Devina duduk di kursi kayu reyot di belakang meja kasir, kakinya disilangkan santai. Jam dinding toko menunjukkan pukul 20.47 WIB. Malam masih panas meski AC kecil di sudut toko sudah berusaha semaksimal mungkin. Udara lembab bercampur bau mie instan dan rokok kretek yang selalu menempel di dinding.
Toko Devina 24 Jam sebenarnya bukan 24 jam. Ia tutup jam 23.00 tepat, tapi nama itu sengaja dibuat supaya terdengar ramah bagi para pekerja shift malam, supir ojek online, dan anak kos yang pulang larut. Lokasinya di ujung gang sempit Perumahan Citra Raya, Surabaya Timur. Gangnya cukup sepi setelah jam 21.00, hanya sesekali terdengar suara motor lewat atau anjing tetangga menggonggong.
Devina berusia 38 tahun. Sudah dua tahun ia menjadi janda. Suaminya, Mas Haris, meninggal dalam kecelakaan motor saat pulang malam dari pabrik garmen di Rungkut. Tabrakan dengan truk kontainer. Devina masih ingat jelas malam itu – telepon dari polisi jam 02.14, suara sirene ambulans, dan tubuh Haris yang sudah tidak bernyawa saat ia tiba di rumah sakit.
Setelah itu, hidupnya berubah drastis. Dua anaknya, Raka (12 tahun) dan Sinta (9 tahun), ia titipkan ke orang tua Haris di kampung. Devina memilih tetap tinggal di Surabaya karena toko ini adalah satu-satunya warisan yang bisa menghidupi keluarganya. Awalnya sulit. Omset kecil, banyak utang dari biaya pengobatan Haris yang tidak tertutup asuransi. Tapi Devina perempuan pekerja keras. Ia bangun jam 05.30, buka toko jam 07.00, tutup jam 23.00, dan tidur hanya lima jam sehari.
Tapi sejak enam bulan lalu, Devina mulai berubah.
Ia sadar bahwa tubuhnya masih sangat menarik. Kulitnya sawo matang mengkilap karena sering kena angin Surabaya, rambut hitam lurus sebahu yang selalu dibiarkan tergerai, bibir tebal alami yang tidak perlu lipstick mahal, dan mata sipit yang selalu tampak mengantuk tapi penuh godaan. Payudaranya besar dan masih kencang, ukuran 36D, pinggul lebar khas ibu-ibu melahirkan, dan pantatnya bulat montok yang selalu membuat rok atau celana pendeknya terlihat ketat.
Devina mulai sengaja memakai pakaian minim.
Awalnya hanya tank top biasa yang agak ketat. Lalu ia berani tanpa bra. Kemudian rok pendek, hotpants, bahkan kadang hanya kaos longgar tanpa apa-apa di bawahnya. Ia tahu efeknya. Pelanggan pria yang tadinya cuma beli satu bungkus rokok, lama-lama beli mie, minuman, sabun, sampai tisu toilet. Omset naik hampir dua setengah kali lipat dalam tiga bulan. Tetangga perempuan kadang bergosip, tapi Devina tidak peduli. Ia janda. Ia butuh uang. Dan ia juga butuh perhatian.
Malam itu, Devina memakai tank top hitam tipis tanpa bra. Kainnya sangat ringan, hampir transparan kalau dilihat dari sudut tertentu. Putingnya yang cokelat gelap dan besar sudah mengeras karena AC. Di bawahnya ia hanya memakai rok denim pendek yang panjangnya tidak sampai pertengahan paha. Setiap kali ia membungkuk, rok itu naik dan memperlihatkan celana dalam hitam tipis yang ia pilih khusus malam ini.
Ia sedang mengatur botol-botol minuman di rak bawah ketika pintu kaca toko berdenting pelan.
“Malam, Bu…”
Suara itu sudah familiar. Devina tersenyum dalam hati sebelum menoleh.
Andi. Mahasiswa semester akhir Teknik Informatika di salah satu kampus swasta di Surabaya. Usianya 25 tahun, tinggi sedang, kulit agak putih karena jarang keluar rumah, rambut agak gondrong, dan selalu memakai kaos oblong serta celana jeans yang sudah pudar. Sudah hampir tiga bulan Andi jadi pelanggan tetap. Awalnya ia hanya beli rokok sekali seminggu. Sekarang hampir setiap malam.
Devina bangkit perlahan, sengaja membusungkan dada sedikit.747Please respect copyright.PENANALVYu0lIaNa
“Eh, Andi…Biasanya jam segini kamu sudah di kos.”
Andi tersenyum gugup, matanya langsung melirik ke dada Devina sebelum cepat dialihkan ke rak rokok. “Iya, Tante. Lagi ngerjain skripsi malam-malam. Butuh rokok sama kopi.”
Devina berjalan mendekat ke rak rokok dengan langkah pelan yang sengaja dibuat menggoda. Pinggulnya bergoyang ringan. Rok denimnya naik sedikit di belakang, memperlihatkan garis belakang paha yang mulus. Ia mengambil satu bungkus rokok Sampoerna Mild yang biasa dibeli Andi.
“Yang Mild kan? Atau mau yang lain malam ini?” tanya Devina sambil menoleh, matanya menatap langsung ke mata Andi.
Andi menelan ludah. “Mild aja, Tan.”
Devina tidak langsung memberikan rokoknya. Ia bersandar di rak, membuat tank topnya tertarik ke atas sedikit sehingga perut ratanya yang agak berisi lembut terlihat. “Andi… kamu kuliah di mana sih? Kok rajin banget ke sini tiap malam?”
“Di kampus dekat ITS, Tan. Kosnya di gang sebelah,” jawab Andi, suaranya agak parau.
Devina tersenyum manis. “Oh… dekat ya. Tante sering lihat kamu lewat motor. Sendirian terus. Pacar nggak ada?”
Andi menggeleng. “Belum ada. Sibuk skripsi.”
Devina tertawa kecil, suaranya lembut dan agak serak. “Kasihan… cowok muda ganteng kayak kamu kok sendirian. Pasti banyak cewek di kampus yang naksir.”
Andi hanya tersenyum kikuk. Matanya lagi-lagi melirik ke dada Devina. Putingnya yang menonjol jelas sekali di balik kain hitam tipis. Devina sengaja tidak menutupinya. Ia bahkan sedikit membusungkan dada lebih lagi saat mengambil plastik untuk membungkus rokok.
“Berapa harganya, Tante?” tanya Andi sambil mengeluarkan dompet.
Devina membungkuk ke laci kasir untuk mengambil kembalian. Roknya naik cukup tinggi, memperlihatkan hampir seluruh paha belakangnya yang mulus dan pinggiran celana dalam hitam yang ketat. Andi berdiri tepat di belakang meja kasir, jaraknya hanya satu meter. Ia bisa mencium aroma sabun mandi Devina yang manis bercampur keringat tipis karena cuaca panas.
Devina bangkit, memberikan rokok dan kembalian. Saat tangan mereka bersentuhan, Devina sengaja menahan jari Andi sebentar. “Andi… kamu nggak pernah ngobrol lama-lama sama tante. Padahal tante sering sendirian di sini malam-malam.”
Andi merasa jantungnya berdegup lebih kencang. “Saya… takut ganggu, Tante kan sibuk ngurus toko.”
Devina menggeleng pelan, bibir tebalnya melengkung nakal. “Ganggu? Justru tante senang ada yang nemenin. Kadang malam-malam gini sepi banget. Hanya AC sama lampu neon yang nemenin tante. Kadang tante kesepian… butuh temen ngobrol.”
Ia menjilat bibir bawahnya pelan, gerakan yang sangat kecil tapi cukup untuk membuat Andi merasa panas.
Andi tidak tahu harus menjawab apa. Celananya sudah mulai terasa sesak. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika tangannya menyentuh payudara Devina yang besar itu, atau bagaimana rok pendek itu dinaikkan lebih tinggi.
Devina seolah bisa membaca pikiran Andi. Ia berjalan mengitari meja kasir, mendekat ke Andi sampai jarak mereka hanya sekitar 30 sentimeter. Aroma tubuh Devina yang hangat langsung tercium.
“Besok malam datang lagi ya, Andi,” kata Devina dengan suara rendah. “Tante tutup jam 11. Kalau kamu datang jam 10.45… tante bisa kasih diskon spesial. Bukan cuma rokoknya.”
Andi menatap Devina dengan mata melebar. “Diskon… spesial?”
Devina hanya tersenyum misterius, mengedipkan satu mata. “Datang aja besok. Kamu pasti ngerti.”
Ia mundur selangkah, memberikan ruang. Andi mengangguk cepat, membayar, dan keluar toko dengan langkah agak tergesa. Devina melihat bayangan Andi menghilang di gang gelap sambil tersenyum puas.
Ia kembali duduk di kursi, kakinya disilangkan lagi. Tangan kanannya tanpa sadar menyentuh paha sendiri, naik perlahan ke bawah rok. Ia sudah agak basah. Godaan kecil malam ini berhasil membuatnya terangsang.
“Besok… kita lihat seberapa berani kamu, Andi,” gumam Devina sendiri sambil tersenyum.
Malam itu berlalu lambat. Devina melayani beberapa pelanggan lain – ada ibu-ibu yang beli susu anak, ada ojek online yang mampir beli rokok, ada juga dua remaja yang cuma nongkrong di depan toko sambil main HP. Tapi pikiran Devina terus tertuju pada Andi.
Ia ingat pertama kali Andi datang. Cowok itu gugup sekali, hampir tidak berani menatap matanya. Sekarang, setelah berbulan-bulan, Devina merasa Andi sudah cukup “matang” untuk diajak lebih jauh. Devina bukan pelacur. Ia tidak melayani semua orang. Hanya yang ia suka, yang sopan, dan yang membuatnya merasa diinginkan lagi sebagai perempuan.
Jam 22.50, Devina mulai membereskan toko. Ia mematikan sebagian lampu, hanya menyisakan lampu neon kuning di atas kasir dan lampu kecil di rak belakang. Saat membungkuk memasukkan kardus mie ke rak bawah, roknya naik tinggi lagi. Ia sengaja tidak memperbaikinya. Kalau ada pelanggan terakhir, biarlah mereka melihat.
Pukul 23.05 toko resmi tutup. Devina mengunci pintu kaca, memasang gembok kecil, lalu masuk ke kamar kecil di belakang toko yang ia jadikan tempat istirahat. Kamar itu sederhana: kasur lipat, kipas angin, lemari kecil, dan wastafel.
Ia mandi air dingin sebentar, membersihkan tubuhnya yang lengket. Saat mengeringkan tubuh di depan cermin kecil, Devina memandang dirinya sendiri. Payudaranya masih kencang, perutnya agak berisi tapi tidak mengganggu, pinggulnya lebar, dan bulu halus di area intimnya yang ia cukur rapi menjadi garis tipis.
“Masih cantik kok,” bisiknya pada bayangannya. “Harusnya aku boleh bersenang-senang sedikit.”
Malam itu ia tidur dengan pikiran tentang Andi. Ia membayangkan bagaimana cowok muda itu akan bereaksi besok malam. Apakah ia akan berani? Apakah ia akan kabur? Atau justru akan mengambil kesempatan?
Pagi harinya Devina bangun seperti biasa. Membuka toko jam 07.00, melayani ibu-ibu yang beli beras dan telur, anak sekolah yang beli snack, dan tukang ojek yang mampir kopi. Sepanjang hari ia tetap memakai pakaian biasa – kaos longgar dan rok selutut – supaya tidak terlalu mencolok di siang hari.
Tapi begitu sore menjelang, Devina mulai mempersiapkan malam.
Ia mandi, memakai lotion wangi, memilih tank top yang paling tipis, dan rok denim pendek favoritnya. Ia bahkan memakai celana dalam hitam baru yang agak transparan di bagian depan. Saat melihat dirinya di cermin, Devina tersenyum puas. Malam ini ia akan menggoda lebih berani.
Jam 20.00 toko mulai ramai lagi. Devina melayani dengan senyum manis seperti biasa. Setiap kali ada pelanggan pria yang menatapnya lama, ia sengaja membungkuk lebih dalam atau membusungkan dada. Beberapa orang pulang dengan wajah memerah.
Pukul 21.30, Andi belum juga muncul. Devina mulai agak gelisah. Apakah ia takut? Atau ada urusan lain?
Pukul 22.15 pintu berdenting.
Bukan Andi. Yang masuk adalah Pak Budi, supir truk berusia 42 tahun yang tubuhnya besar dan kekar. Budi sering mampir tengah malam saat istirahat mengantar barang ke Pelabuhan Tanjung Perak.
“Malam, Bu Devina. Masih buka?” tanya Budi dengan suara berat.
Devina tersenyum. “Masih, Mas. Mau apa malam ini?”
Budi memesan rokok dan dua botol energi drink. Saat Devina membungkuk mengambil minuman dari rak bawah, Budi berdiri diam di depan kasir, matanya jelas menikmati pemandangan rok yang naik tinggi.
Devina bangkit, memberikan barang. “Hati-hati di jalan ya, Mas Budi. Malam-malam begini.”
Budi tersenyum lebar. “Iya, Bu. Makasih. Tambah cantik aja tiap malam.”
Devina tertawa kecil. “Mas Budi bisa aja.”
Budi keluar setelah membayar. Devina kembali duduk, tapi pikirannya masih pada Andi.
Pukul 22.48, pintu berdenting lagi.
Andi masuk. Wajahnya agak berkeringat, seolah ia berlari dari kosannya.
Devina langsung berdiri, senyumnya melebar. “Andi… kamu datang juga.”
Andi mengangguk. “Iya, Tan. Saya… datang jam 10.45 seperti yang tante bilang.”
Devina melirik jam dinding. Tepat sekali.
Ia berjalan mendekat ke pintu, memutar kunci, dan memasang tulisan kecil “Lagi Istirahat Sebentar” di kaca. Lalu ia menoleh ke Andi dengan mata yang sudah penuh api.
“Masuk ke belakang kasir ya, Andi. Tante mau kasih diskon spesialnya sekarang.”
Andi mengikuti Devina dengan jantung berdegup keras. Udara di toko terasa lebih panas meski AC masih menyala.
Devina berdiri tepat di depan Andi. Jarak mereka sangat dekat. Ia bisa merasakan napas Andi yang cepat.
“Tante sudah nunggu kamu dari tadi,” bisik Devina sambil mengangkat tangan kanannya dan menyentuh dada Andi pelan. “Kamu mau tante kasih apa malam ini?”
Andi tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu. Tapi matanya sudah tidak bisa lepas dari payudara Devina yang naik-turun karena napasnya yang mulai memburu.
Devina tersenyum nakal. Ia mengambil tangan kanan Andi dan meletakkannya langsung di atas payudaranya yang kiri, di luar tank top tipis.
“Sentuh tante, Andi… jangan takut.”
Jari Andi gemetar. Ia merasakan kelembutan dan kehangatan payudara Devina. Putingnya yang keras menekan telapak tangannya.
Devina mendesah pelan. “Enak kan? Tante nggak pakai bra malam ini… sengaja buat kamu.”
Ia mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh bibir Andi. “Mau cium tante?”
Andi tidak bisa menahan lagi. Ia mencium Devina dengan lembut pada awalnya, lalu semakin dalam. Lidah mereka bertemu, menari liar. Devina mengerang kecil di dalam mulut Andi.
Tangan Andi semakin berani meremas payudara Devina. Devina membalas dengan menekan tubuhnya lebih rapat, merasakan tonjolan keras di celana Andi yang menekan perutnya.
Ciuman mereka semakin panas. Devina menggigit bibir bawah Andi pelan, lalu menjilat lehernya. “Kamu sudah keras ya… tante juga sudah basah dari tadi nunggu kamu.”
Ia mengambil tangan Andi lagi, kali ini membawanya ke bawah roknya. Jari Andi langsung menyentuh celana dalam Devina yang sudah basah kuyup.
“Rasain… itu karena kamu,” desah Devina.
Andi mengusap celana dalam itu dengan jari, merasakan kelembapan yang hangat. Devina menggoyang pinggulnya pelan, menikmati sentuhan itu.
Mereka masih berdiri di belakang kasir. Lampu neon kuning menerangi tubuh mereka. Suara AC menjadi satu-satunya suara selain napas mereka yang memburu.
Devina mundur selangkah, menatap Andi dengan mata setengah terpejam. “Ini baru awal, Andi. Malam ini tante mau ajarin kamu banyak hal. Tapi kita lakukan pelan-pelan… supaya enak.”
Ia menarik tangan Andi menuju kursi kayu panjang di belakang kasir yang biasa ia pakai untuk istirahat.
“ Duduk dulu… tante mau buka baju kamu.”
Andi duduk. Devina berdiri di depannya, lalu perlahan menarik tank top hitamnya ke atas. Payudaranya yang besar langsung melompat keluar, putingnya keras dan menonjol. Devina melempar tank top ke meja kasir.
“Kamu suka?” tanya Devina sambil memegang kedua payudaranya sendiri, meremas pelan di depan wajah Andi.
Andi hanya bisa mengangguk, matanya tidak berkedip.
Devina tersenyum. Ia mendekat, menekankan payudaranya ke wajah Andi. “Isap payudara tante.”
Andi membuka mulutnya, lidahnya menyentuh puting Devina. Devina mengerang nikmat, tangannya memegang kepala Andi, menekannya lebih rapat.
Sementara itu, tangan Devina turun ke celana Andi, membuka resleting perlahan. Ia merasakan kontol Andi yang sudah sangat keras di balik celana dalam.
Malam itu baru saja dimulai.
747Please respect copyright.PENANAFfu6gWSgyU


