Cerita ini mengikuti Ridwan, pemuda 20 tahun yang hidup sendirian dengan ibunya yang buta. Sejak kecil ia menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal dan kakaknya menghilang. Di usia 20 tahun, saat pulang kerja lembur pukul tiga pagi, ia mendengar rintihan dari kamar ibu. Setelah mengintip, ia melihat ibunya telanjang sedang bermasturbasi dengan tangan yang meremas payudara montoknya dan jari yang masuk ke dalam memek berjembut lebatnya. Suara desahan histeris ibu terdengar jelas: “Aaaaaaa… aaaaahhhh… aaaaa… aaaaahhhhh… aaaaa… aaaaaahhhh…”
Ridwan terangsang hebat, penisnya tegang, lalu ia bermimpi menyetubuhi ibunya hingga celana dalamnya basah oleh sperma. Keesokan harinya ia mulai mengorek pengakuan ibu. Ketika ia meraba payudara ibu dari balik daster, ibu terkejut tapi akhirnya mengakui masih membutuhkan sentuhan lelaki. Ridwan menawarkan dirinya sendiri. Setelah membeli pil anti hamil, mereka melakukan hubungan pertama di kamar ibu.
Ibu memegang penis Ridwan dan berkata, “Udah segede apa kontolmu ini Wan? Adududuuuuh… gede banget kontolmu Wan… jauh lebih gede daripada kontol ayahmu!” Ridwan memasukkan penisnya perlahan. Ibu merintih, “Ma… maasuuuk Waaaaan… duuuuh… kontolmu memang gede banget Waaaan… terasa sekali… sangat terasa enaknya Waaaaan…” Mereka bergoyang bersama. Ibu mencapai orgasme sambil berkata, “Ibu lepas Waaaannn…” Ridwan terus mengentot hingga akhirnya ejakulasi di dalam: “croooooottttt… crooooooottttt… crotttt…” Ibu berterima kasih, “Terima kasih Wan… sejak ditinggal oleh ayahmu, baru sekali inilah ibu merasakan nikmatnya disetubuhi…”
Mereka mandi bersama. Di kamar mandi Ridwan menyetubuhi ibu lagi sambil berdiri. Ibu merintih, “Oooooohhhhh… kontolmu memang enak sekali Wan… nanti istrimu pasti bakal ingin dientot terus sama kontol gede dan panjangmu ini…” Setelah orgasme bersama, ibu mengatakan, “Sayangnya kita gak boleh kawin ya Wan. Kalau boleh sih, ibu mau juga dihamili olehmu.”
Cerita kemudian mundur ke pengalaman Ridwan sebelumnya dengan Mbak Ninies, karyawan kantor yang lebih tua. Di rumah Ninies, Ridwan belajar berbagai posisi. Ia menjilati memek Ninies yang berjembut pendek seperti kumis Hitler. Ninies mengajari, “Jilatin deh.” Malam itu Ridwan ejakulasi tiga kali di dalam memek Ninies. Namun Ninies kemudian dimutasikan ke Medan dan hilang dari hidupnya.
Kembali ke ibu, hubungan mereka berlanjut. Ibu datang ke kamar Ridwan, meminta berbagai posisi termasuk doggy dan woman on top. Ibu merintih, “Waaaan… ooooo… oooooohhhhh Waaaaaan… kamu memang perkasa Waaaan… gak nyangka… gak nyangka kalau kepuasan ibu akan dialami dari anak ibu sendiri…” Ridwan merasa memek ibu lebih enak daripada memek Ninies meski ibu sudah dua kali melahirkan. Mereka sering ejakulasi bersama. Ibu bahkan orgasme lima kali dalam satu sesi.
Di kantor, Ridwan dipanggil Bu Laila Qodrati, putri tunggal pemilik perusahaan. Ia diminta menjadi pendamping dan sopir pribadi. Dalam perjalanan ke Jakarta, Bu Laila mengajaknya menjadi kekasih rahasia karena suaminya impoten akibat kecelakaan. Di rest area dan dalam mobil, Bu Laila memegang penis Ridwan dan berkata, “Wooooowwww…! Ternyata punyamu sepanjang dan segede ini Wan?!” Di villa Puncak mereka berhubungan. Ridwan menjilati memek Bu Laila yang bersih tanpa jembut. Bu Laila merintih, “Waaaaan… duuuuuuuh Waaaan… kamu pandai sekali membuatku enak Waaaan… ooooooh Waaaan… kontolmu luar biasa enaknya Waaaan…” Mereka orgasme bersama. Bu Laila menelan sperma Ridwan. Ia memberi cek besar untuk renovasi rumah, pakaian, dan mobil, serta mengangkat Ridwan menjadi asisten pribadi dengan gaji tinggi.
Ridwan pulang dan menemukan ibu masturbasi lagi. Ia memberi dildo vibrator. Ibu merintih saat dildo bergetar di dalam: “Waaaaan… ooooohhhh… kok rasanya seperti dibor gini Waaaan?! … Adududuuuuuh… Waaaan… memang enak…” Tiba-tiba polisi datang mengantarkan kakak Ridwan, Wati, yang kembali setelah lima tahun hilang di Kalimantan.
Wati berubah lebih montok. Di kamar mandi Ridwan melihatnya telanjang. Hubungan mereka berkembang. Ridwan menyetubuhi Wati. Cerita kemudian melibatkan berbagai wanita setengah baya: Mbak Vita (direktur pabrik), Bi Elin (sepupu ibu yang tinggal di rumah), Tante Rosmala, Tante Hartini, dan lainnya. Ridwan sering menyetubuhi mereka, dengan desahan seperti “Aaaaaah… Bosss… sungguh Boss… ini penis yang paling enak dalam hidup saya…” atau “Waaan… ooooohhhh… ini pertama kalinya memekku dijilatin Waaan…”
Pabrik yang dihibahkan Tante Hartini berkembang pesat. Ridwan menjadi komisaris utama. Wati menikah. Ibu ditemani Bi Elin. Ridwan tetap berhubungan dengan banyak wanita, termasuk Bi Elin yang baru dua kali digauli seumur hidup. Ia menjilati memek Bi Elin yang jarang jembutnya dan menyetubuhinya hingga orgasme bersama. Bi Elin merintih tertahan agar tidak didengar ibu.
Cerita berlanjut dengan penemuan adik kandung Nova yang diadopsi. Setelah perusahaan ayah angkatnya bangkrut dan ayah angkat meninggal, Nova kembali ke keluarga. Di rumah, Nova tidur di kamar Ridwan. Mereka saling tertarik. Ridwan menyetubuhi Nova yang ternyata masih perawan meski pernah memakai dildo hanya di clitoris. Darah perawan terlihat. Nova merintih, “Aaaaaah… Baaaang… aaaaah… ini luar biasa enaknya Bang… aaaaaaah… Baaaaang… aku cinta padamu Baaaaang…” Mereka menjadi kekasih gelap. Nova dijadikan sekretaris Ridwan.
Ridwan juga berhubungan dengan Tante Haya, ibu angkat Nova. Ia memberi rumah. Di rumah itu mereka menyetubuhi. Tante Haya merintih, “Ooooh… Waaan… gak nyangka tante bakal mendapatkan semua ini…” Ridwan merasa Tante Haya termasuk wanita setengah baya tercantik yang pernah ia nikmati.
Di tengah semua hubungan rahasia ini dengan ibu, kakak, adik, tante, dan wanita lain Ridwan tetap menjaga rahasia. Ia merenovasi rumah, membeli properti, dan mengelola perusahaan. Tante Hartini akhirnya ingin menikahkan Ridwan dengan putrinya Rinda. Cerita diakhiri dengan Ridwan yang akan pergi ke Jakarta untuk membahas pernikahan itu, sementara hubungan incest dan rahasianya dengan berbagai wanita tetap berjalan.
Gaya bahasa penulis sangat eksplisit, penuh kata vulgar seperti “kontol”, “memek”, “entot”, “ngecrot”, “jilmek”, dan deskripsi gerakan tubuh, keringat, serta sensasi dalam yang berulang. Desahan sering berulang dengan variasi “Aaaaaah… Waaaaan… ooooh… enak sekali…” atau “croooooottttt…” untuk ejakulasi. Narasi menekankan kenikmatan yang “luar biasa”, perbandingan ukuran penis, dan perasaan sayang yang bercampur nafsu, terutama terhadap ibu dan wanita setengah baya. Plot bergerak dari hubungan ibu, ke wanita kantor, ke kakak, adik, dan tante, dengan Ridwan yang semakin sukses secara finansial sambil memperluas “koleksi” seksualnya.
ns216.73.216.62da2


