Senin, 02 Februari 2018……..
Di sebuah desa yang masih asri di pinggiran kota Tasikmalaya. Kicauan burung gereja dan sinar mentari pagi sudah menemani aktivitas manusia di kota kecil itu. Dipagi yang cerah itu seharusnya terasa biasa saja bagi kebanyakan orang yang menjalankan aktivitas. Namun ada satu pria yang merasa hari ini terasa sedikit berbeda. Pacarnya, Kintan Maya Alpitri, masih belum terlihat di lingkungan sekolah. Bahkan dari semalam pesannya pun tak kunjung dibalas oleh kekasihnya itu. Pesan terakhir yang ia dapatkan semalam hanyalah kabar bahwa kintan sedang tak enak badan, hal itu membuatnya sangat khawatir dengan apa yang terjadi pada kekasihnya itu. Sudah berulangkali ia melakukan panggilan suara namun tak ada satupun yang terjawab.
Pria malang itu adalah Bahtiar, ia merupakan seorang siswa yang sekolah disalah satu SMA Negeri yang ada di Tasikmalaya. Ia termasuk siswa yang cukup terkenal disekolahnya, karena selain wajahnya yang tampan, Prestasinnya juga tak kalah dari Kintan yang selalu mendapat peringkat satu disekolahnya. Sekarang ia masih duduk di kelas 11 namun kisah cintanya dengan kintan bak film Dilan 1990. Sudah sejak awal kelas 10 ia menjalin ikatan asmara dengan kintan. Tak seperti remaja kota pada umumnya yang menormalisasikan seks bebas, Kintan memang berkomitmen untuk tak melakukan hal di luar batas. Namun Bahtiar tetaplah seorang pria normal yang masih mempunyai nafsu ketika melihat payudara 36D milik Kintan. Penis-nya selalu dibuat berdiri ketika melihat kekasihnya mengenakan baju yang agak ketat. Meski terkadang Kintan memberinya akses untuk sekedar berciuman, peluk dan kecup namun bagi bahtiar hal itu masihlah kurang untuk menuntaskan nafsu yang ia miliki. Hal ini membuat membuat bahtiar mencari pelampiasan dalam bentuk lain seperti menonton video porno dan membaca novel erotis.
Namun sejak dirinya mulai menerima banyak doktrin dari sahabat dekat-nya, ia mulai menyukai genre cukcold baik di film porno maupun novel erotis yang ia baca. Genre janggal ini membuat-nya semakin bersemangat untuk mengocok penisnya sendiri dikamar, bahkan terkadang ia mulai membayangkan kekasihnya sendiri di jamah oleh pria lain.
Sekarang Bahtiar sedang berdiri di pinggir pos satpam sekolahannya…….
berulang kali ia berjalan keluar dari gerbang untuk sekedar mengintip dan memastikan kedatangan kekasihnya itu.
Ia sesekali mengecek layar ponselnya. Namun masih belum ada notifikasi pesan masuk dari Kintan.
HUFHHH….
Ia menghela nafas panjang………….
Dilain sisi… di kamar kecilnya yang rapi, harum, dan bersih seorang gadis cantik masih tertidur pulas. Dibalik selimutnya yang tebal ia hanya memakai tanktop putih tipis tanpa bra dan hotpants hitam super pendek yang nyaris tidak menutupi apa-apa. Lekukan pantatnya yang montok tercetak sempurna, bahkan celah antara kedua paha mulusnya terlihat jelas. Siapapun pria normal yang melihatnya pasti ingin segera menidurinya dan menghamilinya.
KRINGGGG!!... KRINGGGG!!...
Suara alarm ponsel terus berbunyi memecah kesunyian kamarnya. Untuk ketiga kalinya alarm itu berbunyi, tetapi gadis cantik yang berada di atas kasur itu masih meringkuk kedinginan di balik selimutnya yang tebal. Tangan putihnya berulang kali meraba ponselnya untuk sekedar menekan tombol snooze. Mungkin karena ia tidur terlalu nyenyak efek obat Pereda demam yang ia minum semalam.
Beberapa detik kemudian kamar itu kembali sunyi……
Ibunya yang berulangkali mendengar suara alarm dari dapur pun bergegas menuju kamar putrinya itu, untuk sekedar memastikan apa anaknya sudah bangun atau masih tertidur.
Tokk……
Tok……
Tok……
Suara ketukan pintu terdengar dari luar. "Kintan??…….”.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
"Kintan... udah bangun belum?"
Masih sunyi………………………………….
Ibunya menghela napas pelan.
"Pasti masih tidur..."
Ibunya mencoba memutar gagang pintu. "Ibu masuk ya?......".
Terkunci??...... Batin ibunya.
"Kintannn! Bangun! Nanti telat!"
Suara itu akhirnya berhasil menembus tidur Kintan. Teriakan ibunya dari depan pintu kamarnya membuat gadis manis itu tersentak kecil. Tanganya mengusap wajahnya kasar.
"Iya... Bu...".
Jawabannya nyaris tak terdengar. Matanya masih menyipit membiasakan diri dengan cahaya mentari yang menerobos melalui gorden kamarnya. Dengan susah payah ia membuka mata. Pandangannya pun masih sangat buram. Tubuh Kintan masih terasa sangat berat. Kepalanya berdenyut pelan, sementara tenggorokannya terasa kering. Sejak semalam ia memang merasa kurang enak badan. Ibunya bahkan sudah beberapa kali menyuruhnya tidak masuk sekolah hari ini. Namun dirinya masih tetap bersikeras untuk masuk sekolah.
Hari ini ada mapel penjas. Kalau ia sampai bolos lagi, ia takut nilai praktiknya semakin turun. Beasiswa yang sudah ia dapatkan susah payah jauh lebih berharga daripada rasa tidak enak badan yang sedang ia rasakan saat ini.
Tangannya meraih ponselnya lagi.
Begitu layar menyala...
“…..”.
“HAH?!!”
Matanya langsung membelalak.
06.45 WIB……………….
“Ya Allah!!!...”
Seketika rasa kantuk kintan menghilang secepat kilat.
Ia langsung bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya masih terasa lemas sampai sedikit limbung saat berdiri. Tangannya refleks menyentuh dahinya.
Masih hangat!!......
"Aduh!!!... demamnya jangan sekarang, pliss..."
Ia membuka lemari dengan tangan gemetar.
Seragam OSIS yang sudah disetrika langsung diambil begitu saja. Tanpa sempat mandi, Kintan hanya mencuci muka, menggosok gigi seadanya, lalu mengenakan seragam sambil sesekali menahan pusing yang datang bergelombang. Tangannya sampai beberapa kali salah memasukkan kancing karena tubuhnya masih gemetar. Tak sampai lima menit, seragam sudah menempel di tubuhnya. Rambutnya yang masih sedikit basah oleh keringat langsung ditutup kerudung.
"KOK UDAH JAM SEGINI?!". Teriaknya panik.
Di luar kamar, ibunya langsung kaget. "Kintan?!"…..
"Sebentar, Bu!”. Suara Kintan terdengar panik. Ia menggigit bibirnya sendiri menahan kesal.
Ia menyambar tas sekolah yang semalam sudah disiapkan. "Udah! Udah lengkap!.....".
Tanpa mengecek isinya lagi. Tanganya kini langsung meraih ponselnya yang tergeletak di atas Kasur, dengan cepat ia langsung memesan gojek dari layar ponselnya . setelah itu ia langsung membuka pintu kamarnya dengan cepat.
Begitu melihat wajah putrinya, ibunya langsung membantu merapihkan kerudung putrinya yang sedikit berantakan dan tak sengaja memegang dahinya.
"Ya Allah!!... badan kamu masih panas banget sayang."
Kintan menepiskan tangan ibunya. "Bu...Kintan udah kesiangan"
"Udah kamu gausah berangkat sekolah hari ini.".
"Nggak bisa Buu…". Kintan menatap wajah ibunya dengan mata sayu.
"Kintannnn…..". Lenganya menahan pundak putrinya
"Ibu serius!!!."
"Ibu takut kamu kenapa-napa."
Kintan menggeleng cepat. Dan melangkahkan kakinya menuju rak sepatu.
"Hari ini ada mapel Penjas, Bu."
"Nanti aku ketinggalan pelajaran."
"Kalau aku izin lagi, Nanti nilai praktik penjasku gimana?."
Ibunya memegang kedua bahu putrinya. Matanya berbinar menatap putrinya yang sedang sakit itu.
"Nilai bisa dikejar nanti kintan."
"Sekarang kesehatan kamu lebih penting!!."
Mata Kintan mulai berkaca-kaca. Karena ia sendiri pun sebenarnya merasa enggan untuk masuk sekolah. Ditambah setelah kejadian pembulian terhadap kintan waktu kelas 10. Namun kini dirinya sudah memiliki banyak teman serta bahtiar yang ada disamping-nya dan ia juga sangat ingin mempertahankan nilai serta beasiswa yang sudah ia dapatkan dengan susah payah.
"Kintan udah sering izin bulan kemarin. Gara-gara ikut lomba"
"Kintan juga nggak mau beasiswa kintan dicabut cuman gara-gara sering izin."
Kalimat terakhir itu membuat ibunya terdiam.
Ibunya tahu...
Putrinya sangat menjaga beasiswa itu. Bukan demi dirinya sendiri. Melainkan agar kedua orang tuanya tak perlu memikirkan biaya sekolah. Bahkan dengan beasiswa itu mampu memudahkan putrinya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dan menggapai mimpi-nya.
Akhirnya sang ibu hanya menghela nafas dan mengusap kepala Kintan pelan. Walaupun dalam hatinya masih terasa tak rela melepas kintan sekolah dalam kondisi demam tinggi.
"Ingat pesan Ibu…Kalau badan kamu makin panas disekolah nanti..."
"Pulang…!!."
"Jangan dipaksa."
Kintan tersenyum kecil. Kepalanya mengangguk setelah mendengar omelan ibunya itu.
"Iya, Buu. Pastii". Tangannya sibuk mengikat tali sepatunya.
Tin... tin...
Ibunya mengintip dari balik jendela.
"Tan, itu Gojeknya udah datang."
Kintan yang masih duduk di tepi sofa mengangkat wajah pucatnya pelan. Kepalanya masih terasa berat. Napasnya terasa panas.
"Sebentar, Bu..."
Ia berdiri perlahan sambil meraih tas sekolahnya. Langkahnya masih sempoyongan hingga ibunya refleks memegang lengannya.
“Badan kamu panas banget sayang, Kamu beneran kuat?..”.
Kintan hanya tersenyum dengan bibir pucatnya.
“Nanti juga turun sendiri kok bu. Kan udah minum obat”
Jawaban itu terdengar lebih seperti membujuk dirinya sendiri daripada meyakinkan ibunya. Ibunya hanya bisa menghela nafas panjang melihat putrinya yang terus memaksakan diri. Tanganya menyelipkan uang saku. “Keras kepalamu ini mirip banget sama papahmu”.
Sesampainya di teras, driver Gojek sudah menunggu dengan helm cadangan di tangan. Sesaat mata driver gojek itu sedikit mengamati lekuk tubuh kintan dibalik seragam osis dan cardigan yang kintan kenakan. Meski sudah mengenakan baju berlayer-layer lekuk tubuhnya tetap tak dapat ia tutupi sepenuhnya.
"Atas nama neng Kintan?"
"Iya, Pak."
"Masuk angin ya, Neng? Mukanya pucat.".
Kintan tersenyum tipis. Tangan putihnya meraih helm dari driver dan memakainya.
"Demam sedikit, Pak."
"Waduh... masih sekolah juga?"
"Iya... nggak enak kalau izin."
Driver itu hanya mengangguk pelan dan menyalakan motornya. Pikirannya yang tadi fresh sekarang jadi kotor melihat paras kintan yang sangat menggoda itu. Bahkan wajah pucatnya tak mampu menutupi kecantikan yang terpancar.
"Yaudah, pegangan ya. Kalau pusing bilang aja.". Driver itupun sedikit berharap punggungnya bisa merasakan sedikit kenyalnya payudara besar gadis remaja itu, meski tertutup cardigan dan seragam.
Mereka pun mulai melaju meninggalkan halaman rumah. Disepanjang perjalanan driver itu sengaja memacu motornya dengan kecepatan rendah, berusaha menikmati sedikit lebih lama momen dirinya dipeluk dari belakang oleh gadis secantik kintan. Bahkan sesekali driver itu tampak mengerem mendadak dengan sengaja berharap payudara kintan bisa menempal lebih erat lagi di belakang punggungnya.
Busettt tetenya gede bangett ni bocah padahal masih sekolah……. Meski hanya sedikit driver gojek itupun sangat menikmati hangatnya tubuh kintan disepanjang perjalanan.
Udara pagi Tasikmalaya yang biasanya terasa segar hari ini justru terasa menusuk kulit Kintan. Angin membuat tubuhnya menggigil. Ia merapatkan cardigannya sambil memejamkan mata beberapa detik.
Di tengah perjalanan, kepalanya kembali berdenyut.
Tanpa sadar ia memeluk punggung driver itu lebih erat, seolah itu bisa mengurangi rasa dingin serta pusing yang datang bergelombang.
Tak terasa gerbang sekolah pun akhirnya sudah terlihat. Meski dirinya sudah terlambat 5 menit, untungnya gerbang sekolah masih terbuka lebar. Sesampainya digerbang kintan langsung turun dari motor dengan badan yang nampak sempoyongan seperti tak bertulang.
Kintan mengulurkan helm milik driver. “Makasih ya pak”
“Bapak yang harusnya makasih neng heheh”. Entah mengapa senyum driver itu Nampak sedikit mesum.
Namun kintan yang sedang buru-buru tak begitu memperdulikannya dan langsung masuk meninggalkan driver itu.
Dari kejauhan seorang siswa berlari mendekat ke arah gerbang sambil melambaikan tangannya.
Bahtiar?? Hahah apaan si sampe lari gitu…. Kintan tersenyum manis melihat tingkah laku kekasihnya yang konyol itu.
“Hah..hah.. Aa-aku kira kamu gabakal masuk”. Nafasnya masih tersengal saat mencoba menyapa kintan. Kintan tertawa kecil melihat pacarnya ngos-ngosan…………
(POV Bahtiar)
Dengan nafas yang masih terputus-putus akibat berlari, aku berusaha untuk menyapanya didekat pos satpam. Walau sedikit kesal karena pesan yang ku kirim tak dibalas olehnya, namun hanya dengan melihat wajahnya yang cantik rasa kesalku sirna seolah tak pernah ada.
Yaa… dia adalah kintan, wanita paling cantik disekolah ini, dengan tinggi 160 cm membuat Parasnya semakin mirip dengan influencer Kinanda Putri. Bahkan Semua cowo yang ada disekolah ini sangat iri padaku karena berhasil meluluhkan hati kintan. Dimana Tubuhnya bak ciptaan setan, yang diciptakan untuk menggoda para pria. Kulit kuning langsat khas Sunda yang mulus, rambut hitam lurus sebahu yang selalu harum, payudara 36D yang kencang dan selalu bergoyang menggoda di balik seragam, serta pantat bulat montok yang menggoda untuk ditampar keras. Setiap kali Kintan berjalan, bokongnya itu seolah mengundang tangan pria untuk meremas dan menamparnya dari belakang.
Munafik kalo aku bilang aku tak bernafsu melihat tubuh pacarku sendiri, namun setiap aku mencoba mengajaknya melakukan seks ia selalu menolak. Bahkan dirinya mengajakku untuk berkomitmen agar tak melakukan seks denganya sampai kita menikah nanti. Maka dari itu aktivitas nakal yang pernah kulakukan hanya sebatas ciuman di taman, meskipun sambil sesekali tanganku mencoba meremas payudara besar miliknya itu walaupun berujung gagal. Yahh meskipun Kintan memang bukan gadis yang alim-alim banget sih………
Kini gadis manis itu sudah ada didepan mataku…
Ia hampir tak pernah gagal membuat penisku berdiri ketika mengenakan seragam osis-nya yang sangat ketat itu. Meski mengenakan hijab, kemeja dan rok panjang abu-abunya sangatlah melekat hingga memperlihatkan lekuk tubuh-nya dengan jelas.
Namun pagi ini….
Ia berdiri dengan sangat lemas. Wajahnya Pucat pasi.
Semalam ia memang sempat mengeluh bahwa dirinya merasa tak enak badan. Dan aku rasa sampai pagi hari ini pun ia masih merasakan hal yang sama.
“Kamu masih sakit?”. Tanyaku sambil menjulurkan tanganku ke dahinya.
“YA ALLAH….PANAS BANGET!!!”.
Kintan menepiskan tanganku. “Nanti juga turun kok….aku udah minum obat”
“Tt-tapi sayang…”
“Udah ah aku bukan anak kecill!!! Ayo masukk!!”. Jawabnya ketus.
Kintan berjalan mendahuluiku dan langsung melangkah menuju kelas.
Aku yang merasa sangat cemas dengan kondisi kekasihku ini langsung mengikutinya dari belakang. Dari sini rok panjang abu-abunya yang sudah agak kekecilan itu membuatnya terlihat seperti SPG rokok. Dengan pantat dan garis celana dalam yang tercetak sangat jelas itu membuat pria hidung belang manapun yang melihatnya pasti ingin segera menidurinya.
Aku menggelengkan kepalaku kasar untuk mengusir pikiran kotorku ini.
Tahan bahtiar…… Ini masih pagi… Batinku sambil mengusap wajahku kasar.
Saat tiba di kelas semua siswa termasuk diriku sudah mengganti seragamnya dengan baju olahraga mereka, bahkan sebagian sudah ada di lapangan olahraga. Melihat itu Kintan pun langsung membuka ranselnya dan berniat ingin mengganti seragamnya sekarang juga.
DEG………
Wajah datarnya kini berubah menjadi panik dan kaku sesaat.
Aku mengernyitkan dahiku. “Kenapa sayang??...”.
“Baju olahragaku ketinggalan dikamar!!!!”. Matanya melotot panik.
Kintan mengusap wajahnya kasar. “Aduhh!! Mana hari ini penilaian lompat jauh lagii”.
Mendengar itu aku agak sedikit terkejut, tapi aku rasa Pak supri sebagai guru juga tak akan mempermasalahkan siswi yang sedang demam hanya karna tak memakai seragam olahraga.
Aku menepuk pundaknya yang tegang itu. “Udah gapapa…Lagian kamu lagi sakit”
“Tapi dia pasti bakal marah yang…”. Ucapnya cemas.
“Pak Supri pasti ngertiin kok”. Ucapku.
Kintan hanya mengangguk pasrah. Berharap Pak Supri dapat memakluminya nanti.
Meskipun sering berurusan dengan pak supri perihal beasiswa dan perlombaanya dulu, pacarku ini masih saja takut dengan guru penjas kami itu. Dia merasa tatapan guru kami itu terasa sedikit berbeda dengan guru-guru yang lain saat menatap tubuhnya. Namun setiap dia menceritakan hal itu entah mengapa penisku rasanya sedikit berkedut-kedut, rasanya otakku mulai terkontaminasi oleh fantasi janggal sahabat dekatku. Untuk Menenangkan rasa khawatirnya saat itu aku selalu mengatakan bahwa mungkin saja itu hanyalah prasangka buruknya. Karena aku pikir mana mungkin seorang guru menyimpan nafsu terhadap muridya sendiri………
ns216.73.216.105da2


