Malam itu, sekitar pukul 10 malam, WA dari Bu Rina masuk ke HP-ku:
“Mas Andi, malam ini ada tamu tetap. Pria 45 tahun, suka liat janda dientot orang lain. Mau ikut? Kamu boleh genjot aku sambil dia nonton dulu, terus kita bertiga. Dia bayar 2 juta, kamu gratis full akses.”
Aku langsung jawab: “Datang sekarang.”
Begitu aku masuk lewat pintu belakang, suasana rumah Bu Rina sudah panas. Lampu ruang tengah sengaja dibuat remang-remang dengan lampu merah kecil. Bu Rina sudah siap melayani. Dia memakai lingerie hitam transparan yang sangat seksi — bra rendah yang hampir nggak bisa nahan payudara besarnya, celana dalam tali tipis yang nyaris nggak nutup memeknya, dan stoking hitam sampai paha.
Di sofa duduk seorang pria tambun berusia sekitar 45 tahun, bernama Pak Budi. Dia sudah membuka kemeja, perutnya agak buncit, tapi kontolnya sudah setengah ngaceng di dalam celana pendek.
Bu Rina langsung menyambutku dengan ciuman panas, lidahnya masuk ke mulutku sambil tangannya meremas kontolku dari luar celana.
“Mas Andi… ini Pak Budi, klien tetap aku. Dia suka nonton janda seperti aku dientot kasar sama pria muda, baru ikut,” bisik Bu Rina di telingaku.
Pak Budi tersenyum lebar. “Wah, tetangga sendiri ya? Mantap. Aku bayar mahal biar bisa liat Bu Rina yang sok baik-baik ini dihajar habis-habisan.”
Bu Rina berlutut di depan kami berdua. Dia membuka celana Pak Budi dan celanaku secara bersamaan. Dua kontol langsung muncul di depan wajahnya. Kontol Pak Budi agak pendek tapi sangat gemuk, kepalanya besar seperti jamur. Kontolku lebih panjang dan lurus.
Bu Rina mulai melayani kami berdua bergantian. Dia mengisap kontol Pak Budi dalam-dalam sambil tangan kanannya memompa kontolku dengan gerakan cepat. Lalu dia pindah ke kontolku, menelan sampai pangkal, tenggorokannya berdenyut di kepala kontolku. Air liurnya menetes deras ke lantai.
“Mmmhh… dua kontol sekaligus… enak banget,” erang Bu Rina sambil lidahnya menjilat dari kontolku ke kontol Pak Budi.
Pak Budi memegang kepala Bu Rina dan mulai menggenjot mulutnya kasar. “Isap yang benar, pelacur! Tunjukin sama tetanggamu betapa murahannya kamu.”
Bu Rina tersedak, tapi matanya penuh nafsu. Air mata mengalir, maskara agak luntur. Aku ikut memegang rambutnya dari sisi lain, bergantian mendorong kontolku ke dalam mulutnya yang basah dan panas.
Setelah mulutnya benar-benar belepotan, Bu Rina berdiri dan membuka lingerie-nya. Tubuh telanjangnya yang montok langsung terpampang. Payudara besar bergoyang, putingnya sudah keras. Memeknya yang dicukur rapi sudah basah mengkilap.
Dia naik ke pangkuan Pak Budi yang duduk di sofa, membelakangi pria itu. Dengan tangan memegang kontol gemuk Pak Budi, Bu Rina menurunkan pinggulnya pelan-pelan sampai kontol itu masuk penuh ke dalam memeknya.
“Ahh… tebel banget… memekku penuh…” desah Bu Rina sambil mulai naik turun.
Pak Budi meremas payudara Bu Rina dari belakang, memilin putingnya keras sampai Bu Rina menjerit. Aku berdiri di depan mereka. Bu Rina langsung menarik kontolku ke mulutnya lagi, mengisapnya rakus sambil memeknya digenjot naik-turun oleh Pak Budi.
Suara “plak plak plak” dari pantat Bu Rina yang membentur paha Pak Budi semakin keras. Aku memegang kepala Bu Rina dan menggenjot mulutnya dalam-dalam, kontolku masuk sampai tenggorokan berkali-kali.
“Ganti posisi,” kata Pak Budi dengan suara serak.
Bu Rina turun dari pangkuan Pak Budi. Memeknya sudah merah dan menganga, cairan bening menetes dari lubangnya. Pak Budi membaringkan Bu Rina di sofa dengan posisi miring. Dia mengangkat satu kaki Bu Rina tinggi-tinggi, lalu memasukkan kontol gemuknya lagi ke memek Bu Rina dari samping.
Aku naik ke sofa, berlutut di depan wajah Bu Rina. Kontolku kembali masuk ke mulutnya. Sekarang Bu Rina benar-benar dihajar dari dua sisi sekaligus.
Pak Budi menggenjot memeknya dengan kuat, setiap dorongan membuat payudara Bu Rina bergoyang liar. Aku menggenjot mulutnya tanpa ampun, bola-bolaku menampar dagunya yang basah.
“Enak ya, Rin? Dientot tetangga sendiri sambil melayani tamu,” ejek Pak Budi sambil menampar pantat Bu Rina keras.
Bu Rina hanya bisa mendesah tertahan karena mulutnya penuh kontolku. “Mmmhh… enak… hancurkan aku…!”
Kami berganti posisi lagi. Kali ini Bu Rina dibaringkan telentang di karpet. Pak Budi berlutut di antara kakinya dan memasukkan kontolnya kembali ke memek Bu Rina. Aku naik ke dada Bu Rina, meletakkan kontolku di antara kedua payudaranya yang besar.
Bu Rina menekan payudaranya sendiri, membuat kontolku terjepit rapat. Aku mulai menggenjot di antara belahan payudaranya sambil Bu Rina menjulurkan lidahnya, menjilat ujung kontolku setiap kali maju.
Pak Budi semakin cepat menggenjot memeknya. “Aku mau cum di dalam dulu!”
Beberapa detik kemudian Pak Budi menggeram keras dan menyemburkan sperma panasnya jauh ke dalam rahim Bu Rina. Tubuh Bu Rina bergetar, memeknya berdenyut kuat mengejan kontol Pak Budi.
Begitu Pak Budi menarik kontolnya keluar, sperma kental langsung muncrat dari memek Bu Rina yang menganga. Aku langsung turun, menggantikan posisi Pak Budi. Aku masukkan kontolku yang sudah licin oleh air liur ke dalam memek Bu Rina yang penuh sperma Pak Budi.
Rasanya luar biasa licin dan panas. Aku menggenjotnya dengan brutal, setiap dorongan membuat sperma Pak Budi keluar dan membasahi bola-bolaku.
“Mas Andi… lebih kencang… genjot memek pelacur ini… campur sperma kalian berdua di dalam aku…!” jerit Bu Rina sambil memeluk pinggangku.
Pak Budi duduk di samping, memegang kepala Bu Rina dan memasukkan kontolnya yang masih setengah keras ke mulut Bu Rina lagi, membuatnya bersihkan sisa spermanya sendiri.
Aku semakin gila. Aku angkat kedua kaki Bu Rina ke pundakku, lalu menggenjot dengan sangat dalam dan cepat. Suara “plak plak plak” memenuhi ruangan. Payudara Bu Rina bergoyang liar, putingnya keras menantang.
Akhirnya aku tidak tahan. Dengan erangan keras aku menyemburkan sperma panasku jauh ke dalam memek Bu Rina, bercampur dengan sperma Pak Budi. Bu Rina orgasme hebat, tubuhnya kejang-kejang, memeknya menyemprot cairan bening bercampur sperma ke perutku.
Kami bertiga ambruk lemas. Bu Rina terbaring di karpet, memeknya menganga lebar, sperma putih kental dari dua pria mengalir deras ke lantai.
Pak Budi tersenyum puas sambil menghitung uang dan meletakkannya di meja. “Bagus sekali malam ini. Lain kali aku mau ajak temen lagi, boleh ya Rin? Mau liat janda ini dientot bertiga atau lebih.”
Bu Rina tersenyum lemah, tangannya mengusap memeknya yang belepotan. “Boleh, Pak… asal bayarnya sesuai… dan Mas Andi boleh ikut lagi.”
Setelah Pak Budi pulang, Bu Rina merangkak ke arahku, masih telanjang dan penuh sperma.
“Mas Andi… besok malam ada tamu lain. Mau ikut lagi? Kali ini mungkin lebih ekstrim…”
ns216.73.216.105da2


