-
info_outline Info
-
toc Table of Contents
-
share Share
-
format_color_text Display Settings
-
exposure_plus_1 Recommend
-
Sponsor
-
report_problem Report
-
account_circle Login
Namaku Anisa, biasa dipanggil Ustadzah Ani. Aku seorang perempuan di usia akhir tiga puluhan yang hidup tenang di sebuah desa hijau dan sepi. Dari luar, hidupku terlihat nyaris sempurna: suami kedua yang setia, Mas Basri, seorang ustadz kampung sekaligus petani yang dihormati, ekonomi keluarga yang mapan, serta nama baik yang dijaga di mata warga.
Di masa lalu, sebelum menikah lagi, aku pernah mengalami kegelinciran. Saat masih bersama suami pertamaku di kota, godaan hidup sempat menyeretku pada beberapa kesalahan. Namun semua itu kupikir telah selesai setelah perceraian dan pernikahanku dengan Mas Basri.
Aku pindah ke desa, menata hidup dari awal, menjalani peran sebagai istri yang patuh, ibu yang bertanggung jawab, dan perempuan yang dikenal salehah. Aku menjadi panutan bagi para istri dan ibu di kampung ini.
Selama bertahun-tahun, aku menikmati peran sebagai “Bu Ustadzah”. Aku mengajar TPA, memimpin yasinan, dan kerap diminta memberi nasihat di acara-acara keagamaan. Sapaan hormat dari warga terasa seperti pengakuan bahwa aku telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun justru saat hidup terasa paling stabil dan berkecukupan, godaan lama itu datang kembali. Tanpa paksaan dan tanpa kekurangan apa pun, aku kembali tergelincir. Kesalahan ini menghantuiku, terutama setiap kali orang-orang menyapaku dengan penuh hormat. Senyumku tetap terjaga, tetapi di dalam hati tersimpan rahasia yang tak pernah berani kuungkap.
Kini, sapaan “Bu Ustadzah” tak lagi terasa membanggakan, melainkan menekan. Aku sadar citra suci yang melekat padaku mulai retak oleh perbuatanku sendiri. Yang paling menakutkan, aku mulai ragu apakah aku masih memiliki keinginan dan kekuatan untuk kembali menjadi perempuan yang benar-benar bersih.
Kesepian turut memperberat pergulatan ini. Dua anakku tinggal bersama ayah mereka, mantan suamiku. Mas Basri memiliki seorang anak tunggal bernama Hafiz, usia delapan belas tahun, yang kini mondok di pesantren.
Sejak ditinggal ibunya, Hafiz tidak tinggal bersamaku, melainkan dengan neneknya, dan hanya sesekali berkunjung ke rumah. Rumah yang sering sunyi ini perlahan menjadi ruang kosong, tempat kegundahan tumbuh dan godaan lama menemukan jalan masuk kembali.
Aku bahkan dijukuki Ustadzah Ketela oleh seseorang. Apakah Ustadzah Ketela itu? Nanti aku jelaskan.
Tapi kalau ada yang tahu silahkan tulis di kolom komentar, jika ada yang betul maka ada hadiah menarik dariku, berupa dana atau pulsa senilai 100.000,- namun menjadi tidak berlaku jika ceritanya sudah dipublis di atas 15 bab.
^*^
0 sponsors' commentsAfter each update request, the author will receive a notification!
smartphone100
→ Request update
Thank you for supporting the story! :)
Please Login first.
Reading Theme:
Font Size:
Line Spacing:
Paragraph Spacing:
Load the next issue automatically
Reset to default

