Malam semakin larut, jam dinding kecil di meja belajar Rama menunjukkan pukul dua dini hari. Kamar masih gelap gulita, hanya cahaya samar dari lampu tidur yang dibiarkan menyala redup di sudut. Udara malam ini anehnya mulai terasa lebih sejuk setelah panas menyiksa tadi malam—mungkin angin malam menyusup lewat celah jendela yang sedikit terbuka, atau mungkin AC rusak itu akhirnya mulai bekerja pelan-pelan. Tapi Rara tidak peduli. Dia sudah terbangun sejak sepuluh menit lalu, tubuh mungilnya masih menempel erat di dada kakaknya, tapi sekarang dia ingin lebih. Banyak lebih.
Perlahan, dengan gerakan manja yang sengaja dibuat pelan supaya tidak membangunkan Rama sekaligus, Rara memutar tubuhnya. Dia membelakangi kakaknya sekarang, pantat bulat dan kenyalnya yang hanya tertutup celana pendek spandex hitam itu mendorong mundur pelan hingga menempel sempurna di pangkal paha Rama. Payudaranya yang besar dan padat bergoyang lembut saat dia bergerak, puting pinknya yang masih keras menggesek kain tank top tipis yang sudah basah keringat. Rambut panjang hitamnya tergerai di bantal, beberapa helai menempel di leher putih mulusnya yang berkeringat.
Rama masih setengah tidur, napasnya berat dan teratur, tangan besarnya yang tadi meremas pantat adiknya sekarang tergeletak di pinggang ramping Rara. Tapi begitu pantat kenyal itu menekan kontolnya yang masih setengah tegang, mata Rama terbuka pelan. Dia merasakan kelembutan daging pantat adiknya yang hangat dan empuk langsung menekan batang kontolnya yang mulai bereaksi lagi.
“Kak… dingin banget,” bisik Rara dengan suara manja yang sengaja dibuat menggigil pura-pura. Tubuhnya bergeser mundur lagi, pantatnya menggesek pelan ke arah kontol Rama yang sekarang sudah mulai mengeras di balik celana pendek olahraga tipis kakaknya. “AC-nya tadi panas, sekarang kok jadi dingin gini… Rara kedinginan, Kak. Peluk Rara dong… peluk dari belakang… Rara mau ngerasain tubuh Kakak yang panas di punggung Rara.”
Rama menelan ludah keras. Jantungnya langsung berdegup kencang. Dia bisa merasakan pantat adiknya yang bulat dan kenyal itu bergoyang kecil, sengaja menggesek batang kontolnya yang sudah mulai membesar dengan gerakan pelan dan menggoda. “Ra… kita tidur aja. Sudah malam,” bisiknya serak, suaranya bergetar menahan nafsu. Tapi tangannya tanpa sadar malah merangkul pinggang ramping Rara lebih erat, menarik tubuh mungil adiknya hingga punggung Rara menempel sempurna di dada bidangnya yang berotot dan basah keringat.
Rara mendesah manja, suaranya pelan tapi penuh nafsu. “Kak Rama… peluk lebih erat lagi. Rara kedinginan beneran… lihat nih, badan Rara merinding. Tapi kalau Kakak peluk dari belakang gini… ohh… enak banget. Pantat Rara nempel di kontol Kakak yang… wah, sudah keras lagi ya, Kak? Gede banget… Rara bisa ngerasain denyutannya lewat celana ini.”
Dia sengaja menggoyang pantatnya pelan-pelan, gerakan memutar kecil yang membuat daging pantat kenyalnya menggesek batang kontol Rama dari pangkal hingga ujung. Suara kain spandex yang bergesekan dengan celana olahraga Rama terdengar pelan di malam hening—swish… swish… pelan tapi jelas. Rama merasakan kehangatan pantat adiknya yang luar biasa, dagingnya yang empuk dan kenyal seperti bantal hidup yang sengaja menekan kontolnya yang sekarang sudah mencapai ukuran penuh 19 cm, tebal, berdenyut-denyut keras di balik kain tipis.
“Ra… jangan gerak-gerak gitu,” desah Rama di telinga adiknya, napasnya panas dan berat menyapu leher putih Rara. Keringat mulai muncul lagi di dada bidangnya, menetes pelan ke punggung Rara yang mulus. “Mama Papa tidur di sebelah… dindingnya tipis. Kalau kamu desah atau gerak terlalu keras, mereka bisa bangun. Kita bisa ketahuan… mati kita.”
Rara terkikik pelan, suaranya genit dan nakal. Dia memutar pinggulnya lebih dalam sekarang, pantat bulatnya menekan kuat-kuat ke kontol kakaknya hingga ujung kontol Rama yang sudah basah precum menekan celah pantatnya dari luar celana. “Justru itu yang bikin Rara tambah panas, Kak… bahaya gini bikin memek Rara langsung basah lagi. Rara sengaja kok belakangin Kakak… biar pantat Rara yang kenyal ini bisa mainin kontol Kakak yang gede itu. Kak… rasain ya? Pantat Rara empuk banget kan? Rara suka banget ngerasain kontol Kakak ngepres di antara belahan pantat Rara gini… tebal… panas… berdenyut-denyut minta masuk.”
Tangan Rara turun ke belakang, meraih tangan Rama yang ada di pinggangnya, lalu menariknya naik ke payudaranya yang besar dan padat. Dia menekan telapak tangan kakaknya ke dada kirinya, membuat jari-jari Rama meremas daging payudara yang lembut tapi kenyal itu. Putingnya yang keras langsung menekan telapak tangan Rama. “Sentuh payudara Rara, Kak… remas yang kenceng. Rara suka kalau Kakak kasar sama payudara gede Rara ini. Lihat, puting Rara sudah keras banget gara-gara kontol Kakak yang nempel di pantat Rara.”
Rama tidak bisa lagi menahan sepenuhnya. Tangannya meremas payudara adiknya dengan kuat, jari-jarinya tenggelam di daging putih mulus yang penuh itu. Sensasinya luar biasa—lembut, hangat, berat, dan kenyal. Keringat mereka bercampur, membuat kulit saling licin. Kontolnya berdenyut semakin keras, ujungnya yang licin precum sudah membasahi celana olahraganya dan sedikit menempel di celana pendek Rara.
“Ohh… Kak Rama… remas lebih keras lagi,” desah Rara panjang, suaranya manja dan vulgar. Pinggulnya terus bergoyang pelan, menggesek pantatnya ke kontol kakaknya dengan irama yang semakin berani. Suara basah dari keringat dan precum terdengar samar setiap kali pantatnya naik turun. “Rara udah basah banget di memek, Kak… celana Rara udah lembab gara-gara ngeliat Kakak tahan diri tapi kontolnya ngaceng gini. Rara bayangin kalau Kakak lepas celana sekarang… kontol gede 19 cm itu langsung nempel di pantat Rara yang telanjang… gesek di celah memek Rara dari belakang… terus Kakak dorong pelan masuk… creampie Rara di kamar ini sambil Mama Papa tidur di sebelah…”
Napas Rama semakin berat, dadanya naik turun cepat menekan punggung Rara. Keringat mengalir deras di otot perutnya yang keras, menetes ke pinggang ramping adiknya. “Ra… kamu adikku… kita nggak boleh… tapi… sialan… pantatmu enak banget,” gumamnya serak, hampir tidak bisa mengontrol suaranya. Risiko ketahuan membuatnya semakin tegang—setiap desahan Rara, setiap gesekan pantat, dia membayangkan Mama lewat lorong dan mendengar suara mereka.
Rara tersenyum licik di kegelapan, matanya berkilat mesum. Dia menggesek pantatnya lebih kuat sekarang, gerakan naik-turun yang lambat tapi dalam, membuat kontol Rama terjepit di antara belahan pantat kenyalnya. “Kak… katakan aja kalau Kakak mau ngentotin Rara. Rara udah siap dari lama. Rara naksir Kak Rama sejak lama… pengen Kakak yang pertama ngisi memek Rara yang sempit ini. Bayangin ya, Kak… kontol Kakak yang tebal ini masuk pelan-pelan ke memek Rara yang basah… bunyi ‘plup… plup…’ yang basah… terus Kakak pompa pelan supaya nggak berisik… sampe Rara squirt di kontol Kakak… trus Kakak creampie dalem-dalem… isi Rara penuh sperma Kakak… bikin Rara hamil anak Kakak… rahasia kita di kamar ini…”
Dia terus menggoyang pantatnya tanpa henti, sensasi gesekan membuat kontol Rama semakin berdenyut. Cairan precum Rama sudah banyak, membuat gesekan semakin licin dan basah. Suara kecil “schlick… schlick…” terdengar samar setiap kali pantat Rara naik turun. Tubuh Rara bergetar kecil, keringat menetes dari pelipisnya ke bantal, rambut hitamnya lengket di leher.
Rama menggigit bibirnya kuat-kuat, tangannya meremas payudara Rara bergantian, jari-jarinya mencubit puting adiknya pelan. “Ra… pelan… suaramu… kalau kedengeran… kita… ahh… sial… pantatmu… terlalu enak…” Napasnya memburu, kontolnya sudah sakit karena terlalu keras, ujungnya menekan celah pantat Rara dengan kuat.
Rara mendesah lebih panjang, suaranya manja dan penuh godaan. “Kak… Rara mau Kakak tahan dulu malam ini… tapi besok Rara akan lebih nakal lagi. Rara akan buka celana pendek ini pelan-pelan di depan Kakak… tunjukin memek Rara yang pink dan basah… minta Kakak jilat dulu… trus Rara akan duduk di kontol Kakak yang gede itu sambil bisik-bisik kotor… ‘Kak, entotin adikmu yang genit ini… creampie Rara sampe penuh… bikin Rara hamil di kamar yang sama ini…’”
Mereka terus berpelukan spooning seperti itu, tubuh saling menempel tanpa celah. Pantat Rara terus menggesek pelan dan menggoda kontol kakaknya, tangan Rama meremas payudara adiknya, keringat mereka bercampur, bau nafsu pekat memenuhi kamar kecil itu. Risiko orang tua di sebelah membuat setiap gerakan terasa lebih intens—setiap desahan ditahan, setiap gesekan dibuat pelan, tapi nafsu mereka semakin membara.
Rara merasa memeknya sudah banjir, cairan beningnya membasahi celana dalam dan celana pendeknya. Dia menggigit bantal pelan untuk menahan desahan lebih keras. “Kak Rama… Rara cinta Kakak… cinta yang mesum banget… malam ini cukup gesek-gesek pantat Rara di kontol Kakak ya… besok… besok Rara mau lebih.”
Rama hanya bisa mendesah pelan di leher adiknya, tubuhnya tegang menahan orgasme yang hampir meledak hanya dari gesekan pantat adiknya. Mereka tetap dalam posisi spooning itu, napas saling bercampur, keringat mengalir, kontol Rama masih keras menekan pantat Rara, memek Rara masih berdenyut basah menanti hari esok.
Malam kedua di kamar yang sama baru saja semakin panas. Dan Rara tahu, dia berhasil memancing kakaknya selangkah lebih dekat ke jurang nafsu yang tak bisa ditahan lagi.
ns216.73.216.98da2


