Tubuh Devina yang setengah telanjang. Payudaranya yang besar dan berat tergantung indah, puting cokelat gelapnya sudah mengeras sempurna karena campuran dingin AC dan panas nafsu. Rok denim pendeknya masih melekat di pinggul, tapi sudah naik cukup tinggi sehingga celana dalam hitam tipisnya terlihat jelas.
“Andi… kamu suka yang kamu lihat?” tanya Devina dengan suara rendah, hampir berbisik. Matanya setengah terpejam, penuh godaan.
Andi hanya bisa mengangguk. Tenggorokannya kering. Napasnya cepat. Kontolnya sudah sangat keras di dalam celana jeans, menekan kain sampai terasa sakit. Ia belum pernah berada sedekat ini dengan seorang perempuan yang begitu terbuka dan percaya diri seperti Devina.
Devina tersenyum melihat reaksi Andi. Ia menyukai itu – cowok muda yang gugup tapi jelas sangat menginginkannya. Ia melangkah lebih dekat, payudaranya hampir menyentuh wajah Andi. Dengan tangan kanannya, ia memegang payudara kirinya sendiri, mengangkatnya sedikit, dan mendekatkan putingnya ke bibir Andi.
“Isap payudara tante. Tante pengen diisap.” bisik Devina.
Andi membuka mulutnya. Lidahnya menyentuh puting Devina yang hangat. Ia mulai mengisap pelan, seperti bayi yang haus. Devina langsung mengerang pelan, kepalanya mendongak sedikit. Tangan kirinya memegang kepala Andi, jari-jarinya menyusup ke rambut Andi yang agak gondrong, menekannya lebih rapat ke dada.
“Ya… seperti itu… ahh… enak sekali…”
Andi semakin berani. Lidahnya berputar di sekitar puting, mengisap lebih kuat, bergantian antara payudara kiri dan kanan. Devina merasakan nikmat yang menjalar dari putingnya sampai ke bawah perut. Vaginanya semakin basah. Ia bisa merasakan cairannya sudah membasahi celana dalam tipisnya.
Sambil menikmati hisapan Andi, Devina menurunkan tangan kanannya ke celana Andi. Dengan lincah, ia membuka kancing dan resleting jeans Andi. Tangan Andi masih sibuk dengan payudaranya, jadi Devina bekerja sendiri. Ia menarik celana jeans Andi ke bawah sampai ke lutut, diikuti celana dalamnya. Kontol Andi langsung melompat keluar, sudah tegak sempurna, urat-uratnya menonjol, kepalanya mengkilap karena cairan pra-ejakulasi.
Devina menatap kontol itu dengan mata berbinar.
“Wah… besar juga ya untuk anak muda. Tante suka.”
Ia memegang batang kontol Andi dengan tangan kanannya, merasakan kehangatan dan denyutannya. Jari-jarinya naik-turun pelan, memompa dengan gerakan ringan. Andi mengerang di antara hisapan puting Devina. Sensasinya luar biasa – mulutnya penuh payudara lembut, tangannya meremas yang satu lagi, sementara tangan Devina memainkan kontolnya dengan ahli.
Devina tidak buru-buru. Ia ingin malam ini panjang dan penuh kenikmatan. Ia menarik kepala Andi mundur pelan, membebaskan putingnya dari mulut Andi yang basah oleh air liur.
“Sekarang gantian… tante mau lihat seberapa enak kamu bisa menjilat,” kata Devina sambil berdiri lebih tegak.
Ia menarik rok denimnya ke atas sampai pinggang, lalu menurunkan celana dalam hitamnya dengan gerakan perlahan yang sengaja dibuat menggoda. Celana dalam itu sudah basah di bagian tengah. Devina mengangkat satu kaki dan meletakkannya di kursi, di samping paha Andi. Posisinya sekarang terbuka lebar di depan wajah Andi – vagina Devina yang sudah banjir, bibirnya yang tebal dan gelap, klitoris yang sudah membengkak, semuanya terpampang jelas di bawah cahaya neon.
“Jilat tante, Andi…” perintah Devina dengan suara serak.
Andi menatap vagina Devina dengan campuran kagum dan nafsu. Ia mendekatkan wajahnya. Aroma musk yang manis dan hangat langsung memenuhi hidungnya. Lidahnya menyentuh bibir vagina Devina yang paling bawah, menjilat naik perlahan sampai ke klitoris.
Devina menggigil. “Ahhh… ya… seperti itu… lebih dalam lagi…”
Andi semakin bersemangat. Lidahnya menari di antara bibir vagina, menjilat klitoris dengan gerakan melingkar, sesekali menyusup masuk ke lubang yang basah. Devina memegang kepala Andi dengan kedua tangan, menggoyang pinggulnya pelan, menggesekkan vaginanya ke wajah Andi. Cairannya yang bening dan licin sudah menetes ke dagu Andi.
“Enak… enak sekali… tante jarang dapet yang jilatannya enak kayak gini…” desah Devina. Matanya terpejam, bibirnya terbuka, napasnya memburu.
Andi terus menjilat dengan tekun. Ia menemukan ritme yang membuat Devina semakin liar – mengisap klitoris pelan, lalu menjilat cepat, lalu menyusup lidahnya masuk. Devina mulai mengerang lebih keras. Pinggulnya bergerak lebih cepat. Tangan kirinya meremas payudaranya sendiri, menjepit putingnya.
“Tante… mau keluar… jangan berhenti…” erang Devina.
Andi mempercepat gerakan lidahnya. Devina tiba-tiba menggigil hebat. Tubuhnya menegang, vaginanya mengejang di sekitar lidah Andi. Cairan hangat muncrat pelan ke mulut Andi. Devina mencapai orgasme pertamanya malam itu dengan suara erangan panjang yang tertahan,
“Aaaahhh… ya… tante keluar…”
Ia ambruk sedikit ke depan, payudaranya menekan kepala Andi. Napasnya tersengal. Andi masih menjilat pelan, membersihkan sisa cairan yang keluar.
Devina tersenyum puas, matanya berkaca-kaca karena kenikmatan. Ia menarik Andi berdiri, menciumnya dalam-dalam, merasakan rasa vaginanya sendiri di lidah Andi. Ciuman itu panas dan basah.
“Sekarang tante mau gantian enakin kamu,” bisik Devina di telinga Andi.
Ia mendorong Andi duduk kembali di kursi. Lalu ia berlutut di depan Andi, di antara kedua kakinya. Kontol Andi berdiri tegak di depan wajahnya, berdenyut. Devina memegangnya dengan kedua tangan, mengusap naik-turun pelan sambil menatap Andi dari bawah.
“Kamu suka tante isap?” tanya Devina sambil menjilat bibirnya.
Andi mengangguk cepat. “Suka banget, Tan…”
Devina tersenyum nakal. Ia menjulurkan lidahnya, menjilat kepala kontol Andi dari bawah ke atas, membersihkan cairan yang menetes. Lalu ia membuka mulutnya lebar, memasukkan kepala kontol itu ke dalam mulutnya yang hangat dan basah. Lidahnya berputar di sekitar kepala, mengisap pelan tapi kuat.
Andi mengerang keras. Sensasinya luar biasa. Mulut Devina terasa sempurna – hangat, licin, dan lidahnya sangat lincah. Devina mulai memompa kepalanya naik-turun, mengisap lebih dalam setiap kali. Kontol Andi masuk semakin jauh, hampir menyentuh tenggorokannya. Air liur Devina menetes ke batang kontol dan ke lantai.
“Tante Devina… enak sekali…” erang Andi, tangannya memegang kepala Devina.
Devina mengisap dengan ritme yang sempurna – kadang cepat, kadang pelan, sesekali ia keluarkan kontol dari mulutnya untuk menjilat batangnya dari bawah sampai ke bola-bola, lalu memasukkan lagi. Ia bahkan mencoba deepthroat, memasukkan hampir seluruh kontol ke tenggorokannya sampai matanya berair, tapi ia tetap tersenyum.
Setelah hampir sepuluh menit mengisap dengan rakus, Devina berdiri. Ia menarik Andi berdiri juga, lalu mendorongnya mundur sampai punggung Andi menempel di rak minuman dingin. Botol-botol Aqua dan teh botol bergoyang pelan.
Devina naik ke pangkuan Andi, kakinya mengangkang lebar di atas kursi. Ia memegang kontol Andi dengan tangan kanannya, mengusapkannya ke bibir vaginanya yang sudah sangat basah. Kepala kontol menggesek klitorisnya, membuat Devina mendesah.
“Tante msaukin ya, Tante sudah nggak tahan lagi,” bisik Devina.
Ia menurunkan pinggulnya perlahan. Kepala kontol Andi masuk ke dalam vagina Devina yang panas dan sempit. Devina mengerang panjang,
“Ahhhhh… penuh… enak sekali…”
Ia terus menurunkan diri sampai seluruh kontol Andi tenggelam di dalam vaginanya. Mereka berdua diam sejenak, menikmati sensasi saling terhubung. Devina merasakan kontol Andi mengisi penuh ruangannya, menyentuh titik-titik sensitif di dalam.
Lalu ia mulai bergerak. Naik-turun dengan irama pelan pada awalnya. Payudaranya yang besar bergoyang indah di depan wajah Andi. Andi langsung menangkap kedua payudara itu dengan tangannya, meremas, mengisap putingnya bergantian. Devina semakin cepat menggoyang pinggulnya. Suara plok-plok basah mulai terdengar setiap kali pinggul Devina turun.
“Cepat… Andi… genjot tante lebih cepat,” erang Devina.
Andi memegang pinggul Devina dengan kedua tangan, membantu naik-turun lebih kuat. Setiap dorongan membuat kontolnya masuk sangat dalam. Devina mulai mengerang tanpa kendali. Keringat mereka bercampur. Bau seks mulai memenuhi udara toko kecil itu.
Devina mencapai orgasme keduanya dengan tubuh menggigil hebat. Vaginanya mengejang kuat di sekeliling kontol Andi, seperti memijatnya. “Aaaahhh… tante keluar lagi… ya… ya…”
Andi merasakan tekanan itu dan hampir ikut keluar. Tapi ia menahan diri.
Devina turun dari pangkuan Andi, napasnya tersengal. Ia tersenyum nakal. “Belum boleh keluar dulu… tante mau coba posisi lain.”
Ia membalikkan tubuhnya, membungkuk di depan Andi, tangannya bertumpu di kursi. Pantatnya yang bulat dan montok terangkat tinggi, vagina dan lubang pantatnya terpampang jelas. Rok denimnya masih melingkar di pinggang.
“Masukin dari belakang, Andi… tante suka doggy,” kata Devina sambil melirik ke belakang.
Andi berdiri, memegang kontolnya, dan mendorong masuk dari belakang. Posisi ini membuatnya masuk lebih dalam. Devina menjerit nikmat. “Ahhh… dalem banget… genjot tante keras-keras…”
Andi mulai menggenjot dengan irama kuat. Tangan kirinya memegang pinggul Devina, tangan kanannya meraih payudara yang bergoyang dari bawah. Setiap dorongan membuat pantat Devina bergoyang dan beradu dengan perut Andi. Suara plok-plok semakin keras dan basah.
Devina mendorong pinggulnya ke belakang, menyambut setiap genjotan.
“Ya… seperti itu… tante suka kontol kamu… ahh… enak…”
Mereka berganti posisi lagi. Devina berbaring di lantai yang dingin (ia menggelar kardus kardus mie sebagai alas), kakinya terbuka lebar. Andi menindihnya, memasukinya dalam posisi missionary. Mereka berciuman liar sambil Andi menggenjot terus-menerus. Devina melilitkan kakinya di pinggang Andi, menariknya lebih dalam.
Orgasme ketiga Devina datang lebih kuat. Ia hampir menangis kenikmatan, tubuhnya kejang-kejang di bawah Andi.
“Andi… sekarang keluar di dalam tante… tante mau rasain panasnya…” desah Devina di telinga Andi.
Andi tidak bisa menahan lagi. Dengan beberapa dorongan terakhir yang kuat, ia meledak di dalam vagina Devina. Sperma panas menyembur deras, memenuhi rahim Devina. Devina merasakan setiap denyutannya dan langsung orgasme lagi, kali ini bersamaan dengan Andi. Tubuh mereka berdua menggigil hebat, keringat bercampur, napas tersengal.
Mereka berpelukan lama di lantai, kontol Andi masih di dalam vagina Devina yang berdenyut pelan. Sperma mulai menetes keluar perlahan.
Devina mencium kening Andi dengan lembut.
“Enak sekali malam ini… kamu hebat juga.”
Andi tersenyum lelah tapi puas. “Tante Devina juga… tante luar biasa.”
Devina tertawa kecil. Ia bangkit perlahan, sperma masih menetes dari vaginanya ke lantai. Ia mengambil tisu dari rak dan membersihkan diri mereka berdua dengan lembut.
“Malam ini belum selesai, Andi,” kata Devina sambil tersenyum nakal. “Kita masih punya waktu. Tante mau ronde kedua kalau kamu masih kuat.”
Andi merasa kontolnya mulai berdenyut lagi hanya karena mendengar kata-kata Devina.
Devina menarik Andi ke kasur lipat di kamar kecil belakang toko. Ia membaringkan Andi, lalu naik ke atasnya dalam posisi 69. Mulutnya kembali mengisap kontol Andi yang masih berbau campuran sperma dan cairannya sendiri, sementara Andi menjilat vaginanya yang penuh sperma.
Malam itu berlanjut dengan panas yang tak kunjung padam. Devina mengajari Andi berbagai posisi.
Setiap ronde Devina orgasme berkali-kali. Ia seperti perempuan yang haus sentuhan setelah dua tahun kesepian. Andi, yang awalnya gugup, semakin percaya diri dan bisa bertahan lebih lama di ronde kedua.
Pukul 02.15 pagi, mereka akhirnya berhenti karena kelelahan. Devina berbaring di dada Andi, jari-jarinya menggambar lingkaran di perut Andi.
“Besok malam… atau lusa… kamu datang lagi ya,” bisik Devina.
“Tante masih punya banyak trik yang belum tante tunjukin.”
Andi terkejut tapi juga terangsang mendengar kata-kata itu.
“Tante serius?”
Devina hanya tersenyum misterius.
“Kamu tunggu aja. Tante janda, tapi tante nggak mau hidup monoton lagi. Malam-malam di toko ini… sekarang jadi tempat tante merasa hidup lagi.”
Mereka berpakaian perlahan. Andi keluar toko lewat pintu belakang dengan kaki agak goyah. Devina mengunci pintu, membersihkan sisa-sisa malam mereka, lalu berbaring di kasur lipat dengan senyum puas di wajahnya.
Malam pertama itu baru awal. Devina tahu, godaan yang ia mulai akan semakin liar. Ada Budi si supir truk yang sering meliriknya, ada Rizal si polisi lalu lintas yang kadang mampir, dan masih banyak pelanggan lain yang mungkin suatu hari akan ia pilih.
Tapi untuk sekarang, ia menikmati kenangan panas malam ini dengan Andi.
647Please respect copyright.PENANAlAZEOhRr8B
versi pdf: lynk.id/bande41/w6mnwjp69y9v
List cerita:647Please respect copyright.PENANA7YEznpIgwk
https://docs.google.com/spreadsheets/d/1Y9KMFZBWbZEZ3EsMZ0cq_RS03eTHZrjjz5hWzH16C2c/edit?gid=0#gid=0647Please respect copyright.PENANAoalLQXyS2v


