Matahari pagi sudah menyusup lewat jendela dapur saat aku terbangun. 2278Please respect copyright.PENANAXuFJufjMHk
Tubuhku terasa lengket keringat dan sisa-sisa malam tadi. Eva masih meringkuk di sampingku di tempat tidur king size, napasnya pelan dan teratur. Memeknya yang semalam aku isi berulang kali masih terlihat sedikit bengkak dan merah, ada bekas sperma kering di paha dalamnya. 2278Please respect copyright.PENANAJjmSWHzots
Aku tersenyum sendiri. Rumah masih sepi total. Rina dan anak-anak baru balik sore nanti. Ini berarti kami punya waktu berjam-jam lagi untuk bermain.
Aku bangun pelan, kontolku sudah setengah ngaceng lagi hanya karena melihat tubuh telanjang Eva yang sempurna. Payudaranya yang montok naik-turun pelan, putingnya masih keras meski dalam tidur. 2278Please respect copyright.PENANALXpzSGnC1D
Aku turun ke lantai bawah, ke dapur, buat nyiapin kopi. Tapi pikiranku nggak bisa lepas dari Eva. Aku pengen banget lanjut ngecengin dia lagi.
Baru beberapa menit aku di dapur, aku dengar langkah kaki telanjang di lantai marmer. Eva muncul di ambang pintu dapur, masih telanjang bulat. Rambutnya acak-acakan, tapi wajahnya sudah penuh senyum nakal. 2278Please respect copyright.PENANAJm2DUCTd77
“Pagi, Bang Yuda… kontol lo sudah bangun duluan ya?” katanya sambil melirik ke bawah, di mana kontolku sudah berdiri tegak lagi di balik celana pendek yang aku pakai asal.
Aku nyengir. “Karena lo, Eva. Memek lo semalam bikin aku ketagihan.”
Eva mendekat, pinggulnya bergoyang pelan. Dia langsung memelukku dari belakang, dadanya yang empuk nempel di punggungku. Tangan kanannya turun, meremas kontolku lewat celana.2278Please respect copyright.PENANAexve2rMEpu
“Mmm… masih tebel dan panas. Aku lapar, Bang. Tapi bukan lapar nasi… lapar kontol Bang Yuda.”
Aku balik badan, angkat dagunya, lalu cium dia dalam-dalam. Lidah kami berputar, saling ngisep. Tangan aku meremas pantatnya yang bulat, jari tengahku menyusup ke celah pantatnya dan menggosok lubang anusnya yang kecil dan rapat. Eva mendesah di mulutku. 2278Please respect copyright.PENANAYfVPKZBgPm
“Ahh… Bang… pagi-pagi sudah nakal.”
Aku angkat tubuhnya, dudukkan dia di meja dapur yang tinggi. Kakinya aku buka lebar. Memeknya sudah basah lagi, bibirnya mengkilap cairan bening. Aku jongkok, wajahku tepat di depan memeknya. Bau harum memeknya yang sudah bercampur sisa sperma semalam langsung bikin kontolku berdenyut.
“Jilatin Bang… jilat memekku dulu,” pinta Eva sambil tangannya memegang rambutku.
Aku mulai dengan menjilat pelan dari anusnya naik ke klitoris. Lidahku menari-nari di klitoris yang sudah bengkak. Eva menggelinjang, 2278Please respect copyright.PENANAGO8OyoOxnT
“Uhh… enak… lebih cepat, Bang…”
Aku masukin lidahku ke dalam lubang memeknya, ngebor dalam sambil dua jariku menggosok klitorisnya keras. Cairannya langsung keluar banyak, basahin daguku. Eva mulai erang lebih keras, pinggulnya naik-turun mengikuti lidahku.
“Bang… aku mau cum… jangan berhenti… Aaaahhh!!!”
Tubuhnya kejang, memeknya muncrat kecil ke mulutku. Aku telan semua, terus jilat sampai dia lemes sejenak.
Tapi aku belum puas. Aku berdiri, lepas celana pendekku. Kontolku sudah ngaceng maksimal, urat-uratnya menonjol, kepala merah mengkilap precum. Aku gesek-gesek di bibir memeknya.
“Masukin, Bang… isi memekku lagi pagi ini,” erang Eva.
Aku dorong pelan. Kontolku masuk dengan mudah karena memeknya sudah sangat licin. Sensasi panas dan sempit langsung menyelimuti seluruh batang kontolku. Aku mulai ngentot dengan irama sedang, tarik keluar hampir sepenuhnya lalu dorong masuk sampai pangkal.
“Plok… plok… plok…” bunyi basah memenuhi dapur.
Eva memeluk leherku, kakinya melingkar di pinggangku.2278Please respect copyright.PENANA1fKeov4p78
“Lebih keras, Bang… kontolin memek adik ipar lo lebih dalam!”
Aku percepat. Tangan aku meremas dadanya kuat-kuat, jari-jariku mencubit putingnya. Setiap dorongan, meja dapur bergoyang. Eva jerit-jerit kecil, 2278Please respect copyright.PENANAGdrtfGoP3A
“Ya… gitu… kontol Bang Yuda gede banget… ngena sampe rahimku!”
Aku angkat satu kakinya lebih tinggi, posisi ini bikin kontolku masuk lebih dalam. Aku ngentot lebih kasar, pinggulku membentur pantatnya dengan suara keras. Keringat mulai mengalir di tubuh kami berdua.
“Eva… memek lo enak banget… aku mau isi lagi…”
“Cum di dalam… Bang… kasih sperma lo buat adik ipar lo… Aaaahhh!!!”
Eva cum duluan, memeknya berdenyut hebat menggigit kontolku. Aku nggak tahan, dorong dalam-dalam dan muncratkan sperma panas ke dalam rahimnya. Jet demi jet keluar, memenuhi memeknya sampai berlebih dan menetes ke meja dapur.
Kami berpelukan sebentar, napas ngos-ngosan. Kontolku masih di dalamnya, pelan-pelan melunak.
Eva tersenyum genit. “Sarapan dulu yuk, Bang. Tapi aku masak telanjang.”
Dia turun dari meja, sperma campur cairan memeknya menetes pelan dari memeknya ke lantai. Dia ambil apron putih tipis dari gantungan, tapi cuma itu. Apron itu cuma nutupin sebagian dada dan perutnya, pantat dan memeknya tetap terbuka lebar. Aku duduk di kursi dapur sambil ngopi, mata nggak lepas dari tubuhnya yang bergoyang saat dia masak telur dan roti bakar.
Tiap dia jongkok ambil barang di lemari bawah, pantatnya terbuka, aku lihat memeknya yang masih menetes spermaku. Kontolku langsung ngaceng lagi.
“Eva… sini,” panggilku.
Dia mendekat sambil bawa spatula. Aku tarik dia ke pangkuanku, posisi dia menghadap ke depan (reverse). Aku gesek kontolku di celah pantatnya, lalu angkat sedikit pinggulnya dan masukin lagi ke memeknya.
Eva mendesah panjang. “Ahh… lagi… Bang Yuda nggak pernah puas ya…”
Dia mulai naik-turun pelan di pangkuanku sambil tetap pegang spatula. Aku dari belakang meremas dadanya, mencubit putingnya. Kontolku naik-turun di dalam memeknya yang licin.
“Kamu masak sambil aku ngentot lo, Eva. Biar sarapan lebih enak.”
Eva tertawa kecil di antara erangan. “Kamu mesum banget, Bang… tapi aku suka… uh… lebih cepat…”
Aku pegang pinggulnya, bantu dia naik-turun lebih cepat. Bunyi “plok plok” lagi terdengar. Eva hampir nggak bisa fokus masak, tangannya gemetar.
Akhirnya telur matang. Dia matiin kompor, lalu sepenuhnya fokus naik-turun di kontolku. Aku tampar pantatnya keras beberapa kali. “Plak! Plak!”
“Enak… tampar lagi… aku pelacur Bang Yuda pagi ini…”
Aku tarik rambutnya ke belakang, gigit lehernya sambil ngentot dari bawah dengan kuat. Eva jerit, tubuhnya gemetar cum lagi. Aku ikut keluar di dalamnya untuk kedua kalinya pagi itu.
Kami akhirnya sarapan bareng di meja yang tadi aku entot dia. Eva duduk di pangkuanku lagi, kontolku masih setengah masuk ke memeknya sambil kami makan. Tiap dia gerak, kontolku bergesekan di dalamnya. Sarapan kami penuh tawa dan erangan kecil.
Setelah makan, aku bilang, “Mandi bareng yuk.”
Kami naik ke kamar mandi utama. Di bawah shower air hangat, aku sabunin tubuh Eva dengan sabun cair. Tangan aku meremas-remas dada, perut, pantat, dan memeknya dengan sabun yang licin. Eva balas sabunin kontolku, tangannya naik-turun pelan.
“Kontol lo licin banget sekarang, Bang… enak dipegang.”
Aku dorong dia ke dinding kamar mandi, angkat satu kakinya, lalu masukin kontolku lagi dari depan. Air shower mengguyur tubuh kami. Aku ngentot dengan irama stabil, dalam, dan kuat. Setiap dorongan, air memercik di sekitar kami.
“Fuck… enak… Bang… ngentot aku di kamar mandi… lebih keras!”
Aku percepat, tangan aku pegang lehernya pelan (choke ringan), bikin dia semakin horny. Eva mata setengah merem, mulut terbuka erang-erang.
“Aku cum lagi… Bang… cum bareng ya…”
Kami cum hampir bersamaan. Spermaku lagi-lagi memenuhi memeknya, campur air shower mengalir turun ke lantai.
Setelah mandi, kami nggak pakai baju sama sekali. Sepanjang pagi sampai siang, kami main di berbagai tempat di rumah:
- Di sofa ruang tamu, Eva naik cowgirl sambil aku hisap putingnya.
- Di lantai karpet, doggy style sambil aku tarik rambutnya dan tampar pantatnya sampai merah.
- Bahkan di tangga menuju lantai dua, aku entot dia sambil berdiri, kakinya melingkar di pinggangku.
Setiap ronde Eva cum berkali-kali. Suaranya sudah serak karena banyak jerit. Memeknya semakin bengkak, tapi semakin licin dan lapar.
Pukul 12 siang, kami istirahat sebentar di kamar. Eva berbaring di dadaku, tangannya mainin kontolku yang sudah lemes tapi masih berkedut.
“Bang Yuda… aku nggak nyangka bisa seenak ini. Kontol lo bikin aku ketagihan. Malam ini sebelum Rina pulang, kita harus ronde lagi yang gila ya?”
Aku cium keningnya. “Pasti, Eva. Siang ini kita lanjut di kolam renang belakang. Aku mau ngentot lo di air.”2278Please respect copyright.PENANA7P3G1EvGCe


