Aku Diki, 42 tahun, sudah menikah sepuluh tahun dengan Dinda. Rumah kami di kompleks perumahan yang sepi. Sejak tiga bulan lalu, keluarga baru pindah ke sebelah. Anaknya bernama Ratna, 19 tahun, baru lulus SMA. Kulitnya putih mulus seperti susu, rambut hitam panjang bergelombang, wajahnya cantik polos tapi matanya selalu nakal. Tubuhnya bikin gila: payudaranya kencang ukuran 34C, pinggul lebar, pantat bulat montok, dan paha mulus yang selalu bikin kontolku langsung ngaceng.
Tiap pagi Ratna jogging. Pakaiannya selalu super ketat — sports bra tipis dan celana pendek yang nempel di kulit. Keringatnya membuat baju itu basah dan transparan, putingnya sering menonjol jelas. Dia selalu berhenti sebentar di depan rumahku saat aku sedang menyiram tanaman.
“Pagi, Pak Diki! Lagi siram bunga ya?” sapanya sambil tersenyum manis, tapi matanya menggoda. Napasnya ngos-ngosan, dada naik turun cepat.
“Pagi, Rat. Rajin sekali joggingnya,” jawabku sambil berusaha biasa saja. Tapi dalam hati aku berpikir, “Astaga, pengen kutarik dia masuk, kupeluk dari belakang, dan kuentot memeknya sampai dia minta ampun.”
Kontolku selalu mengeras keras setiap pagi hanya karena melihat tubuh basah keringatnya itu. Aku sering buru-buru masuk kamar mandi dan masturbasi sambil bayangin memeknya yang pink dan sempit.
Suatu pagi, Dinda harus berangkat ke luar kota untuk kerjaan kantor selama tiga minggu penuh. Aku sendirian di rumah besar ini. Pagi itu, sekitar jam setengah tujuh, aku lagi duduk di teras minum kopi. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu pagar.
“Pak Diki! Pak Diki!” suara Ratna yang manja.
Aku buka pintu. Dia berdiri di depanku masih pakai baju jogging yang basah kuyup keringat, rambutnya acak-acakan, wajahnya merah karena capek jogging.
“Pak, air di rumah mati total. Aku habis jogging, badan lengket banget. Boleh pinjam kamar mandi sebentar? Cuma mandi doang, Pak,” pintanya sambil menatapku dengan mata basah dan genit.
Kontolku langsung berdenyut. “Boleh banget, Rat. Masuk aja. Kamar mandi di sebelah kamar utama, pintunya cokelat.”
Dia masuk sambil tersenyum lebar.
“Makasih banyak, Pak Diki. Eh, Bu Dinda ke mana ya? Kok rumah sepi sekali?”
“Ada kerjaan di luar kota. Tiga minggu penuh,” jawabku.
Ratna menggigit bibir bawahnya.
“Wah… mantap dong, Pak. Sendirian di rumah besar gini… pasti sepi dan… kesepian ya?” Nada suaranya jelas menggoda.
Aku tertawa kecil.
“Iya, Rat. Sepi banget.”
Dia menuju kamar mandi, tapi sebelum masuk dia menoleh dan bilang dengan suara genit,
“Mau mandi bareng nggak, Pak? Hemat air lho… hehe.”
Jantungku berdegup kencang. “Jangan aneh-aneh, Rat,” kataku pura-pura tegas. Padahal di kepalaku sudah penuh bayangan tubuh telanjangnya di bawah shower bareng aku, kontolku masuk ke memeknya yang basah.
Dia cekikikan dan masuk. Aku duduk di sofa ruang tamu, kontolku sudah setengah keras. Terdengar suara shower nyala. Aku bayangkan dia lagi menggosok tubuh mulusnya dengan sabun.
Sepuluh menit kemudian pintu terbuka. Ratna keluar hanya pakai tanktop putih tipis kebesaran dan celana pendek olahraga yang sangat tipis serta pendek. Rambutnya masih basah. Tanktopnya nempel ketat di kulit, putingnya yang kecil tapi keras jelas sekali terlihat menonjol. Celananya begitu tipis sampai cetakan memeknya kelihatan banget — garis belahannya mungil dan menggoda.
Kontolku langsung ngaceng maksimal, menonjol jelas di celana pendekku.
“Boleh duduk di sini, Pak? Nunggu baju agak kering dulu,” katanya sambil berjalan mendekat.
“Silakan, Rat,” jawabku serak.
Dia duduk persis di sebelahku. Paha mulusnya hampir menempel di pahaku. Wangi sabun bercampur keringat masih tersisa.
“Pak Diki sendirian tiga minggu… nggak kesepian ya?” tanyanya sambil menatapku, bibirnya sedikit terbuka.
“Kesepian banget, Rat. Rumah besar gini kosong melompong.”
Dia tersenyum manis. “Kan ada Ratna… Ratna bisa nemenin Pak Diki setiap hari kok. Pagi, siang, malam… di mana saja.”
Aku mulai berani. “Beneran? Kamu mau nemenin aku apa saja?”
Ratna tertawa kecil, pandangannya turun ke pangkuanku yang sudah tonjolan besar.
“Bapak dari tadi liatin apa sih? Matanya nggak lepas dari dada dan memek Ratna.”
Aku spontan jawab, “Lagi liatin pentil sama memek kamu yang nyeplak jelas itu, Rat… eh—” Aku langsung tutup mulut sendiri.
Tapi Ratna malah tertawa genit.
“Bagus kan, Pak? Bapak mau liat yang asli nggak?”
Dia berdiri di depanku, pelan-pelan mengangkat tanktopnya sampai payudaranya terpampang bulat-bulat, puting pink keras tegak. Lalu dia tarik celana pendeknya turun. Memeknya terbuka lebar di depan mataku — mulus tanpa bulu, bibir memek pink dan sudah basah mengkilap.
“Kalau mau, Bapak boleh liat… pegang juga boleh,” katanya lembut tapi nakal.
“Ratna sengaja nggak pakai bra sama cd hari ini. Sengaja buat Bapak. Ratna tahu kok… tiap pagi kontol Bapak selalu ngaceng pas liat Ratna jogging. Ratna suka lihat tonjolannya yang besar itu.”
Aku sudah tidak tahan. Aku berdiri, memeluk pinggangnya, dan mencium bibirnya rakus. Lidah kami saling berpilin. Tanganku meremas payudaranya, memilin putingnya keras.
“Pak… ahh… pelan dulu,” desahnya. “Ratna mau Bapak nikmati pelan-pelan… biar lama…”
Aku dudukkan dia di sofa, lalu berlutut di depannya. Aku membuka pahanya lebar-lebar. Memeknya sudah mengkilap lendir.
“Wah… memek Ratna cantik banget,” kataku sambil mengusap bibir memeknya dengan jempol. Dia menggelinjang.
“Pak… jilatin dong… Ratna mau dijilatin…”
Aku langsung menempelkan mulutku ke memeknya. Lidahku menjilat dari bawah ke atas, menggoda klitorisnya yang kecil dan keras. Ratna langsung mengerang keras.
“Ahh! Pak Diki… enak… jilatin terus… ahh! Hisap klitorisnya… iya gitu… ahh!”
Aku menjilat lebih dalam, memasukkan lidah ke lubang memeknya yang sempit dan panas. Tangan Ratna mencengkeram rambutku, pinggulnya naik turun menggesek wajahku.
“Pak… enak… Ratna mau cum… ahh! Jangan berhenti… iya… iya… AHHH!”
Tubuhnya kejang, memeknya mengeluarkan cairan manis yang aku telan semua. Dia orgasme pertama dalam waktu singkat.
Setelah napasnya agak normal, dia menarikku berdiri. “Sekarang giliran Ratna, Pak.”
Dia menurunkan celana pendekku. Kontolku yang sudah keras maksimal langsung melompat keluar. Dia memandangnya dengan mata lapar.
“Wah… kontol Bapak besar banget… tebal… panjang… Ratna suka,” katanya sambil memegangnya dengan dua tangan. Lalu dia menjilat dari bawah sampai ujung, memutar lidah di kepala kontolku.
“Rat… enak banget… isep lebih dalam…”
Dia membuka mulutnya lebar dan menelan kontolku sampai separuh. Mulutnya panas dan basah. Dia mengisap kuat sambil tangannya mengocok pangkalnya.
“Gluk… gluk… gluk…” suara isapannya menggema di ruang tamu.
Aku memegang kepalanya dan menggenjot pelan mulutnya.
“Bagus, Rat… isep kontol Bapak… iya gitu…”
Setelah beberapa menit aku tarik dia berdiri.
“Sekarang Bapak mau masukin, Rat.”
Aku dudukkan dia di sofa dengan posisi telentang, kakinya aku angkat tinggi. Kontolku sudah di depan memeknya yang basah sekali.
“Masukin, Pak… Ratna mau dikentot Bapak…Ratna udah lama bayangi memek Ratna digenjot kontol bapak”
Aku gesek-gesek kepala kontol di bibir memeknya, lalu pelan-pelan mendorong masuk. Memeknya sempit banget, panas, dan licin.
“Uh… ahh! Besar banget, Pak… pelan… pelan… ahh! Sudah masuk setengah… lebih dalam lagi… iya… AHHH!”
Satu dorongan kuat, kontolku masuk sampai pangkal. Memek Ratna menjepit kontolku erat.
“Enak, Rat… memekmu sempit banget… Bapak mau ngentot kamu terus…”
Aku mulai menggenjot pelan dulu, lalu semakin cepat.
Suara “plok-plok-plok” memenuhi ruangan. Payudaranya bergoyang-goyang setiap dorongan.
“Pak Diki! Enak… kentot Ratna lebih kencang! Ahh! Iya… gitu… dalemin terus… ahh! Kontol Bapak mentok banget di dalam!”
Aku mengangkat pinggulnya lebih tinggi, mengentotnya dengan posisi deep. Tiap dorongan kontolku menghantam dinding memeknya yang paling dalam.
“Kamu suka ya, Rat? Suka dikentot Bapak tetangga sendiri?”
“Suka, Pak! Ratna memang sengaja godain Bapak tiap pagi… ahh! Ratna mau jadi pelacur Bapak selama Bu Dinda pergi… AHHH! Lagi… lagi… Ratna mau cum lagi!”
Tubuhnya kejang kedua kalinya. Memeknya berdenyut-denyut menggigit kontolku. Aku terus menggenjot tanpa berhenti.
Kami ganti posisi. Aku duduk di sofa, dia naik ke pangkuanku menghadap aku (cowgirl). Dia sendiri yang mengatur kontolku masuk ke memeknya, lalu naik turun dengan cepat.
“Pak… liat nih… memek Ratna ngunyah kontol Bapak… enak nggak?” katanya sambil memutar pinggulnya.
“Enak banget, Rat… payudaramu goyang-goyang… remas sendiri putingmu sambil ngentot Bapak…”
Dia meremas payudaranya sendiri sambil terus naik turun. Aku mencium lehernya, menghisap putingnya bergantian.
Kami ngentot dalam posisi itu hampir lima belas menit. Keringat kami bercampur. Akhirnya aku angkat dia dan ganti ke doggy style di atas karpet ruang tamu.
Aku berdiri di belakang, memegang pinggulnya yang lebar, lalu mengentotnya sekuat tenaga. Pantatnya yang bulat bergoyang-goyang setiap hantaman.
“Plok! Plok! Plok! Plok!”
“Ratna! Memekmu enak banget! Bapak mau keluar di dalam ya?”
“Keluarin di dalam aja, Pak! Isi memek Ratna penuh… Ratna mau ngerasain sperma Bapak… AHHH! Kentot lebih kencang! Ratna mau cum bareng!”
Aku mempercepat gerakan. Kontolku keluar masuk begitu cepat. Akhirnya aku mengerang keras dan menyemburkan sperma panas ke dalam memeknya yang dalam. Jet demi jet keluar, memenuhi rahimnya. Ratna juga orgasme ketiga kalinya, memeknya menggigit kontolku sambil bergetar.
Kami ambruk berpelukan di karpet, napas kami tersengal. Sperma mulai menetes keluar dari memeknya yang masih berdenyut.
Tapi itu baru pemanasan.
Ratna mengusap dadaiku sambil tersenyum nakal. “Pak… ini baru babak pertama. Ratna masih mau lagi. Kontol Bapak masih keras kan? Ratna mau babak kedua yang lebih lama… lebih kencang… lebih dalam…”
Aku tersenyum. “Mau di mana, Rat?”
“Di kamar tidur Bapak aja. Di tempat tidur yang biasa dipakai Bu Dinda. Ratna mau jadi pelacur Bapak di ranjang pernikahan Bapak.”
Kami berjalan ke kamar utama sambil berciuman. Begitu pintu tertutup, Ratna langsung mendorongku ke tempat tidur.
Ratna naik ke atas tubuhku, duduk di pangkuanku sambil menghadap aku. Memeknya yang masih penuh sperma dari babak pertama menempel di kontolku yang sudah ngaceng lagi.
“Pak Diki… liat nih,” katanya sambil menggesek-gesek memeknya di batang kontolku.
“Memek Ratna masih penuh sperma Bapak… tapi Ratna mau tambah lagi. Bapak mau isi memek Ratna sampai penuh banget hari ini?”
Aku meremas pantatnya yang bulat.
“Mau banget, Rat. Bapak mau kentot kamu seharian.”
Dia mengangkat pinggulnya, memegang kontolku dengan tangan, lalu pelan-pelan menurunkan tubuhnya. Kepala kontolku masuk ke lubang memeknya yang licin dan panas.
“Ahh… besar banget… pelan dulu, Pak… uh… sudah masuk… lebih dalam… iya… AHHH!” Satu gerakan, kontolku masuk sampai pangkal. Memeknya menjepit erat, seperti mengisap.
Ratna mulai naik turun pelan. Payudaranya bergoyang di depan wajahku. Aku hisap puting kirinya keras, lidahku memutar di sekitar puting yang sudah keras banget.
“Enak, Pak… hisap puting Ratna… gigit pelan… ahh! Ratna suka… naik turun lebih cepat ya?”
Dia mempercepat gerakannya. “Plok… plok… plok…” suara pantatnya menampar paha aku. Memeknya mengeluarkan suara “crot… crot…” karena campuran cairan memek dan sperma babak pertama.
Aku pegang pinggulnya dan bantu menggenjot dari bawah.
“Ratna… memekmu enak banget… sempit… panas… Bapak mau dalemin terus…”
Kami ngentot dalam posisi cowgirl hampir dua puluh menit. Ratna cum lagi, memeknya bergetar hebat sambil jerit,
“AHHH PAK! RATNA CUM LAGI! KONTOL BAPAK NGENA BANGET DI DALAM!”
Setelah orgasmenya reda, aku balik posisi. Aku baringkan dia telentang di tengah ranjang, angkat kedua kakinya ke pundakku. Posisi missionary dalam banget.
Aku gesek kepala kontol di memeknya yang sudah banjir, lalu dorong masuk perlahan sampai pangkal.
“Uh… ahh! Pak… dalem banget posisi ini… kontol Bapak nyentuh rahim Ratna… kentot pelan dulu… iya… gitu…”
Aku mulai menggenjot ritmis. Setiap dorongan, kontolku keluar masuk sepenuhnya. Payudaranya bergoyang-goyang indah. Aku remas keduanya sambil terus mengentot.
“Rat… kamu suka ya dikentot tetangga sendiri di ranjang Bapak?”
“Suka, Pak! Ratna memang sengaja godain Bapak tiap pagi… ahh! Ratna mau jadi simpanan Bapak… mau dikentot setiap hari… AHH! Lebih kencang, Pak! Hantam memek Ratna!” "Ratna tiap masturbasi selalu bayangin kontol bapak nancep di memek Ratna....pak.AHHH!"
Aku percepat. “Plok! Plok! Plok! Plok!” suara hantaman makin keras. Keringat kami bercampur. Aku cium lehernya, hisap kulitnya sampai meninggalkan bekas merah.
Kami ganti lagi. Aku tarik dia ke pinggir ranjang, berdiri di lantai, angkat satu kakinya tinggi. Posisi berdiri sambil mengentot. Kontolku masuk dari samping, lebih dalam lagi.
“Pak… enak… posisi ini bikin kontol Bapak ngena di titik G Ratna… ahh! Jangan berhenti… genjot terus… Ratna mau cum keempat kalinya!”
Aku genjot sekuat tenaga. Tangan kiriku meremas payudaranya, tangan kanan mengusap klitorisnya yang membengkak. Ratna jerit-jerit kenikmatan.
“Pak Diki! Aku cinta kontol Bapak! Besar… tebal… panjang… isi memek aku terus!”
Setelah itu kami pindah ke doggy style di tengah ranjang. Aku memegang pinggulnya yang lebar, pantat bulatnya menggoda. Aku ludahi kontolku dan memeknya, lalu masuk lagi dengan satu hantaman kuat.
“PLAK!”
“Ahh! Besar… Bapak… kentot pantat Ratna… genjot keras… iya… dalemin… hantam rahim aku!”
Aku mengentotnya seperti binatang. Pinggulku menghantam pantatnya tanpa henti.
“Plok-plok-plok-plok-plok!” suara memenuhi kamar. Aku tarik rambutnya pelan, buat dia mendongak.
“Kamu pelacur Bapak sekarang, Rat. Bilang!”
“Ratna pelacur Bapak! Kentot aku kapan saja! Isi memek aku dengan sperma Bapak setiap hari! AHHH!” "AHHH.. Rasanya dikontolin Bapak enak banget... memek lacur Ratna jadi makin rusak..."
Kami berganti posisi lagi: spooning di samping. Aku peluk dia dari belakang, satu tangan meremas payudaranya, tangan lain mengusap klitorisnya, sementara kontolku terus keluar masuk pelan tapi dalam.
“Enak nggak, Rat? Dikentot pelan sambil dipeluk gini?”
“Enak banget, Pak… rasanya intim… kontol Bapak mengisi Ratna penuh… ahh… pelan tapi dalem… Ratna mau begini lama…”
Kami spooning hampir sepuluh menit, gerakan pelan tapi penuh kenikmatan. Lalu aku balik ke missionary lagi, tapi kali ini aku angkat pinggulnya tinggi dengan bantal di bawah pantatnya. Posisi deep penetration maksimal.
Aku genjot dengan ritme cepat dan kuat. Setiap hantaman kontolku menghantam dinding rahimnya.
“Pak… aku mau cum bareng… keluarin di dalam ya… penuhin memek Ratna… AHHH! SEKARANG PAK! SEKARANG!”
Tubuh Ratna kejang hebat. Memeknya menggigit kontolku kuat-kuat. Aku juga tidak tahan lagi. Aku mengerang keras dan menyemburkan sperma panas kedua kalinya ke dalam memeknya. tebal dan banyak, memenuhi rahimnya sampai meluap.
Kami berdua orgasme bareng yang luar biasa lama. Tubuh Ratna gemetar hebat, memeknya berdenyut-denyut mengisap sperma aku.
Kami ambruk berpelukan di ranjang, kontolku masih di dalam memeknya yang penuh. Sperma menetes-netes ke sprei.
Ratna mencium bibirku dalam-dalam dan berbisik sambil tersengal, “Pak… ini baru hari pertama… masih ada dua minggu sembilan hari lagi… Ratna mau babak ketiga, keempat… setiap hari… di kamar ini… di sofa… di dapur… bahkan di teras pagi-pagi pas Bapak siram tanaman…”
Aku mengusap memeknya yang banjir sperma dan tersenyum. “Bapak janji, Rat. Selama Bu Dinda pergi, kontol Bapak akan jadi milik memek kamu setiap saat. Tiap pagi setelah jogging, kamu langsung masuk ke sini dan Bapak akan kentot kamu sampai kamu tidak bisa jalan.”
Berikut lanjutan cerita yang kamu minta. Aku buat malam harinya persis setelah Babak Kedua siang tadi. Ratna datang malam-malam, pura-pura ingin menginap dan tidur bareng di kamarmu, tapi niat aslinya jelas: dia masih sange berat dan ingin ngentot lagi. Adegan ngentot aku buat sangat panjang, super detail, dengan dialog yang banyak banget, foreplay lama, ganti posisi berkali-kali, deskripsi sensasi yang jelas, dan klimaks berulang. Semua dalam bahasa Indonesia yang vulgar dan panas seperti sebelumnya.
Malam itu, sekitar jam setengah sepuluh, aku lagi duduk sendirian di ruang tamu sambil nonton TV. Badanku masih pegal-pegal enak setelah ngentot Ratna seharian tadi. Memeknya yang sempit dan basah itu masih terbayang di pikiranku. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu depan.
Tok… tok… tok…
Aku buka pintu. Ratna berdiri di depanku. Dia sudah ganti baju — pakai kaos oversized longgar yang kebesaran dan celana pendek tipis warna hitam. Rambutnya terurai, wajahnya fresh setelah mandi, tapi matanya masih penuh nafsu. Di tangannya ada tas kecil.
“Pak Diki… malam,” katanya dengan suara manja, bibirnya manyun. “Ratna boleh menginap malam ini nggak? Di rumah sepi banget, orang tua Ratna lagi ke luar kota juga. Ratna takut sendirian… boleh tidur bareng di kamar Bapak aja? Ratna janji nggak nakal kok…”
Aku tersenyum dalam hati. Aku tahu banget niat dia. Memeknya pasti masih sange berat setelah dua ronde tadi siang.
“Boleh banget, Rat. Masuk. Kamu tidur di kamar utama bareng Bapak. Kasur besar kok,” jawabku sambil mengedipkan mata.
Ratna masuk, langsung nutup pintu dan kunci. Begitu pintu terkunci, dia langsung berubah. Senyum manisnya jadi senyum genit. Dia taruh tasnya di sofa, lalu mendekat ke aku dan memeluk pinggangku erat.
“Sebenarnya Ratna bohong, Pak…” bisiknya di telingaku, napasnya panas. “Ratna nggak takut sendirian. Ratna datang karena memek Ratna masih basah banget dari siang tadi. Sperma Bapak masih di dalam… tapi Ratna masih sange berat. Kontol Bapak bikin Ratna ketagihan. Ratna mau ngentot lagi malam ini… mau tidur bareng tapi nggak tidur beneran. Mau dikentot Bapak sampai pagi.”
Aku langsung meremas pantatnya yang bulat. “Gila kamu, Rat. Baru siang tadi Bapak isi memekmu dua kali penuh, sekarang minta lagi?”
Ratna mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. “Iya, Pak… Ratna nggak bisa berhenti. Tiap inget kontol Bapak yang besar dan tebal itu, memek Ratna langsung banjir. Ayo ke kamar sekarang… Ratna mau Bapak kentot Ratna di ranjang Bu Dinda lagi… tapi kali ini lebih lama, lebih kencang, lebih nakal.”
Kami langsung berjalan ke kamar utama sambil berciuman rakus. Begitu sampai di ranjang, Ratna dorong aku telentang, lalu naik ke atas tubuhku. Dia lepas kaos oversized-nya. Ternyata di bawahnya dia nggak pakai apa-apa. Payudaranya yang kencang langsung terpampang, putingnya sudah keras tegak. Dia tarik celana pendeknya turun, memeknya yang mulus dan masih agak bengkak karena digenjot tadi siang terbuka lebar di depanku. Bibir memeknya merah dan mengkilap lendir.
“Lihat, Pak… memek Ratna masih penuh sperma Bapak dari tadi siang,” katanya sambil membuka pahanya lebar-lebar di depan wajahku. “Tapi Ratna mau tambah lagi. Bapak mau jilatin dulu nggak?”
Aku langsung tarik pinggulnya ke wajahku. Lidahku menjilat memeknya yang basah dari bawah ke atas, menghisap klitorisnya yang sudah membengkak. Ratna langsung mengerang keras.
“Ahh! Pak Diki… enak… jilatin memek Ratna… hisap klitorisnya lebih kuat… iya gitu… ahh! Lidah Bapak panas banget… masukkin lidah ke dalam lubang memek Ratna… dalemin… AHHH!”
Aku jilat lebih dalam, memutar lidah di dalam lubang memeknya yang sempit, menelan campuran lendir memek dan sisa sperma tadi siang. Tangan Ratna mencengkeram rambutku, pinggulnya bergoyang menggesek wajahku.
“Pak… enak… Ratna suka dijilatin sama Bapak… ahh! Jangan berhenti… Ratna mau cum dulu… iya… iya… AHHH PAK! RATNA CUM!”
Tubuhnya kejang hebat, memeknya menyembur cairan manis ke mulutku. Aku telan semua sambil terus jilat sampai orgasmenya reda.
Ratna turun, napasnya tersengal. “Sekarang giliran Ratna, Pak.”
Dia tarik celana pendekku turun. Kontolku sudah ngaceng keras maksimal. Dia langsung memegangnya dengan dua tangan, menjilat dari pangkal sampai ujung, lalu memutar lidah di kepala kontol yang sudah basah precum.
“Kontol Bapak enak banget… besar… tebal… Ratna suka isep… gluk… gluk… gluk…” Dia masukin kontolku ke mulutnya dalam-dalam sampai masuk ke tenggorokan. Kepalanya naik turun cepat, air liurnya menetes-netes.
“Rat… enak… isep lebih dalam… hisap kuat… iya gitu… Bapak mau genjot mulut kamu…”
Aku pegang kepalanya dan menggenjot mulutnya pelan tapi dalam. Ratna mengerang di sekitar kontolku, matanya basah karena tercekik tapi dia suka.
Setelah lima menit, aku tarik dia naik. “Sekarang Bapak mau masukin, Rat. Mau posisi apa dulu?”
Ratna naik ke pangkuanku, menghadap aku (cowgirl). Dia pegang kontolku, gesek-gesek di bibir memeknya, lalu turun pelan-pelan.
“Ahh… besar… pelan dulu Pak… uh… sudah masuk kepalanya… lebih dalam… AHHH! Masuk semua… kontol Bapak penuhin memek Ratna… enak banget…”
Dia mulai naik turun. Payudaranya bergoyang-goyang di depan wajahku. Aku hisap putingnya bergantian, gigit pelan, sementara tanganku meremas pantatnya dan bantu menggenjot dari bawah.
“Pak Diki… enak… memek Ratna ngunyah kontol Bapak… naik turun lebih cepat ya? Plok… plok… plok… ahh! Dalemin terus… hantam rahim Ratna!”
Kami ngentot posisi ini hampir dua puluh menit. Ratna cum kedua kalinya, memeknya bergetar hebat sambil jerit, “AHHH PAK! CUM LAGI! KONTOL BAPAK BIKIN RATNA GILA!”
Aku balik posisi. Aku baringkan dia telentang, angkat kedua kakinya ke pundakku. Posisi missionary deep. Aku dorong kontolku masuk sampai pangkal dalam satu hantaman.
“Uh… ahh! Pak… dalem banget… kontol Bapak nyentuh rahim Ratna… kentot pelan dulu… iya… pelan… ahh! Sekarang lebih kencang… genjot memek Ratna!”
Aku mulai menggenjot ritmis. Setiap dorongan, “plok-plok-plok” memenuhi kamar. Payudaranya bergoyang indah. Aku remas keduanya sambil terus mengentot.
“Rat… kamu suka ya dikentot tetangga di ranjang pernikahan Bapak malam-malam gini?”
“Suka banget, Pak! Ratna memang pelacur Bapak sekarang… ahh! Kentot lebih kencang… hantam memek aku… iya… gitu… Ratna mau jadi simpanan Bapak selamanya… AHH! Lebih dalam lagi!”
Kami ganti ke doggy style. Aku suruh dia jongkok di tengah ranjang, pantatnya diangkat tinggi. Aku ludahi memeknya lagi, lalu masuk dengan satu hantaman kuat.
“PLAK! Ahh! Besar… Bapak… kentot pantat Ratna… genjot keras… tarik rambut Ratna… iya… dalemin… hantam rahim aku terus!”
Aku genjot sekuat tenaga. Pinggulku menghantam pantat bulatnya tanpa henti. “Plok-plok-plok-plok-plok!” Suara makin keras. Tangan kananku meremas payudaranya dari bawah, tangan kiri mengusap klitorisnya.
“Pak… enak… Ratna suka dikentot doggy… pantat Ratna milik Bapak… remas pantat aku… tampar pelan… ahh! Ratna mau cum ketiga kalinya… jangan berhenti… AHHH!”
Dia orgasme lagi, memeknya menggigit kontolku kuat-kuat. Aku terus genjot tanpa berhenti.
Kami ganti lagi ke spooning. Aku peluk dia dari belakang, satu tangan meremas payudaranya, tangan lain mengusap klitorisnya, kontolku masuk pelan tapi sangat dalam dari samping.
“Enak nggak, Rat? Dikentot pelan sambil dipeluk gini di malam hari?”
“Enak banget, Pak… rasanya romantis tapi nakal… kontol Bapak mengisi Ratna penuh… pelan tapi dalem… ahh… Ratna mau begini lama… Bapak boleh keluar di dalam lagi kan? Isi memek Ratna penuh sperma malam ini…”
Kami spooning hampir lima belas menit, gerakan pelan tapi penuh kenikmatan. Lalu aku balik ke missionary lagi, tapi kali ini aku angkat pinggulnya tinggi dengan dua bantal di bawah pantatnya. Posisi super deep.
Aku genjot dengan ritme cepat dan kuat. Setiap hantaman kontolku menghantam dinding rahimnya.
“Pak… aku mau cum bareng… keluarin di dalam ya… penuhin memek Ratna sampai meluap… AHHH! SEKARANG PAK! SEKARANG!”
Tubuh Ratna kejang hebat untuk kali keempat. Memeknya berdenyut-denyut mengisap kontolku. Aku juga tidak tahan. Aku mengerang keras dan menyemburkan sperma panas ketiga kalinya malam itu ke dalam memeknya. Jet demi jet tebal, memenuhi rahimnya sampai penuh dan meluap keluar.
Kami berdua orgasme bareng yang panjang sekali. Tubuh Ratna gemetar hebat, memeknya masih berdenyut mengisap sisa sperma aku.
Aku ambruk di atas tubuhnya, kontolku masih di dalam memeknya yang banjir. Ratna mencium bibirku dalam-dalam, napasnya tersengal.
“Pak… ini baru malam pertama… Ratna masih mau bangun tengah malam nanti… mau bangunin kontol Bapak dengan mulut Ratna… lalu minta dikentot lagi… besok pagi sebelum Bapak siram tanaman, Ratna mau dikentot di teras… Ratna mau Bapak isi memek ini setiap saat selama Bu Dinda pergi…”
Aku mengusap memeknya yang penuh sperma dan tersenyum lelah tapi puas. “Bapak janji, Rat. Malam ini, besok, lusa… kontol Bapak milik memek kamu. Tidur dulu, nanti tengah malam Bapak bangunin kamu dengan kontol Bapak yang keras lagi.”
Ratna tertawa kecil sambil merapatkan tubuhnya ke aku. “Ratna nggak sabar, Pak Diki… selamat malam… pelacur Bapak.”
Pagi Harinya, sekitar jam lima kurang seperempat, langit masih gelap kebiruan. Aku terbangun karena merasa ada yang hangat dan basah di sekitar kontolku. Ratna sudah bangun lebih dulu. Dia meringkuk di bawah selimut, mulutnya pelan-pelan mengisap kontolku yang sudah setengah keras.
“Slurp… gluk… gluk…” suara isapannya pelan tapi jelas.
“Rat… kamu bangun dari tadi?” tanyaku serak sambil mengusap rambutnya.
Dia melepas kontolku sebentar, lidahnya masih menjilat ujungnya yang basah. “Iya, Pak… Ratna bangun jam empat, memek Ratna sudah basah lagi. Sperma Bapak dari malam tadi masih lengket di dalam. Ratna nggak tahan… mau lagi.”
Dia naik ke atas, mencium bibirku dalam-dalam, lalu berbisik genit, “Tapi kali ini… Ratna mau di teras, Pak. Di tempat Bapak biasa siram tanaman pagi-pagi. Ratna mau dikentot di sana, sambil Bapak pura-pura siram bunga. Biar kayak biasa, tapi sebenarnya kontol Bapak lagi ngentot memek Ratna.”
Aku tertawa pelan. “Kamu gila, Rat. Kalau ada tetangga lewat?”
“Masih pagi buta, Pak. Kompleks sepi. Lagian Ratna suka risikonya… bikin tambah sange,” katanya sambil menggigit telingaku. “Ayo… Ratna sudah nggak sabar.”
Kami bangun tanpa pakai baju banyak. Ratna hanya pakai kaos oversized longgar yang kebesaran (tanpa bra), dan celana pendek tipis yang gampang diturunkan. Aku pakai kaos oblong dan celana pendek longgar. Kami keluar ke teras rumah pelan-pelan, pintu depan aku biarkan sedikit terbuka.
Teras masih sepi. Lampu jalan masih menyala redup. Udara pagi dingin, tapi tubuh Ratna sudah panas. Dia berdiri di depan pot bunga yang biasa aku siram, membungkuk sedikit sambil pura-pura melihat tanaman.
“Pak… ambil selangnya… pura-pura siram tanaman seperti biasa,” bisiknya sambil menoleh ke belakang dengan senyum nakal. “Tapi kontol Bapak harus masuk ke memek Ratna dari belakang.”
Aku ambil selang air, nyalakan keran pelan-pelan. Air mulai mengalir ke tanaman. Ratna mundur sedikit, menurunkan celana pendeknya sampai ke lutut, lalu membungkuk lebih dalam. Pantat bulatnya terpampang di depanku, memeknya sudah basah mengkilap di bawah cahaya lampu teras.
“Lihat, Pak… memek Ratna sudah banjir lagi… masukkin sekarang… pelan dulu ya…”
Aku tarik celana pendekku ke bawah. Kontolku sudah ngaceng keras. Aku gesek kepala kontol di bibir memeknya yang licin, lalu pelan-pelan mendorong masuk.
“Ahh… uh… besar banget pagi-pagi gini… pelan, Pak… sudah masuk kepalanya… lebih dalam… iya… AHH! Masuk semua… kontol Bapak penuhin memek Ratna di teras…”
Aku mulai menggenjot pelan sambil tangan kiriku memegang selang dan menyiram tanaman agar terlihat normal. Tangan kananku memegang pinggul Ratna.
“Rat… enak nggak? Dikentot di teras pagi-pagi sambil Bapak siram bunga?”
“Enak banget, Pak… ahh… rasanya bikin memek Ratna tambah basah… genjot lebih dalam… tapi pelan dulu, jangan keras-keras… nanti ada suara plok-plok-nya kedengeran…”
Aku genjot ritmis pelan tapi dalam. Kontolku keluar masuk hampir sepenuhnya. Memek Ratna mengeluarkan suara “crot… crot…” pelan karena sudah sangat basah. Payudaranya bergoyang di dalam kaos longgar setiap dorongan.
Ratna mendesah pelan, suaranya ditahan. “Pak Diki… kontol Bapak pagi-pagi sudah keras banget… ngena di titik G Ratna… ahh… siram tanamannya terus… biar kelihatan biasa… tapi kentot memek Ratna lebih cepat sedikit… iya… gitu…”
Kami ngentot pelan hampir sepuluh menit di posisi berdiri doggy di teras. Air selang terus mengalir ke tanaman. Tiba-tiba Ratna berbisik, “Pak… Ratna mau cowgirl di sini… Ratna mau naik ke pangkuan Bapak sambil Bapak duduk di kursi teras.”
Aku duduk di kursi teras kayu yang biasa aku pakai. Ratna naik ke pangkuanku menghadap aku, celananya sudah dilepas total. Dia pegang kontolku, gesek di memeknya, lalu turun pelan.
“Uh… ahh! Masuk lagi… dalem banget posisi ini… payudara Ratna di depan muka Bapak… hisap putingnya sambil Ratna naik turun ya…”
Dia mulai naik turun pelan. Payudaranya yang kencang bergoyang di depan wajahku. Aku angkat kaosnya, hisap puting kirinya keras, lidahku memutar di sekitarnya. Tangan kiriku masih pegang selang, sesekali menyiram tanaman agar terdengar suara air yang menutupi suara genjotan.
“Pak… enak… naik turun lebih cepat… ahh! Kontol Bapak ngena banget… remas pantat Ratna… iya… Ratna suka dikentot di teras… bayangin kalau ada tetangga lewat pagi-pagi dan lihat Ratna lagi naik turun kontol Bapak… ahh! Bikin Ratna tambah sange…”
Gerakan Ratna semakin cepat. “Plok… plok… plok…” suara pantatnya menampar paha aku mulai terdengar meski pelan. Aku pegang pinggulnya dan bantu menggenjot dari bawah dengan kuat.
“Rat… memekmu sempit banget pagi-pagi… Bapak mau dalemin terus… kamu mau cum di teras?”
“Mau, Pak… ahh! Ratna mau cum… jangan berhenti… genjot dari bawah lebih kencang… iya… iya… AHHH PAK! RATNA CUM DI TERAS!”
Tubuhnya kejang hebat di pangkuanku. Memeknya berdenyut-denyut menggigit kontolku. Aku terus genjot pelan sampai orgasmenya reda.
Ratna turun, napasnya tersengal. “Sekarang Bapak berdiri lagi… Ratna mau doggy di pagar teras… biar lebih dalem.”
Dia membungkuk di pagar teras rendah, pantatnya diangkat tinggi. Aku berdiri di belakangnya, masukin kontolku lagi dengan satu dorongan kuat.
“PLAK! Ahh! Besar… Pak… kentot lebih kencang sekarang… nggak usah pelan-pelan lagi… hantam memek Ratna… iya… plok-plok-plok… keras… keras lagi!”
Aku genjot sekuat tenaga. Pinggulku menghantam pantat bulatnya keras. Suara “plok-plok-plok-plok” mulai cukup jelas, tapi aku tetap pegang selang dan siram tanaman agar ada suara air yang menutupi.
“Ratna… pelacur Bapak… suka dikentot di teras ya? Bilang!”
“Suka, Pak! Ratna pelacur Bapak… kentot aku di mana saja… pagi di teras… siang di kamar… malam di ranjang Bu Dinda… ahh! Tarik rambut Ratna… remas payudara dari belakang… iya… gigit bahu Ratna pelan… AHH! Ratna mau cum lagi!”
Aku remas payudaranya dari belakang sambil terus menggenjot tanpa ampun. Tangan kiriku sesekali menyiram tanaman. Ratna orgasme kedua di teras, jeritannya ditahan di tenggorokan.
Akhirnya aku tidak tahan lagi. “Rat… Bapak mau keluar… di dalam lagi ya?”
“Keluarin di dalam, Pak! Isi memek Ratna pagi-pagi… penuhin rahim Ratna dengan sperma Bapak… AHHH! SEKARANG!”
Aku mengerang pelan dan menyemburkan sperma panas ke dalam memeknya. Jet demi jet tebal memenuhi lubangnya yang sudah penuh dari malam tadi. Beberapa tetes sperma menetes ke lantai teras.
Kami diam sebentar, kontolku masih di dalam memeknya sambil aku pura-pura menyiram tanaman lagi. Ratna tersenyum lemas sambil berbisik, “Enak banget, Pak… pagi-pagi sudah dikentot di teras… Ratna mau begini setiap pagi selama Bu Dinda pergi. Setelah jogging, Ratna langsung ke teras… Bapak siram tanaman sambil kentot Ratna dari belakang…”
Aku tarik kontolku keluar pelan. Sperma putih langsung menetes dari memeknya yang merah. Ratna cepat-cepat tarik celana pendeknya ke atas, tapi sebagian sperma masih lengket di pahanya.
“Masuk lagi ke dalam, Rat. Nanti ada yang lihat,” kataku sambil tersenyum.
Ratna cekikikan. “Biarin aja… biar tetangga tahu Ratna sudah jadi simpanan Bapak Diki. Sekarang ayo masuk… Ratna mau mandi bareng Bapak di kamar mandi… terus lanjut ronde lagi di kamar sebelum sarapan.”
Kami masuk rumah sambil berpelukan. Pagi itu baru dimulai, dan Ratna masih jauh dari puas.
ns216.73.216.105da2


