Intan masih gemetar di sofa, napasnya tersengal-sengal. Handuknya sudah longgar, hampir melorot dari dada. Jari Dani berhenti tepat di bibir memeknya yang panas dan licin. Hanya tinggal sentuhan kecil lagi.
“Dan… kita gak boleh…” bisik Intan lagi, suaranya bergetar. Tapi pinggulnya malah maju pelan, seolah memohon jari itu menyentuhnya.
Dani menatap kakaknya dengan mata gelap penuh nafsu. Kontolnya sudah keras banget di dalam celana, menekan kain jeans sampai sakit. Ini kakakku. Darah dagingku. Tapi astaga… dia basah sekali.
“Kak, bilang stop kalau beneran mau berhenti,” kata Dani dengan suara rendah, hampir kasar. Napasnya panas menyapu telinga Intan. “Tapi aku bisa rasain… memek kakak lagi ngocor di jari aku.”
Intan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai hampir berdarah. Rasa bersalah membakar dadanya seperti api. Ini salah. Ini dosa besar. Dia adikku yang aku besarkan. Tapi tubuhnya berkhianat total. Putingnya mengeras, memeknya berdenyut-denyut, cairan beningnya terus mengalir ke paha.
“Anak… jangan… ahh…” desahnya pelan saat jari tengah Dani akhirnya menyentuh klitorisnya yang membengkak.
Dani menggosok pelan, melingkar-lingkar di titik sensitif itu. Intan langsung menggelinjang, tangannya mencengkeram lengan adiknya.
“Basah banget, Kak…” bisik Dani di telinganya. “Kakak udah nunggu ini lama ya?”
Intan menggeleng lemah, tapi suaranya keluar justru sebaliknya. “Gak… gak boleh… kita kakak-adik… ini… ahh… enak… jangan berhenti…”
Dani tersenyum tipis, semakin berani. Dia masukkan satu jari ke dalam memek kakaknya yang panas dan sempit. Rasanya seperti beledu yang basah kuyup. Intan melengkungkan punggungnya, payudaranya yang besar naik turun cepat.
“Ohh… Dan… jari kamu… tebel…” erang Intan. Matanya setengah terpejam, wajahnya merah padam.
Dani menambah satu jari lagi, mengaduk pelan di dalam sambil ibu jarinya terus menggosok klitoris. Bunyi cuk… cuk… cuk… basah terdengar jelas di ruang tamu yang sepi, bercampur suara hujan di luar.
Dalam pikiran Intan: Ya Tuhan… ini adikku yang dulu aku gendong… sekarang jarinya ada di memekku. Aku gila. Aku pelacur… tapi kenapa enak banget? Rian gak pernah bikin aku segini basahnya…
Dalam pikiran Dani: Dia kakakku, tapi memeknya enak banget. Sempit, panas, ngocor terus. Aku mau ngentot dia. Mau bikin dia jerit nama aku sampe tetangga denger.
Dani menarik handuk Intan sampai terlepas total. Sekarang kakaknya telanjang bulat di depannya. Payudara besar itu bergoyang bebas, puting cokelat muda menegang sempurna. Perutnya rata, pinggul lebar, dan memeknya yang dicukur rapi sudah banjir cairan.
“Kakak… cantik banget,” gumam Dani sambil menunduk. Bibirnya langsung menyambar puting kiri Intan, mengisap kuat sambil lidahnya berputar.
“Ahh! Dan… pelan… ahh… gigit dikit…” Intan memegang kepala adiknya, menekannya lebih dalam ke dadanya.
Dani menggigit putingnya pelan, lalu beralih ke puting kanan. Tangan kirinya meremas payudara yang satu lagi kasar, sementara tangan kanannya terus mengocok memek kakaknya dengan irama semakin cepat.
Intan mulai kejang-kejang kecil. “Dan… aku… aku mau keluar… jangan berhenti… please…”
Dani melepas putingnya dengan bunyi plop, lalu berbisik kasar, “Cum buat adikmu, Kak. Basahin jari aku.”
Intan meledak. Tubuhnya mengejang hebat, memeknya menyemprot cairan bening ke telapak tangan Dani. Dia menjerit pelan, “Aaaahhh… Dan… adikku… ahh!” Lututnya gemetar, cairannya menetes ke sofa.
Tapi Dani tidak berhenti. Dia terus mengaduk pelan sambil memeluk kakaknya yang sedang orgasme. Intan menangis pelan karena kenikmatan yang terlalu kuat.
Setelah orgasme pertama reda, Intan mendorong dada Dani pelan, napasnya masih tersengal. “Dan… cukup… kita harus berhenti… ini gak benar…”
Dani menatapnya tajam. “Kakak bohong. Memek kakak masih ngocor. Kakak masih mau kan?”
Intan menunduk malu. Air mata karena rasa bersalah dan gairah bercampur. “Aku… aku takut… tapi… aku juga… pengen…”
Dani berdiri, lalu membuka celana jeansnya. Kontolnya yang besar dan tebal langsung melompat keluar. Panjang sekitar 18 cm, urat-urat menonjol, kepala sudah basah oleh precum.
Intan melebar matanya. Gila… besar banget. Lebih besar dari Rian…
“Sentuh, Kak,” perintah Dani pelan tapi tegas.
Intan ragu sebentar, tapi tangannya bergerak sendiri. Jari-jarinya yang lentik memegang kontol adiknya. Panas. Berdenyut. Tebal.
“Ini… kontol adikku…” bisiknya sambil menggoyang pelan naik-turun. “Gede banget, Dan…”
Dani mendesah. “Enak gak pegang kontol adik sendiri?”
Intan mengangguk malu. “Enak… aku gak percaya aku lagi pegang ini…”
Dani duduk kembali, menarik Intan ke pangkuannya. Kakaknya sekarang duduk menghadapnya, memeknya tepat di atas kontol yang keras. Tapi Dani belum memasukkan. Dia hanya menggesek-gesekkan kepala kontolnya di bibir memek Intan yang licin.
“Gesek aja dulu, Kak,” katanya sambil memegang pinggul lebar kakaknya.
Intan mulai bergoyang pelan ke depan-belakang. Kepala kontol Dani terus bergesekan dengan klitorisnya yang sensitif. Setiap gesekan membuatnya mendesah panjang.
“Ahh… Dan… enak… gesekannya… bikin aku gila…”
Mereka berciuman untuk pertama kali. Ciuman kakak-adik yang terlarang. Lidah mereka saling menari, air liur menetes. Intan memeluk leher adiknya erat, payudaranya menempel di dada kekarnya.
Pikiran Intan: Aku sudah gila. Aku lagi nggesek memekku ke kontol adik sendiri. Tapi rasanya enak banget… aku gak mau berhenti…
Pikiran Dani: Payudaranya empuk banget. Memeknya panas. Aku mau masukin. Tapi pelan-pelan… aku mau dia yang minta sendiri.
Intan semakin cepat menggoyang pinggulnya. Cairannya membasahi seluruh batang kontol Dani. Bunyi gesekan basah semakin mesum.
“Dan… aku… mau lagi… mau keluar lagi…” erangnya di antara ciuman.
Dani meremas pantat bulat kakaknya kuat-kuat, membantu gerakannya. “Cum lagi, Kak. Gosok memek kakak di kontol adik.”
Intan orgasme kedua. Tubuhnya kejang di pangkuan Dani, memeknya menyemprot lagi ke batang kontol adiknya. Dia menjerit di mulut Dani, lidah mereka masih saling terkait.
Setelah reda, Intan bersandar lemas di dada Dani. Napasnya masih berat. Tangan kecilnya masih memegang kontol adiknya yang belum puas.
“Dan… kamu belum keluar…” bisiknya malu-malu.
Dani mengangkat dagu kakaknya. “Mau bantu adik keluar?”
Intan mengangguk pelan. Dia turun dari pangkuan, berlutut di lantai di antara kaki Dani. Wajahnya tepat di depan kontol besar itu.
Dia menatap kontol adiknya lama. “Ini… kontol adikku… aku gak percaya aku lagi lakuin ini…”
Lalu Intan menjulurkan lidahnya. Menjilat dari bawah sampai atas pelan. Dani mendesah keras.
“Enak, Kak… jilat lagi…”
Intan semakin berani. Dia membuka mulutnya lebar, memasukkan kepala kontol Dani ke dalam mulutnya yang hangat dan basah. Mengisap pelan sambil tangannya mengocok batang yang tidak muat masuk.
“Mmhh… gluck… gluck…” bunyi isapan terdengar mesum.
Dani memegang rambut kakaknya, tapi tidak memaksa. “Bagus, Kak… kakak jago ngisap… lebih dalam…”
Intan mencoba menelan lebih dalam, sampai kepala kontol menyentuh tenggorokannya. Matanya berair, tapi dia terus mengisap dengan semangat. Air liurnya menetes ke bola-bola Dani.
Pikiran Intan: Aku lagi ngisap kontol adik sendiri… aku pelacur kakak yang mesum… tapi aku suka… aku suka rasanya…
Dani merasa sudah di ujung. “Kak… aku mau crot…”
Intan melepas sebentar. “Crot di mulut kakak aja… kasih kakak…”
Dia langsung mengisap lagi lebih cepat. Dani tidak tahan. Dengan erangan rendah, dia menyemburkan sperma panas ke dalam mulut kakaknya. Intan menelan sebanyak yang bisa, sisanya menetes dari sudut bibirnya ke payudaranya.
Setelah selesai, Intan masih mengisap pelan, membersihkan kontol adiknya sampai bersih. Lalu dia naik lagi ke pangkuan Dani, memeluknya erat.
Mereka diam cukup lama, hanya suara hujan yang terdengar.
“Dan…” bisik Intan pelan, “ini harus rahasia. Kita gak boleh ulangi lagi…”
Dani tersenyum dalam hati. Dia tahu kakaknya bohong.
Dia membelai rambut Intan. “Iya, Kak. Rahasia.”
Tapi tangannya sudah turun lagi ke memek kakaknya yang masih basah.
Intan mendesah pelan. “Dan… jangan… tapi… ahh…”
ns216.73.216.105da2


