Aku Yuda, 32 tahun, sudah menikah lima tahun dengan Rina. Hidup kami biasa-biasa saja di rumah besar dua lantai di pinggir Surabaya. Tapi malam ini… malam ini rumah kosong total. Rina bawa anak-anak ke rumah orang tuanya di Malang untuk liburan akhir pekan panjang. Orang tua ku juga ikut karena ada acara keluarga. Jadi tinggal aku sendirian… dan Eva.
Eva, adik iparku yang berusia 23 tahun. Tubuhnya… sialan, dari dulu sudah bikin kontolku susah diam. Tinggi 165 cm, kulit putih mulus seperti susu, rambut hitam panjang sampai pinggang, dada montok ukuran 36D yang selalu bergoyang-goyang tiap dia jalan, pinggul lebar, pantat bulat kencang, dan paha mulus yang sering terpampang waktu dia pakai hotpants di rumah. Wajahnya cantik manis, tapi matanya selalu ada api nakal. Dia kuliah di Unair, jurusan psikologi, dan sering nginap di rumah kami karena kosannya jauh.
Malam itu pukul 19.30. Aku lagi duduk di ruang tamu, cuma pakai kaos oblong hitam dan celana pendek basket. AC nyala pelan. Eva keluar dari kamar tamu lantai bawah, baru mandi. Rambutnya masih basah, menetes ke bahu. Dia pakai tanktop tipis putih tanpa bra — putingnya samar-samar kelihatan karena kainnya basah — dan celana pendek jeans yang ketat banget, nempel di memeknya yang aku tahu pasti sudah licin dari dulu.
“Bang Yuda… rumah sepi banget ya malam ini,” katanya sambil tersenyum manis, duduk di sofa sebelahku, kakinya ditekuk sehingga pahanya terbuka sedikit.
Aku menelan ludah. 3082Please respect copyright.PENANADvaE1nVWbq
“Iya, Rinanya bawa anak-anak pergi. Besok sore baru balik. Kamu… nggak ikut?”
Eva menggeleng, rambut basahnya mengenai lenganku. Bau shampoo strawberry-nya langsung bikin kontolku bergerak pelan di dalam celana.3082Please respect copyright.PENANApEmJ32GdMv
“Males. Lagian… aku suka kalau rumah sepi gini. Bisa bebas.”
Kata “bebas” itu dia ucap dengan nada yang agak rendah, agak genit. Matanya melirik ke selangkanganku sebentar, lalu balik ke layar TV yang lagi nunjukin film action.
Kami diam sebentar. Hanya suara AC dan detak jantungku yang kenceng. Aku sudah lama ngebayangin ini — ngentot Eva di rumah sepi, ngecengin memek adik iparku sampai dia jerit-jerit minta ampun. Tapi selama ini aku tahan. Malam ini… aku nggak yakin masih bisa tahan.
Eva tiba-tiba bangun, ambil remote, matiin TV. 3082Please respect copyright.PENANAhmX3rYaAJ5
“Bang… panas nih. AC-nya kurang dingin.” Dia berdiri di depanku, tangannya memegang ujung tanktop-nya, lalu pelan-pelan dia angkat ke atas. Tanktop itu naik, nunjukin perut rata yang mulus, lalu dada montoknya yang langsung melompat keluar — puting cokelat muda yang sudah mengeras.
“Eva… apa yang kamu lakuin?” suaraku serak.
Dia tersenyum nakal, tanktop dilempar ke sofa. 3082Please respect copyright.PENANAHgeQlfieiU
“Bang Yuda… aku tahu dari dulu loh. Tiap aku mandi, kamu sering ngintip dari celah pintu. Tiap aku pakai baju pendek, kontol Bang Yuda ngaceng. Malam ini rumah sepi… aku mau yang beneran. Aku mau kontol Bang Yuda yang gede itu ngena di memekku.”
Dia mendekat, duduk di pangkuanku. Pantatnya yang bulat langsung nempel di kontolku yang sudah keras banget. Aku merasakan panas memeknya lewat celana jeans tipis itu. Tangan Eva langsung memegang wajahku, lalu dia cium bibirku keras. Lidahnya masuk, berputar-putar, ngisep lidahku sambil pinggulnya menggesek kontolku pelan.
Aku nggak tahan lagi. Tangan kananku langsung meremas dada kirinya yang montok, jempolku muter-muter puting yang keras. Eva mendesah di dalam ciuman, 3082Please respect copyright.PENANAanZ6Cg8g1p
“Mmmh… remas lebih keras, Bang… aku suka diremas.”
Aku remas lebih kuat, jari-jariku tenggelam di daging dada yang kenyal itu. Tangan kiriku turun ke pinggulnya, masuk ke celana pendeknya, langsung meraba memeknya yang sudah banjir. Celana dalamnya basah kuyup. Aku gesek klitorisnya yang membengkak dengan jari tengahku.
“Uh… ahh… Bang Yuda… jari lo tebel banget,” erang Eva di telingaku. 3082Please respect copyright.PENANAadNrdnDgX7
Napasnya panas dan cepat.
Aku masukin satu jari ke dalam memeknya yang sempit dan panas. Memeknya langsung menggigit jariku, licin banget, banyak cairannya yang keluar. Aku pompa jari itu keluar-masuk sambil ibu jariku tetap ngegosok klitorisnya.
Eva menggigit bibir bawahku, tubuhnya gemetar. 3082Please respect copyright.PENANAv3s0osjiCk
“Lebih… masukin dua jari… aku mau ngerasain jari Bang Yuda yang gede.”
Aku masukin dua jari sekaligus. Memeknya ngeden kuat, cairannya muncrat sedikit ke telapak tanganku. 3082Please respect copyright.PENANASbv3jMROOQ
Aku pompa lebih cepat, bunyi “pluk pluk pluk” terdengar di ruang tamu yang sepi. Eva mulai goyang pinggulnya mengikuti irama jariku, dadanya bergoyang-goyang di depan mukaku.
Aku nggak bisa tahan. Aku tarik tanganku keluar, lalu angkat tubuh Eva, baringkan dia di sofa panjang. Aku lepas celana pendekku. Kontolku langsung loncat keluar — 18 cm, tebel, urat-uratnya menonjol, kepala merah mengkilap karena precum yang banyak.
Eva membuka matanya lebar, lidahnya menjilat bibir. 3082Please respect copyright.PENANAu7RGNZgabx
“Gede banget… kontol Bang Yuda bikin aku takut sekaligus pengen. Masukin sekarang, Bang… aku udah nggak tahan.”
Aku tarik celana pendek jeans-nya kasar sampai ke lutut, lalu celana dalamnya yang sudah basah kuyup aku robek pakai tangan. Memek Eva kelihatan sempurna: bibir memek tebal, pink di dalam, klitoris bengkak, dan lubangnya yang sudah menganga kecil karena basah banget.
Aku jongkok di antara pahanya yang terbuka lebar. Aku cium memeknya dulu — baunya harum campur manis. Lidahku langsung menjilat dari bawah ke atas, ngisep klitorisnya kuat-kuat.
“AAAAHHH!!! Bang… lidah lo… enak banget… jilat lebih dalam!” jerit Eva. Tangannya mencengkeram rambutku, mendorong kepalaku lebih dalam ke memeknya.
Aku masukin lidahku ke dalam lubang memeknya, ngebor-ngebor, sambil dua jariku menggosok klitorisnya cepat. Cairan memeknya banjir ke mulutku, aku telan semua. Eva menggelinjang, pinggulnya naik-turun, erangannya semakin keras.
“Bang… aku mau cum… jangan berhenti… AAAAHHH!!!”
Tubuhnya kaku sejenak, lalu memeknya berdenyut-denyut hebat. Squirt kecil muncrat ke muka aku. Aku terus jilat sampai dia lemes.
Tapi aku belum selesai. Aku bangun, pegang kontolku yang sudah ngaceng maksimal, lalu gesek-gesek kepala kontol di bibir memeknya yang basah.
“Masukin, Bang… please… aku mau kontol lo ngena sampe dalem perutku,” pinta Eva sambil mata setengah merem, wajahnya merah karena nafsu.
Aku dorong pelan. Kepala kontolku masuk, memeknya langsung menggigit kuat. 3082Please respect copyright.PENANAFaxVMmF60C
“Ssshh… sempit banget memek lo, Eva… enak banget.”
Aku dorong lagi, setengah kontol masuk. Eva menggigit bibir,3082Please respect copyright.PENANAwJd0knlitO
“Lebih dalam… hancurkan memekku, Bang!”
Dengan satu dorongan kuat, seluruh kontolku masuk sampai pangkal. Memek Eva menggigit kontolku rapat banget, panas, licin. Aku ngerasain dinding memeknya berdenyut-denyut di sekeliling kontolku.
Aku mulai ngentot pelan dulu, tarik keluar sampai ujung, lalu dorong masuk keras. 3082Please respect copyright.PENANAB9W9ZV1Q7E
Bunyi “plok plok plok” basah memenuhi ruangan. Setiap dorongan, dadanya bergoyang-goyang indah.
“Enak… enak banget… kontol Bang Yuda gede banget… ngebor memekku dalam banget!” erang Eva.
Aku percepat irama. Aku angkat kedua kakinya ke pundakku, posisi ini bikin kontolku masuk lebih dalam. Aku ngentot keras, cepat, kasar. Setiap dorongan, kepala kontolku ngena ke serviksnya.
“AAAAHHH!!! Di situ… di situ Bang… aku mau cum lagi!!!”
Memeknya berdenyut hebat lagi. Aku ngerasain cairannya muncrat di sekitar kontolku. Tapi aku nggak berhenti. Aku terus ngentot dia di sofa, keringat kami bercampur.
Aku angkat tubuhnya, bawa ke meja makan. Aku baringkan dia telentang di meja, kakinya aku buka lebar-lebar. Aku ngentot lagi dari berdiri. Posisi ini bikin kontolku masuk super dalam. Aku remas kedua dadanya sambil ngentot sekuat tenaga.
“Fuck… memek lo enak banget, Eva… aku mau ngecengin lo sampe besok pagi.”
“Ya… ngecengin aku… aku milik Bang Yuda malam ini… kontol lo punya memekku… AAAAHHH!!!”
Dia cum ketiga kalinya. Kali ini squirtnya lebih banyak, muncrat sampai basahin perutku.
Aku tarik kontol keluar, balik badannya jadi doggy style di meja. Pantatnya yang bulat kencang aku tampar keras sekali. “Plak!”
“Enak Bang… tampar lagi… aku suka kasar!”
Aku tampar pantatnya berkali-kali sampai merah, lalu masukin kontolku lagi dari belakang. Aku pegang pinggulnya, ngentot seperti anjing kawin — keras, cepat, dalam. Bunyi “plok plok plok plok” semakin kenceng.
Eva jerit-jerit, “Hancurkan memekku… Bang Yuda… aku pelacur lo sekarang… ngentot aku lebih keras!!!”
Aku tarik rambutnya ke belakang, bikin punggungnya melengkung. Kontolku ngebor memeknya tanpa ampun. Aku ngerasain mau cum.
“Eva… aku mau keluar…”
“Di dalam… cum di dalam memekku… isi perutku sama sperma Bang Yuda!!!”
Dengan dorongan terakhir yang super keras, aku keluar di dalam memeknya. Sperma panasku muncrat-muncrat banyak banget, memenuhi rahimnya. Eva jerit panjang, tubuhnya kejang-kejang cum bareng aku.
Kami ambruk di meja, napas ngos-ngosan. Kontolku masih di dalam memeknya, sperma kami campur keluar pelan.
Tapi ini baru ronde pertama.
Aku angkat Eva ke kamar utama (kamar aku dan Rina). Aku taruh dia di tempat tidur king size. Aku buka kakinya lagi, lalu aku jilat memeknya yang penuh sperma campur cairan memeknya sendiri. Aku bersihkan semuanya dengan lidah, lalu aku masukin kontolku lagi yang sudah ngaceng lagi.
Malam itu kami ngentot di segala posisi: missionary sambil ciuman dalam, cowgirl di mana Eva naik-turun sambil dadanya bergoyang-goyang di mukaku, reverse cowgirl sambil aku tampar pantatnya, standing fuck di depan cermin besar (kami lihat pantulan tubuh kami yang lagi ngentot gila-gilaan), bahkan di kamar mandi di bawah shower air hangat.
Setiap ronde aku keluar di dalam memeknya, di mulutnya, di dadanya, di pantatnya. Eva cum puluhan kali — squirt, orgasme kering, semuanya. Erangannya memenuhi rumah sepi itu:3082Please respect copyright.PENANAFsCUqefXLD
“Bang Yuda… kontol lo bikin aku gila… ngentot aku terus… aku mau jadi pelacur lo selamanya…”
Pukul 04.00 pagi, kami akhirnya ambruk di tempat tidur, tubuh lengket keringat dan sperma. Memek Eva bengkak merah, penuh spermaku yang masih menetes. Kontolku lemes tapi masih berkedut di antara pahanya.
Eva mencium bibirku pelan, suaranya serak karena banyak jerit. 3082Please respect copyright.PENANAvwbjfzpteA
“Bang… besok malam lagi ya? Rumah masih sepi sampai besok sore… aku mau kontol Bang Yuda tiap jam.”
Aku tersenyum, tanganku meremas pantatnya. 3082Please respect copyright.PENANAEcjeTyAJSW
“Malam ini baru pemanasan.”
ns216.73.216.105da2


