“Kak, aku pergi sekolah dulu yah…”1768Please respect copyright.PENANAAdb7Y4L0Mb
“Iyaaa… belajar yang bener, jangan macam-macam di sekolah kamu dek!”1768Please respect copyright.PENANA6JqPbAdZkq
“Nggak kok… mending macam-macam di rumah sama kakak, hehe”1768Please respect copyright.PENANA6xfcvz9uix
“Hah? Apaan sih kamu…?”
“Bercanda kok kak…”1768Please respect copyright.PENANAVyZclC5myx
“Dasar…” Diapun mendaratkan ciumannya di keningku, seperti yang biasa dia lakukan ketika aku pamit ke sekolah. Ugh, sungguh senangnya tiap pagi selalu mendapatkan ciuman darinya, ciuman dari kakakku yang cantik dan seksi ini, tapi…
“Hehe.. Dado pamit juga ya kak..” ujar temanku bernama Dado yang menungguku dari tadi. Dia ikut mendekati kakakku dengan wajah sok polos dan cengengesan seperti ingin juga mendapatkan kecup manis dari kakakku.
“Kenapa Do? Kamu mau kakak cium juga?” Tanya kakakku seakan bisa menebak apa yang dipikirkan temanku itu.1768Please respect copyright.PENANA6jxhfOet4P
“Hehe… Iya kak… boleh?” pinta Dado.
“Hihihi… duh kamu ini, Kakak tanyain Didi dulu yah… Dek lihat tuh, temanmu mau dicium sama kakak juga tuh… Boleh nggak dek dia juga dapat ciuman dari kakak?” tanya kakakku meminta pendapatku.
“Ya nggak lah kak!” tolakku, gila aja kalau si jelek ini juga dapat ciuman dari kakakku.
“Tuh dengar, gak dibolehin sama Didi, hihihi. Udah sana kalian, buruan berangkat”
“Iya iya… Buruan Do!” suruhku menyeret Dado, kalau lama-lama di sini ntar si Dado beneran bakal dapat ciuman dari kakakku lagi, tak rela aku! Akupun segera menyalakan motorku dan berangkat ke sekolah.1768Please respect copyright.PENANAl0cEOlcUWj
“Daagh kak Rizsaa…”1768Please respect copyright.PENANAL6SSvx5YIs
“Daagh kak Rizsaa cantik.. hehe..” pamit Dado juga ikut-ikutan. Kupret nih anak!
Namaku Didi. Aku masih kelas 2 SMU. Di rumah ini aku hanya tinggal berdua bersama kakakku. Ya, hanya berdua saja karena kedua orang tua kami tinggal di kota yang berbeda dengan kami. Papaku yang bekerja di luar kota membuat Mama juga jadi harus mendampinginya di sana. Tapi bagiku tak masalah, karena selama ini aku ditemani oleh kakakku, Kak Rizsa.
Kak Rizsa saat ini sedang kuliah di salah satu PTS ternama di kota kami dan baru saja menjalani tahun pertamanya. Sungguh hari-hari yang kulalui sangat menyenangkan karena kakakku sangat memperhatikan diriku.
Seperti memasakkan makanan untukku sehari-hari, sampai mengingatkan akan pakaian kotorku yang seharusnya dicuci. Tapi karena kakakku juga memiliki kesibukan kuliah, aku memilih untuk mencuci pakaianku sendiri. Walau terkadang justru ia yang ingin mencucikan pakaianku. Memang kakakku ini sangat baik. Hal itulah yang membuatku semakin suka bermanja-manja pada kakakku ini.
Kak Rizsa sehari-hari dikenal baik, ramah dan sopan di lingkungan perumahan kami. Dia tidak pernah pilih-pilih teman dalam bergaul. Walaupun kak Rizsa sudah memiliki pacar, tapi tetap saja banyak cowok yang nekat untuk medekatinya.
Bahkan termasuk teman-temanku yang suka main kerumah dengan alasan bikin PR lah, main PS lah. Siapa juga sih yang tidak tertarik dengan cewek seperti kak Rizsa? Sudah cantik, sopan, ramah pula. Aku saja sampai tertarik padanya meskipun aku adalah adik kandungnya, hehe.
Sehari-hari, Kak Rizsa selalu berpakaian tertutup lengkap dengan jilbab bila keluar rumah atau saat sedang menerima tamu. Tapi ketika sedang di rumah saat hanya berdua denganku, kak Rizsa sering sekali berpakaian seadanya.
Siapapun pasti memaklumi bila berpakaian seadanya saat berada di rumah tanpa ada orang lain yang melihatnya kecuali aku. Tapi yang kak Rizsa kenakan justru lebih dari sekedar seadanya.
Bahkan bisa dibilang sangat seadanya, pakaian yang sangat minim! Karena hanya ada aku di rumah ini, maka akulah yang beruntung bisa melihat pemandangan indah ini setiap hari. Walaupun kadang-kadang teman-temanku juga kebagian rezeki dapat melihat penampilan kakakku berpakaian minim.
Seperti saat mengantarkan aku ke depan pintu tadi, kakakku ini hanya mengenakan tanktop putih ketat berbelahan rendah dengan bawahan celana pendek berwarna pink. Sungguh setelan yang mempertontonkan aurat-auratnya!
Kulitnya yang putih mulus, lekukan tubuhnya yang indah, rambut hitam sebahunya yang digerai, serta semua bagian tubuhnya yang biasa ia tutupi bila keluar rumah itupun tersaji khusus untukku, adek laki-lakinya.
Aku juga bisa pastikan kalau kak Rizsa tidak mengenakan apa-apa lagi dibaliknya karena aku bisa dengan jelas melihat tonjolan mungil pada bagian dadanya. Gimana aku nggak horni coba? Meskipun aku adeknya, tapi aku kan laki-laki biasa. Sialnya temanku tadi juga beruntung bisa melihatnya.
Tapi kak Rizsa sepertinya cuek-cuek saja dan tidak peduli bila dirinya selalu menjadi tontonan bagiku sehari-hari. Kak Rizsa seperti sudah biasa membiarkan dirinya dan cara berpakaiannya itu dipelototi bulat-bulat olehku. Malah sesekali kak Rizsa melempar senyum manisnya ketika tahu aku sedang memperhatikannya.
Ugh, sungguh bikin gregetaaan! Mana dianya juga tak jarang mondar-mandir di depanku seperti seakan sengaja menggodaku. Gimana aku tidak pusing dibuatnya!?
Semakin lama aku malah berpikir kalau kak Rizsa sepertinya suka sekali jika aku memperhatikan dirinya. Terutama ketika kak Rizsa hanya berpakaian seadanya di rumah, dia betul-betul memamerkan kecantikannya itu padaku. Berbeda dengan kesehariannya di luar, kalau di rumah kak Rizsa sering menggodaku seolah-olah ia seperti perempuan nakal.
Dan namanya laki-laki, aku pun sering merasa tak tahan dengan pemandangan yang selalu kak Rizsa suguhkan setiap hari buatku. Kak Rizsaku yang cantik, putih, bening, dan seksi, dan nakal, akhirnya menciptakan khayalan yang tidak-tidak di dalam kepalaku. Dan berujung pada kegiatan rutin harian, yaitu urut-mengurut otongku sambil membayangkan kak Rizsaku yang nakal.
Tentunya aku beronani membayangkan kakakku secara diam-diam, tapi akhirnya perbuatan aku itu ketahuan juga olehnya. Kejadiannya baru seminggu yang lalu…
“Adeeeeeek!” teriaknya kencang di depan kamar mandi waktu itu.1768Please respect copyright.PENANA0oEnQeuu53
“Apaan sih kak? Berisik amat”
“Kamu onani?? Tuh pejumu belepotan di lantai kamar mandi! Cepat bersihin!”1768Please respect copyright.PENANA0bOgSJoqo2
“I..iya..” Duh, aku sungguh malu ketahuan habis onani oleh kakakku sendiri.
“Emang kamu udah bisa keluarin peju yah dek?” ujarnya menggodaku.1768Please respect copyright.PENANAAKWY25oev7
“Ya bisa dong kak… aku kan udah gede, hehe..”1768Please respect copyright.PENANA713mRqDHQG
“Iya.. makin gede tapi juga makin mesum kamunya…”
“Habisnya kakak sih… ups!” sial, aku keceplosan.1768Please respect copyright.PENANA9OMFfCncrM
“Hah? Jangan bilang kalau kamu onani sambil ngayal kakak!? Ayo jawab!”
“Eh.. i..itu…” aku tergagap. Masak aku mengakui padanya kalau aku membayangkan kakakku sendiri sebagai objek onani sih? Tapi dia yang melihat aku tergagap malah tertawa terbahak. Dia tidak marah!
“Dasar kamu… sama kakak sendiri nafsu… sana cepat bersihin pejuhmu!” ujarnya lalu pergi membiarkanku sendiri membersihkan ceceran spermaku di lantai kamar mandi.
Setelah kejadian itu, kakakku ini malah semakin menjadi-jadi menggodaku. Bahkan dia mengizinkan aku untuk membayangkannya bila aku beronani. Malah beberapa hari yang lalu aku beronani di depannya, di depan kakakku sendiri sampai ejakulasi dan pejuhku berhamburan mengotori lantai kamar mandi. Waktu itu aku lagi-lagi kedapatan olehnya sedang onani, dia tidak sengaja masuk ke kamar mandi.
“Kamu sih dek… kakak kira gak ada orang… eh ternyata malah asik onani…”1768Please respect copyright.PENANAWtNJwsgtcW
“I..iya kak… maaf”1768Please respect copyright.PENANAe6iutKxg0b
“Bayangin siapa kamunya? Bayangin kakak lagi?”1768Please respect copyright.PENANApWbreVM6b9
“Iya kak.. hehe”1768Please respect copyright.PENANA15qKytjqva
“Dasar porno! Ya udah, lanjutin gih sana…” ujarnya kemudian ingin pergi, tapi ku tahan.
“kakak di sini aja dong…”1768Please respect copyright.PENANAmJzqoIOJr4
“Hah? Ngapain?”1768Please respect copyright.PENANAXxJP5357nN
“Temanin aku…” pintaku nekat, aku pasrah kalau dia bakal memarahiku, tapi siapa tahu kalau dia malah setuju.
“Apaain sih dek… Dasar… ya udah, kali ini aja yah…” dan ternyata dia memang setuju! Sungguh beruntung aku punya kakak seperti dia. Udah cantik, baik, pengertian sama adeknya lagi, hehe. Akupun lanjut beronani, namun kali ini ada kakakku di depanku. Mengocok penisku dengan melihat kakakku secara langsung! Mana dianya senyum-senyum terus kepadaku, mana tahan coba? Akhirnya spermakupun muncrat-muncrat dengan derasnya di depannya.
“Sudah kan dek? Udah lega? Udah hilang kan pusingnya?”1768Please respect copyright.PENANAHv1YrJKv2V
“I..iya kak.. makasih”1768Please respect copyright.PENANA6UEmzPpx0z
“Jangan lupa bersihin tuh pejumu…”1768Please respect copyright.PENANAryuWp7hvNc
“I..iya..”
Tapi ternyata tidak sekali itu saja aku beronani di depannya, kemarin dan dua hari yang lalu juga demikian. Tapi hanya sampai disitu saja, kak Rizsa masih selalu mengingatkanku bahwa kami adalah saudara kandung kakak beradik. Memang aku sadar bahwa sangat tidak pantas aku meminta hal ini padanya. Tapi nafsuku pada kakakku sendiri mengalahkan segala-galanya.
…………
Dan kini, siang sepulang sekolah aku langsung menuju rumah tanpa mampir-mampir kemana lagi. Apalagi kalau bukan untuk berduaan dengan kak Rizsa, bermanja-manjaan dengan kakakku yang cantik ini.
“Kak Rizsaa..” panggilku melihat kak Rizsa sedari tadi mondar-mandir.
“Apa deek?” aku mendengar kak Rizsa menjawab sambil tersenyum manis. Sepertinya ia tahu kalau aku sedang memperhatikannya dari tadi.
“Ngapain sih kak dari tadi mondar-mandir? Pusing tau kak liatnya”
“Ooh, adek lagi pusing beneran? Atau pusing banget dek?” teguranku malah dijadikan candaan oleh kak Rizsa.
“Anu kak.. Hehe.. lagi pusing banget..” jawabku cengengesan, entah kak Rizsa tahu maksudku atau tidak.
“Hihi.. kamu tuh ya dek.. ga bisa apa bentar aja ga pusing.. masa tiap hari bilangnya pusing melulu..” kak Rizsa duduk disebelahku dan memberi jarak agak jauh.
“Abisnya, kak Rizsa juga siih.. tanggung jawab ya kalo aku sakit gara-gara pusing melulu..” candaku mengancam kak Rizsa, sekali lagi entah kak Rizsa mengerti maksudku atau tidak.
“Yee.. adek yang pusing kok kakak yang disalahin? Umm, adek belum makan kalii.. Tuh kak Rizsa udah masakin ikan goreng kesukaan adek”
“Aku pusing bukan karena laper kak..” jawabku sok bersungut walau sebenarnya aku memang lapar betulan, hanya saja ada yang jauh lebih lapar di banding perutku.
“Umm.. Adek pasti pusing karena belum dapet-dapet pacar yah? Hihi.. kasian banget sih kamu dek.. di rumah melulu siih..” kak Rizsa mencari jawaban yang aku kini malah dijadikan bahan candaan oleh kak Rizsaku ini. Tapi seyum dan tawa ringan kak Rizsa membuatku bertambah pusing.
“Iya nih kak.. kenapa ya kok aku sukanya di rumah aja berdua sama kak Rizsa,? Hehe..” jawabku cengengesan sambil duduk merapat mendekati kakakku berharap kakakku tidak makin menjauh.
“Iya nih dek.. kakak juga sama. Kok sukanya di rumah aja yah sama adek berdua-duaan? Hihi..” sambil menjawab dengan tawa renyahnya kak Rizsa menggeser duduknya yang malah semakin mendekat ke arahku dengan tubuhnya yang dicondongkan kedepan. Wajah kami pun tampak berdekatan. Aku suka kaget sendiri kalo kak Rizsa menggodaku tiba-tiba seperti ini.
“Serius kak?” tanyaku balik seperti tak percaya akan jawaban kak Rizsa.
“Iya lho.. coba deh bayangin dek kalo ngga ada kakak.. Adek makan ga ada yang masakin.. baju kotor ga ganti-ganti.. sekolah kalo ga diingetin suka bolos, pake alasan nemenin kakaklah.. ga kebayang tuh dek, seminggu aja adek jadi kayak gembel.. Hihi..”
“Kak Rizsa!” dengan sebal dan gemas aku memajukan tubuhku sambil merentangkan tangan memeluk kakakku yang sukanya menggodaku.
“Adek! Aduuh.. Geli dek! Lepasin doonk! Hihi.. kakak belum selesai ngomong nih..” kak Rizsa meronta dari pelukanku yang jamahan tanganku bergerilya sampai kemana-mana. Tapi seperti biasa, kalau kak Rizsa seperti mau-mau saja kuperlakukan seperti ini.
Lalu karena aku penasaran akan lanjutan kak Rizsa, akupun menghentikan gerakan gerilyaanku walau aku masih tetap memeluk kak Rizsa yang kini posisiku jadi memeluk dari belakang karena rontaanya barusan.
“.. Kalau adek lagi kambuh pusingnya, siapa yang ngobatin? Hmm?” tanyaku kak Rizsa seolah menunjukkan betapa tergantungnya diriku padanya.
“Hehe.. kak Rizsa donk, kan cuman kak Rizsa yang pinter ngobatin..” jawabku mesum.
“Kamu tuh ya dek.. bisa-bisanya kakak sendiri dicabulin, tiap hari lagi.. sana gih cari pacar..” sambil dengan gaya mengusir menepis-nepis pelukanku yang makin erat. Semakin erat pelukanku, semakin menempel tubuhku termasuk otongku yang sudah mulai mengeras merapat pada tubuh belakang kak Rizsa.
“Ga mau ah! Maunya sama kak Rizsa aja, udah baik, cantik, seksi lagi.. Uugh..” pelukku sambil mengangkat kakiku mengapit paha kak Rizsa dari belakang agar tak mudah lepas dari pelukanku. Dan membuat otongku semakin menggesek pada pinggul belakang kak Rizsa.
“Aduh adeek.. kok kakaknya dijepit begini sih? Kan kakak jadi ga bisa bergerak..” jawab kak Rizsa dengan nada manja.
“Uugh.. kak Rizsa..” mendengarnya menjawab dengan nada manja gemulai tak berdaya seperti itu malah justru membuatku semakin panas dingin.
“Dek..”
“Iya kak?”
“Udah?”
“Apanya ya kak?” jawabku pura-pura tak tahu.
“Itu tuuh yang dibelakang kakak.. ngeganjel tau deek..” kak Rizsa rupanya sadar aku mulai melakukan gerakan menggesek di pinggul belakangnya.
“Yaah, kak Rizsa.. sekali ini doonk.. yah? Lagian kan ga nempel langsung kok kak.. tapi kalo boleh nempel langsung Didi seneng banget loh kak..Hehe.. yah kak? Pleasee..” pintaku memohon banget sama kakakku yang cantik ini.
“..Uumm.. boleh gak yaah?” kak Rizsa menggodaku seperti biasa dengan gaya genit pura-pura berpikir.
“Sekaliii aja kak.. Boleh yah?” aku memohon dengan wajah memelas sambil masih terus menggesek pelan pada pinggul kak Rizsa yang semakin lama mendekat ke belahan bongkahan bokongnya.
“Kamu tuh yaa, kalo dikasih hati langsung minta jantung sama kakak..”
“Hehe.. iya kak Rizsa, jantung kakak disini yah?” lanjutku bertanya balik sambil iseng memegang dada kak Rizsa.
“Adeeeeek! Tanganmu! Lepasiin…… ugh… geli… Adeek!” aku yang iseng terus melancarkan seranganku pada kak Rizsa malah semakin heran melihat dia yang bukannya marah, tapi malah kegelian. Tentu saja aku semakin berani dibuatnya, akupun meneruskan aktifitas tanganku di buah dadanya sambil menekan dan mempercepat goyangan pinggulku pada belahan pantat kakakku ini, dan kak Rizsa tetap saja hanya diam menerima perlakuan cabul dariku!
“Kak Rizsa.. maaf yah.. aku gak tahan ngeliat kakak kayak gini tiap hari..” sambil aku terus memeluk dan menggoyangkan pinggulku.
“…”
“Ngeliat kak Rizsa yang cantik, putih, harum, seksi.. Uugh.. kak Rizsa sih, godain aku terus!” aku makin mempercepat gerakan pinggulku, tapi kak Rizsa hanya diam saja.
“…”
“Kak?” panggilku karena kak Rizsa hanya diam saja dari tadi.
“…”
“Kak.. Kakak marah ya?” aku mulai penasaran, apakah kak Rizsa marah padaku karena aku semakin kurang ajar padanya? Aku mulai agak mengendurkan goyanganku.
“Bawel ah! Kamu mau nerusin atau mau udahan? Kalo udahan, kak Rizsa bangun nih ya?” tiba-tiba kak Rizsa buka suara. Aku terkejut karena ternyata kak Rizsa benar-benar tidak sedang marah, malah seperti menantangku untuk meneruskan kegiatanku.
“Eh! Ja..jangan kak.. Aku mau terusin kok.. Aku kira tadi kakak marah, hehe..”
“Nggak marah kok. Emangnya pernah kakak marah sama kamu?”
“Uumm.. ga pernah sih.. makanya aku sayang banget ama kak Rizsa, aku cinta banget sama kakakku yang seksi ini, hehe..”
“Huuu… dasar! Tapi ingat ya deek.. jangan sampai nyelip!”
“Kalo dikit aja kak?” aku mencoba peruntunganku dengan menawar, tidak ada salahnya, siapa tahu dia mau.
“Nggak! Inget ya dek… kita tuh saudara kandung, kakak adik.. jadi jangan yah adek..” Ah, dia tidak mau. Aku tak bisa memaksanya lebih jauh lagi.
“Iya deh kak..” jawabku agak setengah bersungut.
“Adeek…” kak Rizsa menoleh kebelakang untuk melihatku, dari nadanya dia seperti sedang baik-baikin aku yang sedang bersungut walau aku masih terus menggoyangkan pinggulku.
Tiba-tiba kak Rizsa melepaskan pelukanku, berpindah posisi tapi masih di kursi sofa tempat kami duduk berdua. Kak Rizsa dengan bergaya merangkak di atas sofa, bergerak maju menuju tepian tangan sofa menjauhiku.
Aku masih tak mengerti apa yang kak Rizsa lakukan, tapi melihat goyangan pinggul dan pantatnya seakan kak Rizsa memang niat menggodaku untuk menerkamnya dari belakang. Kak Rizsa kemudian menoleh ke arahku mengintip dari balik pundaknya.
“Adeek.. sini deh.. kalau gesekin pake gaya doggy, adek mau nggak?” kak Rizsa dengan postur tubuh menungging membelakangiku bertanya lirih dan manja sambil menggigit bibir bawahnya. Tubuhku langsung panas dingin! Tentu saja aku mau!
“Uugghh! Kak Rizsa!” teriakku sambil menerkam dan menubruknya dari belakang.
“Hihihi… pelan-pelan! Hmm… dek, keluarin aja burungnya, kasian nanti malah bengkok ketekuk di dalam celanamu” suruh kak Rizsa sambil senyum-senyum. Haduh… tawaran apalagi ini? Tentu saja tidak ku tolak, segera ku bebaskan penisku dari celanaku.
“Kak.. aku selipin ke dalam celana kak Rizsa yah? Janji deh aku ga bakal masukin..”
“..Uumm.. Iyah.. tapi bener yah dek, jangan dimasukin..”
“Ouughh, kak Rizsaku yang cantik dan baik.. nih kak..” Akupun menyelipkan penisku ke dalam celana kak Rizsa melalui lubang kaki celana pinknya itu. Seperti yang kuduga, kak Rizsa tidak mengenakan celana dalam! Sambil kuarahkan dan kutempelkan otongku pada belahan pantat kak Rizsa, tanganku memegang pinggang kak Rizsa. Kini posisiku mirip orang yang sedang menyetubuhi kak Rizsa dari belakang dengan gaya doggy.
“Ngghh.. deekk…. Sshhh… dasar kamu nakal” rintih kak Rizsa, mendengar suara rintihannya itu membuatku semakin larut dalam khayalan yang seolah-olah aku seperti sedang berhubungan badan dengan kakak kandungku sendiri. Ugh… kak Rizsa.
“Adeek.. kalo orang liat kita, pasti dikira kamu lagi ngapa-ngapain kakak…” kata kak Rizsa yang mulai memancing-mancing dengan omongan panasnya. Walau kami masih memakai pakaian lengkap, tetap saja pemandangan sebagai kakak adik yang sedang melakukan perbuatan cabul ini menumbuhkan sensasi yang membuat panas dingin bagi yang melihatnya.
“Kalo orang liat kak Rizsa sama aku lagi begini.. pasti mereka juga pengen kak..” imbuhku sambil terus menggesek otongku di sela-sela pantat dan kain celananya.
“Hihi.. iyah dek, kepengen ngentotin kak Rizsa juga yah merekanya? Samaan kayak adek..” mendengar kak Rizsa mengucapkan kata-kata kotor begitu malah membuat otakku semakin ngeres, membayangkan kak Rizsa benar-benar disetubuhi oleh orang asing akibat melihat tingkah laku kami.
Bahkan lebih dari satu orang, saling berebut untuk mengentoti kakakku yang cantik dan seksi ini. Kak Rizsa benar-benar nakal, membayangkan dirinya disentuh orang lain selain aku ataupun pacarnya. Kak Rizsa yang berkulit putih, ditindih dan digagahi mereka yang berkulit gelap.
Membayangkan kak Rizsa yang tak berdaya berusaha melayani penis-penis mereka membuatku semakin horni. Entah kenapa semakin aku membayangkan apa yang dialami kak Rizsa semakin cepat pulalah irama goyangan pinggulku, penisku juga menekan semakin kuat ke belahan pantat kak Rizsa.
“Uugh.. kak Rizsa..”
“Hihi.. kamu ngebayangin apa sih dek? Ngebayangin kak Rizsa dientotin orang lain yah dek?”
“Kak Rizsa nakal nih.. Uughh.. Kak Rizsa..” aku mulai meracau tak jelas dan gesekanku semakin cepat.
“Adeek.. suka berfantasi kakak dicabulin orang lain yah dek? Emang kalau beneran terjadi kamu pengen lihat?” suara kak Rizsa makin kemari makin lirih dan menggoda.
“Kak Rizsa nakal! Adek udah mau keluar.. kaak!”
“Terus deek.. entotin kakak dek.. teruss..” kak Rizsa terus menggodaku sampai akhirnya aku muncrat dan menekan otongku kuat-kuat ke belahan pantatnya yang montok dan putih itu dibalik celana pinknya hingga basah oleh pejuhku. Setelah membuang semua pejuhku ke pantat kak Rizsa, aku ambruk di punggungnya sambil sesekali meremas-remas susu kakakku.
“Udah dek? Udah hilang kan pusingnya?” kak Rizsa bertanya setelah membantuku melampiaskan hal yang tak tertahankan. Kakakku benar-benar nakal. Selalu membawaku mengkhayalkan yang tidak-tidak tentangnya.
“Hehe.. udah belum yah kaak?” candaku mengikuti gaya kak Rizsa.
“Ooh.. jadi adek mau lagii?”
“Iyah kak.. mau.. mau..” jawabku bersemangat. Aku lalu melihat kak Rizsa bangkit dari duduknya, sedang aku dengan setia menanti apa yang akan diperbuat oleh kakakku yang seksi ini.
“Lihat deek.. jangan ngedip yah..” kak Rizsa dengan gaya nakal seperti seorang striptease perlahan-lahan memelorotkan celana pendek pinknya. Aku memandang dengan tertegun. Kak Rizsa memelorotkan celananya yang tidak memakai dalaman apa-apa lagi di baliknya.
Bagian bawah tubuhnyapun terpampang bebas di hadapanku, adik laki-lakinya. Aku yang baru saja memuncratkan pejuhku pada kakakku mendadak penisku bisa mengeras kembali. Aku bisa melihat dengan jelas bulu-bulu halus yang tumbuh di atas vagina kakakku yang tembam.
Memang tidak sekali aku pernah melihat vagina kakakku sendiri entah di saat sengaja atau tidak. Tapi disuguhi seperti ini aku merasakan sensasi yang sangat berbeda. Kakakku sendiri sedang menggodaku, dan..
“Nih, pejuhin lagi celana kakak! Sekalian cuciin ya.. bau tuh pejuh adek, hihi..” kak Rizsa melemparkan celana bekas kupejuin tadi ke mukaku.
“Iih! Kakak! Main lempar ke muka aja!” teriakku kesal. Dia hanya tertawa, lalu berlenggang dengan santainya keluyuran di dalam rumah dengan kondisi seperti itu tanpa memakai bawahan sama sekali, hanya memakai tanktop saja.
Sungguh pemandangan yang membuat penisku kembali ngaceng maksimal. Untung saja hanya aku yang melihatnya, tak dapat ku bayangkan bila ada orang lain yang melihat kondisi kakakku seperti sekarang ini. Untuk seorang kak Rizsa yang dikenal sopan, ramah, baik dan selalu memakai jilbab bila di luar rumah, tentunya akan menjadi hal yang sangat berlawanan dengan apa yang sedang dilakukannya sekarang.
“Permisii! Sedekahnya Paak.. Buu..!” tiba-tiba terdengar teriakan orang peminta sumbangan di luar rumah kami.
“Adek! Ada yang minta sumbangan tuh..”
“Iya, aku juga denger kali kak..” dari yang kudengar sepertinya seorang bapak-bapak tua yang berdiri di luar pagar rumah kami.
“Sana gih kasih sumbangan ke Bapak itu dek..” kak Rizsa menyuruhku keluar untuk memberi sumbangan.
Melihat kondisi kak Rizsa yang hanya memakai tanktop putih dan tak memakai bawahan apa-apa, serta aku yang masih memegang celana pendek kak Rizsa, tiba-tiba terbesit pikiran iseng untuk kakakku.
“Gak ah! Kak Rizsa ajah yang kasi sumbangan, hehe..” tantangku iseng ke kak Rizsa. Aku sungguh penasaran kalau memang kak Rizsa mau menerima tantanganku untuk memberi sumbangan ke Bapak itu tanpa mengenakan bawahan apa-apa. Walau dibatasi oleh pagar yang tingginya seatas dadaku kak Rizsa, tetap saja membayangkan kakakku yang bening dan putih itu menemui bapak peminta sumbangan itu membuat darahku berdesir dan tubuhku panas dingin.
“Hmm? Gak pake celana kayak gini dek? Huhu.. Adek pengen liat yah kakak cuma pake ginian nemuin bapak itu diluar?” tanyanya dengan lirikan menggoda.
“Adeek.. liat kakak yah.. kakak penuhi lagi fantasi adek.. hihi..” seraya kak Rizsa membuka pintu depan sambil berekpresi imut dengan mengedipkan sebelah mata dan menggembungkan pipi satunya. Aku hanya bisa memegang otongku yang mulai mengeras melihat tubuh seksi kak Rizsa dengan aurat yang terbuka bebas pada bagian bawahnya.
Kak Rizsa yang selalu berpakaian tertutup dan memakai kerudung, kini akan menemui orang asing dengan vagina dan paha terpampang kemana-mana. Ugh, kak Rizsa benar-benar nakal!
Bersambung…
ns216.73.216.176da2


