Ada hari-hari ketika Kintan berharap jam pelajaran pertama segera berlalu. Hari ini merupakan salah satunya.
Sejak turun dari gojek di gerbang sekolah tadi. Kakinya sudah terasa sangat lemas, nafasnya pun terasa sangat panas, dan sekarang masalahnya malah bertambah. Dengan kondisi badan yang sangat lemas dan demam dirinya akan mengikuti praktik lompat jauh dengan seragam osisnya yang kekecilan, rok panjang abu-abu yang ia kenakan pun sangat menempel di kulit pantatnya. Hal itu membuat garis celana dalamnya tercetak begitu jelas dari balik rok nya. Kintan sendiri memang belum sempat mengganti seragam lamanya dengan yang baru. Karena Ia sendiri juga tak menyangka pertumbuhannya akan secepat ini, terutama di bagian payudara dan pantatnya.
PRITTTTTTT……………… PRITTT……
Suara peluit memecah pagi yang masih diselimuti embun tipis. Para siswa kelas 11 A berlarian menuju ke lapangan untuk membentuk sebuah barisan seperti biasa. Sedangkan siswa yg tidak mengenakan seragam olahraga akan membentuk barisan yg terpisah. Sedangkan seorang guru dengan tubuh besarnya yang garang dan sangar sudah berdiri di tengah lapangan. Tatap matanya tajam kulitnya hitam legam seolah siap menggembleng semua siswa-siswi yang hadir dilapangan.
Tapi semua mata kini tertuju pada kintan khususnya para siswa. Kintan yang memakai seragam osis itupun malah membuat dirinya menjadi pusat perhatian di lapangan. Ditambah dengan rok panjang abu-abunya yg sangat ketat, Membuat dirinya makin terlihat sangat menggoda. Gadis manis yang saat ini merasa sangat lemas itu lalu bergegas menyusul ke barisan 4 temannya yg senasib karena tidak membawa seragam olahraga. Disana ia berdiri dengan tegang melihat raut muka garang pak Supri. Dalam hatinya ia berharap bisa segera menghilang dari situ sekarang juga.
“sssst kintann!!”. Colek seorang gadis ke lengan kintan.
Kintan langsung reflek menoleh. “Lohhh!! Caca..? Hahah kamu gabawa juga?”.
Kintan sangat senang ternyata sahabat dekatnya pun memiliki nasib yg sama dengannya. Gadis itu adalah Caca, Sejak awal kelas sepuluh, Kintan sudah mengenal-nya. Mereka memang tidak selalu duduk di bangku yang sama atau menghabiskan setiap waktu bersama, tetapi keduanya cukup dekat untuk saling berbagi cerita, saling menyemangati menjelang ujian, hingga berlatih bersama ketika sekolah mengirimkan atlet ke berbagai perlombaan. Kintan di cabang renang, sementara Caca menjadi salah satu andalan sekolah di cabang bulu tangkis. Dan juga ditambah pacar mereka juga sudah bersahabat sejak SMP, membuat keduanya jadi sering bertemu ketika double date.
“Iyaa punyaku masih di laundry heheh”. Caca terkekeh menggaruk kepalanya sendiri.
“BTW kok kamu pucet banget”. Caca heran melihat wajah kintan.
“Iyaa lagi ga enak badan nih”.
“Harusnya izi-”. Ucapan Caca terpotong.
“Sssstt diem, pak supri liatin kitaa”. Ucap Melin yg juga ada dibarisan itu.
Pak Supri berdiri ditengah lapangan, kedua tangannya berada disisi pinggang. Kepalanya menoleh kanan-kiri memastikan semua siswa-siswi kelas 11 A hadir di lapangan. Namun matanya tertahan saat melihat barisan para siswi yg tak memakai seragam olahraga. Mukanya mendadak berubah menjadi sangat seram. Seolah menunjukan bahwa hari ini moodnya memang sedang jelek.
Pak Supri sendiri Merupakan seorang duda beranak satu dia adalah seorang guru berusia 43 tahun dengan tinggi badan 182cm, berat 95kg, kulitnya hitam legam, wajahnya penuh bekas jerawat, berbadan besar, dan yang paling penting panjang rudalnya mencapai 25cm dengan diameter sama seperti botol air mineral. Di Sekolah dia punya reputasi sebagai guru yang tegas tapi santai. Sebenarnya banyak rumor miring yang beredar di sekolah bahwa candaan pak supri saat mengajar terkadang sedikit mesum dan cabul. Namun karena para siswi merasa takut, mereka tak begitu berani mempermasalahkan candaannya. Ditambah koneksinya di sekolah sangatlah kuat, kepala sekolah yang saat ini menjabat pun ternyata adik kandung pak Supri. Bahkan guru dan staff disekolah pun enggan mencari masalah dengannya. Selain menjadi guru penjas saai ini dirinya juga merangkap sebagai WAKA kesiswaan yang banyak mengurus soal lomba dan beasiswa peserta didik.
(POV Kintan)
“Semuanya Diamm!!!” teriak Pak Supri dengan suara berat.
Pak supri tiba-tiba menunjuk barisanku yang memang tak memakai seragam olahraga untuk maju ke depan.
“Kalian semua yang gak pake seragam, silahkan majuu!!”
Aku, Caca, Melin, Sekar, dan rania kami berlima langsung maju ke depan barisan untuk menghadap pak Supri. Wajah kami seolah kompak menunduk kebawah karena takut dan malu. Disini aku pun terus memainkan jariku menahan rasa pusing berkunang-kunang yang tengah ku rasakan. Didepan pak Supri kami kembali berbaris dan posisiku ada di ujung paling kanan.
Pak Supri menatap tegas ke arah kami. “Kenapa kalian ga pakai baju olahraga? Jawab satu-satu!! Mulai dari kamuu!!”. Pak Supri menunjuk kearah Sekar yang ada di ujung paling kiri.
Kami pun akhirnya secara berurutan menyebutkan alasan Kami tidak memakai baju olahraga mulai dari ujung paling kiri.
“Mm-maaf pak baju saya masih basah”. – Sekar
“Ss-saya bajunya rusak pak, masih belum dibenerin”.-Melin
“Kka-kalau saya hilang pak”.- Rania
“Anu saya sama kaya sekar pak, baju saya masih basah”.- Caca
“Mm-maaf baju saya ketinggalan pak, tadi saya kesiang…..”
Kalimatku mulai terdengar gemetar. Pandanganku mulai terasa sedikit kabur.
Di mataku lapangan ini mulai terasa berputar.
Suara riuh teman-temanku makin terdengar jauh.
Pak Supri mungkin masih berbicara……… Namun aku sudah tak dapat mendengar suara-nya dengan jelas.
“…..”
“…..”
“…..”
Telingaku terasa berdenging. Lututku pun mulai kehilangan tenaga.
Dari barisan belakang aku mendengar seseorang meneriakan namaku.
“Kintan?!!!!!.........”
Pasti Bahtiar…………
Tiba-tiba pandanganku langsung berubah gelap total.
BRAGGG………….
“ARGHHH KINTANN!!!”. Riuh siswa yang hadir dilapangan dibuat panik karena kintan tiba-tiba jatuh tersungkur ke tanah tak sadarkan diri. Bahtiar yang melihat itu langsung lari dari barisan belakang untuk mengecek kondisi pacarnya itu.
Pak Supri tersentak kaget. Ia langsung menempelkan punggung tangannya ke wajah kintan.
“Badan-nya panas bangett!!”.
Bahtiar langsung berusaha mengangkat kintan dan ingin membawanya ke UKS. Namun tanganya seketika ditahan oleh pak Supri. “Udah biar bapak aja, kamu balik ke barisan”
Bahtiar menatap bingung. “Tt-tapi pakk…”
“Udah main romantis-romantisanya nanti lagi”. Pak supri langsung membopong kintan dan berdiri.
“Bapak mau nganter kintan ke UKS dulu, Kalian bisa langsung senam SKJ seperti biasa yaa…”
“Bahtiar!! Kamu yang pimpin senam”.
Bahtiar dengan muka cemasnya hanya bisa mengangguk pasrah. “Bb-baik pak”.
Pak Supri pun akhirnya pergi mambawa kintan menuju UKS meninggalkan suasana lapangan yang masih sedikit tegang. Sesaat bahtiar terus menatap kekasihnya yang sedang dibopong oleh gurunya itu.
Matanya menatap khawatir…………
3377Please respect copyright.PENANABSxjBCjw9F
(POV Bahtiar)
Mataku terus mengikuti langkah pak Supri yang membawa kintan menuju ruang UKS. Jantungku masih berdegup cepat akibat melihat kintan pingsan tadi. Harusnya tadi yang membopong kintan itu aku, bukan malah pak Supri. Dan sekarang aku malah tetap berada disini dan harus memimpin senam menggantikan pak Supri.
Aku menghelas nafasku panjang…..
Berharap bisa segera menyusul kintan ke UKS aku langsung menyalakan sound system yang ada didepan lapangan.
“Woiiii!!!! Ayoo senam duluu!!”. Teriakku mengajak teman-temanku yang masih asik memperhatikan kintan dari jauh.
Musik iringan senam SKJ pun mulai berputar. Dengan penuh rasa khawatir terhadap kondisi kintan, aku memimpin senam dengan gerakan yang cukup berantakan.
Tujuhh…… delapan…
Satuu… dua….. tigaaa.. tujuhh…. Delapan……
Hingga tak terasa 15 menit pun berlalu, musik senam yang ku putar pun telah berhenti. Meski begitu batang hidung pak Supri belum juga terlihat memasuki area lapangan. Padahal disini, kami semua menunggu pak Supri datang untuk memberi arahan atau instruksi materi praktik hari ini. Harusnya hari ini kami semua ada penilaian untuk lompat jauh.
Melihatku gelisah, Aldo langsung mendekat ke arah ku.
“Cewe lu sakit apa bah??...”. Tanya-nya padaku.
“Demam biasa kayanya, cuman suhunya terlalu tinggi”.
“Udah seminggu dia latihan renang nonstop”. Jawabku sambil menatapnya.
Aldo hanya menggeleng heran mendengar jawabanku. “Buat POPNAS??”
Aku mengangguk. “Iyaa, Kan kamis kalian udah berangkat”.
Dia adalah salah satu teman terdekatku yang bahkan sudah kuanggap seperti saudara kandungku sendiri. Kami sudah saling mengenal sejak duduk di bangku SMP. Selama tiga tahun kami hampir tak pernah terpisah kelas, bahkan lebih sering duduk di bangku yang sama. Entah kebetulan atau memang takdir, saat melanjutkan sekolah ke SMA ini kami kembali menjadi teman sekelas.
Ayahnya adalah guru olahraga yang tadi membawa Kintan ke ruang UKS. Selain menjabat sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, Pak Supri juga dikenal sebagai salah satu guru yang paling disegani di sekolah. Belum lagi paman Aldo yang merupakan kepala sekolah di sini. Karena itulah hampir semua guru mengenal Aldo dengan baik sejak hari pertama kami masuk sekolah. Meski begitu, di mataku Aldo tetaplah Aldo yang kukenal sejak SMP—teman yang usil, sedikit mesum, tetapi selalu menyenangkan untuk sekedar diajak nongkrong.
Kamis nanti Aldo, Kintan, Caca, dan Irfan akan berangkat ke Solo untuk mewakili lomba POPNAS. Mereka terpilih mewakili lomba yang berbeda-beda. Aldo sendiri mewakili lomba renang putra sedangkan Kintan terpilih mewakili lomba renang putri.
Demam Kintan hari ini memang disebabkan oleh intensitas latihan renangnya selama ini. Sudah seminggu lebih dia latihan renang setiap hari sepulang sekolah tanpa henti. Ambisinya untuk membawa pulang piala sangatlah besar, Ditambah beasiswa yang membebani pikirannya selama ini, yang membuatnya harus memperatahankan nilai dan prestasinya. Meskipun sebelumnya sudah berkali-kali kintan merasakan menjadi juara satu diperlombaan akademik.
Sudah lebih dari tiga puluh menit aku berdiri disini tanpa kepastian apapun dari pak Supri, teman-teman kelasku pun sudah mulai mengeluh kepanasan di lapangan ini. Aku sudah bisa menunggu lebih lama dari ini, aku juga penasaran dengan keadaan Kintan.
Aldo tiba-tiba menepuk pundakku. “Bah lo gak ngerasa aneh…”.
Aku menatapnya dan mengerutkan dahiku. “Maksud lo...?”.
“Coba lo pikir, ini udah setengah jam lebih dan bokap gw belom balik kesini…..”.
Dadaku mulai terasa tak nyaman. “Mungkin lagi nungguin kintan siuman”. Ucapku.
“Lama juga ya..? Walau harusnya dia langsung balik ke lapangan buat ngajar”. Aldo terkekeh pelan.
Aku mulai menatap-nya kesal. “Intinya lo mau ngomong apa si..? Muter-muter doang”.
“Kalau emang cuman mau nganter Kintan ke UKS…harusnya udah balik dari tadi”.
“Menurut lo apa yang bikin bokap gw bisa sampe selama ini di UKS??....”
“Ditambah gw akuin tadi si kintan emang keliatan mantep banget body-nya hahah”. Jelasnya padaku sambil terkekeh.
Mendengar perkataan aldo, badanku langsung menegang.
Dadaku terasa sesak. Wajahku langsung panas membayangkan hal sebelumnya tak pernah kubayangkan.
“Anying Sia, goblok!”. Mataku melotot ke arah Aldo.
“Bikin gw overthinking aja luu!!”. Kesalku
Akupun bergegas menyusul pak Supri ke UKS dan Aldo langsung mengikutiku dari belakang. Jantungku langsung terasa dag dig dug membayangkan omongan aldo barusan. Tapi tololnya kenapa penisku malah sedikit tegang. Membayangkan ayah aldo sedang menggahi pacarku di UKS.
Langkahku semakin cepat. Di iringi aldo yang berlari kecil di belakangku.
Sekilas senyum lebar terpampang jelas di wajah sahabatku ini. Seolah tak sabar menonton sebuah pertunjukan.
Saat tiba di persimpangan antara kelas dan parkiran tiba-tiba saja….
Bruakkkkk……..
Aku menabrak seorang guru pria di tikungan koridor. Tubuhku jadi sedikit terdorong kebelakang. Reflek aku langsung membungkukan badanku untuk meminta maaf.
“Mma-maafin saya pakk……”. Ucapku.
Aku yang masih membungkuk sedikit tersentak ketika Aldo menepuk punggungku dari belakang. Reflek aku menegakan badanku kembali. Saat itu juga aku tau siapa guru yang aku tabrak. Yaa dia pak Supri, orang yang tadinya akan ku labrak di UKS. Ternyata sekarang ada didepan mataku dan tersenyum mengerikan.
“Kalian mau kemana?...”. Tanya pak Supri.
“Kka…kami mau nyari bapak, soalnya tadi ada guru nanyain kenapa bapak ga ngajar”. Jawabku mengarang agar tak terlihat bahwa diriku ke UKS karena mencurigainya.
Pak Supri hanya tersenyum. “Yasudah ayo, balik ke lapangan”.
“emm anu pak, sekarang kintan gimana ya??”. Tanyaku ragu.
“Udah siuman, dan nanti pihak sekolah bakal pulangin kintan kerumahnya”. Jawabnya dengan muka yang datar.
Aku memperhatikan wajah Pak Supri beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman, meskipun aku sendiri tidak tahu apa. Senyum yang tadi terukir di wajahnya terlihat terlalu tenang, terlalu biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal baru saja beliau keluar dari ruang UKS setelah menghabiskan waktu hampir satu jam bersama Kintan.
Tapi entah kenapa, setelah mendengar perkataan Aldo, ada bagian kecil dalam diriku yang mulai mencari-cari kejanggalan. Tatapan Pak Supri yang beberapa kali menghindar, Rambut-nya yang terlihat sedikit berantakan, serta caranya yang terlihat ingin segera kembali ke lapangan membuat Jantungku semakin berdetak cepat. Dibawah sana pun penisku semakin terasa berkedut seolah aku memang berharap ada kejanggalan yang terjadi diantara mereka saat di UKS tadi.
Apa Pak supri benar-benar…? Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat.
Aku mencoba menepis pikiran itu. Tak mungkin… Pak Supri bukan orang seperti itu. Selama ini aku mengenalnya sebagai guru yang tegas dan disegani. Bahkan sebagai ayah Aldo, aku tahu beliau selalu memperlakukan anaknya dengan disiplin sejak SMP.
ns216.73.216.105da2


