2183Please respect copyright.PENANAwmYZa1IGCi
Hujan deras mengguyur Surabaya sore itu, seolah langit ikut menyambut kepulanganku. Aku, Nanda, 24 tahun, baru saja turun dari taksi di depan rumah mewah dua lantai di daerah elite Darmo. Koper besarku basah kuyup, tapi hatiku lebih basah lagi — campuran antara rindu, lelah, dan sesuatu yang tak bisa kujelaskan.
Rumah ini dulu penuh tawa. Dulu, saat aku masih SMA, Tante Nisa selalu menyambutku dengan pelukan hangat dan masakan kesukaanku. Paman Rizal biasanya cuma mengangguk dari balik koran atau laptopnya, sibuk dengan pekerjaan sebagai direktur di perusahaan ekspor-impor. Tapi tiga tahun kuliah di Bandung membuat segalanya terasa jauh. Sekarang aku kembali, fresh graduate teknik sipil, tanpa pekerjaan tetap, dan orang tua memutuskan aku tinggal sementara di sini sampai aku mandiri.
Aku menekan bel. Suara lonceng klasik itu masih sama.
Pintu terbuka pelan. Dan dunia seolah berhenti sejenak.
“Tante Nisa…”
Dia berdiri di ambang pintu, memakai daster rumah berwarna krem tipis yang menempel lembut di tubuhnya karena kelembapan udara. Rambutnya yang hitam panjang tergerai sedikit basah, mungkin baru mandi. Wajahnya — Tuhan, wajah itu masih cantik seperti yang kuingat, tapi kini ada kedewasaan yang membuatnya semakin memikat. Mata sipitnya yang teduh, bibir tipis yang selalu tersenyum lembut, dan kulit putih mulusnya yang tak pernah terlihat menua meski sudah 42 tahun.
“Nanda… kamu sudah datang!” Suaranya lembut, agak serak karena mungkin baru bangun tidur siang. Dia langsung melangkah maju dan memelukku erat.
Pelukan itu… bukan pelukan biasa tante ke keponakan. Tubuhnya menempel penuh ke dadaku. Aku bisa merasakan kelembutan payudaranya yang besar dan alami menekan dada ku. Aromanya — campuran sabun mandi floral dan sedikit keringat hangat — langsung menyerbu hidungku. Tangan kirinya memeluk pinggangku, tangan kanannya mengusap punggungku pelan, seolah tak ingin melepasku.
“Kamu tambah tinggi dan kekar ya,” bisiknya di telingaku, napasnya hangat menyapu daun telingaku. “Tante hampir nggak kenal.”
Aku tertawa gugup, mencoba menarik tubuhku sedikit. “Tante juga… masih cantik seperti dulu. Bahkan lebih.”
Dia melepaskan pelukan tapi tangannya masih memegang lenganku. Matanya menatapku dari atas ke bawah, seolah menilai setiap inci perubahan di tubuhku. Aku memakai kaos hitam ketat dan celana jeans yang sudah agak basah. Otot lenganku yang terbentuk dari gym di kosan Bandung pasti terlihat jelas.
“Masuk dulu, basah kuyup gini. Tante ambilkan handuk.”
Dia berbalik dan berjalan ke dalam. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak memandang pinggulnya yang lebar dan bergoyang lembut di balik daster tipis itu. Tak ada bra di baliknya, aku yakin. Putingnya samar-samar terbayang saat cahaya lampu foyer menyinari tubuhnya dari belakang.
Rumah masih sama: ruang tamu luas dengan sofa kulit cokelat, lukisan abstrak di dinding, dan aroma kopi yang selalu ada. Tapi terasa lebih sepi. Tak ada suara Paman Rizal yang biasanya menggelegar saat bicara telepon.
“Tante, Paman mana?” tanyaku sambil meletakkan koper di samping tangga.
Nisa keluar dari dapur membawa handuk putih besar. “Paman lagi dinas ke Singapura. Dua minggu katanya. Kerjaan dia semakin gila akhir-akhir ini.”
Ada nada sedih yang samar di suaranya. Dia mendekat dan menyodorkan handuk itu, tapi bukan sekadar memberi — dia sendiri yang mengusapkannya ke rambutku yang basah. Gerakannya lembut, ibu jarinya sesekali menyentuh pipiku.
“Kamu dingin ya? Duduk dulu, Tante buatkan teh hangat.”
Aku duduk di sofa. Nisa pergi ke dapur lagi. Dari belakang, daster itu semakin menempel di tubuhnya karena gerakan. Pinggangnya ramping, bokongnya montok dan kencang — hasil yoga atau apa, aku tak tahu. Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu. Dia tanteku. Istri paman.
Tapi tubuhku tak bohong. Ada denyut kecil di selangkangan yang mulai bangun hanya karena pelukan tadi.
Malam semakin larut. Hujan tak kunjung reda. Kami makan malam berdua di meja makan kayu besar. Nisa masak ayam goreng kremes dan sayur asem — makanan kesukaanku dulu. Dia duduk di depanku, masih memakai daster yang sama. Saat dia membungkuk mengambil nasi, belahan dadanya terlihat sekilas. Kulit putih halus, lekuk yang dalam, dan bayangan gelap di antara kedua bukit itu.
“Kamu diam aja dari tadi,” katanya sambil tersenyum. Senyumnya masih manis, tapi ada keriput halus di sudut mata yang membuatnya terlihat lebih dewasa, lebih… menggoda. “Cerita dong, kuliahnya gimana? Pacar ada?”
Aku tertawa kecil. “Nggak ada pacar, Tante. Sibuk skripsi. Kamu sendiri? Sehat?”
Dia menghela napas pelan, garpunya berhenti di udara. “Sehat secara fisik sih iya. Tapi… ya, rumah ini terlalu besar buat Tante sendirian. Paman jarang pulang. Kalau pulang juga langsung tidur atau kerja di ruangannya.”
Matanya berkaca-kaca sebentar, tapi dia cepat mengalihkan pandangan. Aku merasa ada yang salah. Dulu mereka kelihatan harmonis. Sekarang? Suasana rumah ini terasa dingin meski AC nyala.
Setelah makan, kami pindah ke ruang TV. Listrik tiba-tiba padam karena hujan deras. Hanya cahaya lilin yang kami nyalakan di meja kopi. Nisa duduk di sofa panjang, tak jauh dariku. Kakinya disilangkan, daster naik sedikit hingga pertengahan paha. Paha yang putih mulus, agak berisi, tapi tetap kencang.
“Masih takut gelap ya, Nanda?” godanya pelan.
“Dulu sih. Sekarang… entahlah.”
Dia tertawa kecil. Suaranya seperti musik di tengah hujan. “Dulu kamu sering tidur di kamar Tante kalau Paman nggak ada. Sekarang sudah besar, pasti nggak mau lagi.”
Aku menelan ludah. Ingatan lama muncul: aku kecil, tidur di samping Tante Nisa yang memelukku dari belakang. Tubuh hangatnya, aroma sabunnya. Sekarang aku sudah dewasa. Dan tubuh itu… masih sama hangatnya, tapi jauh lebih berbahaya.
Kami ngobrol panjang. Tentang masa kuliahku, teman-teman, mimpi jadi arsitek. Nisa mendengarkan dengan saksama, sesekali menyentuh lenganku saat tertawa. Sentuhan itu ringan, tapi tiap kali jarinya menyapu kulitku, ada listrik kecil yang menjalar ke bawah.
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Hujan masih deras. Aku bangkit. “Aku tidur dulu, Tante. Kamar lama masih kosong kan?”
Nisa ikut berdiri. “Iya. Tante sudah bersihkan kemarin. Tapi… kalau kamu butuh apa-apa, panggil Tante ya. Kamar Tante di sebelah.”
Dia mendekat untuk memelukku lagi sebagai ucapan selamat malam. Kali ini pelukannya lebih erat. Dadanya menekan dadaku lebih kuat. Aku bisa merasakan putingnya yang sedikit mengeras di balik kain tipis. Napasnya di leherku.
“Selamat malam, Nanda sayang,” bisiknya. Suaranya lebih rendah, lebih intim. “Tante senang kamu pulang. Rumah ini… terasa hidup lagi.”
Aku balas pelukannya, tanganku tanpa sadar menyentuh pinggang rampingnya. “Selamat malam, Tante.”
Dia melepaskan pelukan tapi wajahnya masih dekat. Mata kami bertemu dalam cahaya lilin yang redup. Ada sesuatu di matanya — kerinduan, kesepian, dan sesuatu yang lebih gelap, lebih panas. Bibirnya terbuka sedikit, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Tapi dia hanya tersenyum tipis dan berbalik ke kamarnya.
Aku masuk ke kamar lama. Kamar itu masih sama: tempat tidur single, poster band lama, dan jendela besar menghadap taman belakang. Aku mandi air dingin, berharap bisa mendinginkan tubuh yang tiba-tiba panas. Tapi saat berbaring, pikiranku tak bisa lepas dari Tante Nisa.
Tubuhnya yang masih sempurna di usia 42. Payudara besar yang bergoyang lembut saat berjalan. Pinggul lebar yang menggoda. Dan senyumnya yang selalu manis, tapi malam ini terasa berbeda — ada undangan tersembunyi di baliknya.
Aku hampir tertidur saat mendengar suara samar dari kamar sebelah.
Suara desahan pelan.
Awalnya kukira angin. Tapi hujan sudah reda sedikit. Aku bangun, telinga menempel di dinding tipis yang memisahkan kamar kami.
“Ahh… hmm…”
Suara Tante Nisa. Nafasnya berat. Suara kain yang bergesekan. Lalu suara basah yang samar — gerakan ritmis yang pelan.
Aku membeku. Jantungku berdegup kencang.
Dia sedang…
“ Nanda… ”
Namaku disebut pelan, hampir seperti erangan. Suaranya penuh nafsu, tapi juga penuh kerinduan.
Aku tak berani bergerak. Tangan kananku tanpa sadar turun ke celana pendekku. Aku sudah mengeras sepenuhnya. Bayangan Tante Nisa di ranjangnya, tangannya menyentuh dirinya sendiri, mata terpejam, bibir terbuka, menyebut namaku…
Desahannya semakin cepat. “Ya… seperti itu… ahh… Nanda…”
Lalu suara klimaks yang tertahan — erangan panjang yang pelan, diikuti napas tersengal.
Kamar menjadi sunyi lagi, hanya suara hujan yang tersisa.
Aku berbaring telentang, menatap langit-langit gelap. Tubuhku panas, pikiranku kacau.
Ini salah. Sangat salah.
Tapi kenapa rasanya begitu… menggoda?
Malam pertama pulang ke rumah ini ternyata bukan sekadar pulang. Ada rahasia di balik senyuman Tante Nisa yang dulu selalu polos. Dan aku, Nanda, baru saja menyentuh permukaan dari sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Aku tak tahu besok pagi akan seperti apa. Tapi satu hal yang pasti: pelukan tadi bukan pelukan biasa. Dan desahan yang menyebut namaku itu… bukan khayalan.
Ini baru permulaan.
ns216.73.216.105da2


