Ledakan demi ledakan mengguncang kaki Menara Hitam Vortigern. Pasukan Kerajaan Eldoria yang tersisa—sekitar dua ratus prajurit elit yang masih setia pada sang pahlawan—telah tiba. Panji-panji berlambang api suci berkibar di tengah hujan deras yang bercampur darah. Mereka membawa ram mesin pengepung, penyihir cadangan, dan panah-panah berlapis perak suci. Suara terompet perang bergema naik hingga ke puncak menara.
Di dalam ruang tahta, Lirael masih tergantung di pangkuan Vortigern. Kontol tebal sang penguasa kegelapan menghunjam dalam-dalam ke dalam vaginanya yang sudah sangat licin dan bengkak. Setiap hantaman pelan tapi kuat membuat payudaranya yang montok bergoyang berat di depan dada bidang Vortigern. Sperma dari tiga iblis tadi masih menetes deras dari anus dan vagina Lirael, membasahi paha dalamnya yang mulus.
219Please respect copyright.PENANAIF1xt4Ysem
“Aaahh… Vortigern…!” jerit Lirael lagi, suaranya pecah antara rasa malu dan kenikmatan yang dipaksakan. Vortigern tertawa rendah sambil menggigit cuping telinga gadis itu.
219Please respect copyright.PENANAYNigbAh3oJ
“Dengar itu? Mereka datang menyelamatkanmu, pahlawan kecil. Tapi mereka tidak tahu bahwa pahlawan mereka sudah menjadi pelacur kegelapan.”
Dia berdiri sambil tetap mengangkat Lirael, kontolnya masih tertanam sepenuhnya. Dengan sihir gelap, Vortigern membuka dinding besar ruang tahta seperti tirai.
Angin dingin dan hujan deras langsung menyapu masuk. Lirael kini terpapar telanjang sepenuhnya di tepi jurang menara yang tinggi. Tubuhnya yang indah—payudara besar yang bergoyang, pinggul lebar, dan vagina yang terbuka lebar karena kontol Vortigern—bisa dilihat samar-samar oleh pasukan di bawah jika mereka mendongak.
Vortigern mulai menggoyang pinggulnya dengan ritme lambat tapi dalam. Setiap dorongan membuat Lirael menjerit, suaranya terbawa angin hingga ke medan perang di bawah.
“Terus teriak namaku,” bisik Vortigern di telinganya sambil meremas klitoris Lirael dengan dua jari.
“Biarkan mereka mendengar siapa tuan baru mu.”
Lirael menggeleng lemah, air mata bercampur hujan mengalir di pipinya. Tapi tubuhnya sudah tak patuh lagi. Vaginanya berkontraksi kuat setiap kali kepala kontol Vortigern menyentuh serviksnya.
“Tidak… mereka… akan mendengar… aaaahhh!!”
Di bawah, para prajurit mendengar jeritan samar yang familiar.
“Itu suara Lady Lirael!” teriak seorang kapten. Semangat mereka membara, tapi juga bercampur ketakutan.
Sementara itu, ketiga iblis kembali mendekat. Gorzath berdiri di samping kiri, Sylvara di kanan, Kragor di belakang. Mereka tidak lagi hanya memperkosa—mereka sedang “mempersiapkan” Lirael untuk pertunjukan yang lebih besar.219Please respect copyright.PENANA7fEZhcwXsw
Sylvara mengusap perut Lirael dengan telapak tangan, sihir ungu mengalir masuk.
“Kau akan hamil, cantik. Rahimmu sudah penuh benih kegelapan. Tapi malam ini… kita buat kau menginginkan lebih.”
Ekor succubus itu melilit kedua payudara Lirael, ujungnya menyentuh puting dan meremas pelan, seolah memerah susu yang belum ada. Gorzath mencondongkan tubuhnya dan mulai menjilat leher Lirael dari samping, lidah kasarnya meninggalkan jejak liur panas.
Kragor, dari belakang, memasukkan dua jari tebalnya ke anus Lirael yang sudah longgar, mengaduk-aduk sperma yang masih ada di dalamnya.
Vortigern mempercepat gerakannya.
Plak-plak-plak-plak
suara tabrakan daging terdengar jelas meski angin kencang. Lirael orgasme lagi—kali ini lebih kuat. Tubuhnya kejang hebat, cairan bening menyembur keluar dari sekitar kontol Vortigern dan jatuh seperti hujan ke bawah menara. Beberapa prajurit di bawah melihat cairan itu dan wajah mereka memucat.
“Lady Lirael… apa yang mereka lakukan padanya?!” teriak salah seorang penyihir.
Vortigern tertawa keras. Dia menarik kontolnya keluar tiba-tiba, membuat Lirael merintih kecewa tanpa sadar. Sperma hitamnya langsung menyembur keluar dari vagina Lirael yang menganga, mengalir deras di sepanjang paha gadis itu.
“Waktunya pertunjukan besar,” kata Vortigern.
Dengan satu gerakan tangan, rantai sihir mengangkat Lirael ke udara seperti boneka. Tubuhnya dibentangkan lebar-lebar—tangan dan kaki terentang, dada terdorong maju, vagina dan anus terbuka jelas menghadap ke bawah.
Vortigern berdiri di belakangnya, memegang pinggul Lirael, dan memasukinya lagi dengan satu hantaman brutal. Lirael menjerit panjang.
Di bawah, pasukan melihat siluet telanjang sang pahlawan digantung di puncak menara, diperkosa oleh sosok kegelapan. Moral mereka hancur seketika.
“Serang!!” teriak kapten, mencoba menutupi keputusasaan.
Ram mesin mulai menghantam gerbang menara. Panah-panah suci melesat naik, tapi Vortigern hanya melambaikan tangan—bayangan gelap menelan semua panah itu.
Sementara Vortigern terus menghantam Lirael dari belakang dengan posisi standing doggy di tepi jurang, ketiga iblis bergabung lagi.
Gorzath berlutut di depan Lirael yang tergantung. Dia memasukkan kontol bengkoknya ke mulut gadis itu, memompa tenggorokannya dalam-dalam hingga Lirael tersedak dan air liur menetes deras. Sylvara naik ke atas, duduk di wajah Lirael sambil menghadap Vortigern. Vaginanya yang basah kembali menekan mulut Lirael, memaksanya menjilat sambil terus diperkosa.
Kragor, yang paling buas, berdiri di samping dan memasukkan kedua kontolnya sekaligus—satu ke vagina Lirael bersamaan dengan kontol Vortigern, satu lagi ke anus. Dua kontol raksasa meregang lubang Lirael hingga batas ekstrem. Gadis itu menjerit histeris di sekeliling kontol Gorzath, tubuhnya gemetar tak terkendali.219Please respect copyright.PENANAa0UmkIRn8N
Sensasi penuh yang luar biasa membuat Lirael klimaks berulang-ulang.
Setiap orgasme semakin lama, semakin kuat, dan semakin sulit dibedakan antara rasa sakit dan kenikmatan. Api suci di dalam dirinya semakin redup. Kulitnya yang biasanya bercahaya hangat kini mulai memudar, urat-urat hitam kecil mulai muncul di sekitar perut dan payudaranya—tanda bahwa sihir kegelapan sedang merasuki tubuhnya.
Vortigern berbisik di telinganya sambil terus menggoyang pinggul.
“Kau merasakannya, bukan? Kekuatanmu sedang berubah. Sebentar lagi kau bukan lagi Lirael si Api Suci… kau akan menjadi Lirael si Ratu Kegelapan yang haus kontol.”
Lirael hanya bisa mengeluarkan erangan panjang yang tak lagi bisa dibedakan sebagai penolakan atau permohonan.219Please respect copyright.PENANA6L2J5ACUQT
Di bawah, pertempuran semakin sengit. Beberapa prajurit berhasil mendobrak gerbang bawah dan mulai naik tangga menara. Vortigern tersenyum licik.
“Mari kita sambut tamu-tamu kita.”
Dia menjentikkan jari. Gerbang ruang tahta terbuka lebar. Rantai sihir menarik Lirael turun dari posisi tergantung dan melemparkannya ke tengah ruangan seperti boneka rusak. Tubuh telanjangnya mendarat di lantai dengan suara basah—payudaranya bergoyang keras, vagina dan anusnya menganga, penuh sperma putih kental yang mengalir deras.
Empat prajurit elit pertama yang berhasil naik langsung terpaku di pintu masuk. Mereka melihat pahlawan mereka—wanita yang mereka puja, yang pernah memimpin mereka dalam puluhan pertempuran—tergeletak telanjang, tubuh penuh memar, gigitan, dan cairan kental dari musuh.
“L-Lady Lirael…?” suara salah seorang prajurit pecah.
Lirael mengangkat wajahnya yang basah air mata dan sperma. Matanya sudah berkabut. Bibirnya bergetar. Untuk sesaat, ada kilatan kesadaran di mata hijau itu.
“Tolong… bunuh aku…” bisiknya lemah.
Tapi Vortigern melangkah maju, kontolnya masih tegang dan berkilau.
“Terlambat, pahlawan. Sekarang… tunjukkan pada anak buahmu betapa rendahnya kau sudah jatuh.”
Dia mengangkat Lirael dengan satu tangan di lehernya (tanpa mencekik), memposisikannya di depan para prajurit. Lalu, dengan suara yang menggema penuh sihir, Vortigern memerintah:
“Merangkak, Lirael. Merangkak ke arah mereka dan minta mereka menonton bagaimana kau dikentot sampai klimaks.”
Tubuh Lirael bergetar hebat. Air mata mengalir deras. Tapi kakinya perlahan bergerak. Dia merangkak di lantai batu yang dingin, pantatnya terangkat tinggi, vagina dan anusnya terpapar jelas ke arah para prajurit yang terpaku horor.
Di belakangnya, Vortigern berlutut dan memasukkan kontolnya lagi dengan satu hantaman keras. Lirael menjerit, punggungnya melengkung, payudaranya bergoyang.
“Lihat… ini… adalah… pahlawan… kalian!!” teriak Vortigern sambil mulai menggoyang pinggulnya dengan brutal.
Para prajurit tidak bisa bergerak—sihir Vortigern telah membekukan mereka di tempat, memaksa mereka menyaksikan setiap detail: bagaimana kontol tebal sang penguasa kegelapan masuk keluar dari vagina Lirael, bagaimana cairan putih menyembur setiap kali hantaman, bagaimana Lirael mulai mengeluarkan erangan nikmat yang tak lagi bisa ditahan.
Orgasme berikutnya datang begitu kuat hingga Lirael menyemprot deras, cairannya memercik ke lantai di depan para prajurit.
Di saat yang sama, api suci di dalam dada Lirael hampir padam total. Hanya ada secercah kecil yang tersisa—seperti bara api di tengah lautan kegelapan.219Please respect copyright.PENANAr4ZlQKojl3
Vortigern membungkuk, menggigit bahu Lirael sambil berbisik:
“Bagian selanjutnya… kau akan meminta mereka ikut serta. Atau aku akan membunuh mereka satu per satu di depanmu.”
Lirael menggeleng lemah, tapi erangannya semakin lama semakin terdengar seperti:
“Lebih… dalam… aaahh…”
ns216.73.216.105da2


