1686Please respect copyright.PENANAuVWM4HRh7Q
Pagi harinya, sinar matahari menyusup lemah melalui tirai kamar. Aku terbangun dengan tubuh pegal dan pikiran yang masih dipenuhi suara desahan Tante Nisa semalam. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya mimpi, tapi aroma sabun floral yang samar dari dinding sebelah membuatku tahu itu nyata.
Aku mandi air dingin lagi, berharap bisa membersihkan bayangan semalam. Saat keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk di pinggang, pintu kamarku terbuka pelan.
“Nanda, sudah bangun? Tante bawa sarapan—”
Tante Nisa berhenti di ambang pintu. Matanya langsung tertuju ke dada telanjangku yang masih basah. Dia memakai daster rumah yang berbeda hari ini — warna peach muda, lebih tipis dari kemarin, dengan tali kecil di bahu yang longgar. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh ke lehernya yang jenjang.
“Oh… maaf,” katanya, tapi dia tidak langsung mundur. Matanya turun sebentar ke perutku yang rata, lalu ke handuk yang menutupi bagian bawah. Pipinya sedikit memerah, tapi senyumnya tetap ada. “Tante kira kamu masih tidur.”
Aku buru-buru memegang handuk lebih erat. “Nggak apa-apa, Tante. Aku… sebentar.”
Dia meletakkan nampan sarapan di meja kecil. “Makan dulu. Tante buatkan roti bakar dan kopi. Kamu suka kan?”
Saat dia membungkuk meletakkan nampan, tali bahu daster kirinya melorot sedikit. Aku melihat bahu putih mulusnya dan garis belahan dada yang dalam. Tak ada bra lagi. Payudaranya yang berat bergoyang pelan mengikuti gerakannya.
Aku menelan ludah. “Makasih, Tante.”
Nisa meluruskan tubuhnya, tapi tali itu masih melorot. Dia seolah tak sadar, atau mungkin sengaja. “Kamu tambah berotot ya sekarang. Dulu kurus kering. Sekarang… cocok buat peluk tante erat-erat.”
Dia tertawa kecil, suaranya ringan tapi ada nada genit yang baru. Aku hanya bisa tersenyum gugup sambil duduk di tepi ranjang, berusaha menyembunyikan reaksi tubuhku di balik handuk.
Sepanjang pagi kami ngobrol santai di ruang makan. Nisa duduk di seberangku, kakinya sesekali menyentuh kakiku di bawah meja “tak sengaja”. Setiap sentuhan itu seperti listrik kecil.
“Paman telepon semalam,” katanya tiba-tiba, suaranya agak datar. “Katanya masih di Singapura dua minggu lagi. Ada meeting penting. Mungkin diperpanjang.”
Ada kesedihan yang jelas di matanya. Aku merasa kasihan. “Tante kesepian ya?”
Dia mengangguk pelan, jarinya mengelus pinggir cangkir kopi. “Sudah biasa sih. Tapi akhir-akhir ini… rasanya semakin berat. Rumah besar, tapi kosong. Tidur sendirian setiap malam.”
Matanya menatapku lama. “Dulu, waktu kamu kecil, kamu sering nemenin tante. Sekarang kamu sudah besar… tapi tante masih butuh teman.”
Ada sesuatu dalam cara dia mengucapkan “teman” yang membuat dadaku berdegup lebih cepat.
Siang harinya, cuaca panas sekali. Nisa memutuskan membersihkan rumah. Aku menawarkan bantuan. Dia memakai celana pendek jeans yang ketat dan tanktop putih tipis tanpa lengan. Tanktop itu sangat pas di tubuhnya — payudaranya terlihat penuh, putingnya samar terbayang saat keringat mulai keluar.
Kami membersihkan ruang tamu bersama. Aku mengangkat barang berat, dia menyapu dan mengelap. Setiap kali dia membungkuk, celana pendeknya naik dan memperlihatkan garis bokongnya yang montok. Saat dia mengelap meja tinggi, tanktopnya terangkat, memperlihatkan perut rata dan pusar yang kecil.
“Nanda, tolong ambilkan lap di rak atas ya,” pintanya.
Aku naik ke kursi. Saat aku meraih lap, Nisa berdiri tepat di belakangku. Tubuhnya hampir menempel. Aku bisa merasakan panas tubuhnya dan aroma keringat manis bercampur parfum.
“Pelan-pelan,” bisiknya pelan. Tangan kanannya memegang pinggangku untuk menjaga keseimbangan. Jarinya menyentuh kulit pinggangku yang terbuka karena kaosku naik.
Aku turun. Wajah kami sangat dekat. Napasnya yang hangat menyapu bibirku. “Makasih, Nak.”
Dia memanggilku “Nak” seperti biasa, tapi kali ini terdengar berbeda — lebih lembut, lebih intim.
Sore menjelang, Nisa mengeluh pegal.
“Tante pegal banget di bahu dan punggung,” katanya sambil memijit bahunya sendiri di sofa. “Yoga kemarin terlalu keras mungkin.”
Aku duduk di sebelahnya. “Mau aku pijit, Tante?”
Matanya berbinar. “Boleh? Kamu nggak capek?”
“Nggak apa-apa.”
Dia berbaring telungkup di sofa panjang. Aku duduk di sampingnya. Tangan ku mulai memijat bahunya yang lembut. Kulitnya hangat dan halus seperti sutra. Daster peach-nya sudah diganti dengan tanktop longgar setelah mandi sore.
“Lebih keras sedikit boleh,” gumamnya sambil memejamkan mata. “Di sini… ya, di tulang bahu.”
Aku menekan lebih dalam. Nisa mendesah pelan, suaranya rendah dan panjang. “Ahh… enak sekali… tangan kamu kuat ya.”
Pijatan berlanjut ke punggungnya. Tanktopnya naik sedikit, memperlihatkan punggung mulus tanpa bra. Aku bisa melihat sisi payudaranya yang tertekan ke sofa.
“Nanda… kamu pintar pijit,” katanya dengan suara setengah melamun. “Siapa yang ajarin?”
“Di kosan dulu, temen-temen suka minta pijit.”
“Hmm… pasti banyak cewek yang senang dipijit sama kamu.”
Aku tertawa kecil. “Nggak juga, Tante.”
Tangan ku turun lebih bawah, ke pinggangnya. Nisa menggeliat pelan, bokongnya naik sedikit. “Turun lagi… di pinggang tante agak pegal.”
Jemariku menyentuh kulit pinggangnya yang lembut. Aku merasakan denyut nadi di sana. Napas Nisa semakin berat.
“Tante… ini nyaman?” tanyaku, suaraku agak serak.
“Nyaman sekali… jangan berhenti dulu.”
Dia membalikkan tubuhnya tiba-tiba, sekarang telentang. Tanktopnya naik hingga memperlihatkan perut rata dan garis bawah payudaranya. Matanya terbuka, menatapku dengan pandangan yang kabur karena kenikmatan.
“Pijit depannya juga boleh?” tanyanya pelan.
Aku ragu. Tapi tanganku sudah bergerak ke bahu depannya. Jemariku menyapu tulang selangkanya. Nisa mendesah lagi, kali ini lebih panjang.
“Ahh… Nanda… kamu tahu nggak, tangan kamu ini… bikin tante merinding.”
Matanya setengah terpejam. Bibirnya terbuka sedikit. Aku bisa melihat lidahnya yang merah basah menyentuh bibir bawahnya.
Tangan ku turun lebih rendah, hampir menyentuh sisi payudaranya. Nisa tidak menolak. Malah, tubuhnya sedikit melengkung ke atas, seolah mengundang.
“Nanda…” bisiknya. Suaranya bergetar. “Kamu sudah besar sekali sekarang. Tante… tante senang sekali kamu ada di sini.”
Aku menelan ludah. Jantungku berdegup kencang. “Tante… ini cuma pijatan biasa kan?”
Dia tersenyum tipis, tapi matanya penuh api. “Biasa… atau nggak biasa, tante nggak peduli. Yang penting… sentuhan kamu bikin tante merasa hidup lagi.”
Ruangan terasa semakin panas meski AC nyala. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang semakin kuat — campuran keringat, sabun, dan sesuatu yang manis, feminin.
Tangan ku hampir menyentuh payudaranya saat Nisa tiba-tiba memegang pergelangan tanganku. Bukan menolak, tapi menahan di sana. Jarinya mengusap punggung tanganku pelan.
“Kalau kamu mau berhenti, bilang ya,” katanya lembut. “Tapi… tante belum mau kamu berhenti.”
Kami saling pandang lama. Wajahnya sangat dekat. Bibirnya mengkilap. Aku bisa merasakan napasnya yang cepat.
Aku menunduk perlahan. Bibir kami hampir bersentuhan.
Tiba-tiba suara ponsel berdering nyaring dari meja.
Nisa tersentak. Dia melihat layar — panggilan dari Paman Rizal.
Dia menghela napas panjang, wajahnya berubah sedih seketika. “Paman…”
Aku mundur cepat, berdiri dari sofa. Rasa bersalah langsung menyergapku seperti air dingin.
Nisa menjawab telepon dengan suara yang berusaha normal. “Halo, Mas… iya, Nanda sudah datang… baik-baik… ya… kamu kapan pulang?”
Saat berbicara, matanya masih menatapku dengan campuran penyesalan dan kerinduan. Tangannya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri, seolah merasakan hampirnya ciuman tadi.
Telepon berakhir setelah lima menit. Nisa meletakkan ponsel dan duduk diam di sofa. Air matanya tiba-tiba mengalir pelan.
“Tante… maaf,” kataku pelan.
Dia menggeleng. “Bukan salah kamu. Tante yang… sudah lama nggak merasa diinginkan seperti ini. Paman… dia jarang menyentuh tante lagi. Bahkan saat pulang, dia lebih suka tidur di kamar tamu.”
Suara Nisa bergetar. “Tante sudah 42 tahun, Nanda. Masih ingin dicinta, masih ingin disentuh. Tapi… kamu keponakan tante. Ini salah.”
Aku duduk di sebelahnya lagi, tapi kali ini menjaga jarak. “Aku juga bingung, Tante. Tapi… aku nggak bisa bohong. Aku… merasa ada sesuatu saat dekat sama tante.”
Dia tersenyum pahit sambil menyeka air mata. “Kamu jangan bilang gitu. Tante takut… takut jatuh lebih dalam.”
Malam itu kami makan malam dalam diam yang tegang. Nisa memakai daster lagi, tapi kali ini dia memakai bra di baliknya — seolah mencoba menjaga batas.
Setelah makan, dia bilang ingin tidur lebih awal.
Aku kembali ke kamarku. Tapi tidur tak kunjung datang.
Sekitar pukul 1 malam, aku mendengar suara pintu kamar Nisa terbuka pelan. Langkah kaki mendekat ke kamarku.
Pintu kamarku diketuk pelan.
“Nanda… kamu tidur?”
Aku membuka pintu. Nisa berdiri di depan, memakai daster panjang yang longgar. Matanya sembab karena menangis.
“Maaf ganggu. Tante… nggak bisa tidur. Boleh tante tidur di sini? Cuma tidur, nggak apa-apa kan? Seperti dulu waktu kamu kecil.”
Aku ragu. Tapi melihat wajahnya yang kesepian, aku mengangguk.
Dia masuk dan berbaring di ranjang single-ku. Aku tidur di sampingnya, tubuh kami hampir bersentuhan karena ranjang sempit.
“Peluk tante sebentar ya,” bisiknya pelan.
Aku memeluknya dari belakang. Tangan ku melingkar di pinggangnya. Payudaranya yang lembut menekan lengan ku. Napasnya hangat di leherku.
“Terima kasih, Nanda,” gumamnya sebelum tertidur.
Aku tak bisa tidur. Tubuhnya begitu hangat, begitu lembut. Aroma rambutnya memenuhi hidungku. Setiap kali dia bergerak, bokongnya menyentuh selangkanganku.
Aku mengeras lagi. Rasa bersalah dan hasrat bercampur jadi satu.
Malam itu, di ranjang kecil kamarku, aku sadar bahwa batas antara tante dan perempuan yang kuinginkan sudah mulai kabur.
Dan Tante Nisa… dia juga merasakan hal yang sama.
Hanya waktu yang akan menentukan seberapa jauh kami akan melangkah.
ns216.73.216.105da2


