Cerita ini berpusat pada Mas Gofar, seorang pemuda ASN yang baru dimutasi ke Jawa. Bertubuh tinggi, putih, berotot karena rajin fitness, ia memiliki wajah standar namun dilengkapi “senjata” yang luar biasa: kontol jumbo berurat yang bahkan saat lemas sudah menonjol mumpluk di balik celana kantor. Di usianya yang sudah dewasa, ia masih perjaka, pemalu, dan cuek. Sifat itu justru membuatnya jadi incaran banyak wanita di kantor, termasuk tiga rekan kerja berjilbab Ambar, Chika, dan Putri yang sering bergunjing soal tonjolan besar di selangkangannya.
Di rumah, keluarga Gofar tampak harmonis. Ayahnya, Pak Choirul Tanjung, pensiunan militer berkumis yang mengembangkan usaha kuliner, dan ibunya, Bu Siwi, ibu rumah tangga cantik berjilbab panjang yang masih singset di usia kepala empat. Keseharian mereka diwarnai godaan ringan, seperti tepukan bokong semok Bu Siwi yang direspons dengan tawa renyah. Gofar sendiri jarang ikut bercanda; sifat pemalunya terbawa sejak kecil.
Di kantor, Bu Hesti (38 tahun), kepala bagian humas, menjadi tokoh kunci. Suaminya, Pak Wito, menderita diabetes akut dan stroke ringan, sehingga hasrat seksual Bu Hesti tak terpenuhi. Wanita berjilbab montok berpayudara 38B ini sudah lama mengincar Gofar. Ia memanfaatkan jabatan untuk sering memanggil Gofar ke ruangannya, lalu menyusun rencana: meminta bantuan antar obat dan mengerjakan laporan Excel di rumahnya. Gofar, yang patuh dan tak curiga, menyanggupi.
Sore harinya, Putri wanita berpayudara besar mengakal-akali kunci motornya hilang agar bisa diantar Gofar. Saat berboncengan, Putri memeluk erat dari belakang, menempelkan bongkahan payudaranya yang kenyal di punggung Gofar. Kontol Gofar langsung menegang, membentuk tonjolan panjang di paha. Putri mengintip dan terkesima, dalam hatinya berujar kontol itu jauh lebih besar dari milik pacarnya.
Malam itu Gofar datang ke rumah Bu Hesti yang mewah di perumahan elit Malang. Hujan deras membuatnya basah kuyup. Bu Hesti menyambut hanya dengan daster merah marun tanpa dalaman, tubuh montoknya terpampang jelas. Ia memberikan teh hangat yang telah dicampur obat perangsang. Efeknya cepat: pembuluh darah Gofar melebar, kontolnya mengembang, dan libidonya melonjak.
Di kamar tamu, saat Gofar mandir di balik dinding kaca semi-tembus, Bu Hesti mengintip. Ia menelanjangi diri, meremas payudaranya, menghisap puting, dan mengkobel memeknya yang basah sambil berfantasi. “Gila mas Gofar, kontolmu bisa segede itu… aaaakuuu mauuu Gofar sayaaaang… sesak… penuh perutku…” racau Bu Hesti. Gofar yang mendengar desahan akhirnya keluar dari kamar mandir, telanjang dengan kontol tegang menjulang hampir 22 cm.
Keduanya saling terkejut, lalu Bu Hesti mengambil inisiatif. Ia memeluk Gofar, mencium bibirnya, dan membimbing pemula itu. “Gofar sayang, ibu bimbing yah… kontolmu gede banget, ibu merinding…” Ciuman semakin ganas, lidah saling melumat. Tangan Gofar meremas bokong besar Bu Hesti. Mereka rebahan, paha mulus Bu Hesti bergesekan dengan kontol Gofar. Namun kedatangan Bi Cupi Cupita, pembantu baru yang juga montok dan menjanda, memaksa mereka berhenti sementara.
Bi Cupi Cupita wanita sawo matang berpayudara lebih besar dari Bu Hesti datang malam itu untuk mulai bekerja. Setelah menjelaskan tuGofar, Bu Hesti kembali ke kamar dan menemukan Gofar masih bergairah. Ia kembali menggoda, memelintir puting Gofar hingga kontolnya kembali tegang di balik boxer kekecilan. Percintaan dilanjutkan, kali ini melibatkan Bi Cupi Cupita. Bu Hesti meminta Bi Cupi Cupita membasahi kontol Gofar dengan liur, lalu Gofar menyodok anus Bu Hesti yang sempit. “Aaaaaaah… gedeeeee kerasa banget sayang… sesek banget anus ibu…” desah Bu Hesti sambil menungging.
Gofar lalu beralih ke memek Bu Hesti, menghujam dalam dengan cepat. Suara “plogh… plogh… plogh…” berpadu desahan. Setelah Bu Hesti klimaks hebat, Bi Cupi Cupita menungging mengganChikannya. “Mas, ayo bibi juga mau…” Gofar menusuk memek Bi Cupi Cupita, lalu beralih ke anus yang lebih longgar. “Mmaas… aaaaauww… sssakit… aaaah…” erang Bi Cupi Cupita yang kemudian berubah menjadi kenikmatan. Gofar akhirnya menyemprotkan pejuh kental yang banyak ke mulut dan wajah Bi Cupi Cupita. Bi Cupi Cupita menelan lahap sambil berkata, “Banyak banget pejuhmu mas… kamu perkasa sekali.”
Setelah malam perjaka yang tak terlupakan itu, hubungan Gofar dengan Bu Hesti dan Bi Cupi Cupita berlanjut rutin. Sikap Gofar perlahan berubah jadi lebih berani. KeChika Bu Hesti harus tuGofar ke Surabaya selama dua minggu, ia memberi izin Gofar untuk “melayani” Bi Cupi Cupita.
Di sisi lain, Gofar mendekati Putri. Mereka bertemu malam hari. Putri yang sudah penasaran sejak lama akhirnya berhasil meraba kontol Gofar di atas motor. “Wiiiih… masss, segini gedenya loh… anget lagi…” Mereka menuju RedDoorz. Di kamar, Putri menelanjangi Gofar, memfoto kontol jumbo itu untuk koleksi pribadi, lalu mengulum kepala kontolnya. “Brengsek nih kontol, mulutku sampai gak muat…”
Putri naik ke atas, memasukkan kepala kontol Gofar ke memeknya yang sudah dilumuri pelumas. “Sssh… sesek banget memekku… kampret bener kontolmu masss…” Gofar bangun dan mengambil alih. Dengan posisi di tepi ranjang, ia menyodok perlahan lalu semakin dalam dan cepat. “Aaaaaaaah… mmmaaas… ngilu… penuh memekku…” erang Putri. Setelah sekitar 30 menit genjotan ganas, Putri orGofarme dua kali. Gofar menyemprot pejuh kental ke perut dan payudara Putri. Putri mencicipinya dan berkata pejuh itu gurih, berbeda dari milik pacarnya.
Putri meminta agar Gofar juga mau melayani Ambar dan Chika, bahkan mengusulkan main bertiga dengan pacarnya atau teman kantor laki-laki untuk membChoirul Tanjungngkan ukuran. Gofar setuju berbagi waktu. Sementara itu, di rumah Bu Hesti, Bu Hesti dan Bi Cupi Cupita mengobrol terbuka tentang kenikmatan kontol Gofar yang “buesar dan panjang”, hingga anus mereka longgar.
Cerita berlanjut dengan Gofar yang semakin terampil, wanita-wanita haus seks yang terus bertambah, dan pertanyaan terbuka: apakah Ambar, Chika, atau bahkan Rasti (kasir minimarket yang ternyata calon yang akan dikenalkan orang tuanya) juga akan merasakan keperkasaan Mas Gofar? Apakah Hendra dan Pramono mau diajak gangbang dengan Bi Cupi Cupita? Dan bagaimana nasib Bu Hesti yang sedang tuGofar di luar kota?
Gaya bahasa penulis sangat eksplisit, berulang, dan penuh onomatope (“plogh… plogh…”, “ssssh…”, “aaaah…”). Deskripsi fisik kontol, payudara, bokong, dan anus digambarkan detail dengan campuran bahasa Indonesia sehari-hari dan sedikit Jawa. Desahan sering diselingi kata sayang, bu, bi, atau jeng, menggambarkan dinamika kekuasaan yang berbalik wanita lebih berpengalaman membimbing pemula, namun akhirnya takluk pada ukuran dan stamina Gofar. Tema utama adalah transformasi Gofar dari pemuda cuek menjadi pria yang dilayani banyak wanita, serta pemenuhan hasrat terpendam para istri dan janda yang tak puas di rumah.
ns216.73.216.62da2


