Air mata Anisa mengalir pelan, tapi Pak Dadang tak terlihat marah. Malah, ia tersenyum aneh, matanya melirik tubuh Anisa dari atas ke bawah.
“Maaf? Bu Ustadzah minta maaf? Saya nggak butuh maaf, Bu. Rifky trauma, merasa berdosa berat—dia bilang ke saya kemarin, nangis minta ampun. Tapi saya mikir, daripada anak saya yang masih bocah itu yang tanggung, mending... saya aja yang ganti. Tutup mulut saya, Bu. Kasih jatah ke saya. Pasti lebih memuaskan daripada sama Rifky. Saya janji, rahasia aman. Nggak ada video, nggak ada yang tahu. Cuma kita berdua.”
Anisa terpaku, shock bercampur mual. “Pak... apa... apa maksud Bapak? Ini... ini nggak bener. Tolong jangan...”
Pak Dadang berdiri pelan, mendekat selangkah. “Pikir baik-baik, Bu. Kalau nggak, besok pagi seluruh kampung tahu. Pilih mana? Aku tunggu jawabannya sekarang.” suara Pak Dadang mulai meninggi.
Udara ruangan tiba-tiba terasa panas, penuh rahasia yang mengancam meledak, dan Anisa tahu, malam ini mungkin jadi awal dari mimpi buruk baru.
Anisa terduduk lemas di kursi, tangannya memegang tepi meja seolah itu satu-satunya penyangga agar ia tak ambruk. Wajahnya pucat seperti kain kafan, mata membelalak menatap Pak Dadang yang kini berdiri di depannya, senyum tipisnya seperti pisau yang siap menyayat.
Hujan di luar semakin deras, petir sesekali menyambar, menerangi ruangan tamu yang tiba-tiba terasa sempit dan pengap. Udara penuh bau tanah basah bercampur keringat, keringat ketakutan Anisa, dan mungkin, nafsu Pak Dadang.
“Pak... tolong... jangan begini,” gumam Anisa, suaranya pecah seperti kaca retak. Air matanya mengalir pelan, tapi tak ada isak. Hanya napas tersengal, dada naik turun tak beraturan.
“Aku... aku istri ustadz. Ini dosa besar. Rifky aja sudah cukup bikin aku sengsara. Tolong... kasihani aku. Aku bayar aja, Pak. Uang tabungan aku kasih. Atau... apa pun, selain ini.”
Pak Dadang tertawa pelan, suara itu rendah dan menggema di ruangan sunyi, membuat bulu kuduk Anisa merinding. Ia melangkah lebih dekat, cukup dekat hingga Anisa bisa mencium bau rokok kretek yang menempel di baju kokonya.
“Bayar? Uang? Bu Ustadzah, aku nggak butuh uang. Warungku cukup. Yang aku butuh... ya ini.” Tangannya menyentuh bahu Anisa pelan, jari-jarinya kasar dari kerja keras, tapi sentuhannya seperti ular yang melilit.
“Daripada sama Rifky yang masih hijau, mending sama aku. Aku tahu cara bikin Bu Ustadzah puas. Dan rahasia aman selamanya. Besok pagi, kalau Ibu tolak... ya, seluruh kampung tahu. Ustadz Basri pulang, dia bakal dapat kiriman video dan foto dari aku. Aku foto diam-diam waktu itu, Bu. Bukan hanya video, dan itu cukup buat hancurkan semuanya.”
Anisa menutup mata, tubuhnya gemetar hebat. Pikirannya berputar kacau: bayangan Ustadz Basri dengan wajah kecewa, tetangga yang bisik-bisik, kampung yang mengusirnya seperti sampah. Ia sudah pasrah sekali sebelumnya, tapi ini... ini lebih buruk. Lebih kotor.
“Pak... kenapa Bapak begini? Bapak kan orang baik. Religius. Shalat tepat waktu. Ini... ini setan yang bisikin Bapak?”
Pak Dadang menggeleng, matanya menyipit, penuh nafsu yang tak lagi disembunyikan. “Orang baik? Ya, aku baik ke orang lain. Tapi apakah Bu Ustadzah juga orang baik? Ibu yang mulai. Sama anakku sendiri. Sekarang, giliran aku. Ayo, Bu. Jangan lama-lama. Hujan deras, nggak ada yang lihat. Kita ke kamar aja. Lebih nyaman.”
Kata-kata itu seperti cambuk. Anisa berdiri pelan, kakinya lemas seperti tak punya tulang. Ia ingin lari, ingin teriak minta tolong, tapi siapa yang akan percaya? Ia yang bersalah duluan.
“Pak... tolong... satu kali aja? Janji nggak lagi?”
Pak Dadang mengangguk, tangannya memegang lengan Anisa, menariknya pelan ke arah koridor menuju kamar tidur. “Satu kali? Lihat nanti, Bu. Kalau enak, mungkin lagi. Tapi janji, mulut aku terkunci rapat.”
Anisa tak menolak. Tubuhnya bergerak seperti boneka, mengikuti tarikan itu. Pintu kamar terbuka pelan, ranjang yang biasa ia bagi dengan Ustadz Basri kini terasa seperti neraka.
Hujan masih mengguyur di luar, menyembunyikan segala suara. Malam itu, ketegangan memuncak dalam kegelapan, dan Anisa pasrah, bukan karena ingin, tapi karena tak ada jalan lain. Dosa lama bertambah baru, dan rahasia semakin dalam terkubur, meski hati Anisa hancur berkeping-keping.
Anisa berjalan di depan, kakinya terasa berat seperti ditarik oleh rantai tak terlihat, sementara Pak Dadang mengikuti di belakang dengan langkah mantap, tangannya masih memegang lengan Anisa dengan lembut tapi tegas, seolah memastikan ia tak bisa mundur lagi.
Koridor rumah yang biasanya terasa hangat dan akrab kini seperti lorong menuju jurang gelap, dingin, dan penuh bayangan. Hujan di luar semakin deras, suara air yang mengguyur atap seperti simfoni yang menyembunyikan segala dosa.
Anisa membuka pintu kamar tidurnya pelan, lampu meja samping ranjang menyala redup, menerangi seprai putih yang rapi, bantal yang masih beraroma Ustadz Basri. Hati Anisa perih; ini tempat sucinya, tempat ia dan suaminya berbagi doa dan kasih sayang, tapi malam ini, itu akan dinodai.
“Tutup pintunya, Bu,” bisik Pak Dadang pelan, suaranya rendah dan berat, penuh otoritas yang tak bisa dibantah. Anisa menurut, tangannya gemetar saat menutup pintu dengan klik pelan. Ia berdiri di sana, punggung menempel dinding, mata menunduk menghindari tatapan Pak Dadang yang kini berdiri di tengah kamar, seperti tuan rumah yang sebenarnya.
Udara kamar terasa pengap, bau hujan basah bercampur aroma tubuh Pak Dadang—campuran keringat, rokok kretek, dan sesuatu yang maskulin, kasar, berbeda jauh dari kelembutan Ustadz Basri.
Pak Dadang tak buang waktu. Ia melepaskan peci putihnya, meletakkannya di meja samping, lalu baju kokonya dibuka pelan, tombol demi tombol, memperlihatkan dada bidangnya yang berbulu tipis, kulit cokelat gelap dari kerja keras di bawah matahari.
Anisa menelan ludah, pikirannya berusaha melawan: “Ini salah, Anisa. Lari sekarang. Terima saja konsekuensinya.”
Tapi tubuhnya beku, ketakutan dan pasrah bercampur aduk. Lalu, saat Pak Dadang melepaskan kain sarungnya, membiarkannya jatuh ke lantai seperti kain lap tak berguna, mata Anisa terbelalak lebar.
Penis Pak Dadang sudah berdiri gagah, tegang dan berdenyut, ukurannya jauh lebih besar dan panjang dari Rifky—anaknya yang masih hijau, yang dulu terasa seperti petualangan remaja yang penuh rasa bersalah. Ini... ini lebih matang, lebih mengintimidasi, urat-uratnya menonjol, kepalanya mengkilap di bawah cahaya redup. Panjangnya mungkin dua kali lipat, tebal seperti lengan bayi, membuat Anisa tanpa sadar menahan napas.
“Pak... ini... terlalu...” gumam Anisa, suaranya hilang di tenggorokan. Sudah hampir sebulan ia tak bercinta—sejak kejadian dengan Rifky, pikirannya kacau, tubuhnya seperti beku dalam ketakutan. Ustadz Basri pun tak ia sentuh, selalu ada alasan: capek, sakit kepala, atau sekadar tidur lebih awal.
Tapi sekarang, melihat benda itu, gairah yang selama ini tertahan tiba-tiba terbakar seperti api yang disiram minyak. Tubuhnya panas, napasnya memburu, dan di antara kakinya, ada kebasahan yang tak bisa ia bohongi. “Ya Allah... ampuni aku,” bisiknya dalam hati, tapi mata tak bisa lepas dari pemandangan itu.
Pak Dadang tersenyum, melihat reaksi Anisa, matanya menyipit penuh kemenangan.
“Lihat, Bu? Sudah basah ya? Aku tahu, perempuan seperti Bu Ustadzah butuh yang begini. Rifky masih bocah, nggak tahu cara. Aku... aku sudah pengalaman.”
Ia melangkah mendekat, tangannya menyentuh pipi Anisa pelan, jempolnya mengusap air mata yang tersisa. Anisa menoleh, tapi tak menolak. Sentuhannya kasar tapi hangat, berbeda dari Rifky yang gugup dan cepat. Pak Dadang menarik Anisa ke arah ranjang, mendorongnya pelan hingga duduk di tepi, lalu berdiri di depannya, penisnya tepat di depan wajah Anisa, berdenyut seperti makhluk hidup.
“Sentuh dulu, Bu. Biar kenal,” bisiknya, suaranya seperti perintah yang dibungkus madu. Anisa ragu, tangannya gemetar saat mengulurkan jari, menyentuh kulit panas itu. Hangat, keras seperti batu tapi lembut di permukaan, urat-uratnya berdenyut di bawah telapaknya. Ia menggenggam pelan, dan Pak Dadang mendesah pelan, tangannya memegang rambut Anisa, membimbingnya.
“Ya gitu, Bu. Pelan-pelan. Aku janji, Bu Ustadzah bakal lupa semuanya.”
Anisa menutup mata, tapi tubuhnya sudah bereaksi. Gairah itu membara, membuatnya lupa sejenak pada dosa, pada Ustadz Basri, pada kampung. Ia membuka mulut pelan, lidahnya menyentuh ujungnya, rasa asin dan maskulin memenuhi indranya. Pak Dadang mendorong pelan, memasukkan sebagian ke mulut Anisa, dan ia mulai bergerak, tangannya memijat leher Anisa. “Bagus, Bu. Lebih dalam. Aku suka yang begini.”
Waktu terasa melambat. Anisa sudah tak berpikir lagi—hanya sensasi, panas yang menjalar dari mulut ke seluruh tubuh. Pak Dadang pandai, oh ya, sangat pandai. Ia tak terbengong-bengong seperti Rifky; gerakannya ritmis, tangannya menyentuh payudara Anisa dari luar jilbab, meremas pelan hingga putingnya mengeras.
“Lepas bajunya, Bu. Biar aku lihat,” bisiknya. Anisa menurut, tangannya sendiri melepaskan jilbab, membuka kancing gamis, memperlihatkan bra putih sederhana dan kulitnya yang halus. Pak Dadang mendorongnya telentang ke ranjang, naik ke atas, mulutnya langsung menyerang leher Anisa, menggigit pelan, lidahnya menjilat kulit yang sensitif.
“Ah... Pak... jangan...” gumam Anisa, tapi suaranya lebih seperti rintihan kenikmatan daripada penolakan.
Pak Dadang tertawa pelan, tangannya turun ke bawah, melepaskan celana dalam Anisa, jarinya menyentuh bagian intimnya yang sudah basah kuyup. “Lihat ini? Sudah siap. Bu Ustadzah haus ya? Aku kasih minum.” Jarinya memasuki pelan, satu, lalu dua, bergerak keluar masuk dengan keahlian yang membuat Anisa melengkung, pinggulnya naik tanpa sadar.
Sensasi itu luar biasa—jauh lebih dalam, lebih penuh daripada Rifky. Anisa menggigit bibir, mencoba tahan erangan, tapi Pak Dadang tahu cara: ibu jarinya menggosok klitorisnya, membuat gelombang kenikmatan menyapu tubuhnya.
“Pak... oh... ya...” Anisa sudah lupa. Lupa pada ancaman, lupa pada rahasia, lupa pada segalanya. Pikirannya melayang, tubuhnya seperti di awan, setiap sentuhan Pak Dadang seperti listrik yang membuatnya kejang. Ia sudah tak ingat berapa lama—mungkin sepuluh menit, mungkin lebih—tapi saat Pak Dadang menarik jarinya, posisi berganti. Ia membalik Anisa, membuatnya berlutut di ranjang, tangan memegang pinggulnya. “Sekarang yang utama, Bu Ustadzah. Siap?”
^*^
ns216.73.216.147da2


