BAB 1: Wangi Melati dan Masa Lalu yang Menguap
Udara sore di kompleks perumahan itu selalu terasa sama tenang, sedikit lembap, dan dipenuhi aroma rumput yang baru dipotong. Namun, bagi Zio, ada satu aroma lain yang selalu mengunci perhatiannya. Wangi melati dan sentuhan vanilla yang lembut. Itu adalah aroma Tante Hanifa.
Sejak Zio masih berseragam merah putih, rumah berpagar hitam di sebelah kanan rumahnya itu adalah tempat pelarian keduanya. Tante Hanifa, wanita yang usianya terpaut lima belas tahun di atasnya, selalu menyambutnya dengan senyum hangat, piring berisi kue kering, dan usapan lembut di puncak kepalanya. Di mata Hanifa, Zio adalah anak laki-laki tetangga yang manis, teman main bagi anak-anaknya yang masih kecil, dan sosok yang harus dijaga layaknya anak sendiri.
Namun, waktu adalah pengkhianat yang paling sunyi.
Zio tidak lagi mengenakan celana merah pendek. Di usianya yang menginjak dua puluh satu tahun, ia tumbuh menjadi pemuda dengan rahang tegas, bahu lebar yang terbentuk dari rutinitasnya di pusat kebugaran kampus, dan sorot mata tajam yang menyimpan misteri. Suaranya yang dulu melengking kini berubah menjadi bariton yang dalam dan bergetar.
Perubahan itu tak luput dari pandangan Hanifa, meski ia berusaha keras mengabaikannya. Suatu sore, ketika Zio datang untuk membantu memperbaiki antena TV yang rusak di atap rumah Hanifa, semuanya mulai bergeser.
Zio turun dari tangga dengan peluh yang membasahi kaus putihnya, mencetak jelas otot dada dan perutnya. Hanifa, yang sedang membawakan segelas es jeruk, tiba-tiba terpaku. Selama sepersekian detik, matanya tidak melihat sosok "anak kecil" yang sering disuapinya. Ia melihat seorang pria. Pria muda yang matang, kuat, dan memancarkan feromon maskulin yang entah sejak kapan membuat napas Hanifa sedikit tertahan.
"Tante?" panggil Zio, suaranya rendah, menyapu kesadaran Hanifa.
"Ah... i-ini, minum dulu, Zi. Pasti panas banget di atas," Hanifa tergagap kecil, menyodorkan gelas itu dengan tangan yang entah mengapa sedikit gemetar.
Zio menerima gelas itu. Jari mereka bersentuhan. Hanya sedetik. Namun, ada aliran listrik statis yang tiba-tiba menyengat kulit keduanya. Zio menatap mata Hanifa mata cokelat madu yang selalu meneduhkan itu kini terlihat sedikit panik. Di titik itulah, sebuah kesadaran liar mulai merayap di kepala Zio.
Tante Hanifa gugup karena sentuhanku.
BAB 2: Racun di Kepala dan Bisikan Malam
Zio merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya berdengung. Sore itu, setelah sentuhan kecil di gelas es jeruk, Zio mulai memperhatikan hal-hal yang selama ini luput dari pandangannya.
Ia mulai memperhatikan bagaimana daster sutra tipis yang sering dipakai Hanifa di rumah mencetak lekuk tubuhnya yang masih begitu sintal dan terawat. Ia memperhatikan bagaimana leher jenjang wanita itu berkeringat saat menyiram tanaman. Ia memperhatikan bibir Hanifa yang penuh dan selalu dipulas lipstik warna nude.
Pergaulan kampus memperparah isi kepalanya. Teman-teman tongkrongannya, Reno dan Dimas, sering melontarkan candaan liar tentang wanita dewasa. "Bro, lo nggak tau aja," kata Reno suatu malam di warung kopi. "Cewek umur tiga puluhan atau empat puluhan itu beda. Mereka matang. Mereka tau apa yang mereka mau, dan kalau mereka kesepian di rumah... beuh, lo kasih sedikit perhatian aja, mereka bakal ngasih lo dunia."
Kata-kata itu seperti racun yang menetes tepat di atas bara api. Zio tahu, pernikahan Hanifa dengan Om Surya jauh dari kata sempurna. Surya adalah pria pekerja keras, tapi dingin dan kaku. Pria itu sering dinas luar kota, meninggalkan Hanifa berminggu-minggu dalam kesepian rumah besar mereka. Hanifa hanya ditemani dua anaknya yang kini mulai sibuk dengan dunia remaja mereka sendiri.
Zio mulai berkhayal. Khayalan yang membuatnya terbangun di tengah malam dengan peluh dan napas memburu. Ia membayangkan bagaimana rasanya menyentuh kulit putih Hanifa. Ia membayangkan bagaimana wajah keibuan itu berubah menjadi ekspresi penuh gairah di bawah kendalinya. Khayalan itu begitu liar, begitu terlarang, hingga Zio merasa berdosa sekaligus ketagihan.
Kesempatan itu akhirnya datang di malam hujan lebat pada pertengahan November.
BAB 3: Percakapan Terlarang di Balik Tirai Hujan
Malam itu, petir menyambar bersahut-sahutan. Lampu di kompleks perumahan padam total. Zio sedang membaca buku di kamarnya ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Hanifa.
Zi, kamu belum tidur? Tante sendirian di rumah, anak-anak lagi nginap di rumah neneknya. Om Surya juga baru berangkat ke Surabaya tadi sore. Sakelar meteran listrik Tante kayaknya anjlok, Tante takut ke depan gelap-gelapan. Bisa tolongin?
Tanpa berpikir dua kali, Zio menyambar senter dan payung. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Ia masuk ke pekarangan rumah Hanifa, menyalakan kembali meteran listrik dari luar. Saat lampu teras menyala, pintu utama terbuka. Hanifa berdiri di sana. Wanita itu hanya mengenakan gaun tidur berbahan satin warna marun yang panjangnya selutut, dibalut cardigan rajut yang kedodoran. Rambutnya digelung asal, menyisakan anak rambut yang menempel di lehernya yang berkeringat karena panik.
"Udah nyala, Tante," kata Zio, suaranya tertelan suara rintik hujan.
"Makasih banyak, Zi. Masuk dulu, hujannya makin deras. Baju kamu basah begitu," ajak Hanifa, menarik lengan Zio.
Ruang tamu itu remang-remang. Hanifa bergegas ke dapur, mengambil handuk kecil dan menyodorkannya pada Zio. Zio mengusap rambutnya, sementara matanya tak lepas dari sosok Hanifa yang mondar-mandir membuatkan teh hangat. Udara dingin membuat puting wanita itu tercetak samar di balik bahan satin yang tipis, dan Zio harus menelan ludah dengan susah payah untuk mengalihkan pandangannya.
Mereka duduk di sofa ruang tengah, terpisahkan jarak sekitar satu meter. Suara hujan di luar mengisolasi mereka dari dunia nyata. Menciptakan sebuah dimensi di mana hanya ada mereka berdua.
"Tante minta maaf ya ngerepotin malam-malam. Tante bener-bener takut petir, dan sendirian di rumah sebesar ini..." Suara Hanifa terdengar parau. Ada kelelahan yang luar biasa di matanya.
"Nggak apa-apa, Tante. Santai aja," jawab Zio lembut.
Hening sejenak. Entah keberanian dari mana, Zio bertanya, "Om Surya sering banget ninggalin Tante sendirian ya sekarang?"
Pertanyaan itu seharusnya tidak pernah ditanyakan. Itu adalah garis batas privasi yang selama ini dijaga Zio. Namun malam itu, garis itu memudar. Hanifa menatap Zio. Pertahanan wanita itu runtuh. Mata cokelat madunya berkaca-kaca.
"Surya nggak peduli, Zi," bisik Hanifa, suaranya pecah. "Bagi dia, rumah ini cuma tempat singgah. Tante ini cuma pengurus rumah dan pengasuh anak-anaknya. Nggak lebih."
Hanifa menunduk, air matanya menetes. Zio menggeser duduknya, memangkas jarak di antara mereka. Tangan Zio yang besar dan hangat terulur, menyentuh bahu Hanifa yang bergetar.
"Tante nggak pantes diperlakukan kayak gitu. Tante terlalu berharga," bisik Zio.
Hanifa mendongak. Wajah mereka kini sangat dekat. Zio bisa mencium aroma melati dan vanilla itu dengan sangat pekat, bercampur dengan aroma feromon wanita dewasa yang memabukkan. Di mata Hanifa, Zio melihat keputusasaan, kesepian yang menganga, dan... sebuah kerinduan akan sentuhan.
BAB 4: Sentuhan yang Mengoyak Kewarasan
Tangan Zio bergerak dari bahu, naik menyusuri leher Hanifa yang jenjang, lalu mengusap air mata di pipi wanita itu dengan ibu jarinya. Kulit Hanifa terasa begitu lembut, begitu panas.
Hanifa menahan napas. Logikanya berteriak. Ini Zio! Ini anak tetangga yang kamu asuh dari kecil! Dia seumuran anak sulungmu! Namun, tubuhnya mengkhianati logikanya. Sentuhan Zio tidak terasa seperti sentuhan seorang anak. Itu adalah sentuhan seorang pria dominan yang menuntut perhatian penuh darinya.
"Zi... jangan," bisik Hanifa lemah, namun kepalanya justru bersandar pada telapak tangan Zio.
"Kenapa, Tante? Kita cuma berdua di sini," suara Zio kini berubah menjadi bisikan serak yang menggetarkan dada Hanifa.
Zio menunduk, memangkas sisa jarak di antara mereka. Bibirnya menyapu lembut rahang Hanifa, sebelum akhirnya menemukan bibir wanita itu. Awalnya hanya sentuhan ringan, seolah menguji batas air. Namun saat Zio merasakan bibir Hanifa sedikit terbuka, bukan untuk menolak melainkan karena terkejut, Zio mengambil kendali penuh.
Ciuman itu dalam, menuntut, dan penuh rasa lapar yang selama ini dipendam. Hanifa membelalak, tangannya mencengkeram kaus basah Zio, mencoba mendorongnya. Namun kekuatan Zio tidak sebanding. Pemuda itu merengkuh pinggang Hanifa, menarik tubuh sintal itu hingga menempel rapat pada dada bidangnya.
Pertahanan Hanifa hancur tak bersisa. Ia membalas ciuman itu dengan keputusasaan yang sama liarnya. Sepuluh tahun terjebak dalam pernikahan tanpa keintiman, Hanifa seperti musafir yang menemukan oase. Tangan Hanifa menyusuri rahang tegas Zio, membelai rambut pemuda itu, sementara Zio mulai menjelajahi lehernya, meninggalkan jejak panas yang membuat Hanifa mengerang tertahan.
"Zi... ah... Zi, kita nggak boleh..." desah Hanifa di sela-sela ciuman mereka, saat tangan Zio mulai menyusup di balik cardigan rajutnya, menemukan lekuk pinggangnya.
"Tapi Tante suka," balas Zio dengan nada arogan yang entah mengapa membuat Hanifa semakin berdebar. Zio menatap mata Hanifa dalam-dalam, mengunci jiwanya. "Malam ini, lupain Om Surya. Lupain semuanya. Cuma ada aku."
Malam itu, di atas karpet beludru ruang tengah, dengan suara hujan yang menyamarkan setiap desahan dan erangan tertahan, batas antara kasih sayang keluarga dan dosa masa depan hancur lebur. Zio memperkenalkan Hanifa pada sebuah dunia gelap yang liar, membebaskan wanita itu dari belenggu peran ibu dan istri yang menjemukan.
BAB 5: Permainan Kucing dan Tikus yang Mendebarkan
Pagi harinya, segalanya berubah, namun di saat yang sama harus terlihat sama.
Hanifa terbangun di kamarnya sendiri dengan rasa bersalah yang menggunung dan sekujur tubuh yang terasa remuk namun luar biasa puas. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Ada rona merah di pipinya, kilau di matanya yang sudah bertahun-tahun mati, dan jejak kemerahan di tulang selangkanya yang harus ia tutupi dengan concealer.
Apa yang sudah kulakukan? batinnya menjerit. Ia telah tidur dengan anak tetangganya. Pemuda yang dulu sering ia pesankan untuk rajin belajar.
Ketika ia keluar rumah untuk menyiram tanaman, ia melihat Zio keluar dari pagar rumahnya. Pemuda itu sudah rapi dengan kemeja flanel dan ransel, bersiap ke kampus. Mata mereka bertemu. Jantung Hanifa nyaris melompat dari dadanya. Ia takut Zio akan bersikap aneh. Ia takut rahasia itu tertulis jelas di wajah mereka.
Namun Zio hanya tersenyum sopan. "Pagi, Tante. Berangkat dulu ya," sapanya ceria, persis seperti Zio yang biasanya.
"E-eh... iya, Zi. Hati-hati," balas Hanifa gugup.
Namun, sebelum Zio benar-benar berlalu, pemuda itu berjalan mendekat ke arah pagar pembatas. Berpura-pura membetulkan tali sepatunya di dekat pot bunga Hanifa, Zio berbisik dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Semalam luar biasa. Aku mau lagi. Nanti malam, biarin pintu samping nggak dikunci."
Tubuh Hanifa menegang. Ia ingin marah, ia ingin menolak, tapi rasa hangat tiba-tiba menjalar di perut bawahnya membayangkan ancaman manis pemuda itu.
Sejak saat itu, hubungan mereka berubah menjadi permainan rahasia yang memacu adrenalin. Zio semakin berani, dan Hanifa mendapati dirinya tak mampu menolak pesona dominan pemuda itu. Zio bukan lagi tetangga yang manis. Di ranjang, di ruang ganti, di dapur yang sepi, Zio adalah penguasanya.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika Om Surya pulang dari luar kota seminggu kemudian.
Keluarga Zio dan keluarga Hanifa mengadakan acara makan malam bersama di rumah Hanifa, tradisi bulanan yang biasa mereka lakukan. Meja makan dipenuhi hidangan. Ibu Zio asyik mengobrol dengan Hanifa tentang resep masakan, sementara ayah Zio mengobrol tentang bisnis dengan Surya. Zio duduk tepat di seberang Hanifa.
"Zio sekarang makin gagah ya, Jeng. Udah punya pacar belum di kampus?" goda Ibu Zio.
Hanifa yang sedang menyendokkan nasi ke piring Surya tiba-tiba membeku. Jantungnya berdetak liar.
"Belum, Ma. Zio lagi fokus kuliah aja," jawab Zio tenang. Ia menatap Hanifa dengan senyum tipis yang mematikan. "Lagi pula, belum ada perempuan di kampus yang bisa bikin Zio tertarik. Zio suka perempuan yang lebih dewasa. Yang tahu cara merawat pasangannya."
Ucapan itu disambut tawa oleh ayah dan ibu Zio, menganggapnya lelucon belaka. Om Surya pun ikut tertawa kecil. "Wah, bahaya kamu, Zi. Jangan sampai naksir istri orang."
"Hahaha, nggak lah, Om. Aman," Zio tertawa lepas.
Namun di bawah meja panjang yang tertutup taplak tebal itu, kaki Zio menjulur ke depan. Ujung kakinya yang terbalut kaus kaki dengan sengaja menyusuri betis Hanifa yang telanjang, perlahan naik hingga ke balik rok selutut wanita itu.
Mata Hanifa membelalak. Wajahnya memerah padam. Ia merapatkan kedua pahanya dengan panik, mencoba menjepit kaki nakal pemuda itu, tapi Zio justru menggerakkan jemari kakinya di area sensitif paha dalam Hanifa.
"Han? Kamu kenapa? Kok keringatan?" tanya Surya tiba-tiba, menyadari gelagat istrinya yang aneh.
Zio menatap Hanifa, matanya menantang, menikmati kepanikan wanita di seberangnya.
"O-oh... nggak apa-apa, Mas. Kayaknya AC-nya kurang dingin. Aku ke dapur dulu ya ambil air es," Hanifa berdiri dengan canggung, hampir saja menjatuhkan sendok di tangannya. Kakinya sedikit gemetar saat ia berjalan cepat menuju dapur.
Zio menyeringai dalam hati. Sensasi bahaya ini. Sensasi melakukan sesuatu yang sangat terlarang tepat di bawah hidung suami sahnya. Ini adalah narkotika jenis baru bagi Zio, dan ia tahu, ia tidak akan pernah bisa berhenti.
BAB 6: Labirin Gairah dan Hilangnya Logika
Beberapa menit kemudian, Zio beralasan ingin ke kamar mandi dan menyusul Hanifa ke dapur. Dapur itu cukup luas, namun letaknya sedikit tersembunyi dari ruang makan.
Hanifa sedang berdiri bersandar di konter marmer, memegangi dadanya, mencoba menetralkan napasnya yang memburu. Saat Zio masuk, wanita itu langsung memelototinya.
"Kamu gila, Zi?! Kalau sampai Mas Surya lihat "
Kata-kata Hanifa terputus saat Zio melangkah cepat, mencekik lembut leher wanita itu dan memutar tubuhnya hingga punggung Hanifa menghantam pintu kulkas. Zio mengurungnya dengan kedua lengan, menempelkan tubuh besarnya pada Hanifa.
"Kalau sampai dia lihat, biar saja," bisik Zio tepat di telinga Hanifa, menggigit kecil daun telinga itu hingga Hanifa memejamkan mata dan mengeluarkan erangan tertahan. "Biar dia tahu istrinya yang cantik ini lebih suka disentuh anak tetangganya daripada suaminya sendiri."
"Zi... please, mereka ada di depan," Hanifa memohon, namun tangannya justru melingkar di pinggang Zio, meremas kemeja pemuda itu. Air matanya menggenang, percampuran antara teror luar biasa dan gairah yang meledak-ledak.
Tangan Zio tidak tinggal diam. Ia menelusupkan tangannya ke balik blus Hanifa, meremas payudara wanita itu tanpa ampun. Zio mencium bibir Hanifa dengan brutal, membungkam desahan wanita itu. Ciuman mereka berasa darah dan adrenalin. Di ruang makan yang berjarak hanya sepuluh langkah dari mereka, terdengar suara tawa suami Hanifa dan orang tua Zio.
Kenyataan bahwa hidup mereka bisa hancur berkeping-keping detik itu juga justru membuat sentuhan Zio terasa jutaan kali lebih memabukkan bagi Hanifa. Otaknya korslet. Ia membalas ciuman Zio dengan rakus, membiarkan pemuda itu menggerayanginya dalam ketergesaan yang gila.
"Malam ini. Datang ke kamarku jam dua pagi," perintah Zio dengan napas terengah setelah melepaskan ciuman mereka. "Lewat pintu belakang. Kalau Tante nggak datang, besok aku bakal cium Tante di depan Om Surya."
Hanifa menatap mata elang Zio. Ia tahu pemuda ini tidak main-main. Zio telah berubah menjadi monster yang kecanduan, dan Hanifa adalah mangsa yang dengan sukarela menyerahkan lehernya untuk diterkam.
"I-iya..." bisik Hanifa pasrah.
Zio tersenyum puas, mengecup kening Hanifa dengan lembut, lalu kembali ke ruang makan dengan wajah tanpa dosa, seolah ia baru saja membetulkan keran air yang bocor.
BAB 7: Pergulatan Batin di Ujung Tanduk
Bulan berganti. Hubungan gelap itu semakin dalam, semakin liar, dan semakin tidak masuk akal.
Bagi Hanifa, hidupnya kini terbagi menjadi dua dunia yang saling bertolak belakang. Di siang hari, ia adalah Nyonya Surya yang anggun, ibu yang baik, dan tetangga yang ramah. Namun di malam hari, di balik pintu tertutup, ia menjadi budak dari hasrat terpendamnya sendiri.
Pergulatan batinnya semakin hari semakin menyiksanya. Saat ia menyetrika kemeja kerja suaminya, ia menangis mengingat bagaimana semalam Zio merobek pakaian dalamnya. Saat ia menemani anak perempuannya belajar, ia merasa jijik pada dirinya sendiri karena di saat yang sama ia membalas pesan mesum dari Zio di bawah meja.
Namun anehnya, perselingkuhan ini justru membuatnya bersikap lebih baik pada Surya. Karena dihantui rasa bersalah yang teramat sangat, Hanifa menjadi lebih melayani suaminya, lebih sabar, lebih perhatian. Surya, yang tidak menaruh curiga sedikit pun, mengira istrinya sedang dalam fase 'puber kedua' yang romantis.
Sementara itu, bagi Zio, Hanifa adalah obsesi absolut. Ia mulai posesif.
Suatu hari, Zio melihat Hanifa sedang mengobrol akrab dengan seorang kurir paket yang masih muda di depan pagar. Zio cemburu buta. Malamnya, ketika Surya sedang tugas jaga malam di rumah sakit (Surya adalah seorang dokter spesialis), Zio menyusup masuk ke rumah Hanifa.
Ia tidak mengetuk. Ia memiliki duplikat kunci pintu belakang yang diam-diam ia buat.
Zio masuk ke kamar utama. Hanifa sedang tidur mengenakan lingerie sutra hitam. Zio naik ke atas ranjang, menindih tubuh wanita itu. Hanifa terbangun dengan kaget dan nyaris menjerit sebelum Zio membekap mulutnya.
"Sst... ini aku," desis Zio. Ruangan itu hanya diterangi cahaya bulan dari celah tirai. Wajah Zio terlihat gelap, rahangnya mengeras menahan amarah.
"Zio? Kamu bikin Tante jantungan! Kenapa ke sini jam segini? Tante kan nggak nyuruh kamu datang!" bisik Hanifa marah, mencoba mendorong dada Zio.
Zio tidak peduli. Ia menahan kedua pergelangan tangan Hanifa di atas kepala wanita itu dengan satu tangannya yang besar. "Tante ngobrol apa sama kurir tadi siang? Sampai senyum-senyum begitu?"
Mata Hanifa melebar. "Zi, kamu gila ya? Dia cuma nganterin paket! Zio, lepasin, sakit!"
"Tante milikku. Ngerti?" suara Zio bergetar karena emosi yang tidak wajar. "Om Surya mungkin yang punya surat nikahnya, tapi tubuh Tante, desahan Tante, rahasia Tante... itu semua punya aku. Jangan pernah senyum ke laki-laki lain kayak gitu."
Malam itu, Zio menghukum Hanifa. Bukan dengan kekerasan fisik, melainkan dengan sentuhan yang begitu menuntut, begitu menguras tenaga, hingga Hanifa tidak bisa melakukan apa pun selain menangis, mendesah, dan memohon ampun dalam pelukan pemuda yang usianya sebaya dengan keponakannya sendiri. Zio mendominasinya di atas ranjang yang biasa ia tiduri bersama suaminya, meninggalkan memar-memar kebiruan di pangkal paha dan perut Hanifa tempat yang tidak akan pernah dilihat oleh Surya.
BAB 8: Kesalahan Kecil yang Membuka Tirai
Tidak ada kejahatan yang sempurna. Sehebat apa pun mereka menyembunyikan bangkai, baunya perlahan akan tercium.
Kejadian bermula di hari ulang tahun anak bungsu Hanifa, Raka. Rumah Hanifa dipenuhi tamu. Keluarga Zio tentu saja hadir. Suasana sangat riuh. Zio membantu memanggang barbeque di halaman belakang bersama ayah-ayah lainnya, sementara Hanifa sibuk di dapur.
Sore itu, Hanifa meminta Zio mengambilkan stok es batu di freezer garasi yang sepi. Saat Zio masuk ke garasi, Hanifa menyusul dengan dalih ingin mengambil piring kertas.
Begitu pintu garasi tertutup, Zio langsung menarik Hanifa ke balik lemari perkakas. Mereka berciuman dengan liar, saling meraba dengan urgensi orang yang kelaparan. Tangan Zio masuk ke dalam rok Hanifa, sementara tangan Hanifa meremas rambut Zio. Mereka tidak sadar bahwa ponsel Zio, yang berada di saku kemejanya, tidak sengaja tertekan dan menyala, merekam audio (Voice Note) ke sebuah grup obrolan acak di aplikasi WhatsApp-nya.
Untungnya, itu bukan grup keluarga. Tapi celakanya, itu adalah grup panitia baksos kampusnya yang beranggotakan puluhan orang.
Di dalam garasi, permainan mereka terhenti saat mereka mendengar suara langkah kaki mendekat. Surya membuka pintu garasi.
"Han? Kok lama banget ngambil piringnya?" tanya Surya dari ambang pintu, pandangannya menyapu garasi yang agak gelap.
Zio dan Hanifa membeku di balik lemari perkakas. Napas mereka tertahan. Jarak mereka hanya dua meter dari pandangan Surya. Tangan Zio masih berada di pinggul Hanifa, sementara blus wanita itu sudah berantakan. Jika Surya melangkah masuk dan menengok ke balik lemari, semuanya akan berakhir. Kehidupan keluarga Hanifa akan hancur lebur. Zio akan diusir, dipermalukan, masa depannya hancur.
Tetesan keringat dingin mengalir di pelipis Hanifa. Ia memejamkan mata, merapal doa agar suaminya tidak melangkah maju.
"Hanifa?" panggil Surya lagi, suaranya terdengar tidak sabar.
"I-iya, Mas! Sebentar, ini piringnya ketumpuk di bawah," seru Hanifa dengan suara bergetar, berusaha sekuat tenaga menormalkan nadanya. Ia mendorong dada Zio dengan panik, merapikan blusnya dalam sedetik, lalu melangkah keluar dari balik lemari dengan setumpuk piring kertas di tangan.
Surya menatap istrinya dengan dahi berkerut. "Kamu kenapa keringatan gitu? Mukamu merah banget."
"G-garasi kan panas, Mas. Nggak ada ventilasinya," Hanifa tertawa canggung.
"Terus Zio mana? Tadi katanya nyusul ambil es batu?"
Zio keluar dari sudut yang berbeda, berpura-pura baru selesai mengangkat kantong es batu dari freezer lantai. "Ini Om es-nya. Keras banget nyangkut di bawah, makanya agak lama."
Surya menatap keduanya bergantian. Selama lima detik yang terasa seperti selamanya, keheningan yang mencekam menyelimuti garasi. Mata Surya menyipit. Sebagai seorang dokter, instingnya cukup tajam untuk menyadari feromon, napas yang tidak teratur, dan gelagat aneh. Ada sesuatu di udara garasi itu. Sesuatu yang amis dan kental oleh aroma nafsu.
Namun, suara teriakan Raka memanggil ayahnya dari halaman belakang memecahkan ketegangan itu. Surya memalingkan wajahnya.
"Yaudah, cepat bawa ke depan. Dagingnya udah mau matang," kata Surya dingin, lalu berbalik pergi.
Hanifa nyaris ambruk menabrak rak jika Zio tidak menahan lengannya. Keduanya saling menatap dengan horor yang nyata. Itu adalah peringatan pertama. Alam semesta baru saja memberi mereka kartu kuning.
BAB 9: Bom Waktu yang Berdetak
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Zio merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya dengan dada bergemuruh. Ia membuka ponselnya, berniat melihat foto-foto acara tadi.
Saat itulah jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di grup WhatsApp "Panitia Baksos", ada sebuah pesan suara (VN) berdurasi 45 detik yang terkirim dari nomornya pada jam acara tadi. Zio menekan tombol putar dengan jari gemetar.
Audio itu tidak terlalu jernih, dipenuhi suara gesekan kain dan napas berat. Tapi suara yang terekam di sana sangat fatal.
(Suara napas terengah-engah) Zio: "Tante... ah, jangan gigit kuat-kuat." Hanifa: (Mendesah pelan) "Kamu yang mulai, Zi. Shh... awas, jangan di situ, nanti Mas Surya lihat bekasnya." Zio: "Biarin. Biar dia tau istrinya enak..." Hanifa: "Gila kamu, Zi... ah..."
Darah Zio surut dari wajahnya. Rekaman itu terpotong tepat sebelum Surya memanggil dari luar garasi.
Zio melihat status pesan itu. Dilihat oleh 34 orang.
Ponsel itu jatuh dari tangannya. Dunia di sekelilingnya berputar. Tidak ada yang membalas pesan itu di grup, mungkin karena canggung, kaget, atau mengira itu video porno yang tidak sengaja tertekan. Tapi 34 orang di kampusnya telah mendengarnya. Teman-temannya tahu suaranya. Mereka tahu ia memanggil perempuan itu "Tante", dan perempuan itu menyebut nama suaminya "Mas Surya".
Salah satu anggota grup itu adalah keponakan Om Surya yang kebetulan satu kampus dengan Zio.
Bom waktu itu sudah ditekan tombol aktifnya. Bunyi detakannya menggema di kepala Zio, memekakkan telinga. Rahasia memabukkan yang ia bangun di atas pengkhianatan dan gairah kotor ini kini sedang menghitung mundur menuju ledakan yang akan menghancurkan segalanya.
Zio bangkit berdiri, menatap ke luar jendelanya, mengarah ke jendela kamar Hanifa yang gelap di seberang sana. Di balik pintu jati itu, Tante Hanifa mungkin sedang tidur pulas, tidak menyadari bahwa kiamat kecil mereka akan tiba esok pagi.
Pilihan Zio hanya dua: Kabur mengasingkan diri, atau berdiri di depan pintu rumah Hanifa besok pagi dan menghadapi neraka yang ia ciptakan sendiri.
Bayangan akan tangisan Hanifa, murka Surya, dan kehancuran keluarganya sendiri membuat Zio tersungkur di lantai. Nafsu liar yang selama ini membakar akal sehatnya, kini menguap, menyisakan teror dingin yang menusuk tulang.
Akankah rahasia ini tetap terkubur, ataukah pagi nanti adalah akhir dari segalanya?
(Selesai)
ns216.73.216.62da2


