Malam itu, rumah Ustadz Basri terasa lebih sepi dari biasanya. Sang Ustadz, suami Anisa, baru saja pulang dari pengajian malam di masjid kampung. Ia langsung menuju kamar, meletakkan tasbih dan pecinya di meja kecil, lalu merebahkan diri di ranjang tanpa banyak bicara.
Anisa, yang sudah berganti pakaian tidur syar'I, gamis panjang berwarna pastel, duduk di depan cermin, menyisir rambutnya yang lepas dari jilbab. Wajahnya tampak tenang, tapi pikirannya bergolak.
“Kenapa malam ini diam saja, Bu?” tanya Ustadz Basri pelan, suaranya lelah tapi penuh perhatian.
Anisa menoleh, tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Pak. Capek aja habis ngurus rumah seharian.” Jawabannya manis, tapi di balik itu, ia memikirkan Hafiz. Anak tiri yang tolol itu, pikirnya geram.
‘Bagaimana bisa dia menolak begitu tegas? Sudah kuberikan kesempatan, malah mengusirku seperti sampah. Tunggu saja, Hafiz. Aku akan buat kamu menyesal.’
Ustadz Basri mengangguk, lalu memejamkan mata. Tak lama, dengkurnya pelan terdengar. Anisa mematikan lampu, tapi matanya tetap terbuka lebar dalam gelap. Hasrat yang menggantung sejak siang tadi membuat tubuhnya panas.
Anisa berguling, tangannya tanpa sadar merayap ke bawah perutnya, mencoba meredakan gejolak itu sendiri. Tapi pikirannya melayang ke Rifky. Anak muda itu... tatapannya tadi siang, tangannya yang kasar tapi lembut saat memijat. Dia pasti penasaran, tapi pura-pura sopan seperti santri baik-baik. Aku harus mendekatinya lagi, gumamnya dalam hati.
^*^
Keesokan harinya, matahari pagi menyinari kampung dengan hangat. Anisa bangun lebih awal, memasak sarapan untuk suaminya sebelum Ustadz Basri berangkat ke kebun dan sawah. Setelah rumah kembali sepi, ia memutuskan untuk keluar. Alasannya sederhana: mencuci pakaian di sungai belakang kampung, tempat yang sering dikunjungi warga. Tapi sebenarnya, ia tahu Rifky biasa lewat sana sepulang dari sawah atau pesantren kecil di ujung kampung.
Dengan keranjang cucian di tangan, Anisa berjalan pelan menyusuri jalan setapak. Ia mengenakan gamis hitam panjang dan jilbab lebar, tapi di bawahnya, ia sengaja memilih dalaman yang tipis, mudah disingkap jika kesempatan datang. Di sungai, air mengalir jernih, dan tak ada orang lain selain burung-burung yang bernyanyi. Anisa mulai mencuci, tapi matanya sesekali melirik ke arah jalan.
Tak lama, sosok Rifky muncul. Ia berjalan sendirian, membawa cangkul di bahu, keringat membasahi kaos oblongnya yang ketat, memperlihatkan otot lengan yang terbentuk dari kerja keras di sawah. Rifky terlihat terkejut melihat Anisa, tapi cepat menyapa dengan hormat.
“Assalamu’alaikum, Bu Ustadzah. Lagi nyuci ya?”
“Wa’alaikumsalam, Rif. Iya, nih. Kamu dari mana pagi-pagi gini?” balas Anisa dengan senyum manis, matanya menatap Rifky dari atas ke bawah. Ia notice bagaimana celana Rifky sedikit longgar, dan ingatan kemarin siang membuat jantungnya berdegup.
“Dari kebun, Bu. Bantu bapak panen jagung kecil-kecilan.” Rifky mendekat, meletakkan cangkulnya di tanah. Ia jongkok di tepi sungai, mencuci tangan dan wajahnya.
Anisa memperhatikan gerakannya, air yang menetes dari dagunya, membuatnya semakin haus akan sentuhan.
“Eh, Rif... kaki Ibu kemarin masih agak nyeri nih. Kamu pintar mijit ya? Mau bantu lagi nggak?” tanya Anisa tiba-tiba, suaranya lirih tapi menggoda. Ia duduk di batu besar, mengangkat sedikit gamisnya hingga memperlihatkan betisnya yang mulus.
Rifky menoleh, matanya melebar sebentar sebelum cepat dialihkan. “Eh, iya Bu? Tapi... di sini terbuka, nanti dilihat orang.” Jawabannya sopan, tapi Anisa bisa lihat bagaimana ia menelan ludah, tatapannya sesekali melirik ke arah kakinya. Pura-pura suci, tapi penasaran banget, pikir Anisa, senyumnya semakin lebar.
Maaf ada bagian yang tertinggal, bab sebelum ke MCK
“Tenang, Rif. Kampung lagi sepi. Lagian, kamu kan temen deket Hafiz. Anggap aja bantu Ibu yang lagi sakit.” Anisa maju selangkah, tangannya menyentuh lengan Rifky pelan. Rifky diam, tubuhnya kaku, tapi tidak mundur. Ia pura-pura fokus mencuci tangan, tapi napasnya mulai berat.
“Bu... ini nggak baik. Pak Ustadz gimana?” gumam Rifky, suaranya rendah, tapi ada nada ragu yang Anisa kenali sebagai tanda penasaran.
Anisa tertawa kecil. “Pak Ustadz lagi ngajar. Lagian, ini cuma mijit, Rif. Kamu kan santri baik, pasti bisa jaga rahasia.” Tangannya naik ke bahu Rifky, memijat pelan sebagai balasan.
Rifky gemetar sedikit, matanya sekarang tak bisa lepas dari dada Anisa yang naik turun di balik gamis.
Di dalam hati Rifky, gejolak muncul. Sejak kemarin, gambar tubuh Anisa di balik handuk itu tak hilang dari pikirannya. Ia tahu ini salah, Anisa istri Ustadz Basri, ibu tiri Hafiz yang adalah sahabatnya. Tapi rasa penasaran itu... seperti api kecil yang semakin membesar.
‘Kenapa Bu Ustadzah Anisa sekarang jadi begini? Apa dia beneran butuh?’ Pikirnya bingung, tapi tubuhnya bereaksi sendiri, ada tonjolan di balik sarungnya yang ia coba sembunyikan.
Anisa semakin berani. “Rif, duduk sini. Biar Ibu cerita sedikit.” Ia menarik Rifky duduk di sampingnya.
“Hafiz kemarin bikin ibu kesel banget. Dia... nggak ngerti perasaan orang tua.” Kata-katanya penuh dendam, matanya menyipit mengingat penolakan Hafiz. Aku akan balas, Hafiz. Mungkin dengan temenmu sendiri, gumamnya geram.
Rifky mendengarkan, tapi pikirannya melayang. Tangan Anisa sekarang di pahanya, memijat pelan. “Ibu... jangan gini. Aku takut.” Katanya pura-pura, tapi tangannya tak menepis.
Anisa tersenyum licik. “Takut apa? Atau... penasaran?” bisiknya dekat telinga Rifky. Angin sungai berhembus, menyibak jilbabnya sedikit, memperlihatkan leher putihnya. Situasi semakin tegang, hasrat Anisa membara, sementara Rifky berjuang antara iman dan nafsu.
Malam berikutnya, Anisa tak bisa tidur lagi. Ia bangun diam-diam, mengirim pesan ke nomor Rifky yang ia dapat dari Hafiz dulu.
[Rif, besok pagi ke rumah ya? Ada yang mau Ibu minta tolong. Jangan bilang siapa-siapa.]
Pesan itu terkirim, dan Anisa tersenyum.
Malam itu, rumah Rifky sunyi senyap. Ayah dan ibunya sudah tidur sejak habis Isya, hanya suara jangkrik di luar dan hembusan angin malam yang menyusup lewat celah jendela kayu. Rifky berbaring telentang di kamar kecilnya, matanya terbuka lebar menatap langit-langit gelap yang berbintik-bintik cahaya lampu tembus dari luar.
Pikirannya tak bisa diam.
Kembali lagi ke siang kemarin di tepi sungai. Tangan Anisa yang memijat bahunya pelan, napasnya yang hangat di dekat telinga, dada yang naik-turun di balik gamis ungu itu… dan yang lebih parah, ingatan saat memijat kaki Anisa di rumah, handuk yang tersingkap, bulu-bulu halus di selangkangan yang samar-samar terlihat, desahan kecil Anisa saat tangannya naik ke paha dalam.
Rifky menelan ludah keras. Tubuhnya bereaksi lagi. Penisnya mengeras di balik sarung tipis yang jadi selimut malam ini, berdenyut pelan setiap kali bayangan itu muncul. Ia mencoba membalikkan badan, memeluk guling, membaca doa dalam hati—tapi sia-sia. Gambar Anisa terus datang: senyumnya yang manis, suara lembutnya yang memanggil “Rif…”, tangan yang menyentuh pahanya di tepi sungai.
“Ya Allah… kenapa aku gini terus…” gumamnya pelan, tangannya tanpa sadar merayap ke bawah, menyentuh tonjolan itu sekilas, tapi ia cepat menarik tangan kembali, malu pada diri sendiri. “Aku santri… aku nggak boleh mikirin yang haram…”
Tapi semakin ia larang, semakin gambar itu hidup. Ia membayangkan kalau tadi di sungai ia tak menahan diri—kalau tangannya ikut naik ke balik gamis Anisa, kalau ia balas memijat lebih dalam, kalau…
Ponselnya yang tua di samping bantal tiba-tiba bergetar pelan.
Rifky tersentak, hampir melonjak dari kasur. Ia buru-buru meraih ponsel, layar menyala terang di kegelapan kamar.
Pesan masuk dari nomor yang tersimpan sebagai “Bu Ustadzah Anisa”.
[Rif, besok pagi ke rumah ya? Ada yang mau Ibu minta tolong. Jangan bilang siapa-siapa.]
Jantung Rifky langsung berdegup kencang, seperti drum yang dipukul keras. Ia duduk tegak, napasnya tersengal. Matanya membaca ulang pesan itu berkali-kali, seolah tak percaya.
“Apaan ini… malam-malam gini…” gumamnya pelan, tapi tangannya gemetar saat memegang ponsel. Rasa kaget bercampur heran—dan yang paling ia benci, rasa penasaran yang langsung membuncah lagi. Apa yang mau diminta? Bantu angkat beras? Perbaiki atap? Atau… seperti kemarin lagi?
Ia mencoba menenangkan diri, tapi bayangan Anisa kembali datang lebih kuat. Penisnya yang tadi sempat reda kini mencuat lagi, lebih keras dari sebelumnya.
Dengan jari gemetar, ia mengetik balasan:
[Ada apa, Bu?]
Tak sampai satu menit, balasan datang.
[Pokoknya besok aja ketemu di rumah ibu ��]
Smiley itu, senyum kecil yang polos—tapi bagi Rifky terasa seperti godaan setan. Ia membayangkan Anisa sedang berbaring di kamarnya sekarang, mungkin hanya pakai daster tipis, tersenyum indah saat mengetik pesan itu.
Rifky meletakkan ponsel di samping, tapi tak bisa tidur lagi. Ia berguling kesana-kemari, gelisah luar biasa. Setiap kali memejamkan mata, wajah Anisa muncul, senyumnya terus terputar berulang-ulang. Penisnya makin tegang, berdenyut-denut, membuatnya semakin susah tidur.
“Besok… aku harus nolak… aku nggak boleh datang…” gumamnya pada diri sendiri, tapi suaranya tak yakin. Di dalam hatinya, rasa penasaran itu sudah terlalu besar, seperti api kecil yang tadi sore hampir padam, kini kembali menyala terang karena pesan malam itu.
Malam semakin larut, tapi Rifky masih terjaga. Di antara doa istighfar yang terputus-putus, pikirannya terus bertanya: apa yang sebenarnya diinginkan Bu Ustadzah Anisa besok pagi?
Dan jauh di rumah sebelah, Anisa sudah tertidur pulas dengan senyum tipis di bibirnya, tahu bahwa umpan yang ia lempar malam itu sudah pasti ditelan bulat-bulat oleh Rifky.
^*^
Pagi itu, kampung masih diselimuti kabut tipis. Ustadz Basri sudah berangkat sejak fajar menyingsing, naik sepeda ontelnya ke kebun kecil di pinggir desa untuk memeriksa tanaman jagungnya. Rumah terasa hening, hanya suara ayam berkokok samar dan angin yang menggoyang daun pisang di halaman belakang.
Anisa duduk di ruang tamu, mengenakan gamis panjang berwarna ungu muda dan jilbab senada yang menutupi dada dengan rapi. Di luar tampak shalihah seperti biasa, tapi di dalam, jantungnya berdegup penuh rencana. Ia sesekali melirik ponselnya, menunggu tanda-tanda kedatangan Rifky.
Tak lama, terdengar ketukan pelan di pintu depan.
“Assalamu’alaikum, Bu Ustadzah…” suara Rifky terdengar dari luar, agak ragu.
“Wa’alaikumsalam! Masuk aja, Rif, pintunya nggak dikunci,” jawab Anisa cepat, suaranya lembut tapi ada nada gembira yang tersembunyi.
Pintu terbuka perlahan. Rifky masuk dengan langkah hati-hati, mengenakan kaos oblong lengan pendek dan sarung batik cokelat. Rambutnya masih agak basah, sepertinya baru saja wudhu. Matanya langsung menunduk saat melihat Anisa, tangannya memegang ujung sarung dengan gelisah.
“Saya datang sesuai pesan tadi malam… ada apa ya yang mau dibantu?” tanyanya pelan, suaranya hampir seperti bisik. Ia berdiri di ambang ruang tamu, tak berani duduk sebelum diundang atau dipersilakan.
Anisa tersenyum manis, berdiri dan mendekat sedikit, jarak yang masih sopan, tapi cukup membuat Rifky menelan ludah. “Alhamdulillah kamu datang, Rif. Duduk dulu sini, nggak usah grogi gitu.”
Rifky akhirnya duduk di kursi tamu kayu, badannya tegak seperti santri yang sedang diuji hafalan. Anisa duduk di seberangnya, tangannya menyilang di pangkuan.
“Begini, Rif… Ibu mau mandi pagi ini, tapi kaki masih agak nyeri dari kemarin. Mau ke sungai kok jauh, takut jatuh lagi. Jadi ibu mau ke MCK umum di ujung kampung aja. Tapi… Ibu takut sendirian. Katanya pernah ada yang ngintip waktu ada ibu-ibu mandi di sana. Kamu… mau nemenin Ibu nggak? Cukup jaga di luar aja, biar ibu tenang.”
Wajah Rifky langsung memerah. Ia menunduk lebih dalam, jari-jarinya saling mengait gelisah. “E-eh… iya, Bu. Kalau cuma jaga di luar, insya Allah bisa. Tapi… yakin nggak apa-apa? Nanti kalau ada yang lihat, bisa jadi fitnah…”
Anisa tertawa kecil, suaranya lembut seperti merayu. “Kampung lagi sepi kok pagi ini. Bapak-bapak ke sawah, ibu-ibu ke pasar, anak-anak sekolah. Lagian kamu kan anak baik, santri pula. Ibu percaya sama kamu. Jangan bilang siapa-siapa ya, termasuk Hafiz.”
Rifky mengangguk pelan, meski jantungnya sudah berdegup kencang sejak tadi. Ia tahu ini aneh, tahu ini berbahaya, tapi kata ‘Ibu percaya sama kamu’ entah kenapa membuatnya tak bisa menolak. “I-iya, Bu. Saya jaga rahasia ini.”
Anisa bangkit, mengambil tas kresek kecil yang sudah disiapkan di sudut ruangan. “Nah, gitu dong. Kamu bawa handuk dan sabun belum? Kalau belum, ambil dulu di rumah sana, sekalian mandi juga kalau mau. Ibu tunggu di sini, nggak apa-apa kok.”
Rifky berdiri cepat, hampir tersandung karpet kecil. “Eh, belum bawa, Bu. Saya ambil dulu ya, sebentar aja. Lima menit.”
“Tenang aja, ibu juga nggak buru-buru,” kata Anisa sambil tersenyum, matanya mengikuti Rifky yang buru-buru keluar dan berlari kecil menuju rumahnya yang tak jauh dari situ.
Saat pintu tertutup kembali, Anisa menghela napas panjang, bibirnya melengkung licik. Bagus. Dia datang. Dan dia nggak bisa nolak. ‘Hafiz, kamu tolak aku, sekarang temenmu sendiri yang akan aku ajak main. Setelah itu tentu saja kamu juga akan bertekuk lutut.’
Tak sampai sepuluh menit, Rifky kembali dengan napas tersengal, tas kecil digantung di bahu. “Sudah, Bu. Saya siap.”
Anisa mengangguk puas. “Ayo berangkat sekarang, sebelum ada yang curiga.”
Mereka berdua keluar rumah lewat pintu belakang, menyusuri jalan setapak kecil yang jarang dilalui orang. Anisa berjalan di depan, Rifky mengikuti beberapa langkah di belakang, matanya berusaha fokus ke tanah tapi sesekali melirik gamis Anisa yang bergoyang pelan mengikuti langkahnya.
Sampai di MCK umum yang sepi di pinggir sungai, angin pagi menjelang siang masih dingin menyapa kulit. Anisa berhenti di depan pintu, menoleh ke Rifky yang kini berdiri kaku seperti patung.
“Rif, kamu jaga di luar ya. Jangan pergi kemana-mana. Kalau ada orang lewat, kasih tahu Ibu.”
“I-iya, Bu. Saya di sini aja,” jawab Rifky cepat, suaranya bergetar.
Anisa masuk ke dalam, menutup pintu dengan pelan. Tak lama, suara air mulai terdengar dari dalam, pelan, teratur, tapi sengaja dibuat agak lama setiap gayungnya.
Rifky berdiri di luar, punggung menempel ke dinding bata. Napasnya berat. Ia mencoba membaca doa dalam hati, tapi suara air itu, bayangan yang samar-samar terlihat dari celah atas dinding, dan ingatan akan sentuhan kemarin… semuanya bercampur menjadi satu.
‘Ya Allah, ini ujian berat banget…’ gumamnya dalam hati.
Dan di dalam, Anisa sudah mulai membuka jilbabnya perlahan, tersenyum sendiri.
Permainan baru saja dimulai.
Di dalam bilik MCK yang cukup luas, dinding bata setinggi dada orang dewasa, atasnya terbuka lebar tanpa atap—Anisa merasa benar-benar bebas. Ia sudah melucuti seluruh pakaiannya: gamis, jilbab, daster tipis, bahkan dalaman yang memang tidak ia pakai sejak pagi. Semua tergantung rapi di pengait besi berkarat di sudut bilik.
Air dari gayung ia tuang pelan-pelan, mulai dari kepala hingga ujung kaki. Rambutnya yang panjang basah menempel di punggung dan dada, menutupi sebagian payudaranya yang penuh. Ia bersenandung kecil, lagu dangdut lawas yang lirih tapi cukup jelas terdengar sampai luar:
“Air mengalir… basah sudah badan ini…”
Sengaja ia pilih lagu itu, nada manja dan berirama lambat, seolah-olah hanya untuk menghibur diri sendiri. Tapi sebenarnya ia tahu suara itu pasti sampai ke telinga Rifky yang sedang menjaga di depan.
Di luar, Rifky sudah tak lagi berdiri tegak. Punggungnya menempel ke dinding, napasnya pendek-pendek. Setiap gayung air yang dituang, setiap senandung kecil Anisa, membuat imajinasinya semakin liar. Ia teringat jelas tangan Anisa yang memegang handuk kemarin, lekuk paha yang tersingkap, bulu-bulu halus yang sempat terlihat sekilas.
Kini, mengetahui Anisa benar-benar telanjang di dalam sana, hanya terpisah dinding bata tipis… penisnya langsung mencuat keras di balik sarung, menekan kain hingga terasa sakit.
Rifky menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. ‘Astagfirullah… astagfirullah…’ Doanya terputus-putus, tak lagi khusyuk. Tangan kanannya tanpa sadar meraba tonjolan itu, mencoba menekannya agar reda, tapi malah membuat sensasi semakin kuat.
Dan entah setan apa yang mencubit kewarasannya pagi itu.
Langkahnya pelan sekali, hampir tak bersuara. Ia menyusuri sisi MCK, melewati semak belukar kecil, sampai ke bagian belakang yang memang lebih terbuka. Di sana, tembok hanya setinggi dada, dan di atasnya kosong, hanya seng rapuh dan langit juga pohon jati tua yang menaungi. Space itu cukup luas untuk satu orang berdiri nyaman, bahkan dua orang jika mau berdesakan.
Rifky naik ke batu besar yang sudah tertutup lumut, posisinya pas agar bisa mengintip ke dalam, tanpa harus terlalu menjulurkan kepala. Napasnya tertahan. Matanya perlahan naik…
Dan di sana…
Anisa berdiri membelakangi arahnya, tepat di bawah pancuran air dari gayung yang baru saja ia angkat lagi. Air mengalir deras membasahi punggungnya yang mulus, turun melewati lekuk pinggang, lalu ke bokong yang bulat dan kencang. Ia menggosok sabun di lengannya pelan-pelan, busa putih menyelimuti kulitnya yang sawo matang. Rambut basah menempel di bahu dan punggung, sesekali ia menyibaknya ke belakang dengan gerakan lambat, memperlihatkan leher jenjang dan bahu putihnya.
Rifky membeku. Matanya tak berkedip. Ini pertama kalinya ia melihat tubuh wanita telanjang secara langsung—bukan dari video atau foto yang pernah tanpa sengaja ia lihat di ponsel teman. Ini nyata. Hangat. Bergerak pelan di depannya, hanya berjarak beberapa meter.
Anisa seolah tahu. Ia memutar badan perlahan, kini menghadap sisi yang membuat payudaranya yang besar dan berisi terlihat jelas dari samping. Putingnya yang cokelat tua tegak karena dingin air pagi. Ia menuang air lagi ke dada, membiarkan air mengalir turun ke perut, lalu ke selangkangan yang ditumbuhi rambut hitam lebat tapi rapi. Tangan kirinya memijat pelan payudaranya sendiri, seolah hanya membersihkan sabun, tapi gerakannya terlalu lama, terlalu lembut untuk sekadar mandi.
Rifky menelan ludah keras. Tangan kanannya kini sudah masuk ke dalam sarung, menggenggam batangnya yang berdenyut keras. Ia tak lagi berdoa. Hanya napas tersengal pelan yang terdengar di telinganya sendiri.
Anisa tiba-tiba menoleh sedikit ke arah belakang, bukan langsung ke Rifky, tapi cukup dekat hingga Rifky buru-buru menunduk, jantungnya hampir copot. Tapi Anisa hanya tersenyum kecil, seolah tahu ada yang mengawasi.
Ia melanjutkan mandinya, kali ini lebih berani: tangannya turun ke bawah, membersihkan bagian paling intimnya dengan gerakan melingkar pelan, sesekali mendesah kecil.
“Aah… enaknya air siang… ini…” gumamnya cukup keras, suaranya menggantung di udara.
Rifky tak tahan lagi. Ia tetap di posisinya, mengintip dengan hati-hati, tangannya kini bergerak pelan di dalam sarung. Rasa bersalah menusuk-nusuk, tapi rasa penasaran dan birahi itu jauh lebih kuat. Ia tahu ini salah besar. Ia tahu kalau ketahuan bisa hancur segalanya. Tapi pagi itu, di balik dinding MCK yang sepi, Rifky untuk pertama kalinya benar-benar kalah oleh nafsunya.
Sementara Anisa, dengan senyum licik yang semakin lebar, melanjutkan “pertunjukannya”. Ia tahu Rifky ada di sana. Ia bisa mendengar napas anak muda itu yang tersengal pelan. Dan ia tahu, sebentar lagi anak itu takkan bisa hanya mengintip dari kejauhan.
Permainan semakin dekat ke puncaknya.
^*^
ns216.73.216.147da2


