Pagi harinya, Rina sudah berpakaian sekolah—rok pendek yang hampir nunjukin pantat, kemeja putih yang dua kancing atasnya sengaja dilepas. “Kak, Rina berangkat dulu ya. Janji sama Pak RT jam istirahat siang,” katanya sambil cium pipiku dan meremas kontolku sebentar.
Siang itu aku iseng lewat garasi Pak RT yang kebetulan kosong. Dari celah pintu yang nggak rapat, aku denger suara Rina yang sudah familiar.
“Pak… kontol Bapak gede juga ya… Rina kira Bapak cuma gendut doang,” kata Rina sambil tertawa genit.
Pak RT, pria 50-an yang gendut dan botak, lagi duduk di kursi plastik, celananya udah melorot. Kontolnya memang gede meski pendek—tebal banget. Rina udah jongkok di depannya, roknya disingsing ke pinggang, memeknya keliatan basah.
“Lo emang jalang ya, Rin. Tiap hari lewat sini pasti lo goyang pantat. Sekarang hisap kontol Om dulu,” perintah Pak RT dengan suara serak.
Rina langsung melahap kontol Pak RT dengan rakus. “Slurp… gluck… gluck…” Kepalanya maju mundur cepat. Pak RT pegang kepalanya dan dorong kasar. “Gitu… hisap lebih dalam. Om suka cewek muda yang bisa deepthroat.”
Rina angkat muka, ludah menetes. “Rina mau dientot di garasi ini, Pak. Rina mau kasar. Rina suka kalau dipukul pantatnya.”
Pak RT angkat Rina, berdiri, dan tekuk badan Rina di atas meja kerja. Kontolnya langsung ditusuk ke memek Rina dari belakang. “Plak! Plak! Plak!” Entotannya kasar dan cepat. Rina jerit-jerit kenikmatan.
“Pak! Lebih keras! Rina mau memeknya robek! Rina anak jalang Bapak sekarang!” teriak Rina.
Pak RT tampar pantat Rina berulang-ulang sampe merah. “Lo emang murahan. Besok-besok Om panggil temen-temen Om buat gangbang lo di sini.”
Rina orgasme sambil tertawa. “Iya Pak… Rina mau digangbang… Rina mau dikocok banyak kontol…”
Pak RT meledak di dalam memek Rina, sperma kentalnya meluber keluar. Rina langsung berlutut lagi, membersihkan kontol Pak RT dengan mulutnya sampai bersih.
“Besok jam istirahat lagi ya, Pak. Rina mau yang lebih kasar,” katanya sambil mengedipkan mata.
ns216.73.216.105da2


