BRAK!
Suara benturan keras mengiringi terbukanya pintu kamar mandi.
“ADUH!” seru seorang remaja pria terperanjat dan panik. Tubuh telanjangnya tak mampu bergerak, hanya bisa menatap pintu.
“Eh, maaf! dikira nggak ada orang,” sergah seorang wanita berpakian serba tertutup yang tampak juga terkejut. Meski suaranya terdengar terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang tak sengaja masuk ke kamar mandi saat ada orang lain.
Wanita itu berdiri mematung di ambang pintu, wajahnya tegang, mata terbelalak dan mulut sedikit terbuka. Tapi sejurus kemudian, ekspresinya berubah kendur dan tenang, bahkan seulas senyum tersungging samar. Wanita itu sangat tahu apa yang sedang dilakukan anak tirinya.
“Astagfitullah!” Remaja pria itu kembali berseru tersadar dari terkejutnya.
Tangannya refleks meraih handuk yang tergantung di kapstok, lalu melilitkannya di pinggang, menutupi bagian tubuh yang seharusnya tak boleh terlihat oleh siapa pun, apalagi ibu tirinya. Dia tak peduli dengan tangan dan batang penisnya yang penuh dengan busa sabun.
“Maaf, Hafiz!” Wanita yang oleh kebanyakan warga kampung dijuluki ‘Ustadzah Anisa’ itu kembali berucap dengan nada lebih lembut.
“Ibu, mau ngapain?” tanya Hafiz, mencoba tenang, meski kesal. Jantungnya masih berdebar, malu dan canggung menjadi badai kecil yang berkecamuk dalam dadanya.
Anisa tidak langsung menjawab. Matanya tetap memandangi selangkangan anak tirinya yang tampak menyembul di balik handuknya. Lalu ia menoleh ke belakang memastikan tak ada siapa-siapa di luar sana. Kemudian kembali menatap Hafiz dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Bersalah, kagum, atau malah berhasrat?
“A-anu..., ibu mau ambil sabun cuci,” katanya pelan, tersenyum manis dengan mata tetap tidak beralih dari handuk yang melilit pinggang Hafiz.
“Ambilah, lalu segera keluar, Bu!” kata Hafiz, berusaha tetap sopan meski suaranya meninggi.
Anisa mengangguk pelan, lalu mengulurkan tangganya mengambil sabun cuci. Namun tidak langsung keluar, malah bersandar pada kusen pintu kamar mandi yang sempit.
“Hafiz...” panggilnya lirih.
Hafiz mengerutkan dahi dan menatapnya. “Ya?” jawabnya singkat.
“Ternyata kamu sudah dewasa dan makin gagah...” ucap Anisa lirih dan manja.
Deg!
Jantung Hafiz makin berdegup tak karuan.
Sebelum ia sempat bicara lebih jauh, Anisa sudah membalikkan badan dan menutup pintu perlahan, menyisakan udara yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Hafiz berdiri kaku, tak bersuara. Kedua tangannya erat menggenggam handuk di pinggangnya seolah takut direbut atau terlepas.
Tak lama kemudian dia mulai menggayung air dan membasahi sekujur tubuhnya. Namun meski semuanya telah basah dan penuh busa sabun. Sebagian tubuhnya masih gemetar karena sangat kaget. Pikirannya terombang-ambing, mencari penjelasan rasional.
‘Kenapa dia masuk tanpa ketuk pintu dulu? Jangan-jangan memang sengaja?’ pikir Hafiz cemas. Ia bahkan menduga kalau ibu tirinya, mengintip dulu sebelum masuk. “Dan bodohnya kenapa aku juga lupa mengunci pintunya.”
Setelah mandi, Hafiz keluar dengan tubuh berbalut handuk di pinggangnya. Saat masuk rumah, ia sedikit tertegun karena mendapati ibu tirinya sedang duduk di kursi tamu, sibuk dengan ponselnya, dalam pakaian yang tak biasa. Daster mini sangat kontras dengan pakaian syar’i yang biasa dikenakannya. Padahal tadi saat masuk kamar mandi, masih mengenakan gamis dan jilbab.
Hafiz memalingkan muka dan mempercepat langkahnya menuju kamar. Begitu sampai di dalam, ia menghela napas lega, merasa sedikit aman. Tetapi, belum sempat mengambil pakaian untuk dipakainya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Hafiz lagi-lagi lupa mengunci pintu kamar.
Hafiz sedikit melonjak, darahnya serasa berhenti mengalir saat melihat ibu tirinya berdiri di ambang pintu menatapnya nanar sulit dijelaskan.
“Boleh ibu masuk sebentar?” tanya Anisa lembut, terkesan ganit.
Hafiz terdiam, detak jantungnya kembali tak beraturan. Ia mencoba untuk tetap tenang, meski rasa cemas dan bingung terus menghantui.
“Mau apa, Bu?” tanya Hafiz dengan suara pelan, mencoba terdengar biasa.
Anisa menatapnya, lalu maju selangkah, sementara Hafiz refleks mundur beberapa langkah dengan sorot mata curiga yang semakin dalam. Ia berusaha menahan diri untuk tidak berteriak atau melawan, tetapi perasaan risih semakin membuncah.
“Jangan takut, Fiz.” Suara Anisa terdengar lebih pelan, hampir seperti berbisik.
Namun, kata-kata itu justru semakin membuat jantung Hafiz berdegup lebih kencang. Ia menarik napas panjang, mencoba mengendalikan diri, merasa terjebak dalam situasi yang tidak bisa dikendalikan.
“Kamu nggak suka ibu masuk kamar ini?” tanya Anisa.
“Tapi aku belum pakai baju, Bu!” Hafiz berusaha menetralisir keadaan. “Memangnya mau apa sih?” Nadanya mulai terdengar lebih tegas.
Anisa mendekat lagi, tangannya terulur ke arah Hafiz, seakan ingin menyentuhnya. Hafiz refleks meloncat ke atas ranjang, berdiri dengan kedua lututnya di atas kasur. Tubuhnya gemetar, dan rasa takut mulai menguasai dirinya.
“Kamu sudah gila ya, Bu?” bentak Hafiz hampir berteriak, kesal dan tidak tahu harus bicara apa lagi.
“Jangan berteriak begitu, Hafiz, aku ini ibumu!” bentak Anisa dengan nada yang penuh tekanan dan wajah mendongak.
“Ibu hanya mau bilang, ayahmu sudah loyo, sudah lama nggak bisa memberi nafkah batin pada aku, istrinya. Sedangkan aku masih membutuhkan itu!” Suara Anisa bergetar, seperti hendak menangis.
Namun Hafiz tak merasakan empati, semua yang dikatakannya terdengar janggal dan mengada-ada. Hafiz merasa cukup banyak mengenal ayahnya. Bahkan seminggu yang lalu, tak sengaja dia masih sempat mendengar ayah dan ibu tirinya sedang melaksanakan kewajibannya sebagai suami istri dengan sangat bergairah.
“Bu, aku memang anak tirimu!” ujar Hafiz, dengan suara yang lebih tegas namun agak bergetar. “Tapi maaf, bukan berarti harus menuruti semua keinginanmu yang aneh itu. Apapun adanya ayahku, beliau tetaplah suamimu!”
Anisa sedikit mencibir, “Daripada kamu ngocok sendiri di kamar mandi, bukankah berbagi itu lebih baik? Kita bisa sama-sama puas dan jaga rahasia, Hafiz!”
Hafiz mendengus kesal, malu dan risih. Suasana seketika menjadi tegang, dingin dan membeku. Tatapan Anisa berubah sangat mengerikan, laksana pemburu yang mengunci mangsanya.
“Hafiz, kamu mau bantu ibu, kan?” pinta Anisa lembut.
“TIDAK!” bentak Hafiz spontan penuh amarah.
“Kalau begitu, lebih baik kamu pergi dari rumah ini!” balas Anisa tiba-tiba dengan suara yang mulai meninggi.
“Ya, aku akan segera pergi. Tadi mampir ke sini hanya sekedar numpang mandi, tidak lebih!” jawab Hafiz makin tegas.
“Cepetan keluar! Kalau kamu tidak mau membantu ibumu, jangan pernah datang lagi ke sini!” bentak Anisa sambil cepat-cepat keluar dari kamar.
Anisa baru tersadar, andai Hafiz menyerang secara fisik, tentu dirinya akan celaka. Selain fisiknya lebih tinggi, besar dan kuat, Hafiz juga menguasai ilmu bela diri yang diajarkan ayah dan kakeknya sejak masih kecil.
Hafiz tak buang waktu. Usai berpakaian, ia langsung pergi dengan motor matiknya ke rumah neneknya, tempat yang selalu terasa aman dan menenangkan.
Di saung kecil di tengah sawah, Hafiz duduk memeluk lutut, menatap padi yang mulai menguning. Siang tampak cerah, tapi hatinya gelap. Perasaannya campur aduk: malu, marah, jijik dan kecewa.
“Ustadzah Ani…” gumamnya pelan, “Julukan dan penampilanmu nggak sesuai sama kelakuanmu, Bu,” gumamnya lirih.
Hafiz bukan anak polos. Sejak SMP, ia sudah kenal sisi gelap dunia dewasa walau hanya melalui internet. Tapi sejauh apapun dia melenceng, masih punya batasan. Anisa tetaplah istri ayahnya, ibu tirinya - yang sangat tabu untuk disentuh secara seksual, apapun alasannya.
Hafiz mengusap wajah dengan sebelah tangannya. Sorot mata dan bisikan menggoda dari ibu tirinya masih terbayang jelas. Ia menunduk lesu, tubuh bongsornya terasa kecil di tengah sawah luas.
Ia sadar, kini rumah ayahnya tak lagi terasa surga, tapi sudah menjadi neraka. Namun andai pun ia mau bicara terbuka, siapa yang akan percaya? Ayahnya pun pasti tidak akan percaya.
“Kalau sama anak tiri saja berani begitu, bagaimana dengan lelaki lain?” bisiknya. “Ayahku sudah loyo? Omong kosong! Itu hanya alasan bejadnya saja!” lanjutnya geram.
Angin berhembus, menerbangkan daun-daun kering. Hafiz tahu, ini belum akhir. Tapi untuk sekarang, ia memilih menjauh dan memang sebenarnya sudah sejak lama menjauh. Tadi Hafiz datang ke rumah ayahnya benar-benar hanya buat numpang mandi, setelah main bola dengan teman-temannya. Dan saat dia datang rumah memang dalam keadaan sepi.
Sementara itu di rumahnya, Anisa duduk termangu di kamarnya, merenungi apa yang baru saja terjadi.
Di satu sisi dia sangat bersyukur Hafiz tidak berontak dan menyerang dirinya, namun di sini lain dia juga merasa marah karena telah ditolak dan dilecehkan oleh bocah yang sejak enam tahun terakhir menjadi anak tirinya.
Walau Hafiz tinggal dengan nenek dari almarhum ibunya, namun sedikit banyak Anisa merasa sudah ikut merawat dan membesarkannya.
Sebenarnya, sebelum nekat menerobos masuk kamar mandi, Anisa sudah lama mengintip Hafiz dari luar. Ia tahu semua apa yang dilakukan anak tirinya di kamar mandi saat itu. Dan karena itulah ia sangat berhasrat, lalu masuk ke kamar mandi tanpa permisi, dengan harapan Hafiz bisa melayani atau melampiaskan hasratnya, daripada onani. Namun ternyata berakhir mengecewakan.
“Tunggu saja pembalasanku, Hafiz. Kamu pasti akan menyesal telah merendahkan ibu tirimu. Kamu belum tahu siapa aku sebenarnya!” geramnya.
Setelah cukup lama merenung, Anisa kembali lagi pada kegiatannya sebagai ibu rumah tangga. Ia baru selesai mencuci piring di dapurnya.
Dengan tubuh hanya berkemben handuk hijau, ia bersiap masuk kamar mandi untuk mandi. Namun ia teringat, kain panjang yang biasa ia kenakan setelah mandi masih tergantung di jemuran belakang rumah.
Dengan langkah cepat dan hati-hati, ia berjalan keluar dapur, menyusuri jalur sempit menuju jemuran. Matahari sore masih menggantung rendah, menyorotkan cahaya hangat di sela-sela dedaunan pisang dan pagar bambu.
Saat ia menjulurkan tangan hendak meraih kain panjang itu, pandangannya tanpa sengaja tertumbuk pada sosok Rifky—lelaki muda anak tetangganya dan berteman dekat sejak masih kecil dengan Hafiz.
Rifky berdiri membelakanginya, memandangi hamparan sawah milik Pak RW yang terbentang luas di depannya. Sehabis shalat dia memang sering nongkrong di sana, sendirian kadang juga bersama beberapa temannya.
Anisa langsung panik. Ia reflek membalikkan badan hendak kembali masuk ke dapur. Namun langkahnya justru tergelincir. Entah karena batu licin atau tanah basah, hingga tubuhnya terhempas ke tanah.
“Aduuuuh!” serunya spontan, tangan kanan buru-buru menahan dada, memegangi handuk yang nyaris melorot dari tubuhnya. Rasa sakit dan malu bercampur menjadi satu.
Rifky sontak menoleh, matanya melebar melihat Anisa tergeletak sambil meringis kesakitan. Beberapa bagian tubuhnya tampak terbuka karena handuknya tersingkap, untung saja tidak sampai terlepas.
“Bu Ustadzah!” Rifky yang berkaos dan bersarung, langsung berlari mendekat. “Astagfirullah, jatuh ya, Bu? Sini, saya bantu...”
Anisa tidak langsung bangkit. Pergelangan kaki dan lututnya terasa perih. Pahanya juga nyeri karena terbentur batu kecil.
“Aduh... aduh... sakit, Rif,” keluhnya pelan, napasnya tersendat menahan rasa sakit. Ia masih memegangi handuknya erat-erat, tak berani menatap Rifky yang kini bersimpuh di sebelahnya.
Rifky, dengan gugup dan canggung, mengulurkan tangan untuk membantu. Anisa pun, dengan ragu dan agal malu, menerima bantuan itu. Sementara dada dan hatinya terasa sama-sama berdebar tak karuan.
Dengan hati-hati, Rifky membimbing Anisa berdiri. Tangannya menyangga punggung perempuan itu, sementara sebelah tangan Anisa bertumpu di lengan kekar Rifky. Dan sebelahnya lagi menahan handuknya agar jangan sampai melorot. Dia sama sekali tidak mengenakan dalaman, karena memang seperti itu jika akan mandi.
Langkah mereka pelan dan pendek-pendek—Anisa meringis tiap kali menapakkan kaki kanannya yang terasa ngilu.
“Pelan-pelan aja, Bu, nggak usah dipaksa,” bisik Rifky, suaranya rendah, nyaris seperti gumaman tertahan.
Anisa hanya mengangguk kecil, napasnya sesekali tercekat menahan rasa sakit, juga rasa malu. Handuk yang ia pegang kini makin terasa ringkih, seolah bisa terlepas kapan saja bila lengah. Tapi Rifky tampak menjaga matanya, tak berani menatap lebih dari yang diperlukan.
Begitu sampai di dapur, Rifky membantu Anisa duduk di bangku kayu panjang dekat dinding. Ia lalu jongkok di depannya, memastikan kaki Anisa dalam posisi nyaman.
“Sini saya lihat, Bu... bagian mana yang sakit?”
“Enggak usah, Rif... nanti juga sembuh sendiri...” Anisa menggeleng pelan, pipinya memerah, matanya menunduk.
Namun Rifky tetap diam di situ, sejenak tertegun. Matanya menatap tangan Anisa yang erat memegangi handuk, wajahnya yang berkeringat, dan helaian anak rambut yang menempel di pelipisnya. Seketika suasana terasa sunyi, hanya suara angin sore yang menyusup lewat celah dinding dapur yang menemani.
“Maaf ya, Bu… saya nggak sengaja,” ucap Rifky lirih.
Anisa mengangguk lagi, pelan. Tapi entah kenapa, hatinya justru terasa hangat, walau nyeri masih terasa di kakinya. Di balik ketidaknyamanan siang itu, ada sesuatu yang lembut dan asing menyelinap. Entah perhatian, atau mungkin... hasrat birahi yang sejak tadi belum terlampiaskan.
“Pak Ustadz belum pulang, Bu?” tanya Rifky hati-hati
“Belum, mungkin sebentar lagi. Anak-anak juga lagi main di rumah Ustadzah Aida.”
“Beneran ibu gak sakit?” Rifky kembali memastikan.
“Sakiit banget, Rif,” jawab Anisa sambil meringis.
Mata Rifky kembali menatap ke bawah, ia mendapati sebuah bukit kecil yang ditumbuhi rambut lebat terselip begitu indah. Berulang kali, remaja berusia setahun lebih tua dari Hafiz itu menelan ludah dan menahan gejolak birahi di dada dan di balik kain sarung yang dikenakannya.
“Biar saya bantu. Ibu istriahat di kamar aja, ya,” ujar Rifky.
Anisa mengangguk dan Rifky kembali membantu Anisa berjalan menuju kamarnya. Sebenarnya Anisa merasa sangat risih, namun bagaimana lagi, karena dia merasakan kaki kanannya sangat sakit. Kebetulan tidak ada orang lain yang bisa dimintai tolong.
Setibanya di kamar Anisa duduk di pinggir ranjang dengan masih berkemben handuknya.
“Sepertinya kaki ibu keseleo, biar saya periksa dulu,” ucap Rifky datar sambil berusaha mati-matian menahan gejolak dalam dirinya.
“Aduh!” ringis Anisa, ketika Rifky menyentuh pergelangan kakinya. “Pelan-pelan Rif!” pinta Anisa sembari terus meringis menahan sakit di kakinya.
Tangan Rifky mulai mengusap-usap kaki kanan Anisa beberapa lama, sampai Anisa merasa sedikit lebih baik. Lantas Rifky menarik sedikit kaki Anisa, memperbaiki posisi uratnya dengan gerakan yang agak cepat dan menyakitkan.
“Auuww… Sakiiiit, Rif!” jerit Anisa.
Telapak tangan Rifky naik ke atas, ke bagian belakang lutut Anisa. Rasa geli yang dirasakan Anisa sedikit mengurangi rasa sakitnya. Dan perasaan geli itu perlahan mulai menimbulkan gairah dalam dirinya, apa lagi ketika telapak tangan Rifky naik menuju pahanya dan sekilas dia melihat gunudkan besar di balik kain sarung Rifky. Anisa bahkan menduga jika Rifky tidak memakai celana dalam.
Rifky memijit kaki Anisa dengan pelan, menyentuh bagian-bagian sensitif seorang wanita yang ia dapatkan dari teman lamanya. Dan cara itu memang sangat berhasil membangkitkan birahi Anisa yang memang selalu menggebu-gebu.
“Kalau pake minyak gimana, Bu,” usal Rifky.
“Pake handbody aja, Rif.”
Rifky membalikan wajahnya lalu mengambil botol handbody yang berada tepat di belakangnya, di meja rias. Lalu kembali menghadap Anisa, matanya nanar menatap sepasang payudara Anisa di balik handuk yang naik turun mengikuti irama napasnya. Rifky berhayal bisa meremas dan menghisap putingnya.
Menyadari tatapan Rifky tak biasa, Anisa jadi salah tingkah. Putingnya terasa makin keras dan area kewanitaannya pun mulai berdenyut-denyut.
Rifky menaburkan lotion pada kedua telapak tangannya.
“Maaf ya, Bu,” ucapnya sopan, sebelum tangannya masuk lebih dalam. Ia menyentuh bagian bawah pergelangan dan betis Anisa dengan sedikit mengangkat kaki itu.
“Ough,” desah lembut Anisa tak terelakan lagi.
Rifky tersenyum tipis, ia tahu kalau ibu tiri temannya ini tengah dilanda sesuatu yang membuatnya gelisah.
“Sakit ya, Bu?” tanya Rifky, sambil terus memijit lembut paha belakang Anisa.
“Eng-eng-enggak terlalu,” jawab Anisa terbata, wajahnya mulai bersemu merah karena menahan malu juga birahi.
Rifky kembali melanjutkan pijatannya di kedua kaki Anisa. Ia memijatnya secara bergantian kiri dan kanan. Selama itu juga Anisa sangat tersiksa karena gairahnya kian menggebu-gebu menuntut penuntasannya.
“Masih mau dilanjut pijatnya, Bu?” tanya Rifky memastikan lagi.
Karena sudah kepalang tanggung, Anisa mengangguk memberi izin. Masih ada sedikit rasa nyeri di kakinya membuat Anisa memejamkan matanya. Rifky yang melihat hal tersebut sedikit merasa kasihan, namun juga ngos-ngosan karena jembut di selangkangan Anisa makin terlihat jelas.
“Tahan ya, Bu. Ini hanya sebentar,” bisik Rifky.
Setelah merasa cukup memijat di bagian belakang lutut, jemari Rifky naik sedikit ke atas menyingkap ujung handuk yang dikenakan Anisa.
“Tahan sedikit ya, Bu!” Rifky kembali berucap.
Anisa menganggukan kepalanya. Ia mengepal kedua tangannya hendak menahan rasa sakit. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, ketika Rifky memijit bagian belakang pahanya, Rasa nikmat dan geli semakin menjadi-jadi membuat birahinya nendang hingga ke ubun-ubun.
Bayangan Hafiz yang sedang ngocok di kamar mandi, kembali memenuhi isi kepalanya. Tubuh Rifky memang lebih kecil, tapi bisa saja senjata andalannya sama besarnya, pikir Anisa.
Napas Anisa mulai tersengal, pikirannya makin berkecamuk tidak fokus. Telapak tangan Rifky makin naik ke atas, memijit bagian belakang pahanya.
“Aduh, aah…” Anisa kembali mendesah tanpa sadar.
“Sakit ya, Bu?” tanya Rifky, pura-pura khawatir.
Anisa mengangguk lemah. Ia merasa sangat malu kalau sampai Rifky tahu dirinya sedang diamuk gelombang birahi. Sentuhan Rifky semakin naik ke atas, menyingkap lebih banyak handuk yang ia kenakan hingga sebatas pahanya. Anisa berusaha merapatkan kedua pahanya, namun sia-sia.
Hatinya mulai merasa bimbang. Sentuhan Rifky terasa sangat nikmat, bahkan bisa membuatnya terbuai. Tetapi masih tersisa rasa malu jika harus memulai.
Sebagai seorang santri dan juga teman dekat Hafiz, selama ini Rifky senantiasa bersikap hormat pada Anisa juga Ustadz Basri. Dia tidak pernah berani kurang ajar kepada siapapun, atau bahkan hanya dengan tatapan nakal. Anisa sangat berpengalaman dalam membedakan tatapan lelaki yang ikhlas atau penuh nafsu.
“Maaf Bu, uratnya gak dapet! Boleh saya urut lebih ke atas.” Rifky meminta izin, dan Anisa menganguk tak mampu menolaknya. Geli dan nikmat itu terlalu sayang untuk dilewatkan.
Tak dapat si Hafiz, Rifky pun jadi, begitu pikirnya.
Tangan Rifky menyibak handuk yang dikenakan Anisa hingga berada di atas paha. Sementara tangannya berada di balik handuk. Jemari kasar Rifky memijit dan membelai paha bagian dalamnya, hingga tubuh Anisa mulia sedikit gemetar.
Dengan satu dorongan, tangan Rifky mulai masuk lebih dalam mendekati selangkangan Anisa, hingga handuk yang dikenakannya tertarik makin ke atas bahkan mulai dengan bebas memperlihatkan belahan kemaluan yang dihiasi bulu-bulu indah. Perlahan-lahan Anisa membuka pahanya seolah memberi jalan pada tangan Rifky untuk lebih dekat lagi.
“Sakit gak, Bu?” tanya Rifky sok polos.
Anisa mengangguk seraya menahan gejolaknya.
Anisa mengangkat wajahnya menatap Rifky yang sedang menatapnya nanar penuh gairah. Zakunnya begerak-gerak menelan air liurnya. Dengan sedikit kesadaran Anisa berpura-pura menarik ke bawah ujung handuknya, tapi tidak menyingkirkan tangan Rifky yang nakal bermain di balik handuk itu.
‘Ternyata nakal juga kamu, Rifky,’ gumam Anisa dalam hati.
Aksi Rifky semakin berani, dua jemarinya bersamaan menyelinap masuk ke celah kewanitaan Anisa yang sudah makin basah. Mata Anisa membeliak menatap Rifky tak percaya, tapi dengan tenang Rifky malah tersenyum tipis.
Sekuat tenaga Anisa menahan gejolak itu, dia masih belum mau mengakui jika dirinya sangat berharap Rifky membuka kain sarungnya dan memperlihatkan apa yang ada di selangkangannya.
Namun tiba-tiba Rifky menarik tangannya.
“Sudah selesai ya, Bu Ustadzah!” ujarnya tenang.
“Iya, terima kasih, Dan.” Jawab Anisa lirih.
“Sama-sama. Saya permisi dulu, Bu. Sebentar lagi saya juga mau berangkat lagi ke pesantren, lagian takut Pak Ustadz nanti jadi fitnah.” Rifky berpamitan.
Anisa hanya mengangguk lemah, sedikit kecewa karena Rifky berpamitan. Padahal sedikit lagi dia akan mencampai orgasmenya…. Kini hanya menggantung.
Hasrat Anisa untuk menikmati daun muda pun harus tertunda kembali.
“Sialan!” makinya dalam hati.
Siapa sebenarnya Ustadzah Anisa?
Anisa Nuraeni, 31 tahun, kini dikenal sebagai ‘Ustadzah Ani’ di lingkungannya. Sebutan yang lahir karena status pernikahannya, bukan karena kedalaman ilmu agamanya. Ia bukan lulusan pesantren, tak hafal banyak ayat atau hadits. Hanya memang pakaiannya selalu tertutup rapi. Terlebih lagi setelah menikah untuk yang kedua kalinya dengan Ustadz Basri. Seorang guru agama dan penceramah yang sederhana.
Sejak dulu Anisa belajar cepat, bukan dari kitab, tapi dari pergaulan dan kebiasaan di lingkarannya. Kapan harus menundukkan pandangan, menyelipkan “Masya Allah”, atau diam untuk terlihat shalihah. Peran itu ia lakoni laksana panggung sandiwara yang menutupi siapa dirinya yang sebenarnya. Dalam beberapa tahun ini Anisa sukses bertranformasi.
Anisa tak jahat, hanya belum kuat. Ilmu agamanya masih dangkal, keteguhan imannya masih setipis ari dan hatinya masih mudah tergoda oleh bayang-bayang masa lalunya yang terasa kelam. Tapi status barunya sebagai istri Ustadz, memaksanya tetap berdiri sebagai wanita salihah, seolah benar-benar telah hijrah. Bersama Ustadz Basri dia tidak dikarunia anak, sengaja karena sudah punya tiga anak yang walau ketiganya tidak tinggal bersama mereka.
Namun, di balik pakaian syar’i, sikap lemah lembut dan ucapan ramah nan santun pada semua tetangganya, ada sisi lain yang tak diduga oleh semua orang yang dengan mudahnya memanggilnya ‘Bu Ustadzah Ani’ hanya karena pakaian dan menyandang status sebagai istri seorang guru agama alias Ustadz.
Pada awalnya Anisa merasa risih dengan julukan tersebut namun entah mengapa, lama-lama dia justru merasa senang. Merasa lebih seksi dan bisa berkamuplase dengan sempurna, setidaknya dia bisa mengubur dalam-dalam sisi liar dalam dirinya. Tak heran jika ada yang menjulukinya ‘Ustadzah Ketela’
Namun dalam beberapa bulan terakhir, sisi gelap itu muncul kembali seperti jamur di musim hujan. Sebenarnya Anisa senantiasa menekan gairah liar itu, agar tidak sampai khilaf apalagi ketahuan suami dan keluarganya. Namun Hafiz, anak tirinya yang gagah dan tampan terlalu sukar untuk diabaikan.
Bagaimana kisah selanjutnya, dan apa sebenarnya yang membuat Ustadzah Anisa kembali pada setelah pabrik? Benarkah Hafiz, anak tirinya? Atau justru sebab lain.
Ikuti terus ceritanya jangan lupa berikan bookmark, atau follow akun Demar - author, agar selalu dapat info saat ada update kelanjutan terbarunya…
^*^
Mohon bijak, banyak adegan dewasa yang ekspilist tanpa sensor. Jika tidak kuat segera tinggalkan novel ini, jangan memaksakan diri untuk membacanya kecuali sudah siap basah dalam bab-nya.
Terima kasih.
^*^
ns216.73.216.147da2


