Siska berdiri di depan cermin kamar mandi, mengamati tubuhnya yang masih basah setelah mandi sore. Malam itu Surabaya terasa seperti tungku—panas lembab, angin laut dari utara membawa bau garam dan aspal basah yang lengket di kulit. Faris, suaminya, sudah tiga hari dinas ke Jakarta untuk proyek kantor yang katanya “paling tidak seminggu”. Rumah dua lantai di kompleks elit Graha Famili, Surabaya Timur, terasa terlalu besar dan terlalu sepi untuk satu orang.
Dia memilih baju rumah kesukaannya saat Faris tidak ada: tanktop putih tipis yang sudah agak tembus pandang karena sering dicuci, tanpa bra. Putingnya yang kecil dan gelap samar terlihat di balik kain katun yang menempel karena keringat. Bawahnya hanya rok satin hitam pendek yang panjangnya tidak sampai pertengahan paha, tanpa celana dalam. Siska suka begini. Rasanya bebas. Tapi malam ini, entah kenapa, dadanya terasa sesak.
Lampu ruang tamu mendadak mati saat dia sedang menonton TV. Hanya lampu kamar yang masih menyala redup. Siska menghela napas panjang.1384Please respect copyright.PENANAtXqAo13nqu
“Ya ampun…” Dia ingat Deni, tetangga sebelah kanan—cowok single 32 tahun, tinggi besar, kulit sawo matang, suka bantu warga kompleks. Deni punya tangga dan peralatan listrik. Siska tidak berani naik sendiri malam-malam.
Ponselnya bergetar setelah dia menelepon.1384Please respect copyright.PENANAi42ppNVco8
“Mas Den, boleh minta tolong? Lampu ruang tamu mati. Faris lagi dinas… aku sendirian nih.” Suaranya pelan, hampir malu.
Deni datang lima menit kemudian, tangga lipat di bahu, kotak perkakas di tangan. Matanya langsung melebar saat Siska membuka pintu. Tanktop basah keringat itu menempel ketat di dada montoknya. Rok satin naik sedikit saat dia berjalan, memperlihatkan paha mulus yang berkilau.
“Masuk, Mas… lampunya yang di tengah,” kata Siska sambil tersenyum kecil, seolah tak sadar.
Deni naik tangga. Siska berdiri di bawah memegang senter. Dari posisi itu, Deni bisa melihat semuanya: tidak ada celana dalam, memek Siska yang mulus dan sedikit terbuka karena kaki agak renggang. Kontolnya langsung mengeras, menonjol jelas di celana pendek.
Setelah lampu menyala kembali, Siska tersenyum lega. 1384Please respect copyright.PENANAGUijXT4Pc4
“Makasih banget, Mas Den. Panas banget malam ini… mau minum es jeruk dulu?”
Mereka duduk di sofa ruang tamu. Saat Siska menyodorkan gelas, tangan Deni sengaja menyentuh jari-jarinya lebih lama. Udara langsung tegang.
“Mas Den… kok tangannya dingin?” tanya Siska sambil tertawa gugup.
Deni tidak menjawab. Nafsunya sudah meledak. Dia meletakkan gelas, meraih tengkuk Siska, dan menciumnya kasar. Siska terkejut, matanya membelalak lebar.
“Mas Den! Jangan! Aku istri Faris!” jeritnya sambil mendorong dada bidang Deni dengan kedua tangan.
Deni tidak peduli. Tubuhnya yang besar menindih Siska di sofa. Satu tangan memegang kedua pergelangan tangan Siska di atas kepala, tangan satunya meremas tetek montok di balik tanktop tipis. Putingnya langsung mengeras karena AC dingin dan sentuhan kasar itu. Deni memilinnya kuat-kuat.
“Mas Den… lepasin! Tolong… hiks!” Siska menangis, kakinya menendang-nendang liar. Air matanya mengalir deras. Tubuhnya gemetar hebat—campuran ketakutan dan rasa panas yang aneh di perut bawahnya.
Tangan Deni yang bebas turun ke paha mulus Siska. Rok satin itu naik dengan mudah. Jari-jarinya langsung menyentuh memek yang sudah agak basah.1384Please respect copyright.PENANAo9wdpobhkG
“Wah… memeknya udah basah, Sis,” bisik Deni di telinga Siska sambil tertawa pelan, suaranya penuh kendali. Jarinya mengusap klitoris pelan, lalu memasukkan satu jari ke dalam lubang hangat yang sempit. Bau keringat bercampur aroma memek Siska yang manis langsung memenuhi udara.
“Ahh! Jangan… sakit… Mas Den… aku mohon…” Siska meronta lebih kencang, tapi pinggulnya tanpa sadar sedikit terangkat saat jari Deni mengocok memeknya dengan ritme mantap. Deni menambah satu jari lagi, menggerayangi dinding dalam sambil ibu jarinya menekan klitoris tanpa henti.
Siska menangis tersedu.1384Please respect copyright.PENANAY5wox0YdRV
“Aku… aku nggak mau… hiks…” 1384Please respect copyright.PENANAxSWd19yuEw
Tapi tubuhnya berkhianat. Memeknya semakin banjir, cairan bening menetes ke sofa. 1384Please respect copyright.PENANAn7xbRhcB1L
Deni melepas tanktop Siska dengan satu tarikan kasar. Tetek besar itu terbebas, puting merah karena dipilin. Deni menunduk, menghisap puting kiri kuat-kuat, lidahnya berputar, giginya menggigit pelan. Napas Siska tersengal-sengal, campur aduk antara isak tangis dan desahan kecil yang tak bisa ditahan.
Deni berdiri, melepas celana pendeknya. Kontol panjang dan tebalnya melompat keluar, kepala mengkilap oleh precum yang asin dan kental. Dia memegang rahang Siska kuat, memaksa mulutnya terbuka. 1384Please respect copyright.PENANA3gNFZVxljO
“Hisap, Siska. Kalau nggak, aku bilang ke Faris kamu yang godain aku duluan.”
Siska menggeleng sambil menangis, tapi kontol itu sudah masuk ke mulutnya. Rasa asin dan panas langsung memenuhi lidahnya. Deni menggerakkan pinggulnya pelan dulu, lalu semakin dalam sampai kepala kontol menyentuh tenggorokan Siska. 1384Please respect copyright.PENANAv01Uw2lvUJ
“Mmph… nghh!” Siska tersedak, ludahnya menetes di sepanjang batang kontol.
Malam itu Deni mengentot Siska tiga kali di ruang tamu—pertama doggy di sofa, kedua telentang dengan kaki Siska di bahu, ketiga di kamar tidur utama setelah Siska mencoba kabur. 1384Please respect copyright.PENANA3pU7r4WbYs
Setiap hantaman kasar disertai ancaman pelan di telinga: “Diam aja… Faris nggak usah tahu.” Siska menangis sepanjang malam, tubuhnya penuh memar kecil dan cairan kering di paha. 1384Please respect copyright.PENANAqKTaUgomGv
Saat Deni pulang subuh, dia meringkuk di ranjang, menangis tanpa suara.1384Please respect copyright.PENANAgyS4dR7WwY
Ini salahku… aku yang panggil dia… aku istri yang kotor…
Dua hari kemudian, Deni datang lagi. Siska sudah berganti baju yang lebih sopan, tapi Deni tetap mendorongnya ke dinding dapur. Kali ini Siska masih menolak, masih menangis, tapi saat Deni mengancam foto dan kirim ke Faris, dia menyerah dengan tangan gemetar. 1384Please respect copyright.PENANAju9WixvqvH
“Mas Den… jangan bilang siapa-siapa ya…” bisiknya lemah. 1384Please respect copyright.PENANAGcmADZOunG
Tubuhnya sudah mulai bereaksi lebih cepat—memeknya basah hanya dengan sentuhan tangan Deni yang dominan.
Seminggu kemudian, Deni cerita ke Riski—tetangga sebelah kiri, cowok 28 tahun yang suka fitness, badan berotot keras, dan suka main kasar. Riski tertarik. Malam berikutnya, saat lampu garasi mati, Siska terpaksa minta tolong Riski.
Riski datang dengan senyum licik. Begitu pintu garasi tertutup, dia langsung mencekik leher Siska pelan tapi kuat dari belakang, tangannya yang besar menekan tenggorokan hingga napas Siska tersengal. 1384Please respect copyright.PENANAggkCL84Xmf
“Diam, jalang. Deni bilang memekmu enak banget.” Suaranya dingin, sadis.
Siska panik. “Riski… jangan… lepas leherku… aku nggak tahan…” 1384Please respect copyright.PENANAqGA6nPImpL
Tapi Riski malah mempererat cekikannya sambil menarik rok Siska ke atas. Dia mengentot Siska di kap mobil yang masih hangat, kasar dan cepat, sambil terus mencubit puting dan menampar bokong. Siska menangis lagi, tapi orgasme pertama datang paksa—tubuhnya kejang hebat meski otaknya berteriak1384Please respect copyright.PENANA7dVa2JRyBx
ini salah… ini dosa besar…
Hari-hari berikutnya, denial Siska semakin kuat. Setiap kali Faris menelepon dari Jakarta, Siska tersenyum manis di layar video call, tapi memeknya masih bengkak dan berdenyut mengingat malam sebelumnya. 1384Please respect copyright.PENANAPLVV8e2ESw
Aku nggak boleh begini… Faris sayang aku…
Lalu datang Galih, tetangga depan, 35 tahun, suka main bola, badan besar tapi sikapnya lembut. Dia datang pura-pura pinjam gula sore hari. Begitu pintu tertutup, Galih tidak langsung kasar. Dia duduk Siska di meja makan, berlutut di depannya, dan menghisap memek Siska dengan sabar, lidahnya menari pelan di klitoris, dua jari mengocok dalam-dalam sambil bibirnya menghisap lembut. Bau memek Siska yang manis bercampur keringat Galih memenuhi ruangan.
Siska mencoba menolak. “Galih… jangan… aku… aku nggak mau…” 1384Please respect copyright.PENANA8Z5427mXaN
Tapi Galih terus, pelan, penuh perhatian. Dia membuat Siska orgasme tiga kali hanya dengan mulut dan jari sebelum akhirnya memasukkan kontolnya yang paling besar. Gerakannya lambat tapi dalam, setiap hantaman disertai kecupan di leher dan bisikan, 1384Please respect copyright.PENANA0eUXCGIXPq
“Enak ya, Siska… biar aku yang kasih yang Faris nggak bisa kasih…”
Untuk pertama kalinya, Siska tidak menangis sepanjang sesi. Dia hanya menggigit bibir, napasnya tersengal, dan akhirnya…1384Please respect copyright.PENANAEKUs96gLfO
“Pelan, Mas… ahh… lebih dalam sedikit…”
Rizal, tetangga belakang yang paling muda (26 tahun), yang paling nakal. Suatu malam dia memanjat pagar belakang dan masuk lewat jendela kamar Siska. Siska terbangun dengan kontol Rizal sudah di mulutnya. Rizal menyeringai, 1384Please respect copyright.PENANAucZcPQLEO1
“Sst… tetangga pada tidur, Bu. Jangan berisik.”
Dia mengentot Siska dari belakang di teras belakang rumah, di bawah cahaya lampu taman yang redup. Setiap kali mobil tetangga lewat, Rizal menutup mulut Siska dengan telapak tangannya sambil terus menggenjot cepat. Risiko ketahuan membuat adrenalin Siska meledak. 1384Please respect copyright.PENANAI1E3BLdYM7
“Rizal… nanti ketahuan… ahh… jangan di sini…” bisik Siska panik, tapi pinggulnya malah mendorong ke belakang.
Dua bulan berlalu.
Denial berubah jadi rasa bersalah yang menusuk setiap malam saat Faris pulang. Siska membersihkan rumah sambil menangis diam-diam, membersihkan noda yang tak terlihat. Tapi perlahan, rasa bersalah itu pudar, digantikan oleh ketagihan yang dalam. Setiap kali Faris berangkat dinas, perut Siska bergetar penuh antisipasi.
Akhirnya datang justification yang pelan tapi pasti. 1384Please respect copyright.PENANAatRz46JkxM
Faris jarang kasih aku ini… dia sibuk… aku juga butuh… aku perempuan juga…
Sekarang Siska punya jadwal diam-diam:
- Senin dan Kamis malam: Deni di rumah, dominan, penuh ancaman dan kontrol.
- Selasa sore: Riski di garasi, cekikan dan hantaman kasar yang bikin Siska orgasme sambil sesak napas.
- 1384Please respect copyright.PENANACfIHnSaNtv
- Rabu malam: Galih di kamar tamu, foreplay panjang yang membuat Siska menangis kenikmatan.
- Akhir pekan: Rizal tiba-tiba lewat belakang, public risk yang bikin jantung Siska berdegup kencang.
Malam ini, Faris baru saja berangkat dinas lagi. Siska berdiri di depan cermin, memilih tanktop putih yang paling transparan. Dia tersenyum kecil ke bayangannya sendiri, memeknya sudah basah hanya karena memikirkan malam ini.
“Siapa dulu ya malam ini…” bisiknya pelan, jari-jarinya tanpa sadar menyentuh puting yang sudah mengeras.
Di grup chat rahasia empat tetangga itu, foto memek Siska yang bengkak dan basah baru saja terkirim.
Perselingkuhan itu sudah bukan rahasia lagi bagi mereka. Bagi Siska, itu sudah menjadi candu yang tak bisa—dan tak mau—dia hentikan.
ns216.73.216.105da2


