Malam ini, Faris baru saja berangkat dinas lagi. Siska berdiri di depan cermin kamar mandi lantai dua, memilih tanktop putih yang paling transparan dari lemari pakaiannya. Kain katun tipis itu sudah agak menguning di bagian dada karena sering dipakai tanpa dicuci terlalu sering—sengaja.
Dia mengangkat tangan, membiarkan tanktop meluncur turun menutupi tubuhnya yang masih hangat setelah mandi sore tadi. Tanpa bra, putingnya yang kecil tapi sudah mengeras terlihat jelas di balik kain, dua titik gelap yang menonjol karena AC kamar tidur yang disetel rendah.
Siska memutar tubuhnya pelan di depan cermin. Rok satin hitam pendek yang sama seperti malam pertama dulu kini melingkar longgar di pinggulnya, ujungnya hanya dua jari di atas pertengahan paha. Tidak ada celana dalam. Memeknya yang sudah agak bengkak dari malam-malam sebelumnya terasa berdenyut pelan, licin oleh cairan bening yang mulai merembes. Dia tersenyum kecil ke bayangannya sendiri, mata yang biasanya malu kini berkilat penuh antisipasi.
“Siapa dulu ya malam ini…” bisiknya pelan,
suaranya serak karena udara panas yang masih menempel di kulit. Jari-jarinya tanpa sadar naik ke puting, memilin pelan, membuatnya menggigit bibir bawah.
Di grup chat rahasia bernama “Graha Famili VIP” yang berisi Deni, Riski, Galih, dan Rizal, foto memek Siska yang bengkak dan basah—diambil tadi pagi saat dia bangun tidur—baru saja terkirim. Pesan dari Deni langsung muncul di layar ponselnya yang tergeletak di meja rias.
Deni: Malam ini giliran gue. Jam 9. Jangan pake apa-apa di bawah. Gue mau langsung.
Siska membaca pesan itu, hatinya langsung bergetar. Deni. Yang pertama. Yang paling kasar. Yang selalu membuatnya menangis di awal-awal, tapi sekarang… sekarang justru yang paling dia tunggu. Dia tidak membalas. Hanya meletakkan ponsel dan berjalan ke ruang tamu. Lampu sudah dinyalakan redup. AC ruangan menyala pelan, tapi udara malam tetap terasa lembab, lengket di kulit. Bau garam laut dari utara masih menempel di jendela-jendela kaca besar.
Jam menunjukkan pukul 20.47. Faris baru saja mengirim video call singkat tadi, bilang dia sudah sampai hotel di Jakarta dan besok meeting pagi-pagi. Siska tersenyum manis di layar, bilang
“Iya sayang, hati-hati ya. Aku kangen.” Lalu mematikan sambungan sebelum air matanya jatuh. Bukan karena kangen. Bukan lagi.
Dia duduk di sofa yang sama tempat Deni pertama kali menindihnya dulu. Kaki disilangkan, rok satin naik sedikit, memperlihatkan paha mulus yang berkilau karena lotion yang dia oles tadi. Memeknya sudah basah sekali. Dia bisa merasakan cairannya menetes pelan ke bantalan sofa.
Pukul 21.03, pintu depan diketuk dua kali—kode mereka. Siska berdiri, jantungnya berdegup kencang meski dia sudah tahu apa yang akan terjadi. Dia membuka pintu.
Deni berdiri di sana, tinggi besar, kulit sawo matangnya mengkilap karena keringat. Kaos hitam ketat menempel di dada bidang dan perut six-packnya. Celana pendek olahraga abu-abu tipis, sudah ada tonjolan jelas di depan. Matanya langsung menelusuri tubuh Siska dari atas ke bawah, berhenti lama di dada dan pangkal paha.
“Malam, jalang,” sapanya pelan, suara baritonnya rendah dan penuh kendali.
Dia melangkah masuk tanpa menunggu undangan, menutup pintu di belakangnya dan mengunci dengan dua putaran kunci.
“Faris udah berangkat?”
Siska mengangguk, suaranya kecil.
“Iya, Mas… tadi sore.”
Deni tersenyum miring. Tangannya langsung meraih pinggang Siska, menariknya kasar sampai dada montoknya menempel di dada bidang Deni.
“Bagus. Malam ini lo milik gue full. Gue lihat foto yang lo kirim. Memeknya udah banjir dari pagi ya?”
Siska menggigit bibir, pipinya merah.
“Mas Den… jangan bilang gitu…”
Deni tertawa pelan. Tangan kanannya turun ke rok satin, mengangkatnya sampai pinggang tanpa ampun. Jari telunjuknya langsung menyentuh memek Siska yang licin, mengusap klitoris yang sudah membengkak sekali. Siska menggigil, lututnya lemas.
“Udah basah banget, Sis. Lo nungguin gue dari tadi, kan?” bisik Deni di telinga Siska sambil memasukkan satu jari ke dalam lubang hangat itu dengan mudah.
“Jawab.”
“Ahh… iya, Mas… aku nungguin Mas Den…” desah Siska, suaranya gemetar. Tubuhnya sudah mulai menyerah meski mulutnya masih mencoba protes kecil. Deni menambah satu jari lagi, mengocok pelan tapi dalam, ibu jarinya menekan klitoris tanpa henti.
Mereka masih berdiri di depan pintu. Deni mendorong Siska mundur sampai punggungnya menempel di dinding ruang tamu. Tangannya yang bebas menarik tanktop putih itu ke atas, melepaskannya lewat kepala Siska dalam satu gerakan kasar. Tetek besar Siska terbebas, bergoyang pelan, putingnya sudah keras dan gelap.
Deni menunduk, mulutnya langsung menyedot puting kiri Siska kuat-kuat. Lidahnya berputar, giginya menggigit pelan lalu menarik. Siska menjerit kecil, tangannya mencengkeram bahu Deni.
“Mas Den… pelan… ahh… sakit tapi enak…”
Deni tidak menjawab. Dia hanya mengisap lebih kuat, tangan kirinya meremas tetek kanan, memilin putingnya sampai Siska menggelinjang. Jari-jarinya di memek semakin cepat, bunyi cipratan cairan Siska terdengar jelas di ruangan yang sepi.
Setelah dua menit, Deni menarik jari-jarinya yang basah kuyup. Dia mengusapkannya ke bibir Siska.
“Jilat,” perintahnya.
Siska membuka mulut, lidahnya menjilat jari Deni yang berbau memeknya sendiri. Matanya berkaca-kaca, tapi bukan air mata penolakan lagi. Ini air mata kenikmatan yang sudah dia pelajari dua bulan terakhir.
Deni melepas kaosnya. Tubuhnya yang kekar terlihat sempurna di bawah lampu redup—otot dada, perut, lengan yang tebal. Dia menurunkan celana pendeknya. Kontolnya melompat keluar, sudah keras penuh, panjang dan tebal, kepala mengkilap oleh precum yang kental. Urat-uratnya menonjol jelas.
“Berlutut,” kata Deni sambil memegang kepala Siska.
Siska turun ke lantai keramik yang dingin. Lututnya terasa sakit, tapi dia tidak peduli. Mulutnya terbuka lebar. Deni memegang rahangnya kuat, memasukkan kontolnya sampai setengah batang. Rasa asin dan panas langsung memenuhi mulut Siska.
“Hisap. Dalam.”
Siska menurut. Kepalanya maju mundur, lidahnya menjilat di bawah batang kontol, tenggorokannya mengontrak saat Deni mendorong lebih dalam sampai kepala kontol menyentuh amandelnya. Ludahnya menetes deras ke lantai, campur precum Deni. Deni menggerakkan pinggulnya pelan dulu, lalu semakin kasar, wajah Siska memerah, matanya berair.
“Mmph… nghh… gluck… gluck…” suara Siska memenuhi ruangan.
Deni menarik kontolnya keluar tiba-tiba, benang liur panjang menghubungkan bibir Siska dengan kepala kontolnya. Dia menarik Siska berdiri, membalik tubuhnya menghadap dinding, dan menekan punggungnya agar membungkuk.
“Angkat Bokongmu tinggi-tinggi.”
Siska patuh. Kedua tangannya menempel di dinding, bokongnya terangkat, memeknya terbuka lebar dan mengkilap. Deni mengusap kontolnya di celah memek Siska beberapa kali, lalu mendorong masuk dalam satu hantaman kuat sampai pangkal.
“Ahhhhh! Mas Den… besar… penuh…” jerit Siska. Tubuhnya gemetar hebat.
Deni tidak memberi waktu. Dia langsung menggenjot keras dan cepat. Setiap hantaman membuat tetek Siska bergoyang liar, bunyi plok-plok-plok daging bertemu memenuhi ruang tamu. Tangan Deni mencengkeram pinggul Siska kuat-kuat, meninggalkan bekas merah.
“Enak ya memek lo, Sis? Ketagihan sama kontol tetangga sendiri?” tanya Deni sambil tertawa pelan, napasnya terengah.
Siska hanya bisa mendesah.
“Iya… ahh… ahh… enak, Mas… lebih dalam… hiks… aku jalang Mas Den…”
Deni menampar bokong Siska keras.
Plak! Plak! Plak! Bekas merah muncul di kulit putihnya.
“Bilang lagi. Lo siapa?”
“Aku… jalangnya Mas Den… ahh… kontol Mas Den enak banget… Faris nggak bisa gini…”
Deni semakin gila. Dia menarik rambut Siska ke belakang, membuat punggungnya melengkung. Hantaman semakin dalam, kepala kontolnya menghantam titik G Siska berulang-ulang. Siska orgasme pertama datang dalam waktu kurang dari lima menit—tubuhnya kejang hebat, memeknya menyemprot cairan bening yang membasahi paha Deni dan lantai.
“Udah muncrat, jalang? Baru mulai.”
Deni tidak berhenti. Dia menarik kontolnya keluar, membalik tubuh Siska, dan mengangkat satu kaki Siska ke pinggangnya. Mereka berdiri di tengah ruang tamu, kontolnya masuk lagi dari depan. Posisi ini membuat kontolnya semakin dalam. Siska memeluk leher Deni, kakinya melingkar di pinggang pria itu. Deni mengangkat tubuh Siska sepenuhnya, menggenjotnya sambil berdiri seperti boneka.
“Ahh… Mas… aku nggak kuat… hiks… enak… enak banget…”
Mereka berpindah ke sofa. Deni duduk, Siska di pangkuannya, menghadapnya. Siska naik turun sendiri sekarang, pinggulnya berputar, memeknya melahap kontol Deni sampai pangkal setiap kali turun. Teteknya bergoyang di depan wajah Deni. Deni menghisap puting bergantian, giginya meninggalkan bekas kecil.
Orgasme kedua Siska datang saat Deni menekan klitorisnya sambil Siska naik turun cepat. Dia menjerit, tubuhnya ambruk ke dada Deni, memeknya berdenyut-denyut kuat di sekeliling kontol.
Tapi Deni belum selesai. Dia membawa Siska ke kamar tidur utama—kamar yang biasa dipakai bersama Faris. Lampu kamar dinyalakan redup. Deni melempar Siska ke ranjang, lalu naik ke atasnya. Kali ini posisi missionary, kaki Siska dibuka lebar-lebar sampai hampir menyentuh telinga.
Deni mengentotnya pelan dulu, dalam-dalam, sambil menatap mata Siska yang berkaca-kaca.
“Lo masih istri Faris, tapi memek lo milik gue,” bisiknya di telinga Siska.
Siska mengangguk lemah.
“Iya, Mas… aku milik Mas Den… Faris… Faris nggak tahu… ahh… lebih cepat…”
Deni mempercepat. Ranjang berderit keras. Siska mencakar punggung Deni, kuku-kukunya meninggalkan garis merah. Orgasme ketiga datang lebih kuat, membuat Siska menangis tersedu-sedu sambil tersenyum bahagia.
“Aku cum lagi… Mas… aku cum… hiks… terima kasih, Mas Den…”
Deni akhirnya meledak di dalam. Semprotan panas kentalnya memenuhi memek Siska, meluber keluar saat dia masih menggenjot pelan. Cairan campuran mereka menetes ke seprai putih.
Mereka berbaring sebentar, napas tersengal. Deni masih di dalam Siska, kontolnya yang setengah mengeras berdenyut pelan. Siska mencium dada Deni, lidahnya menjilat keringat yang asin.
“Masih mau lagi, Mas?” tanya Siska pelan, suaranya manja.
Deni tersenyum. “Lo emang udah gila ya.”
Dia menarik kontolnya keluar, membalik tubuh Siska sampai tengkurap. Lalu dia naik lagi dari belakang, kali ini lebih pelan, lebih sensual. Tangan Deni meremas tetek Siska dari belakang, bibirnya mencium tengkuk Siska. Siska mendesah panjang, pinggulnya bergerak pelan mengikuti irama Deni.
Mereka bercinta seperti itu hampir satu jam lagi—ganti posisi, ganti tempat di kamar. Di meja rias, di depan cermin kamar mandi (Siska melihat sendiri wajahnya yang mesum saat Deni mengentotnya dari belakang), di lantai kamar, bahkan di balkon kecil kamar tidur dengan angin malam yang panas meniup tubuh mereka yang basah keringat.
Saat pukul 00.15, Deni akhirnya selesai yang ketiga kalinya—kali ini di mulut Siska. Siska menelan semuanya, lidahnya membersihkan kontol Deni sampai bersih.
Deni berpakaian, mencium kening Siska yang sudah lemas di ranjang.
“Besok Kamis lagi. Gue bawa Riski sekalian. Lo siap-siap ya.”
Siska hanya mengangguk lemah, tersenyum kecil.
“Iya, Mas… aku siap.”
Deni pergi. Pintu depan tertutup pelan.
Siska meringkuk di ranjang yang berantakan, memeknya masih berdenyut dan penuh cairan Deni. Dia menyentuh memeknya sendiri, merasakan lengketnya, lalu membawa jari itu ke mulut dan menjilat pelan.
“Maaf, Faris…” bisiknya pelan. Tapi senyumnya tidak hilang.
Malam itu, untuk pertama kalinya, dia tidur tanpa menangis. Hanya puas. Dan sudah menunggu Kamis berikutnya.
ns216.73.216.105da2


