Rinda memegang sepasang bahuku. Menatapku dengan senyum di bibir sensualnya. Lalu berkata, “Biar bumi terbelah dua, cintaku padamu takkan bisa padam Bang. Kalau Mamie tetap tidak setuju, kita kawin aja diam – diam. Oke? Jadi jangan gentar Bang. Lagian Mamie sangat sayang padaku. Aku yakin Mamie bakal setuju juga nanti.
“Oke. Terus mau berangkat sekarang juga?”
“Iya Abang Sayang. Sekarang kan malam Sabtu. Kita weekend di rumah Mamie aja yaaa…”
“Mau pakai mobil mana? Mobil Non apa mobilku?”
“Mobil Abang aja. Mobilku kan cuma mobil Jepang Bang. Harganya juga kurang dari separoh mobil Abang. Pasti mobil Abang lebih nyaman didudukinnya.”
“Kalau Non mau, beli pesawat jet pribadi juga bisa. Tapi Non kan gak mau pamer harta. Aku juga punya mobil itu bukan dapet beli. Ada yang ngasih Non.”
“Siapa yang ngasih?”
“Owner perusahaan lama Non.”
“Kok bisa ngasih hadiah semahal itu?”
“Kebetulan waktu itu perusahaan mendapatkan profit yang cukup besar. Dan itu hasil kerjaku. Makanya aku dikasih reward mobil itu.”
“Aku malah belum ngasih hadiah apa – apa sama Abang.”
“Sudah. Masa lupa Sheila?”
“Apa?”
“Sesuatu yang jauh lebih mahal daripada mobilku itu.”
“Hihihiii… memekku maksud Abang?”
“Iya. Itu tak ternilai harganya Non. Dan aku bangga bisa memiliki dirimu Sheila.”
“Aku juga bangga punya Abang, emwuaaaaah…” ucapnya diakhiri dengan kecupan mesra di pipiku.
“Ohya… rumah mau dikunci aja?”
“Nggak. Si Bibi sudah disuruh tidur di sini sampai kita pulang dari Jakarta nanti.”
“Owh… ya udah.”
“Udah titip juga sama security perumahan.”
Beberapa saat kemudian Rinda sudah duduk di dalam mobilku yang kukemudikan sendiri.
“Di rumah Mamie sih gak bisa ML Bang. Soalnya aku pasti bobo sama Mamie.”916Please respect copyright.PENANA3JlnWYa9YG
“Nggak apa. Puasa dua tiga hari aja sih gakpapa.”
Lalu sedan hitamku meluncur terus di jalan aspal.
Kebetulan jalan sedang sepi, karena aku sengaja memilih jalan tikus untuk mencapai pintu tol.
“Kuperkirakan kita tiba di Jakarta tengah malam. Gak apa – apa?”916Please respect copyright.PENANAIhaUpbEZpX
“Gak apa – apa. Mamie sih suka tidur setelah lewat jam duabelas malam. Sebelum ngantuk benar sih nancep aja di depan tivi.”
“Beliau pakai kursi roda?”
“Iya. Tapi kursi rodanya sudah pakai remote control. Jadi gak terlalu merepotkan kedua suster yang merawatnya. Cuma waktu mau naik atau turun dari kursi roda, harus dibantu oleh suster.”
“Usianya sudah tua?”916Please respect copyright.PENANAO0JrSMuNqb
“Belum tua – tua banget Bang. Mamie melahirkan aku waktu usianya baru delapanbelas.”916Please respect copyright.PENANA8SYjhDa88V
“Jadi sekarang baru tigapuluhdelapan tahun usianya?”
“Ya, kira – kira segitulah. Abang kan sudah tau umurku. Jadi umur Mamie tinggal nambahin delapanbelas aja kan?”
“Ayahmu meninggal karena apa Sheila?”
“Serangan jantung Bang. Papie meninggal ketika usianya sudah limapuluh lebih Bang. Perbedaan usia Papie dengan Mamie jauh sih. Maklum Papie sudah kaya raya sejak masih bujangan. Maka dengan mudah aja almarhum bisa mendapatkan Mamie yang saat itu baru berumur tujuhbelas.”
Aku cuma tersenyum.
Sedan hitamku meluncur terus di jalan tol yang kebetulan tidak padat menuju Jakarta sih. Tapi yang dari Jakarta menuju Padaleunyi kelihatan padat sekali. Maklum malam weekend.
Dua jam kemudian mobilku sudah memasuki pekarangan rumah besar dan antik, tapi tetap tidak menunjukkan rumah orang kaya raya. Mungkin karena almarhum ayah Rinda telah melaksanakan pola hidup sederhana. Padahal menurut penuturan Rinda sendiri, sewaktu ayahnya masih hidup, perusahaannya bukan hanya ada di Indonesia.
Seorang petugas security menghampiri mobilku. Pada saat yang sama Rinda turun dari depan kiri mobilku. Orang security itu kaget, “Ooooh… Selamat malam Non Boss. Kirain siapa.”
Rinda hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu mengajakku masuk ke dalam rumah bergaya Italia tempo doeloe itu.
Seorang wanita setengah baya tampak duduk di kursi roda yang menghadap ke arah pesawat televisi. Dua orang suster duduk di sofa yang berdampingan dengan kursi roda itu.
“Mamie… !” seru Rinda dengan gaya manja menghampiri wanita yang mamienya itu. Lalu ia memnbungkuk dan cipika – cipiki dengan mamienya.
“Kok tengah malam gini datangnya?” tanya wanita itu.916Please respect copyright.PENANAzjMSc4U8X6
“Kan sekalian mau weekend di sini, “Rinda berdiri di belakang kursi roda itu sambil memegang sepasang bahu mamienya.916Please respect copyright.PENANAasFaKngHWD
“Sama siapa itu?” tanya sang Mamie.
“Bang Darmawan. Direktur utama di perusahaan kita Mam,” sahut Rinda, “Kenalin dulu mamieku Bang.”
Aku mengangguk dan berlutut di depan kursi roda itu, untuk mencium tangan wanita setengah baya itu.
“Waduuuh… dirutnya kok masih sangat muda dan ganteng gini Anne. Apa dia bukannya pacar kamu?” tanya wanita itu sambil tengadah, menatap putrinya yang sedang berdiri di belakang kursi rodanya.
“Hush sembarangan Mamie ni,” sahut Rinda, “Bang Darmawan ini sebelum direkrut ke perusahaan kita pun sudah jadi dirut di perusahaan lain. Perusahaan punya tantenya. Jadi sekarang jabatannya rangkap dua. Jadi dirut di perusahaan tantenya sekaligus jadi dirut di perusahaan kita.”
Aku pun berdiri dan duduk di sofa yang berhadapan dengan kursi roda mamienya Rinda itu.
“Mam… aku mau ke toilet dulu ya…” ucap Rinda sambil menoleh padaku, “Mau ke toilet dulu ya Bang.”
Aku dan mamienya Rinda mengangguk. Lalu wanita setengah baya itu menoleh ke arah dua suster yang duduk di sofa samping kursi roda itu. “Kalian kalau udah ngantuk pada tidur aja gih. Biar aku diurus sama anakku aja.”
Kedua suster itu langsung berdiri, kemudian mengangguk sopan padaku dan melangkah ke belakang.
“Eh, siapa namanya tadi? Darmawan ya?” tanya wanita setengah baya itu sambil memandangku.
“Mmm… panggil Ridwan aja Tante.”
“Sini sebentar,” ucapnya sambil menggapai – gapaikan tangannya, “Ada yang mau tante omongin.”
Aku pun segera mendekati mamienya Rinda itu. Dia pun berkata setengah berbisik, “Lima harian lagi ke sini ya. Jangan sama Rinda. Ada yang mau tante sampaikan.”
“Siap Tante.”
Lalu ia mengeluarkan handphone dari saku baju piyama putihnya, “Masukkin nomor handphone Ridwan ke hape tante. Biar nanti bisa ngomong leluasa lewat hape.”
Aku menurut saja. Kupijat nomorku dari handphone punya mamienya Rinda. Hapeku yang disilent pun bergetar. Jadi aku bisa memasukkan nomor mamienya Rinda juga. Kemudian kusaving nama dan nomor hapeku di handphone mamienya Rinda.
Setelah memasukkan kembali hape ke dalam saku baju piyamanya, wanita itu menyimpan telunjuk di bibirnya sambil berkata setengah berbisik, “Jangan bilang apa – apa sama Rinda ya.”
“Siap Tante.”
Tak lama kemudian Rinda muncul lagi di ruang keluarga itu. Dan langsung menghampiriku, “Tasnya bawa ke sini Bang. Aku mau nunjukin kamar Abang nanti di mana.”
“Iya,” sahutku, “sebentar mau diambil dari mobil dulu. Sekalian sama tas Non juga ambil?”
“Oh iya Bang. Maaf ya…”
Setelah mengambil tas pakaianku dan tas pakaian Rinda, aku tidak langsung tidur. Aku ikut mendengarkan obrolan Rinda dan ibunya. Belakangan aku mendengar nama mamienya Rinda itu Hartini (seperti merk minuman beralkohol ya?).
“Bagaimana hasil therapi yang Mamie ikuti selama ini? Ada perkembangannya?” tanya Rinda pada suatu saat.
“Ada Sayang,” sahut Tante Hartini, “Kaki mamie jadi bisa digerakkan. Lutut pun kalau dipegang jadi ada rasanya. Tidak mati rasa seperti dahulu lagi. Bahkan berdiri pun mamie sudah bisa. Tapi masih lemes lututnya. Mamie tak mau memaksakannya. Kata therapis dari Amerika itu, mamie harus sabar. Katanya sih lama – kelamaan juga mamie bakal bisa jalan lagi.
”Iya, Mamie harus sabar. Penyembuhannya harus step by step,” ucap Rinda. Kemudian ia menoleh padaku, “Eh Bang… kalau mau istirahat, silakan aja istirahat duluan.”
Aku mengangguk lalu bangkit dan agak membungkuk ke arah Tante Hartini, “Mohon izin mau istirahat dulu Tante.”
Lalu aku masuk ke dalam kamar yang sudah diberikan oleh Rinda. Dan tidur nyanyak tanpa mimpi.
Tiada hal penting selama dua malam menginap di rumah mamienya Rinda itu.
Minggu sore pun kami pulang ke kota kami.
Dalam perjalanan pulang dari Jakarta itu Rinda berkata, “Kayaknya Mamie bakal setuju kalau kita jadi pasangan suami – istri kelak.”
”Emangnya udah terus terang sama beliau bahwa kita sudah saling jatuh cinta?” tanyaku.
“Belum. Mamie sih jangan dibawa buru – buru Honey. Segalanya harus santai dan matang. Nanti aja kalau kita udah matang dan siap untuk menikah, barulah aku akan mengatakannya.”
“Iya terserah bidadariku aja. Aku pun tidak ingin terburu – buru.”
“Nah cowok seperti Abang ini yang kucita – citakan sejak dahulu. Cowok yang tak pernah memaksakan kehendak… emwuaaaaahhh… !” ucap Rinda yang diakhiri dengan kecupan mesranya di pipi kiriku.
Rinda tidak tahu bahwa handphoneku yang sedang disilent ini bergetar vibratornya. Cuma satu kali bergetar. Dan ketika kami membelok ke rest area, untuk istirahat dan mengisi perut, aku langsung ke toilet dulu untuk membuka isi WA yang ditandai dengan satu kali getaran itu tadi.
Di toilet kubuka WA itu yang ternyata dari Tante Laila. Isinya :-Sayangku… anak kita sudah lahir. Cantik sekali. Suamiku juga tampak senang, meski dia tau bahwa anak itu bukan anaknya. Untuk menyenangkan hatinya kuminta agar dia memberi nama. Maka anak itu pun diberinya nama Winiarti. Gak apa – apa kan?-
Aku merasa senang campur haru. Lalu membalasnya :-Aku bahagia sekali Sayang. Soal nama, itu sudah cukup bagus. Lalu kapan aku harus menengok anak kita itu?-
Tante Laila :-Santai dulu ya Sayang. Jangan terburu – buru. Percayakanlah aku akan merawat anakmu dengan penuh kasih sayang. Aku juga sangat bahagia dan merasa sudah menjadi wanita yang lengkap. Nanti kalau anak kita sudah bisa dibawa ke luar, aku akan ngajak ketemuan lagi di hotel yang sering kita pakai itu. –
Setelah memasukkan kembali hape ke saku celana jeansku, aku pun keluar dari toilet. menghampiri Rinda yang sudah duduk di resto dalam kompleks rest area jalan tol itu.
Seusai mengisi perut, kami lanjutkan lagi perjalanan pulang itu.
Setelah tiba di kota kami, kuantarkan dulu Rinda ke rumahnya, kemudian aku pun pulang.
Di rumah, di dalam kamarku, terawanganku melayang – layang tak menentu. Teringat pada Tante Laila yang sudah melahirkan anakku, teringat pula permintaan Tante Hartini yang memintaku untuk datang lagi ke rumahnya. Waktu itu hari Jumat malam, Tante Hartini meminta agar empat hari lagi aku datang ke rumahnya tanpa Rinda.
Masalahnya, apa tujuan Tante Hartini yang memintaku datang lagi ke rumahnya tanta anaknya? Apakah ada rahasia tentang Rinda yang akan disampaikannya padaku, sehingga Rinda sendiri tidak boleh tahu?
Entahlah.
Yang jelas, di hari Selasa sore, sepulangnya dari kantor aku langsung berangkat ke Jakarta. Tanpa ngomong apa pun kepada Rinda.
Aku tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh mamienya Rinda itu nanti. Tapi kelihatannya penting sekali, sehingga aku harus mengabulkan permintaannya.
Ketika sedan hitamku sudah memasuki Jakarta, handphoneku berdering. Ternyata dari Tante Hartini…!
Lalu :
Aku: “Hallo Tante…”916Please respect copyright.PENANAMuk0KZagrf
Tante Hartini: “Kapan mau ke rumah tante? Besok?”916Please respect copyright.PENANA3TrVlGF3YM
Aku: “Sekarang Tante. Ini sudah masuk Jakarta. Mungkin setengah jam lagi juga tiba di rumah Tante.”916Please respect copyright.PENANAqnM3JWbuap
Tante Hartini: “Owh… syukurlah. Tante tunggu ya.”916Please respect copyright.PENANADrkpgklvIn
Aku: “Siap Tante.”
Dan memang setengah jam kemucian aku sudah tiba di pekarangan rumah Tante Hartini. Seorang petugas security bergegas membuka pintu garasi, lalu menghampiriku, “Selamat malam Boss. Tadi Bu Hartini minta agar mobil Boss langsung dimasukkan ke garasi,” ucapnya.
“Owh… iya iyaaa…” sahutku sambil memasukkan mobilku ke dalam garasi.
Ketika aku masuk ke dalam rumah, salah seorang suster yang tempo hari sudah kukenal, menyambutku, “Silakan masuk aja ke kamar Ibu. Beliau sudah menunggu Boss.”
Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam kamar mamienya Rinda. Begitu masuk ke dalamnya, aku mengagumi kamar ini. Selain luas dan ada taman mininya segala, segala peralatan di dalam kamar ini serba mahal sekali. Mungkin harga perabotannya bisa lebih mahal daripada harga rumahnya…!
Tante Hartini tampak sedang berada di pinggir kolam ikan koi. Dan tersenyum ceria setelah melihat kedatanganku.
“Ridwan orang yang tepat janji ya. Tante suka itu,” ucapnya setelah aku berjongkok di depan kursi rodanya dan mencium tangannya yang terasa halus serta hangat.
“Tante kelihatan seger sekali sekarang,” ucapku.
“Kan baru selesai mandi sore Wan,” sahut Tante Hartini sambil menggerakkan kursi rodanya menuju sofa – sofa putih yang berderet di sepanjang dinding dari taman menuju ruang peraduannya.
“Wan bisa minta tolong… kuncikan dulu pintunya. Soalnya tante mau membahas sesuatu yang sangat rahasia. Jangan sampai suster – suster itu ikut nguping,” kata Tante Hartini sambil menunjuk ke arah pintu keluar yang sudah tertutup tapi belum dikunci.
Kuikuti permintaan Tante Hartini itu, mengunci pintu yang ditunjuk itu, kemudian duduk di sofa yang berdampingan dengan kursi roda mamienya Rinda.
Lalu Tante Hartini berkata perlahan, “Sebenarnya kedua kakiku ini sudah hampor normal. Mungkin tiga bulan lagi juga tente bisa berjalan lagi.”
“Tapi berdiri sudah bisa Tante?”916Please respect copyright.PENANAGQNMS2H1H6
“Sudah. Tapi belum bisa lama – lama. Karena lutut tante masih lemas.”
Aku menyimak dan memperhatikan bentuk Tante Hartini yang saat itu mengenakan kimono putih. Dia seorang wanita yang berkulit lebih gelap daripada Rinda. Katakanlah dia seorang wanita yang hitam manis, meski kulitnya tidak hitam juga.
Dan aku semakin penasaran, apa sebenarnya yang mau disampaikan padaku sehingga memintaku datang tanpa Rinda?
Akhirnya Tante Hartini berkata, “Sebenarnya tante ini sudah sembilanpuluh persen sembuh. Mungkin tiga bulan lagi juga tante udah bisa berjalan lagi secara normal. Sekarang tinggal menormalkan jaringan syaraf di seputar lutut aja.”
“Iya Tante. Lalu nanti Tante bisa menjalani kehidupan secara sehat seperti wanita – wanita normal, “tanggapku.
“Iya Wan. Tapi ada sesuatu yang menuntut terus dari dalam batin tante. Makanya tante mau minta tolong sama Ridwan…”
“Minta tolong apa Tante? Sampaikan aja. Jangan ragu – ragu. Kalau aku bisa menolongnya, pasti kutolong Tante.”
Tante Hartini termenung sejenak. Lalu bertanya, “Ridwan punya teman di Jakarta?”
“Banyak Tante. Teman kuliahku kebanyakan kerjanya di Jakarta.”916Please respect copyright.PENANA3ifKSEsJ29
“Carikan seorang aja buat tante. Tapi yang seganteng Ridwan.”916Please respect copyright.PENANAIwW2ns5Vkh
“Haaa?! Buat apa Tante?”916Please respect copyright.PENANARhlkJoVULc
“Untuk memuasi hasrat batinku Wan. Sejak dua tahun yang lalu tante tidak merasakannya sama sekali.”916Please respect copyright.PENANAaV9cyHwFAi
“Ja.. jadi Tante membutuhkan teman bobo gitu?”
“Iya Wan. Tante mau bicara terbuka aja. Tante ingin mendapatkan cowok yang bisa memuasi hasrat seks tante yang selama ini dipendam terus. Pokoknya cari cowok yang bisa memegang rahasia. Yang bisa secara rutin menggauli tante. Tapi jangan bawa cowok yang jelek. Tante maunya seinilai sama kegantengan Ridwan.
Sebenarnya aku sangat terkejut mendengar “permintaan tolong” mamienya Rinda itu. Tapi dengan cepat aku memutar otak. Dan akhirnya berkata, “Cari cowok sih gampang Tante. Tapi yang sulit, apakah dia bisa memegang rahasia nggak? Ini masalahnya.”
“Terus saran Ridwan bagaimana?”
“Satu – satunya orang yang bisa memegang rahasia adalah diriku Tante. Dan aku sanggup untuk memuasi Tante kapan pun diinginkan. Bahkan sekarang pun aku siap untuk melakukannya.”
“Kamu mau Wan? Serius kamu mau sama perempuan yang sudah berumur seperti tante ini? Memangnya tante ini masih menarik bagimu?” tanya Tante Hartini sambil menatapku dengan sorot ragu, seperti kurang percaya pada kesediaanku.
Sebagai jawaban, kupegang tangan Tante Hartini yang hangat itu. Sambil berkata, “Tante cantik sekaligus manis. Sementara aku… penggila wanita setengah baya sejak lama. Jadi… aku siap memuasi Tante sekaligus berjanji untuk tetap merahasiakannya kepada siapa pun, termasuk kepada Non Rinda.”
Tante Hartini meremas tanganku dengan lembut. Menatapku dengan senyum manis di bibir sensualnya, ya… betapa sensualnya bibir wanita setengah baya itu. “Tante setuju usulmu,” ucapnya setengah berbisik, “Tapi awas jangan sampai Rinda tau ya.”
“Tentu aja Tante. Aku juga pasti kena marah abis – abisan kalau Non Anne sampai tau,” sahutku sambil berdiri di depan kursi rodanya.
Lalu, tanpa ragu kuulurkan kedua tanganku untuk memeluk dan mengangkat tubuh Tante Hartini dari atas kursi rodanya. Lalu membopongnya ke arah bed yang agak jauh dari kursi roda itu.
Pada saat aku membopongnya itu, Tante Hartini melingkarkan lengannya di leherku. Sementara aku merasakan sensasi yang luar biasa indahnya. Karena aku merasakan kehangatan lengannya di leherku. Menyaksikan manisnya wajah wanita setengah baya itu.
Lalu kuletakkan tubuh berkimono sutera putih itu di atas bed.
Kulihat ada tongkat panjang di atas bed. “Ini tongkat apa Tante?” tanyaku sambil memegang tongkat yang mengingatkanku kepada ikbuku.
“Itu hanya untuk latihan turun dari bed ke kursi roda,” sahutnya.
“Kan ada tongkat yang pakai pegangan sekalian untuk latihan jalan kaki Tan.”
“Ada. Tante juga punya. Tapi tongkat begituan ribet. Kurang praktis. Sekarang tanpa tongkat pun sudah bisa berdiri, meski belum bisa lama – lama. Dengan tongkat itu lebih praktis,” sahut Tante Hartini sambil duduk bersila di samping kiriku.
Aku pun tidak canggung – canggung lagi untuk mendekap pinggangnya, sambil menciumi pipi kanannya yang terasa hangat. Harum p[arfum mahal [pun mulai tersiar ke penciumanku.
Tante Hartini tidak tinggal diam. Ia melingkarkan lengannya di leherku. Lalu memagut bibirku, yang kusambut dengan lumatan lembut. Ia balas dengan lumatan hangat pula.
Hawa nafsu birahi pun mulai bergejolak di dalam batinku. Terlebih setelah Tante Hartini membisiki telingaku, “Lepasin dulu dong semua pakaianmu. Aku ingin melihat bentuk tubuhmu tanpa pakaian.”
Aku mengangguk sambil melepaskan pakaian casualku. Hanya celana dalam yang kubiarkan tetap melekat di tubuhku.
Lalu aku menelentang di samping Tante Marini yang sudah celentang juga.
“Badannya atletis begini. Bagus. Sering olahraga ya?” ucap Tante Hartini sambil mengusap – usap dada dan perutku.
“Iya,” sahutku sambil balas mengusap – usap pahanya yang tersembul dari belahan kimononya. Terasa licin sekali paha mulus ini. Namun tentu saja aku tak sekadar mengelus pahanya. Tangan nakalku naik terus sampai ke pangkal pahanya. Dan… aku langsung menyentuh memek plontos dan agak tembem… berarti sejak tadi ia tidak mengenakan celana dalam…
Tante Hartini pun menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku. Dan langsung memegang batang kemaluanku yang memang sudah tegang sekali ini…
“Wooow… penisnya gagah begini Wan…! “serunya tertahan, “Luar biasa panjang gedenya… !”
Sementara aku sudah tak sabar lagi. Ingin menyaksikan seperti apa tubuh Tante Hartini kalau sudah telanjang. Maka dengan nafsu yang semakin menggoda, kulepaskan ikatan tali komononya. Lalu kulepaskan kimono sutera putih itu.
Lalu tampaklah sekujur tubuh tinggi langsingnya Tante Hartini itu… tubuh yang begitu mulus, tampak jauh lebih muda daripada usianya. Dengan sepasang toket berukuran sedang, yang tidak sekencang toket Rinda, tapi masih “on fire”. Tidak lembek.
Dan memeknya itu… tercukur bersih… menimbulkan hasratku untuk menjilatinya…!
Agar adil, aku pun melepaskan celana dalamku. Lalu merayap ke atas perut wanita setengah baya yang hangat dan harum itu.
“Tante masih penuh pesona,” bisikku setelah menghimpitnya, “semuanya masih perfect. Aku siap untuk memuasi hasrat Tante secara rutin. Kebetulan aku ada acara ke Jakarta seminggu dua kali. Tiap Senin dan Kamis. Berarti minimal aku bisa datang ke sini dua kali seminggu.”
“Iya Wan… terima kasih… sekarang lakukanlah apa yang Ridwan anggap harus dilakukan. Hatiku sudah menjadi milikmu kini.”
Mendengar ucapan Tante Hartini itu, spontan aku melorot turun. Karena sudah tak sabar lagi, ingin menjilati memeknya.
Tante Hartini pun bersikap tanggap. Ketika wajahkuj sudah berhadapan dengan memeknya, sepasang pahanya pun merenggang loebar. Sehingga aku bisa memperhatikan memeknya yang bersih dari jembut itu.
Lalu kuciumi memek plontos itu, sementara kedua tanganku mengangakannya. Sehingga bagian dalamnya yang berwarna pink itu mulai tampak di mataku.
Ujung lidahku pun mulai menyapu – nyapu bagian dalam memeknya yang berwarna pink itu.
Tante Hartini mulai menggeliat – geliat sambil meremas – remas bahuku. Terlebih setelah aku gencar menjilati kelentitnya, ia pun terkejang – kejang dibuatnya.
Bahkan pada suatu saat Tante Hartini merengek histeris, “Aaaaah… aaaaaa… sudah Wan… sudah…! Masukan aja penismu Sayang…”
Ini pertama kalinya mamienya Rinda memanggilku Sayang.
Aku pun memang sudah sangat bernafsu, ingin segera memasukkan kontolku ke dalam memek Tante Hartini.
Maka aku pun meletakkan moncopng kontolku tepat pada mulut memek Tante Hartini yang sudah ternganga basah itu. Dan sekali kudorong kuat – kuat… blesssss… kontol ngacengku pun melesak ke dalam liang memek wanita setengah baya itu.
Tante Hartini menyambutku dengan dekapan di pinggang, bersama desahannya, “Aaaaah… masuuuuk Waaan… punyamu gede banget… aaaaaaaah…”
Aku pun mulai mengayun kontolku, bermaju mundur di dalam liang memek Tante Hartini yang terasa masih sempit sekali, tapi sudah licin oleh air liurku yang mungkin bercampur dengan lendir libidonya.
Ya, aku mulai mengentotnya sambil menciumi dan menjilati lehernya, disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Tante Martina pun berjuang untuk mengimbangiku dengan menggeol – geolkan pinggulnya.
“Haaa… aku bisa menggoyang pinggulku… berarti lututku sudah sembuh Wan… “ucaqpnya terengah.
Memang pada waktu menggoyang pinggulnya itu sangat mungkin ada hubungannya dengan kekuatan lutut. Karena kalau lututnya lemah, dia takkan bisa mengangkat bokongnya. Apalagi menggeolkannya.
“Iya Tante… semoga Tante bugar kembali seperti sediakala yaaa…” sahutku sambil mulai mempercepat genjotan kontolku.
“Iyaaaa… ooooohhhhh… Waaaaaan… sudah hampir tiga tahun tante tidak merasakan sentuhan lelaki… sekarang… merasakannya kembali… ooooohhhh… Wawaaaaan… tante merasakannya lagi… nikmatnya gesekan penismu yang gagah ini… ooooohhh Wawaaaan… gak nyangka tante bisa merasakannya lagiiii…
Maka gairahku pun semakin berkobar, untuk mengentot wanita setengah baya ini sampai dia benar – benar puas.
Aku tak cuma mengentot liang memeknya belaka. Aku sudah mempelajari beberapa buku pengetahuan tentang sex. Tentang cara untuk memuaskan wanita pada saat digauli. Bahwa ada titik – titik penting yang harus disentuh. Antara lain telinga dan sekitarnya, leher dan sekitarnya, pentil buah dada dan sekitarnya, bahkan ketiak pun dianjurkan untuk disentuh.
Itulah sebabnya aku tak cuma menjilati leher jenjangnya yang mulai keringatan, tapi juga pentil toketnya kuemut dan kujilati, sementara toket yang satunya lagi kuremas dengan lembut.
Tante Hartini merintih dan merengek terus pada saat aku sudah gencar mengentotnya. Aku pun ingin membesarkan hatinya. Sehingga entotanku dilambatkan sejenak, lalu berbisik ke telinganya, “Memek Tante luar biasa enaknya…”
Tante Hartini tampak senang. Lalu menyahut, “Kontolmu juga luar biasa enaknya Wan. Pasti aku bakal ketagihan kelak.”
“Sama Tante. Aku juga bakal ketagihan sama Tante. Susah nyari wanita yang memeknya gurih danb legit seperti memek Tante ini,” ucapku yang lalu menggencarkan kembali entotanku.
Sementara Tante Hartini seperti berusaha untuk menggoyang pinggulnya kembali. Tapi mungkin fisiknya belum pulih benar. Sehingga akhirnya ia hanya menikmati entotanku sambil menciumi bibir dan pipiku.
“Gak usah maksain goyang [pinggul Tante. Didiemin gini juga enak. Karena pada dasarnya memek Tante memang luar biasa enaknya,” ucapku setelah mengetahui usahanya untuk menggoyang pinggul kembali, tetapi gagal mengangkat pinggulnya. Dan tidak bisa menggeol – geolkannya lagi.
Lalu aku menemukan titik paling sensitif pada wanita setengah baya itu. Ternyata ketiaknya yang paling peka itu.
Ketika aku mengentotnya sambil menjilati dan menyedot – nyedot ketiaknya yang harum deodorant, awalnya ia tersentak. Kusangka dia kaget. Tapi ternyata ketiaknya itu paling geli kalau disentuh orang lain. Hal itu kuketahui belakangan.
Maka ketika aku menjilati dan menggigit – gigit serta menyedot – nyedot ketiaknya, Tante Hartini pun merengek – rengek erotis, “Aaaaaa… aaaaaah… geli Waaan… tapi enak sekali Waaaan… ooooohhhh… ini pertama kalinya aku merasakan ketek dijil;atin waktu sedang dientot begini… aaaaah…
“Gampang Tante… kalau udah kangen sama aku… uggghhh… tinggal call aja… aku pasti datang ke sini…”
Lalu aku semakin menggencarkan entotanku. Sementara Tante Hartini mengaku sudah dua kali orgasme. Tapi kelihatannya dia tetap bergairah untuk menikmati entotanku, tak kelihatan lelah sedikit pun. Padahal kami sudah sama – sama bersimbah keringat.
Tapi pada suatu saat kudengar suaranya terengah, “Tante udah mau orga lagi Wan… ba… barengin yok… oooooohhhhh…”
“Iiii… iyaaaaa…” sahutku tergagap pula.
Tante Hartini pun mulai klepek – klepek seperti waktu mau orgasme yang pertama dan kedua tadi. Maka dengan spontan aku pun memacu kontolku untuk menggenjot liang memeknya secepat mungkin.
Lalu tubuh indah itu pun mengejang tegang. Pada saat yang sama, kubenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin, sehingga moncongnya terasa menabrak dasar liang memek mamienya Rinda.
Dan terjadilah sesuatu yang indah itu. Kami saling cengkram dan saling remas. Sementara liang memek Tante Hartini terasa berkedut – kedut, disusul oleh gerakan yang seolah sedang berusaha mendorong batang kemaluanku, tapi sang Kontol justru sedang mengejut – ngejut sambil memancarkan lendir kenikmatan yang banyak sekali rasanya…
Aku pun menggelepar dan terkapar di atas perut Tante Hartini.
Namun aku masih mendapatkan ciuman hangatnya wanita setengah baya itu, disusul dengan bisikannya, “Terimakasih Sayaaang… yang barusan kita lakukan adalah sesuatu yang terindah di sepanjang hidup tante…”
“Iya Tante. Semoga bisa jadi pendorong semangat Tante untuk cepat sembuh.”916Please respect copyright.PENANAsCWryo7wAp
“Tapi tante jadi kepengen mandi. Soalnya badan tante penuh keringat begini.”916Please respect copyright.PENANAwCf9C9RIyQ
“Ayo kubopong ke kamar mandi,” sahutku sambil mencabut kontolku dari liang memek tembem dan plontos itu.
Memang banyak sekali air mani yang termuntahkan dari moncong kontolku barusan. Kulihat lendir kenikmatanku sampai meluap dari mulut memek Tante Hartini. Dan Tante Hartini menadahkan telapak tangan di bawah memeknya, untuk menampung spermaku. Lalu sperma itu dialirkan ke mulutnya, yang lalu ditelannya sedikit demi sedikit.
“Bagaimana rasanya spermaku?” tanyaku setelah mcnium pipinya.
“Lezat… seolah bernafaskan semangat baru… yang membuat hidup tante berarti lagi. Terima kasih Ridwan Sayang…”
Kemudian kuangkat tubuh wanita setengah baya itu dengan mendekap pinggangnya erat – erat. Tante Hartini pun memeluk tengkukku erat – erat. Dan kubawa tubuh indah itu ke dalam kamar mandinya.
Tante Hartini menunjuk ke arah bathtub mewah di kamar mandinya. Maka kuletakkan dia di dalam bathtub itu.
Sesaat kemudian air hangat memancar ke bathtub itu dengan kencangnya.
Aku pun memancarkan aiur hangat shower utama yang berada di atas kepalaku.
Maka ketika Tante Hartini sedang menyabuni tubuh indahnya, aku pun menyabuni tubuhku sendiri di bawah pancaran air hangat shower.
“Banyak handuk bersih di lemari kaca itu. Silakan ambil untuk Ridwan satu, untuk tante satu. Sekalian tolong ambilin kimono yang masih bersih di situ juga,” kata Tante Hartini sambil menunjuk ke lemari kaca yang tidak jauh dari bathtub mewah itu.
Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di atas sofa bedroom kembali. Tante Hartini sudah mengenakan kimono baru, aku pun sudah mengenakan pakaianku kembali.
“Ridwan punya kartu nama?” tanya Tante Hartini.
“Punya Tante,” sahutku sambil mengeluarkan dompet dari saku belakang celanaku. Lalu kuambil secarik kartu namaku dan kuserahkan kepada Tante Hartini.
Tante Hartini pun mengamati kartu namaku yang lengkap dengan alamat kantor dan alamat rumah.
“Hai… rumahmu bukannya dekat dengan kampus dan apotek?” tanya Tante Hartini.916Please respect copyright.PENANA99dppBQqyG
“Betul. Kok Tante tau?”916Please respect copyright.PENANAGpkO1zY3c8
“Tau. Di situ ada rumah yang ibu rumah tangganya janda. Kamu tau?”
Aku terkejut dibuatnya. Tapi aku tak mau mengingkari kenyataan ini. Bahwa ibuku seorang wanita janda. Lalu kataku, “Wanita janda itu ibuku Tante.”
“Haaa?! Berarti kamu abangnya Nova… uffff… kelepasan bicara, “Tante Hartini menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
“Nova? Siapa Nova Tante?”
“Mmm… jadi bingung nih. Barusan kelepasan bicara. Tapi biarlah tante mau bicara sejujurnya, asalkan Ridwan berjanji untuk merahasiakannya kepada siapa pun ya.”
“Iya Tante. Aku berjanji takkan bicara kepada siapa pun.”
Tante Hartini termenung sejenak. Kemudian berkata, “Suamiku punya sahabat. Hasyim namanya. Pak Hasyim itu seorang pengusaha besar juga. Tapi Pak Hasyim sudah tiga gali ganti istri, tidak menghasilkan anak juga. Karena ternyata Pak Hasyimnya sendiri yang mandul. Kebetulan Pak Hasyim punya teman karib yang bernama Zaelani…
“Betul Tante. Tapi ayahku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu,” sahutku.
“Soal itu sudah kudengar dari mulut istrinya Pak Hasyim. Nah… pada saat istri Pak Zaelani hamil yang keberapa ya… kalau gak salah yang ketiga… terjadi suatu perundingan pribadi dengan Pak Hasyim. Bahwa kehamilan istri Pak Zaelani itu akan dibiayai sepenuhnya oleh Pak Hasyim, asalkan kalau anaknya sudah lahir, diberikan kepada Pak Hasyim untuk diadopsi.
Sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan kepada Tante Hartini. Tapi aku tak berani memotong penuturan penting itu.
“Nah… akhirnya lahirlah bayi perempuan dari istri Pak Zaelani itu. Yang lalu dibawa diadopsi oleh Pak Hasyim.”
“Tante kok bisa tau semuanya sampai mendetail begitu?”
“Kan tante ikut dijadikan saksi waktu perjanjian itu ditandatangani. Jadi tante tau benar isi perjanjiannya. Antara lain, bayi itu akan dirawat seperti anak Pak Hasyim sendiri. Dan Pak Zaelani tak boleh mengganggu atau menuntut apa pun kalau bayi itu sudah besar kelak. Perjanjian itu ditandatangani di depan notaris.
“Lalu bayi cewek itu dikasih nama Nova?” tanyaku.916Please respect copyright.PENANA2KRdChDcnT
“Iya. Berarti Nova itu adik kandung Ridwan kan?”916Please respect copyright.PENANAnIkQAZFx8z
“Betul Tante. Selama ini kami sekeluarga mencari tahu keberadaan adikku yang sudah dikasih nama Nova itu. Tapi baru sekaranglah aku mendengar beritanya.”
“Menurut tante sih, walau pun Ridwan sudah tau, sebaiknya jangan ganggu Nova dalam bentuk apa pun. Lagian Nova itu sangat dimanja oleh Pak Hasyim dan istrinya. Bahkan berlebihan memanjakannya. Sehingga Nova itu jadi kolokan sekali. Apa pun yang diinginkannya harus dikabulkan. Selain kolokan, Nova itu selalu jutek pada orang – orang di sekitarnya.
“Iya,” sahutku, “aku juga takkan mengganggunya Tante. Hanya berusaha ingin tau aja keberadaannya. Mendengar dia sehat aja hatiku udah senang.”
“Iya, memang harus begitu. Masalahnya ayahmu sudah menandatangani perjanjian di depan notaris, dihadiri oleh saksi – saksi pula. Jadi secara hukum, Nova itu tidak bisa diganggu gugat lagi.”
“Iya Tante. Aku akan mencatat kata – kata Tante ini di dalam hati.”916Please respect copyright.PENANANsATkJU0O3
“Nah sekarang kita bicara masalah bisnis ya.”916Please respect copyright.PENANA1PRoy3g4lX
“Siap Tante.”
“Begini,” kata Tante Hartini, “Sebenarnya tante punya beberapa perusahaan atas nama tente sendiri. Tapi Rinda tidak tahu. Lagian dia sudah mendapatkan warisan seluruh harta yang atas nama almarhum ayahnya. Tapi perusahaan – perusahaan atas nama tante tidak termasuk yang diberikan padanya. Salah satu perusahaan milik tante itu ada di kotamu Wan.
“Iya Tante.”
“Nah… perusahaan di kotamu itu akan tante hibahkan padamu. Mau diapakan pun terserah Ridwan.”
“Perusahaannya dalam bentuk apa Tante?”
“Pabrik segala kebutuhan anak – anak. Perkembangannya bagus. Tapi mungkin kalau sudah diurus oleh Ridwan bakal lebih sehat lagi.”
“Jadi pabrik itu mau Tante percayakan padaku untuk mengurusnya?”
“Memilikinya. Bukan sekadar mengurusnya. Tadi tante kan bilang, akan menghibahkan pabrik itu pada Ridwan.”
“Oooh… Tante… apakah Tante tidak berlebihan dengan menghibahkan pabrik itu padaku?”
“Tidak Wan. Dalam tiga hari belakangan ini tante sudah mempertimbangkannya sematang mungkin. Perusahaan tante kan banyak. Penghibahan pabrik itu takkan membuat tante jatuh miskin. Jadi… semoga kehidupan Ridwan bertambah sukses setelah memiliki pabrik itu ya,” ucap Tante Hartini sambil memgang tanganku erat dan hangat.
“Aku jadi speechless Tante. Aku… aku cuma bisa bilang terimakasih,” ucapku yang kuakhiri dengan kecupan hangat di pipi Tante Hartini.
“Tapi Ridwan punya kewajiban untuk menengok tante sesering mungkin ke sini ya.”
“Siap Tante.”916Please respect copyright.PENANAgeGWCPMPyv
“Ohya… mengenai hibah pabrik itu, gak usah ngomong apa – apa pada Rinda. Karena dia tidak tau kalau tante punya pabrik di kotamu.”916Please respect copyright.PENANAIZ7WCajEtJ
“Iya Tante.”
“Kalau kaki tante sudah normal, mungkin tante mau beli rumah di kotamu Wan. Supaya kita tidak terlalu berjauhan. Energi Ridwan pun tidak terlalu dikuras untuk nyetir sendiri ke Jakarta. Kenapa Ridwan tidak pakai sopir pribadi sih?”
“Belum saatnya pakai sopir pribadi Tante. Aku kan masih muda. Lagian aku memang senang driving,” ucapku dengan tangan yang sudah kuselinapkan ke balik kimono Tante Hartini.
“Ogitu ya… “gumkam Tante Hartini yang membiarkan tanganku menggerayangi memeknya yang baru mengalami orgasme tiga kali itu.
“Tante masih bergairah?” tanyaku.
“Emangnya Ridwan udah horny lagi?”
“Iya Tante. Ini udah ngaceng lagi… hihihihiiii…”
“Ayolah. Tapi jangan terlalu lama ya. Usahakan lepas bareng lagi seperti tadi. Lalu kita tidur. Tante ingin tidur sambil melukin Ridwan…”
“Siap Tante,” sahutku sambil bangkit dari sofa. Kemudian membopong Tante Hartini ke arah bednya lagi.
That’s our story. Bahwa kami bersetubuh lagi. Dan aku berusaha untuk menuruti keinginan Tante Hartini, agar bersetubuhnya jangan terlalu lama. Mempercepat ejakulasi jauh lebih mudah dari memperlambatnya.
Maka aku pun berhasil ejakulasi tepat pada saat Tante Hartini berada di puncak orgasmenya.
Lalu kami tidur sambil saling berpelukan dan baru sadar keesokan paginya.
Aku meninggalkan Jakarta pagi itu dengan terawangan indah menggelayuti benakku. Aku masih ingat benar ucapan Tante Hartini sebelum melepaskan kepergianku tadi: “Bu Vita, direktur pabrik itu akan tante panggil secepatnya. Untuk menyampaikan keputusan tante yang akan menghibahkan pabrik itu padamu Sayang.
Hibah pabrik itu bisa kuanggap sebagai pertanda, bahwa Tante Hartini sangat membutuhkan diriku. Tapi aku tak mau besar kepala. Semuanya harus kuhadapi dengan kepala dingin.
Tiga hari kemudian, aku mendapatkan pesan lewat WA dari Tante Hartini, yang namanya kusamarkan sebagai “Pak Tono”. Sekadar berjaga – jaga, jangan sampai Rinda tahu kalau aku sudah punya “jalur khusus” dengan ibunya. Tante Hartini pun sudah menyamarkan namaku di handphonenya sebagai “Wien”. Juga agar aman dari kecurigaan Rinda.
Isi WA dari Tante Hartini itu berbunyi :-Bu Vita sudah datang ke Jakarta kemaren. Dan sudah dikasih tahu masalah “penjualan” pabrik itu. Jadi, silakan datangi pabrik itu untuk mengenalkan diri sebagai owner baru. –
Aku hanya membalas singkat :-Siap Tante Sayangku-
Lalu pada hari itu juga aku mengunjungi pabrik itu, sesuai dengan alamat yang sudah diberikan oleh Tante Hartini.
Setibanya di pabrik itu, seorang satpam menghampiri sedan hitamku, “Mau ketemu siapa Boss?”
“Mau ketemu dengan Bu Vita,” sahutku.916Please respect copyright.PENANA5O8GlkAgdk
“Sudah ada janji sama beliau?” tanya satpam itu lagi, membuatku agak jengkel.916Please respect copyright.PENANANafXL0XFau
“Bilang aja ada owner baru pabrik ini bernama Darmawan… !”
Satpam itu kelihatan kaget dan mengubah sikapnya, “Oh! Siap Big Boss… !”
Kemudian satpam itu mengarahkanku ke tempat parkir yang bertuliskan VVIP. Mungkin pada saat Tante Hartini masih normal, di situlah tempat mobilnya diparkir kalau beliau datang ke pabrik ini.
Setelah mobilku terparkir, kuikuti langkah satpam itu menuju ruang kerja dirut.
Di ruang kerja dirut, kulihat seorang wanita setengah baya sedang serius mengamati layar monitornya.
Satpam itu menghampirinya. “Maaf mengganggu Bu Boss. Ini Bapak Darmawan mau ketemu Bu Boss.”
Wanita tinggi montok itu tampak kaget. “Ooooh… selamat datang Big Boss,” ucapnya sambil berdiri dan menghampiriku. Lalu menjabat tanganku dengan sikap sopan sekali.
Kemudian aku dipersilakan duduk di ruang tamu dirut.
Semua manager pun dipanggilnya, untuk dikenalkan padaku sebagai owner baru pabrik besar ini.
Acaranya cuma ramah tamah saja dengan dirut dan manager – managernya itu.
Kemudian aku meninggalkan pabrik besar itu setelah berjanji akan datang kembali beberapa hari berikutnya, untuk menjelaskan konsep baruku.
Lalu aku mengarahkan sedan hitamku menuju kantor perusahaan Tante Laila.
Baru saja aku tiba di kantor perusahaan Tante Laila, tiba – tiba handphoneku berdering. Ternyata dari ibuku. Cepat kuterima, takut ada sesuatu yang penting.
“Hallo Bu…”916Please respect copyright.PENANA0uzZyK35sQ
“Kamu lagi di mana Wan?”916Please respect copyright.PENANAy1zb96a35O
“Di kantor. Emangnya kenapa Bu?”
“Ibu kan pernah cerita sama kamu, bahwa ibu punya adik kandung yang menikah dengan orang Belanda, lalu dibawa ke negaranya.”
“Oh iya. Tante Rosmala itu?”916Please respect copyright.PENANADJVG4Anbpd
“Iya. Nama lengkapnya sih Rosmalaida. Sekarang dia ada di rumah.”916Please respect copyright.PENANAf9w3XhPUyq
“Ohya?!”
“Iya. Ibu sudah jelaskan bahwa kamu sekarang menjadi direktur utama di dua perusahaan. Karena itu dia ingin dicarikan rumah sekaligus ingin berbisnis denganmu. Bisa sekarang pulang dulu ke rumah?”
“Iya, bisa… bisa… sekarang juga aku mau pulang Bu.”916Please respect copyright.PENANA3U1UJCg8FX
“Ditunggu ya Wan.”916Please respect copyright.PENANAMcfsh32pTS
“Iya Bu.”
Bersambung…
ns216.73.216.62da2


