Aku tinggal di sebuah kompleks perumahan kecil di pinggiran Surabaya. Rumahku persis di sebelah rumah Bu Rina, seorang janda berusia 38 tahun yang sudah dua tahun ditinggal mati suaminya. Bu Rina punya tubuh yang bikin orang susah berkonsentrasi: kulit sawo matang mulus, payudara besar yang selalu terlihat kencang meski dibungkus baju rumah biasa, pinggang ramping, dan bokong montok yang bergoyang pelan setiap kali dia jalan.
Aku sering melihatnya di teras, pakai daster tipis tanpa bra, putingnya samar-samar kelihatan. Kadang dia nyapa aku dengan senyum manis,
“Mas Andi, lagi apa? Mampir dong, minum teh.” Aku selalu menolak sopan karena takut nggak bisa menahan diri. Tapi malam itu, semuanya berubah.
Sekitar pukul 11 malam, aku baru pulang dari kerja lembur. Saat melewati pagar rumah Bu Rina, aku mendengar suara aneh. Suara desahan perempuan yang tertahan, diikuti suara pria yang menggeram. Aku berhenti, penasaran. Pintu depan rumahnya sedikit terbuka. Dengan hati-hati aku mendekat dan mengintip dari celah.
Di ruang tamu yang remang-remang, Bu Rina sedang berlutut di depan seorang pria paruh baya yang berdiri telanjang. Rok dasternya sudah terangkat sampai pinggang, memperlihatkan pantat bulatnya yang putih. Pria itu memegang kepala Bu Rina sambil mendorong pinggulnya maju mundur. Bunyi
“gluk gluk gluk” basah terdengar jelas. Bu Rina mengisap kontol pria itu dengan rakus, air liurnya menetes ke lantai. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang setiap kali kepalanya maju mundur.
“Enak banget mulutmu, Rin… Ahh, janda pelacur paling top memang,” erang pria itu sambil menarik rambut Bu Rina.
Bu Rina melepaskan kontol itu sebentar, lidahnya menjilat ujungnya yang mengkilap.
“Mau keluar di mulut atau di memekku malam ini, Pak?” tanyanya dengan suara genit, nada suaranya sangat berbeda dari biasanya yang lembut dan sopan.
Aku terpaku. Ternyata Bu Rina, janda baik-baik yang selalu menyapa tetangga dengan ramah, adalah pelacur. Pikiranku berputar. Berapa banyak pria yang sudah masuk ke rumah ini?
Pria itu menarik Bu Rina berdiri, membalik tubuhnya, lalu mendorongnya membungkuk di atas meja makan. Dia mengangkat daster Bu Rina sampai ke punggung, lalu langsung menusukkan kontolnya yang besar dan berurat ke dalam memek Bu Rina dari belakang. Bu Rina mendesah keras, “Aduh… besar sekali, Pak… Lambat dulu… Ahh!”
Pria itu langsung menggenjot dengan kuat. Suara benturan daging
“plak plak plak” memenuhi ruangan. Payudara Bu Rina bergoyang liar di bawah daster. Setiap dorongan, Bu Rina menjerit nikmat, “Iya… gitu… dalem… fuck memek janda ini…!”
Aku nggak tahan lagi. Kontolku sudah keras banget di dalam celana. Tanpa sadar tanganku meremasnya sendiri sambil terus mengintip.
Tiba-tiba Bu Rina menoleh ke arah pintu. Matanya bertemu dengan mataku. Aku kaget, mau lari, tapi dia malah tersenyum nakal sambil tetap mendesah. Dia mengedipkan mata ke arahku, seolah bilang “ikutlah”.
Pria itu semakin cepat menggenjot, akhirnya menggeram dan menyemburkan spermanya di dalam memek Bu Rina. Begitu pria itu selesai dan menarik kontolnya, cairan putih kental langsung menetes dari memek Bu Rina yang merah dan mengembang.
Bu Rina berdiri, dasternya acak-acakan, memeknya masih terbuka. Dia berjalan ke pintu sambil tersenyum lebar ke arahku.
“Mas Andi… sudah lama ngintip ya?” katanya pelan, suaranya masih agak ngorok karena nafsu. “Masuklah. Jangan cuma nonton doang.”
Aku ragu sebentar, tapi nafsu sudah menguasai. Begitu masuk, Bu Rina langsung menutup pintu dan mengunci. Pria tadi sudah pakai baju dan langsung pamit, seolah ini rutinitas biasa.
“Jadi… Bu Rina ternyata…” kataku gugup.
“Iya, Mas. Aku janda, tapi butuh uang dan butuh kontol juga,” katanya sambil tertawa kecil. Dia melepas dasternya sama sekali. Tubuhnya telanjang sempurna di depanku: payudara besar dengan puting cokelat besar, memek yang baru saja dientot dan masih menetes sperma orang lain, paha mulus.
Dia mendekat, tangannya langsung meremas kontolku dari luar celana. “Mau coba janda pelacur tetangga sendiri? Aku kasih diskon spesial buat tetangga… gratis malam ini.”
Bu Rina berlutut di depanku, membuka resleting celanaku, dan langsung menyemburkan kontolku yang sudah ngaceng keras. Dia menjilat dari pangkal sampai ujung, lalu mengisapnya dalam-dalam. Mulutnya panas dan basah, lidahnya berputar-putar di kepala kontolku. “Mmmhh… kontol Mas Andi enak juga… besar dan wangi.”
Aku memegang kepalanya dan mulai menggenjot mulutnya. Bu Rina nggak protes, malah menelan sampai ke tenggorokan, matanya berkaca-kaca tapi penuh nafsu.
Setelah beberapa menit, dia berdiri, membalik badan, lalu membungkuk di sofa sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. Memeknya yang masih penuh sperma orang lain terbuka lebar di depanku.
“Masukin aja, Mas… ga usah pake kondom. Memek janda ini sudah basah banget. Campur aja sama sperma tamu tadi.”
Aku nggak bisa menahan diri lagi. Aku pegang pinggulnya yang montok, lalu mendorong kontolku masuk ke dalam memeknya yang licin dan panas. Rasanya luar biasa — basah, hangat, dan agak longgar karena baru saja dientot, tapi tetap enak.
“ Ahh… enak, Mas… genjot yang kencang… aku suka yang kasar,” erang Bu Rina sambil menggoyang pantatnya ke belakang.
Aku menggenjotnya dengan liar. Setiap dorongan, sperma pria tadi ikut keluar dan membasahi kontolku. Suara “plak plak plak” semakin keras. Aku meremas payudaranya dari belakang, memilin putingnya yang keras.
“Rina… kamu beneran pelacur ya? Berapa orang seminggu?” tanyaku sambil terus menggoyang.
“Kadang tiga… kadang lima… tergantung order… Ahh… iya… dalem banget…! Kadang aku kerja di hotel juga… kadang di rumah seperti ini,” jawabnya sambil mendesah.
Aku semakin gila. Aku tarik rambutnya pelan, membuat punggungnya melengkung, lalu menggenjot lebih cepat. Bu Rina menjerit-jerit nikmat, tubuhnya gemetar.
“Keluarin di dalam aja, Mas… isi memek janda pelacur ini…!”
Dengan erangan keras, aku menyemburkan sperma panasku jauh ke dalam rahimnya, bercampur dengan sperma pria sebelumnya. Bu Rina orgasme bersamaan, memeknya berdenyut-denyut kuat, memerah kontolku.
Kami ambruk di sofa, napas tersengal. Sperma menetes dari memeknya yang merah.
Bu Rina menoleh ke arahku, tersenyum nakal sambil mengusap memeknya yang belepotan.
“Mulai sekarang, kapan pun Mas Andi mau, tinggal ketuk pintu. Janda tetangga ini siap melayani… dengan harga spesial atau gratis, tergantung mood-ku.”
Sejak malam itu, aku jadi pelanggan tetap Bu Rina. Kadang aku datang malam-malam, kadang siang hari saat dia baru selesai melayani tamu lain. Memeknya selalu basah, selalu siap, dan selalu penuh cerita panas tentang pria-pria yang sudah membayar untuk menidurinya.
Janda tetangga yang sopan di depan umum, tapi pelacur kelas kakap di balik pintu tertutup.
ns216.73.216.105da2


