Setelah kami masuk kembali ke rumah, pintu depan langsung aku kunci. Sperma yang menetes dari memek Ratna meninggalkan jejak kecil di lantai marmer. Ratna berjalan di depanku sambil menggoyang pantat bulatnya, kaos oversized-nya sudah basah keringat di punggung.
“Pak… memek Ratna lengket banget sekarang. Campuran sperma Bapak sama cairan Ratna. Ayo mandi bareng, sekalian Bapak bersihin memek pelacur Bapak pake kontol lagi,” katanya sambil menoleh, matanya penuh godaan.
Di kamar mandi utama yang luas, aku nyalakan shower air hangat.
Begitu pintu tertutup, Ratna langsung lepas semua bajunya. Tubuh telanjangnya yang putih mulus berkilau di bawah lampu. Payudaranya 34C yang kencang bergoyang pelan, puting pinknya sudah tegak lagi.
Memeknya yang tanpa bulu terlihat merah bengkak, bibirnya mengkilap campuran sperma dan lendir yang masih menetes pelan ke paha dalamnya.
Aku juga telanjang. Kontolku yang masih setengah keras langsung ngaceng lagi melihat pemandangan itu.
Ratna mendekat, memeluk tubuhku erat di bawah guyuran air hangat. Tangan kanannya langsung memegang kontolku yang basah, mengocok pelan.
“Kontol Bapak pagi-pagi sudah ngaceng lagi… gede banget sih… Ratna ketagihan beneran,” bisiknya sambil menggesekkan payudaranya ke dada aku.
Aku meremas pantatnya yang montok, jari tengahku menyusup ke belahan pantat dan mengusap lubang memeknya dari belakang.
“Memekmu banjir terus ya, Rat. Masih penuh sperma Bapak dari tadi malam sama di teras. Bapak mau bersihin dulu pake lidah.”
Aku dorong tubuh Ratna pelan ke dinding keramik yang dingin. Aku berlutut di depannya, angkat satu kakinya ke pundakku. Memeknya terbuka lebar di depan wajahku. Aku langsung menempelkan mulutku, lidahku menjilat dari anus sampai klitorisnya dalam satu sapuan panjang.
“Ahh… Pak Diki… iya… jilatin memek Ratna yang kotor ini… hisap sisa sperma Bapak yang masih di dalam… ahh! Lidah Bapak enak banget… dalemin… masukin lidah ke lubang memek Ratna… iya gitu… AHH!”
Ratna mencengkeram rambutku basah, pinggulnya bergoyang pelan menggesek wajahku. Aku hisap klitorisnya kuat-kuat sambil dua jariku masuk ke memeknya yang licin, mengaduk-aduk sisa sperma yang masih ada di dalam. Suara “crot… crot…” campur suara air shower terdengar erotis.
“Pak… enak… Ratna mau cum lagi… jangan berhenti jilatin… hisap klitorisnya lebih kuat… AHHH PAK! RATNA CUM DI MULUT BAPAK!”
Tubuhnya kejang hebat. Memeknya menyembur cairan bening manis yang langsung aku telan. Aku terus jilat sampai getarannya reda.
Ratna tarik aku berdiri, matanya liar. “Sekarang giliran Ratna bersihin kontol Bapak.”
Dia berlutut di lantai shower yang basah. Kontolku yang sudah keras maksimal langsung masuk ke mulutnya yang panas. Dia isep dalam-dalam sampai kepala kontol menyentuh tenggorokannya.
“Gluk… gluk… gluk… slurp… ahh… kontol Bapak enak… tebal… berdenyut… Ratna suka isep sambil main bola Bapak…”
Tangan kirinya mengocok pangkal kontolku yang basah, tangan kanannya meremas buah zakarku pelan. Lidahnya memutar-mutar di kepala kontol, menghisap precum yang keluar terus-menerus.
Aku pegang kepalanya dan menggenjot mulutnya pelan tapi dalam. “Iya, Rat… isep kontol tetangga kamu yang sudah nikah ini… dalam-dalam… bagus… Bapak mau genjot mulut pelacur Bapak…”
Setelah hampir sepuluh menit oral yang basah kuyup, aku angkat Ratna berdiri.
“Sekarang Bapak mau masukin di kamar mandi dulu. Posisi berdiri.”
Aku balik badan Ratna menghadap dinding, angkat satu kakinya tinggi. Kontolku sudah di depan memeknya yang banjir. Aku gesek-gesek dulu, lalu dorong masuk dengan satu hantaman kuat.
“PLAK! AHHH! Pak… besar banget… masuk semua sekaligus… uh… kontol Bapak ngena di rahim Ratna… kentot… kentot memek Ratna di kamar mandi… ahh! Genjot lebih kencang!”
Aku pegang pinggulnya yang lebar dan mulai menggenjot cepat. Air shower membuat tubuh kami semakin licin. Suara “plok-plok-plok-plok” bercampur suara air yang deras. Payudaranya bergoyang-goyang hebat setiap hantaman.
“Ratna… memekmu sempit banget meski sudah dikentot berkali-kali… enak banget… Bapak mau dalemin terus…”
Kami ngentot berdiri hampir lima belas menit. Ratna cum dua kali di posisi itu, jeritannya menggema di kamar mandi.
Akhirnya aku tarik kontolku keluar. “Ayo ke kamar. Bapak mau lanjut di ranjang lagi sebelum sarapan.”
Kami berdua keluar dari kamar mandi tanpa handuk, tubuh masih basah. Langsung ke ranjang yang sudah berantakan dari malam tadi. Sperma kering dan noda basah masih terlihat di sprei.
Ratna mendorongku telentang di tengah ranjang, lalu naik ke atas dalam posisi cowgirl menghadap aku.
“Lihat nih, Pak… memek Ratna yang sudah rusak gara-gara kontol Bapak…” katanya sambil menggesek-gesek bibir memeknya di batang kontolku yang basah.
Dia angkat pinggul, pegang kontolku, lalu turun pelan-pelan sampai kontolku tenggelam sepenuhnya di memeknya yang panas dan licin.
“Ahh… uh… dalem banget… kontol Bapak mentok di rahim Ratna… enak… Ratna mau naik turun sendiri dulu ya…”
Ratna mulai naik turun dengan ritme sedang. Payudaranya yang basah bergoyang indah di depan wajahku. Aku angkat tangan, remas keduanya kuat, memilin putingnya yang keras.
“Pak Diki… enak… memek Ratna ngunyah kontol Bapak… naik turun lebih cepat… plok… plok… plok… ahh! Remas payudara Ratna lebih keras… gigit putingnya… iya… gitu… Ratna suka kasar sedikit…”
Aku duduk sedikit, hisap dan gigit puting kirinya keras sambil tanganku menampar pelan pantatnya yang naik turun.
Kami ganti posisi. Aku balikkan tubuh Ratna jadi reverse cowgirl. Dia membelakangiku, pantat bulat montoknya terpampang sempurna. Dia sendiri yang memasukkan kontolku lagi, lalu naik turun cepat.
“Lihat pantat Ratna, Pak… goyang-goyang tiap Bapak dikentot… suka ya? Tampar pantat Ratna… iya… lebih keras… AHH! Enak… kontol Bapak ngena di titik G dari belakang… Ratna mau cum lagi… genjot dari bawah Pak!”
Aku pegang pinggulnya dan menggenjot dari bawah dengan kuat. Suara hantaman makin keras. Ratna orgasme lagi, memeknya berdenyut kuat menggigit kontolku.
Setelah itu kami pindah ke doggy style di pinggir ranjang. Aku berdiri di lantai, Ratna jongkok dengan pantat tinggi. Aku ludahi kontolku dan memeknya, lalu masuk dengan hantaman brutal.
“PLAKKK! AHHH PAK! KERAS BANGET… kentot pantat Ratna seperti pelacur… tarik rambut Ratna… iya… dalemin… hantam rahim aku… plok-plok-plok-plok-plok!”
Aku genjot seperti mesin. Tangan kananku menarik rambutnya pelan, tangan kiri menampar pantatnya bergantian. Memek Ratna sudah sangat basah, cairan muncrat sedikit setiap kontolku keluar.
“Ratna… bilang kamu pelacur Bapak Diki!”
“Ratna pelacur Bapak Diki! Memek Ratna milik kontol Bapak! Isi memek lacur ini setiap hari… AHHH! Ratna mau cum lagi… jangan berhenti… SEKARANG PAK!”
Ratna orgasme keenam pagi itu. Tubuhnya ambruk ke depan, pantatnya masih terangkat tinggi. Aku terus menggenjot tanpa ampun.
Akhirnya aku rasakan getaran di pangkal kontolku.
“Rat… Bapak mau keluar… di dalam lagi ya?”
“Keluarin di dalam, Pak! Penuhin memek Ratna pagi ini… isi rahim pelacur Bapak… AHHH! Bapak juga cum bareng ya!”
Aku mengerang keras, menyemburkan sperma panas yang tebal dan banyak untuk kali keempat hari ini ke dalam memek Ratna yang sudah penuh. Jet demi jet menyembur kuat, memenuhi rahimnya sampai meluap keluar dari sela-sela kontolku.
Kami ambruk berpelukan di ranjang yang basah keringat dan cairan seks. Napas kami sama-sama tersengal.
Ratna mencium leherku sambil berbisik nakal, “Pak… masih jam setengah tujuh pagi. Sarapan nanti aja. Ratna masih mau ronde lagi setelah istirahat sebentar. Kali ini Ratna mau Bapak ikat tangan Ratna di kepala ranjang… terus Bapak kentot Ratna sesuka Bapak… Ratna mau merasakan dikentot kasar sama tetangga yang sudah nikah ini…”
Aku tersenyum sambil mengusap memeknya yang banjir sperma.
“Siap, pelacur Bapak. Istirahat dulu lima menit. Setelah itu Bapak akan ikat kamu dan genjot memekmu sampai kamu nangis minta ampun.”
Ratna cekikikan genit, matanya masih penuh nafsu. “Ratna nggak sabar, Pak Diki… dua minggu sembilan hari lagi masih panjang… memek Ratna siap rusak total sama kontol Bapak.”
Ratna masih terbaring telentang di tengah ranjang, memeknya yang merah bengkak terbuka lebar, sperma putih kental dari ronde tadi masih menetes pelan ke sprei. Napasnya masih tersengal, tapi matanya sudah kembali penuh nafsu nakal.
“Pak… lima menit sudah lewat kan?” katanya sambil menggigit bibir bawahnya.
“Ratna mau diikat sekarang. Ikat tangan Ratna ke kepala ranjang pake dasi Bapak atau apa saja. Terus Bapak kentot Ratna kasar… Ratna mau merasakan dikentot seperti pelacur murahan sama tetangga sendiri. Bapak boleh tampar pantat, tarik rambut, remas payudara keras… bahkan gigit… Ratna suka yang kasar pagi ini.”
Aku tersenyum lebar, kontolku yang tadinya agak lemas langsung ngaceng keras lagi mendengar permintaannya. Aku bangun, ambil dua dasi sutra panjang dari lemari pakaian Dinda. Ratna mengulurkan kedua tangannya ke atas kepala tanpa diperintah. Aku ikat pergelangan tangannya erat ke dua tiang kepala ranjang kayu, posisinya membuat tubuhnya agak meregang, payudaranya terangkat indah, dan memeknya terbuka lebar tak berdaya.
“Gitu ya, pelacur Bapak?” kataku sambil menarik ikatan untuk memastikan dia benar-benar tak bisa lepas. “Sekarang kamu cuma bisa pasrah. Bapak akan genjot memekmu sesuka hati.”
Ratna menggeliat pelan, mencoba menarik tangannya tapi sia-sia. Wajahnya merah, napasnya mulai cepat.
“Iya, Pak… Ratna sudah terikat… memek Ratna milik Bapak sepenuhnya sekarang… tolong jangan kasihan… kentot Ratna kasar…”
Aku naik ke ranjang, berlutut di antara pahanya yang terbuka lebar. Pertama aku tampar pelan bibir memeknya yang basah. “Plak!”
“Ahh!” Ratna tersentak, tubuhnya melengkung.
“Memekmu sudah banjir lagi meski baru dikentot berkali-kali. Benar-benar pelacur ya kamu,” kataku sambil menampar lagi lebih keras. Plak! Plak!
“Ya… Ratna pelacur… ahh! Tampar memek Ratna lagi… iya… enak… memek Ratna suka kasar…”
Aku tampar bibir memeknya beberapa kali lagi sampai memeknya semakin merah dan lendirnya muncrat sedikit. Lalu aku menunduk, menjilat kasar dari anus sampai klitorisnya, menghisap klitoris dengan kuat sambil dua jariku masuk dalam-dalam ke memeknya dan mengaduk-aduk sperma sisa tadi.
“Ahh! Pak Diki… jilatin kasar… hisap klitorisnya kuat… masukin jari lebih banyak… AHH! Ratna suka… Bapak jahat banget… ahh!”
Aku masukkan tiga jari sekaligus, menggenjot memeknya dengan cepat sambil gigit pelan bibir memeknya. Ratna menjerit kenikmatan, tangannya menarik-narik ikatan dasi sampai ranjang berderit.
“Pak… enak… Ratna mau cum… jangan berhenti… AHHH PAK! CUM!”
Tubuhnya kejang hebat, memeknya menyembur cairan ke wajah dan dada aku. Aku terus jilat dan aduk jariku sampai orgasmenya reda.
Sekarang kontolku sudah keras maksimal, urat-uratnya menonjol. Aku naik ke atas tubuh Ratna, gesek-gesek kepala kontol di memeknya yang banjir.
“Siap-siap, Rat. Bapak mau masukin kasar.”
Tanpa aba-aba, aku dorong pinggulku kuat. Kontolku masuk sampai pangkal dalam satu hantaman brutal.
“PLAAAKKK! AHHH!!! Besar… sakit enak… kontol Bapak nancep dalem banget… AHH! Kentot… kentot kasar Ratna… genjot memek pelacur Bapak!”
Aku langsung menggenjot dengan ritme cepat dan kuat. Setiap hantaman pinggulku menghantam pantatnya keras, suara “plok-plok-plok-plok-plok!” memenuhi kamar. Payudaranya bergoyang liar di depan wajahku. Aku remas keduanya kuat-kuat, memilin putingnya sampai Ratna menjerit.
“Enak nggak, pelacur? Dikentot kasar di ranjang suami orang sambil tangan diikat?”
“Suka… suka banget, Pak! Ahh! Remas payudara Ratna lebih keras… gigit putingnya… iya… gigit! AHH! Kontol Bapak hantam rahim Ratna terus… dalemin… lebih kencang… Bapak kentot Ratna seperti binatang… Ratna suka… AHHH!”
Aku menunduk, menggigit puting kirinya keras sambil terus menggenjot tanpa ampun. Ratna menarik ikatan tangannya, tubuhnya melengkung hebat setiap dorongan. Aku tarik rambutnya ke belakang dengan satu tangan, memaksa dia mendongak.
“Bilang kamu milik kontol Bapak Diki!”
“Ratna milik kontol Bapak Diki! Memek Ratna hanya untuk Bapak… isi memek lacur ini… rusak memek Ratna… AHH! Ratna mau cum lagi… jangan pelan-pelan… genjot lebih keras Pak!”
Aku percepat gerakan sampai ranjang berderit keras. Aku tampar payudaranya bergantian, lalu tampar pipinya pelan dua kali. Ratna malah semakin sange, matanya berkaca-kaca karena kenikmatan.
“Tampar lagi, Pak… Ratna suka… ahh! Ratna pelacur murahan… tampar pantat Ratna juga… keras!”
Aku angkat tubuhku sedikit, tarik keluar kontolku hampir sepenuhnya, lalu hantami masuk sekuat tenaga berulang-ulang. Plak! Plak! Plak!
Ratna orgasme ketiga kalinya pagi itu, jeritannya nyaring: “AHHH PAK DIKI!!! RATNA CUM LAGI!!! MEMEK RATNA BERGETAR… AHHH!”
Memeknya menjepit kontolku sangat kuat, berdenyut-denyut. Aku terus genjot tanpa berhenti melewati orgasmenya.
Setelah itu aku lepas ikatan tangannya sebentar, balik posisi Ratna jadi doggy style. Aku ikat lagi kedua tangannya ke belakang punggungnya, posisi tangan terikat di belakang membuat dadanya terdorong ke depan dan pantatnya terangkat tinggi.
“Posisi anjing sekarang, pelacur,” kataku sambil menampar pantat bulatnya keras. PLAK! PLAK! PLAK!
“Ahh! Iya… Ratna anjing Bapak… kentot dari belakang… masukin lagi… AHH!”
Aku pegang pinggulnya yang lebar, ludahi kontolku, lalu masuk dengan hantaman brutal sekali lagi. Aku genjot seperti mesin, pinggulku menghantam pantatnya tanpa henti. Suara “plok-plok-plok-plok-plok-plok!” sangat keras. Aku tarik rambutnya ke belakang dengan satu tangan, tangan lain menampar pantatnya bergantian sampai merah.
“Enak nggak pantatmu ditampar sambil dikentot kasar, Rat?”
“Enak… enak banget, Pak! Tampar lebih keras… tarik rambut Ratna… dalemin kontol… hantam rahim aku… Ratna mau jadi pelacur Bapak selamanya… AHH! Ratna cum lagi… AHHH!!!”
Ratna orgasme keempat, tubuhnya ambruk ke depan tapi tangannya terikat di belakang membuat dia tetap posisi pantat tinggi. Memeknya menyembur cairan lagi.
Aku terus menggenjot tanpa ampun. Keringat kami bercampur, ranjang sudah basah sekali. Akhirnya aku rasakan klimaks mendekat.
“Rat… Bapak mau keluar… di dalam lagi… penuhin memek lacur kamu!”
“Keluarin… isi memek Ratna penuh… semprot sperma Bapak ke rahim Ratna… AHHH! SEKARANG PAK! BAPAK CUM BARENG RATNA!”
Aku mengerang keras, menyemburkan sperma panas yang tebal dan banyak untuk kali kelima pagi itu ke dalam memek Ratna yang sudah rusak. Jet demi jet menyembur kuat, memenuhi rahimnya sampai meluap banyak sekali, menetes ke sprei.
Ratna orgasme bersamaan, tubuhnya gemetar hebat, memeknya mengisap kontolku seperti mau memerah habis. Jeritannya pecah: “AHHH PAK!!! SPERMA BAPAK PANAS… MEMEK RATNA PENUH… RATNA CUM GILA-GILAAN!!!”
Kami ambruk bersama. Aku lepas ikatan tangannya, lalu peluk tubuhnya yang lemas dari belakang. Kontolku masih setengah keras di dalam memeknya yang banjir sperma.
Ratna berbalik pelan, mencium bibirku dalam-dalam sambil tersenyum lemas tapi puas.
“Pak… enak banget sesi kasarnya… Ratna suka diikat dan dikentot kasar sama Bapak… badan Ratna pegal enak sekarang… tapi… masih ada sisa waktu sebelum sarapan. Ratna mau istirahat sebentar… terus nanti Bapak kentot Ratna lagi di dapur pas masak sarapan ya? Ratna mau dikentot dari belakang sambil masak telor… biar tambah nakal…”
Aku mengusap pantatnya yang masih merah bekas tamparan dan tersenyum.
“Boleh banget, pelacur Bapak. Istirahat dulu. Nanti di dapur Bapak akan genjot memekmu lagi sambil kamu masak. Tapi kali ini mungkin Bapak tambah mainin lubang belakangmu sedikit… mau?”
Ratna menggigit bibirnya genit, matanya berbinar. “Mau, Pak… lubang pantat Ratna juga milik Bapak… pelan-pelan aja dulu… Ratna mau belajar jadi pelacur total buat Bapak.”
List cerita:
https://docs.google.com/spreadsheets/d/1Y9KMFZBWbZEZ3EsMZ0cq_RS03eTHZrjjz5hWzH16C2c/edit?usp=sharing
PDF: lynk.id/bande41
ns216.73.216.105da2


