Malam itu hujan deras mengguyur Jakarta tanpa ampun. Suara petir sesekali menggelegar, membuat lampu di ruang tamu rumah orang tua mereka berkedip-kedip sebentar. Rumah besar di pinggir kota itu terasa sepi sekali. Ayah dan ibu sudah dua hari pergi ke kampung, meninggalkan Dani dan Intan sendirian selama dua minggu penuh.
Dani mendorong pintu depan dengan bahu, tubuhnya basah kuyup karena motornya kehujanan. Jaket kulit hitamnya menetes air ke lantai marmer. Dia 24 tahun, baru lulus kuliah teknik, badannya tinggi atletis karena rutin gym tiga kali seminggu. Rambutnya yang pendek basah menempel di dahi. Dia menghela napas lelah, melempar tas ransel ke sofa.
“Intan? Kakak udah pulang?” panggilnya pelan sambil membuka sepatu.
Tidak ada jawaban. Tapi dari kamar mandi utama, terdengar suara air shower yang masih menyala. Dani tersenyum tipis. Kakaknya pasti baru pulang kerja juga.
Dia berjalan ke dapur, mengambil botol air dingin dari kulkas, dan meneguknya dalam-dalam. Pikirannya melayang. Dua minggu sendirian sama kakak di rumah ini… Dia menggeleng cepat, mencoba mengusir pikiran yang mulai nakal itu. Intan adalah kakaknya. Kakak yang selalu dia sayangi sejak kecil. Tapi akhir-akhir ini… entah kenapa setiap melihat tubuh kakaknya yang semakin montok, ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Intan berdiri di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya yang panjang hitam. Usianya 27 tahun, sudah bekerja sebagai marketing di perusahaan swasta besar. Wajahnya cantik dengan bibir tebal alami dan mata sipit yang selalu terlihat menggoda meski dia tidak sengaja. Tubuhnya… ah, tubuh itu yang selalu membuat pria-pria di kantor menoleh dua kali. Payudaranya besar dan kencang (ukuran 36D), pinggulnya lebar, pantatnya bulat sempurna dari olahraga yoga rutin. Malam ini dia hanya membungkus tubuhnya dengan handuk tipis putih yang hampir tidak sanggup menutupi semua lekuknya.
Kenapa hari ini capek banget ya… pikir Intan sambil mengusap uap di cermin. Pacarnya, Rian, lagi-lagi bilang “capek” malam ini lewat chat. Sudah tiga bulan ini hubungan mereka dingin. Rian jarang menyentuhnya, apalagi memuaskannya. Intan merasa tubuhnya lapar. Lapar sentuhan yang kasar, yang kuat, yang… Stop, Intan. Dia adikmu. Dia menggeleng keras, tapi saat memikirkan Dani yang sekarang sudah besar dan berbadan kekar, ada getaran kecil di perut bawahnya.
Intan membuka pintu kamar mandi dan keluar ke ruang tamu. Handuknya hanya melilit dada sampai pangkal paha, rambutnya masih basah acak-acakan, air menetes dari ujung rambut ke bahu mulusnya. Aroma sabun mandi floral-nya langsung memenuhi ruangan.
Dani yang sedang duduk di sofa langsung menoleh. Matanya melebar sesaat melihat kakaknya seperti itu. Handuk itu tipis sekali. Payudara Intan yang besar hampir meluap di atasnya, dan setiap langkah membuat pantatnya bergoyang pelan. Kontol Dani berdenyut di dalam celana jeans-nya tanpa izin.
“Wah, kakak baru mandi ya?” tanya Dani berusaha suaranya biasa saja. “Hujan deras banget di luar.”
Intan tersenyum lelah dan duduk di sebelahnya di sofa, kakinya yang panjang dan mulus terlipat. Handuknya naik sedikit, memperlihatkan paha dalam yang putih.
“Iya, capek banget hari ini. Meeting sampai malam. Kamu sendiri? Kok basah kuyup gitu?” Intan mencondongkan tubuhnya sedikit, tangannya menyentuh lengan Dani yang basah. Sentuhan itu terasa hangat.
Dani menelan ludah. Astaga, wanginya… “Motor kehujanan. Gak apa-apa kok. Eh, mau minum wine? Ada stok di kulkas, orang tua ninggalin.”
Intan mengangguk antusias. “Boleh banget. Malam hujan gini enaknya wine sambil ngobrol. Lama gak ngobrol santai sama kamu, Dan.”
Dani bangkit mengambil dua gelas dan botol red wine. Saat dia kembali, Intan sudah duduk lebih santai, kakinya terbuka sedikit. Dani menuang wine, memberikan satu gelas ke kakaknya. Mereka bersulang ringan.
“Cheers buat dua minggu rumah kosong,” kata Intan sambil tersenyum nakal.
Dani tertawa pelan. “Iya, akhirnya bisa santai tanpa denger omelan mama.”
Mereka mulai ngobrol santai. Topik ringan dulu: kuliah Dani yang baru selesai, pekerjaan Intan yang semakin berat, kenangan masa kecil mereka bermain di halaman rumah ini.
“Ingat gak dulu kamu suka ngintip aku mandi?” tanya Intan tiba-tiba sambil tertawa kecil, matanya berkilat jail. Dia menyesap wine-nya lagi.
Dani tersedak. “Kak! Itu dulu umur 10 tahun lah! Gak sengaja!”
Intan tertawa lebih keras, payudaranya bergoyang di balik handuk. “Iya iya, tapi muka kamu merah banget waktu itu. Lucu deh.”
Dani merasa kontolnya mulai mengeras pelan. Dia tahu aku ngintip? Pikirannya berputar. “Kakak sendiri dulu suka pakai baju pendek-pendek di rumah. Bikin aku… eh, gak enak lah.”
Intan menatap adiknya lama. Suasana mulai berubah. “Bikin kamu apa, Dan?” tanyanya pelan, suaranya agak serak karena wine.
Dani menatap gelasnya. Jangan bilang, Dan. Jangan. Tapi mulutnya bergerak sendiri. “Bikin aku penasaran. Kakak… tumbuh cepet banget. Tubuh kakak sekarang… beda banget sama dulu.”
Intan merasa pipinya panas. Dia lagi bilang apa sih? Tapi di dalam, memeknya berdenyut pelan. Sudah lama tidak ada yang memujinya seperti itu. Rian jarang sekali.
“Dan… kamu gak boleh ngomong gitu ke kakak,” kata Intan pelan, tapi nada suaranya tidak marah. Malah ada nada menggoda. “Kita kakak-adik.”
Dani meletakkan gelasnya. “Aku tahu. Tapi… jujur aja. Kakak cantik. Tubuh kakak… bikin orang susah fokus.”
Intan menggigit bibir bawahnya. Ya Tuhan, kenapa kata-katanya bikin aku basah gini? Dia merasa cairan hangat mulai mengalir pelan di antara pahanya. Handuknya terasa semakin tipis.
Obrolan semakin intim. Intan mulai curhat.
“Rian… dia jarang kasih aku kepuasan, Dan,” katanya tiba-tiba, suaranya pelan. “Sudah tiga bulan lebih kami cuma… biasa-biasa aja. Aku kadang merasa… lapar. Kamu ngerti gak maksud kakak?”
Dani merasa jantungnya berdegup kencang. Kontolnya sekarang sudah keras banget, menekan celana jeans-nya. Kakak lagi curhat gini ke aku? “Aku ngerti, Kak. Kadang… kita butuh yang lebih. Yang kuat. Yang bikin kita lepas.”
Intan menatap mata adiknya. Ada api di sana. “Kamu… pernah ngerasain yang bikin lepas banget gitu?”
Dani tersenyum tipis. “Pernah. Tapi… aku lebih suka kasih daripada terima, Kak.”
Intan merasa lututnya lemas. Dia dom… astaga. Rasa bersalah membanjirinya. Ini adikku. Darah dagingku. Tapi tubuhnya berkhianat. Memeknya sudah basah sekali.
“Bahumu pegal banget hari ini,” kata Intan tiba-tiba, mengubah topik sambil memijat bahunya sendiri. “Bisa pijit kakak bentar gak, Dan? Kamu kan jago pijit.”
Dani tidak menolak. Dia duduk di belakang kakaknya di sofa. Tangan besarnya yang kasar mulai memijat bahu Intan yang terbuka. Aroma sabun dan kulit kakaknya membuat kepalanya pusing.
“Enak gak, Kak?” tanyanya pelan, jempolnya menekan titik pegal.
Intan mendesah pelan. “Enak… banget. Tangan kamu kuat ya sekarang.”
Tangan Dani mulai merayap lebih rendah, ke lengan Intan, lalu ke punggungnya yang hanya ditutupi handuk. Jari-jarinya menyentuh kulit hangat yang masih sedikit lembab. Intan menggigit bibir, matanya setengah terpejam.
Ini salah… ini salah banget… pikir Intan. Tapi dia tidak berhenti.
Dani mencondongkan wajahnya lebih dekat. Napasnya hangat menyapu leher kakaknya. “Kak… kulit kakak halus banget.”
Tanpa sadar, bibir Dani menyentuh leher Intan. Ciuman ringan dulu. Intan menarik napas tajam.
“Dan… jangan…” bisiknya, tapi tangannya malah meraih lengan Dani, memegangnya agar tetap di sana.
Dani semakin berani. Bibirnya mengecup leher Intan lebih lama, lidahnya menyentuh kulit. Tangan kanannya merayap ke depan, menyentuh handuk di dada kakaknya. Perlahan dia meremas payudara kiri Intan dari luar handuk. Besar, lembut, tapi kencang.
“Ahh…” desah Intan pelan. Putingnya langsung mengeras di bawah telapak tangan adiknya.
Ini adikku… tapi kenapa enak banget… Pikiran Intan berperang. Rasa bersalah bercampur dengan gairah yang sudah lama terpendam.
Dani meremas lebih kuat, ibu jarinya menggosok puting yang menonjol itu. “Kakak… payudara kakak… gila besarnya.”
Intan menggeleng pelan, tapi pinggulnya bergoyang kecil tanpa sadar. “Kita… gak boleh, Dan… ini salah…”
Tapi tangan Dani sudah turun lebih rendah. Dia membuka handuk sedikit dari samping, tangannya menyusup ke paha dalam Intan yang halus. Jari-jarinya merayap naik, semakin dekat ke inti yang sudah banjir.
Intan gemetar. Memeknya sudah ngocor parah, cairannya membasahi paha dalamnya. “Dan… tangan kamu… ahh… hampir nyentuh…”
Dani berhenti tepat di bibir memek kakaknya. Jarinya hanya beberapa milimeter dari klitoris yang sudah membengkak. Dia bisa merasakan panas dan basahnya.
“Bilang stop kalau kakak mau,” bisik Dani kasar di telinga Intan, napasnya tersengal. “Tapi aku tahu… kakak basah banget sekarang.”
Intan menutup mata, tubuhnya bergetar hebat. Rasa bersalah membakarnya, tapi gairahnya jauh lebih kuat.
“Dan… aku… aku ragu…” bisiknya gemetar, tapi pinggulnya malah maju sedikit, hampir menyentuhkan memeknya ke jari adiknya.
ns216.73.216.105da2


