Cinta terkadang datang dari celah yang tak pernah diduga, namun nafsu selalu tahu cara menyusup dari pintu yang tak terkunci.
Kisah ini berawal dari Hendra, seorang pemuda yang sudah setahun menahan dahaga asmara. Malam itu, di tengah gulirnya layar smartphone, ibu jarinya terhenti pada sebuah unggahan di beranda Facebook. Sebuah foto yang seketika membuat aliran darahnya berdesir lebih cepat. Di foto itu, tampak seorang gadis muda bernama Sarah. Wajahnya begitu teduh, putih bersih dengan rona merah alami di kedua pipinya, dibingkai oleh jilbab pasmina berwarna peach yang diulurkan menutupi dada.
Namun, bukan hanya wajah polos itu yang membuat Hendra menelan ludah. Di balik balutan pakaian tertutup dan kemeja lengan panjangnya, postur tubuh Sarah benar-benar mengkhianati kesan lugunya. Ia memiliki proporsi tubuh yang luar biasa semok. Lekuk pinggangnya ramping, namun membusung penuh di bagian dada dan padat di bagian pinggul. Sebuah mahakarya Tuhan yang disembunyikan di balik kain.
Berbekal keberanian, Hendra mengirimkan pesan. Gayung pun bersambut. Sarah, yang baru saja lulus SMK dan belum banyak mengenal dunia, dengan mudah luluh oleh rayuan manis pemuda itu. Singkat cerita, benih-benih asmara tumbuh di antara mereka. Hubungan jarak jauh (LDR) pun dimulai. Pertemuan pertama mereka saat Hendra mengambil cuti kerja menjadi momen yang mengunci hati Sarah seutuhnya. Gadis polos itu menyerahkan hatinya, percaya bahwa Hendra adalah imam masa depannya.
Setahun berlalu, dinamika hidup memaksa mereka untuk kembali terpisah jarak. Hendra memutuskan resign dari pekerjaannya dan merantau ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah. Sementara itu, Sarah diterima bekerja sebagai asisten apoteker di sebuah Klinik dan Apotek 24 Jam di kota asalnya, sebuah kota kecil di Jawa Barat yang udaranya selalu terasa sejuk saat malam turun.
Aturan klinik mengharuskan Sarah untuk tinggal di mess karyawan yang terletak tepat di bagian belakang bangunan klinik. Di sinilah, ujian kesetiaan itu mulai merayap dalam keheningan.
Hendra yang baru masuk dunia kampus mendadak sibuk dengan hingar-bingar masa orientasi (Ospek). Hari berganti hari, pemuda itu seolah lupa pada gadis yang menunggunya. Selama seminggu penuh, tak ada satu pun pesan atau telepon dari Hendra. Sarah merasa digantung, kesepian, dan rapuh di dalam kamar mess-nya yang sempit.
Di tengah kekosongan batin Sarah, ada sepasang mata elang yang diam-diam selalu mengawasinya. Mata itu milik Pak Rusdi.
Pak Rusdi adalah apoteker senior di klinik tersebut. Usianya menginjak 45 tahun, dengan perawakan khas pria paruh baya; perutnya sedikit buncit, badannya besar, kokoh, dan memancarkan aura dominasi patriarki yang kuat. Ia adalah pemegang kunci utama klinik dan apotek. Sebagai seorang duda yang telah tiga tahun ditinggal mati istrinya, Pak Rusdi juga tinggal di mess belakang. Yang membuat situasi semakin mendebarkan: kamar Pak Rusdi tepat bersebelahan dengan kamar Sarah, hanya dibatasi oleh tembok tipis yang sering kali tak mampu menahan suara rintik hujan.
Setiap kali Sarah berjalan melewati lorong, gamis atau rok panjangnya yang mencetak goyangan bokongnya yang sintal selalu berhasil membuat napas Pak Rusdi memburu. Bagi duda itu, Sarah adalah buah ranum yang tinggal menunggu waktu untuk dipetik.
SENTUHAN PAGI DI JEMURAN
Suatu pagi yang berkabut, udara masih terasa sangat dingin. Sarah baru saja selesai mRizky. Wangi sabun melati dan sampo menguar dari tubuhnya. Ia mengenakan kaus lengan panjang ketat dan rok panjang berbahan katun, dengan jilbab instan yang disampirkan seadanya. Lekuk tubuhnya yang padat tercetak jelas saat ia berjinjit menjemur pakaian di halaman belakang mess.
Tangannya yang putih pucat sibuk mengibaskan kain yang basah, membuat payudaranya yang berukuran 34D itu berguncang ringan dari balik kaus. Ia tak menyadari bahwa Pak Rusdi sedari tadi berdiri di ambang pintu, matanya gelap oleh nafsu melihat pemandangan surgawi di pagi buta.
"Néng Sarah, nuju naon? (Neng Sarah, lagi apa?)" suara bariton yang berat dan serak tiba-tiba memecah keheningan.
Sarah tersentak. Bahunya melonjak kaget. Ia memutar tubuhnya dengan cepat, tangannya refleks memegang dadanya. "Eh, Astagfirullah! Pak Rusdi... bikin kaget Sarah aja. I-ini Pak, lagi jemur pakaian, mumpung belum hujan lagi."
Pak Rusdi melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Bau kopi hitam dan wangi maskulin khas pria dewasa menguar dari tubuhnya, membuat Sarah sedikit salah tingkah.
"Rajin pisan atuh Néng Sarah téh, isuk-isuk geus seuseuh-seuseuh (Rajin banget Neng Sarah ini, pagi-pagi sudah cuci-cuci)." Pak Rusdi tersenyum, matanya menelanjangi wajah Sarah yang kemerahan.
"Iya, Pak. Kan jam tujuh klinik sudah buka, takut nggak keburu," jawab Sarah menunduk, mencoba bersikap biasa meski ia bisa merasakan tatapan pria itu menembus pakaiannya.
Pak Rusdi mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya merendah menjadi bisikan yang membuat bulu kuduk Sarah meremang. "Bapak mah jadi makin resep ka Néng Sarah mun kieu carana. Idaman pisan jadi pamajikan (Bapak jadi makin suka sama Neng Sarah kalau begini. Idaman banget jadi istri)."
Sarah menelan ludah. Hatinya berdebar tak karuan. "Ah, Bapak bisa aja. Biasa aja kok, Pak."
"Yaudah, hayu atuh urang sarapan heula ka hareup," ajak Pak Rusdi, membalikkan badannya.
Namun, saat Pak Rusdi berbalik dan melangkah melewati Sarah, sebuah "kecelakaan" yang sangat disengaja terjadi. Tangan besar dan kasar milik pria paruh baya itu dengan cepat menyapu bagian belakang tubuh Sarah. Bukan sekadar menyenggol, melainkan sebuah remasan singkat namun bertenaga pada bokong Sarah yang montok dan kenyal.
Jleb.
"Eh, Pak!" Sarah terpekik tertahan. Jantungnya seakan melompat dari rongga dada. Sensasi kasar dari tangan pria dewasa yang meremas bokongnya mengirimkan sengatan listrik asing ke seluruh sistem sarafnya.
"Eh, hampura Néng, teu kahaja kagesek. Sempit jalanna (Eh, maaf Neng, tidak sengaja kegesek. Sempit jalannya)," kekeh Pak Rusdi tanpa rasa bersalah sedikit pun, lalu berjalan pergi meninggalkan Sarah yang mematung dengan napas terengah-engah dan wajah semerah tomat.
Sejak pagi itu, ada yang berubah. Sarah merasa tatapan Pak Rusdi selalu mengikutinya. Pria itu mulai sering membawakan martabak manis di malam hari, atau cokelat saat jam istirahat. Sikapnya jauh lebih lembut kepada Sarah dibRizkyngkan pada karyawan lain. Namun, Sarah memilih bungkam. Ia takut. Jika ia bercerita pada Hendra, pacarnya itu pasti akan marah besar dan menyuruhnya keluar dari pekerjaan, padahal ia sangat butuh uang. Apalagi, Hendra masih terus mengabaikan pesan-pesannya, membuat Sarah merasa tak punya pelindung.
GUDANG, HUJAN, DAN DADA YANG TEREMAS
Ketegangan itu mencapai babak baru pada hari Minggu. Klinik meliburkan poli umumnya, menyisakan apotek yang dijaga bergantian. Sebagian besar karyawan pulang ke rumah masing-masing, namun Sarah ditahan. Pak Rusdi memberinya tugas khusus untuk stock opname obat di gudang belakang. Otomatis, hari itu hanya ada mereka berdua di bangunan tersebut.
Gudang klinik itu sempit, pengap, dan dipenuhi rak-rak besi tinggi yang menyimpan ribuan dus obat. Penerangannya hanya bergantung pada satu lampu neon di tengah ruangan.
Sarah sedang berjinjit mencatat jumlah sirup parasetamol di rak atas. Ia mengenakan kemeja seragam biru muda yang dimasukkan ke dalam rok bahan hitam ketat. Tubuhnya merenggang, memperlihatkan siluet bokongnya yang menungging mengundang.
Pak Rusdi sedari tadi berdiri di lorong yang sama, berpura-pura mengecek faktur. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Setiap kali Pak Rusdi bergeser, lengan atau pinggulnya selalu menyenggol tubuh Sarah.
"Aduh, Pak... punten, jangan nyenggol-nyenggol dong, susah nulisnya," tegur Sarah dengan suara bergetar, mencoba bergeser menjauh.
"Hampura, geulis. Da sempit atuh gudangna (Maaf, cantik. Kan sempit gudangnya)," jawab Pak Rusdi dengan suara serak, sengaja mendekatkan wajahnya ke tengkuk Sarah.
Tiba-tiba, suara gemuruh guntur meledak di langit, disusul oleh suara hujan deras yang menghantam atap seng gudang dengan brutal. Suaranya bising, meredam suara apa pun dari dalam.
"Yah, hujan gede, Pak! Jemuranku basah dong. Sebentar Pak, saya angkat jemuran dulu!" Sarah panik, membalikkan badannya dengan cepat untuk keluar dari lorong sempit itu.
Namun, karena terburu-buru, ujung sepatunya tersangkut kaki rak besi.
"Kyaa!"
Sarah kehilangan keseimbangan. Ia jatuh terjerembab ke depan. Alih-alih menghantam lantai, tubuhnya yang montok mendarat tepat di pelukan Pak Rusdi.
Pria bertubuh besar itu dengan sigap menangkapnya. Posisi mereka sangat intim. Sarah menindih tubuh Pak Rusdi yang setengah bersandar pada rak. Wajah mereka berhadapan, napas panas Pak Rusdi menerpa wajah Sarah.
Dan di detik yang sama, Sarah membelalakkan matanya. Jantungnya berdentum brutal. Tangan kanan Pak Rusdi yang lebar dan kasar tidak berada di punggungnya, melainkan tepat mencengkeram payudara kirinya.
Bukan sekadar menahan, tangan Pak Rusdi dengan sengaja meremas gunung kembar berukuran 34D yang padat dan kenyal itu dari balik seragam kemejanya. Remasan itu begitu kuat, dalam, dan dipenuhi nafsu.
"A-Aduuuh... Pak! Lepas! Jangan diremas dong!" jerit Sarah dengan suara parau. Ia berusaha mendorong tubuh Pak Rusdi, namun otot pria itu menahannya seperti dinding beton. Bukannya melepaskan, jari-jari Pak Rusdi justru menggesek puncak payudara Sarah yang seketika mengeras akibat reaksi biologis yang tak bisa ia kontrol.
"Ssttt... hampura, Néng... teu kahaja dicekel ku Bapak, da bisi labuh (Ssttt... maaf, Neng... tidak sengaja kepegang sama Bapak, takut jatuh)," bisik Pak Rusdi. Wajahnya semakin mendekat. Mata pria itu gelap oleh kabut syahwat.
Udara di gudang itu terasa habis. Sarah terpaku. Tatapan liar sang duda mengunci jiwanya. Wajah Pak Rusdi semakin condong, hidungnya nyaris bersentuhan dengan hidung Sarah. Bibir pria yang sedikit menghitam karena nikotin itu terbuka, siap melumat bibir Sarah yang bergetar ketakutan. Sarah menutup matanya, tubuhnya lumpuh antara takut, berdosa, dan sebuah desiran gairah terlarang yang anehnya menjalar di perut bagian bawahnya.
Kring! Kring! Kring!
Dering telepon landline dari meja apotek depan menjerit nyaring, memecah sihir kelam di gudang itu.
Sarah tersentak, menggunakan sisa tenaganya untuk mendorong dada Pak Rusdi. Ia terlepas dari pelukan itu, membenarkan jilbabnya yang berantakan dengan napas terengah-engah. "S-saya angkat telepon dulu, Pak!" cicitnya, lalu berlari keluar dari gudang layaknya mangsa yang lolos dari cengkeraman singa.
Di dalam gudang, Pak Rusdi tersenyum miring. Tangannya yang baru saja meremas kelembutan dada Sarah diangkat ke depan wajahnya. Ia mencium aroma wangi tubuh gadis itu yang tertinggal di telapak tangannya. Celananya terasa sesak. "Sakeudeung deui, Néng... sia pasti ragrag ka pangkuan aing (Sebentar lagi, Neng... kamu pasti jatuh ke pangkuanku)," geramnya tertahan.
MALAM JAHANAM DI TENGAH BADAI
Hari-hari setelah kejadian di gudang itu terasa seperti neraka kecil bagi Sarah. Rasa bersalah menghantuinya, namun Hendra masih saja bungkam, tak membalas WhatsApp-nya sama sekali. Keputusasaan mulai merapuhkan benteng pertahanan mentalnya. Sementara itu, Pak Rusdi semakin gencar menunjukkan "taringnya". Ia bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, namun tatapannya semakin telanjang setiap kali melihat Sarah.
Hingga tibalah malam yang akan mengubah hidup gadis polos itu untuk selamanya.
Klinik saat itu sedang shift malam. Rekan kerja Sarah, Bidan Rina, terpaksa pulang lebih awal karena sakit asam lambung yang parah. Praktis, hanya tersisa Sarah dan Pak Rusdi di bangunan besar itu.
Sejak sore, langit kota menangis tanpa henti. Hujan badai turun dengan brutal, disertai angin kencang yang membuat pepohonan di luar berderit mengerikan. Cuaca ekstrem ini membuat tak ada satu pun pasien yang datang berkunjung. Apotek kosong melompong.
Sarah duduk di meja front office, merapatkan jaket rajutnya karena suhu udara merosot tajam. Ia menatap layar HP-nya yang menampilkan ruang obrolan kosong dengan Hendra. Hatinya perih.
Langkah kaki berat terdengar dari lorong belakang. Pak Rusdi muncul, membawa dua gelas teh hangat. Ia meletakkan satu gelas di depan Sarah, lalu menarik kursi dan duduk di sebelahnya. Terlalu dekat.
"Néng Sarah, naha meni cicing waé ayeuna mah? Aya masalah? (Neng Sarah, kenapa jadi diam saja sekarang? Ada masalah?)" pancing Pak Rusdi dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.
Sarah menelan ludah. "T-tidak apa-apa, Pak."
Pak Rusdi menyesap tehnya, matanya tak lepas dari profil samping wajah Sarah. "Sok carita atuh mun aya masalah mah... atawa... masih kepikiran kejadian di gudang minggu kamari? (Silakan cerita kalau ada masalah... atau... masih kepikiran kejadian di gudang minggu kemarin?)"
Deg!
Jantung Sarah seakan berhenti berdetak. Pria ini sengaja mengorek luka itu. Sarah memutar tubuhnya, menatap Pak Rusdi dengan berani meski bibirnya bergetar.
"I-iya, Pak. Saya minta Bapak jangan pernah berbuat seperti itu lagi. Itu salah, Pak."
Pak Rusdi tersenyum tipis. "Hampura, Néng. Kan Bapak geus bilang teu kahaja. Lagian, Néng Sarah nu jalanna teu ati-ati jadi labuh ka dada Bapak. Tapi... empuk oge nya (Maaf, Neng. Kan Bapak sudah bilang tidak sengaja. Lagian, Neng Sarah yang jalannya tidak hati-hati jadi jatuh ke dada Bapak. Tapi... empuk juga ya)."
Wajah Sarah memerah padam karena amarah dan rasa malu yang luar biasa. "Bapak! Tolong jaga bicaranya! Iya, itu salah saya jatuh, tapi saya mohon jangan diingat-ingat lagi, Pak!"
DAAAAARRRR!!! JGEERRRRR!!!
Tepat saat Sarah menyelesaikan kalimatnya, kilatan petir menyambar dengan dahsyat di luar sana, diikuti suara guntur yang memekakkan telinga. Detik berikutnya, seluruh lampu di klinik padam total. Kegelapan mutlak menyergap mereka.
Hanya suara hujan yang menderu menghantam atap yang tersisa. Suhu ruangan mendadak terasa lebih mencekam.
"Astagfirullah! Mati lampu!" pekik Sarah panik. Ia meraba-raba meja dalam kegelapan, mencari letak smartphone-nya untuk menyalakan senter. "Pak Rusdi, di mana senternya?"
Namun, bukan jawaban yang ia dapatkan.
Dalam gulita yang pekat, Sarah tiba-tiba merasakan hawa panas mendekat dari arah belakangnya. Sebelum ia sempat memutar tubuh, sepasang lengan yang sangat besar, berotot, dan kokoh melingkar erat di pinggang dan perutnya. Punggung Sarah ditarik paksa hingga membentur dada bidang yang keras. Aroma napas yang berbau tembakau dan kopi menerpa tengkuknya.
Pak Rusdi telah memeluknya dari belakang.
"A-Ahhh! P-Pak!! Lepas!! Jangan peluk saya, Pak!!" Sarah menjerit tertahan, tubuhnya meronta keras. Ia memukul-mukul lengan besar yang mengunci perutnya, namun pria itu tak bergeming sedikit pun.
"Sstt... nikmati waé atuh, Néng... (nikmati saja atuh, Neng...)" bisik Pak Rusdi dengan suara serak yang berat oleh kabut birahi, bibirnya sengaja menggesek telinga Sarah yang tertutup jilbab. "Udara tiris kieu mah genahna silih peluk, améh haneut (Udara dingin begini paling enak saling peluk, biar hangat)."
"Jangan, Pak! Ini dosa! Tolong lepas! Nanti kalau istri Bapak tahu gimana?!" Sarah menangis histeris. Keputusasaan mulai mencekiknya.
Terdengar kekehan parau di telinga Sarah. Tangan Pak Rusdi yang berada di perut Sarah mulai merayap naik.
"Néng Sarah can nyaho nya? Pamajikan Bapak téh geus maot tilu taun katukang. Makana Bapak cicing di mess. Bapak téh duda, Néng. Tiis unggal peuting... (Neng Sarah belum tahu ya? Istri Bapak sudah meninggal tiga tahun lalu. Makanya Bapak tinggal di mess. Bapak ini duda, Neng. Kedinginan setiap malam...)"
Sambil membisikkan kata-kata itu, tangan kasar Pak Rusdi berhasil menemukan gundukan payudara Sarah dari balik jaketnya. Ia meremasnya dengan brutal, memicu lenguhan kaget dari bibir gadis itu.
"Tidaaak!! Lepass!!"
Sarah menggunakan sisa tenaganya untuk menginjak kaki Pak Rusdi dan menyikut perut pria itu. Pelukan itu sedikit melonggar. Sarah mencoba berlari menembus kegelapan lorong. Namun, dalam satu lompatan, Pak Rusdi berhasil menangkap lengan Sarah.
Dengan tenaga hewan buas yang kelaparan, duda itu menarik tubuh Sarah dan menyeretnya secara paksa ke dalam Ruang Periksa Dokter yang ada di samping apotek.
Brak!
Pintu ditutup dan dikunci dari dalam. Di ruangan yang sempit, bau obat-obatan, dan segelap malam itu, Sarah dihempaskan ke atas bed (ranjang pasien) yang berlapis perlak kulit.
Belum sempat Sarah bangkit, tubuh besar dan berat Pak Rusdi sudah menindihnya, mengunci kedua kakinya, dan memenjarakan kedua tangannya di sisi kepala.
"A-Ampunn, Pak... hiks... saya mohon jangan begini... saya nggak mau, Pak..." tangis Sarah pecah, air matanya menganak sungai membasahi perlak ranjang. Ia meronta-ronta di bawah kungkungan pria yang tenaganya berkali-kali lipat darinya.
"Ulah sieun, Néng Sarah... (Jangan takut, Neng Sarah...)" napas Pak Rusdi memburu parah, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Sarah yang basah oleh air mata. "Mun Néng Sarah hamil, Bapak janji bakal tanggung jawab! Bapak bakal nikahan manéh! Urang hirup bareng! (Kalau Neng Sarah hamil, Bapak janji bakal tanggung jawab! Bapak akan nikahi kamu! Kita hidup bareng!)"
Kalimat itu bagaikan petir kedua bagi Sarah. "Saya nggak mau!! Saya punya Hendra!! Saya masih perawan, Pak... apa kata orang tua saya nanti di kampung... hiks... tolong lepaskan saya..."
"Hendra? Budak leutik nu ninggalkeun manéh éta?! (Hendra? Anak kecil yang ninggalin kamu itu?!)" Pak Rusdi mendengus marah. "Anjeunna moal bisa nyieun manéh bagja kawas Bapak! Bapak teu paduli! Peuting ieu, manéh kudu ngalayanan aing! (Dia tidak akan bisa bikin kamu bahagia seperti Bapak! Bapak tidak peduli! Malam ini, kamu harus melayaniku!)"
KULIT YANG TERBUKA DAN DESAHAN YANG MENGKHIANATI
Kata-kata negosiasi telah habis. Pak Rusdi melepaskan cengkeramannya dari salah satu tangan Sarah, membiarkan gadis itu memukul dadanya. Tangan besar sang duda langsung beralih meraup kedua payudara Sarah yang berukuran 34D itu dari luar kemeja dan jaket rajutnya.
Ia meremas, mengaduk, dan memelintir gundukan daging yang padat itu dengan sangat kasar dan penuh nafsu.
"A-Awwwhhh!! Sakiit, Pakk!! Jangaann!!" Sarah melengking kesakitan, tubuhnya melengkung ke atas. Namun, di balik rasa sakit itu, sebuah kehangatan asing mulai menyengat saraf-saraf dadanya. Sentuhan pria dewasa yang begitu agresif ini mengirimkan sinyal arousal (gairah) yang tak bisa ditolak oleh biologi tubuhnya.
Pak Rusdi menundukkan wajahnya, mencoba mencari bibir Sarah di tengah kegelapan. Ia menciumi pipi, leher, dan rahang gadis itu dengan beringas. Sarah terus memalingkan wajahnya ke kiri dan kanan, menghindar dengan isak tangis yang memilukan.
"Cicing!! (Diam!!)" bentak Pak Rusdi, kehabisan kesabaran.
Tangan kasarnya dengan cepat membuka ritsleting jaket rajut Sarah, lalu menarik kancing kemeja seragam biru muda itu satu per satu dengan paksa. Brat! Beberapa kancing putus terlempar ke lantai. Kemeja itu terbuka lebar.
Tangan Pak Rusdi merayap ke punggung Sarah, mencari kaitan bra, dan dengan sekali sentakan, bra itu terlepas.
Kini, bagian atas tubuh Sarah sepenuhnya telanjang. Hawa dingin dari luar ruangan seketika menerpa kulit putih pucatnya. Di dalam kegelapan, Pak Rusdi memang tak bisa melihat dengan jelas rupa dari gunung kembar yang montok itu, namun telapak tangannya bisa merasakan kelembutan yang luar biasa. Payudara itu begitu penuh, berat, dan membeludak di genggamannya.
Dan yang membuat Pak Rusdi menyeringai iblis dalam gulita: ia merasakan dua puncak pentil dari payudara itu mulai menegang, mengeras kaku layaknya kerikil menantang telapak tangannya.
"Néng Sarah bilang embung, tapi pentil Néng teuas kieu... (Neng Sarah bilang nggak mau, tapi pentil Neng keras begini...)" bisik Pak Rusdi mesum.
Tanpa permisi, Pak Rusdi membenamkan wajahnya ke dada telanjang gadis itu. Ia melahap puting Sarah yang mengeras, menghisapnya dengan rakus, melumatnya menggunakan lidah kasarnya, dan sesekali menggigitnya pelan.
"AAAAKHHH!! M-Mmmphh!!"
Sarah membekap mulutnya sendiri. Matanya mendelik lebar dalam kegelapan. Sensasi basah, hangat, dan kasar dari mulut pria itu di area paling sensitifnya membuat kewarasannya nyaris putus. Ia belum pernah disentuh sejauh ini. Hendra tak pernah melakukan ini padanya. Tubuhnya yang tak pernah dibelai itu merespons dengan ledakan hormon endorfin. Pinggul Sarah mulai bergetar, dan dari balik celana dalam katunnya, sebuah aliran lendir bening mulai merembes membasahi kainnya.
"S-sudah, Pak... hiks... ughhh... a-ampun..." rintihan Sarah mulai terdengar sumbang. Isak tangisnya mulai berbaur dengan lenguhan napas yang berat. Saraf tubuhnya mulai mengalahkan pertahanan moralnya.
Merasa mangsanya mulai meleleh, Pak Rusdi bangkit. Di tengah suara hujan yang menderu, terdengar bunyi ritsleting celana yang dibuka, disusul suara kain yang jatuh ke lantai. Duda bertenaga kuda itu melucuti seluruh pakaiannya hingga ia telanjang bulat.
Pak Rusdi kembali menindih Sarah. Ia meraih tangan kanan gadis yang masih gemetar itu, lalu dengan paksa mengarahkan tangan halus Sarah ke bagian bawah perutnya.
Mata Sarah terbelalak, napasnya tercekat saat telapak tangannya menyentuh sesuatu yang luar biasa panas, keras, dan tebal. Itu adalah kejantanan Pak Rusdi. Kontol duda itu berukuran sekitar 14 sentimeter, sangat tebal, berkulit kasar, dan berdenyut beringas meminta pelampiasan.
"Kocok, sayang... leungeun Néng mani lemes kieu... (Kocok, sayang... tangan Neng halus banget begini...)" perintah Pak Rusdi dengan suara serak yang sangat mengintimidasi.
"S-saya nggak bisa, Pak... hiks... saya jijik... saya nggak pernah pegang ginian..." tangis Sarah kembali pecah, ia mencoba menarik tangannya, namun Pak Rusdi menahannya kuat-kuat.
Pria itu menutupi punggung tangan Sarah dengan tangannya sendiri, lalu memaksa tangan gadis itu bergerak maju mundur, mengocok batang kerasnya.
Sreeek... sreeek... Suara gesekan kulit tangan yang halus dengan urat-urat kasar itu terdengar jelas.
"Terus, Néng... kieu carana muaskeun lalaki... (Terus, Neng... begini caranya memuaskan laki-laki...)" Pak Rusdi mulai mendesah berat, matanya terpejam menikmati sensasi tangan perawan yang membelai miliknya.
Selama sepuluh menit penuh siksaan psikologis itu, Sarah dipaksa mengocok kejantanan sang apoteker. Hawa panas dari benda itu seolah menular ke telapak tangannya, membuat seluruh tubuh Sarah merinding.
Pak Rusdi semakin kalap. Birahinya sudah di ubun-ubun. Ia menyingkirkan tangan Sarah. Kini, waktunya memetik mahkota yang sesungguhnya.
Dengan gerakan kasar, Pak Rusdi merosot ke bawah. Ia menarik rok bahan hitam Sarah beserta celana dalamnya dalam satu tarikan beringas.
"Tidaaak!! Pak!!"
Sarah panik luar biasa saat menyadari dirinya kini sepenuhnya telanjang dari pinggang ke bawah. Hanya menyisakan jilbab peach yang masih melilit di kepalanya—sebuah kontras visual yang luar biasa menggairahkan bagi fantasi kotor sang duda.
Dengan sisa tenaga dan insting bertahan hidup, Sarah menendang dada Pak Rusdi. Pria itu sedikit terdorong mundur. Menggunakan kesempatan emas itu, Sarah memutar tubuhnya, turun dari ranjang pasien, dan mencoba berlari menuju pintu dalam kegelapan.
Namun, lantai klinik yang licin dan kakinya yang gemetar membuat langkahnya lambat.
Baru dua langkah, sebuah tangan besar laksana capit besi mencengkeram pergelangan kaki Sarah.
"Arghh!" Sarah terjatuh tengkurap di lantai.
"Eukeuy kabur ka mana sia?! (Mau kabur ke mana kamu?!)" aum Pak Rusdi.
Pria itu menarik kaki Sarah, menyeret tubuh telanjang gadis itu kembali ke arah ranjang. Tenaga Sarah benar-benar sudah habis. Ia tak berdaya saat Pak Rusdi membopongnya dan membantingnya kembali ke atas perlak dingin itu.
GERBANG KESUCIAN YANG TERKOYAK
Pak Rusdi memosisikan tubuhnya di antara kedua kaki Sarah. Ia memegang kedua lutut gadis itu dan mendorongnya hingga terbuka lebar, membentuk huruf M.
"Jangannn, Pakkk!! Demi Allah saya nggak mau!! Hiks... tolooonggg!!" Sarah menjerit histeris, air matanya membanjiri wajah, kepalanya menggeleng keras. Ia memohon dengan sisa-sisa kewarasannya.
"Cicing!! (Diam!!)"
Pak Rusdi tak peduli. Dalam kegelapan, tangannya meraba area kewanitaan Sarah. Ia bisa merasakan betapa mulusnya kulit di sekitar area itu, hanya ditumbuhi bulu-bulu halus yang tipis. Dan yang membuatnya tersenyum iblis: bibir memek Sarah sudah sangat basah dan licin oleh pelumas birahinya sendiri.
"Néng ceurik, tapi memek Néng baseuh kieu... ieu tandana awak Néng geus hayang... (Neng nangis, tapi memek Neng basah begini... ini tandanya tubuh Neng sudah mau...)" bisik Pak Rusdi menundukkan wajahnya di depan selangkangan gadis itu.
Pak Rusdi mengarahkan kepala kontolnya yang memerah dan berdenyut panas, menempelkannya tepat di celah gerbang kesucian Sarah yang masih tertutup rapat.
Merasakan ujung benda asing yang panas dan besar itu menyentuh organ paling intimnya, tubuh Sarah menegang kaku sekeras papan. Matanya mendelik. Kengerian yang luar biasa bercampur dengan rasa penasaran biologis yang membakar sarafnya.
"Tenang wéh, kasep... (Tenang saja, cantik...)" bisik Pak Rusdi, napasnya memburu di depan wajah Sarah. "Sakitna ngan sakeudeung... engké gé Néng pasti ketagihan... (Sakitnya cuma sebentar... nanti juga Neng pasti ketagihan...)"
Tanpa peringatan, Pak Rusdi menggesekkan kepala kontolnya naik turun di belahan bibir memek Sarah yang licin.
Sreett... sreett...
"A-Ahhh... hmmm... ughhh!!"
Sarah memekik tertahan. Gesekan tumpul di titik klitorisnya itu mengirimkan ledakan jutaan volt listrik ke otaknya. Kepalanya terlempar ke belakang, punggungnya melengkung. Sensasi yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya ini menyapu bersih rasa takutnya sedetik demi sedetik. Ia tak bisa memungkiri, desiran nikmat yang berdosa ini mulai meracuni darahnya.
Ia menangis, air matanya terus mengalir. Ia sadar ini salah, sangat salah. Ia telah mengkhianati Tuhan, orang tuanya, dan Hendra. Namun tubuhnya telah hancur dalam kepasrahan, menunggu monster itu merobek selaput daranya dan mengubah hidupnya untuk selamanya.
Di luar, petir kembali menyambar dengan buas, menerangi sesaat siluet sang duda yang siap menghujamkan keperkasaannya ke dalam rahim perawan sang gadis berbalut jilbab.
Bersambung...
ns216.73.216.176da2


