Bu Hesti, yang siang itu ijin untuk pulang lagi lebih awal, segera memacu mobilnya menuju rumah sakit. Ia hendak menebus resep obat yang nanti malam akan mulai dikonsumsi untuk suaminya, pak Wito (47 thn). Laki² berwajah tampan, berperut buncit, namun tajir melintir. Rumahnya sangat wah.
Sebuah perumahan elit di kota Malang yang mayoritas penghuninya adalah etnis keturunan cina. Berbagai bisnis yang ia kelola, investasi di beberapa perusahaan terkemuka, ditambah lagi investasi di forex, membuat ia dan bu Hesti tak kuatir akan kekurangan hingga 7 turunan.
Rumahnya sendiri hanya memiliki 1 lantai, namun luas halaman depannya saja bisa untuk main futsal. Mobil yang terparkir di garasinya sebanyak 4. Semuanya mobil yang bisa dibilang mobil mewah. Namun hingga saat ini, mereka belum dikaruniai keturunan. Itu karena pak Wito divonis mandul oleh dokter.
Sebelumnya, ia memiliki pembantu berjumlah 2, namun sebelum diabetes pak Wito semakin parah, kedua pembantunya pamit pulang, dan tidak kembali. Itulah yang membuat pak Wito dan bu Hesti cukup kelabakan mengurus rumah.
Mereka sering menyeleksi pembantu dari agen, namun kebanyakan hanya bertahan 1 minggu, dikarenakan bu Hesti sendiri cukup cerewet dan jam kerja yang melebihi standar.
Kekayaan yang dimiliki pak Wito sendiri, tidak bisa ia nikmati lagi, semenjak sakit diabetesnya makin parah. Makanan dibatasi, aktivitas pun juga dibatasi. Sehingga pak Wito lebih banyak bedrest di rumah. Ia sangat tersiksa dengan keadaannya sekarang, tapi itu semua juga karena kebiasaan pak Wito sendiri yang suka mengkonsumi alkohol, minuman manis, makanan yang tinggi kolesterol dan seringnya begadang. Segala aktivitasnya berlawanan dengan pola kehidupan sehat.
Sedang bu Hesti sendiri, adalah seorang ibu rumah tangga yang dikenal cukup supel, royal, dan suka memberi, begitu pula pak Wito, laki² yang suka memberi hadiah tak terduga kepada orang lain, apalagi orang yang tergolong miskin. Sudah banyak orang miskin yang mereka bantu cuma², mereka juga suka membantu orang yang terlilit hutang. Oleh sebab suka membantu itulah, kekayaannya seperti tak pernah surut, bahkan makin bertambah.
Sebetulnya, dari sebelum suaminya mengidap diabetes, hasrat seksual bu Hesti sendiri tak pernah bisa dipenuhi pak Wito, karena setiap kali berhubungan badan, pak Wito mengalami ejakulasi dini. Sehingga membuat bu Hesti, tak pernah merasa terpuaskan.
Bu Hesti sendiri adalah seorang wanita berjilbab, pandai merawat diri, meskipun ia jarang sekali olahraga. Terlihat dari bodynya yg sedikit gemuk, namun masih terbilang seksi, pinggulnya yang berisi, bokong yang semok dan montok menjadi senjatanya memikat lawan jenis. Payudaranya yang aduhai besarnya juga turut mendukung keseksiannya. Karena pentilnya dulu sering diisap oleh pak Wito, membuatnya perlahan membesar, namun justru pentil besar itulah yang membuat dirinya makin hot.
Bu Hesti sendiri adalah orang yang cukup selektif. Semenjak suka menonton bokep yang bertema ‘Big Dick, Huge Dick, Monster Cock’, membuatnya lebih sering masturbasi, dikarenakan ia tidak lagi bernafsu dengan suaminya sendiri yang memiliki kontol kecil.
Ia melakukan hubungan badan dengan suaminya hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang istri. Apalagi semenjak pak Wito loyo, ia tak pernah lagi berhubungan badan, ia lebih sibuk dengan urusan kantor dan video² bokep sebagai pengalihan dan pelampiasan nafsunya.
Bu Hesti juga pernah menjalin hubungan gelap dengan beberapa lelaki. Ia rela mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar laki² yang pernah mengentotnya. Namun tak satupun yang bisa membuatnya puas, karena memang rata² penis mereka standar ukurannya dan pendek.
Ada yang berdiameter 6cm, namun cebol alias pendek, ada yang berdiameter 3 cm, tapi panjang. Lagi² panjang penis yang pernah dirasakan bu Hesti juga masih standar. Belum ada yang berhasil menusuk² dinding rahim bu Hesti dan memenuhi liang vaginanya. Blm ada yang bisa membuat perut bu Hesti merasakan mules dan ngilu. Tidak ada yang bisa membuat bu Hesti mendesah hebat dan mengerang keenakan.
Bertemu dengan mas Gofar, akrab dan sering ngobrol, dinilai bu Hesti seperti menemukan sebuah bongkahan emas dan permata. Wajahnya sih biasa, namun body dan senjatanya yang luar biasa. Ia menyamakan Gofar dengan artis² bokep luar negeri yang memang rata² memiliki penis yang besar dan panjang. Membayangkan mas Gofar, membuat bu Hesti selalu colmek setiap kali menonton film² porno yang dengan mudah bisa dia akses kapanpun dia mau.
Gairah seksualnya yang begitu mudah terangsang, membuatnya sering melakukan hal² yang cukup berani. Seperti colmek di toilet kantor, di mobil, di ruang ganti toko baju, bahkan di pos security pun tak luput dari aksi gilanya. Intinya setiap kali ia menonton bokep dan libidonya naik, ia akan mencari cara apapun untuk menuntaskan hasrat biologisnya.
Entah apa yang akan dialami oleh mas Gofar, orang yang sekarang menjadi incaran bu Hesti. Orang yang nampak polos dan cuek di mata bu Hesti. Tak ada yang tahu.
Hari ini, adalah hari yang dinanti² oleh bu Hesti, karena mas Gofar sudah setahap masuk dalam jebakan nafsu gila bu Hesti. Disela² waktu siang tadi, setelah menebus resep, ia sempatkan diri mampir di toko obat cina. Dibelinya 2 kapsul obat perangsang untuk memuluskan aksinya.
Sesampainya di rumah, ia segera menemui suaminya yang tengah rebahan di kamar tidur utama. Meski pak Wito hampir bisa dikatakan lumpuh, namun bu Hesti yang haus akan kontol jumbo itu masih perhatian dan sayang dengan pak Wito. Ia begitu telaten merawat pak Wito saat berada di rumah.
Ia lebih sering memasak sendiri, menyiapkan makanan, menyuapi pak Wito, membantu pak Wito mandir, dan beres² rumah. Cukup melelahkan memang, ditambah lagi kesibukan bu Hesti di kantor yang semakin padat. Jelas membuat bu Hesti sangat membutuhkan seorang pembantu rumah tangga yang cekatan, yang bisa merangkap sebagai perawat pak Wito.
Bu Hesti cukup beruntung, ada orang di kabupaten Malang, lebih tepatnya di daerah pakis, dimana ibunya tinggal, mau bekerja menjadi pembantu sekaligus menjadi perawat suaminya, setelah mendapat penawaran dari ibundanya.
Bi Cupi Cupita (48 thn), tetangga satu RT dari bu Bekti Rahayu (63 thn), ibunda dari bu Hesti, yang ikut mencarikan tenaga pembantu, tiba² menghubungi bu Hesti melalui WA yang diberikan oleh ibunya. Menurut bu Bekti, ortu dari bu Hesti, bi Cupi Cupita adalah orang yang cekatan dan amanah, cocok untuk bekerja di rumah anaknya.
“Selamat siang bu Hesti, saya bi Cupi Cupita, tetangga bu Bekti di pakis. Kata ibu, jenengan sedang membutuhkan pembantu yang merangkap sebagi perawat ya?, begitulah isi dari pesan WA bi Cupi Cupita.
“Siang juga, iya betul sekali bi. Saya memang sangat membutuhkan pembantu. Jenengan bisa mulai bekerja kapan bi?”, tegur bu Hesti to the point.
“Monggo bu, (silahkan bu), kapanpun jenengan minta sy berangkat. Tapi saya mohon kesediannya untuk mengganti ongkos transportasinya”. Timpal bu Cupi Cupita.
“Owalah gampang itu bi, biaya transportasi akan saya kirim secepatnya. Gimana klo hari ini jenengan berangkat? Saya minta nomor rekeningnya jenengan ya bu”, balas bu Hesti sambil menarik nafas lega.
“Waduh maaf sekali bu, saya ndak punya. Gimana klo semisal saya minta dulu ke ibunya jenengan?
“Oh ya boleh, kalo gitu jenengan langsung aja minta berapa yang dibutuhkan ke Ibuk, nanti biar saya ganti ke ibuk” balas bu Hesti dengan semangat.
Bi Cupi Cupita sendiri bertubuh sintal, payudaranya lumayan besar, bahkan lebih besar sedikit dari payudara bu Hesti. Hampir sama perawakannya dengan bu Hesti, hanya usia dan tenaga yang membedakan diantara keduanya.
Meski lebih tua 6 tahun, bi Cupi Cupita memilki tenaga yang cukup kuat. Karena sebelumnya, ia seminggu 3 kali bekerja di ladang milik tetangganya. Kulitnya sawo matang khas orang jawa, berbibir sedikit tebal dan sensual. Bi Cupi Cupita menjanda sudah sekitar 8 tahunan, suaminya direbut orang ketiga yang ternyata masih saudara dengannya, sungguh ironis nasibnya.
Hubungan keluarganya dengan saudara² suaminya juga ikut renggang, karena saudara² suaminya lebih membela suaminya. Ketiga anaknya yang masih bersekolah membuatnya menjadi ibu merangkap kepala rumah tangga. Beruntung juga ia bertemu dengan bu Hesti, ia berharap ada kenaikan pendapatan untuk menyokong kehidupan keluarganya.
Sementara itu,
Bu Hesti yang sudah menunggu kedatangan mas Gofar, hatinya berbunga², hasrat seksualnya mulai naik, membayangkan berbagai macam aksi mesum dan kenikmatan yang akan ia dapatkan dari seorang pemuda perkasa dan macho.
Kondisi cuaca yang dari pagi mendung, akhirnya tak mampu membendung air hujan untuk turun. Gerimis pun mengguyur lembut jalanan kota Malang, berikut mas Gofar yang hampir tiba di rumah bu Hesti. Yang makin lama makin deras, sehingga membuat mas Gofar yang lupa membawa jas hujan basah kuyup.
Akhirnya penantiannya pun tiba. Mas Gofar yang kedinginan, sempat berteduh di bawah kanopi sebuah ruko dekat rumah bu Hesti. Ia lalu mengirim pesan bahwa ia sudah dekat.
“Bu, saya sudah dekat rumah, posisi saya di depan ruko xxx”. Tak sampai 5 detik, pesannya pun mendapat balasan. Nampaknya bu Hesti benar² menunggu mas Gofar tanpa meninggalkan hape dari genggaman tangannya. Sehingga pesan dari mas Gofar langsung mendapatkan respon.
“Iya mas Gofar, dari gerbang perumahan lurus aja, ada bundaran pertama belok kanan, rumah saya yang paling ujung kanan jalan, pagar hitam, saya bukain pagar biar mas Gofar bisa langsung masuk ya. Motornya dimasukin aja ya mas”, tukas bu Hesti.
Tanpa membalas, mas Gofar pun bergeGofar menuju ke rumah bu Hesti. Sesampainya disana, bu Hesti pun menyambut kedatangan mas Gofar hanya mengenakan daster terusan sepaha berwarna merah marun. Wajahnya yang tanpa makeup makin terlihat cantik natural, apalagi bodynya yang montok, terpampang jelas di depan mata mas Gofar yang barusan datang.
Sambil memarkir sepeda motornya, dalam hati mas Gofar berkata, “ini beneran bu Hesti yah, atasanku di kantor yang selalu memakai jilbab gaul… sungguh beda banget, cantik juga, malah lebih cantik tanpa makeup”. Sejenak lamunannya buyar saat bu Hesti menyapa.
“Mas Gofar, kok melamun, hayoooo mikirin apa?, sapanya sambil tersenyum menggoda. “Gak pernah ya liat saya berpakaian seperti ini? Hihi… maaf ya saya klo di rumah ya seperti ini mas, jadi mas Gofar santai aja”, imbuhnya.
Mas Gofar menjawab bu Hesti sambil menunduk, “aah nggak bu, saya gak melamun kok, saya mikirin baju saya yang basah, nanti lantai bu Hesti jadi kotor”, dalihnya. Mas Gofar masih kagum ukuran payudara bu Hesti. Lalu ia dalam hati membChoirul Tanjungngkan dengan milik teman kerjanya, si Putri yang sore tadi ia antar pulang.
Akibatnya, rudalnya pun berkedut kembali. Buru² ia tutupi dengan tas slempangnya.
Bu Hesti yang melihat baju mas Gofar basah kuyup oleh air hujan, tiba² memiliki ide mesum baru. Sambil tersenyum nakal, ia pun mengajak mas Gofar untuk segera masuk ke dalam rumahnya.
“Ya udah yuk buruan masuk mas, diluar dingin. Sy pinjami baju bapak nanti, mas Gofar bebersih dulu aja”, lanjut bu Hesti sambil membalikkan badannya, berjalan masuk ke dalam rumah diikuti mas Gofar dibelakangnya. “Apa gak merepotkan bu, sy pulang aja dulu gimana buat ganti”, jawab mas Gofar.
“Halaaah, klo pulang apa gak tambah kemaleman? Iya klo ujannya reda, kalo makin deres gimana coba?”, kata bu Hesti meyakinkan.
“Oh iya juga ya bu, baik klo gitu, makasih banyak sebelumnya ya bu”, jawab mas Gofar.
“iya mas, sama². Y udah yuk ikuti saya”, ajak bu Hesti.
Setelah di dalam rumah, ia berjalan agak cepat menuju dapur, menyiapkan teh hangat yang diseduh dengan air dispenser, tak lupa ia menuangkan serbuk perangsang yang sengaja sudah disiapkan sebelumnya. Ia taburkan diatas air teh dan gula, lalu diaduknya hingga bercampur rata. Iapun sempat mencicipinya, karena juga ingin mencoba bagaimana rasanya libidonya naik dengan cepat. Lalu ia bawa air teh hangat tadi ke ruang tamu. Mempersilahkan mas Gofar untuk meminumnya.
“Ini mas, disruput dulu teh nya, biar badan agak anget, saya ke kamar dulu ya, ambil baju ganti”, ucap bu Hesti.
“Wah jadi merepotkan bu Hesti lagi, ngapunten bu (maaf bu)”, ucap mas Gofar lalu meminum teh hangat yang sudah bercampur dengan obat perangsang tadi.
Karena tubuh mas Gofar belum pernah merasakan obat²an semacam itu, tak menunggu lama obat itupun bereaksi. Pelipis, telinga, dan mata mas Gofar mulai hangat, pembuluh darahnya membesar, memompa darah semakin kencang. Tak ayal, kontolnya pun dirasa semakin mengembang. Begitu pula bu Hesti, ia juga merasakan hal yang sama.
Saat memasuki kamar, bu Hesti melihat suaminya sedang tertidur pulas dan mendengkur. Ia tau jika suaminya sudah tertidur pulas, membangunkannya bakalan susah. Gempa bumi sekalipun takkan mampu membuka mata suaminya. Melihat kesempatan makin terbuka lebar, ia buru² mengambil baju dan celana boxer milik suaminya. Ia sengaja memilih celana boxer, agar ia lebih leluasa memandangi kontol mas Gofar. Membayangkan hal mesum itu, nafsu dan gairah bu Hesti semakin menjadi². Ia segera keluar kamar.
“Mas Gofar, ini baju gantinya yah. Maaf kalo kekecilan, abis badan suami sy dengan saya hampir sama, hihi”, kata bu Hesti yang muncul dari balik pintu, seraya memberikan baju untuk mas Gofar. “Maaf saya gak punya celana yang seukuran mas Gofar, jadi sy inisiatif pinjamkan ini aja”, sambil menyodorkan celana boxer yang berukuran L. Jika dipakai oleh mas Gofar yang berpostur tinggi, maka celana boxer itu hanya bisa menutupi bawah pusar hingga setengah paha atas mas Gofar.
“Mas Gofar yang terkena efek obat perangsang tadi, memperlihatkan kegelisahan. Kontolnya yang setengah mengembang, berusaha ia tutupi lagi dengan tas.
“Kenapa mas Gofar, kok kayaknya gelisah gitu”, tanya bu Hesti setengah menggoda, padahal bu Hesti tahu itu efek dari obat perangsang yang ia berikan tadi. Bu Hesti yang juga sebenarnya nafsunya semakin membara, segera mengajak mas Gofar ke kamar tamu yang berada di dekat dapur.
“Ehhh, nggak bu….gapapa…”, jawabnya sambil gelisah.
“Oh ya uudah klo gakpapa, yuk, ibu antar ke kamar tamu, biar mas Gofar bisa mandir air hangat”, sahut bu Hesti yang juga gelisah.
“Ahh tt..terimakasih sekali bu”, iapun mengikuti bu Hesti sambil menenteng baju dan boxer yang dipinjamkan tadi.
Sesampainya di kamar, bu Hesti lalu menunjukkan kamar mandirnya, terlihat elegan, berdinding kaca bening, dihiasi stiker bunga² yang berwarna putih buram, sehingga jika diamati terlihat semi tembus pandang. “Itu handuknya ya mas Gofar, sabun sama shampoo nya udah ada di dalam”.
“Iya bu, terimakasih sekali lagi”
“Iya sama² mas Gofar, saya keluar dulu ya, saya angin² dulu baju basah mas Gofar di jemuran belakang, kalo saya tungguin di dalam nanti malah gak mandir mas Gofar nya, hihi”, tiba² saja kata² bu Hesti semakin berani menggoda.
“Oh iya bu, hehe, ada² aja ibu nih, kan saya juga malu, keliatan dari luar pas mandir”, dan mas Gofar pun tak habis pikir, mulutnya seakan mulai berani untuk mengucapkan kata² godaan. Ia merasakan aliran darahnya semakin deras, memacu libidonya semakin naik. Ia mencoba mengendalikan perasaannya, namun seperti mati kutu. Mas Gofar pun segera melepas bajunya di dalam kamar mandir, mulai menyetel air hangat di shower.
Sssssssshhhhhhhhhhhh…….terdengar air hangat menyembur membasahi seluruh tubuh mas Gofar yang perkasa dan atletis.
Setelah menjemur baju mas Gofar, bu Hesti kembali mendekati kamar tamu, ia menunggu momen saat air shower mengucur hangat, dan dalam setengah menit, dinding kaca itupun mulai terlihat buram oleh embun dan cipratan air hangat. Perlahan bu Hesti menyelinap masuk untuk mengintip mas Gofar yang sedang asik membasahi seluruh tubuhnya dengan air hangat.
Bu Hesti mengendap² lalu duduk diatas kasur di samping kamar mandir, jaraknya sekitar 2 meteran. Ia tahu jika air hangat dinyalakan, maka yang berada di dalam tidak akan bisa melihat yang diluar. Namun sebaliknya, yang diluar bisa melihat yang didalam meskipun sedikit agak buram.
Mas Gofar yang tak menyadari kehadiran bu Hesti, asik membasuh tubuhnya yang kekar, menikmati air mengalir dan membasahi setiap lekuk tubuhnya. Ia pun memandangi kontolnya yang dari tadi setengah menegang akibat efek dari obat perangsang. Ia biarkan air mengalir menyusuri batang kontolnya yang besar dan berurat.
Kontolnya pun berkedut, semakin mengembang hingga membujur kedepan. Ia tuangkan sabun cair, lalu dari arah leher ke bawah, ia mulai menyabun permukaan kulitnya, makin turun, hingga sampai ke bagian selangkangannya. Tangannya lalu menyentuh pangkal kontolnya, mengurut pelan dengan sabun hingga ke ujung kepala kontolnya. Ia merasakan sensasi yang berbeda lagi.
Perlahan ia mulai mengocok penisnya, hingga makin mendongak keatas mendekati perutnya. Kepala kontolnya yang berbentuk jamur yang mengembang dan mengkilat, kini berada sekitar 5 senti dari atas pusar. Betul² kontol perkasa yang membuat wanita tergila², termasuk ke 4 wanita rekan kerjanya. Dengan panjang hampir selengan orang dewasa, sekitar 22 senti, dan berdiameter 5,5 senti, wanita mana yang tak ingin mencobanya.
Mas Gofar sendiri agak heran, kenapa tangannya bisa melakukan hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya, mengocok kontolnya hingga menegang maksimal. Deru nafasnya pun semakin menggebu², dadanya naik turun, dan ia mulai membayangkan payudara Putri dan bu Hesti yang besar dan kenyal. Iapun terus mengocok kontolnya keatas dengan pelan, menikmati sentuhan dengan kulit batanganya yang berotot, ia urut perlahan hingga ke kepala kontolnya yang telah licin oleh sabun.
Bu Hesti yang dari awal sudah diatas kasur, begitu takjub dengan pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Sosok bawahannya yang bertubuh kekar, berkontol panjang dan besar, tengah mandir di dalam rumahnya, sambil mempertontonkan keperkasaannya.
Karena semakin bernafsu, bu Hesti lalu menurunkan tali yang melilit di pundaknya, menarik turun dasternya hingga jatuh ke lantai, sambil ia duduk di tepi kasur, ia pun menurunkan tangan kanannya ke arah vaginannya yang telah basah, sedang tangan kirinya meremas² payudaranya yang besar, sembari menopang dan mengarahkan pentilnya yang mengeras ke arah mulutnya.
Ia isap², jilat putingnya sendiri dan mengkobel memeknya yang sudah dicukur mulus. Sesekali ia usap² klitorisnya, lalu memasukkan dua jarinya ke liang memeknya dan mulai mengocok keluar masuk jarinya. Lendir di dalam memek yang membasahi jari²nya, memberikan kenikmatan tersendiri.
Mata bu Hesti tak pernah lepas dari memandangi tubuh kekar mas Gofar, terutama kontol besarnya yang menggemaskan. “Gila mas Gofar, kontolmu bisa segede itu, aaaakuuu….akuuu… mauuu Gofar sayaaaang….”, racaunya. Antara takut dan nafsu, membuat bu Hesti berulang kali membuka tutup matanya.
“Maaasssss….ssssh… aaah….uuh, enak banget kontolmu maaaas…gedeee…. sesak… penuh perutku sayaaaaangmmmmhhhfff… mmpfff…ssssh…aaaaah.. terus maaas, dorong lebih dalem, pentokin, amblesin semua”, ucap bu Hesti dalam hati, sembari membayangkan ia tengah digempur rudal mas Gofar.
Suara bu Hesti makin lama makin tinggi, ia seolah lupa jika mas Gofar satu kamar dengannya. Hanya dinding kaca yang buram pemisahnya. Samar² akhirnya mas Gofar mendengar ada suara² desahan yang begitu dekat dengannya. Perlahan, ia mengelap dinding kaca, mengusap dengan tangannya, begitu kaget dirinya, dibalik dinding kaca itu, ia dapati bu Hesti yang telanjang bulat sedang bermasturbasi di atas ranjang.
Matanya melotot, seolah tak percaya, orang yang ia jadikan fantasi seks, kini ada di depan matanya. Begitu menggoda birahinya, tangan mas Gofar pun tak berhenti mengocok. Namun ia masih takut untuk keluar, ia pun tak berani memaChikan kran shower, apa jadinya jika tiba² bu Hesti sadar dan melihatnya telanjang dengan kontol tegak menjulang.
Kalut bercampur nafsu, itu yang kini dirasakan mas Gofar. Sebetulnya ia ingin sekali segera menyetubuhi wanita itu, tapi ia tak tahu bagaimana memulainya. Iapun menempelkan telinganya di dinding kaca, mencoba mendengar apa yang keluar dari mulut bu Hesti. Asumsinya, bu Hesti masturbasi karena melihatnya telanjang. Hanya itu. Tak pernah terpikirkan mas Gofar, jika nyatanya, bu Hesti masturbasi karena betul² menginginkan seluruh lekuk tubuh atletisnya yang begitu menggoda, terutama kontolnya yang jumbo, melesak ke dalam liang vagina bu Hesti yang tembem.
“Mas Yoooon sayang…. tekan maaas… dorong yang dalem mas, buat dinding rahimku meronta² minta ampun maaaassss… buat rahimku ngilu maaas… tusuk juga anusku Gofar sayang, puasin ibu sayang…”, meski tak begitu jelas, mas Gofar mendengar namanya disebut berulang kali dalam fantasi seks bu Hesti. Kini nafsunya makin membara, jantungnya memompa darah semakin deras ke otak dan kontolnya. Kontolnya makin menengang, seolah meronta² ingin segera beradu dengan vagina bu Hesti.
Ia bingung lagi, harus mulai darimana, karena belum pernah sekalipun ia entot seorang wanita. Akhirnya mas Gofar perlahan membuka pintu kaca kamar mandir, kran shower sengaja tidak ia maChikan, ia hanya ingin mendekat di depan bu Hesti tanpa sepatah katapun. Ia berharap, bu Hesti yang memulainya dulu.
Ia lalu berdiri di depan bu Hesti. Bayangannya menutupi sebagian tubuh dan wajah bu Hesti. Bu Hesti masih belum sadar, pria yang ia idamkan kini sudah berdiri di hadapannya.
Lelaki itu masih berdiri mematung, ia pandangi dan nikmati setiap lekuk tubuh bu Hesti, tak terkecuali payudaranya yang tak cukup satu genggaman. Bergoyang mengikuti setiap gerakan tubuh bu Hesti yang sesekali menggelinjang. Vagina bu Hesti yang tembem pun tak luput dari sorot matanya.
Karena mas Gofar yang agak membungkukkan badannya, menyebabkan bulir² air yang ada di wajahnya menetes, mengenai perut bu Hesti, hingga bu Hesti pun sontak membuka matanya.
Seperti tersambar petir, keduanya saling terkejut, saling pandang tanpa sepatah kata apapun. Namun situasi ambigu itu tak berlangsung lama. Bu Hesti yang sudah berumah tangga dan beberapa kali bersetubuh dengan laki² lain mencoba mencairkan suasana.
“Auuuw… mas Gofar”, sapa bu Hesti memulai. Kedua tangannya berusaha menutupi payudara dan vaginanya. Ia pandangi tubuh mas Gofar dari dada hingga ke selangkangannya. Begitu menggoda bu Hesti, sampai² ia menggigit bibir bawahnya dan tak berkedip. “Isssshhh..”,Tatapan mata nanarnya sontak terhenti di selangkangan mas Gofar. Kontol gede dan panjang impiannya kini sudah mengacung di depan matanya.
“Mmm…mm…maa..maaf bu…, aaa…aku..aa..a..aku…”, lidah mas Gofar serasa kelu, sekeChika ia menunduk tak berani memandang wajah dan tubuh bu Hesti. Bongkahan payudara nya yang besar dan sekal dengan puting yang bulat menonjol berwarna coklat sungguh menggoda mas Gofar untuk sesekali melirik. Kepala mas Gofar yang masih menunduk, membuat matanya masih bisa menikmati keindahan perut bu Hesti yang sedikit berlemak dan paha putih mulus yang ia rapatkan.
“Mas Gofar sayang… jangan takut dong, ibu tau kamu di dalam tadi menyebut² namaku, jujur ibu juga berfantasi membayangkan mas Gofar”, ucapnya sedikit menenangkan. Walaupun jantung bu Hesti pun kini sedang berdegup cepat.
Mas Gofar cukup terkejut, kata² sayang yang ia dengar, membuat dirinya seperti sedang memiliki seorang kekasih.
“Aahh iii…iya..bu…, aa..aku..eee..e..anu..aa..anu bu…eee…”, ucapnya sambil memandang wajah bu Hesti yang cantik.
Dugg..dug..dug..dug..dug, jantung mas Gofar berdegub cepat…
Ia merasakan sepasang tangan lembut bu Hesti yang tiba2 mendarat di pinggang kanan dan kirinya, sesekali mengelus kulit mas Gofar yang sedikit basah oleh air. Kontol mas Gofar kini semakin dekat dengan wajah bu Hesti yang masih duduk di pinggiran kasur, hanya tinggal beberapa senti saja. Kontolnya kembali berkedut, bergerak² sedikit, membuat mata bu Hesti semakin nanar karena posisinya yang mengacung tegak, benar² berada di depan matanya, persis di tengah² wajahnya.
Bu Hesti lalu berdiri, kini kepalanya sejajar dengan dada mas Gofar, sembari melihat wajah mas Gofar yang putih bersih dengan bibir mas Gofar yang berwarna merah muda merona, menandakan ia tak pernah merokok, semakin membuat bu Hesti tergila². Lalu ia mengalungkan kedua tangannya di bahu mas Gofar. Ia dekatkan wajahnya dengan bibir mas Gofar sambil berbisik.
“Gofar sayang.., ibu bimbing yah. Mas Gofar ikutin aja, ibu tau mas Gofar baru pertama kali kan”, ucapanya lembut.
“iii…iya buu..”, suara mas Gofar terdengar pelan dan bergetar.
Bibirnya semakin dekat dengan bibir mas Gofar. Lalu dengan perlahan, ia tempelkan bibirnya dengan bibir mas Gofar, ia kecup lembut. Tampaknya mas Gofar yang pemula sangat kaku. Terlihat bibir mas Gofar hanya diam, tak bergerak mengikuti gerakan bibir bu Hesti.
Kembali bu Hesti dengan sabar membimbingnya. “Gofar sayang, lingkarkan tanganmu di pinggang ibu yah, gini loh…”, seraya memegang lengan kekar mas Gofar, kemudian menempelkan kedua tangannya di pinggang kanan dan kiri. Semangka bu Hesti yang lembut dan kenyal kini menekan tubuh mas Gofar, seiring bu Hesti yang semakin mendekatkan badannya, dan kontol mas Gofar yang tegang menempel di perut dan sebagian payudara bu Hesti, karena panjangnya hampir selengan dan tebal, kepala kontolnya menyentuh belahan bawah payudara bu Hesti, terasa hangat dan semakin memacu aliran darah bu Hesti. “Gede banget sayang…., panjang lagi…”, ucap bu Hesti pelan.
“Hah, aaa..apa..nya yya..yang gge..gede bbbuuu…” tanya mas Gofar.
“Tuh…kontolmu, gede banget, ibu merinding sayang….” sembari melirik ke arah bawah.
Mas Gofar pun kaget, karena baru kali ia mendengar dari mulut wanita yang menilai kontolnya gede. “Ggge..gede bu?”, tanyanya penasaran. “Bbu..bukannya sse..semua.llaki-laki ssa…sama uukuurrrannya?”
“Ya gak dong sayang, klo kamu liat kontol suami ibu, baru kamu tau kalo punya kamu itu super”, ucap bu Hesti meyakinkan dan memuji. Maklumlah, mas Gofar berfikiran seperti itu karena memang tak pernah sekalipun ia melihat kemaluan laki² lain. Begitu polos dan lugu.
Obrolan mesum itupun sejenak terhenti, manakala bu Hesti kembali mencium mas Gofar, sambil berbisik, “ikutin bibir dan lidah ibu ya sayang”. Mas Gofar pun mengangguk. Kini bibir keduanya saling berpagut mesra, lidah mereka saling berpadu, saling melumat satu dengan lainnya. Sambil tangan kanan bu Hesti mengelus² rambut mas Gofar, tangan kirinya ia turunkan ke bawah sambil membelai lembut bahu, turun ke dada, ia usap² mesra, lalu ia susupkan ke belakang dan mulai mengelus² punggung mas Gofar yang padat berotot.
Tampaknya mas Gofar mulai bisa mengimbangi gerakan bu Hesti, kini tangannya yang masih melingkar di pinggang bu Hesti, perlahan ia gerakkan. Ia elus² punggungnya, dan ia turunkan ke bokong besar bu Hesti. Ia remas² dengan kedua tangan, terasa kenyal dan sintal. Jari²nya pun ia arahkan ke belahan bokong bu Hesti, ia raba² sampai² bu Hesti pun sedikit menggelinjang.
Mmmmppff…mmmpff..sluurp…mmmpf…mmpf…mmmpf… sluuurp…cluup…clupp…mppf…
ciuman kedua pasangan hot itu semakin menggebu², keduanya semakin bernafsu. Sekitar 10 menitan lamanya mereka saling berciuman dan berpelukan erat. Air bercampur keringat saling membasahi permukaan kulit keduanya, menjadikan licin dan berpadu lembut.
“Mas Gofar, sambil tiduran yuk”, mas Gofar pun hanya menurut, dengan tubuhnya yang kekar dan berotot, ia tahan punggung dan kepala bu Hesti, ia rendahkan dan dengan lembut ia rebahkan di kasur. Bu Hesti pun semakin melayang² merasakan keperkasaan tubuh mas Gofar. “Perkasa banget sih mas Gofar badan kamu, keker, bikin ibu makin sayang…” bisik bu Hesti di dekat telinga mas Gofar, yang kini ada di samping kepala bu Hesti. “Jenengan bbb..bisa aa.ja buuu”, balasnya dengan tersenyum.
Ia robohkan tubuhnya disamping bu Hesti, lalu bu Hesti memiringkan badannya ke kanan, ia silangkan pahanya ke atas perut mas Gofar yang sixpack dan basah oleh keringat bercampur bulir² air, paha putih mulusnya pun bergesekan dengan kontol mas Gofar yang masih tegang.
“aaah… buuu…”, sentuhan lembut dari paha mulus bu Hesti membuat mas Gofar mendesah nikmat.
“gemesin banget kontolmu mas Gofar”, ucap bu Hesti mesra.
“Iibuuu…”, hanya itu yang keluar dari mulut mas Gofar sambil memejamkan mata, menikmati sentuhan tubuh bu Hesti.
“Belum di pegang aja udah mendesah, gimana klo dikulum, hihi…”, ucap bu Hesti dalam hati sambil tersenyum genit. Ia sengaja tak memegangnya dulu, karena ia ingin mas Gofar juga menyentuh dan melumat vaginanya dengan bibirnya. Ia ingin kenikmatan itu dirasakan bersama pasangannya.
Tangan kiri bu Hesti mengelus2 dada mas Gofar yang ditumbuhi rambut2 halus. Iapun menyandarkan kepalanya diatas dada mas Gofar. Sudah seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Tangan kiri mas Gofar menyangga belakang kepala bu Hesti sembari mengelus² rambut bu Hesti yang harum. Mas Gofar pun mulai berani mencium kening bu Hesti, ia kecup dengan mesra. Bu Hesti pun dibuat melayang, ia pejamkan mata seolah betul2 menikmati keromantisan yang berbalut hasrat birahi malam itu.
Mas Gofar pun seakan² melupakan tujuan utamanya malam itu. Ia larut juga dalam pelukan atasannya, bu Hesti. Dalam hatinya sebenarnya berontak, karena teringat akan nasehat mamah papahnya, bahwa ia tidak boleh menyentuh wanita, apalagi berzina sebelum menikah. Apalah daya, nafsu dan godaan wanita montok dan seksi itu begitu besar. Membuatnya semakin larut dalam hasrat birahi.
Hampir 30 menit lamanya mereka rebahan tanpa satu patah katapun. Jam dinding saat itu menunjukkan pukul 20.30 malam. Dan diluar, hujan nampaknya telah reda. Bu Hesti yang meninggalkan hapenya di kamar dengan mode getar, otomatis tidak menyadari ada 3 pesan masuk dan 3 panggilan tak terjawab dari seseorang. Ya, pesan dan misscall itu dari bi Cupi Cupita. Seorang janda yang tak kalah seksi dan montok dari bu Hesti, hanya nasib dan warna kulit yang membedakan mereka.
Bi Cupi Cupita datang malam itu menggunakan kaos longgar dan celana kain. Ia ikat rambutnya yang sebahu, dengan balutan lipstik tipis di bibirnya. Meski memakai kaos longgar, bongkahan payudaranya yang disangga BH ukuran 40B itu masih terlihat menonjol. Celana jeans biru muda pun seperti tak cukup menahan bokong bi Cupi Cupita yang besar dan montok.
Bersambung...
ns216.73.216.62da2


