Anisa mengangguk lemah, tubuhnya sudah menyerah. Pak Dadang memposisikan dirinya di belakang, ujung penisnya menyentuh pintu masuk, lalu dorong pelan. Rasa penuh itu... oh, luar biasa. Lebih besar, lebih panjang, mengisi setiap inci hingga Anisa merasa seperti akan pecah.
“Ahh... Pak... besar sekali...” erangnya, tangannya mencengkeram seprai. Pak Dadang mulai bergerak, lambat dulu, keluar masuk dengan ritme yang sempurna, tangannya meremas pantat Anisa, sesekali menampar pelan untuk menambah sensasi.
“Enak kan, Bu? Lebih enak kontol saya kan dari Rifky? Katakan!” desaknya, suaranya parau penuh nafsu.
“Ya... ya, Pak... lebih enak... kontol Bapak ahh...” Anisa sudah hilang kendali, pinggulnya ikut bergerak, menyambut setiap dorongan.
Pak Dadang mempercepat, suara benturan tubuh mereka bercampur erangan dan hujan di luar. Ia menarik rambut Anisa pelan, membuatnya melengkung, mulutnya menggigit telinga. “Bu Ustadzah.... ketat sekali... aku bisa setiap malam kalau gini.”
Anisa tak jawab, hanya erangan yang semakin keras. Gelombang orgasme mendekat, tubuhnya kejang, kakinya gemetar. Pak Dadang merasakannya, tangannya turun lagi, menggosok klitoris sambil terus dorong. “Ayo, Bu... keluar bareng aku.” Dorongan terakhir itu dalam dan kuat, membuat Anisa berteriak pelan, tubuhnya meledak dalam kenikmatan yang selama ini tak ia rasakan. Pak Dadang mengikuti, menyemprotkan panas di dalamnya, desahannya panjang dan puas.
Mereka ambruk ke ranjang, napas tersengal. Anisa terbaring di sana, tubuhnya lemas, pikirannya kosong—sudah lupa lagi pada segalanya, hanya sensasi melayang yang tersisa. Pak Dadang memeluknya dari belakang, tangannya menyentuh payudaranya pelan.
“Bagus, Bu. Rahasia aman. Besok lagi ya?” bisiknya. Anisa tak jawab, tapi di hati, ia tahu: ini baru awal dari lingkaran baru yang lebih gelap. Hujan masih turun, menyembunyikan dosa malam itu.
Mereka berbaring sebentar di ranjang, napas masih tersengal, tubuh Anisa basah kuyup oleh keringat dan cairan yang bercampur. Pak Dadang memeluknya dari belakang, tangannya pelan mengelus perut Anisa yang rata, jarinya berputar-putar di sekitar pusar, membuat gelitik sensual yang membuat Anisa menggeliat tanpa sadar.
“Bu Ustadzah... masih kuat? Babak kedua yuk. Aku belum puas,” bisiknya di telinga Anisa, napas panasnya menyentuh kulit leher, membuat bulu kuduknya merinding lagi. Anisa menutup mata, hati kecilnya berteriak "berhenti", tapi tubuhnya sudah terbakar ulang—gairah yang selama ini tertahan kini seperti api yang tak bisa dipadamkan.
“Pak... ini salah... tapi... ya sudah,” gumamnya lemah, suaranya lebih seperti undangan daripada penolakan.
Pak Dadang tersenyum, membalik tubuh Anisa hingga mereka berhadapan. Matanya menatap dalam, penuh nafsu yang matang, berbeda dari mata Rifky yang polos dan gugup. Ia menarik Anisa ke atas dadanya, mulutnya langsung menangkap bibir Anisa dalam ciuman dalam—lidahnya menari, menjelajah setiap sudut mulut Anisa, rasa asin keringat bercampur manis ludah mereka.
Tangan Pak Dadang turun ke pantat Anisa, meremas kedua belahannya dengan kuat, jarinya menyusup ke celah, menyentuh anusnya pelan, membuat Anisa mendesah ke dalam ciuman itu.
“Ibu suka ya? Aku tahu titik lemah perempuan seperti Ibu,” bisiknya sambil gigit bibir bawah Anisa pelan.
Anisa sudah hilang kendali lagi. Tubuhnya bergesekan dengan tubuh Pak Dadang yang bidang dan berotot dari kerja keras, penisnya yang masih setengah tegang mulai bangkit lagi, menekan perut Anisa seperti tongkat panas. Ia mendorong Anisa naik, membuatnya duduk mengangkang di dada Pak Dadang.
“Ayo, Bu. Kita main 69. Biar adil, saling puasin.” Anisa ragu sebentar, wajahnya memerah, ini posisi yang tak pernah ia lakukan dengan Ustadz Basri, terlalu liar, terlalu intim tapi dengan Rifky dan mantan suaminya terdahulu sudah sangat sering.
Tapi Pak Dadang tak beri kesempatan; tangannya memegang pinggul Anisa, membaliknya pelan hingga wajah Anisa tepat di atas penisnya yang kini berdiri penuh lagi, panjang dan tebal, urat-uratnya berdenyut seperti sungai yang mengalir. Di saat yang sama, mulut Pak Dadang tepat di bawah vagina Anisa yang masih basah dan berdenyut sisa orgasme sebelumnya.
“Mulai dulu, Bu. Jilat aku lagi,” perintah Pak Dadang pelan, suaranya parau. Anisa menurut, tangannya menggenggam pangkal penis itu—hangat, keras, dan licin oleh cairan mereka. Lidahnya menyentuh ujungnya pelan, menjilat lingkaran di sekitar kepala, rasa asin dan manis memenuhi mulutnya. Ia mulai hisap pelan, mulutnya naik turun, lidah berputar-putar di batangnya, sementara tangannya memijat bola-bola di bawahnya.
Pak Dadang mendesah panjang, “Ahh... bagus, Bu... lebih dalam...” Sebagai balasan, mulutnya langsung menyerang vagina Anisa—lidahnya menjilat panjang dari klitoris ke lubang, menyedot cairan yang mengalir, giginya menggigit pelan bibir dalamnya. Sensasi itu membuat Anisa melengkung, pinggulnya turun tanpa sadar, menekan wajah Pak Dadang lebih dalam.
“Oh... Pak... enak sekali...” erang Anisa, suaranya terputus oleh hisapannya sendiri. Pak Dadang tak berhenti; lidahnya memasuki lubang Anisa, bergerak keluar masuk seperti ular yang lincah, sementara jempolnya menggosok klitoris dengan lingkaran kecil, membuat Anisa gemetar hebat.
Ia balas dengan lebih ganas—mulutnya menelan penis Pak Dadang lebih dalam, hingga menyentuh tenggorokan, lidahnya menekan urat besar di bawah batang. Tapi Pak Dadang ingin lebih; tangannya membuka belahan pantat Anisa, jarinya menyentuh anusnya yang ketat, melumurinya dengan cairan dari vagina, lalu pelan memasukkan satu jari. “Relaks, Bu. Biar aku jilat sini juga.”
Anisa terkejut, tubuhnya menegang, tapi sensasi baru itu anehnya menyenangkan—jarinya bergerak pelan di dalam anus, sementara lidahnya pindah ke sana, menjilat lingkaran ketat itu dengan lembab dan hangat. “Pak... itu... kotor...” protes Anisa lemah, tapi ia tak berhenti hisap.
Malah, ia balas: tangannya memegang pantat Pak Dadang, membuka belahannya, dan lidahnya turun ke anusnya, menjilat pelan sambil terus pompa penis dengan tangan. Rasa itu baru bagi Anisa—asin, lembab, tapi sensual, membuat Pak Dadang mengerang keras,
“Ya Allah... Bu Ustadzah... jilat lebih dalam... ahh...” Mereka saling jilat anus sekarang, lidah bergerak liar, jari-jari menyusup, sementara mulut dan tangan tak berhenti puaskan yang depan. Tubuh mereka bergoyang dalam ritme 69 yang panas, keringat menetes, erangan bercampur suara hujan di luar.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, Pak Dadang membalik Anisa lagi, membuatnya telentang. “Sekarang ganti gaya, Bu. Doggy style, biar aku dorong dari belakang.” Anisa berlutut, tangan memegang kepala ranjang, pantatnya terangkat tinggi. Pak Dadang berlutut di belakang, penisnya menyentuh pintu masuk vagina lagi, lalu dorong kuat—masuk penuh dalam satu hentakan, membuat Anisa berteriak kenikmatan.
“Ahh... Pak... dalam sekali...” Ia mulai gerak, cepat dan dalam, tangannya meremas payudara Anisa dari belakang, jarinya memilin puting hingga mengeras. Lalu ganti ke missionary—Pak Dadang di atas, kaki Anisa di bahunya, membuat penetrasi lebih dalam, mata mereka bertatapan saat ia dorong ritmis, mulutnya menyedot payudara Anisa bergantian.
“Cowgirl yuk, Bu. Kamu yang atur,” bisiknya, membalik tubuh hingga Anisa di atas. Anisa naik, memasukkan penis itu sendiri, lalu mulai naik turun pelan, pinggul berputar seperti dansa sensual.
Pak Dadang memegang pinggulnya, membantu dorong dari bawah, mata tak lepas dari payudara Anisa yang bergoyang. “Lebih cepat, Bu... ahh... ketat banget...” Anisa mempercepat, tubuhnya melengkung, tangannya memegang dada Pak Dadang untuk keseimbangan. Mereka ganti lagi ke spooning—berbaring miring, Pak Dadang dari belakang, penisnya masuk sambil tangannya menyentuh klitoris, membuat Anisa orgasme kedua kali, tubuhnya kejang hebat, cairan menyemprot ke seprai.
Akhirnya, saat Pak Dadang mendekati klimaks lagi, ia tarik keluar, membuat Anisa berlutut di lantai. “Buka mulut, Bu. Aku mau keluar di sini.” Anisa menurut, lidah terjulur, dan Pak Dadang pompa sendiri hingga menyemprotkan panas ke mulut dan wajah Anisa. Ia telan sebagian, sisanya menetes ke dagu.
Mereka ambruk lagi ke ranjang, tubuh saling peluk, napas berat. Anisa sudah benar-benar lupa—lupa dosa, lupa ancaman, hanya kenikmatan yang melayang di pikirannya. Pak Dadang pandai sekali, membuatnya seperti boneka nafsu. “Besok lagi ya, Bu?” bisiknya. Anisa tak jawab, tapi di hati, ia tahu ini tak akan berhenti malam ini saja. Hujan reda pelan, tapi badai di hatinya baru dimulai.
Jam setengah dua dini hari, hujan sudah reda sepenuhnya, meninggalkan udara dingin yang menyusup lewat celah jendela. Pak Dadang berdiri pelan dari ranjang, tubuhnya masih basah keringat tapi wajahnya puas seperti kucing yang baru saja menyantap mangsanya. Ia memandang Anisa yang kini terlelap di seprai yang kusut, tubuhnya telanjang di bawah selimut tipis, napasnya teratur tapi ada senyum kecil di bibirnya—senyum kepuasan yang tak bisa disembunyikan.
Rambutnya acak-acakan, bekas gigitan dan ciuman merah di leher dan payudaranya seperti tanda perang yang manis. Pak Dadang tersenyum sendiri, mengenakan sarungnya kembali, lalu baju koko yang sudah kusut. “Bu An... besok lagi ya. Aku janji, rahasia aman,” bisiknya pelan, mencium kening Anisa yang tak sadar.
Ia melangkah keluar kamar hati-hati, memastikan tak ada suara yang membangunkan tetangga. Pintu depan dibuka pelan, dan ia menghilang ke kegelapan malam, motornya meraung samar di kejauhan. Rumah kembali sunyi, hanya suara jam dinding yang berdetak lambat, seperti pengingat waktu yang terus berjalan meski dosa baru saja bertambah.
Anisa tidur lelap, tubuhnya lelah tapi ringan seperti setelah badai yang menyegarkan. Dalam mimpi samar-samar, ia melihat dirinya sendiri—bukan ustadzah yang alim, tapi perempuan biasa yang haus akan kenikmatan yang selama ini tertahan. Kalau tahu Pak Dadang punya stamina yang sangat gagah seperti itu, mungkin sudah dari dulu ia layani.
Bukan Rifky yang masih bocah, tapi bapaknya yang matang, yang tahu setiap sudut tubuh perempuan, yang bisa membuatnya melayang berjam-jam tanpa henti. Tiga ronde malam ini, berbagai gaya yang membuatnya orgasme berkali-kali, sampai kakinya lemas dan suaranya parau. Ya Allah, ampuni aku, gumamnya dalam tidur, tapi senyum itu tetap ada.
^*^
ns216.73.216.147da2


