Aku pulang kuliah sore itu, keringat masih menempel di baju karena panas Jakarta yang menyiksa. Begitu membuka pintu rumah, sudah kudengar suara desahan pelan dari kamar Rina, adikku yang berusia 19 tahun. Rina… gadis itu memang sudah gila sejak umur 17. Tubuhnya yang mungil tapi berisi—payudara montok ukuran D-cup, pinggul lebar, dan memek yang selalu basah—membuatnya jadi maniak seks sejati. Dia nggak peduli siapa, asal kontolnya keras dan bisa ngenjot dia sampe mampus.
Aku dorong pintu kamarnya pelan. Rina lagi telanjang bulat di tempat tidur, tangan kanannya sibuk mengocok memeknya yang sudah banjir, mata terpejam, bibir merahnya menggigit bibir bawah. “Kak… Kak Andi… pulang… cepet… Rina sange banget hari ini…” gumamnya tanpa buka mata.
Aku langsung ngaceng. Kontolku yang sudah 18 cm langsung menegang di dalam celana. “Rina, lo lagi ngapain? Pintu rumah nggak dikunci, tetangga bisa denger loh,” kataku sambil melepas baju.
Rina buka mata, senyum nakalnya langsung muncul. Dia bangun, merangkak ke pinggir kasur seperti kucing liar. “Emang sengaja, Kak. Biar Pak RT yang gendut itu denger dan ngimpiin Rina malam ini. Tapi sekarang… Rina mau kontol Kakak dulu. Rina kangen banget.”
Tanpa nunggu jawaban, tangannya sudah membuka resleting celanaku. Kontolku langsung melompat keluar, kepalanya sudah licin oleh precum. Rina langsung melongo, matanya berbinar seperti nemu mainan baru. “Wah… gede banget hari ini. Rina suka yang gede gini.”
Dia nggak buang-buang waktu. Mulutnya langsung melahap kontolku sampai ke pangkal. “Gluck… gluck… slurp…” Suara hisapannya basah dan rakus. Lidahnya muter-muter di kepala kontol, tangannya meremas bijiku pelan. Aku pegang kepalanya, dorong pelan ke depan.
“Gitu… hisap lebih dalam, Rin. Kakak suka kalau lo ngorok gitu,” desisku.
Rina angkat muka sebentar, ludah menetes dari bibirnya. “Rina mau Kakak kasar. Rina mau dicekik sama kontol Kakak. Entot mulut Rina sampe Rina muntah air liur.”
Aku langsung pegang kepalanya dua tangan dan ngentot mulutnya brutal. “Bruk… bruk… bruk!” Kontolku masuk keluar tenggorokannya tanpa ampun. Rina ngorok-ngorok, air mata keluar, tapi matanya penuh kenikmatan. Ludahnya berbusa di dagu dan menetes ke payudaranya yang bergoyang-goyang.
“Eughh… eughh… Kak… lebih kasar… Rina mau dicekik!” erangnya di sela-sela kontol yang nyumbat mulutnya.
Aku tarik kontol keluar, Rina langsung megap-megap napas, tapi tangannya langsung meraih kontolku lagi dan mengocoknya cepat. “Kak… sekarang entot Rina. Rina memeknya udah banjir. Tapi Rina mau yang brutal. Rina mau Kakak bikin memek Rina bengkak.”
Aku dorong dia telentang, angkat kedua kakinya sampe ke bahu, lalu tusuk memeknya sekali hentak. “Aaaahhh! Kakak! Besar bangettt!” jerit Rina. Memeknya langsung ngisap kontolku erat, licin banget karena cairannya yang melimpah.
Aku ngentot dia dengan kecepatan gila. “Plak! Plak! Plak!” Suara benturan paha kami memenuhi kamar. Payudaranya bergoyang liar. Aku cubit putingnya keras sampe dia menjerit.
“Rina suka yang gini, Kak! Entot Rina sampe rusak! Rina milik Kakak… milik siapa pun yang mau ngejilatin memek Rina!” teriaknya sambil mata melotot karena kenikmatan.
Aku balik badannya, posisi doggy. Kontolku langsung masuk lagi dari belakang. Aku tampar pantatnya keras. “Plak! Plak!” Pantatnya merah. “Lo emang jalang, Rin. Besok Kakak liat lo dientot siapa lagi?”
Rina tertawa nakal di sela desahan. “Siapa aja, Kak… tetangga sebelah… satpam komplek… guru matematika Rina… bahkan temen-temen sekelas Rina. Rina nggak peduli. Rina cuma mau kontol… banyak kontol…”
Aku tarik rambutnya ke belakang, ngentot lebih dalam. “Sekarang Kakak mau entot lubang belakang lo.”
Rina langsung menggoyang pantatnya. “Iya Kak… Rina suka dianal. Lubang pantat Rina udah longgar gara-gara sering dientot kasar. Masukin… tanpa pelan-pelan!”
Aku ludahi kontolku yang basah oleh cairan memeknya, lalu tekan ke lubang pantatnya yang kecil tapi sudah terbiasa. “Crrreeeettt!” Masuk sekali hentak sampe pangkal. Rina menjerit kenikmatan. “Aaaahhh! Kakak! Robek pantat Rinaaa!”
Aku ngentot pantatnya brutal, tangan kananku meremas memeknya, jari tengahku masukin ke dalam memek yang berdenyut. Rina orgasme pertama kali dalam hitungan menit. Tubuhnya kejang-kejang, memeknya muncrat ke kasur. “Aku… keluar… Kak… Rina squirt!!”
Aku nggak berhenti. Aku terus ngentot pantatnya sampe aku juga meledak di dalam. Sperma panasku muncrat deras ke dalam ususnya. Rina ambruk ke kasur, pantatnya masih terangkat, lubang pantatnya menganga dan mengeluarkan sperma putihku yang kental.
Dia balik badan, senyum puas. “Makasih Kak… tapi ini baru pemanasan. Besok… Rina ada janji sama Pak RT sebelah. Dia bilang mau bayar Rina 500 ribu kalau bisa dientot di garasinya.”
Aku tertawa sambil mengusap rambutnya yang basah keringat. “Lo emang nggak ada obat, Rin.”
ns216.73.216.105da2


