Sebut saja saya Didi, seorang mahasiswa yang luar biasa malah tergolong terlalu luar biasa karena sempat DO dan sekarang pindah di kampus yg sangat tidak terkenal. Saya dari dulu entah kenapa sangat malas jika sekolah, yah mungkin bawaan orok kali yah. Saya tinggal di kost yg tidak terlalu dekat dengan kampus.
Kedua orang tua saya sudah meninggal. Saya anak bungsu dari 5bersaudara. Semua biaya kuliah saya ditanggung oleh abang saya. Abang saya seorang pengusaha, beliau memiliki 2 orang anak. Putra putri yg keduanya sudah SMA dan tinggal di asrama. Nah.. Oomnya masih kuliah gak lulus-lulus, keponakannya udah SMA.
Cerita absurd ini mengenai hubungan saya dengan kakak ipar saya, istri abang saya yang membiayai hidup saya selama ini.
Kakak ipar saya, sebut saja Yanti yang kesehariannya seorang ibu rumah tangga sekaligus membantu abang saya dalam menjalankan usahanya. Kakak saya ini sangat spesial, iya spesial.. mulutnya itu udah kayak petasan cabai, cerewet dan pedas. Saya sendiri sedari masih tinggal bersama orang tua saya, sering jadi sasaran jika ada masalah.
Kejadian yang tidak disangka ini terjadi saat akhir tahun lalu, dimana kampus saya libur Natal 2 minggu.
Saat kami kembali berciuman, aku menarik CD yg ia kenakan. Seakan paham ia angkat pantatnya dari pangkuanku untuk memperlancar usahaku. Aku mulai memainkan clitorisnya dengan jari2ku. “Ehhmm emmhhh” hanya itu yg keluar dari bibir kakak iparku. Aku baringkan kakakku di sofa, lalu aku buka pahanya. Tak bosan aku memuji memek kakak iparku ini, bentuknya masih seperti ABG.
Takut mengecewakan kakakku, aku lanjutkan aksi yg tertunda karena mengagumi memek indah yg ada di depanku. Aku jilati dan colokan lidahku menyusuri belahan vagina yg harusnya milik pribadi abangku. “Oh..” terdengar erangan kakak iparku, membuat aku lebih bersemangat. Jari tengahku ikut membantu saat lidahku bermain di clitorisnya.
Aku hentikan aksiku dan duduk di sebelahnya. Tak berapa lama setelah nafas kakakku mulai normal, aku kembali beraksi. Kini aku ingin memasukkan penisku ke sarangnya. Dengan buru-buru aku hantam, dia berteriak sambil mencakar lengan kiriku “pelan bego! Kontolmu itu gede! Aku keluarkan lagi penisku dan terdengar bunyi “plup” di memeknya.
Aku beranikan diri dan berkata “kak boleh minta hisap?” Dia tak menjawab tapi dia langsung menyongsong penisku dengan semangat juang yang membara. Aku kelojotan dibuatnya, ternyata sepongannya super mantab!
“Kak, kakak pinter banget. Kakak paling cantik deh, ahhh… kakak..” ceracauku saat kenikmatan dari hisapan2 dan permainan lidahnya di penisku.
Kakak iparku rupanya capek menyedot dan menjilat, ia lalu memposisikan diri untuk WOT.
ns216.73.216.176da2


