martin. Rasanya sakit, enak, geli, enak, geli, sakit, rasanya aneh? Yang jelas Kiki ketagihan dengan pelintiran tangan Martin pada putingnya.
Lalu, dengan nakal, Kiki memegang dagu Martin dan berkata di depan wajahnya, "Kalau Mas Martin sanggup sodomi aku sampai kering, aku bakalan jadi jalangnya Mas Martin selamanya." Lalu Kiki mencumbu laki-laki dewasa itu penuh nafsu.
Martin menyambut lidah Kiki yang masuk ke dalam mulutnya. Ia lingkarkan tangannya dipinggang Kiki di mana tubuh remaja itu menempel padanya sambil sesekali meremas bokongnya.
"Ahh ah, Mas Martin ahh aku cinta sama kamu ah."
Martin kembali menyambut kecupan itu. "Mas juga cinta banget sama Kiki."
Sejak kapan Kiki dan Martin memiliki hubungan terlarang seperti ini? Padahal Martin berstatus kakak ipar dari suami kakak kandungnya sendiri?
Kira-kira kisah asmara terlarang mereka dimulai sejak Kiki ikut tinggal bersama Martin dan Melinda di Jakarta.
Awalnya karena Melinda mau Kiki sebagai satu-satunya adiknya, ia mau Kiki sekolah di sekolah yang bagus dan kebetulan anak itu cukup pintar dan mudah bergaul, orang tua mereka yang udah tua juga setuju Kiki ikut Melinda. Belum lagi, meski sudah setahun menikah, Melinda dan Martin belum juga dikaruniai anak, jadi kehadiran Kiki tak akan terlalu merepotkan mereka.
Tapi seakan menyimpan bola sepak yang sebenarnya adalah bom waktu. Melinda tak tahu bahwa sejak seminggu kedatangan Kiki ke rumahnya, Kiki mulai menaruh ketertarikan seksual terhadap Martin, suaminya sendiri, yang sekarang berstatus kakak ipar Kiki.
Alasannya? Alasannya karena wajah dan fisik juga tindak tanduk Martin yang mirip dengan seorang idola yang Kiki sukai sejak SMP. Karena Kiki masih remaja, jadi ia sering penasaran dengan semuanya. Termasuk seks.
Memangnya kucing mana yang tak akan tertarik jika disuguhi ikan tuna? Sayangnya, Martin adalah kakak ipar Kiki, terlebih keduanya sama-sama laki-laki. Jadi sambil menahan diri, Kiki cuma mengagumi Martin dalam diam karena ia masih cukup tahu diri untuk tidak menghancurkan hubungan adik ipar - kakak ipar di antara mereka.
Itu sebelum Kiki sadar bahwa diam-diam, ternyata Martin juga melihatnya dan menaruh ketertarikan seksual terhadap remaja itu. Selama seminggu pertama Kiki tinggal di rumah sepasang suami-isteri itu, baik Kiki dan Martin perlahan-lahan memberikan lampu hijau bahwa mereka saling tertarik satu sama lain.
Hingga akhirnya Kiki resmi menjadi simpenan Martin.
Waktu itu adalah malam yang cukup ribut karena hujan mengguyur bersamaan dengan petir yang menggelegar serta angin ribut yang amat kencang. Martin dan Melinda menghabiskan waktu yang sangat panas sebagai suami-istri di kamar mereka.
Sayangnya seseorang yang tahu apa yang sedang mereka lakukan dan tanpa punya hak, Kiki cemburu.
Diam-diam Kiki datang mengendap-endap di depan kamar Melinda dan Martin. Ia mengintip kegiatan rutin suami-isteri itu yang biasa mereka lakukan setiap malam tanpa mengunci pintu kamar. Konyolnya, mereka lupa bahwa di rumah itu sekarang ada Kiki yang ikut tinggal bersama mereka.
Kiki membuka pintu itu sedikit dan mengintip kegiatan mereka. Seketika, seluruh tubuh Kiki panas-dingin ketika melihat kedua orang itu tak menggenakan baju di atas ranjang, terlebih dengan penis besar Martin yang membuat mata Kiki seketika melotot; Martin sedang menyetubuhi Melinda. Laki-laki itu menindih kakak Kiki dan mulai menggerak-gerakkan pinggulnya dengan kedua kaki Melinda yang melingkar di pinggang Martin.
Kedua tangan Melinda terlentang pasrah dengan dipegangi oleh Martin. Sambil mencium istrinya, Martin terus menggenjot vagina Melinda yang terasa semakin panas dan begitu kuat menjepit penisnya.
Suara desahan dan derit ranjang memenuhi ruangan itu. Hingga dinginnya malam dikala hujan tak mampu meredam panas aktivitas ranjang mereka.
Kaki Kiki bergetar ketika mendengar erangan Martin yang terdengar begitu gagah ditelinga Kiki sampai membuat lututnya lemas. Kiki masih melihatnya, saat Martin mempercepat gerakan pinggulnya sambil menciumi leher Melinda yang sedang mendesahkan nama sang suami keras-keras. Mas Martin, Mas Martin, Mas Martin. Terdengar begitu merdu. Nama itu... Kiki juga ingin meneriakkan nama Martin seperti itu. Sambil digagahi begitu dahsyatnya oleh kejantanan itu.
Beberapa saat kemudian, Kiki melihat Martin mencabut penisnya dari vagina Melinda. Seketika Kiki merinding melihat ukuran penis kakak iparnya. Remaja itu semakin berkeringat panas-dingin.
Sesuatu di balik celananya makin mengeras dan terasa sakit. Kiki memasukkan tangan kanannya ke dalam selangkangannya, di balik celana dalamnya. Sambil mengelus-elus penisnya sendiri, Kiki terus menyaksikan bagaimana Martin membenamkan wajahnya di tengah vagina Melinda yang basah. Kepalanya maju-mundur, Kiki menebak Martin mungkin sedang menjilati vagina Melinda, seperti video porno yang pernah ditontonnya beramai-ramai di sekolah.
Kiki menelan salivanya gugup. Pandangan matanya tak lepas dari penis Martin yang gondal-gandul.
“Terong Belandanya besar sekali.” Tanpa sadar Kiki ngeces.
Ia benar-benar penasaran bagaimana rasanya jika benda sebesar itu membelah pantatnya. Apa sakit? Atau justru terasa enak? Kiki penasaran sekali. Membuatnya tanda sadar onani sambil membayangkan bahwa yang berada di bawah kurungan Martin sambil telentang pasrah di atas kasur itu adalah dirinya sendiri...
Kiki Yudistira.
Dengan libido yang semakin naik tiap kali membayangkan dirinya lah yang sedang disetubuhi Martin. Kiki kini membuka celananya dan menurunkannya sampai sebatas lutut. Ia memegang penisnya yang ukurannya tak sebanding dengan milik Martin. Lalu mulai mengurutnya, ia memejamkan matanya, membayangkan bahwa tangan-tangan Martin yang sedang memegang penisnya.
Ketika Kiki membuka matanya, keringat menetes diwajahnya, kini Melinda sedang menungging, sambil kedua tangannya diborgol dari belakang dengan satu tangan Martin, sementara tangan kirinya mencekik leher Melinda. Martin menyodok anus Melinda dari belakang. Sekilas terlihat seperti seseorang yang sedang menunggangi kuda.
"Mas Martin aku keluar eughhh!!"
Kiki udah gak tahan lagi! Dengan nekat ia duduk di lantai sambil ngangkang, ia memasukkan kedua jarinya ke dalam anusnya. Tapi itu tidak cukup, rasanya sakit dan sangat sulit. Ia harus mengeluarkan suaranya, desahannya untuk mengurangi rasa sakit, tapi itu tak mungkin sehingga ia harus menggigit bibirnya sendiri sampai memar.
Sepasang mata Kiki masih menyaksikan bagaimana kini Martin sedang menyetubuhi Melinda. Jadi ia inisiatif untuk membasahi jari-jarinya dengan ludah, dan sambil membayangkan bahwa jari-jari itu adalah penis Martin. Kiki mulai menjamah anusnya sendiri yang terasa gatal dan berlendir sejak beberapa saat lalu.
Kiki semakin kencang mengigit bibir bawahnya sendiri agar tak mendesah, ia tak ingin ketahuan oleh orang yang disukainya bahwa ia adalah seorang remaja dengan pikiran cabul. Tapi Kiki juga tak bisa menampik bahwa ia begitu mendamba ingin merasakan disodomi oleh Martin. Kiki ingin merasakan bagaimana penis Martin memperkosanya sepuas pria itu, Kiki benar-benar sangat ingin merasakan penis Martin yang gagah berlumuran sperma berada di dalam mulutnya. Meremehkannya dan merasa menang setelah berhasil menundukkan Kiki dengan merebut keperjakaannya.
Sambil membayangkan hal-hal cabul seperti itu, Kiki menambahkan satu jarinya lagi di dalam anusnya yang sudah mulai sangat becek. Ia menambah kecepatan sodokan tangannya sendiri sambil sesekali menggerak-gerakkan pantat dengan gerakan menguleni. Rasanya sangat nikmat, meski pun mungkin akan lebih terasa nikmat jika penis Martin berada di dalam anusnya yang sudah seperti jalang ini—
"Kiki? Kamu lagi ngapain?"
Kiki membuka matanya lebar begitu mendengar suara Martin tepat di depan wajahnya, sedang berdiri sambil menatapnya kaget. Kiki merasa sangat malu sudah ketahuan basah begini, sialnya lidah Kiki kelu, kakinya tak mau turun dan masih saja terus mengangkang lacur seperti ini.
Martin yang kini masih telanjang bulat memperhatikan tangan Kiki yang masuk ke dalam anusnya sendiri, terlihat cairan bening disekitar pergelangan tangan dan bokong remaja itu.
"Mas dengar, Kiki nyebut-nyebut nama Mas dari tadi sambil begituan."
Kiki gak tahu mau alasan apa, belum lagi tatapan matanya malah gak mau lepas dari penis Martin yang masih berdiri melengkungkan ke atas seperti pisang, dan Martin sadar, bahwa sejak tadi Kiki terus memperhatikan kejantanannya sambil ngeces.
Martin berjongkok. "Kamu lagi nyebayangin diperkosa sama Mas sambil nontonin Mas ngeseks sama Mbakmu, ya?"
Kiki menelan salivanya gugup. Karena udah ketangkap basah begini, akhirnya Kiki cuma bilang, "Ma-maaf Mas Martin aku udah— mmhhh!"
Tapi belum selesai kata-katanya terurai, mulut Martin lebih dulu membungkam mulut Kiki dengan ciuman.
Kiki tahu ini adalah ciuman penuh nafsu, karena sudah sejak lama, ia begitu menginginkan dijamah oleh Martin. Jadi Kiki menyambut hangat ciuman Martin untuknya dan remaja itu sungguh kecewa tatkala Martin melepaskan ciuman mereka, pria itu lalu menampar pelan penisnya sendiri sambil tersenyum mesum.
"Kamu loh yang godain aku duluan dengan pose cabul kayak gini, jadi jangan marah kalau kontolku ini akhirnya mengobrak-abrik anusmu, Ki."
Kiki merinding mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Martin, tapi disaat bersamaan, ia justru menyambut niat Martin dengan binar senang dimatanya. Seperti fantasi liarnya akan segera menjadi kenyataan sekarang.
"Mas Martin mau ngeseks sama aku juga?" Jantung Kiki berdebar-debar.
"Umur kamu berapa, Ki?"
"Tahun ini aku umur 17."
Martin mengelus penis Kiki. "Masih muda banget, ya, kamu. Kok bisa sih udah secabul ini."
Martin mencabut tangan Kiki dari anusnya, ia mencium tangan yang berlumuran lendir itu lalu menjilatinya dengan penuh penasaran.
"Kiki udah pernah seks?" Mereka masih di depan pintu kamar Melinda saat Martin membantu Kiki melepaskan seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat.
Kiki menggeleng. "Belum pernah, Mas."
"Jadi, Mas bakalan jadi yang pertama buat kamu, dong."
Martin begitu menikmati tatapan polos sekaligus penasaran dari raut wajah Kiki. Tubuhnya yang lebih kecil darinya seakan memberi akses Martin yang sebesar-besarnya untuk mendominasi makhluk di depannya itu.
"Mbak Mel— "
"Melinda udah tidur," kata Martin lebih dulu, "main satu-dua ronde aja dia juga udah tepar." Terdapat intonasi kecewa dibalik kata-katanya.
Batin Kiki, apakah Martin kurang puas dengan permainan kakaknya?
Kiki agaknya terkejut ketika Martin secara tiba-tiba memeluk tubuhnya yang kini juga telah telanjang bulat. Sensasi kedua kulit mereka yang bertemu dan bergesekan benar-benar membuat Kiki merinding sekaligus berdesir.
"Jadi kamu bakal gantiin mbakmu buat ngepuasin Mas, ya, Ki."
"Mas Martin aku— "
Belum selesai Kiki berdamai dengan keterkejutannya. Martin langsung meraup bibir remaja itu dengan kasar seperti seseorang yang kelaparan. Kedua tangan Martin memegang kepala Kiki, remaja itu dibuat mabuk dengan ciuman pertamanya dengan Martin yang seakan membuat tubuhnya melayang.
Kiki memposisikan kedua tangannya untuk merangkul leher Martin yang lebih tinggi darinya. Tanpa peduli bahwa mereka berdua masih di depan pintu kamar yang terbuka di mana Melinda sewaktu-waktu dapat melihat perbuatan bejat mereka berdua, Martin mengangkat sebelah kaki Kiki agar bertumpu di dadanya. Lalu ia segera menelusup kan penisnya masuk tanpa melakukan pemanasan.
"Aaahkhh!"
Kiki hampir menjerit kesakitan. Ia tak menyangka bahwa jika diterobos paksa tanpa pelumas seperti ini, penis Martin yang memang besar itu akan terasa lebih menyakitkan. Tubuhnya rasanya seperti dibelah jadi dua dengan paksa, belum lagi rasa perih dan sakit yang secara bersamaan menerjang bokong Kiki.
"Mas Martin sakit akhh, Mas sshh ahh auhh! Ahh!" Sambil memeluk Martin erat untuk menyalurkan rasa sakitnya ke tempat lain, Martin justru menikmati kesakitan Kiki yang kini mulai mendesah menikmati sodokannya.
"Sshh, Mas bakalan pelan-pelan. Kiki yang sabar, ya."
Martin mengangkat tubuh Kiki, ia memperdalam penisnya yang telah melesak masuk ke dalam anus Kiki yang terasa begitu sempit sampai awalnya kepala penisnya kesulitan untuk masuk.
Martin mengendong Kiki dengan posisi badan Kiki menghadap ke dadanya sementara kedua kaki Kiki yang masih mengangkang dengan penis Martin menancap padanya itu kakinya bertumpu ke lengan kekar Martin. Kiki yang tak mau jatuh segera merangkul leher Martin dengan erat.
"Mas Martin, anusku rasanya sakit," keluh Kiki.
Martin mencium bibir Kiki sekilas. "Tapi enak, kan?"
Martin mulai menyodomi Kiki sambil berjalan menuju kamar remaja itu. Awalnya pelan-pelan, tapi lama-lama gerakannya jadi semakin cepat sampai tubuh Kiki yang sedang digendongnya terhentak-hentak.
Kiki memalingkan wajahnya malu. Dengan malu-malu kucing, ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hmm, rasanya hangat dan enak." Kiki tentu saja ia sangat menyukai perlakuan Martin terhadapnya ini, dia sudah sangat lama menantikan saat-saat seperti ini. "Lubangku suka disodok sama kontolnya Mas Martin kayak gini."
Martin tertawa sebelum akhirnya ia makin mempercepat sodokannya sambil meraup bibir tipis Kiki yang kini mulai membengkak.
Kiki semakin memeluk Martin erat, kedua kakinya ia lingkarkan di pinggang Martin. Ketika sesuatu yang terasa asing dan aneh itu perlahan-lahan menarik seluruh otot-ototnya dan menjadi tenang, Kiki membusungkan dadanya sambil mendesah panjang.
“Eughhh! Ahheuhhh! Ghrhhh! Ahh ahh!”
Lalu perutnya seperti ditetesi sesuatu yang terasa hangat dan lengket yang keluar dari penisnya sendiri, tapi itu belum apa-apa ketika di dalam anusnya, sperma Martin menyembur banyak sekali di dalam lubang Kiki bahkan sampai membeludak keluar padahal dia belum mencabut kejantanannya itu.
Waktu itu, untuk pertama kalinya, Kiki merasakan kenikmatan duniawi yang orang-orang sebut sebagai seks, dan dia melakukannya pertama kali bersama laki-laki yang disukainya. Martin.
Sungguh, bukan cuma anusnya yang terasa sangat sesak gara-gara penis Martin. Tapi juga perutnya yang terasa dipenuhi kupu-kupu yang sangat banyak sampai Kiki terasa tergelitik, rasa geli menyenangkan yang ingin terus Kiki rasakan terus-menerus.
Martin pun sebenarnya belum pernah berpacaran dengan laki-laki, tapi bukan berarti ia tak pernah menonton film porno gay sambil mengocok penisnya sendiri.
Ini adalah malam pertamanya coba-coba menggagahi seorang laki-laki dan Martin rasa ia cukup puas atau bahkan sangat puas? Gerakan Kiki yang polos membuatnya merasa sangat mendominasi permainan seks mereka hingga Martin merasa ia sedang di atas awan.
Kiki memberi makan ego Martin dan ia menyukainya.323Please respect copyright.PENANA4jH3Tx6xiw
***323Please respect copyright.PENANAl2slHgfc2m
323Please respect copyright.PENANAl8VttrLjhq
323Please respect copyright.PENANAIhUR58zuua
323Please respect copyright.PENANAwQX5WLQb6M
323Please respect copyright.PENANA2oih2SO21l
"Ouhhh! Mas Martiiiin, ahh ahh! Eughh! Lebih kenceng lagi Mas nyodoknya ahh, ahh, yahh sebelah sana ahh ahh! Iyah Mas enakkhh, ahh ahh!"
Martin kembali ke kenyataan setelah kelebatan singkat setahun lalu bagaimana ia dan Kiki memulai hubungan terlarang diantara mereka ini, tiba-tiba terlintas begitu saja ketika melihat Kiki kini sedang menggelinjang di bawah tubuhnya. Itu sama seperti dulu.
Martin memperhatikan dengan tatapan penuh nafsu bagaimana indahnya tubuh telanjang Kiki yang mengkilap akibat keringat dan dipenuhi cairan putih sperma itu menggeliat-liat di bawah kungkungannya, dengan kejantanan panjang Martin yang dijepit erat oleh anus Kiki yang tiap kali orgasme selalu semakin mengetat dan dipenuhi lendir.
Kedua tangan Kiki tak bisa bergerak bebas lantaran Martin menggenggam kedua tangan Kiki dengan satu tangannya dan diletakkannya tangan itu di atas kepala remaja tersebut.
Tatkala ranjang berseprei putih itu semakin berderit-derit akibat guncangan yang berasal dari sepasang anak Adam yang tengah bersenggama. Dinding kamar Kiki terpaksa memperdengarkan desahan Kiki dan lolongan Martin yang seakan tiada habisnya tiap kali ejakulasi.
"Kikiiii~~ ah ahh kamu sempit banget sih, Ki! Oughhh!"
Bokong Martin masih terus menyodomi Kiki, tak peduli bahwa anus Kiki telah penuh dengan sperma miliknya.
"Sempiiiit banget aaahh sampai Mas ketagihan nyodok kamu ah ah, jangan salahin Mas kalau kamu sampai gak bisa jalan ya, ahh ah!"
Saking panasnya kegiatan seks mereka, Kiki bahkan sampai menangis gara-gara tubuhnya mulai terasa remuk, terutama area bohongnya, tapi tak munafik kalau remaja itu masih ingin terus disetubuhi oleh Martin seperti ini.
"Mas Martin aku mau pipis, Mas! Aahhh ahh, ahh eughhh ahh euhh!"
Kiki melihat ke bawah selangkangannya, bagaimana penis Martin keluar-masuk menggagahinya hingga perut datar Kiki timbul-masuk gara-gara penis Martin menyodomi anusnya sangat dalam.
Martin meraup bibir Kiki, menciumnya. Kiki menerima ciuman itu dengan kaki yang terus mengangkang tak peduli bahwa kakinya mulai pegal-pegal terus berada di posisi itu.
"Kiki makasih, ya, udah mau Mas sodomi," bisik Martin disela-sela ciuman mereka dengan masih terus menyodok anus Kiki.
Kiki membusungkan dadanya ketika dia mulai ejakulasi lagi entah sudah yang keberapa kali.
"Sssttt, jangan nangis, kan ada Mas di sini." Martin mengusap air mata Kiki dengan jempolnya. "Ahh ahh, ahh Mas bakalan selalu meluk Kiki kayak gini— "
Tiba-tiba telepon Martin berdering. Martin awalnya mengabaikannya dan fokus mencari kenikmatannya sendiri di dalam anus Kiki. Tapi telepon itu kembali berdering untuk ketiga kalinya, dengan terpaksa, dengan masih menancapkan penisnya didubur Kiki, Martin mengangkat telepon yang ternyata berasal dari Melinda tersebut.
"Ekhem, halo Sayang? Ada apa?" Ia mendekatkan layar ponselnya ke telinga. Mengode Kiki agar memelankan suara desahannya.
~ "Kok, ada apa, sih? Katanya Mas kalau aku udah senggang, aku kamu suruh nelepon. Ya ini aku lagi makan siang." ~
Martin merasakan spermanya ada diujung kepala penisnya. "Oh, iya, aku lupa ahhh ah-maaf ya, aku dari tadi sibuk banget sampai lupa sama kamu."
Kiki membekap mulutnya sendiri dengan satu tangannya, sementara satu tangannya yang lain bergandengan erat dengan tangan Martin yang bebas dari telepon.
"Kamu lagi makan apa?"
Martin menggenggam tangan Kiki erat ketika penisnya menyemburkan sperma, sesaat tubuhnya menegang dan bergetar merasakan sensasi kenikmatan itu. Ia tetap mati-matian menahan lolongannya yang sejak tadi menggelegar gagah setiap kali berhasil orgasme, tapi kini Martin tak mungkin melakukannya sambil menelepon sang istri.
Setelah semua spermanya masuk ke dalam anus Kiki. Martin mencabut penisnya, seketika anus Kiki menyemburkan sperma milik Martin yang sangat banyak hingga membuat tubuh Kiki menggelinjang keenakan.
Sambil masih menempelkan telepon itu ditelinganya dan mendengarkan sang istri bercerita tentang kejadian pagi ini di butik. Martin memeluk tubuh berkeringat Kiki dan mencium bibir remaja itu singkat setelah persetubuhan panjang yang mereka lakukan.
Kiki tertidur kelelahan, disusul oleh Martin yang berkata seperti ini pada istrinya, "Yang aku capek, aku matiin telepon kamu, ya."
Lalu kedua anak Adam itu terlelap kelelahan sambil berpelukan tanpa pakaian hingga menjelang sore. Bahkan saat suara mobil Melinda terdengar sedang terparkir di garasi pun, mereka tak mendengarnya.323Please respect copyright.PENANArIJoIQiKeN
323Please respect copyright.PENANAIp3rz37UI2
323Please respect copyright.PENANAIyCTTrRs1A
323Please respect copyright.PENANAauhvEoRxms
323Please respect copyright.PENANAGiP98AhJlC
323Please respect copyright.PENANA0AfZD9eE6Z
323Please respect copyright.PENANAI7zcFXtZKy
323Please respect copyright.PENANAuPf88o8rUb
323Please respect copyright.PENANA12RW0Oprhj
323Please respect copyright.PENANAUaz1ZyHPWf
323Please respect copyright.PENANAxWBnzWPB8V
323Please respect copyright.PENANAHBGmg8WhRR
323Please respect copyright.PENANAryEgFWzYef
323Please respect copyright.PENANAIGHjvJUK51
323Please respect copyright.PENANA4wXNHGTsVX
323Please respect copyright.PENANAdxI7F76d8Z
323Please respect copyright.PENANAv8Ql7l0s5G
323Please respect copyright.PENANADk3Dcmv0lY
323Please respect copyright.PENANAXmPK0bLVJh
323Please respect copyright.PENANAtkmPk2vt8B
323Please respect copyright.PENANA1G6sZDd3II
323Please respect copyright.PENANAXF78ZA2ypb
323Please respect copyright.PENANATgLMHp6B2o
323Please respect copyright.PENANAxfc6LnSvuS
323Please respect copyright.PENANAH2xjLerDgJ
323Please respect copyright.PENANAD0xlkBz7ni
323Please respect copyright.PENANAmHWZvU26gv
323Please respect copyright.PENANAKUVgiMyd6S
323Please respect copyright.PENANA67rzn137tA
323Please respect copyright.PENANAUwutlRQCmd
323Please respect copyright.PENANA7R2dDpHWDP
323Please respect copyright.PENANAcWmCeZYCLF
323Please respect copyright.PENANAkH7oJH3ZFs
323Please respect copyright.PENANAdc3NOufaIZ
323Please respect copyright.PENANA9HWwt6ZsiG
323Please respect copyright.PENANAGxBAiFyAbC
323Please respect copyright.PENANAt4zB5cWrXf
323Please respect copyright.PENANAJPJ25sbGHa
323Please respect copyright.PENANAuy4HK0xKxz
323Please respect copyright.PENANABADNXssKMo
323Please respect copyright.PENANAoPY8CoTtPW
323Please respect copyright.PENANAIVJq7DNkrn
323Please respect copyright.PENANAPedrcYgQye
323Please respect copyright.PENANAgAmnHXuyLk
323Please respect copyright.PENANAyVvCzqjSqx
323Please respect copyright.PENANA2DQSursiKn
323Please respect copyright.PENANAal00rP2Hnn
323Please respect copyright.PENANAh2PmJgdoDL
323Please respect copyright.PENANAQPeCQIxf2a
323Please respect copyright.PENANAb2PR0irGLe
323Please respect copyright.PENANAiZ51ZJ6Z2l
323Please respect copyright.PENANAPon7j3DpYo
323Please respect copyright.PENANAL7UQFAlwGZ
323Please respect copyright.PENANAwWIDZPH5XO
323Please respect copyright.PENANAf7cMSXdTpz
323Please respect copyright.PENANAwGt6Rj5JXd
323Please respect copyright.PENANAxbWoadjCz5
323Please respect copyright.PENANAZknrbeBBm7
323Please respect copyright.PENANA9vZvVHpfXy
323Please respect copyright.PENANAA3XQJsAqeX
323Please respect copyright.PENANAxSpzlvuos5
323Please respect copyright.PENANAaz9gKheb4w
323Please respect copyright.PENANApjRCzVz302
323Please respect copyright.PENANAmQcwc5j4b9
323Please respect copyright.PENANAclpbpJyKd8
323Please respect copyright.PENANAKweeqJ9mr4
323Please respect copyright.PENANAAlm23BhtE3
323Please respect copyright.PENANAx0AWLKt8Jw
323Please respect copyright.PENANA2jzcLmNppV
323Please respect copyright.PENANAqx3ckml2rI
323Please respect copyright.PENANAcfrnkkD3cu
323Please respect copyright.PENANAdY8p1yNaEu
323Please respect copyright.PENANAfgW2dlcqtO
323Please respect copyright.PENANAHiXZOGC17J
323Please respect copyright.PENANArQ1fvqZFTX
323Please respect copyright.PENANA73sSDQ7oWH
323Please respect copyright.PENANA1YtCw5cXYZ
323Please respect copyright.PENANAtscAFuhVzb
323Please respect copyright.PENANAt6oHrMbYkI
323Please respect copyright.PENANAW1VE0zSL2m
323Please respect copyright.PENANAXxI4u3sOu0
323Please respect copyright.PENANADgBoLkTCVe
323Please respect copyright.PENANANMhB2yq2iy
323Please respect copyright.PENANAhP6feUGBD6
323Please respect copyright.PENANAYCZUWgIUC4
323Please respect copyright.PENANAPiEuBuWkW4
323Please respect copyright.PENANAXlCxYtxJNY
323Please respect copyright.PENANAuzs4jJepuQ
323Please respect copyright.PENANAodirHshDMm
323Please respect copyright.PENANAps3cynInCh
323Please respect copyright.PENANARUPyaMlLoq
323Please respect copyright.PENANA7PR43XCjUz
323Please respect copyright.PENANAtOY3DdorVN
323Please respect copyright.PENANAw9DtNtDs1u
323Please respect copyright.PENANAz70Al9cpMM
323Please respect copyright.PENANAmB6ZvSjMlL
323Please respect copyright.PENANAi2jFDBo6mz
323Please respect copyright.PENANAoW0CVfvDvY
323Please respect copyright.PENANAAL3vKyqcGm
323Please respect copyright.PENANAY9FwmLd5Oq
323Please respect copyright.PENANAXTjd4LNWYI
323Please respect copyright.PENANAmlWlBMD8Go
323Please respect copyright.PENANAhbDK0N0qis
323Please respect copyright.PENANAx3jtD8WT1N
323Please respect copyright.PENANAMag7cOLraK
323Please respect copyright.PENANA41J9Zkbwag
323Please respect copyright.PENANAPhRO1oRuTd
323Please respect copyright.PENANA0biYdjjFeS
323Please respect copyright.PENANAyImU6TIfrw
323Please respect copyright.PENANAzKJVnJHS81
323Please respect copyright.PENANAxoRAkgnMIq
323Please respect copyright.PENANAaxScs3Cp0m
323Please respect copyright.PENANAcahVBj2C0j
323Please respect copyright.PENANAiwxlncRC3L
323Please respect copyright.PENANAO5jZyFOu0I
323Please respect copyright.PENANAAWOYfS8seL
323Please respect copyright.PENANADpNGZ7Xh79
323Please respect copyright.PENANASo4zlcTChE
323Please respect copyright.PENANALQHIuBPLDz
323Please respect copyright.PENANABUSRpRht2E
323Please respect copyright.PENANAqKQjycMpMd
323Please respect copyright.PENANAIHfD0HLa8y
323Please respect copyright.PENANAcfEdOHmahf
323Please respect copyright.PENANA3ToocPmkpX
323Please respect copyright.PENANANoRgZpWE2g
323Please respect copyright.PENANAPHag51RdJP
323Please respect copyright.PENANALFUZxh3FTM
323Please respect copyright.PENANAlm2zEKajdR
323Please respect copyright.PENANAb9jMJO3vOk
323Please respect copyright.PENANApTPyRcaTb2
323Please respect copyright.PENANAwE9Xlg3CAm
323Please respect copyright.PENANAN80Ml3qzee
323Please respect copyright.PENANASRTR4kXQE5
323Please respect copyright.PENANAYwlfGbEUxh
323Please respect copyright.PENANAn1g6kxycVA
323Please respect copyright.PENANA7K3xRYij6n
323Please respect copyright.PENANAfwBmruHXJD
323Please respect copyright.PENANAdQFYjCgE56
323Please respect copyright.PENANAquFAmTHA5U
323Please respect copyright.PENANADHoNHsRsVk
323Please respect copyright.PENANAUA44PKmy9l
323Please respect copyright.PENANAw2KQseWn3p
323Please respect copyright.PENANAfw14Qp8J63
323Please respect copyright.PENANAlh8z8dEtm1
323Please respect copyright.PENANAe4dy5YCyKv
323Please respect copyright.PENANArpHKC2t93j
323Please respect copyright.PENANAuFmQfGH3m5
323Please respect copyright.PENANAqYSAKxyQXI
323Please respect copyright.PENANAQUYjFFOJ5X
323Please respect copyright.PENANAjj0pIym02s
323Please respect copyright.PENANAEJyqcDzI8k
323Please respect copyright.PENANAyGFnuyOb0h
323Please respect copyright.PENANAWlS70A5Kjh
323Please respect copyright.PENANAZ2xxJPUDg0
323Please respect copyright.PENANAy2jCCmqY7X
323Please respect copyright.PENANAM7R92EZXi3
323Please respect copyright.PENANAEZVHmFmo8k
323Please respect copyright.PENANAKTowfLYMXl
323Please respect copyright.PENANAsrF4yF92VT
323Please respect copyright.PENANAphV0VztfVU
323Please respect copyright.PENANAz4CeCKtr9L
323Please respect copyright.PENANAIYkEZKMJxw
323Please respect copyright.PENANA4l1wbcmUSV
323Please respect copyright.PENANAeuHhA64Eba
323Please respect copyright.PENANAw5ADcFSMrp
323Please respect copyright.PENANAN2OnXWzaWo
323Please respect copyright.PENANAi46vCRHRm5
323Please respect copyright.PENANA4V3yG7UjUT
323Please respect copyright.PENANAdNb86COZRy
323Please respect copyright.PENANAbdZr5WGMwK
323Please respect copyright.PENANAoUNczfixdy
323Please respect copyright.PENANAdTZ2IN9Lp0
323Please respect copyright.PENANAEz1Z1nLqlW
323Please respect copyright.PENANAXc5zEu8np4
323Please respect copyright.PENANARYjmmVWMyT
323Please respect copyright.PENANAtvNLDDmhJM
323Please respect copyright.PENANAzK9lQ8AYPW
323Please respect copyright.PENANAw33wI3NgVr
323Please respect copyright.PENANA4o2F1g82OJ
323Please respect copyright.PENANAKlOXQUGgDA
323Please respect copyright.PENANAGwhkF5mGLv
323Please respect copyright.PENANA65qvXB5TLE
323Please respect copyright.PENANA4AvoEvWr45
323Please respect copyright.PENANAWGYeyqSLDy
323Please respect copyright.PENANAobTC9NtF7Y
323Please respect copyright.PENANAmm2NROPqPd
323Please respect copyright.PENANAJiYSt7Pa60
323Please respect copyright.PENANAqtnrWjQaNi
323Please respect copyright.PENANAwCqYHOSgKj
323Please respect copyright.PENANA7k7Hx9L4Sq
323Please respect copyright.PENANAJQ6oqgHil9
323Please respect copyright.PENANAKGpJks7sYf
323Please respect copyright.PENANAOnRCwqMWxu
323Please respect copyright.PENANA5YpWRDMDJx
323Please respect copyright.PENANAF1KfxgWI7p
323Please respect copyright.PENANAMb7WTimOAZ
323Please respect copyright.PENANA80ZQyKRFvF
323Please respect copyright.PENANA6BJqtJWGaj
323Please respect copyright.PENANAI6wRmvabK8
323Please respect copyright.PENANArdtP5SBDJP
323Please respect copyright.PENANAmN4Naf3FNW
323Please respect copyright.PENANApuQIRzJzYE
323Please respect copyright.PENANAE0gIZ6Mq21
323Please respect copyright.PENANAtP32XS8W4H
323Please respect copyright.PENANAvC8mTVKyLH
323Please respect copyright.PENANAym157ZWfIb
323Please respect copyright.PENANAqswalM4Bvk
323Please respect copyright.PENANA66J8EgJP7B
323Please respect copyright.PENANAbevZ72fS5T
323Please respect copyright.PENANADjrqM1QuVP
323Please respect copyright.PENANApziC9krbkI
323Please respect copyright.PENANA6wJLLn260n
323Please respect copyright.PENANA21HZRHrb8i
323Please respect copyright.PENANAW6Thm6Ouym
323Please respect copyright.PENANAKn4RpJjZ4R
323Please respect copyright.PENANACkHdXxFbmw
323Please respect copyright.PENANAtLi5b8wEl5
323Please respect copyright.PENANAeHPvfMK7fu
323Please respect copyright.PENANAH2Bxpkse0q
323Please respect copyright.PENANAOGt9Vyxz20
323Please respect copyright.PENANAfrJqw8XvNT
323Please respect copyright.PENANAehfe7boBJ5
323Please respect copyright.PENANARC4E3d1jqB
323Please respect copyright.PENANAFiFYQZxL29
323Please respect copyright.PENANAnoQlHUgqQJ
323Please respect copyright.PENANAYW2vrWdJZz
323Please respect copyright.PENANAFb4HRmbdzi
323Please respect copyright.PENANAVcbWaP5h1B
323Please respect copyright.PENANA35NzNLJqLA
323Please respect copyright.PENANA0biKFudYr5
323Please respect copyright.PENANAyICeXvGSOo
323Please respect copyright.PENANA7qOBKfRrGw
323Please respect copyright.PENANAzuaNLyLCti
323Please respect copyright.PENANAG8g7JZiiEb
323Please respect copyright.PENANAP4dWDk3aiF
323Please respect copyright.PENANAabxCauvVH2
323Please respect copyright.PENANAeiSZBjzxBq
323Please respect copyright.PENANAt26FFqPeLE
323Please respect copyright.PENANAhVWS7SXqVC
323Please respect copyright.PENANA7UVxoP5Cbx
323Please respect copyright.PENANAqCKpbE6Ipe
323Please respect copyright.PENANAnKDMdZUQFT
323Please respect copyright.PENANAT68AEsbWhC
323Please respect copyright.PENANA1CDJmRUd05
323Please respect copyright.PENANAbxudIadZ6G
323Please respect copyright.PENANAkQGM8EbfYH
323Please respect copyright.PENANAOuqTI1qY7y
323Please respect copyright.PENANAjqayIDPegw
323Please respect copyright.PENANAJhnzr6nrVI
323Please respect copyright.PENANAgQoapAT3WY
323Please respect copyright.PENANAO5ryxLr3dl
SELESAI! 323Please respect copyright.PENANAfsY9sKG656


