Di umur 38 tahun, Salma literally punya segalanya. Kalo lo ngecek feed Instagram-nya, idupnya itu definisi goals anak-anak Jaksel. Rumah gedongan bergaya modern-tropis di kawasan elite Senopati, deretan tas Hermès di walk-in closet yang harganya bisa buat beli ruko di pinggiran Jakarta, circle arisan sosialita yang isinya istri-istri pejabat sama crazy rich, dan tentu saja, seorang suami. Mas Bram. Pengusaha properti usia 60 tahun yang sibuknya ngalahin menteri kabinet.
On paper, Salma adalah nyonya besar. The ultimate trophy wife. Di luar sana, orang-orang manggil dia "Ummi Salma", istri yang disegani, dipuja, alim, elegan, dan bikin iri semua perempuan yang liat. Tapi realitanya? Bangsat, realitanya nggak seindah filter Paris di Instagram. Tiap malam, saat hujan badai ngehajar kaca jendela kamarnya yang kedap suara, rumah seharga puluhan miliar itu kerasa kayak kuburan mewah. Sepi. Kosong. Dan... fucking cold.
Salma butuh kehangatan yang nggak bisa dibeli pake black card. Tapi, sebelum neraka yang penuh keringat dan desahan liar itu bener-bener kebuka di rumah ini, kewarasan Salma pelan-pelan udah dihancurin duluan sama suaminya sendiri beberapa bulan yang lalu.
Flashback: Malam Eksperimen Liar dari Sang Sugar Daddy
Malam itu, jam di dinding baru nunjukin pukul sembilan. Hujan di luar lagi deras-derasnya bikin kawasan Senopati macet parah. Salma lagi maskeran sambil scrolling TikTok di kasur king size-nya, terperanjat kaget waktu pintu kamarnya kebuka. Mas Bram tiba-tiba pulang! Padahal jadwalnya, si sugar daddy tua itu masih ada business trip di Singapura dan baru balik minggu depan.
Wajah lelaki berusia 60 tahun dengan rambut beruban tipis itu memancarkan kegembiraan yang nggak biasa. Senyumnya lebar, matanya berbinar licik, seolah dia lagi bawa rahasia besar yang bikin dia excited setengah mati.
"Loh, Mas? Kok udah balik? Flight kamu bukannya masih lusa ya?" tanya Salma, langsung duduk sambil ngelepas sheet mask-nya. Suaranya dibikin sedikit manja, trying to act like a good wife. "Senyum-senyum terus dari tadi pas masuk. Aku jadi overthinking nih, jangan-jangan bawa selingkuhan dari Marina Bay, ya?"
Bram tertawa berat, suara khas om-om tajir yang udah ngelewatin asam garam dunia malam. "Ada kejutan yang mind-blowing, khusus buat kamu, Sayang," balas suaminya, suaranya diayun lembut tapi nyimpen vibes misterius yang bikin bulu kuduk Salma berdiri.
"Kejutan apaan sih, Mas? Tas baru? Saham? Atau keys to a new Porsche?"
"Sesuatu yang bakal bikin kamu bisa nyalurin hasrat kerinduan dengan lebih gila, lebih tenang, dan pastinya... lebih dahsyat," kata Bram. Napasnya sedikit mendesah sange, sebelum dia jalan ngedeket dan langsung ngerangkul tubuh langsing istrinya. Pelukan hangat itu langsung disusul sama ciuman-ciuman basah di leher Salma.
Jujur aja, di dalem hati, Salma ngerasa cringe. Ciuman Bram kerasa hambar. Udah loyo. Gak ada percikan apinya sama sekali. Tapi dia tetep play along. Bram lalu jalan ke koper Louis Vuitton besarnya, ngebuka zipper-nya, dan ngeluarin sebuah kotak hitam elegan. Benda itu diserahin ke Salma dengan gesture yang penuh antisipasi.
"Ini... apaan, Mas?" tanya Salma pelan, vibe-nya mulai deg-degan. Ini bukan perhiasan. Ini sesuatu yang... intim.
Perlahan, Salma ngebuka pitanya. Begitu tutup kotak matte black itu keangkat, mata Salma membelalak. Mulutnya sedikit kebuka. Di dalemnya, terbaring dengan gagah sebuah sex toy silikon kelas premium. Benda itu hiper-realistis, berwarna gelap, dengan lekukan urat yang tercetak super detail.
"Anjir... ini dildo kan, Mas?" tanya Salma setengah shock, keceplosan pakai bahasa gaulnya.
"Yes, baby!" jawab suaminya pelan, malah makin nyodorin kotak itu ke pangkuan istrinya.
Salma literally speechless. Suaminya yang di luar sana sering dipanggil "Pak Haji" sama rekan bisnisnya, bisa-bisanya beliin istrinya mainan hardcore begini. Dengan tangan yang agak gemetar, Salma ngambil benda itu. Teksturnya mind-blowing. Silikon kelas medis itu kerasa sangat kenyal, padat, berurat. Dan yang bikin Salma merinding: ukurannya. Rudal imitasi itu jauh... jauh banget lebih besar, lebih tebal, dan lebih panjang dari punya suaminya. Nggak ada tandingannya. Punya Bram mah udah sunset, sementara benda di tangannya ini definisi monster.
Malam itu, kewarasan Salma diuji. Bram nggak ikut main. Dia berlutut, ngelepasin lingerie mahal Salma sampai telanjang bulat, sementara dia sendiri full clothed. Vibes-nya berubah jadi voyeur. Bram pengen nonton istrinya.
"Buka kakimu lebar-lebar, Sayang," perintah Bram dengan suara serak.
Salma nurut. Dia ngerasa direndahin, ditonton, tapi... bangsatnya, selangkangannya malah basah kuyup. Dia sange berat. Perlahan... Bram memasukkan ujung dildo itu ke dalam diri istrinya.
"Maaasss... ughhh..." desah Salma tertahan, kepalanya mendongak ke belakang. Tubuhnya menggeliat liar. Sensasinya gila. Benda imitasi itu masuk, meregangkan dinding kewanitaannya dengan paksa, menekan G-spot-nya dengan sempurna.
Jleb. Jleb. Jleb.
Bram terus memainkan dildo itu. Suara decakan basah mulai memenuhi kamar mewah itu. Desahan Salma semakin nyaring, kehilangan filter elegan sosialitanya. "Ahhh! Mas... gede banget... fuck... enak..." racau Salma tanpa sadar.
Bram lalu ngelepasin tangannya, nyerahin kendali ke istrinya sendiri. Sambil Salma mompa dirinya pakai mainan raksasa itu, Bram ngeluarin miliknya yang jauh lebih mungil dan lembek. Salma megang dildo di satu tangan, dan asli milik suaminya di tangan lain. Roleplay gila ini bikin otak Salma korslet, tapi membawanya ke puncak orgasme yang brutal. Salma squirting nggak karuan, ngebasahin seprai Egyptian cotton seharga puluhan juta itu.
Pas pillow talk, Bram akhirnya ngaku. "Mas tau ukuran Mas udah nggak seberapa. Temen-temen di cigar lounge SCBD ngasih lifehack ini, ngasih mainan ke istri muda biar nggak hunting berondong pas ditinggal dinas. Biar kamu tetep ngerasa puas, Sayang."
Salma cuma bisa diem. Logika toxic si sugar daddy ini bikin dia muak. Setahun berlalu, euforia mainan silikon itu ilang. Mainan dingin itu cuma benda mati yang nggak bisa ngasih keringat, napas memburu, atau ciuman kasar. Salma muak, ngebungkus dildo raksasa itu pake trash bag item, dan ngebuangnya ke tong sampah garasi. Factory reset. Kehidupan ranjangnya kembali mati suri.
Paranoia di Meja Arisan: Dinding yang Bertelinga
Kekosongan itu makin menyiksa, tapi Salma harus tetep keep up the facade. Sore itu, ruang tamu rumah Bu Syaima tampil seperti etalase kenyamanan kelas menengah atas. Sofa krem berlapis kain impor tersusun rapi. AC berdengung lembut, parfum mahal saling bertabrakan mencipta aroma yang bikin pusing. Para "Ummi" dan nyonya besar duduk berkelompok, pamer tas dan liburan ke Jepang.
Ummi Salma datang belakangan. Begitu ia melangkah masuk, ritme ruangan seperti bergeser. Dia adalah ratu di circle ini.
"Oh, Bu Gofur... eh, Ummi Salma datang," sapa ibu-ibu dengan senyum yang dilebih-lebihkan.
Salma duduk di pojokan bareng ibu-ibu senior. Obrolan awalnya garing soal harga tanah dan anak-anak. Tapi tiba-tiba, vibes berubah dark.
"Ngomong-ngomong soal keluarga harmonis," kata Bu Ida pelan, condongin badannya. "Kalian dengar kabar Bu Vivin? Katanya sudah masuk gugatan cerai."
"Loh, kenapa?"
"Pak Martin itu, katanya sudah loyo," bisik Bu Lela, suaranya campur aduk antara iba dan nyinyir. "Yang bikin heboh... Bu Vivin sekarang malah ketagihan mainan dildo yang dipesan online itu."
Deg. Sendok di tangan Salma berhenti di udara. Waktu seakan tersandung. Salma terbatuk kecil. "Uhuk... maaf," katanya cepat, ngeraih air putih. Dadanya berdebar liar, panic attack nyerang dadanya.
Gosip itu berputar di meja makan. "Zaman sekarang ya, aneh-aneh saja padahal mereka kan udah sepuh."
Salma nunduk. Tengkuknya merinding. Apa yang dialami Bu Vivin, persis kayak apa yang disuruh Mas Bram ke dia. Kalo rahasia Bu Vivin aja bisa bocor sampe ke meja arisan sambil makan salad buah, gimana dengan rahasianya? Darimana ibu-ibu mulut lemes ini tau? Dari ART? Sopir? Salma nyadar, di Senopati ini, reputasi berjalan lebih cepat daripada kebenaran. Yang privat nggak pernah bener-bener privat.
Sepulang dari arisan, Salma mengisolasi diri. Dia narik diri dari circle toxic itu. Dia takut. Bukan cuma takut ketahuan pernah main silikon, tapi dia takut rahasia terbarunya yang jauh lebih hardcore, lebih kotor, dan lebih bangsat kebongkar ke publik. Rahasia tentang siapa yang sekarang ngisi ranjangnya pas Mas Bram dinas.
Terjebak Nafsu Tiga Serigala Muda
Kekosongan yang ditinggalin Mas Bram, dan ketakutan Salma bersosialisasi, bikin dia terkurung di rumah mewah itu. Tapi bau amis kesepian seorang MILF kecium tajem banget sama predator yang tinggal satu atap sama dia.
Tiga anak tiri lelakinya dari pernikahan Bram sebelumnya. Tristan (23 tahun, anak hukum yang toxic tapi karismatik abis), Jeno (21 tahun, anak arsitektur yang silent but deadly), dan Kavi (19 tahun, the absolute fuckboy kampus dengan vibes rebel).
Mereka bukan bocah ingusan. Mereka cowok-cowok Gen Z tinggi tegap, badannya ripped abis gara-gara obsesi nge-gym, tatoan aesthetic, dan dipenuhi api hormon masa muda yang meledak-ledak. Mereka sadar bokapnya udah "pensiun" ngasih service. Mereka liat gimana gelisahnya Salma, mondar-mandir malem-malem pake slip dress sutra tipis nyari minum ke kitchen island, dengan paha mulus yang terekspos dan mata sayu minta dibelai.
Semuanya berawal dari slow burn yang bikin gila.
Malam itu hujan deres. Tristan pulang clubbing dari SCBD, kondisinya agak tipsy. Pas papasan di ruang TV, alih-alih manggil dengan hormat, cowok brengsek itu nahan pinggang Salma.
"Lo kedinginan, Salma?" bisik Tristan dengan deep voice-nya, matanya tajem ngulitin belahan dada ibu tirinya. Nggak ada embel-embel "Mami". Cuma nama.
"Tristan... lepasin. Aku mami lo," bisik Salma gemetar, tapi selangkangannya langsung basah.
"Cuma di atas kertas," balas Tristan, narik pinggul Salma makin deket sampe dada berototnya nabrak lembut payudara Salma. Ciuman pertama malam itu meruntuhkan semua batasan moral.
Jeno beda lagi. Si pendiam ini lebih psikopat. Suatu sore pas pintu kamar mandi Salma nggak kekunci rapat, Jeno masuk. Dia ngunci pintu dari dalem, dan tanpa sepatah kata pun, langsung nyudutin Salma di bawah shower yang nyala. Air panas ngeguyur tubuh mereka. Jeno nyium Salma dengan agresif, kasar, dan langsung ngangkat paha ibu tirinya. Salma nggak bisa nolak, tubuhnya kelewat haus menerima sodokan brutal dari darah muda yang nggak ada habisnya.
Dan Kavi? Si fuckboy umur 19 tahun itu paling kurang ajar. Dia suka ngirimin chat kotor ke Salma pas mereka lagi makan semeja bareng Bram. Mind-games yang bikin Salma squirting di celana dalamnya sendiri, padahal dia lagi pura-pura senyum nyendokin nasi buat suaminya. Kavi bakal ngebisikin kata-kata sange berbau rokok dan parfum Dior Sauvage tepat di telinga Salma pas papasan di lorong.
Hingga akhirnya, tiga serigala ini sadar kalau mereka punya "tujuan" yang sama. Daripada saingan, kenapa nggak berbagi? Toh, ini cuma rahasia kecil di dalam dinding tebal rumah Senopati. Milik bokap mereka adalah milik mereka juga.
Sekarang? Salma ketagihan. She’s a fucking addict now.
Persetan sama arisan. Persetan sama nama baik "Ummi Salma". Ketagihan pada tenaga brutal tangan-tangan berotot itu yang bisa ngangkat tubuhnya ke atas meja dapur dengan gampang. Ketagihan pada desahan kasar, berat, dan sange yang manggil dia “Mami” dengan nada yang udah sama sekali nggak ada sopan santunnya. Nada yang ngerendahin, ngelacurin dia, tapi sekaligus mendewakan tubuhnya.
Dia ketagihan dikuasai tiga alpha male muda sekaligus. Di-gilir tanpa ampun di atas ranjang king size, depan cermin, sampai di lantai walk-in closet. Dimasuki bergantian sampai tubuhnya gemetar lemas, squirting nggak karuan ngebikin karpet basah, dan otaknya bener-bener blank cuma bisa mendesah pasrah. Dildo silikon Mas Bram nggak ada seujung kuku dibandingin tiga batang daging berdarah panas yang memompa rahimnya tiap malam.
Malam Eksekusi yang Penuh Dosa
Malam ini, hujan badai turun lagi, membasahi kaca jendela. Mas Bram lagi dinas ke Tokyo. Rumah puluhan miliar itu kerasa kedap suara, nyembunyiin neraka kenikmatan yang bakal segera meledak.
Salma lagi duduk di depan meja riasnya. Dia pake lingerie sutra warna merah marun yang tipisnya nerawang. Dadanya naik turun cepet. Jantungnya deg-degan parah. Tangan gemetarnya megang handphone. Di layar, ada grup WhatsApp yang isinya cuma dia dan tiga anak tirinya.
Kavi: Mami udah siap? Kita udah di depan pintu. Tristan: Jangan dikunci. Gue mau lo posisi nungging pas kita masuk, Salma. Jeno: Bokap baru aja WA gue, dia aman di Tokyo. So, we have the whole night to wreck you, Salma.
Salma nelan ludah. Vaginanya berkedut nyeri, cairan bening udah merembes nembus lingerie-nya. Rasa bersalah sempet lewat sedetik, ngingetin dia soal karma, soal gosip Bu Vivin, dan soal Bram yang ngasih dia harta. Tapi desiran adrenalin dari dosa incest-taboo ini ngebunuh semua sisa malaikat di otaknya.
Dia naruh handphone-nya. Berdiri. Menarik napas panjang, lalu berjalan pelan ke tengah kasur king size-nya. Dia ngebuka tali robe-nya, biarin kain mahal itu jatuh ke lantai, dan merangkak ke tengah ranjang. Patuh layaknya budak yang haus belaian, dia nurutin perintah Tristan. Masang posisi doggy style, nungging ngadep ke bantal, ngebelakangin pintu, nunggu untuk dieksekusi.
Terdengar suara klik pelan dari gagang pintu.
Pintu kebuka.
Langkah kaki tiga pria muda berat, percaya diri, dan penuh nafsu menggema masuk ke dalam kamar. Aroma maskulin dari cologne mahal, keringat cowok, dan testosteron langsung memenuhi ruangan. Lampu utama dimatikan oleh salah satu dari mereka, diganti sama lampu LED strip warna merah neon dari kolong kasur, ngubah kamar itu jadi ruangan klub striptis pribadi.
"Pinter banget good girl gue," suara bariton Tristan memecah keheningan, dalam dan mengintimidasi.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara gesekan sabuk dan ritsleting celana jeans yang diturunin berbarengan dari tiga arah yang berbeda.
Salma mejemin matanya erat-erat, menggigit bibir bawahnya yang dipoles lipgloss, ngerasain kasur di sekelilingnya melesak karena beban tubuh tiga cowok berotot yang mulai merangkak naik mengelilinginya. Ia bersiap menyambut badai brutal yang bakal ngebawa dia ke surga kenikmatan sekaligus neraka terdalam.
Malam ini, dia bukan lagi Ummi Salma si sosialita Senopati yang menjaga gengsi. Malam ini, dia adalah pelacur pribadi untuk tiga anak tirinya. Dan dia, literally, sangat menyukainya.
ns216.73.216.5da2


