Malam itu rumah terasa hening sekali, hanya ada suara kipas angin lama yang berputar pelan di sudut kamar kecil yang baru direnovasi. Kamar Rara masih belum selesai catnya, jadi malam ini dia terpaksa tidur sekamar dengan Rama, kakaknya yang berusia 24 tahun. Orang tua mereka sudah tidur di kamar utama sejak jam sepuluh, pintu kamar Rama dikunci pelan dari dalam, tapi Rara tahu betul—dinding rumah tipis, suara sekecil apa pun bisa terdengar ke lorong.
Rara masuk ke kamar dengan langkah manja, rambut panjang hitamnya yang masih basah setelah mandi malam tergerai di punggungnya yang ramping. Dia hanya memakai tank top tipis berwarna putih yang hampir tembus pandang, tanpa bra sama sekali. Payudaranya yang besar dan padat bergoyang lembut setiap langkah, putingnya yang kecil dan pink sudah mengeras karena AC kamar tiba-tiba mati total setelah renovasi. Celana pendek ketatnya hitam, bahan spandex yang nempel ketat di pinggulnya yang lebar dan pantat bulat kenyalnya, membuat garis memeknya samar-samar terlihat kalau dia membungkuk sedikit.
Rama sudah duduk di pinggir tempat tidurnya yang sempit, bertelanjang dada, otot perutnya yang keras terlihat jelas di bawah cahaya lampu tidur kuning redup. Tubuhnya tinggi atletis, bahunya lebar, kulitnya kecokelatan karena sering olahraga. Dia memakai celana pendek olahraga tipis, dan sudah merasa canggung setengah mati. “Ra, lo beneran nggak apa-apa tidur sini? Kamar lo besok kan udah selesai,” katanya pelan, suaranya agak serak.
Rara tersenyum genit, langsung naik ke tempat tidur Rama dan duduk di sampingnya dengan kaki menyilang. “Nggak apa-apa lah, Kak. Lagian Rara udah kangen tidur deket Kak Rama. Dulu kecil kan sering bareng. Sekarang Rara udah 19, tapi tetep manja sama Kakak.” Matanya yang bulat dan nakal menatap wajah tampan Rama, bibirnya yang penuh sedikit terbuka. Dia sengaja mendekatkan tubuhnya hingga bahunya menyentuh lengan kakaknya yang keras. Bau sabun mandi strawberry dari tubuh Rara langsung menyeruak, bercampur aroma keringat tipis karena udara kamar mulai panas.
Rama menelan ludah. Dia sudah lama berusaha menahan diri. Rara adiknya, darah daging sendiri. Tapi sejak Rara remaja, tubuhnya berkembang cepat—payudara besar itu, pinggang ramping, pantat yang selalu bergoyang saat jalan—semua itu sudah sering membuat Rama bergairah diam-diam di kamar mandi. Malam ini, dengan pakaian tipis Rara, dia merasa kontolnya yang sudah mulai mengeras di balik celana pendeknya.
“AC-nya mati total, Kak,” keluh Rara manja sambil mengipas-ngipas dadanya dengan tangan. Gerakan itu membuat payudaranya yang berat naik turun, putingnya yang keras menonjol jelas di balik kain tipis tank top. Keringat mulai muncul di lekuk lehernya yang putih mulus, menetes pelan ke belahan dada yang dalam. “Panas banget… Rara nggak tahan. Biasanya AC dingin, sekarang kayak di sauna gini.”
Rama mengangguk, berusaha tidak menatap langsung ke dada adiknya. “Iya, besok pagi Papa bilang mau panggil teknisi. Malam ini… ya sabar aja. Kita tidur cepet.” Dia berbaring di tempat tidurnya, mencoba menjaga jarak. Tapi Rara malah ikut berbaring di sampingnya, tubuh mungilnya yang seksi mendekat perlahan.
Mereka mulai ngobrol ringan dulu, suara mereka pelan supaya tidak kedengaran orang tua. Rara bercerita tentang kuliah, tentang cowok-cowok yang ngejar dia tapi dia nggak tertarik. “Mereka semua cupu, Kak. Nggak ada yang sekeren Kak Rama. Tinggi, berotot, tampan… Rara suka banget liat Kakak pas olahraga.” Suaranya manja, tangannya sengaja menyentuh lengan Rama, jari-jarinya mengelus otot bisep kakaknya pelan.
Rama merasa napasnya mulai berat. “Ra… jangan gitu. Kita saudara.” Tapi suaranya tidak meyakinkan. Keringat mulai membasahi dadanya yang bidang, otot perutnya mengkilap di bawah lampu.
Rara terkikik pelan, mendekat lagi hingga payudaranya yang besar dan padat hampir menempel di lengan Rama. “Kenapa? Rara cuma bilang jujur kok. Udah lama Rara suka Kak Rama. Bukan suka biasa… suka yang… lebih dari kakak-adik.” Matanya berkilat nakal. Dia sengaja menggesekkan paha mulusnya ke paha kakaknya. Celana pendeknya naik sedikit, memperlihatkan garis pantatnya yang bulat dan kenyal.
Udara kamar semakin panas. Keringat Rara menetes dari pelipisnya, membasahi tank topnya hingga kainnya semakin tembus pandang. Putingnya yang mengeras terlihat jelas, kecil tapi keras seperti batu. Rama bisa mencium bau tubuh adiknya yang manis bercampur keringat—bau yang bikin kontolnya semakin tegang, sudah mencapai 19 cm penuh, tebal dan berdenyut di balik celana.
“Ra… stop,” bisik Rama, tapi tangannya malah bergetar. Rara tersenyum manis, lalu tiba-tiba memeluk lengan kakaknya erat. Payudaranya yang besar langsung menekan lengan Rama kuat-kuat, dagingnya yang lembut dan padat terasa hangat dan kenyal. “Kak… peluk Rara dong. Rara takut sendirian di kamar baru ini. Lagian panas… tapi kalau dipeluk Kakak, Rara merasa aman.”
Rama menarik napas dalam. Risiko ketahuan membuat jantungnya berdegup kencang. Kalau Mama atau Papa bangun dan lewat lorong, mereka bisa mendengar bisikan atau melihat cahaya dari bawah pintu. Tapi nafsu sudah mulai menguasai. Dia memutar tubuhnya, lalu merangkul tubuh mungil Rara dengan satu tangan. Rara langsung menempel erat, kepalanya di dada kakaknya, satu kakinya naik ke paha Rama.
“Ohh… Kak Rama enak banget pelukannya,” desah Rara pelan di telinga kakaknya. Napasnya hangat, bibirnya hampir menyentuh telinga Rama. Payudaranya yang besar tertekan kuat di dada bidang kakaknya, putingnya menggesek kulit Rama yang basah keringat. “Kak… tubuh Kakak panas… Rara suka. Rara bisa ngerasain otot Kakak yang keras gini.”
Tangan Rara turun pelan, mengelus punggung Rama yang berotot, kuku-kukunya menggaruk ringan. Rama merasa kontolnya sudah sangat keras, ujungnya yang basah oleh precum menekan paha Rara yang mulus. Rara sengaja menggesekkan pahanya pelan, merasakan kebesaran kontol kakaknya. “Kak… apa itu yang nempel di paha Rara? Keras banget… gede… Rara penasaran.”
“Ra… jangan,” desah Rama, tapi suaranya penuh nafsu. Tangannya tanpa sadar turun ke pinggang ramping Rara, lalu meremas pelan pinggulnya yang lebar. Jari-jarinya menyentuh pinggiran celana pendek ketat itu, merasakan kulit pantat adiknya yang kenyal dan hangat.
Rara mendesah manja, suaranya semakin genit dan vulgar. “Kak Rama… peluk Rara lebih erat lagi. Rara mau ngerasain dada Kakak yang keras di payudara Rara yang gede ini. Lihat nih… puting Rara udah keras banget gara-gara Kakak. Tank top Rara basah keringat… nempel di memek Rara juga. Kak… Rara basah loh di bawah. Karena Kakak… karena Rara udah lama pengen gini.”
Dia menggesekkan tubuhnya lebih aktif sekarang, pantat bulatnya bergoyang pelan di atas kasur, membuat celananya semakin naik hingga garis memeknya yang sudah basah terlihat samar. Keringat mereka bercampur, bau tubuh mereka semakin kuat—bau nafsu yang pekat di kamar panas itu. Rama merasa getaran di tubuh Rara, napasnya yang cepat, dadanya yang naik turun cepat.
“Rara sayang Kak Rama… bukan sebagai kakak doang. Rara mau Kakak yang ngentotin Rara suatu hari. Mau kontol Kakak yang gede 19 cm ini masuk ke memek Rara yang sempit dan basah ini. Mau Kakak creampie Rara sampe penuh… sampe Rara hamil anak Kakak. Tapi malam ini… peluk Rara aja dulu, Kak. Peluk erat… Rara mau tidur di pelukan Kakak yang kuat ini.”
Rama tidak bisa lagi menahan. Dia memeluk Rara erat sekali, tangan besarnya meremas pantat adiknya dari luar celana, merasakan daging kenyal itu bergoyang di telapak tangannya. Kontolnya menekan perut Rara yang rata, berdenyut-denyut. Mereka saling berpelukan ketat di tempat tidur sempit itu, keringat mengalir deras, napas mereka bercampur, bibir Rara hampir menyentuh leher Rama.
“Shhh… pelan, Ra,” bisik Rama di telinga adiknya, suaranya bergetar. “Mama Papa di sebelah… kalau kedengeran kita mati.”
Rara terkikik pelan, tapi matanya penuh nafsu. “Iya, Kak… makanya Rara bisik-bisik gini. Tapi Rara suka… suka bahaya ini. Suara napas Kakak yang berat, kontol Kakak yang ngepres Rara… bikin Rara tambah basah. Memek Rara lagi berdenyut pengen disentuh Kakak. Tapi malam ini cukup pelukan dulu ya, Kak. Besok… besok Rara akan memancing Kakak lebih hebat lagi.”
Mereka tetap berpelukan seperti itu, tubuh saling menempel tanpa celah. Payudara Rara yang besar dan padat terjepit di dada Rama, keringat mereka membuat kulit saling licin. Tangan Rama terus meremas pantat adiknya pelan-pelan, jari-jarinya kadang menyelinap ke bawah celana pendek, menyentuh kulit pantat telanjang yang panas. Rara mendesah pelan di leher kakaknya, pinggulnya menggoyang kecil, menggesek kontol Rama yang sudah basah precum.
Waktu berlalu lambat. Kamar semakin panas, tapi pelukan mereka semakin erat. Rara merasa aman, seksi, dan sangat bergairah di pelukan kakaknya. Rama merasa bersalah tapi tak kuasa menolak. Risiko ketahuan membuat semuanya terasa lebih panas—setiap desahan kecil, setiap gesekan tubuh, setiap tetes keringat terasa seperti api.
Akhirnya, napas mereka mulai tenang meski nafsu masih membara. Rara mencium dada kakaknya pelan, lidahnya menjilat sedikit keringat di sana. “Selamat tidur, Kak Rama… peluk Rara terus ya sepanjang malam. Rara cinta Kakak… cinta yang mesum.”
Rama hanya bisa mengangguk, tangannya masih di pantat adiknya. Mereka tertidur berpelukan erat, tubuh saling menempel, keringat bercampur, kontol Rama masih keras menekan paha Rara, memek Rara masih basah dan berdenyut di balik celana pendek ketatnya.
Malam pertama di kamar yang sama baru saja dimulai. Dan Rara tahu, ini baru pemanasan. Besok dia akan memancing lebih gila lagi.
ns216.73.216.98da2


